Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah. Namun demikian,
tanggungjawab terhadap mutu pendidikan tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah
seutuhnya, namun dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat serta semua elemen
bangsa yang terkait dengan dunia pendidikan itu sendiri.

Sejak awal, kualitas pendidikan menjadi perhatian utama, ini terbukti dari beberapa kali terjadi
perbaikan terhadap kurikulum misalnya perbaikan pada kurikulum berbasis kompetensi menjadi
kuriklum tingkat satuan pendidikan kemudian berubah atau direvisi lagi menjadi kurikulum 2013
dan ini merupakan kurikulum yang sedang di gunakan oleh pemerintah yakni kurikulum 2013.

Tentunya kurikulum 2013 ini lahir karena adanya keinginan untuk memperbaiki, merevisi
kurikulum sebelumnya agar pembelajaran menjadi lebih baik lagi. Lahirnya kurikulum 2013
bukannya tanpa kendala dan kontroversi, namun ini bukanlah kendala untuk melakukan
perubahan yang lebih baik lagi. Lebih lanjut, dengan adanya kurikulum 2013 diharapkan proses
pembelajaran bias lebih menyenangkan.

Dengan adanya kurikulum ini, maka tentunya ini menjadi tantangan bagi semua pihak untuk
dapat mensukseskan pelaksanaan kurikulum ini. Seorang guru professional harus mampu
melaksanakan pembelajaran dengan baik dan benar. Seorang guru professional harus mampu
meningkatkan kompetensi siswa. Guru harus mampu mendongkrak kemampuan yang
dimilikinya agar guru mampu melaksanakan kurikulum 2013 sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai dalam kurikulum 2013.

Profesionalisme guru sangat dituntut dalam mengaplikasikan kurikulum 2013 melalui


pembelajaran di kelas, namun demikian belum semua guru untuk hal ini, maka sadar akan
tantangan dan kesulitan yang akan dihadapi oleh guru maka pemerintah atau dalam hal ini
kementrian pendidikan melatih para guru untuk melaksanakan kuriklum 2013 agar guru bisa
lebih paham dan mudah dalam mengajar dengan kurikulum 2013.

Lebih dari itu, seorang guru professional harus mampu menjadikan seorang peserta didik
menjadi lebih kreatif dalam hal belajar di dalam kelas, sehingganya guru harus mampu
mengaplikasikan metode pembelajaran yang lebih tepat, mampu mengaplikasikan pendekatan
scientific.

Pada kurikulum 2013 proses pembelajaran yang lebih menitik beratkan pada kreativitas siswa,
keaktifan siswa untuk belajar dan memaknai setiap materi yang diberikan guru, terjadinya
pembelajaran yang lebih kooperatif. Lebih lanjut, dengan adanya kurikulum 2013 diharapkan
dapat membentuk karakter peserta didik karena setiap proses pembelajaran terintegrasi
pendidikan karakter. Dengan melihat beberapa penjelasan diatas, maka penulis tertarik untuk
menulis karya tulis dengan judul kurikulum 2013 membentuk profsionalisme guru dan
kreatifitas serta karakter siswa.

1. Permasalahan

Fokus yang menjadi permasalah yang diangkat dalam karya tulis ini adalah bagaimana
kurikulum 2013 membentuk profesionalisme guru dalam mengaplikasikan kurikulum 2013,
kratifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran serta karakter yang terbentuk setelah proses
pembelajaran.

1. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk menggambarkan bagaimana kurikulum 2013
membentuk profesionalisme guru dalam mengaplikasikan kurikulum 2013 serta kratifitas siswa
dalam mengikuti pembelajaran serta karakter yang terbentuk setelah proses pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Profesionalisme Guru

Dalam proses pembelajaran, maka di harapkan seorang guru harus mampu membelajarkan siswa
dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat agar siswa dapat termotivasi dan tertarik
dalam belajar, karena apabila siswa termotivasi dalam belajar maka ini akan berdampak pada
hasil belajar yang meningkat. Tentunya semua berawal dari bagaimana seorang guru professional
merancang pembebelajaran dengan baik, pendapat ini di dukung oleh Soedijarto (2008: 179)
yang mengatakan bahwa indikator kemampuan guru professional yaitu kemampuan
merencanakan pembelajaran, kemampuan mengelola proses pembelajaran, kemampuan menilai
hasil belajar, kemampuan mendiagnosis kesulitan belajar yang dihadapi siswa, dan kemampuan
untuk terus menyempurnakan program pembelajara. Dengan demikian maka, seorang guru
professional harus mempu merancang, mengelola dan melakukan tindak lanjut terhadap proses
dan hasil belajar.

Dalam proses pembelajaran guru professional tidak hanya sebagai pihak yang memberi tahu atau
sebagai informan, menurut Abdullah Alkaf yang dikutip dari majalah Asah Asuh (2014)
mengatakan bahwa pembelajaran kurikulum 2013 guru tidak berperan sebagai pihak yang
memberitahu siswa, tetapi mengajak siswa untuk mencari tahu, maka yang ditekankan adalah
pembelajaran Discovery Learning, yang mengajak siswa mengamati, menyimpulkan, dan
hasilnya menjadi pengetahuan siswa. Terkait dengan penjelasan ini, maka seorang guru yang
professional akan mampu menciptakan suasana belajar yang dapat membantu siswa untuk
mencari tahu sendiri, mengamati sehingga apa yang menjadi hasil pengamatan menjadi
pengetahuan bagi siswa tersebut.

Dalam meningkatkan profesionalisme guru untuk mengaplikasikan kurikulum 2013, maka


pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan nasional melaksanakan diklat latihan guru
untuk pembelajaran kurikulum 2013. Untuk menjadi seorang guru professional, maka seorang
guru harus siap untu belajar dan terus belajar, hal ini sejalan dengan pendapat Chatib (2009: 148)
yang mengatakan bahwa menjadi guru professional berarti menjadi guru yang tidak pernah
berhenti belajar. Terkait dengan pendapat ini maka pelatihan guru bisa menjadi wadah untuk
guru belajar meningkatkan profesioalisme, untuk itu meningkatkan profesionalisme guru dalam
mengaplikasikan kurikulum 2013 maka kementrian pendidikan melaksanakan hal-hal sebagai
berikut:

1. Diklat Kurikulum 2013 Bagi Guru

2. Pendampingan Kurikulum 2013

3. Monitoring dan Evaluasi

Ketiga program diatas dilakukan oleh kementrian pendidikan nasional dalam rangka
meningkatkan profesionalisme gu ru untuk mengaplikasikan kurikulum 2013. Peningkatan
prefesionalisme guru melalui diklat guru merupakan jalan utama untuk mempersiapkan guru
yang mampu melaksanakan pembelajaran menggunkan pembelajaran scientific, bagaimana
melakukan penilaian sikap spiritual dan lain sebagainya.

1. Tantangan Bagi Seorang Guru

Seiring dengan dilaksanakannya kurikulum secara merata di Indonesia dan di kelas I, II, IV, V
maka dengan itu juga semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kuriklum 2013 khususnya
guru sudah harus siap secara menyeluruh dalam hal mengajarkan pembelajaran di kelas
khususnya dengan menggunkan pendekatan scientific dan beberapa pendekatan lainnya.

Tentunya ini seharusnya menjadi pelecut semangan bagi guru untuk dapat melaksanakan
pembelajaran di dalam kelas. Bagi guru tidak ada alasan untuk tidak siap dalam menghadapi
kurikulum 2013, tantangan yang harus dihadapi oleh guru dalam melaksanakan kurikulum 2013
sangat banyak, namun seharusnya semua tantangan itu dapat dilewati oleh dengan baik demi
terciptanya peserta didik yang berkualitas.
Tantangan yang harus dihadapi guru dalam mengaplikasikan kurikulum 2013 adalah dimana
guru harus mampu menjadi fasilitator bagi siswa saat proses pembelajaran terjadi, pada bagian
ini guru dituntut harus mampu mengawal siswa dalam hal pemahaman konsep materi, guru harus
mampu memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan kompetensinya. Yang terakhir adalah
melakukan penilaian, tantangan guru ini adalah bagaimana guru mampu menilai sikap dan
ketrampilan siswa berdasarkan konsep penilaian yang ada pada kurikulum 2013, faktanya bahwa
masih banyak guru yang belum paham tentang penilaian sikap dan ketrampilan, sehingganya ini
menjadi tantangan tersendiri bagi guru, maka solusi yang dapat ditempuh guru adalah, dengan
mengikuti pelatihan guru, pendampingan terhdap pembelajaran kurikulum 2013 di kelas.

1. Kreatifitas Belajar Siswa

Secara garis besar, kurikulum 2013 melalui proses pembelajaran di kelas melatih siswa untuk
belajar lebih kreatif. Dalam proses pembelajaran pada materi tertentu siswa diajarkan untuk
melakukan observasi, melakukan eksperimen dengan tujuan untuk melatih kepekaan siswa,
kreatifitas siswa misalnya bagaimana siswa dapat memanfaatkan barang-barang bekas menjadi
sesuatu yang bernilai estetis dan ekonomis. Selama ini proses pembelajaran berfokus bagaimana
siswa mendapatkan pengetahuan, akan tetapi dalam pelaksanaan kurikulum 2013 akan lebih
menyempurnakan aspek ketrampilan dan sikap.

Sumber: majalah Asah Asuh 02 tahun 2014

Dengan demikian maka jelaslah bahwa kurikulum 2013 memfasilitasi siswa melalui guru untuk
belajar lebih kreatif, kreatif dalam hal menggunakan fasilitas belajar, memanfaatkan sumber
belajar, kreatif dalam mempresentasekan hasil belajar dan lain lain.
Disisi lain, para ahli dan pemerhati pendidikan memberikan tanggapan yang fariatif terhdapa
kurikulum 2013 dan pendapat-pendapat ini mengarah pada kualitas kurikulum 2013. Menurut
Muslim Kasiar yang di kutip dari majalah Asah Asuh (2014) mengatakan bahwa tujuan
kurikulum 2013 adalah untuk menghasilkan insane Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif
dan efektif. Tentunya ini sangat positif mengingat tanggapan dan kritik para ahli ini akan
menjadi referensi dalam rangka kurikulum 2013 kedepan lebih baik lagi.

Sebagai hasil dari kreatifitas siswa dalam pembelajaran kurikulum 2013. Berikut adalah
beberapa contoh kreatifitas belajar siswa saat mengikuti pembelajaran:

Dokumentasi : Aktifitas siswa membuat lukisan dari bahan-bahan alam

Hasil kreatifitas siswa: bunga terbuat dari kertas Koran bekas

Kreatifitas siswa: bingkai foto terbuat dari Koran bekas

Ketiga dokumentasi diatas, sebagai contoh kreatifitas siswa yang dilakukan siswa saat proses
pembelajaran, dengan kata lain bahwa kurikulum 2013 dapat menjadikan siswa menjadi lebih
kreatif dan inovatif memanfaatkan barang bekas menjadi bernilai seni dan bernilai ekonomis.

1. Karakter Yang Diharapkan

Melalui Kurikulum 2013, diharapkan siswa tidak hanya memiliki pengetahuan, akan tetapi
setelah proses pembelajaran diharapkan akan terbentuk karakter yang unggul. Kurikulum 2013
tidak hanya menitik beratkan bagaimana siswa memiliki sikap dan pengetahuan akan tetapi juga
karakter, tentuny ini sangat beralasan karena dengan memiliki karakter yang baik, siswa akan
lebih mudah dalam belajar.

Sumber: majalah Dikbud edisi 03 tahun 2014

Tentunya karakter ini akan mencerminkan kepribadian siswa yang memiliki ahlak dan moral
yang baik. Dengan tertanamnya nilai karakter bangsa dalam diri siswa, maka siswa diharapkan
akan memiliki jiwa yang jujur, beretika dan berbudi luhur, jujur, terampil.
BAB III

PENUTUP

Profesionalisme guru dalam implementasi kurikulum 2013 mutlak diperlukan. Oleh


karena itu sebagai guru professional diharapkan guru dapat meningkatkan kompetensi mereka
melalui proses pengembangan diri yakni dengan cara mengikuti diklat guru kurikulum 2013,
melaksanakan pengembangan diri melalui Kelompok Kerja Guru, mengikuti pendampingan
pembelajaran dan lain lain. Dengan kata lain bahwa profesionalisme seorang guru akan
bergantung pada bagaimana dia mampu mengembangkan diri dan bagaimana dia dapat
melaksanakan proses pembelajaran dengan baik melalui penggunaan metode, media, sumber
belajar yang tepat.

Implementasi kurikulum 2013 merupakan sebuah perwujudan kepedulian terhadap peningkatan


kualitas peserta didik. Hal ini dapat tercermin dari aspek yang ingin dicapai dalam proses
pembelajaran yakni bahwa siswa tidak hanya diharapkan memiliki pengetahuan akan tetapi juga
sikap dan ketrampilan serta memiliki karakter yang baik.

Dengan kurikulum 2013 maka diharapkan siswa belajar lebih menyenangkan, siswa menjadi
lebih kreatif dan inovatif, dan produktif sehingga kualitas hasil belajar lebih baik. Untuk itu
maka perlu kepedulian dari kita semua untuk mensukseskan pelaksanaan kurikulum 2013.

DAFTAR PUSTAKA

Chatib Munif. 2009. Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelegences di


Indonesia. Bandung; Mizan ustaka

Majalah Asah Asuh. Edisi 2 tahun 2014

Majalah Asah Asuh edisi 7 tahun 2014.

Soedijarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Nasional. Jakarta; Buku Kompas