Anda di halaman 1dari 147

TUGAS 1 - SAINS BANGUNAN & UTILITAS 2

SISTEM PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN


BANGUNAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN

DOSEN PEMBIMBING:
I NYOMAN SUSANTA, ST., MERG.

NAMA ANGGOTA KELOMPOK 1:


1. NI LUH PRADNYA DEWI (1504205030)
2. NGURAH KETUT PRAMESTI NIRARTHA (1504205035)
3. MADE SUSILA (1504205042)
4. SALMA CHRISNA PADMASARI (1504205043)
5. PUTU SARTHANA PUTRA (1504205044)
6. I KADEK JUNIARTA (1504205045)
7. I MADE ARYA ADHI JUNA HARTA (1504205049)
8. GUSTI AYU PUTU NIRIANA (1504205050)
9. HURIYAH NUR HASANAH (1504205051)
10. KOMANG AYU KRISNA WIDYASTUTI (1504205052)

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rakhmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Perlindungan dan
Pengamanan Bangunan terhadap Bahaya Kebakaran tepat pada waktunya dan sesuai
harapan meskipun banyak hambatan yang dialami dalam proses pengerjaannya.
Makalah ini penulis susun berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai sumber
seperti dari media elektronik yaitu internet dan mencari refrensi dari buku-buku yang
memuat materi yang digunakan untuk penyusunan makalah ini.
Penyusunan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik tentunya tidak terlepas dari
berbagai pihak, khususnya dari bantuan dosen pembimbing. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak I Nyoman Susanta, ST.,
MErg., selaku dosen pembimbing materi sistem perlindungan dan pengamanan bangunan
terhadap bahaya kebakaran pada mata kuliah Sains Bangunan & Utilitas 2. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi
kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.
Kita semua tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna seperti pepatah
mengatakan tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari bahwa makalah yang telah
disusun ini masih jauh dari kesempurnaan banyak terdapat kekurangannya baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran-
saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca guna menuju ke arah yang lebih
baik. Akhir kata penulis berharap semoga makalah sistem perlindungan dan pengamanan
bangunan terhadap bahaya kebakaran ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Badung, 22 Februari 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... 1


DAFTAR ISI ......................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................ vi
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................... 2
1.3 TUJUAN ........................................................................................................................ 2
1.4 MANFAAT .................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 4
2.1 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN .............................................................. 4
2.2 PENGERTIAN DAN BAHAYA KEBAKARAN ......................................................... 8
2.3 SISTEM PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN BANGUNGAN TERHADAP
BAHAYA KEBAKARAN ........................................................................................... 17
2.3.1 SISTEM PENCEGAHAN ................................................................................ 18
2.3.2 SISTEM PEMADAMAN ................................................................................. 40
2.3.3 SISTEM EVAKUASI....................................................................................... 71
2.3.4 SISTEM MANAJEMEN ................................................................................ 116
BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 135
3.1 KESIMPULAN .......................................................................................................... 135
3.2 SARAN ...................................................................................................................... 136
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 137

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tiga Unsur Pembentuk Api .. 9


Gambar 2.2 Gambaran Umum Suatu Sistem Deteksi Dan Alarm Kebakaran ... 19
Gambar 2.3 Sistem Alarm Konvensional ... 20
Gambar 2.4 Sistem Alarm Adressable ... 21
Gambar 2.5 Fixed Heat Detector............ 22
Gambar 2.6 Rate Of Rise Detector . 23
Gambar 2.7 Bagian Dalam Rate Of Rise Detector . 23
Gambar 2.8 Photoelectric Detector. 24
Gambar 2.9 Ionization Smoke Detector.. 25
Gambar 2.10 Prinsip Kerja Flame Detector 26
Gambar 2.11 Flame Detector.. 26
Gambar 2.12 Instalasi Gas Detector 27
Gambar 2.13 Gas Detector.. 28
Gambar 2.14 Kaca Tahan Panas.. 31
Gambar 2.15 Gips sebagai Finishing Interior. 32
Gambar 2.16 Batu Bata... 33
Gambar 2.17 Bata Ringan .. 34
Gambar 2.18 Kompertemenisasi pada Rumah Gandeng .... 37
Gambar 2.19 Kompertemenisasi pada Rumah Gandeng..41
Gambar 2.20 Dry Riser System42
Gambar 2.21 Instalasi Pipa Hydrant.44
Gambar 2.22 Pipa Hydrant...47
Gambar 2.23 Jocky Fire Pump 47
Gambar 2.24 Main Fire Pump..48
Gambar 2.25 Diesel Fire Pump48
Gambar 2.26 Siemense Conection...49
Gambar 2.27 Sistem Fire Alarm...50
Gambar 2.28 Bentuk Kepala Sprinkler Berdasarkan Arah Pancaran..56
Gambar 2.29 Contoh Bentuk Kepala Sprinkler Segel Berwarna.56
Gambar 2.30 Mekanisme Deluge Sistem.... 59
Gambar 2.31 Tabung APAR Busa...61
Gambar 2.32 Posisi Tabung saat Memadamkan Api...63

iii
Gambar 2.33 Tabung APAR CO263
Gambar 2.34 Tabung APAR powder...64
Gambar 2.35 Tabung APAR Air..66
Gambar 2.36 Tabung APAR Hallon68
Gambar 2.37 Tabung APAR Kimia Basah..68
Gambar 2.38 Alarm Kebakaran ..76
Gambar 2.39 Sistem Konvensional dengan Dua Kabel ..77
Gambar 2.40 Fire Alarm Control dan Lampu Indikator Alarm 78
Gambar 2.41 Monitor Module .81
Gambar 2.42 Rotary Switch .81
Gambar 2.43 Manual Call Point 82
Gambar 2.44 Fire Bell .83
Gambar 2.45 Indicator Lamp ..84
Gambar 2.46 Tampak Luar Panel Fire Alarm .85
Gambar 2.47 Desain Pintu Kebakaran 87
Gambar 2.48 Detail Rel Pegangan Tangan..92
Gambar 2.49 Tangga Darurat Dilengkapi Pintu Darurat, Lift Darurat, & Hidran ...92
Gambar 2.50 Tangga Darurat di Luar dan di Dalam Gedung .93
Gambar 2.51 Tinggi Anak Tangga dengan Kemiringan ke Depan .95
Gambar 2.52 Tinggi Anak Tangga dengan Kemiringan ke Belakang 95
Gambar 2.53 Kedalaman Anak Tangga ..95
Gambar 2.54 Pengukuran Anak Tangga dengan Tumpuan yang Stabil .96
Gambar 2.55 Anak Tangga dengan Permukaan Injakan yang Tidak Stabil ...96
Gambar 2.56 Dianggap Jalur Lintasan Biasa pada Tangga Monumental dengan Lokasi Rel
Pegangan Tangan yang Beragam ...97
Gambar 2.57 Dianggap Jalur Lintasan Biasa pada Tangga Monumental dengan Lokasi Rel
Pegangan Tangan yang Beragam ...97
Gambar 2.58 Dianggap Jalur Lintasan Biasa pada Tangga Monumental dengan Lokasi Rel
Pegangan Tangan yang Beragam ...98
Gambar 2.59 Detail Rel Pegangan Tangan .98
Gambar 2.60 Detail Rel Pegangan Tangan .99
Gambar 2.61 Jalur Tangga dengan Dinding Luar Tidak Tahan Api dalam Bidang yang
Sama dengan Dinding Luar ..101

iv
Gambar 2.62 Jalur Tangga dengan Keliling yang Menonjol ke Luar pada Dinding Luar
Bangunan .102
Gambar 2.63 Jalur Tangga dengan Dinding Luar Tidak Diproteksi Berhadapan .102
Gambar 2.64 Penandaan dan Penempatan Tanda Arah Tangga ...104
Gambar 2.65 Pedoman Dimensi Elevator Diperlukan untuk Menentukan Dimensi Shaft
Lift (Tabung Lift) 107
Gambar 2.66 Mobil Pemadam sebagai Lift untuk Petugas Pemadam Kebakaran 109
Gambar 2.67 Simbol dan Tempat Titik Kumpul111
Gambar 2.68 Kompartemenisasi Ruangan.113
Gambar 2.69 Kolam Sekitar Gedung.115
Gambar 2.70 Kolam Pinggir Gedung.115
Gambar 2.71 Pemerikasaan Alat ...128
Gambar 2.72 Edukasi Pencegahan Kebakaran ..130
Gambar 2.73 Poster Dilarang Merokok dan Menyalakan Api ..133

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kemampuan Beberapa Jenis APAR.78


Tabel 2.2 Komponen Penentuan Lebar Pintu Keluar ..88

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dengan terbitnya Kepmen PU No.10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis
Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan,
Kepmen PU No.11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan
Kebakaran di Perkotaan, UU RI No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, dan
secara teknis juga telah diperinci dalam Badan Standardisasi Nasional (2006) melalui
beberapa SNI Tahun 2000 sampai 2004 (edisi terakhir). Beberapa NSPM (Norma,
Standar, Pedoman, Manual) yang tersebut di atas membuktikan bahwa masalah
kebakaran adalah masalah yang cukup serius untuk ditanggulangi, terutama untuk
pengamanan bangunan gedung dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran.
Kebakaran selama ini telah menjadi peristiwa umum yang selalu hangat
dibicarakan dalam masyarakat, berita kebakaran selalu menjadi Headline utama di
berbagai media massa, baik media surat kabar maupun media elektronik. Realistis
memang, karena kebakaran selalu menjadi masalah yang sangat perlu diperhatikan bagi
seseorang, sekelompok orang, atau pemerintah yang mempunyai aset/properti, baik
berupa gedung, bangunan umum, pabrik maupun jenis bangunan lain. Berbagai jenis
aset/properti tersebut sangat berpeluang akan terbakar apabila tidak dikelola dengan
baik terutama mengenai sistem perlindungannya terhadap bahaya kebakaran, baik
dalam bentuk fisik berupa sarana dan prasarana proteksi kebakaran maupun dalam
bentuk non fisik berupa keterampilan dan SDM petugas dan pengelolanya di bidang
manajemen kebakaran.
Bangunan gedung sebagai sebuah aset/properti yang dimanfaatkan untuk tempat
beraktifitas dan melakukan segala kegiatan, seharusnya memiliki syarat keamanan,
khususnya terhadap bahaya kebakaran, dan harus dapat menjamin keamanan penghuni
selama berada di dalamnya agar dapat melakukan kegiatan dan meningkatkan
produktivitas serta kualitas hidupnya. Untuk mengamankan sebuah bangunan gedung
dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran, perlu upaya melaksanakan ketentuan
dan persyaratan teknis dalam mengatur dan mengendalikan bangunan gedung,
termasuk dalam rangka proses perizinan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan
bangunan gedung, termasuk pemeriksaan kelayakan fungsi dan keandalan bangunan
terhadap bahaya kebakaran.

1
Semakin kompleks fungsi suatu bangunan dan semakin beragam aktivitas yang
diwadahi, maka semakin tinggi tuntutan keamanannya, sehingga semakin lengkap pula
sistem proteksi kebakaran yang dibutuhkan, guna keselamatan pengguna, pengelola
maupun bangunan itu sendiri. Melihat betapa pentingnya sistem pencegahan dan
penanggulangan bahaya kebakaran pada bangunan, maka perlu pemahaman lebih
mendalam mengenai sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya
kebakaran sebagai salah satu sistem utilitas bangunan. Pemahaman mengenai sistem
tersebut yang mencakup sistem pencegahan, pemadaman, evakuasi, dan manajemen
sangat diperlukan untuk mencegah, mengurangi, bahkan menanggulangi kerugian
akibat kebakaran.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Pencegahan dan penanggulangan kebakaran merupakan salah satu aspek
keselamatan banguan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal itu, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan sistem perlindungan dan pengamanan bangunan
terhadap bahaya kebakaran? Apa saja yang menjadi ruang lingkupnya?
2. Bagaimana sistem, komponen, struktur, maupun kapasitas dari masing-masing
ruang lingkup sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya
kebakaran?

1.3 TUJUAN
Berdasarkan pada rumusan masalah yang dijabarkan di atas, maka tujuan yang ingin
dicapai dari penyusunan makalah ini ialah:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem perlindungan dan
pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran beserta yang menjadi ruang
lingkupnya.
2. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana sistem, komponen, struktur, maupun
kapasitas dari masing-masing ruang lingkup sistem perlindungan dan pengamanan
bangunan terhadap bahaya kebakaran tersebut.

2
1.4 MANFAAT
Dengan memahami apa yang dimaksud dengan sistem perlindungan dan
pengamanan bangungan terhadap bahaya kebarakan, maka mahasiswa diharapkan
dapat menerapkan pada setiap design yang akan dibuat kedepannya dengan
menggunakan perhitungan yang tepat serta pertimbangan lain di lapangan. Selain itu
dengan mengetahui bagaimana sistem, kapasitas, komponen maupun struktur dari
masing-masing ruang lingkup sistem perlindungan dan pengamanan bangungan
terhadap bahaya kebarakan tersebut, juga diharapkan dapat mengurangi kesalahan
perancangan layout maupun pengaturan komponen sehingga tidak menjadi masalah
yang mengganggu unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, hingga komunikasi dan
mobilitas dalam bangunan yang dirancang dikemudian harinya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN


Perkembangan struktur bangunan yang semakin kompleks dan penggunaan
bangunan yang semakin beragam serta tuntutan keselamatan yang semakin tinggi,
membuat pihak pemilik atau pengembang bangunan harus mulai memikirkan Fire
Safety Management. Beberapa kejadian kebakaran pada bangunan tinggi baik
bangunan komersial maupun perkantoran mestinya menjadi pelajaran penting dalam
penyiapan Fire Safety Management. Berikut ini peraturan perundangan-undangan yang
mengatur sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran.
A. UNDANG-UNDANG BANGUNAN GEDUNG
Jaminan keselamatan bagi penghuni yang berada dalam bangunan, secara
legal telah menjadi persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu bangunan gedung.
Hal ini dituangkan melalui persyaratan keandalan yang harus dipenuhi oleh suatu
bangunan gedung. Undang-undang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
dalam pasal 16 butir 1 menyatakan :
Persyaratan keandalan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (3), meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan
kemudahan.
Sedangkan pada pasal 17 butir 1 :
Persyaratan keselamatan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal
16 ayat (1) meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung
beban muatan, serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan
menanggulangi bahaya kebakaran dalam bahaya petir.
Pada UUBG 2002 memang tidak disebutkan secara langsung mengenai
kewajiban pembentukan manajemen keselamatan kebakaran pada bangunan.
Namun dalam sistem proteksi kebakaran, dikenal apa yang disebut sebagai segitiga
proteksi, dimana manajemen keselamatan kebakaran (FSM) menjadi salah satu
komponen tak terpisahkan, selain dua komponen lainnya yaitu sistem proteksi aktif
dan sistem proteksi pasif. Sistem proteksi ini telah tertuang dalam pasal 19 yang
menyebutkan bahwa Seluruh bangunan gedung selain rumah tinggal harus
dilengkapi dengan sistem proteksi pasif maupun aktif. Dimana dalam hal ini
faktor keselamatan menjadi persyaratan penting yang harus dipenuhi. Salah satu

4
persyaratan keselamatan gedung adalah kemampuan bangunan gedung dalam
mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran.

B. KEPMENNEG PU NO. 10/KPTS/2000


Untuk menjamin keselamatan terhadap bahaya kebakaran baik pada penghuni
bangunan dan lingkungan yang dapat terjadi sewaktu-waktu maka diperlukan
upaya pengawasan dan pengendalian yang sistematis terhadap bahaya kebakaran
dalam bangunan gedung. Dalam Bab VI butir 5.4, sebagai upaya jaminan
keandalan sistem adalah :
Unsur manajemen pengamanan kebakaran (fire safety management), terutama
yang menyangkut kegiatan pemeriksaan, perawatan dan pemeliharaan, audit
keselamatan kebakaran, dan latihan penanggulangan kebakaran harus
dilaksanakan secara periodic sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan sarana
proteksi aktif yang terpasang pada bangunan.

C. KEPMENNEG PU NO.11/KPTS/2000
Dalam Kepmenneg PU No. 11/KPT/2000 tentang Ketentuan Teknis
Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan, Bab IV Manajemen
Penanggulangan Kebakaran Bangunan Gedung, Klausul 1.1 point 1, mensyaratkan
adanya manajemen keselamatan kebakaran pada suatu bangunan gedung :
Setiap bangunan umum termasuk apartemen yang berpenghuni minimal 500
orang, atau yang memiliki luas lantai minimal 5.000 m2, atau mempunyai
ketinggian bangunan lebih dari 8 lantai, atau bangunan rumah sakit, diwajibkan
menerapkan Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK).
Tujuan adanya Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK) ini, masih
dalam Kepmen yang sama, sebagaimana disebutkan dalam Bab IV klausul 2.1
point 2:
Bangunan gedung melalui penerapan MPK harus mampu mengatasi
kemungkinan terjadinya kebakaran melakui kesiapan dan keandalan system
proteksi yang ada, serta kemampuan petugas menangani pengendalian kebakaran,
sebelum bantuan dari instansi pemadam kebakaran tiba.

5
D. SNI KEBAKARAN
1. SNI 03-1735-2000 Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses
Lingkungan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan
Gedung
2. SNI 03-1736-2000 tata Cara Perencanaan Sistem Proteksi Pasif Untuk
Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung
3. SNI 03-1745 2000 Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Pipa Tegak
dan Slang Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan
Gedung
4. SNI 03-1746-2000 Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sarana Jalan
Keluar Untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan
Gedung
5. SNI 03-6574-2001 Tata Cara Perencanaan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah
dan Sistem Peringatan Bahaya Pada Bangunan Gedung
6. SNI 03-3985-2000 Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Deteksi
dan Alarm Kebakaran Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan
Rumah dan Gedung.
7. SNI 03-3987-1995 Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Alat Pemadam Api
Ringan Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan RumahDan
Gedung.
8. SNI 03-3989-2000 Tata Cara Perencanaan dan Pemasangan Sistem Springkler
Otomatik Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung
9. SNI 03-6570-2001 Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi
Kebakaran
10. SNI 03-6571-2000 Sistem Pengendalian Asap Kebakaran Pada Bangunan
Gedung
11. SNI 03-7012-2004 Sistem Manajemen Asap di Dalam Mal, Atrium dan
Ruangan Bervolume Besar
12. SNI 03-7015-2004 Sistem Proteksi Petir Pada Bangunan Gedung
13. SNI 04-0225-2000 Tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL
2000)
14. SNI 03-7011-2004 Keselamatan Pada Bangunan Fasilitas Layanan Kesehatan
15. SNI 09-7053-2004 Kendaraan dan Peralatan Pemadam Kebakaran - Pompa

6
Selain peraturan perundang-undangan diatas, sistem perlindungan dan
pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran juga ditindaklanjuti dalam
Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman No. 58/KPTS/2002 tentang
Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung, serta
pada Kepmennaker 186/MEN/1999, dimana mensyaratkan adanya manajemen
keselamatan kebakaran pada bangunan gedung. Selain itu proteksi kebakaran bangunan
gedung juga diatur pelaksanaan dan teknisnya dalam PP 36/2005, Permen PU
24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis IMB Gedung, Permen PU 25/PRT/M/2007
tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung, Permen PU
25/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi
Kebakaran, dan Permen PU 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem
Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Kemudian untuk Standar
Pelayanan Minimal Penanggulangan Bencana Kebakaran mengacu ke Permendagri
62/2008.
Disamping itu pula, upaya penerapan manajemen penanggulangan kebakaran
pada setiap pengelolaan bangunan telah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No. 20/PRT/M/2009 Tentang Pedoman Teknis Manajemen Proteksi Kebakaran
Di Perkotaan. Dalam Peraturan ini mencantumkan mengenai definisi manajemen
penanggulangan kebakaran bangunan gedung adalah bagian dari Manajemen
Bangunan untuk mengupayakan kesiapan pengelola, penghuni dan regu pemadam
kebakaran terhadap kegiatan pemadaman yang terjadi pada suatu bangunan.
Adanya peraturan perundangan-undangan, standard nasional maupun
internasional, seperti NFPA 101 dalam hal keselamatan kebakaran menyiratkan bahwa
pemilik atau pengelola gedung harus menyiapkan atau melaksanakan Fire Safety
Management dan harus dilaksanakan dengan komitmen yang kuat dari
pemilik/pengelola gedung.

7
2.2 PENGERTIAN DAN BAHAYA KEBAKARAN
Kebakaran senantiasa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, baik
menyangkut kerusakan harta benda, kerugian materi, gangguan terhadap kelestarian
lingkungan, terhentinya proses produksi barang serta jasa, serta bahaya terhadap
keselamatan jiwa manusia. Kebakaran yang terjadi di permukiman padat penduduk
bisa menimbulkan akibat-akibat sosial, ekonomi, dan psikologi yang luas. Kebakaran
pada bangunan-bangunan gedung sering berakibat fatal akibat sulitnya upaya
pemadaman dari luar gedung. Untuk itu diperlukan sitem perlindungan dan
pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran. Namun sebelum membahas
bagaimana sistem pencegahan dan penanggualangan bahaya kebakaran pada bangunan
gedung ada baiknya kita mengetahui lebih dulu apa itu kebakaran termasuk sumber,
penyebab, dan bahaya kebakaran itu sendiri
A. DEFINISI KEBAKARAN
Kebakaran adalah suatu peristiwa oksidasi dengan ketiga unsur (bahan
bakar, oksigen dan panas) yang berakibat menimbulkan kerugian harta benda atau
cidera bahkan sampai kematian (Karla, 2007; NFPA, 1986). Menurut Dewan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), kebakaran adalah suatu
peristiwa bencana yang berasal dari api yang tidak dikehendaki yang dapat
menimbulkan kerugian, baik kerugian materi (berupa harta benda, bangunan fisik,
deposit/asuransi, fasilitas sarana dan prasarana, dan lain-lain) maupun kerugian
non materi (rasa takut, shock, ketakutan, dan lain-lain) hingga kehilangan nyawa
atau cacat tubuh yang ditimbulkan akibat kebakaran tersebut.
Sifat kebakaran seperti dijelaskan dalam bahan training keselamatan kerja
penanggulangan kebakaran (1987) adalah terjadi secara tidak diduga, tidak akan
padam apabila tidak dipadamkan, dan kebakaran akan padam dengan sendirinya
apabila konsentrasi keseimbangan hubungan 3 unsur dalam segitiga api tidak
terpenuhi lagi.

8
A. SIFAT TEKNIS API DAN KEBAKARAN
Prosedur penanggulangan bahaya kebakaran dilandasi oleh fenomena teknis
api (disamping juga hal-hal psikologis, seperti: shock, kepanikan, dll.). Hal-hal
teknis yang menjadi landasan upaya penanggulangan antara lain unsur penbentuk
api, tahan perkembangan api, serta hal-hal yang membahayakan keselamatan jiwa.
Api tumbuh secara bertahap, dari mulai menyala, membesar, menghasilkan gas dan
asap dari bahan yang terbakar, dan bila tidak dikontrol, ia akan mencapai tahap
maksimal yang menghanguskan serta membahayakan keselamatan jiwa. Secara
teknis, perkembangan api di dalam ruangan tertutup dapat dibagi menjadi 5 (lima)
tahap yaitu tahap penyalaan, tahap pertumbuhan, tahap puncak, tahap pembakaran
penuh, dan yang terakhir tahap surut.
Dalam suatu proses pembakaran, tidak semua tahap perkembangan api akan
selalu terlalui, atau proses pembakaran mencapai semua tahap (lima tahap tersebut
diatas). Hal tersebut sangat tergantung dari kualitas dan kapasitas tiga unsur
pembentukan api. Secara defenisi, api timbul ketika terjadi rekasi proses rantai
antara bahan mudah bakar (fuel), oksigen, dan panas (heat) yang sering disebut
segitiga api (fire triangle). Ketiga unsur inilah yang membentuk api dan dapat
digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Tiga Unsur Pembentuk Api


Sumber: https://www.sc.edu/ehs/training/Fire/01_triangle.htm

Ketiga unsur tersebut seperti tergambar di atas harus bekerja bersama-sama


untuk dapat membentuk api dan pembakaran. Tanpa adanya salah satu dari ketiga
unsur tersebut, proses pembakaran tidak akan pernah terjadi . Komposisi dari ketiga
unsur inilah yang menentukan tahap proses pembakaran berlangsung. Suhu
penyulutan dimaksudkan sebagai tingkatan energi bahan untuk terbakar pada
temperatur bakarnya. Temperature bakar yaitu temperatur terendah saat bahan

9
bakar mulai terbakar. Atau bisa diartikan bahwa bahan material mudah terbakar bila
temperature bakar material tersebut relatif rendah. Karakteristik pertumbuhan dan
penyebaran api, sama seperti penyalaan api, kecepatan penyebaran, dan
pemancaran panas, asap dan gas berbahaya, ditentukan oleh banyak faktor antara
lain sebagai berikut:
a. Kondisi geometris ruangan
b. Bukan yang ada
c. Sumber isi
d. Jarak antara sumber api dengan material yang terbakar
e. Karakteristik dari material interior
f. Tipe dan volume material
g. Kondisi dan penataan ruangan
Api dengan cepat berkembang besar melalui konveksi, dan kemudian
menyebar secara lateral terus ke langit-langit bila ruangan terbatas. Sesuatu yang
terbakar, disamping menghasilkan gas, juga asap dan panas. Panas gas yang timbul
peristiwa kebakaran, bisa mencapai 6500C 9500C. Salah satu fenomena khas
terjadi pada peristiwa kebakaran adalah terjadinya flashover, dimana api tiba-tiba
membesar dengan nyala yang besar pula. Proses ini terjadi ketika suhu lapisan gas
panas dalam ruang melebihi 500C dan fluks kalor ke lantai melebihi 20 KW/m.

10
B. IDENTIFIKASI PENYEBAB KEBAKARAN
Penyebab kebakaran dapat bermacam-macam. Penyebab ini harus dapat
diidentifikasi pihak manajemen, sehingga penyebab kebakaran dapat dicegah.
Berikut beberapa faktor penyebab terjadinya kebakaran:
1. FAKTOR MANUSIA
a. Keawaman seperti awam dalam pengetahuan sifat bahan bakar, barang-
barang berbahaya, suatu tempat yang diisi dengan banyak barang akan
berpengaruh terhadap peningkatan suhu udara sehingga rawan kebakaran.
b. Kelalaian dan kekurangwaspadaan seperti puntung rokok yang masih berapi
yang dibuang disuatu tempat, lupa mematikan kompor, dll.
c. Kebakaran yang disengaja merupakan usaha percobaan untuk menutupi
kriminalitas atau berasal dari perselisihan perorangan. Perusahaan dapat
mencegah kebakaran yang disengaja dengan memastikan sistem proteksi
kebakaran dites secara berkala. Kebakaran karena unsur kesengajaan, untuk
tujuan-tujuan tertentu, misalnya:
a) Sabotase untuk menimbulkan huru-hara, kebanyakan dengan alasan
politis.
b) Mencari keuntungan pribadi karena ingin mendapatkan ganti rugi
melalui asuransi kebakaran.
c) Untuk menghilangkan jejak kejahatan dengan cara membakar
dokumen atau bukti-bukti yang dapat memberatkannya.
d) Untuk jalan taktis dalam pertempuran dengan jalan bumi hangus.

2. FAKTOR ALAM DAN LINGKUNGAN


a. Bencana yang timbul akibat faktor alam seperti petir, loncatan muatan listrik
bertegangan tinggi ke suatu benda yang berada di tanah.
b. Bencana yang timbul akibat faktor lingkungan antara lain lingkungan tanpa
pepohonan/penghijauan, lingkungan tanpa sungai atau selokan, adanya
instalasi minyak dan gas alam, adanya tempat-tempat penyimpanan zat
kimia atau benda-benda mudah terbakar, bangunan yang terlalu berdekatan
sering membuat kendaraan pemadam kebakaran sukar memasuki lokasi
kebakaran, dll.

11
3. FAKTOR MESIN
Mesin yang sangat panas dapat menyebabkan kebakaran, sehingga harus secara
teratur di servis. Tempat pembuangan udaranya juga harus selalu dibersihkan
untuk mencegah terjadinya pemanasan mesin. Selain itu penyebab kebakaran
oleh faktor mesin antara lain sebagai berikut.
a. Umur mesin yang telah melebihi masa pakainya (life time)
b. Kelelahan logam (fatigue), seperti mesin atau alat yang mendapat tekanan
yang berubah-ubah sehingga mempunyai titik kritisnya.
c. Korosi/erosi seperti adanya reaksi dan gesekan pada zat atau cairan yang
berada dalam pipa-pipa minyak sehingga mengakibatkan menipisnya pipa.
d. Aus karena gesekan dengan bahan-bahan lain seperti as pompa, karena
gesekan akan menjadikan as pompa tersebut aus dan patah.

4. FAKTOR LISTRIK
Kebakaran akibat listrik sering terjadi di kantor-kantor dibandingkan dengan
rumah. Penyebabnya bisa berawal dari kontak/sirkuit listrik yang terlalu banyak
atau kontak yang terlalu panas, dan kabel- kabel yang tidak aman. Kekurangan
jumlah stop kontak yang menyebabkan penggunaan adaptor juga akan
menyebabkan kebakaran. Bahaya listrik memerlukan electrical audit untuk
mengecek kabel yang tidak aman maupun kabel yang memiliki terlalu banyak
beban. Berikut ini penyebab kebakaran yang juga diakibatkan oleh listrik.
a. Pemakaian kualitas bahan dan peralatan instalasi listrik yang kurang baik.
b. Perencanaan/pemasangan instalasi yang kurang sempurna.
c. Kesalahan pemasangan instalasi.
d. Kecerobohan pemakaian listrik (konsumen)
e. Kurangnya pemeliharaan instalasi.

12
C. KLASIFIKASI KEBAKARAN
Klasifikasi kebakaran adalah penggolongan atau pembagian kebakaran atas
dasar jenis bahan bakarnya. Pengklasifikasian kebakaran ini bertujuan untuk
memudahkan usaha pencegahan dan pemadaman kebakaran (Soehatman Ramli,
2005). NFPA (National Fire Protection Association) adalah suatu lembaga swasta
yang khusus menangani di bidang penanggulangan bahaya kebakaran di Amerika
Serikat. Menurut NFPA, kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu:
1. Kelas A, yaitu Kebakaran Bahan Padat kecuali Logam.
Kelas ini mempunyai ciri jenis kebakaran yang meninggalkan arang
dan abu. Unsur bahan yang terbakar biasanya mengandung karbon. Misalnya:
kertas, kayu, tekstil, plastik, karet, busa, dan lain-lain yang sejenis dengan itu.
Aplikasi media pemadam yang cocok adalah bahan jenis basah yaitu air.
Karena prinsip kerja air dalam memadamkan api adalah menyerap kalor/panas
dan menembus sampai bagian yang dalam.

2. Kelas B, yaitu Kebakaran Bahan Cair dan Gas yang Mudah Terbakar.
Kelas ini terdiri dari unsur bahan yang mengandung hidrokarbon dari
produk minyak bumi dan turunan kimianya. Misalnya: bensin, aspal, gemuk,
minyak, alkohol, gas LPG, dan lain-lain yang sejenis dengan itu.
Aplikasi media pemadam yang cocok untuk bahan cair adalah jenis
busa. Prinsip kerja busa dalam memadamkan api adalah menutup permukaan
cairan yang mengapung pada permukaan. Aplikasi media pemadam yang
cocok untuk bahan gas adalah jenis bahan pemadam yang bekerja atas dasar
substitusi oksigen dan atau memutuskan reaksi berantai yaitu jenis tepung
kimia kering atau CO2.

3. Kelas C, yaitu Kebakaran Listrik yang Bertegangan.


Misalnya: peralatan rumah tangga, trafo, komputer, televisi, radio,
panel listrik, transmisi listrik, dan lain-lain. Aplikasi media pemadam yang
cocok untuk kelas C adalah jenis bahan kering yaitu tepung kimia atau CO2.

13
4. Kelas D, yaitu Kebakaran Bahan Logam
Pada prinsipnya semua bahan dapat terbakar tak terkecuali benda dari
jenis logam, hanya saja tergantung pada nilai titik nyalanya. Misalnya:
potassium, sodium, aluminum, magnesium, calcium, zinc, dan lain-lain.
Bahan pemadam untuk kebakaran logam tidak dapat menggunakan air
dan bahan pemadam seperti pada umumnya. Karena hal tersebut justru dapat
menimbulkan bahaya. Maka harus dirancang secara khusus media pemadam
yang prinsip kerjanya adalah menutup permukaan bahan yang terbakar dengan
cara menimbun. Diperlukan pemadam kebakaran khusus (misal, Metal-X,
foam) untuk memadamkan kebakaran jenis ini.

14
D. BAHAYA KEBAKARAN
Ada empat hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan bahaya api saat
kebakaran yaitu penghuni (manusia), isi bangunan (harta/benda), struktur
bangunan, dan bangunan yang letaknya berdekatan dengan bangunan yang terbakar
atau lingkungan sekitar. Bahaya api ini meliputi dua hal yaitu thermal (suhu dan
nyala api) dan non thermal (asap dan gas beracun). Beberapa aspek penyelamatan
sebenarnya lebih diarahkan dan diprioritaskan pada penyelamatan jiwa manusia
terlebih dahulu, untuk kemudian meminimalkan kerugian pada tahap berikutnya.
Sehingga pada prinsipnya, konsep penanggulangan kebakaran (fire safety) atau
sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran yang
utama adalah penyelamatan jiwa manusia.
1. BAHAYA KESELAMATAN JIWA
Bahaya utama kebakaran pada manusia adalah kecarunan asap. Sekitar
75% kematian pada kebakaran gedung (bangunan tinggi) dikarenan hal
tersebut. Sedangkan 25% kematian disebabkan oleh suhu tinggi dalam gedung.
Asap sebagai penanda awal adanya api merupakan hasil pembakaran yang
dapat menghalangi penglihatan dan menghalangi kecepatan penghuni
bangunan dalam mencari jalan keluar. Asap mempunyai kecepatan rambat
sebesar 1 m/dt, sementara kecepatan orang normal adalah 1,2 m/dt dan
kecepatan orang hamil adalah sekitar 0.8 m.dt. Sifat asap sebagai hasil
pembakaran yang berbahaya yaitu:
1. Kandungan gas bersifat narkotik yang mempengaruhi sistem syaraf dan
jantung dapat mengakibatkan sesak napas, kehilangan kesadaran kematian.
2. Kandungan gas bersifat iritasi yang merupakan gas beracun yang mampu
mempengaruhi sensor iritasi manusia.
3. Efek panas yang mengakibatkan heat stroke, terbakarnya kulit, dan
terbakarnya alat pernapasan.
Selain itu kepanikan yang timbul ketika kebakaran terjadi mengakibatkan
penghuni seringkali kehilangan orientasi, sehingga mengakibatkan kecelakan
seperti terbentur/terjatuh ataupun terjebak dalam ruangan yang mengakibatkan
luka dan cedera serius hingga menyebabkan kematian.

15
2. KEBAKARAN SEBAGAI RESIKO KOMERSIAL
Kebakaran merupakan salah satu resiko komersial yang paling umum.
Sebagian besar perusahaan menganggap mereka telah aman dari resiko
kebakaran, sehingga mereka tidak memiliki perhatian khusus atas masalah
kebakaran. Padahal kebakaran merupakan risiko komersial yang dapat terjadi
dimanapun, kapanpun, dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi
perusahaan. Kebakaran ini sendiri sering terjadi tidak hanya di perusahaan atau
pabrik yang menggunakan bahan kimia yang rentan terhadap ledakan, tetapi
juga di tempat tempat biasa seperti pabrik tekstil, pertokoan dan lain lain.
Tidak salah jika kebakaran termasuk masalah utama dalam lingkungan kerja
yang harus ditangani secara khusus.

16
2.3 SISTEM PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN BANGUNGAN TERHADAP
BAHAYA KEBAKARAN
Perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran menjadi
hal penting dalam sistem utilitas bangunan karena menyangkut keselamatan jiwa
penghuni bangunan serta kerugian material yang bisa ditimbulkan akibat kebakaran.
Untuk mewujudkan suatu bangunan yang tidak rentan terhadap risiko ancaman bahaya
kebakaran, maka harus diupayakan membangun suatu sistem yang terpadu dalam
pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran. Sistem terpadu ini merupakan
metode yang tepat dalam merencanakan keselamatan jiwa dan harta benda yang ada
didalamnya. Metode yang dapat diaplikasikan dalam program pencegahan dan
penanggulangan kebakaran bangunan secara komprehensif adalah melalui sistem
perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran atau yang lebih
dikenal dengan manajemen penanggulangan kebakaran (fire safety management).
Sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran
merupakan suatu sistem atau pola pengelolaan unsur-unsur manusia, peralatan, data
teknis dan kelengkapan proteksi kebakaran serta dukungan pembiayaan yang
kesemuanya dilakukan secara komprehensif. Sistem perlindungan dan pengamanan
bangunan terhadap bahaya kebakaran juga merupakan suatu konsep yang
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi serta mengendalikan
aspek keselamatan dari kebakaran pada bangunan. Didalamnya tertuang tujuan dan
sasaran konkret keselamatan dari bahaya kebakaran yang meliputi keselamatan jiwa
penghuni yang ada didalamnya, perlindungan harta benda, kelangsungan usaha dan
keselamatan lingkungan.
Tujuan sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya
kebakaran pada dasarnya meningkatkan ketahanan dalam menanggulangi kebakaran
dan bahaya lainnya baik disengaja atau tidak disengaja yang dapat mengancam
keselamatan jiwa, harta benda maupun kelangsungan usaha dalam suatu bangunan.
Adapun ruang lingkup sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap
bahaya kebakaran ini meliputi sistem pencegahan, sistem pemadaman (fire fighting),
sistem evakuasi, dan sistem manajemen.

17
2.3.1 SISTEM PENCEGAHAN
Untuk menghindari terjadinya kebakaran pada suatu bangunan maka
diperlukan suatu cara/sistem pencegahan kebakaran. Sistem pencegah
kebakaran atau perlindungan kebakaran adalah salah satu sistem yang harus
dipasang atau diaplikasikan pada sebuah bangunan. Dengan adanya sistem ini
pada bangunan, bangunan daapt terlindungi serta nyawa penghuni bangunan
tersebut dapat terselamatkan. Setiap pemasangan sistem pencegah kebakaran
atau perlindungan kebakaran patut mengikut akta dan standard yang
bersesuaian dengan bangunan tersebut. Sistem pencegahan kebakaran terdiri
dari 4 sistem yaitu sistem interpolarisasi, sistem deteksi, pemilihan struktur dan
material, serta kompartemensasi.

A. SISTEM INTERPOLARISASI
Sistem intopolarisasi adalah suatu sistem yang memperhatikan jarak
aman antar ruangan, yang dimaksud disini adalah bagaimana menempatkan
ruangan yang mudah memicu kebakaran di letakan berjauhan dari ruangan-
ruangan lainnya.

B. SISTEM DETEKSI
Sistem deteksi kebakaran adalah sistem yang menyangkut mengenai
cara kerja alat-alat yang digunakan untuk menganalisa atau mengenali
tejadinya kebakaran sejak awal proses timbulnya api atau asap. Sistem ini
berfungsi untuk mengantisipasi meluasnya proses kebakaran pada suatu
bangunan (gedung) dan untuk memberikan peringatan bagi penghuni
gedung agar dapat segera dievakuasi atau menyelamatkan diri.
Detektor kebakaran adalah alat yang dirancang untuk mendeteksi
adanya kebakaran dan mengawali suatu tindakan. Dianggap perlu untuk
memberikan suatu gambaran umum secara sederhana terhadap lingkup
menyeluruh dari suatu sistem deteksi dan alarm kebakaran sehingga dapat
terlihat komponen/bagian-bagian dari sistem, dan ini ditunjukkan pada
gambar di bawah ini.

18
Gambar 2.2 Gambaran Umum Suatu Sistem Deteksi Dan Alarm Kebakaran.
Sumber: www.bromindo.com

Detektor mendeteksi keberadaan api, lalu mengirimkan input ke


MCFA (main control fire alarm) atau FACP (fire alarm control panel).
Kemudian data akan diolah, diseleksi, dan evaluasi, dan dihasilkan output
yang berisi informasi tentang lokasi zona kebakaran yang ditampilkan pada
ANN (announciator) dan secara otomatis akan mengaktifkan alrm
kebakaran.

1. SISTEM ALARM
System alarm kebakaran umumnya dibedakan menjadi dua yaitu system
alarm konvensional dan sistem alarm adressable.
a. Sistem Alarm Konvesional
Sistem alarm konvesional biasanya digunakan untuk
perumahan, toko, atau ruang-ruang tertentu pada suatu bangunan.
Perangkat yang telah di install kemudian akan menyampaikan
informasi kepada panel control. Fire alarm ini lebih banyak
digunakan karena lebih murah dibanding sistem addressable.
Alarm konvensional tidak dapat menentukan secara tepat lokasi
terjadinya kebakaran seperti halnya addressable alarm
systems. Namun dengan membagi bangunan menjadi beberapa
zona, kita dapat menentukan secara umum dimana letak terjadinya
kebakaran. Alarm konvensional akan menginformasikan deteksi
yang berasal dari Zona yang terhubung dengan panel control, tanpa

19
bisa memastikan detector mana yang memberikan sinyal, sebab
dalam 1 Zona bisa terdiri dari 5 bahkan 10 detector, bahkan
terkadang lebih. Sedangkan instalasi fire alarm konvensional ini
hanya bisa memberikan informasi pada letak zonanya saja.
Misalnya jika terdapat bangunan dua lantai, kita dapat
membedakan menjadi zona 1 dan zona 2. Jika terjadi kebakaran di
zona 1 maka secara umum alarm konvesional akan menandakan
bahwa letak api ada di lantai pertama.

Gambar 2.3 Sistem Alarm Konvensional


Sumber: www.discountfiresupplies.co.uk

Kelebihan dari sistem konvensional adalah bahwa sistem ini


relatif sederhana untuk bangunan ukuran kecil, serta dalam hal
perawatannya tidak memerlukan pelatihan khusus dan tidak rumit.
Selain itu saat menggunakan instalasi fire alarm konvensional ini
akan membutuhkan biaya yang efektif lebih kecil jika tidak
memerlukan penggunaan module control.
Sedangkan kelemahan dari instalasi fire alarm
konvensional adalah bahwa untuk bangunan besar, sistem
konvensional ini akan leih mahal dalam pemasangan karena
membutuhkan leih banyak kabel untuk memonitor dengan leih
akurat. Jika suatu kesalahan terjadi (trouble) hanya menyatakan
bahwa network telah gagal beroperasi, tetapi tidak secara rinci tidak
dapat menyatakan di mana masalah sedang terjadi. Hal ini
menyebabkan seorang petugas kebakaran lama merespon dan
menemukan tempat pasti terjadinya kebakaran. Proses evakuasipun
menjadi terhambat.

20
b. Sistem Alarm Adressable
Penggunaan sistem alarm adressable yang paling umum
adalah untuk gedung yang luas dan bertingkat, misalanya mall,
hotel, perumahan, perkantoran dan sebagainya. Dengan sistem
instalasi ini dapat lebih memudahkan kita dalam hal proteksi
terhadap terjadinya kebakaran. Memiliki kemampuan proteksi yang
lebih teliti dan aman. Fire alarm addressable dinilai lebih efektif
sebab alat ini bekerja dengan sangat teliti. Yakni beberapa detector
yang dipasang pada setiap zona akan memiliki address/alamat
sendiri-sendiri untuk menentukan lokasinya. Hal ini karena kabel
instalasi terhubung pada masing-masing detector pada setiap zona
sehingga memungkinkan untuk setiap detector memiliki identitas
sendiri-senditi pada panel kontrol. Kerja instalasi fire alarm
addressable ini sangat membantu kita dalam memecahkan dan
menginformasikan masalah saat terjadinya kebakaran.

Gambar 2.4 Sistem Alarm Adressable


Sumber: www.discountfiresupplies.co.uk

Keunggulan dari addressable systems ini adalah setiap


perangkat yang dihubungkan ke addressable alarm
systems memiliki alamat sendiri yang unik. Ketika api terdeteksi,
alamat perangkat akan muncul pada panel kontrol utama. Hal ini
dapat dinyatakan secara pasti perangkat mana yang telah diaktifkan
sehingga memudahkan kita untuk menemukan lokasi terjadinya
kebakaran secara tepat dan memadamkannya dengan segera ke
lokasi. Sedangkan kekurangannya ialah harganya mahal karena
dalam satu modul hanya bisa digunakan untuk satu detektor.

21
2. KLASIFIKASI DETEKTOR KEBAKARAN
a. Klasifikasi Detektor Kebakaran Berdasarkan Jenis (mode) detektor.
Untuk kepentingan standar ini, detektor kebakaran otomatik
diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya seperti tersebut di bawah ini:
1) Detektor Panas
Alat yang mendeteksi temperatur tinggi atau laju kenaikan
temperatur yang tidak normal. Pada umumnya, komponen
detector panas tersebut disediakan dalam dua jenis desain yang
berbeda, yaitu fixed heat detektor dan juga rate of rise heat
detector.
a) Fixed Heat Detector
Fixed Heat Detector akan bekerja pada suhu yang
sudah langsung tinggi. Area efektif Fixed Heat Detector 30
m2 dengan asumsi tinggi plafon 4 m. Kelebihan ialah ideal
untuk melindungi ruangan yang sering terdapat hembusan
panas seperti ruang genset, basement, gudang yang
mengguanakan atap asbes, ruang dapur pada hotel, rumah
sakit atau foodcourt. Sangat ideal karena hanya akan bekerja
jika ada kenaikan suhu yang langsung tinggi, sehingga false
alarm hanya karena hembusan panas tidak akan terjadi.
Sedangkan kekurangan yaitu kurang sensitive jika
dibandingkan dengan rate of rise heat detector.

Gambar 2.5 Fixed Heat Detector


Sumber: www.directindustry.com & www. WeiKu.com

22
b) Rate Of Rise Heat Detector
Rate Of Rise Heat Detector bekerja berdasarkan
kenaikan temperatur secara cepat di satu ruangan kendati
masih berupa hembusan panas. Umumnya pada titik 55C
63C sensor ini sudah aktif dan membunyikan alarm bell
kebakaran. Area deteksi sensor bisa mencapai 50 m untuk
ketinggian plafon 4m. Sedangkan untukplafon lebih tinggi,
area deteksinya berkurang menjadi 30 m. ROR sangat ideal
untuk ruangan kantor, kamar hotel, rumah sakit, ruang
server, ruang arsip, gudang pabrik dan lainnya. Kelebihan
detector ini adalah harga ekonomis, area deteksi luas,
sensitive terhadap kenaikan suhu. Sedangkan kekurangan
yaitu sangat sensitive sehingga tidak cocok untuk ruangan
yang agak panas.

Gambar 2.6 Fixed Heat Detector


Sumber: www. winmurrayt.tripod.com

Gambar 2.7 Bagian Dalam Fixed Heat Detector


Sumber: www.acornfiresecurity.com

23
2) Detektor Asap
Alat yang mendeteksi partikel yang terlihat atau yang
tidak terlihat dari suatu pembakaran. Ketika detector mendeteksi
asap maka detektor akan segera mengirimkan sinyal sehingga
fire alarm berbunyi. Smoke detektor sendiri memiliki beberapa
type kerja:
a) Photoelectric/Optical
Photoelectric/optical yaitu mendeteksi asap
menggunakan sensor cahaya. Cahaya (infra red) diarahkan
ke sensor photoelectric apabila ada asap maka cahaya tidak
sepenuhnya diterima sensor photoelectric. Kejadian ini
ditangkap sebagai sinyal yang kemudian diteruskan ke fire
alarm. Kelebihan detector ini ialah murah dan lebih
responsive. Sedangkan kekurangan yaitu dari pengalaman
lapangan diketahui kelemahan dari detektor ini adalah sering
kali menimbulkan false alarm yang diakibatkan oleh debu.

Gambar 2.8 Photoelectric Detector


Sumber: www.bromindo.com

24
b) Zonization
Detektor model ini menggunakan metode ionization
chamber. Prinsip kerjanya bergantung pada keadaan ion
disekitar plat yang terbuat dari bahan radioaktif amercium-
241 yang akan menghasilkan ion positif pada plat yang
dialiri arus positif, menghasilkan ion negatif pada plat yang
dialiri arus negatif, menjadikann ion diantara plat metal
seimbang. Dalam keadaan normal ion negatif akan menuju
plat positif begitu sebaliknya, namun ketika ada asap yang
melewati celah keduanya maka ion menjadi terganggu, lalu
memberikan notifikasi ke master control fire alarm.
Kelebihan detector ini adalah harga ekonomis, unggul
dibidang pendeteksian atau prngideraan pada partikel-
partikel asap kecil, memproduksi jumlah panas dengan besar,
dan dapat menyebar dengan cepat. Sedangkan kelemahannya
yaitu setelah habis umur pakainya, detektor dikategorikan
limbah radioaktif, karena didalam detektor ini terdapat
ameresium.

Gambar 2.9 Ionization Smoke Detector


Sumber: www.globalsources.com & www.simplisafe.com

25
3) Detektor Nyala Api
Detektor nyala api alat yang mendeteksi sinar infra merah,
ultra violet, atau radiasi yang terlihat yang ditimbulkan oleh
suatu kebakaran. Prinsip kerja dari alat ini adalah mendeteksi
radiasi infra-red atau ultraviolet dari api yang menyala. Namun,
flame detector tidak efektif digunakan jika kebakaran yang
terjadi lambat. Flame detector memiliki banyak ukuran dan
variasi namun secara umum yang perlu diketahui hanya terbagi
menjadi tiga kelompok antara lain infra red flame detector dan
ultraviolet flame detector serta gabungan antara keduanya.

Gambar 2.10 Prinsip Kerja Flame Detector


Sumber: www.buildingtechnologies.siemens.com

Gambar 2.11 Flame Detector


Sumber: www.draeger.com

Kelebihan detector ini adalah flame detektor umumnya


akan merespon jauh lebih cepat. Perangkat inni dapat
pmendeteksi percikan pada jarak hingga 8 meter, sistem detektor
ini sangat bagus jika ditempatkan pada tempata yang memiliki
resiko kebakaran tinggi seperti gudang bahan kimia, ruang panel
listrik, tempat penyimpanan bahan bakar, dan ruang komputer

26
atau server. Sedangkan kekurangannya adalah tidak sesuai untuk
ruang yang sering terjadi percikan/spark, misal pada tempat
pengoprasian gerinda atau pengelasan. Tidak cocok untuk area
publik, kemungkinan kekawatiran alarm palsu yang dapat
diakibatkan oleh petir, radiasi, dan panas matahari mungkin bisa
terjadi.

4) Detektor gas kebakaran


Detektor gas kebakaran alat untuk mendeteksi gas-gas
yang terbentuk oleh suatu kebakaran. Sesuai dengan namanya
detector ini mendeteksi kebocoran gas yang kerap terjadi di
rumah tinggal. Alat ini bisa mendeteksi dua jenis gas yaitu LPG
(Liquefied Petroleum Gas) dan LNG (Liquefied Natural Gas).
Dari dua jenis gas tersebut, Elpiji-lah yang paling banyak
digunakan di rumah-rumah. Perbedaan LPG dengan LNG
adalah Elpiji lebih berat daripada udara, sehingga apabila bocor,
gas akan turun mendekati lantai (tidak terbang ke udara).
Sedangkan LNG lebih ringan daripada udara, sehingga jika
terjadi kebocoran, maka gasnya akan terbang ke udara.
Perbedaan sifat gas inilah yang menentukan posisi detector.

Gambar 2.12 Instalasi Gas Detector


Sumber: www.tanyaalarm.com

27
Gambar 2.13 Gas Detector
Sumber: www.id.aliexpress.com

a) LPG (Liquefied Petroleum Gas)


Untuk LPG, maka letak detector adalah di
bawah, yaitu sekitar 30 cm dari lantai dengan arah detector
menghadap ke atas. Hal ini dimaksudkan agar saat bocor
gas elpiji yang turun akan masuk ke dalam ruang detector
sehingga dapat terdeteksi. Jarak antara detector dengan
sumber kebocoran tidak melebihi dari 4m.

b) LNG (Liquefied Natural Gas)


Untuk LNG, maka pemasangan detectornya adalah
tinggi di atas lantai tepatnya 30cm di bawah plafon dengan
posisi detector menghadap ke bawah. Sesuai dengan
sifatnya maka saat bocor gas ini akan naik ke udara
sehingga bisa terdeteksi. Jarak dengan sumber kebocoran
hendaknya tidak melebihi 8m.

b. Klasifikasi Detektor Kebakaran Berdasarkan Tipe detektor


1) Detektor tipe garis (line type detector): alat dimana
pendeteksiannya secara menerus sepanjang suatu jalur. Contoh
tipikal adalah detektor laju kenaikan temperatur jenis pnumatik,
detektor asap jenis sinar terproyeksi dan kabel peka panas.
2) Detektor tipe titik (spot type detector): alat dimana elemen
pendeteksiannya terkonsentrasi pada suatu lokasi tertentu.

28
Contoh tipikal adalah detektor bimetal, detektor campuran
logam meleleh, detektor laju kenaikan temperatur jenis
pnumatik tertentu, detektor asap tertentu, dan detektor termo-
elektrik.
3) Detektor tipe sampel udara (air sampling type detector): terdiri
atas pemipaan distribusi dari unit detektor ke daerah yang
diproteksi. Sebuah pompa udara menarik udara dari daerah yang
diproteksi kembali ke detektor melalui lubang sampel udara dan
pemipaan pada detektor, udara dianalisa dalam hal produk
kebakarannya.

c. Klasifikasi Detektor Kebakaran Berdasarkan Cara Operasi


1) Detektor tidak dapat diperbaiki (non restorable detector): alat
dimana elemen penginderaannya dirancang untuk rusak oleh
proses pendeteksian kebakaran.
2) Detektor dapat diperbaiki (restorable detector): alat dimana
elemen penginderaannya tidak rusak oleh proses pendeteksian
kebakaran. Pengembalian ke kondisi semula dapat secara
manual atau otomatik.

Pemilihan alat detector bergantung pada resiko bahaya kebakaran


yang terjadi, sehingga detector yang digunakan harus dapat diandalkan,
kuat, dan ekonomis. Pada umumnya jenis detector yang sering dipakai
adalah detector asap, detector panas, dan detector radiasi. (SNI 03-
1735-2000, n.d)

29
C. PEMILIHAN STRUKTUR DAN MATERIAL
Bahan dan komponen bangunan harus mampu menahan penjalaran
kebakaran untuk membatasi pertumbuhan asap dan panas serta terbentuknya
gas beracun yang ditimbulkan oleh kebakaran, sampai suatu tingkat yang
cukup untuk waktu evakuasi yang diperlukan, jumlah, mobilitas dan
karakteristik penghuni/pemakai bangunan, fungsi atau penggunaan
bangunan, sistem proteksi aktif yang terpasang.
Suatu bangunan harus mempunyai elemen bangunan yang pada
tingkatan tertentu mampu mencegah penyebaran asap kebakaran, yang
berasal dari peralatan utilitas yang berpotensi bahaya kebakaran tinggi atau
bisa meledak akibat panas tinggi. Suatu bangunan harus mempunyai elemen
yang sampai pada batas-batas tertentu mampu menghindarkan penyebaran
kebakaran, sehingga peralatan darurat yang dipasang pada bangunan akan
terus beroperasi selama jangka waktu tertentu yang diperlukan pada waktu
terjadi kebakaran.
Setiap elemen bangunan yang dipasang atau disediakan untuk
menahan penyebaran api pada bukaan, sambungan-sambungan, tempat-
tempat penembusan struktur untuk utilitas, harus dilindungi terhadap
kebakaran sehingga diperoleh kinerja yang memadai dari elemen tersebut.
Dinding luar bangunan yang terbuat dari beton yang kemungkinan bisa
runtuh dalam bentuk panel utuh (contoh beton yangberdiri miring dan beton
pracetak) harus dirancang sedemikian rupa, sehingga pada kejadian
kebakaran dalam bangunan, kemungkinan runtuh tersebut dapat dihindari,
(ketentuan ini tidak berlaku terhadap bangunan yang mempunyai 2 lantai di
atas permukaan tanah).
Bahan bangunan mempengaruhi intensitas kebakaran. Oleh karena itu
agar kebakaran yang mungkin terjadi dapat diminimasi intensitasnya, maka
pemakaian bahan bangunan harus mempertimbangkan persyaratan berikut :
a. Pertimbangan klas mutu bahan (mudah terbakar, semi mudah terbakar,
menghambat api, semi menghambat api, sukar terbakar) termasuk pula
disini bahan interior atau lapis penutup.
b. Jumlah dan perletakan bahan mudah terbakar dalam suatu ruangan
menentukan beban api (fire/ fuel load) dalam ruangan tersebut.

30
c. Beban api dan faktor bukaan menentukan intensitas kebakaran dalam
ruangan.
d. Penggunaan bahan penghambat api (fire retardant materials) untuk
meningkatkan klas mutu bahan, apabila pemakaian bahan mudah
terbakar tidak dapat dihindari.
e. Pertimbangan beban api sesuai dengan klas penggunaan bangunan.
f. Integrasi dengan sistem aktif dan fire safety management membentuk
sistem proteksi total (total fire protection).
Bahan bangunan tahan api merupakan salah satu ciri bangunan yang
baik. Seperti yang kita tahu, bahan bangunan yang baik tentu tak hanya
memiliki konstruksi yang kokoh atau desain yang menarik saja. Selain
nyaman, bangunan juga harus aman dari beberapa ancaman, termasuk
ancaman kebakaran. Kebakaran memang bisa menimpa bangunan apapun.
Bahkan bangunan yang terbuat dari batu bata atau beton juga bisa terbakar.
Namun agar lebih aman, sangat penting untuk mengetahui bahan bangunan
yang tahan api. Sebenarnya ada banyak bahan bangunan yang tahan
terhadap api. Beberapa diantaranya bahkan kerap digunakan untuk
membangun rumah dewasa ini. Namun untuk lebih jelasnya, berikut
beberapa material bangunan tahan api yang perlu diketahui:
a) KACA TAHAN API

Gambar 2.14 Kaca Tahan Panas


Sumber: http://rumahidolaku.com

Bahan ini merupakan salah satu jenis kaca khusus yang memiliki
tingkat ketahanan yang cukup tinggi, khususnya terhadap api. Kaca
jenis ini terdiri dari dua lapisan, yakni lapisan luar dan lapisan dalam.
Saat terjadi kebakaran, kaca jenis ini tidak akan langsung pecah secara
keseluruhan. Jika terjadi kebakaran, kaca bagian luarlah yang akan

31
pecah terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kaca bagian dalam yang
pecah. Ketangguhan kaca jenis ini juga berkat penggunaan tempered
glass yang 4 kali lebih kuat dari kaca biasa.

b) BETON
Beton adalah salah satu bahan bangunan yang paling umum dan
sering digunakan dalam membangun rumah ataupun bangunan lain.
Bahan bangunan ini juga memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap
api. Butuh waktu lama bagi panas api untuk merusak struktur beton
yang kokoh. Menariknya lagi, daya tahan beton terhadap api juga masih
lebih baik dari baja. Itulah kenapa bahan bangunan ini kerap digunakan
untuk melindungi baja dari kebakaran, khususnya dalam struktur
bangunan.
Namun satu hal yang perlu diketahui, tidak semua beton memiliki
daya tahan yang sama. Semua itu juga tergantung pada semen dan
material-material lain yang menyusunnya. Bahkan pada faktanya,
kekuatan material penyusun beton inilah yang paling mempengaruhi
ketahanan beton terhadap api.

c) GIPS

Gambar 2.15 Gips sebagai Finishing Interior


Sumber: http://rumahidolaku.com

Gips ternyata juga memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap


api. Meski material yang satu ini terkesan agak rapuh, nyatanya
kemampuannya dalam menahan panas api dinilai cukup baik. Tidak
mudah terbakar dan memiliki tekstur yang rapi, itulah kenapa bahan

32
bangunan tahan api yang satu ini kerap digunakan sebagai bagian dari
finishing interior.
Jenis gips yang paling tahan api adalah gips tipe X. Gips jenis ini
dibuat secara khusus dengan tingkat ketahanan yang cukup tinggi. Saat
terkena api, gips jenis ini tidak akan langsung terbakar. Lapisan kertas
khusus pada sisi luarnya membantu menjaga gips agar tidak cepat
terbakar dan menahan api menyebar cepat ke permukaan gips. Bahkan
dalam beberapa jenis gips, ada semacam kandungan cairan kimia yang
menghambat proses pembakaran pada gips.

d) BATU BATA
Batu bata ialah material bangunan yang paling kerap digunakan
untuk membangun rumah khususnya di Indonesia. Pemilihan batu bata
sebagai bahan bangunan ternyata memiliki banyak alasan. Selain karena
lebih kokoh dan mampu menyerap suhu panas dengan baik, bahan
bangunan ini juga termasuk dalam bahan bangunan yang memiliki
ketahanan api sangat baik. Saat terbakar bahan bangunan ini bahkan
bisa bertahan antara 1 hingga 4 jam. Tentu saja daya tahan tersebut juga
bergantung pada konstruksi dan ketebalan dinding bangunan.
Bahan-bahan di atas pada dasarnya telah menjadi bagian penting
dalam proses pembangunan rumah. Bahkan sebagian besar rumah saat
ini juga telah menggunakan material bangungan di atas. Namun agar
bangunan lebih tahan api, konstruksi bangunan juga harus diperhatikan,
begitu pula dengan kualitas bahan bangunan tahan api yang hendak
digunakan. Dengan demikian, memperoleh konstruksi bangunan yang
tidak mudah terbakar bukan lagi menjadi hal yang mustahil.

Gambar 2.16 Batu Bata


Sumber: http://rumahidolaku.com

33
e) BATA RINGAN
Material dinding bata ringan atau sering disebut hebel atau
celcon. Material bata ringan ini pembuatannya sudah sangat modern
dimana material ini dibuat dengan menggunakan mesin pabrik. Bata ini
cukup ringan, halus dan memilki tingkat kerataan yang baik. Bata
ringan ini diciptakan agar dapat memperingan beban struktur dari
sebuah bangunan konstruksi, mempercepat pelaksanaan, serta
meminimalisasi sisa material yang terjadi pada saat proses pemasangan
dinding berlangsung. Saat ini sudah sangat banyak distributor yang
menjual bata ringan ini di pasaran. Batu bata ringan dibuat dari bahan
pasir silika yang punya sifat tahan api dan panas.

Gambar 2.17 Bata Ringan


Sumber: http://rumahidolaku.com

Tujuan utama konstruksi tahan api adalah untuk memperkecil risiko


korban jiwa dan kerusakan harta benda akibat kebakaran yang pada
gilirannya akan mendukung kelangsungan proses usaha menjadi tidak
terhenti akibat kebakaran. Idealnya adalah apabila pada suatu saat
kebakaran terjadi, maka kebakaran tersebut dapat dilokalisir sehingga
memberi kesempatan bagi penghuni bangunan untuk melakukan evakuasi
dan penyelamatan aset agar tidak musnah terbakar. Dalam perencanaan
sistem perencanaan struktur dan konstruksi bangunan, hal yang perlu
diperhatikan antara lain:
a. Pemilihan material bangunan yang memperhatikan sifat material.
b. Kemampuan/daya tahan bahan struktur (fire resistance) dari komponen-
komponen struktur.
c. Penataan ruang, terutama berkaitan dengan areal yang rawan bahaya,
dengan memilih material struktur yang lebih resisten.

34
Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api, terdapat 3 (tiga) tipe
konstruksi menurut SNI 03-1736-989 yaitu:
2. TIPE A
Konstruksi yang unsur struktur pembentuknya tahan api dan
mampu menahan secara struktural terhadap beban bangunan. Pada
konstruksi ini terdapat komponen pemisah pembentuk kompartemen
untuk mencegah penjalaran api ke dan dari ruangan bersebelahan dan
dinding yang mampu mencegah penjalaran panas pada dinding
bangunan yang bersebelahan.
3. TIPE B
Konstruksi yang elemen struktur pembentuk kompartemen
penahan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang
bersebelahan di dalam bangunan, dan dinding luar mampu mencegah
penjalaran kebakaran dari luar bangunan.
4. TIPE C
Konstruksi yang komponen struktur bangunannya adalah dari
bahan yang dapat terbakar serta tidak dimaksudkan untuk mampu
menahan secara struktural terhadap kebakaran.
Selain itu bangunan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Menurut Tingkat Ketahanan Struktur Utamanya terhadap Api
a. Bangunan kelas A adalah bangunan yang komponen struktur
utamamnya harus tahan terhadap api sekurang kurangnya 3 jam
yaitu meliputi bangunan hotel, pertokoan, perkantoran, rumah
sakit, bangunan industri, tempat hiburan, dll;
b. Bangunan kelas B adalah bangunan yang komponen struktur
utamanya harus tahan terhadap api sekurang kurangnya 2 jam yaitu
meliputi bangunan perumahan bertingkat, asrama, sekolah , tempat
ibadah;
c. Bangunan kelas C adalah bangunan yang komponen struktur
utamanya harus tahan terhadap api sekurang kurangnya jam
meliputi bangunan yang tidak bertingkat dan sederhana;
d. Bangunan kelas D adalah bangunan yang tidak tercakup kedalam
kelas A, B dan C yang diatur khusus misalnya instalasi nuklir,

35
bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan
yang mudah meledak.
2. Menurut Jenis Bangunan, Peruntukkan Kegiatan, dan Hunian
b. Bangunan bertingkat, dibedakan antara lain:
a) Bangunan bertingkat rendah, adalah bangunan yang
mempunyai ketinggian dari tanah (ground floor) sampai
ketinggian maksimum 14 meter dan atau 4 lantai (lapis);
b) Bangunan tinggi A adalah bangunan yang mempunyai
ketinggian dari ground floor sampai dengan ketinggian 40
meter dan atau 8 lantai (lapis);
c) Bangunan tinggi B adalah bangunan yang mempunyai
ketinggian dari ground floor sampai dengan ketinggian lebih
dari 40 meter diatas 8 lantai (lapis);
c. Bangunan industri adalah bangunan yang dipakai untuk kegiatan
kerja untuk produksi. Diklasifikasikan menurut kegiatan yang ada
dan tingkat resiko bahaya kebakaran yang mungkin terjadi (fire
hazard) yaitu:
a) Bahaya kebakaran ringan (light hazard);
b) Bahaya kebakaran sedang (ordinary hazard);
c) Bahaya kebakaran berat (extra hazard);
c. Bangunan umum dan perdagangan adalah bangunan yang
diperuntukan sebagai kegiatan kerja antara lain perkantoran,
pertemuan, hotel, hiburan, rumah sakit, lembaga permasyarakatan,
pertokoan, peribadatan, pendidikan dll;
d. Bangunan perumahan adalah bangunan yang peruntukannya
dipakai dan atau layak untuk hunian / kediaman orang;
e. Bangunan campuran adalah bangunan yang diperuntukkan
campuran dari jenis bangunan industri, bangunan umum dan
perdagangan serta perumahan.

36
D. MEMBUAT KOMPARTEMENSASI
Kompartemenisasi merupakan suatu usaha untuk mencegah penjalaran
kebakaran dengan cara membatasi api dengan dinding, lantai, kolom, balok,
dan elemen lainnya yang tahan terhadap api dalam waktu yang sesuai
dengan kelas bangunan. Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah
harus dapat membatasi kobaran api yang potensial, perambatan api dan
asap. Kompartemenisasi adalah penyekatan ruang dalam luasan masimum
dan/atau klasifikasi bangunan dan tipe kontruksi tahan api yang
diperhitungkan.
Dinding penyekat pembentuk kompartemen dimaksudkan untuk
melokalisir api dan asap kebakaran, atau mencegah penjalaran panas
keruang bersebelahan. Salah satu perwujudan sistem kompartemenisasi
pada bangunan biasanya dibuat dalam bentuk ruang kompartemen atau
ruang anti api. Ruang ini berfungsi sebagai tempat berlindung atau evakuasi
bagi korban yang terjebak di dalam gedung. Ruang kompartemen adalah
ruang khusus yang dibuat untuk dapat bertahan dari api jika terjadi
kebakaran. Ruang ini tidak akan ikut terbakar apabila seluruh bangunan
mengalami kebakaran. Baik dinding, lantai maupun lapisan pada langit-
langit ruang ini dibuat dari bahan atau material yang memiliki ketahanan
tinggi terhadap api.

Gambar 2.18 Kompertemenisasi pada Rumah Gandeng


Sumber: http://www.pu.go.id

Selain ruang kompartemen, sistem kompartemenisasi juga dapat


diterapkan pada dinding yang melapisi bagian dalam bangunan dengan areal
tangga darurat. Lapisan dinding pada areal tangga darurat yang difungsikan
sebagai jalur evakuasi apabila terjadi kebakaran umumnya dibuat berbeda.
Hal ini berkaitan langsung dengan fungsi dari tangga darurat itu sendiri.

37
Sarana jalan keluar bangunan merupakan bagian dari bangunan yang
digunakan untuk penyelamatan manusia maupun kegiatan lain, agar
terhindar dari ancaman kebakaran. Fungsi sarana penyelamatan agar
penghuni bangunan memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri
dengan aman, dalam keadaan darurat. Dinding pada tangga darurat dibuat
dari material yang dapat bertahan dari api dengan ketentuan waktu
minimum yaitu 4 jam.
Sebelum sebuah bangunan itu didiami, bangunan hendaknya diperiksa
terlebih dahulu oleh pihak jabatan bomba dan penyelamat untuk
mendapatkan kelulusan dalam hal bangunan aman untuk didiami. Sistem
pencegahan atau perlindungan dari kebakaran terdiri dari:
1. Sistem Pencegahan Aktif
Sistem pencegahan aktif merupakan upaya pencegahan terjadinya
kebakaran secara dini dari dalam bangunan itu sendiri, yang diusahakan
sendiri oleh pemilik gedung, yang diantaranya adalah dengan
memasang peralatan detektor kebakaran pada titik-titik strategis,
pemasangan sprinkle, penyediaan hidrant/tabung pemadam kebakaran,
dan alarm kebakaran .

2. Sistem Pencegahan atau Proteksi Pasif


Sistem Proteksi Pasif (SPP) adalah sistem perlindungan bangunan
terhadap kebakaran melalui pertimbangan sifat termal bahan bangunan,
penerapan sistem kompartemenisasi dalam bangunan, serta persyaratan
ketahanan api struktur bangunan. Sistem proteksi pasif bekerja melalui
sarana pasif yang terdapat pada bangunan. Biasanya juga disebut
sebagai sistem perlindungan bangunan dengan menangani api dan
kebakaran secara tidak langsung. Caranya dengan meningkatkan kinerja
bahan bangunan, struktur bangunan, pengontrolan dan penyediaan
fasilitas pendukung penyelamatan terhadap bahaya api dan kebakaran.
Yang termasuk di dalam sistem proteksi pasif ini antara lain
perencanaan dan desain site, akses, dan lingkungan bangunan
Dalam perencanaan dan desain site, akses, dan lingkungan
bangunan beberapa hal yang termasuk di dalam permasalahan site
dalam kaitannya dengan penanggulangan kebakaran ini antara lain:

38
a. Penataan blok-blok massa hunian dan jarak antar bangunan
b. Kemudahan pencapaian ke lingkungan pemukiman maupun
bangunan
c. Tersedianya area parkir ataupun open space di lingkungan kawasan
d. Menyediakan hidrant eksterior di lingkungan kawasan
e. Menyediakan aliran dan kapasitas suply air untuk pemadaman
Sistem proteksi pasif dalam bangunan mempunyai tujuan untuk :
melindungi bangunan dari keruntuhan serentak, memberi waktu untuk
menyelamatkan diri, menjamin keberlangsungan fungsi gedung dan
melindungi keselamatan petugas pemadam kebakaran. Sistem proteksi
pasif ditekankan pada aspek bahan bangunan, konstruksi bangunan dan
bentuk penataan ruang serta bukaan. Ada tiga hal yang berkaitan
dengan ketahanan bahan bangunan terhadap api yang harus dipenuhi
sebagai bahan konstruksi yaitu :
a. ketahanan memikul beban (kelayakan struktur) yaitu kemampuan
untuk memelihara stabilitas dan kelayakan kapasitas beban sesuai
dengan standar yang dibutuhkan.
b. Ketahanan terhadap penjalaran api (integritas) yaitu kemampuan
untuk menahan penjalaran api dan udara panas sebagaimana
ditentukan oleh standar.
c. Ketahanan terhadap penjalaran panas yaitu kemampuan untuk
memelihara temperatur pada permukaan yang tidak terkena panas
langsung dari tungku kebakaran pada temperatur dibawah 1400 c
sesuai dengan standar uji ketahanan api.

3. Perencanaan Daerah dan Jalur Evakuasi pada Bangunan


Perencanaan daerah dan jalur penyelamatan biasanya
diperuntukkan untuk bangunan pemukimna berlantai banyak dan
merupakan bangunan yang lebih kompleks. Beberapa hal yang menjadi
pertimbangan perencanaan sistem ini kalkulasi jumlah
penghuni/pemakai bangunan, tangga kebakaran dan jenisnya, pintu
kebakaran, daerah perlindungan sementara, jalur keluar bangunan, serta
peralatan dan perlengkapan evakuasi.

39
2.3.2 SISTEM PEMADAMAN
Fire fighting system atau biasa di kenal dengan sistem pemadam
kebakaran adalah suatu sistem yang di sediakan dalam suatu bangunan untuk
menanggulangi bahaya kebakaran. Sistem pamadam kebakaran pada gedung
bertingkat tinggi adalah wajib hukumnya untuk di sediakan. Mengingat dalam
suatu gedung bertingkat akan timbul keterbatasan tindakan yang dapat di
lakukan penghuni untuk menyelamatkan diri saat terjadi kebakaran. Selain itu
proses penyelamatan para penghuni pun juga akan sulit di lakukan oleh dinas
pemadam kebakaran di sebabkan tingginya lokasi.
Selain kedua hal di atas, sistem pemadam kebakaran pada gedung
bertingkat tinggi wajib ada mengingat efek dari kebakaran yang dapat
melemahkan struktur gedung jika kebakaran tidak segera di atasi.

A. HIDRAN
Fire Hydrant system atau pemadam sistem hydrant adalah suatu
sistem pemadam kebakaran yang di operasikan secara manual oleh tenaga
manusia dengan menggunakan media air sebagai alat pemadam api. Prinsip
kerja dari sistem hydrant pada gedung bertingkat tinggi adalah ketika
hydrant valve pada box hydrant di buka maka pompa akan mengalirkan air
ke seluruh instalasi pipa hydrant dalam gedung menuju ke titik valve
terbuka.
1. SISTEM HYDRANT
Sistem ini menggunakan instalasi hydran sebagai alat utama
pemadam kebakaran, yang terdiri dari box hydran dan accesories, pilar
hydran dan siemese. Box Hydran dan accesories instalasinya (selang
(hose), nozzle) (atau disebut juga dengan Fire House cabinet (FHC))
biasanya ditempatkan dalam gedung, sebagai antisipasi jika sistem
sprinkler dan sistem fire extinguisher kewalahan mengatasi kebakaran
di dalam gedung. Sedang Pilar hydran (yang dilengkapi juga dengan
box hydran disampingnya, untuk menyimpan selang (hose) dan nozzle)
biasanya ditempatkan di area luar (jalan) disekitar gedung, digunakan
jika sistem kebakaran di dalam gedung tidak memadai lagi. Dan
Siemese berfungsi untuk mengisi air ground tank (sumber air hydran)

40
tidak memadai lagi atau habis. Siemese ditempatkan di dekat di dekat
jalan utama. Hal ini untuk memudahkan dalam pengisian air.
System Hydran ini juga terdiri dari 2 system, yaitu:
a. Wet Riser System
Pada sistem ini seluruh instalasi pipa hydran berisikan air
bertekanan dengan tekanan yang selalu dijaga pada tekanan yang
relatif tetap dan hanya diminta untuk bangunan di mana lantai
paling atas lebih tinggi dari 30,5 meter di atas tingkat akses alat
pemadam kebakaran.
Sistem riser basah terdiri pompa tugas api dengan pompa
siaga pemakaian ke dalam pipa riser dengan katup mendarat di
setiap tingkat. Pompa jockey biasanya disediakan untuk menjaga
tekanan sistem.
Instalasi wet riser system seperti di bawah ini:

Gambar 2.19 Wet Riser System


Sumber: http://www.shahfiresafety.in/service.html

b. Dry Riser System


Pada sistem ini seluruh instalasi pipa hydran tidak berisikan
air bertekanan, peralatan penyedia air akan secara otomatis jika
katup selang kebakaran di buka.
Seperti halnya sistem sprinkler, jika ada tekanan dalam pipa
instalasi menurun, maka pompa jockey akan bekerja. Dan jika
instalasi hydran dibuka maka secara otomatis pompa elektrik akan
bekerja, dan jockey pump secara otomatis akan berhenti. Dan jika

41
pompa elektrik gagal bekerja secara otomatis, maka pompa diesel
akan bekerja.
Dry Riser System diminta untuk bangunan di mana lantai
paling atas lebih tinggi dari 18,3 meter dan kurang dari 30,5 meter
di atas tingkat akses alat pemadam kebakaran. Biasanya kering dan
tergantung pada mobil pemadam kebakaran untuk memompa air ke
dalam sistem.

Gambar 2.20 Dry Riser System


Sumber: http://www.shahfiresafety.in/service.html

2. SISTEM HYDRANT PADA GEDUNG


Hydrant adalah sistem pemadam api yang menggunakan media
air, secara sistemnya tidak berbeda dengan sistem pompa air yang ada
dirumah. Berdasarkan tempat/lokasinya sistem hidran kebakaran dapat
dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu:
a. Sistem Hydrant Gedung
Hydrant yang terletak atau dipasang di dalam bangunan.
Sistem serta peralatannya disediakan serta dipasang oleh pihak
bangunan atau gedung tersebut. Hidran jenis ini, sesuai
penggunaannya di klasifikasikan ke dalam 3 kelompok sebagai
berikut:
1) Hidran Kelas 1: Ialah hidran yang dilengkapi dengan slang
berdiameter 2 inci, yang penggunaanya diperuntukkan
secara khusus bagi petugas pemadam atau orang yang telatih.

42
2) Hidran kelas II: Ialah hidran yang dilengkapi dengan slang
berdiameter 1 inci , yang penggunaannya diperuntukkan
penghuni gedung atau petugas yang belum terlatih.
3) Hidran kelas III: Ialah hidran yang dilengkapi dengan slang
berdiameter gabungan antara Hidran kelas I dan II diatas.

b. Sistem Hydrant Halaman (Pilar)


Sistem hydrant halaman (pilar) adalah hidran ini terletak diluar atau
lingkungan bangunan, sedangkan instalasi dan peralatan serta
sumber air disediakan oleh pihak pemilik bangunan. Hidran
halaman sering disebut sebagai Outdoor Hydrant karena terletak di
luar gedung.

c. Sistem Hydrant Kota


Sistem hydrant kota aadalah hidran yang terpasang ditepi sepanjang
ialah jalan pada daerah perkotaan yang dipersiapkan sebagai
prasarana kota oleh pemerintah daerah setempat guna
menanggulangi bahaya kebakaran. Persedian air untuk jenis atau
ini dipasok oleh perusaahaan air minum (PDAM) setempat.

3. INSTALASI HYDRANT
Instalasi pipa hydrant berfungsi untuk mengatasi dan
menaggulangi kebakaran secara manual dengan menggunakan hydrant
box. Hydrant box tersedia pada setiap lantai dengan beberapa
zone/tempat. Pada hydrant box terdapat fire hose (selang), nozzle,
valve, juga terpasang alat bantu control manual call point, alarm bell
serta indicating lamp dan untuk diluar gedung (area taman/parkir )
terpasang hydrant pillar serta hose reel cabinet.
Instalasi pada system ini air stand by, sehingga apabila akan
difungsikan harus mengadakan air dari ruang pompa dimana akan
difungsikan dengan membuka Landing Valve pada IHB tersebut.
Sedangkan untuk system hydrant eksternal disediakan Hydrant
Pillar dan Siamesse Connection yang tersebar di area site plant
(kawasan). Hydrant difungsikan dengan cara memasang Hose dan

43
Nozzle dan membuka Valve Pillar. Adapun Siamese Connection
disediakan dengan maksud apabila air yang digunakan habis, maka
team pemadam kebakaran dapat menyuntikkan air dari mobil ke
instalasi hydrant yang ada atau karena pompa pemadam kebakaran
tidak dapat di operasikan.

Gambar 2.21 Instalasi Pipa Hydrant


Sumber: http://sistem-pemadam kebakaran.blogspot.com

Instalasi sistem hydrant terdiri atas sebagai berikut.


a. Tempat penyimpanan air (Reservoir)
Reservoir merupakan tempat penampungan air yang akan
digunakan dalam proses pemadaman kebakaran. Biasanya reservoir
ini berbentuk satu tanki ataupun beberapa tangki yang terhubung
satu dengan yang lainnya. Reservoir ini bisa berada di atas tanah
maupun dalam tanah. Dan harus dibuat sedemikian rupa hingga
dapat menampung air untuk supply air hydrant selama minimal 30
menit penggunaan hydrant dengan kapasitas minimum pompa 500
galon per menit.
Selain itu reservoir juga harus dilengkapi dengan mekanisme
pengisian kembali dari sumber-sumber air yang dapat diandalkan
untuk menjaga level air yang tersedia dalam reservoir. Mekanisme
pengisian reservoir ini terdiri dari sistem pompa yang dihubungan
dengan sumber air yang dapat diandalkan misalnya dengan air
tanah, air sungai, dll.

44
b. Sistem Distribusi
Untuk mendukung proses dan sistem kerja hydrant,
diperlukan sistem distribusi yang menggunakan pipa untuk
menghubungkan sumber air hingga ke titik selang hydrant. Dalam
perancangan jaringan pipa hydrant, yang terbaik adalah
menggunakan system jaringan interkoneksi tertutup contohnya
sistem ring atau O. Sistem ini memberikan beberapa keunggulan,
contohnya adalah sebagai berikut:
a) Air tetap dapat didistribusikan ke titik hydrant walaupun salah
satu area pipa mengalami kerusakan.
b) Semburan air hydrant lebih stabil meskipun seluruh titik
hydrant dibuka.
Sistem pipa utama (primary feeders) dari hydrant biasanya
berukuran 12-16 inch. Pipa sambungan ke dua (secondary feeders)
biasanya berukuran 8-12 inch. Sedangkan untuk cabang pipa
biasanya berukuran 4.5-6 inch. Pada ujung pipa hydrant
tersambung dengan pilar hydrant. Disamping pilar hydrant
terpasang box yang digunakan untuk menyimpan selang hydrant
(hose). Selang ini terbuat dari bahan kanvas yang panjangnya
berkisar 20-30 meter.
Untuk mendukung supply air hydrant, dibuatlah suatu
sambungan pipa yang berinterkoneksi dengan sistem pipa hydrant
yang disebut sambungan Siamese. Sambungan ini terdiri dari satu
atau dua sambungan pipa yang fungsinya adalah untuk memberikan
supply air tambahan pada sistem hydrant. Sambungan ini sangat
berguna bagi petugas pemadam kebakaran untuk memberikan
supply air tambahan melalui mobil pemadam kebakaran atau sistem
pilar hydrant umum.

c. Sistem Pompa Hydrant


Sistem ini terdiri atas panel kontrol pompa, motor penggerak,
dan unit pompa. Pompa dikontrol melalui sistem panel kontrol,
sehingga dapat menghidupkan serta mematikan keseluruhan system
dan juga untuk mengetahui status dan kondisi pompa. Motor

45
penggerak pompa merupakan sistem mekanik elektrik yang
mengaktifkan pompa untuk menyedot dan menyemburkan air. Unit
pompa untuk hydrant biasanya terdiri dari:
1) Pompa Generator: Digunakan sebagai sumber tenaga cadangan
pada saat listrik mati.
2) Pompa Utama: Digunakan sebagai penggerak utama untuk
menyedot air dari sumber ke titik hydrant.
3) Pompa Jockey: Digunakan untuk mempertahankan tekanan air
pada sistem hydrant.
Alat-alat pemadam kebakaran besar ada yang dilayani secara
manual ada pula yang bekerja secara otomatis. Sistem hydrant
mempergunakan air sebagai pemadam api. Terdiri dari komponen-
komponen hydrant yaitu :
a. Sistem persediaan air (45,60,90 menit)
b. Sistem Pompa (Picu,Utama & Cadangan)
c. Jaringan pipa
d. Kopling outlet/Pilar/Landing valve
e. Slang dan nozzle
f. Sistem kontrol tekanan & aliran
g. Katup-katup (valve)
h. Saklar Tekanan (Pressure Swicth)
i. Tangki Bertekanan (Pressure Tank)
j. Tangki Pemancing (Priming Tank)
k. Manometer
l. Kotak Hidran berisi 1 set slang dan pipa pemancar (hose & nozzle)
m. Sambungan Dinas Kebakaran (Siamese Connection)

4. KOMPONEN HYDRANT
Bak penampungan air hydrant untuk memasok kebutuhan sistem
hidran kebakaran berada di basement berdekatan dengan tangki filter air
tanah dan air PDAM. Untuk pasokan air tersebut dapat menggunakan
pompa dan peralatan seperlunya untuk menyediakan pasokan air ke
sambungan selang. Fungsi Pompa ini berfungsi untuk mensuplai
kebutuhan air kebakaran dari groundtank sampai ke ujung pengeluaran

46
(nozzel). Pompa kebakaran atau biasa disebut Fire Pump
diperhitungkan dengan besar debit kebutuhan air hydrant kebakaran dan
Head (tinggi permukaan air sampai ujung pengeluaran tertinggi
ditambah kehilangan tekanan). Adapun komponen dalam instalasi pipa
hydrant :
a. Pipa Hydrant
Instalasi pipa hydrant berfungsi untuk mengatasi dan
menaggulangi kebakaran secara manual dengan menggunakan
hydrant box, hydrant box ini tersedia pada setiap lantai dengan
beberapa zone/tempat.
Pada hydrant box terdapat fire hose (selang), nozzle, valve,
juga terpasang alat bantu control manual call point, alarm bell serta
indicating lamp dan untuk diluar gedung (area taman/parkir)
terpasang hydrant pillar serta hose reel cabinet.

Gambar 2.22 Pipa Hydrant


Sumber: http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com

b. Jocky Fire Pump


Digunakan untuk menstabilkan tekanan air pada pipa dan pressure
tank.

Gambar 2.23 Jocky Fire Pump


Sumber: http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com/

47
c. Main Fire Pump
Digunakan sebagai pompa utama, bila tekanan/pressure tank
turun setelah jocky pump tidak sanggup lagi mengatasi (jocky
pump akan mati sesuai dengan setting pressure tank) maka main
pump akan bekerja.

Gambar 2.24 Main Fire Pump


Sumber: http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com/

d. Diesel Fire Pump


Digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa mengalami
kerusakkan atau gagal operasional (listrik padam) dan pompa main
pump serta jocky pump berhenti bekerja mensupply air maka diesel
fire pump akan melakukan start secara otomatis berdasarkan
pressure swicth. Bekerjanya diesel fire pump secara otomatis
menggunakan panel diesel stater, panel ini juga melakukan
pengisian accu/me-charger accu dan dapat bekerja secara manual
dengan kunci stater pada diesel tersebut .

Gambar 2.25 Diesel Fire Pump


Sumber: http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com/

48
Untuk perawatan pada diesel fire pump ini dilakukan
pemanasan setiap minggu (2 kali pemanasan), sebelum dilakukan
pemanasan diesel dilakukan pemeriksaan pada accu, pendingin air
(air radiator) dan peng-checkkan pada pelumas mesin (oli mesin).

e. Siemense Conection
Digunakan bila terjadi kebakaran dan pompa (diesel fire
pump, fire main pump dan jocky pump) tidak bisa di
operasional/gagal bekerja pmaka dilakukan pengisian air kedalam
jaringan pipa dari mobil pemadam kebakaran/pompa cadangan lain
untuk menggantikan fungsi peralatan yang ada dalam keadaan
emergency, siemese conection dipasang pada instalasi pipa
sprinkler dan hydrant.

Gambar 2.26 Siemense Conection


Sumber: http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com/

f. Sistem Fire Alarm


Fire alarm adalah merupakan sistem untuk membantu pemilik
gedung untuk mengetahui secepatnya suatu sumber kebakaran,
sehingga sebelum api menjadi besar pemilik gedung sudah dapat
mengambil tindakan pemadaman.
Sistem ini memakai panel kontrol (MCFA) yang biasanya
dikontrol dari ruang teknik dan panel Annuciator (panel kontrol
tambahan) di pasang di ruang posko security agar petugas
keamanan juga bisa cepat mengetahui lokasi kebakaran pada setiap
lantai.

49
Gambar 2.27 Sistem Fire Alarm
Sumber: http://sistem-pemadam-kebakaran.blogspot.com/

Sistem alarm kebakaran dapat digolongkan menjadi beberapa


golongan yaitu.
1) Sistem Alarm Kebakaran Kota
Sistem alarm kebakaran kota adalah suatu cara atau alat
komunikasi dari penduduk/warga masyarakat kepada dinas
kebakaran kota untuk menginformasikan tentang adanya
bahaya kebakaran guna mendapatkan pertolongan pemadaman.
Sistem tanda bahaya kebakaran seperti ini pada kebanyakan
kota di Indonesia mengunakan peasawat telepon dengan nomor
panggail 113. Sistem alarm kebakaran kota terdiri dari dua
sistem yaitu:
a) Sistem Lokal
Alarm kebakaran sistem lokal mengunakan titik
panggil (box circuits) yang di pasang di beberapa tempat
tertentu di dalam wilayah kota. Box tersebut dilengkapi
dengan saklar berupa tombol tekan, tombol tarik atau
handle tarik
b) Sistem Central (Pusat)
Alarm kebakaran kota sistem central pada
hakekatnya memiliki komponen yang sama dengan sistem
lokal hanya perbedaannya terletak pada prinsip kerjanya
saja.

50
2) Sistem Alarm Kebakaran Gedung
Sistem alarm kebakaran gedung adalah suatu alat untuk
memberikan peringatan dini kepada penghuni gedung atau
petugas yang di tunjuk, tentang adanya kejadian atau indikasi
kebakaran di suatu bagian gedung. Dengan adanya peringatan
secara dini tersebut akan memungkinkan penghuni/petugas
dapat mengambil langkah/tindakan berikut pemadaman atau
bila mungkin melaksankan evakuasi jiwa maupun harta benda.
Sesuai dengan namanya maka sistem alarm kebakaran gedung
hanya menjangkau suatu bangunan gedung. Cara kerja alarm
kebakaran gedung yaitu:
a) Manual, dengan menggunakan titik panggil manual
(manual call box) atau sesuai dengan petunjuk pemakaian
pada titik panggil tersebut.
b) Otomatis, melalui alat pendeteksi kebakaran (fire
detector)

51
B. SPRINKLER
Fire sprinkler system atau pemadam sistem sprinkler adalah suatu
sistem pemadam kebakaran yang dapat bekerja secara otomatis berdasarkan
berbedaan suhu. Fire sprinkler system di bagi lagi menjadi 2 sistem
berdasarkan kesiapan air dalam pipa istalasi, yaitu wet riser sprinkler
system dan dry riser sprinkler system. Sistem ini menggunakan instalasi
pipa sprinkler bertekanan dan head sprikler sebagai alat utama untuk
memadamkan kebakaran.

1. SISTEM FIRE SPRINKLER


a. Wet Riser System
Pada sistem ini seluruh instalasi pipa sprinkler berisikan air
bertekanan dengan tekanan air selalu dijaga pada tekanan yang
relatif tetap.
Wet Riser System merupakan keseluruhan instalasi pipa
sprinkler berisikan air bertekanan dengan tekanan air selalu dijaga
pada tekanan yang relatif tetap. Pada umumnya gedung bertingkat
menggunakan sistem Wet Riser. Pada sprinkler ini, pada katup
kendalinya biasanya dilengkapi dengan peralatan tabung
penghambat (retard chamber) yang berfungsi untuk
menghindarkan aktifnya alarm gong dari akibat terjadinya
kelebihan tekanan air sesaat yang dikirim melalui katup kendali.
Cara kerja sistem ini adalah melalui pecahnya kepala srinkler
yang menerima rangsangan panas berdasarkan tingkat suhunya. Air
memancar dari kepala sprinkler dan mengakibatkan tekanan dalam
jaringan instalasi turun sampai ke titik tertentu sesui
desain/rancangan. Turunnya tekanan selanjutnya akan
mengaktifkan.

b. Dry Riser System


Pada sistem ini seluruh instalasi pipa sprinkler tidak berisi air
bertekanan, peralatan penyedia air akan mengalirkan air secara
otomatis jika instalasi fire alarm memerintahkannya.

52
Pada umumnya gedung bertingkat tinggi menggunakan
sistem wet riser, seluruh pipa sprikler berisikan air bertekanan,
dengan tekanan air selalu dijaga pada tekanan yang relatif tetap.
Apabila tekanan dalam pompa menurun, maka secara
otomatis jockey pump akan bekerja untuk menstabilkan tekanan air
didalam pipa. Jika tekanan terus menurun atau ada glass bulb head
sprinkler yang pecah maka pompa elektrik akan bekerja dan secara
otomatis pompa jockey akan berhenti. Dan apabila pompa elektrik
gagal bekerja setelah 10 detik, maka pompa cadangan diesel secara
otomatis akan bekerja.

2. INSTALASI SPRINKLER
Instalasi pipa pada sistem sprinkler berfungsi untuk mengatasi
kebakaran secara otomatis disetiap ruangan melalui head sprinkler, pipa
sprinkler dipasang pada setiap lantai (dalam plafon) dengan jarak antara
3 sampai 5 meter, bila terjadi kebakaran pada salah satu lantai maka
panas api dari titik kebakaran akan memecahkan head sprinkler.
Instalasi sprinkler adalah instalasi dimana setiap lantai dari setiap
gedung terdapat head sprinkler yang dilengkapi Flow Switch pada pipa
induknya. Flow switch ini berfungsi sebagai detector. Bila head
sprinkler pecah (break) mengakibatkan memancarnya air melalui
sprinkler, air yang mengalir melalui pipa akan menggerakkan flow
switch untuk mengirim signal ke System Fire Alarm untuk menyalakan
alarm bell.
Sprinkler head akan bekerja (pecah) apabila terdapat konsentrasi
panas melebihi 68C pada daerah dimana titik sprinkler head tersebut
terpasang, setelah sprinkler head pecah secara otomatis, media air yang
tertahan oleh head sprinkler akan dipancarkan melalui penampang head
sprinkler untuk pemadaman api.
Pada instalasi sprinkler sebelum menuju ke mainline lantai juga
biasanya terpasang Pressure Reducing Valve, yang dimaksudkan untuk
menurunkan tekanan yang tinggi menjadi tekanan kerja, (batas
maksimum kemampuan head sprinkler menahan tekanan).

53
Agar dapat mengoperasikan system dengan benar maka operator
sangat dianjurkan untuk mengikuti langkah-langkah berikut :
a. Pengoperasian Pompa Kebakaran dianjurkan dilakukan secara
Otomatis.
b. Fungsi Jockey Pump adalah untuk menjaga tekanan air di dalam
sistem instalasi tetap stabil, sehingga apabila terjadi sedikit
kebocoran pada pompa, valve dan perlengkapan lainnya dalam
instalasi, maka Jockey Pump akan mengembalikan pada tekanan
yang di tentukan.
c. Mengingat fungsi dari jockey pump sebagai pen-stabil tekanan
dalam instalasi, maka sangat dianjurkan agar pengoperasiannya
diatur secara otomatis.
d. Fungsi Electric Pump adalah untuk memompa air dari Fire Tank ke
seluruh instalasi hydrant sprinkler jika terjadi kebakaran. Pompa
electric harus dioperasikan secara otomatis.
e. Fungsi Diesel Pump adalah untuk memompa air dari dari Fire Tank
ke seluruh instalasi hydrant dan sprinkler jika terjadi kebakaran dan
terjadi pemadaman listrik yang mengakibatkan electric pump tidak
dapat difungsikan. Pompa diesel harus dioperasikan secara
otomatis.
f. Untuk menjaga supaya setelah pompa pemadam kebakaran jalan,
pompa dapat berjalan terus menerus melayani hydrant pada pipa
tekan dibuatkan pipa bypass yang dilengkapi dengan relief valve,
sehingga bila tekanan air dalam pipa mendekati 11 Kg/Cm relief
valve akan terbuka (air dari relief valve akan dikembalikan ke pipa
hisap atau tanki bawah) dan pompa pemadam kebakaran tidak akan
mati atau berhenti bekerja.
g. Pressure Relief Valve disetel terbuka pada tekanan air 10.5
Kg/Cm.
h. Pressure Tank digunakan dalam instalasi hydrant pump
dimaksudkan untuk mejaga kestabilan tekanan dari pompa hydrant,
juga berfungsi untuk membuang udara yang terjebak dalam
instalasi hydrant pump.

54
i. Alarm gong terdiri dari Valve dengan accessories pipa kapiler dan
bell yang akan berfungsi dengan bantuan tekanan air yang mengalir
dalam instalasi hydrant sprinkler. Alarm gong lazim dipasang di
ruang pompa, biasanya pada riser (untuk type vertical). Bila ada
yang terbuka dari dari system instalasi baik hydrant (landing valve
yang dibuka) ataupun sprinkler yang pecah yang mengakibatkan
terjadinya aliran pada pipa kapiler dari alarm tersebut yang lalu
menggerakan bell dengan tenaga mekanis.

3. KOMPONEN DALAM SPRINKLER


a. Pipa pada Sprinkler
Pipa sprinkler dipasang pada setiap lantai (dalam plafon)
dengan jarak antara 3 sampai 5 meter, bila terjadi kebakaran pada
salah satu lantai maka panas api dari titik kebakaran akan
memecahkan head sprinkler. Dengan jumlah hasil perhitungan bagi
pipa pembagi, maka perhitungan harus dimulai dari pipa cabang
yang terdekat pada katup kendali. Jika pipa cabang atau kepala
springkler tunggal disambung pada pipa pembagi dengan pipa
tegak, maka pipa tegak dianggap sebagai pipa pembagi. Titik
desain adalah tempat dimana dimulai perhitungan pipa pembagi
dan pipa cabang. Dalam perhitungan ukuran pipa pada sistem
springkler, ukuran pipa hanya boleh mengecil sejalan dengan arah
pengaliran air.

b. Kepala Sprinkler
Kepala sprinkler adalah bagian dari sprinkler yang berada
pada ujung jaringan pipa dan diletakkan sedemikian rupa sehingga
akibat adanya perubahan suhu tertentu akan memecahkan kepala
sprinkler tersebut dan akan memancarkan air secara otomatis. Jenis
kepala sprinkler dibedakan atas:
1) Arah Pancaran
a) Kepala Sprinkler Pancaran Atas
Pada umumnya kepala sprinkler pancaran keatas
dipasang diruangan/area yang tidak dilengkapi plafon

55
seperti di basement atau ruang parkir. Dasar pemikirannya
adalah bahwa panas selalu bergerak keatas, sehingga
untuk itu perlu untuk mendekatkan bulb sprinkler ke
sumber panas.
b) Kepala Sprinkler Pancaran Bawah
Kepala sprinkler semacam ini dipasang di ruangan/area
yang menggunakan plafon.
c. Kepala Sprinkler Dinding
Kepala sprinkler dengan arah pancaran seperti ini biasanya
di pasang dimana faktor teknis ataupun estetika tidak
dimungkinkan pemasangan instalasi pemipaan.

Gambar 2.28 Bentuk Kepala Sprinkler Berdasarkan Arah Pancaran


Sumber: http://pkppksupadio.wordpress.com/

2) Tingkat Kepekaannya Terhadap Suhu atau Temperature


Berdasarkan tingkat kepekaannya terhadap suhu ata
temperature maka sprinkler dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis yaitu kepala sprinkler dengan segel berwarna.

Gambar 2.29 Contoh Bentuk Kepala Sprinkler Segel Berwarna


Sumber: http://pkppksupadio.wordpress.com/

56
Tingkat kepekaan kepala sprinkler berdasarkan warna
dan tingkat suhunya dapat diidentifikasi sebagai berikut :
Warna Tingkat suhu C
Jingga 57
Merah 69
Kuning 79
Hijau 93
Biru 141
Ungu 182
Hitam 204/260

3) Sistem Penyediaan Air


Setiap sistem sprinkler otomatis harus dilengkapi dengan
sekurang-kurangnya satu jenis sistem penyediaan air yang
bekerja secara otomatis, bertekanan dan berkapasitas cukup
serta dapat diandalkan setiap saat. Sistem penyediaan air harus
dibawah penguasaan pemilik bangunan atau diwakilkan penuh.
Air yang digunakan tidak boleh mengandung serat atau bahan
lain yang dapat mengganggu bekerjanya springkler,
sambungan pada sistem jaringan kota dapat diterima apabila
kapasitas dan tekanannya mencukupi serta tangki yang
diletakkan pada ketinggian tertentu dan direncanakan dengan
baik dapat diterima sebagai sistem penyediaan air.

57
C. DELUGE SISTEM
Bila diartikan secara harafiah bermakna pembanjiran, sistem ini biasa
disebut open sprinkler karena tidak menunggu bulb pecah. Saat alarm
berbunyi maka secara cepat air mengisi saluran dan memancarkan lewat
sprinkler terpasang. Jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk tempat/benda
yang memiliki resiko kebakaran berat, seperti genset, gardu induk, tempat
penimbunan bahan kabar, dsb. Deluge sistem tidak berisi air didalam
salurannya ketika belum bekerja. Biasanya Deluge sistem berbentuk tiga
dimensi dengan sistem air spray yang bermanfaat untuk proses pendinginan.
Cara kerja yang paling umum untuk mendeteksi kebakaran adalah
penggunaan sprinkler line detector yang diinstal secara permanen diisi
dengan tekanan udara. Dalam peristiwa kebakaran, detektor head sprinkler
langsung bekerja saat terkena api. Penurunan langsung dalam tekanan udara
dalam line detector melepaskan tekanan terhadap unit valve diafragma
deluge sehingga deluge valve membuka dan debit air melalui nozzle
menyemprot untuk mengendalikan dan memadamkan api.
Sistem Deluge memiliki line detector namun sampai head sprinkler
titik terakhir. Saat terdeteksi valve deluge terbuka lalu air mengalir melalui
semua head sprinkler secara bersamaan. tindakan manual juga bisa
dilakukan dengan aktivasi emergency pull station. Sistem tersebut
digunakan untuk melindungi peralatan atau daerah di mana proteksi
kebakaran yang cepat diperlukan seperti perlindungan dari transformers oil
filled. sistem tersebut digunakan untuk penanganan kebakaran sebagian dan
disaat itu pula untuk memberikan waktu lebih untuk mengevakuasi diri.
Sistem deluge valve sprinkler mendistribusikan air dalam jumlah yang
sangat besar, di area yang luas, dalam waktu yang relatif singkat. Sistem ini
umumnya digunakan dalam sistem proteksi kebakaran tetap yang sistem
pipa kosong sampai deluge valve mendistribusikan air bertekanan dari
nozzel atau sprinkler.
Deluge valve mengandung lebih banyak komponen dan peralatan dari
pipa basah dan sistem kering. Jadi dalam hal ini mereka lebih kompleks.
sistem detector seperti heat detector, smoke detector, ultraviolet (UV), atau
inframerah (IR) dan sebagainya.

58
Deluge valve digunakan dalam kondisi yang memerlukan aplikasi
cepat dari besarya volume air. Deluge valve membuat buffer zone di
daerah berbahaya atau di daerah di mana kebakaran bisa menyebar dengan
cepat. Alat ini juga dapat digunakan untuk mendinginkan permukaan untuk
mencegah deformasi atau runtuh secara struktural. Atau untuk melindungi
tank, trafo, atau garis proses dari ledakan. sifat pemadam kebakaran dari
sistem valve deluge juga telah dikembangkan dengan menggunakan media
foam ke dalam pasokan sistem air. Perkembangan sistem deluge foam yang
ideal untuk melindungi bahaya seperti penyimpanan dan penanganan cairan
yang mudah terbakar di hangar pesawat, kilang minyak dan pabrik kimia
dan sebagainya.
Sebuah sistem valve deluge khas terdiri dari valve kontrol, sistem
deteksi sprinkler dioperasikan dan sistem pasokan air yang terintegrasi.
Untuk daerah berisiko bahaya tinggi, kecil, atau terbatas, beberapa kontrol
dapat digunakan sebagai pengganti penyiram. Multiple control adalah valve
distribusi mengandung unsur deteksi sendiri. Ketika elemen ini dipicu, akan
memasok air ke sejumlah kecil nozel yang terletak di dalam zona yang akan
dilindunginya. Kontrol ini tersedia dalam ukuran 20, 25, 32, 40, atau 50mm.
Kelebihan deluge sistem adalah air dapat menyebar lebih cepat, lebih
efektif, dan semua sprinkler dapat mngeluarkan air hampir bersamaan.
Sedangkan kekurangannya ialah memerlukan lebih banyak komponen,
biaya tinggi, serta perawatannya berkala.

Gambar 2.30 Mekanisme Deluge Sistem


Sumber: http://pinapinapi.blogspot.co.id

59
D. APAR
APAR adalah alat pemadam api berbentuk tabung (berat maksimal 16
kg) yang mudah dilayani/dioperasikan oleh satu orang untuk pemadam api
pada awal terjadi kebakaran (APAR, Petrokimia,1988). APAR sebagai alat
untuk memutuskan/memisahkan rantai tiga unsur (sumber panas, udara dan
bahan bakar). Dengan terpisahnya tiga unsur tersebut, kebakaran dapat
dihentikan. APAR dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
f) MENURUT JENIS KEBAKARAN YANG DAPAT DIPADAMKAN
DENGAN APAR
a. Klas A: Kebakaran yang berasal dari bahan biasa padat yang
mudah terbakar. Contoh: kertas, kayu, plstik, karet, dll.
b. Klas B: Kebakaran yang berasal dari bahan cair dan gas yang
mudah menyala. Contoh: minyak tanah, bensin, solar, thinner,
LNG, LPG, dll.\
c. Klas C: Kebakaran yang berasal dari peralatan listrik (hubungan
arus pendek). Contoh: generator listrik, setrika listrik, dll.
d. Klas D: Kebakaran yang berasal dari bahan logam. Contoh:
magnesium, potassium, lithium, calcium, dll.
e. Kls K: kebakaran yang disebabkan oleh bahan akibat konsentrasi
lemak yang tinggi. Kebakaran jenis ini banyak terjadi di dapur.
Contoh: Lemak dan Minyak Masakan
Biasanya kelas pemadam kebakaran diberikan simbol bewarna, menurut
Edward J. Amrein (1981).

g) MENURUT JENIS BAHAN UTAMA PENYUSUN APAR


a. Alat Pemadam Api Busa (Foam)
Busa adalah alat pemadam yang efektif untuk memadamkan
kebakaran Kelas A dan B. Bahan yang digunakan adalah campuran
Natrium Bicarbonate dengan Aluminium Sulfat, keduanya
dilarutkan kedalam air hasilnya suatu busa yang volumenya
mencapai 10 x volume campuran. Pemadam api menggunakan busa
merupakan sistem isolasi, yaitu mencegah agar oksigen tidak
mendapat kesempatan untuk beraksi, karena busa menyelimuti
(menutup) permukaan benda yang terbakar. Ciri-ciri tabung alat

60
pemadam api busa ini adalah memiliki warna dasar krem dan
tulisan berwarna merah. Adapun sifat-sifat alat pemadam api busa
yaitu:
a) Penyelimutan (smothering)
b) Penguapan bahan bakar
c) Pendinginan (cooling)
d) Melokalisir benda yang terbakar
e) Tidak boleh untuk memadamkan kebakaran listrik

Gambar 2.31 Tabung APAR Busa


Sumber: 1.bp.blogspot.com

Cara penggunaan jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


ini adalah sebagai berikut.
a) Dengan membalikkan tabung, maka otomatis kedua larutan akan
bercampur dan keluar melalui Nozzle.
b) Arahkan Nozzle ke benda yang terbakar.
c) Jangan melawan arah angin.
Catatan :
a) Apabila benda padat yang terbakar, arah semportan bisa
langsung ke benda yang terbakar.
b) Apabila benda cair yg terbakar, arah semprotan pada dinding
sebelah dalam tempat beda cair terbakar.
c) Nozzle harus bebas dari hambatan/sumbatan (biasanya debu dan
serangga)

61
Gambar 2.32 Posisi Tabung saat Memadamkan Api
Sumber: 2.bp.blogspot.com

Keuntungan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis ini


adalah alat pemadam api jenis busa mempunyai tekanan rendah,
sehingga lebih efektif untuk memadamkan kebakaran benda cair.
Selain itu cara penggunaannya lebih praktis. Sedangkan
kerugiannya adalah alat pemadam api jenis busa tidak bisa untuk
memadamkan kebakaran listrik, karena berupa cairan dan
meninggalkan noda/kotor pada benda yang terkena cairan busa jika
tidak segera dibersihkan.

b. Alat Pemadam Api CO2


Alat pemadam api dengan bahan CO2 atau Carbon Dioxide
digunakan untuk memadamkan kebakaran yang terjadi pada
peralatan-peralatan mesin atau listrik (kebakaran kelas A, B dan C).
Tabung-tabung yang digunakan berisi gas CO2 yang berbentuk
cair, bila dipancarkan CO2 tersebut mengembang menjadi gas.
Cairan CO2 didalam tabung temperaturnya rendah sekali dan
berbahaya apabila mengenai tubuh manusia. Berdasarkan kemasan
CO2 terdiri dari jenis membrane dan jenis pengatup. Ciri-ciri
tabung alat pemadam api CO2 yaitu memiliki warna dasar hitam
dan tulisan berwarna putih.

62
Gambar 2.33 Tabung APAR CO2
Sumber: 3.bp.blogspot.com

Cara penggunaan jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


ini adalah sebagai berikut.
a) Angkat Tabung dari tempatnya
b) Pastikan bahwa tabung tersebut siap pakai
c) Letakan tabung disamping tubuh dengan posisi kuda-kuda
d) Lepas pen pengaman.
e) Pegang corong pada gagang yg mempunyai penyekat agar
tangan tidak luka karena suhu dingin.
f) Arahkan corong ke atas
g) Tekan tangkai penekannya
h) Setelah yakin bahwa alat tersebut siap pakai.
i) Bawalah alat tersebut ketempat terjadinya kebakaran.
j) Arahkan corong/Nozzle ke nyala api dan tekan tangkai
penekannya.
k) Gerakkan corong kekanan dan kekiri secara menyapu sampai
kebakaran padam.
l) Jangan melawan arah angin.
Keuntungannya:
a) Merupakan gas yang tidak dapat mengalirkan arus listrik dan
tidak menyebabkan karat
b) Dapat disimpan didalam tabung-tabung yang terbuat dari baja,
sehingga mudah disiapkan diruangan sempit.

63
c) Carbondioksida yang disimpan didalam tabung dapat digunakan
berulang kali, (tidak sekali pakai)
d) Dapat digunakan untuk memadamkan api secara otomatis (pada
instalasi tetap).
Kerugiannya:
a) Pada konsentrasi tertentu gas CO2 dapat membahayakan
manusia oleh karena itu, pemadam api didalam ruangan petugas
harus memakai masker dan alat bantu pernafasan.
b) Kurang efektif digunakan diruangan terbuka; Pada waktu
menggunakan CO2 diruangan tertutup harus diyakinkan dulu
bahwa tidak ada orang atau korban yang masih berada didalam
ruangan.

c. Alat Pemadam Api Powder


Serbuk Kimia kering (Dry Chemical Powder) adalah bahan
pemadam serbaguna yang dapat memadamkan api atau kebakaran
kelas A, B dan C. Ciri-ciri tabung alat pemadam api powder adalah
memiliki warna dasar biru dan tulisan berwarna putih.

Gambar 2.34 Tabung APAR powder


Sumber: 4.bp.blogspot.com

Cara penggunaan jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


ini adalah sebagai berikut.
a) Angkat Tabung dari tempatnya.
b) Pastikan bahwa tabung tersebut siap pakai
c) Letakan tabung disamping tubuh dengan posisi kuda-kuda
d) Lepas pen pengaman.

64
e) Pegang corong/Nozzle arahkan corong ke atas
f) Tekan tangkai penekannya
g) Setelah yakin bahwa alat tersebut siap pakai.
h) Bawalah alat tersebut ketempat terjadinya kebakaran.
i) Arahkan corong/Nozzle ke nyala api dan tekan tangkai
penekannya.
j) Gerakkan corong kekanan dan kekiri secara menyapu sampai
kebakaran padam.
k) Jangan melawan arah angin.
Keuntungannya :
a) Serbuk kimia kering tidak berbahaya bagi manusia.
b) Sebagai pemisah oksigen dan api.
c) Bukan pengahantar listrik.
d) Efektif dipergunakan diruang terbuka (jika angin tidak
kencang).
e) Dapat menyerap panas sekaligus dapat.
Kerugiannya :
a) Jika dipakai berbentuk debu, akan mengganggu pernafasan dan
penglihatan.
b) Sekali pakai habis.
c) Maninggalkan kotor berupa serbuk.

d. Alat Pemadam Api Air/Water


APAR jenis air (Water) adalah jenis APAR yang disikan oleh
air dengan tekanan tinggi. APAR jenis air ini merupakan jenis
APAR yang paling ekonomis dan cocok untuk memadamkan api
yang dikarenakan oleh bahan-bahan padat non-logam seperti
kertas, kain, karet, plastik dan lain sebagainya (kebakaran kelas A).
Tetapi akan sangat berbahaya jika dipergunakan pada kebakaran
yang dikarenakan instalasi listrik yang bertegangan (kebakaran
kelas C). Ciri-ciri tabung alat pemadam api air adalah memiliki
warna dasar merah dan tulisan berwarna putih.

65
Gambar 2.35 Tabung APAR Air
Sumber: www. alat pemadam satria.com

Kelebihan dari APAR berbahan air:


a) APAR berbahan utama air sangat baik digunakan untuk
menurunkan suhu ruangan.APAR yang menggunakan bahan
utama air ini sangat cocok digunakan untuk pemadaman air
dengan menggunakan sistem cooling atau pendinginan.
b) APAR berbahan utama air lebih mudah didapat dan jauh lebih
murah harganya. Untuk anda yang mungkin memikirkan
masalah harga dan kemudahan mencarinya di pasaran, APAR
berbahan utama air ini adalah salah satu jenis APAR yang selain
mudah ditemukan dipasaran juga harganya jauh lebih murah.
Kekurangan dari APAR berbahan utama air:
c) APAR yang menggunakan bahan utama air dapat
menghantarkan listrik. Jika anda hendak memadamkan api
dengan menggunakan APAR berbahan air, harap berhati-hati
karena APAR ini dapat menghantarkan listrik. Pastikan aliran
listrik di tempat kebakaran sudah terputus.
d) APAR berbahan air dapat merusak berbagai macam barang
elektronik. Karena memang bahan utama menggunakan air,
maka APAR berbahan air juga sangat rentan menyebabkan
kerusakan tambahan pada peralatan elektronik anda yang tidak
terbakar. Oleh sebab itu, harap berhati-hati dalam memadamkan
api menggunakan APAR jenis ini sehingga barang elektronik
yang tidak terbakar tidak mengalami kerusakan akibat tersiram
air.

66
e. Alat Pemadam Api Hallon
Media halon dikenal dikarenakan sangat berguna, cocok
untuk dipergunakan pada sebagaian besar jenis alat pemadam
kebakaran, termasuk kebakaran yang melibatkan berbagai macam
alat elektronik. Ciri-ciri tabung alat pemadam api hallon ialah
memiliki warna dasar hijau dan tulisan berwarna putih. Alat
pemadam portable yang berisi media gas halon tidak diperbolehkan
untuk di produksi sejak tahun 2003 sesuai ketetapan Peraturan dari
Kementerian Perindustrian No33/M-IND/PER/4/2007, untuk
melarang memproduksi bahan yang merusak lapisan ozon serta
memproduksi barang yang menggunakan bahan yang dapat
merusak lapisan ozon. Karena sifat gasnya yang merusak lapisan
ozon, namun masih cenderung banyak yang memakainya di
berbagai macam sektor bisnis dan di sektor publik.
Oleh karena itu mulai berkembanglah bahan yang lebih
ramah terhadap lingkungan dengan karakteristik clean agent (halon
free) seperti:
a) NAF, telah dikembangkan sebagai bahan pengganti halon.
System supresi NAF dirancang untuk melindungi suatu industry
yang sensitive dan untuk fasilitas komrsial, efektif pada jenis
kebakaran kelas A,B,C. NAF memiliki kemampuan pemadaman
yang tinggi, dengan karakteristik clean agent yang ramah
terhadap lingkungan.
b) HALOTRON, adalah gas cair alternative pengganti halon
karena halotron benar-benar sangat ramah lingkungan bahkan
aman jika terhirup manusia dan tidak meninggalkan bekas
ampas sehingga tingkat pemadaman api menjadi lebih efisien
dan efektif. Gas cair ini efektif pada jenis kebakaran kelas
A,B,C.
c) AF 11, adalah media pemadam api untuk pengganti halon yang
berwawasan lingkungandan non CFC dan non halon ( halon
free). APAR ini tidak beracun, tidak menyebabkan rasa gatal
dan iritasi pada kulit, tidak meninggalkan noda dan cocok

67
melindungi peralatan listrik dan peralatan elektronik. Alat
pemadam jenis ini efektf memadamkan api jenis A,B, dan C.

Gambar 2.36 Tabung APAR Hallon


Sumber: 4.bp.blogspot.com

f. Alat Pemadam Api Wet Chemical (Kimia Basah)


Wet Chemichal adalah salah satu media pemadam jenis baru
yang bekerja dengan cara memisahkan panas dari elemen api dan
mencegah pengapian kembali dengan cara menghalangi
bertemunya oksigen dengan elemen bahan bakar yang ada. media
pemadam wet chemical untuk kelas K dikembangkan sebagai alat
pemadam dapur-dapur komersial modern yang menggunakan high
efficiency deep fat fryers. Beberapa jenis pemadam media ini juga
dapat digunakan pada kebakaran kelas A yang terjadi di dapur
komersial. Ciri-ciri tabung alat pemadam api wet chemical (kimia
basah) yaitu memiliki warna dasar kuning dan tulisan berwarna
merah.

Gambar 2.37 Tabung APAR Kimia Basah


Sumber: http://www.ruang-server.com

68
Dalam memilih APAR harus mempertimbangkan kebutuhannya.
Dasar untuk memilihnya menurut Mochamad Zaini (1998) harus
mempertimbangkan 4 faktor sebagai berikut:
a. Faktor Pertama: Memilih APAR disesuaikan dengan kelas kebakaran
yang akan dipadamkan.
b. Faktor Kedua: Harus memperhatikan keparahan yang mungkin terjadi.
Pakailah daya padam APAR yang kuat bila melindungi barang yang
beharga. Jadi kapasitas dan jumlah APAR yang dibutuhkan harus
diperhitungkan.
c. Faktor Ketiga: Sesuaikan jenis APAR dengan orang yang akan
mengoperasikannya. Misalnya untuk dapur, pakailah ukuran kecil dan
ringan.
d. Faktor Keempat: Perhatikan kondisi daerah yang dilindungi. Misalnya
daerah yang datar dan luas, pakailah APAR yang beroda. Sedangkan
gedung yang bertingkat dan berliku-liku pakailah APAR tanpa roda.
Demi memudahkan pengambilan APAR, penempatannya harus diatur
dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Letakkan di tempat yang mudah diambil, seperti dekat pintu atau tangga
darurat.
b. Tempatkan APAR pada lokasi yang dilindungi.
c. APAR diletakkan pada tempat yang mudah dilihat.
d. Usahakan kondisi sekitar tidak bersifat merusak agar APAR bisa
bertahan lama. Seperti tetesan air, kena air hujan, debu dan suhu yang
panas, suhu yang diperkenankan (menurut pemilihan dan penempatan
APAR, Petrokimia Gersik, 1998) adalah 4-49 derajat celcius. Untuk
menghidar dari kondisi di sekitar yang mudah rusak, masukan APAR
pada kotak pelindung yang mudah tembus pandang.Apabila lokasi yang
dilindungi cukup luas, tempatkan APAR secara merata.
e. APAR dapat dipasang pada dinding atau tiang dengan ketentuan:
Setinggi 120 cm dari puncak APAR ke lantai, atau setinggi 15 cm dari
alas APAR ke lantai.
APAR mempunyai kemampuan berbeda dalam pemadaman.
Kemampuan APAR antara lain adalah jarak dan waktu semprot. Adanya
pendorong dalam APAR menyebabkan media yang tersimpan dapat

69
disemprotkan pada jarak yang jauh. APAR yang sudah lama tidak dipakai,
tenaga pendorongnya akan semakin berkurang. Waktu semprot adalah
lamanya APAR dipakai untuk memadamkan sampai habis medianya. Lama
semprotan tergantung dari kapasitas APAR itu sendiri. Kemampuan APAR
secara terperinci dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2.1 Kemampuan Beberapa Jenis APAR


Kapasitas Jarak Semprot Waktu Semprot
Jenis APAR Keterangan
(Kg) (Meter) (Detik)
0,5 22 1,5 6 8 30
Tepung kimia BERODA
34- 29 4,5 21 20 150
5 19 6 12 31 180
Air BERODA
95 227 10 15 90 180
Busa 69 46 28 65
19 1 2,4 3 30
CO2 BERODA
23 45 13 10 - 30
Sumber: http://oslidamartony.blogspot.co.id

70
2.3.3 SISTEM EVAKUASI
Kebakaran merupakan hal yang tidak terdeteksi dan sangat beresiko pada
kematian. Hal ini biasanya disebabkan oleh human eror maupun konsleting
listrik. Terdapat dua hal yang umum dilakukan pada saat terjadinya kebakaran,
yaitu tindakan pemadaman dan evakuasi. Sistem evakuasi dalam bencana
kebakaran dilakukan dengan cara menyelamatkan korban yang terjebak di
dalam areal gedung atau wilayah yang terbakar. Biasanya penyelamatan korban
dari areal gedung dapat dilaksanakan melalui beberapa jalur evakuasi yang
memang disediakan sebelumnya dalam sebuah gedung maupun direncanakan
dan diperhitungkan sebelum bangunan didirikan.
Sistem evakuasi merupakan sistem yang menyangkut proses
penyelamatan korban pada suatu keadaan yang dianggap berbahaya atau darurat
ke area yang lebih aman. Sistem evakuasi yang dilakukan untuk para korban
pada lokasi kebakaran dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu berupa
penyediaan lonceng alarm, pintu darurat, tangga darurat, lift darurat, balkon,
serta hal lainnya yang berfungsi untuk mengamankan korban maupun barang-
barang yang berharga dan mencegah minimnya kematian dan kerugian jika
keadaan memungkinkan.
Setiap bangunan harus memiliki jalur evakuasi darurat yang berguna
untuk mengevakasi penghuni bangunan apabila terjadi suatu bencana dalam
bangunan tersebut, biasanya dalam setiap bangunan memiliki tangga darurat
yang umumnya digunakan untuk jalur evakuasi saat terjadi kebakaran. Syarat-
syarat jalur evakuasi tersebuat adalah sebagai berikut:
a. Jalur Evakuasi bersifat permanen, menyatu dengan bangunan gedung.
b. Jalur Evakuasi harus memiliki akses langsung ke jalan atau ruang terbuka
yang aman.
c. Jalur Evakuasi dilengkapi Penanda yang jelas dan mudah terlihat.
d. Penanda/ Safety Sign dapat menyala di kegelapan (glow in the dark).
e. Jalur Evakuasi dilengkapi penerangan yang cukup.
f. Jalur Evakuasi bebas dari benda yang mudah terbakar atau benda yang
dapat membahayakan.
g. Jalur Evakuasi bersih dari orang atau barang yang dapat menghalangi
gerak.
h. Jalur Evakuasi tidak melewati ruang yang dapat dikunci.

71
i. Jalur Evakuasi memiliki lebar minimal 71.1 cm dan tinggi langit-langit
minimal 230 cm.
j. Pintu Darurat dapat dibuka ke luar, searah Jalur Evakuasi menuju Titik
Kumpul.
k. Pintu Darurat bisa dibuka dengan mudah, bahkan dalam keadaan panik.
l. Pintu Darurat dilengkapi dengan penutup pintu otomatis.
m. Pintu Darurat dicat dengan warna mencolok dan berbeda dengan bagian
bangunan yang lain.
n. Tangga Darurat dirancang tahan api, minimal selama 1 jam.
o. Anak tangga pada tangga darurat harus terbuat dari bahan yang anti slip.
Kebakaran umumnya ditandai dengan bunyi alarm, dan pengumuman
dari gedung mengenai keadaan darurat kebakaran. Saat alarm tanda kebakaran
berbunyi itu berarti proses kebakaran mulai terjadi dan sistem pemadam
kebakaran pada suatu bangunan akan bekerja. Saat sistem pemadaman mulai
bekerja secara otomatis ada baiknya apabila penghuni bangunan dapat
menyelamatkan diri dengan mengikuti prosedur keamanan dan
penanggulangan kebakaran yang baik dan benar. Hal yang pelu dilakukan bagi
penghuni bangunan adalah sebagai berikut:
a. Tetap Tenang
Semakin kita tenang, semakin kita bisa berpikir dan tanggap.
Mengikuti latihan tanggap darurat di tempat kerja masing-masing atau di
fasilitas publik lainnya (atau bahkan di rumah), bisa membuat kita semakin
tenang dan tahu apa yang harus dilakukan.
b. Padamkan Api Bila Terlatih
Bila melihat api, segera beritahu orang terdekat di sekitar anda. Dan
apabila anda terlatih menggunakan alat pemadam api ringan (APAR),
maka raihlah APAR terdekat dan padamkan api tersebut. Mintalah orang
lain yang terdekat dengan anda untuk menghubungi petugas sekuriti atau
petugas tanggap darurat ketika anda memadamkan api. Bila tidak terlatih,
segera beritahu orang terdekat di sekitar anda dan menjauhlah dari sumber
api. Orang terdekat (yang terlatih), petugas, sekuriti, ataupun petugas
tanggap darurat akan memadamkan api tersebut.

72
c. Tidak Menggunakan Lift
Meskipun berkumpul di area lobi lift, anda dilarang menggunakan
lift. Perilaku berisiko apabila masih menggunakan lift saat kebakaran, saat
gempa, atau saat gedung belum menyatakan lift aman untuk digunakan! Di
gedung yang mengikuti standar keselamatan gedung bertingkat, lift orang
tidak dioperasikan pada saat keadaan darurat. Lift barang peruntukannya
untuk barang karena punya disain teknis yang lebih kuat. Saat keadaan
darurat, hanya digunakan untuk mengevakuasi mereka yang mengalami
gangguan kesehatan, ditemani oleh petugas evakuasi gedung dan lantai.
Penggunaan lift barang berada di bawah pengawasan penuh tim tanggap
darurat dari gedung.
d. Ikuti Petunjuk Petugas Tanggap Darurat
Saat keadaan darurat, terdapat petugas tanggap darurat lantai yang
membimbing anda. Umumnya mereka memakai rompi warna merah,
hijau, atau band-aid berwarna di lengannya. Sangat mudah untuk dikenali
dan dimintai bantuan. Petugas tidak akan mengijinkan kita untuk
meninggalkan barisan di lobi lift sampai instruksi itu diberikan. Saat itu,
petugas dan komandannya menunggu instruksi dari gedung, apakah
dilakukan evakuasi atau tetap di tempat.
e. Evakuasi Melalui Tangga Darurat
Pola barisan mengikuti besar ruangan tangga darurat, ada yang
berbaris 2-2, ada yang cukup satu barisan. Ikuti saja instruksi komandan
tanggap darurat (floor warden). Pekerja/tamu perempuan di barisan paling
depan, diikuti oleh pekerja laki-laki. Di barisan paling depan, ada petugas
pemadam api (fire warden/fire suppressor) dan petugas kesehatan (first
aider). Di barisan paling belakang juga ada kedua petugas tersebut dan
komandan petugas. Selama berbaris, tetaplah tenang.
f. Berjalan Tertib, Tidak Berlari
Ketika menuruni tangga darurat, berjalanlah menuruni tangga
darurat dengan tertib, cepat, tapi tidak berlari. Perilaku anda yang tergesa-
gesa, berteriak-teriak, dan menyusul orang di depan anda, dapat membuat
panik orang lain. Yang dapat terjadi adalah tercipta kerumunan masal
bergerak sangat cepat yang saling berebut menuruni tangga darurat, saling
mendorong, lalu ada yang terjatuh, lemas, dan terinjak-injak. Korban yang

73
tercatat adalah sebagian besar berasal dari korban dari tangga darurat yang
terinjak-injak dan lemas. Maka dari itu tetaplah di dalam barisan dan ikuti
instruksi yang diberikan oleh petugas tanggap darurat.
g. Berjalan Menuju Muster Point (Tempat Berkumpul)
Ikuti saja orang yang berjalan di depan anda. dan petugas tanggap darurat.
Tetaplah dalam barisan.
h. Laporkan Diri Anda pada saat Penghitungan Orang (Head Count)
Petugas akan mengabsen nama-nama orang yang turun bersamanya.
Gunanya adalah untuk memastikan tidak ada orang-orang yang tertinggal
di gedung.
i. Tetap di Muster Point
Di muster point petugas tanggap darurat menunggu instruksi dari petugas
gedung apakah gedung telah aman atau masih berbahaya untuk dimasuki.
Apabila dinyatakan telah aman, petugas akan mempersilahkan anda untuk
kembali ke gedung.
Hal lain yang perlu diperhatikan selama proses evakuasi yaitu:
a. Didalam proses evakuasi apabila mengalami gangguan kesehatan (keringat
dingin, sesak napas, pusing, sakit kepala, mual, muntah), maka pisahkan
diri dari barisan dan tenangkan diri anda. Panggillah petugas first aider
atau orang terdekat di sekitar anda. Petugas first aider akan menenangkan
anda. Anda tidak akan ditinggal oleh petugas.
b. Bila menemukan ada orang yang pingsan segera panggil petugas first aider
atau petugas tanggap darurat lainnya. Ketiga petugas (first aider, fire
suppressor, floor warden) memiliki keterampilan memadamkan api dan
memberikan first aid. Namun apabila anda terlatih untuk menolong orang
pingsan maka lakukan pertolongan pertama dan tetaplah tenang. Minta
orang terdekat di sekitar anda untuk memanggil petugas tanggap darurat.
c. Hindari membawa barang-barang yang bisa menghambat proses evakuasi
diri anda dan diri orang lain. Prioritas utama adalah jiwa, bukan materi. Di
dalam proses evakuasi, kita diharapkan sekali untuk saling menjaga
ketenangan dan membuat tenang orang lain. Bawaan barang yang besar
bisa membuat orang lain tidak tenang karena proses menuruni tangga
darurat menjadi lebih lama, belum lagi risiko tertimpa barang itu (bila
barang tiba-tiba jatuh).

74
A. SIGN
Sign atau tanda evakuasi merupakan suatu petunjuk untuk menuju ke
tempat yang lebih aman. Tanda-tanda sepertti ini biasanya di pasang di
koridor, jalan menuju ruang besar, dan semacamnya yang memberikan
indikasi penunjuk arah keluar. Setiap tanda petunjuk arah harus memenuhi
syarat yakni jelas dan pasti, diberi pencahayaan cukup, dan dipasang
sedemikian rupa sehingga bila terjadi gangguan listrik, maka pencahayaan
darurat segera menggantikannya. Berikut merupakan beberapa contoh dari
rambu-rambu atau tanda yang menunjukan jalur evakuasi atau tanda yang
berkaitan dengan kebakaran atau biasa disebut dengan K3:

Gambar 2.37 Tanda K3 Kebakaran


Sumber: https://sistemmanajemenkeselamatankerja

75
B. LOCENG/ALARM
Alarm secara umum dapat didefinisikan sebagai bunyi peringatan atau
pemberitahuan. Dalam istilah jaringan, alarm dapat juga didefinisikan
sebagai pesan berisi pemberitahuan ketika terjadi penurunan atau kegagalan
dalam penyampaian sinyal komunikasi data ataupun ada peralatan yang
mengalami kerusakan (penurunan kinerja). Pesan ini digunakan untuk
memperingatkan operator atau administrator mengenai adanya masalah
(bahaya) pada jaringan. Alarm memberikan tanda bahaya berupa sinyal,
bunyi, ataupun sinar.
Fungsi dari alarm adalah memberitahukan apabila terjadi bahaya dan
kerusakan ataupun kejadian yang tidak diharapkan pada jaringan melalui
sinyal sehingga memberikan peringatan secara jelas agar dapat diantisipasi.
Sistem pengindera api (fire alarm system) merupakan sebuah sistem
terintegrasi yang didesain untuk mendeteksi adanya gejala kebakaran.
Alarm tersebut memberikan peringatan dalam sistem evakuasi dan
dilanjutkan dengan sistem instalasi pemadam kebakaran secara otomatis
maupun manual (fire fighting system). Alarm kabakaran dapat berupa:
a. Alarm kebakaran yang memberikan tanda/isyarat berupa bunyi khusus
(Audible Alarm).
b. Alarm kebakaran yang memberikan tanda/isyarat yang tertangkap oleh
pandangan mata secara jelas (Visible Alarm).

Gambar 2.38 Alarm Kebakaran


Sumber: https://shefocus.files.wordpress.com

76
Alarm kebakaran atau fire alarm terdiri dari 2 sistem yaitu:
1. SISTEM KONVENSIONAL
Sistem Konvensional yaitu sistem yang menggunakan kabel isi
dua untuk hubungan antar detector ke detector dan ke panel. Kabel yang
dipakai umumnya kabel listrik NYM 2x1.5mm atau NYMHY 2 x 1.5
mm yang ditarik di dalam pipa conduit semisal EGA atau Clipsal. Pada
instalasi yang cukup kritis kerap dipakai kabel tahan api (FRC=Fire
Resistance Cable) dengan ukuran 2x1.5mm, terutama untuk kabel-kabel
yang menuju ke Panel dan sumber listrik 220V. Oleh karena memakai
kabel isi dua, maka instalasi ini disebut dengan 2-Wire Type.Selain itu
dikenal pula tipe 3-Wire dan 4-Wire seperti terlihat pada Gambar di
bawah.

Gambar 2.39 Sistem Konvensional dengan Dua Kabel


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/

Pada 2-Wire Type nama terminal pada detectornya adalah L(+)


dan Lc(-). Kabel ini dihubungkan dengan Panel Fire Alarm pada
terminal yang berlabel L dan C juga. Hubungan antar detector satu
dengan lainnya dilakukan secara paralel dengan syarat tidak boleh
bercabang yang berarti harus ada titik awal dan ada titik akhir.
Titik akhir tarikan kabel disebut dengan istilah End-of-Line
(EOL). Di titik inilah detector fire terakhir dipasang dan di sini pulalah
satu loop dinyatakan berakhir (stop). Pada detector terakhir ini dipasang
satu buah EOL Resistor atau EOL Capacitor. Jadi yang benar adalah

77
EOL Resistor ini dipasang di ujung loop, bukan di dalam Control Panel
dan jumlahnyapun hanya satu EOL Resistor pada setiap loop. Oleh
sebab itu bisa dikatakan 1 Loop = 1 Zone yang ditutup dengan Resistor
End of Line (EOL Resistor).
Adapun tentang istilah konvensional, maka istilah ini untuk
membedakannya dengan sistem Addressable. Pada sistem
konvensional, setiap detector hanya berupa kontak listrik biasa, tidak
mengirimkan ID Alamat yang khusus.
3-Wire Type digunakan apabila dikehendaki agar setiap detector
memiliki output masing-masing yang berupa lampu. Contoh
aplikasinya, misalkan untuk kamar-kamar hotel dan rumah sakit.
Sebuah lampu indicator -yang disebut Remote Indicating Lamp-
dipasang di atas pintu bagian luar setiap kamar dan akan menyala pada
saat detector mendeteksi. Dengan begitu, maka lokasi kebakaran dapat
diketahui orang luar melalui nyala lampu. Wiring diagram serta bentuk
lampu indicatornya adalah seperti ini:

Gambar 2.40 Fire Alarm Control dan Lampu Indikator Alarm


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id

4-Wire Type umumnya digunakan pada kebanyakan Smoke


Detector 12V agar bisa dihubungkan dengan Panel Alarm Rumah.
Seperti diketahui Panel Alarm Rumah menggunakan sumber 12VDC
untuk menyuplai tegangan ke sensor yang salah satunya bisa berupa
Smoke Detector tipe 4-Wire ini. Di sini, ada 2 kabel yang dipakai
sebagai supply +12V dan -12V, sedangkan dua sisanya adalah relay NO
- C yang dihubungkan dengan terminal bertanda ZONE dan COM pada
panel alarm. Selain itu tipe 4-wire ini bisa juga dipakai apabila ada satu
atau beberapa Detector "ditugaskan" untuk men-trigger peralatan lain
saat terjadi kebakaran, seperti: mematikan saklar mesin pabrik,

78
menghidupkan mesin pompa air, mengaktifkan sistem penyemprot air
(sprinkler system atau releasing agent) dan sebagainya. Biasanya
detector 4-wire memiliki rentang tegangan antara 12VDC sampai
dengan 24VDC.
Jenis fitur instalasi fire alarm konvensional untuk komunikasi
adalah sebagai berikut.
a. Instalasi Fire Intercome
Fire intercome adalah komunikasi dua arah antara manual
call point & fire control panel. Interkom merupakan kepanjangan
dari intercommunication device atau peralatan komunikasi internal.
sistem ini merupakan sebuah komunikasi elektronik yang ditujukan
untuk pembicaraan, pengumuman, atau proses komunikasi yang
terbatas. Interkom sering disebut juga interphone atau intertelepon.
komunikasi ini tersambung melalui kabel yang disebut kabel
beudrat. Kabel ini berfungsi untuk menyalurkan suara dari pesawat
interkom yang satu ke pesawat interkom lainnya. Fire intercome
adalah salah satu alat komunikasi darurat yang masih bisa
berfungsi ketika terjadi kebakaran & listrik dipadamkan. untuk
Instalasi fire intercom bisa menggunakan kabel ITC 30,6mm atau
2x2x0,6mm
b. Instalasi Flow switch/temper switch
Jenis Fitur Instalasi Fire Alarm Konvensional yang juga bisa
dimanfaatkan adalah Flow Switch/Temper switch yaitu alat yang
digunakan untuk mendeteksi Aktifasi Fire Fighting mendeteksi
aliran air pada pipa hydrant atau Foam Chamber, atau bisa
digunakan untuk mendeteksi aktifasi pompa hydrant atau pompa
foam. untuk mendeteksi aktifasi pompa hydrant bisa digunakan dry
contact NO pada main Magnetic Contactor.
c. Instalasi Integrasi System
Pada Instalasi Fire Alarm Conventional bisa di integrasikan
pada beberaapa system yang ada misalnya:
a) Auto Start Gas Evacuated
Membuang udara yang dapat memicu ledakan atau gas beracun
yang dideteksi oleh gas detector.

79
b) Auto Shut Down Elevator
Mematikan lift saat terjadi kebakaran agar tidak muncul
korban jiwa yang terjebak di dalam lift saat terjadi kebakaran
Jenis fitur instalasi fire alarm konvensional
pengembangannya adalah Auto Sut Down HVAC (High Voltage
Alternative Current). Mematikan suplly listrik utama dalam sebuah
gedung agar ketika terjadi kebakaran semua peralatan listrik dapat
dipadamkan untuk menghindari kerusakan peralatan akibat
korsleting dan juga agar penghuni gedung dapat fokus untuk
evakuasi saat terjadi kebakaran. Karena sebagian besar korban
yang terjebak dalam kebakaran, mereka tidak mendengarkan
peringatan tanda alarm kebakaran karena sibuk dengan aktivitas
kerja & terganggu kebisingan mesin. Sehingga ketika listrik
dimatikan seluruh bunyi yang di hasilkan dari peralatan listrik akan
mati sehingga seluruh penghuni gedung hanya mendengarkan suara
fire alarm.

2. SISTEM ADDRESSABLE
Sistem addressable kebanyakan digunakan untuk instalasi fire
alarm di gedung bertingkat, semisal hotel, perkantoran, mall dan
sejenisnya. Perbedaan paling mendasar dengan sistem konvensional
adalah dalam hal address (alamat). Pada sistem ini setiap detector
memiliki alamat sendiri-sendiri untuk menyatakan identitas ID dirinya.
Jadi titik kebakaran sudah diketahui dengan pasti, karena panel bisa
menginformasikan deteksi berasal dari detector yang mana. Sedangkan
sistem konvensional hanya menginformasikan deteksi berasal dari Zone
atau Loop, tanpa bisa memastikan detector mana yang mendeteksi,
sebab 1 Loop atau Zone bisa terdiri dari 5 bahkan 10 detector, bahkan
terkadang lebih.
Agar bisa menginformasikan alamat ID, maka di sini diperlukan
sebuah module yang disebut dengan monitor module. Ketentuannya
adalah satu module untuk satu, sehingga diperoleh sistem yang benar-
benar addressable (istilahnya fully addressable). Sedangkanaddressable
detector adalah detector konvensional yang memiliki module

80
yang built-in. Apabila detector konvensional akan
dijadikanaddressable, maka dia harus dihubungkan dulu ke monitor
module yang terpisah seperti pada contoh di bawah ini:

Gambar 2.41 Monitor Module


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/

Dengan teknik rotary switch ataupun DIP switch, alamat module


detector dapat ditentukan secara berurutan, misalnya dari 001 sampai
dengan 127.

Gambar 2.42 Rotary Switch


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/

Satu hal yang menyebabkan sistem addressable ini "kalah


pemasangannya" dibandingkan dengan sistem konvensional adalah
masalah harga. Lebih-lebih jika menerapkan fully addressable dimana
jumlah module adalah sama dengan jumlah keseluruhan detector, maka
cost-nya lumayan mahal. Sebagai "jalan tengah" ditempuh cara "semi-
addressable", yaitu panel dan jaringannya menggunakan addressable,
hanya saja satu module melayani beberapa detector konvensional.
Dalam panel addressable tidak terdapat terminal Zone L-C,
melainkan yang ada adalah terminal Loop. Dalam satu tarikan loop bisa
dipasang sampai dengan 125 - 127 module. Apa artinya? Artinya

81
jumlah detector-nya bisa sampai 127 titik alias 127 zone fully
addressable hanya dalam satu tarikan saja. Jadi untuk model panel
addressable berkapasitas 1-Loop sudah bisa menampung 127 titik
detector (=127 zone). Jenis panel addressable 2-Loop artinya bisa
menampung 2 x 127 module atau sama dengan 254 zone dan
seterusnya.

Dalam fire alarm dikenal dengan sebutan "Tiga Serangkai". Disebut


tiga serangkai karena ketiganya biasa dipasang di tembok berjajar ke bawah
ataupun ditempatkan dalam satu plat metal yang berada tepat di atas lemari
hidran (selang pemadam api). Adapun yang dimaksud tiga serangkai yaitu.
1. MANUAL CALL POINT (MCP)

Gambar 2.43 Manual Call Point


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/

Fungsi alat ini adalah untuk mengaktifkan sirine tanda kebakaran


(Fire Bell) secara manual dengan cara memecahkan kaca atau plastic
transparan di bagian tengahnya. Istilah lain untuk alat ini
adalah Emergency Break Glass. Di dalamnya hanya berupa saklar biasa
yang berupa microswitch atau tombol tekan. Salah satu aspek yang
harus diperhatikan adalah soal lokasi penempatannya. Terbaik jika unit
ini diletakkan di lokasi yang sering terlihat oleh banyak orang, terlewati
oleh orang saat berlarian ke luar bangunan, dan mudah dijangkau.
Untuk menguji fungsi alat ini tidak perlu dengan memecahkan
kaca, karena sudah tersedia tongkat atau kunci khusus, sehingga saklar
bisa tertekan tanpa harus memecahkan kaca. Kaca yang telanjur retak
atau pecah bisa diganti dengan yang baru.
Di beberapa tipe ada yang dilengkapi dengan fungsi intercom
(TEL). Petugas penguji dapat melakukan komunikasi dengan penjaga di

82
Panel Control Room dengan memasukkan handset telepon ke dalam
jack pada MCP. Seketika itu juga telepon di panel akan aktif,sehingga
kedua orang ini bisa saling berkomunikasi.

2. FIRE BELL
Fire Bell akan membunyikan bunyi alarm kebakaran yang khas.
Suaranya cukup nyaring dalam jarak yang relatif jauh. Tegangan output
yang keluar dari dari panel Fire Alarm adalah 24VDC, sehingga jenis
Fire Bell 24VDC-lah yang banyak dipakai saat ini, sekalipun versi
12VDC juga tersedia. Perlu diperhatikan dalam pemasangan Fire Bell
(pada tipe Gong) adalah kedudukan piringan bell terhadap batang
pemukul piringan jangan sampai salah. Jika tidak pas, maka bunyi bell
menjadi tidak nyaring. Aturlah kembali dudukannya dengan cermat
sampai bunyi bel terdengar paling nyaring.

Gambar 2.44 Fire Bell


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/

3. INDICATOR LAMP
Indicator lamp adalah lampu yang berfungsi sebagai pertanda
aktif-tidaknya sistem Fire Alarm atau sebagai pertanda adanya
kebakaran. Dalam sebuah situs dikatakan "An indicator lamp is a light
that indicates whether power is on to a device or even if there is a
problem with a circuit or if something is working properly".
Jadi apabila demikian, maka yang dimaksud dengan Indicator
Lamp pada Fire Alarm adalah lampu yang menunjukkan adanya power
pada panel ataupun menunjukkan trouble dan atau kebakaran. Di
dalamnya hanya berupa lampu bohlam (bulb) berdaya 30V/2W atau
lampu LED berarus rendah. Oleh karena itu, dalam sistem yang normal

83
(tidak pada saat kebakaran) seyogianya lampu ini menyala (On).
Sebaliknya apabila lampu mati, ya tentu saja ada trouble pada power.
Pada beberapa merk, indikasi kebakaran dinyatakan dengan lampu
indikator yang berkedip-kedip.

Gambar 2.45 Indicator Lamp


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/

Selain terdiri dari 2 sistem fire alarm, alarm kebakaran juga memiliki
yang namanya Conventional Fire Alarm Control Panel. Tampak luar Panel
Fire Alarm umumnya berupa metal kabinet dari bahan yang kokoh seperti
terlihat pada gambar di bawah. Pada beberapa tipe ada yang
berwarna merah, mungkin dengan maksud agar bisa dibedakan dengan
panel listrik ataupun panel instrumentasi lainnya.
Dalam sistem alarm, panel berfungsi sebagai pusat pengendali semua
sistem dan merupakan inti dari semua sistem alarm. Oleh sebab itu, maka
lokasi penempatannya harus direncanakan dengan baik, terlebih lagi pada
sistem fire alarm. Syarat utamanya adalah tempatkan panel sejauh mungkin
dari lokasi yang berpotensial menimbulkan kebakaran dan jauh dari campur
tangan orang yang tidak berhak. Perlu diingat, kendati bukan merupakan
alat keselamatan, namun sistem fire alarm sangat bersangkutan jiwa
manusia, sehingga kekeliruan sekecil apapun sebaiknya diantisipasi sejak
dini.
Panel Fire Alarm memiliki kapasitas zone, misalnya 1 Zone, 5
Zone, 10 dan seterusnya. Pemilihan kapasitas panel disesuaikan dengan
banyaknya lokasi yang akan diproteksi, selain tentu saja pertimbangan soal
harga. Di bagian depannya tertera sederetan lampu indikator yang

84
menunjukkan aktivitas sistem. Kesalahan sekecil apapun akan terdeteksi
oleh panel ini diantaranya:
a. Indikator Zone yang menunjukkan lokasi kebakaran (Fire) dan kabel
putus (Zone Fault).
b. Indikator Power untuk memastikan bagus tidaknya pasokan listrik pada
sistem.
c. Indikator Battery untuk memastikan kondisi baterai masih penuh atau
sudah lemah.
d. Indikator Attention untuk mengingatkan operator akan adanya posisi
switch yang salah.
e. Indikator Accumulation untuk menandakan bahwa sesaat lagi akan
terjadi deteksi dan sederetan indikator lainnya.
Panel Fire Alarm tidak memerlukan pengoperasian manual secara
rutin, karena secara teknis ia sudah beroperasi selama 24 jam non-stop.
Namun yang diperlukan adalah pengawasan dan pemeliharaan oleh pekerja
yang memang sebaiknya ditunjuk khusus untuk melakukan itu. Setiap
kesalahan (trouble) yang terjadi harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti,
sebab kita tidak pernah tahu kapan terjadinya bahaya kebakaran.
Pengujian berkala perlu dilakukan sedikitnya dua
kali dalam setahun guna memastikan keseluruhan sistem bekerja dengan
baik. Untuk menguji sistem diperlukan satu standar operasi yang benar,
jangan sampai menimbulkan kepanikan luar biasa bagi orang-orang di
sekitarnya disebabkan oleh bunyi bell alarm dari sistem yang kita uji.

Gambar 2.46 Tampak Luar Panel Fire Alarm


Sumber: http://tikus-installasi.blogspot.co.id/2016/

85
C. PINTU DARURAT
Pintu darurat merupakan suatu jalur evakuasi yang dipergunakan
apabila terjadi kebakaran, gempa, maupun bencana lain dalam suatu gedung
dengan tempat perlindungan yang cepat dan aman bagi korban. Pintu
darurat langsung menuju tangga darurat dan hanya dipergunakan apabila
terjadi kebakaran. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
26/PRT/M/2008 menjelaskan bahwa pintu kebakaran harus didesain mampu
berayun dari posisi manapun hingga mencapai posisi terbuka. Pintu darurat
biasanya diletakkan pada pojok atau sudut bangunan.
Persyaratan umum pintu darurat ialah pintu penahan asap harus dibuat
sedemikian rupa sehingga asap tidak akan melewati pintu dari satu sisi ke
sisi yang lainnya, dan bila terdapat bahan kaca pada pintu tersebut, maka
bahaya yang mungkin timbul terhadap orang yang lewat harus minimal.
Pintu penahan asap baik terdiri dari satu ataupun lebih akan memenuhi
persyaratan butir bila pintu tersebut dikonstruksikan sebagai berikut:
a. Daun pintu dapat berputar disatu sisi dengan arah sesuai arah bukaan
keluar atau berputar dua arah.
b. Daun pintu mampu menahan asap pada suhu 2000 C selama 30 menit.
c. Daun pintu padat dengan ketebalan 35 mm.
d. Pada daun pintu dipasang penutup atau pengumpul asap dan pintu harus
tahan terhadap api sekurang-kurangnya 2 jam.
e. Daun pintu pada umumnya pada posisi menutup atau daun pintu
menutup secara otomatis melalui pengoperasian penutup pintu otomatis
yang dideteksi oleh detektor asap yang dipasang sesuai dengan standar
yang berlaku dan ditempatkan disetiap sisi pintu yang jaraknya secara
horisontal dari bukaan pintu tidak lebih dari 1,5 m. Selain itu daun pintu
juga bisa dibuka secara manual jika terjadi putusnya aliran listrik ke
pintu, daun pintu berhenti aman pada posisi penutup.
f. Pintu akan kembali menutup secara penuh setelah pembukaan secara
manual.
g. Setiap kaca atau bahan kaca yang menyatu dengan pintu kebakaran atau
merupakan bagian pintu kebakaran harus memenuhi standar yang
berlaku (tahan api).

86
h. Bilamana panel berkaca tersebut bisa membingungkan untuk memberi
jalan keluar yang tidak terhalang maka adanya kaca tersebut harus dapat
dikenali dengan konstruksi tembus cahaya.
i. Pintu dilengkapi dengan tanda peringatan TANGGA DARURAT
TUTUP KEMBALI.
j. Ambang pintu harus tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal
selebar daun pintu.
k. Pintu paling atas membuka kearah luar (atap bangunan) dan semua
pintu lainnya membuka kearah ruangan tangga kecuali pintu paling
bawah membuka keluar dan langsung berhubungan dengan ruang laur.
l. Pintu harus dilengkapi minimal 3 engsel.
m. Pintu menggunakan warna yang mencolok (warna merah).

Gambar 2.47 Desain Pintu Kebakaran


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Kelebihan pintu darurat yaitu sebagai berikut:


a. Merupakan jalur evakuasi yang tahan terhadap api kurang lebih selama
2 jam karena terbuat dari bahan baja.
b. Mampu menahan asap selama 30 menit.
Sedangkan kekurangan pintu darurat yaitu:
a. Pembuatannya relative mahal karena harga bahan baku yang digunakan
juga relative tinggi (baja).
b. Pintu memiliki tiga engsel agar mampu menahan bahan baku yang berat
dan padat saat dibuka ataupun ditutup dengan ketebalan daur pintu
sekitar 35 mm.

87
Untuk menentukan jumlah dan lebar pintu kebakaran tiap zona dapat
ditentukan dengan perhitungan di bawah ini:
1. Perhitungan Luas Bangunan (A) Tiap Lantai atau Zona
Kita bisa mengetahui luas bangunan (A) dari gambar rencana (contoh:
A = 632 m2).
2. Perhitungan Jumlah Orang (N).
Pada Tabel Komponen Penentuan Lebar Pintu Keluar dibawah ini kita
bisa menetapkan beban okupansi bangunan (contoh: Jenis bangunan
komersil dengan beban okupansi 5,6 untuk lantai lain).

Tabel 2.2 Komponen Penentuan Lebar Pintu Keluar

Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Setelah itu kita dapat menentukan jumlah orang (N) dengan


perhitungan: N = Luas Bangunan (A)/Beban Okupasi = 632/5,6
= 112,85 orang ~ 113 orang.
3. Perhitungan Kebutuhan Eksit pada Tiap Lantai
Setelah mengetahui jumlah orang tiap lantai atau zona, selanjutnya
menghitung kebutuhan eksit pada tiap lantai dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Waktu escape (T) untuk bahaya kebakaran sedang = 3 menit
(Keselamatan Bahaya Kebakaran).
b. Lebar Tempat Keluar (U): N/(40xT) = 113/(40 x 3) = 0,95 ~ 1 m.
c. Jumlah eksit (E): (U/4)+1 = (1/4) + 1 = 1,25 ~ 1 unit.
Jadi jumlah pintu kebakaran yang dibutuhkan setiap 632 m2 adalah 1
unit dengan lebar 1 m.

88
D. TANGGA DARURAT
Tangga pada bangunan bertingkat, rendah maupun tinggi, disediakan
sebagai tangga darurat dan tangga kebakaran. Keduanya memiliki syarat
yang berbeda. Tangga darurat digunakan oleh pemakai bila alat transportasi
lain tidak berfungsi seperti lift atau escalator. Berbeda dengan tangga
kebakaran, sesuai dengan namanya tangga kebakaran memang digunakan
pada saat kebakaran. Untuk itu faktor keselamatan sangat diperhatikan pada
tangga jenis ini.
Beberapa arsitek memenuhi persyaratan ini dengan adanya dua tangga
di setiap lantai dan menempati ruang lantai yang sama. Hal Ini mungkin
tidak masuk akal secara fungsional untuk memiliki dua tangga begitu dekat
satu sama lain, tetapi dapat memenuhi persyaratan keamanan bangunan
gedung. Tangga darurat diletakkan terbuka dan dekat dengan lobby lift
sehingga pemakai mudah menemukannya. Tangga kebakaran diletakkan
pada tempat tertentu yang memenuhi persyaratan keselamatan terhadap
bahaya kebakaran.
Persyaratan mengenai elemen penyusun dan tata letak tangga darurat
diantaranya sebagai berikut.
a. Tangga diletakkan di dalam ruangan tangga kebakaran yang di depan
dan didalamnya diberi lampu emergency otomatis penunjuk arah.
b. Tangga terbuat dari material yang kuat terhadap kebakaran dalam
waktu tertentu.
c. Tangga terletak di dalam ruang yang kedap api berdinding cukup tebal
dan minimal tidak ikut terbakar dalam waktu tertentu sehingga
penghuni bisa menyelematkan diri.
d. Memiliki ruang udara tekan (supaya asap tidak masuk ke dalam ruang
tangga), bisa juga menggunakan pressure fan yang berfungsi
memberikan tekanan pada udara di dalam ruangan. Static pressure fan
(bower) merupakan bagian dari AHU, AHU sendiri merupakan
seperangkat alat yang dapat mengontrol suhu, kelembababan, tekanan
udara, tingkat kebersihan (jumlah partikel/mikroba), pola aliran udara,
jumlah pergantian udara dan sebagainya yang berhubungan dengan
udara dalam ruangan.

89
e. Memiliki pintu besi tahan api yang membuka kearah dalam ruang
tangga, tetapi pada ruang paling atas dan bawah, pintu membuka ke
arah luar tangga. Yang tidak kalah penting adalah ruang tangga
kebakaran yang terletak di lantai dasar memiliki pintu langsung
berhubungan dengan udara luar.
f. Ukuran lebar tangga dihitung sesuai kapasitas gedung.
g. Jarak antar tangga kebakaran sesuai dengan standar keamanan gedung.
h. Sesuai dengan standard dan perhitungan tangga, jenis tangga ini juga
memiliki syarat keselamatan. Ukuran tinggi pijakan dan lebarnya sesuai
dengan pemakainya, begitu pula untuk material yang digunakan cukup
aman (tidak licin dan tidak membahayakan), dan tidak mudah terbakar.
Tangga darurat dibuat untuk mencegah terjadinya kecelakaan atau
luka-luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat kebakaran (Ketentuan
Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung
dan Lingkungan, Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum No.
10/KPTS/2000). Untuk itu perlu diperhatikan urut-urutan bahaya yang
timbul akibat adanya kebakaran yaitu bahaya kepanikan, bahaya asap/gas
beracun, dan bahaya panas api.
Untuk mengatasi ke tiga hal tersebut, jalan keluarnya adalah melewati
fire escape (tangga darurat). Koridor tiap jalan keluar menuju tangga darurat
dilengkapi dengan pintu darurat yang tahan api (lebih kurang 2 jam) dan
panic bar sebagai pegangannya sehingga mudah dibuka dari sebelah dalam
dan akan tetap mengunci kalau dibuka dari sebelah tangga (luar) untuk
mencegah masuknya asap kedalam tangga darurat. Tiap tangga darurat
dilengkapi dengan kipas penekan/pendorong udara yang dipasang di atap
(top). Udara pendorong akan keluar melalui grill di setiap lantai yang
terdapat di dinding tangga darurat dekat pintu darurat. Rambu-rambu keluar
(exit signs) ditiap lantai dilengkapi dengan tenaga baterai darurat yang
sewaktu-waktu diperlukan bila sumber tenaga utama (PLN) padam.
Fungsi sistem pintu keluar baik berupa tangga kebakaran maupun
pintu darurat dimaksudkan untuk memberikan akses bagi
penghuni/pengguna bangunan untuk dapat menuju tempat yang aman
dengan selamat. Tempat yang paling aman adalah ruang terbuka yang besar
pada elevasi permukaan tanah. Untuk penghuni/pengguna pada lantai atas

90
suatu bangunan tinggi, untuk orang penyandang cacat/tuna daksa atau orang
sakit dan orang lanjut usia, maka tempat yang aman adalah suatu ruangan
di dalam bangunan itu yang dapat menahan bahaya api untuk jangka waktu
tertentu.
Peraturan tentang tangga kebakaran dan pintu darurat berbeda antara
satu daerah (negara) dengan wilayah lainnya, namun pendekatan bagi sistem
pintu keluar pada dasarnya sama, yaitu memberi kemudahan bagi
penghuni/pengguna bangunan untuk dapat selamat keluar dari bangunan
yang terkena musibah/bencana.
Dalam pemasangan jalan keluar atau jalan penyelamatan (emergency
exit) berupa tangga kebakaran (fire escape) harus memperhatikan syarat-
syarat, yaitu :
a. Tangga terbuat dari konstruksi beton atau baja yang mempunyai
ketahanan kebakaran selama 2 jam.
b. Tangga dipisahkan dari ruangan-ruangan lain dengan dinding beton
yang tebalnya minimum 15 cm atau tebal tembok 30 cm yang
mempunyai ketahanan kebakaran selama 2 jam.
c. Bahan-bahan finishing, seperti lantai dari bahan yang tidak mudah
terbakar dan tidak licin, susuran tangan terbuat dari besi.
d. Lebar tangga minimum 120 cm (untuk lalu lintas 2 orang ).
e. Harus dapat dilewati minimal oleh 2 orang bersama-sama atau lebar
bersih tangga minimal 120 cm.
f. Untuk anak tangga, lebar minimum injakan tangga 27,9 cm, tinggi
minimum 10,5 cm, tinggi maksimum 17,8 cm dan jumlah 2R + G
70cm.
g. Harus mudah dilihat dan dicapai (dilengkapi dengan penunjuk arah).
Jarak maksimum dari sentral kegiatan 30 m atau antar tangga 60 m.
h. Persyaratan tangga kebakaran, khususnya yang terkait dengan
kemiringan tangga, jarak pintu dengan anak tangga, tinggi pegangan
tangga dan lebar serta ketinggian anak tangga, dapat dilihat pada
gambar berikut:

91
Gambar 2.48 Detail Rel Pegangan Tangan
Sumber: SNI 03-1746-2000

Gambar 2.49 Tangga Darurat Dilengkapi Pintu Darurat, Lift Darurat, &
Hidran

92
Sumber: Jimmy S Juwana, 2005.
Jendela Ruang Pintu tahan lobby, tangga, dan lift minimum 2,50 m.
Dinding tahan kotak lampu supaya asap kebakaran tidak masuk dalam
ruangan tangga diperlukan:
j. Exhaust fan yang berfungsi menghisap asap yang ada di depan tangga.
Penempatan exhaust fan berupa :
a) Dipasang di depan tangga kebakaran yang berfungsi untuk
menghisap asap yang akan masuk dalam tangga darurat saat pintu
dibuka.
b) Dipasang didalam tangga yang secara otomatis berfungsi
memasukkan udara untuk memberikan tekanan pada udara di
dalam tangga darurat yang berfungsi mengatur tekanan udara
dalam tangga agar lebih besar daripada udara dalam bangunan
khususnya saat terjadi kebakaran sehingga saat pintu dibuka asap
tidak masuk ke dalam tangga darurat.
c) Untuk bangunan khusus atrium, dipakai alat exhaust vent yang
secara otomatis terbuka saat terjadi kebakaran sehingga asap dapat
keluar melalui alat tersebut.
k. Pressure fan yang berfungsi menekan/memberi tekanan di dalam ruang
tangga yang lebih besar daripada tekanan pada ruang luar. Di dalam dan
di depan tangga diberi alat penerangan sebagai penunjuk arah tangga
dengan daya otomatis/emergency.
Sebagai pemakai gedung, sebaiknya juga memahami perbedaan
tangga darurat dan tangga kebakaran, sehingga dapat menggunakan kedua
jenis tangga ini dengan tepat. Keselamatan bersama dapat terjadi dengan
adanya penggunaan tangga yang tepat sesuai fungsi.

Gambar 2.50 Tangga Darurat di Luar dan di Dalam Gedung


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

93
Pada SNI 03-1746-2000 kriteria tangga darurat dalah sebagai berikut:
4. KONSTRUKSI
a. Semua tangga yang digunakan sebagai sarana jalan ke luar sesuai
persyaratan, harus dari konstruksi tetap yang permanen.
b. Setiap tangga, panggung (platform) dan bordes tangga dalam
bangunan yang dipersyaratkan dalam standar ini untuk konstruksi
kelas A atau kelas B harus dari bahan yang tidak mudah terbakar.
5. BORDES TANGGA
Tangga dan bordes antar tangga harus sama lebar dengan tanpa
pengurangan lebar sepanjang arah lintasan jalan ke luar. Dalam
bangunan baru, setiap bordes tangga harus mempunyai dimensi yang
diukur dalam arah lintasan sama dengan lebar
tangga. Pengecualian: Bordes tangga harus diijinkan untuk tidak lebih
dari 120 cm (4 ft) dalam arah lintasan, asalkan tangga mempunyai jalan
lurus.
6. PERMUKAAN ANAK TANGGA DAN BORDES TANGGA
a. Anak tangga dan bordes tangga harus padat, tahanan gelincirnya
seragam, dan bebas dari tonjolan atau bibir yang dapat
menyebabkan pengguna tangga jatuh. Jika tidak tegak (vertikal),
ketinggian anak tangga harus diijinkan dengan kemiringan di
bawah anak tangga pada sudut tidak lebih dari 30 derajat dari
vertikal, bagaimanapun, tonjolan yang diijinkan dari pingulan harus
tidak lebih dari 4 cm (1 inci).
b. Kemiringan anak tangga harus tidak lebih dari 2 cm per m ( inci
per ft ) (kemiringan 1 : 48).
c. Ketinggian anak tangga harus diukur sebagai jarak vertikal antar
pingulan anak tangga.
d. Kedalaman anak tangga harus diukur horisontal antara bidang
vertikal dari tonjolan terdepan dari anak tangga yang bersebelahan
dan pada sudut yang betul terhadap ujung terdepan anak tangga,
tetapi tidak termasuk permukaan anak tangga yang dimiringkan
atau dibulatkan terhadap kemiringan lebih dari 20 derajat
(kemiringan 1 : 2,75).

94
e. Pada pingulan anak tangga, pemiringan atau pembulatan harus
tidak lebih dari 1,3 cm ( inci) dalam dimensi horizontal
f. Harus tidak ada variasi lebih dari 1 cm (3/16 inci) di dalam
kedalaman anak tangga yang bersebelahan atau di dalam ketinggian
dari tinggi anak tangga yang bersebelahan, dan toleransi antara
tinggi terbesar dan terkecil atau antara anak tangga terbesar dan
terkecil harus tidak lebih dari 1 cm (3/8 inci) dalam sederetan anak
tangga. Pengecualian: Apabila anak tangga terbawah yang
berhubungan dengan kemiringan jalan umum, jalur pejalan kaki,
jalur lalu lintas, mempunyai tingkat ditentukan dan melayani suatu
bordes, perbedaan ketinggian anak tangga terbawah tidak boleh
lebih dari 7,6 cm (3 inci) dalam setiap 91 cm (3 ft) lebar jalur
tangga harus diijinkan.

Gambar 2.51 Tinggi Anak Tangga dengan Kemiringan ke Depan


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Gambar 2.52 Tinggi Anak Tangga dengan Kemiringan ke Belakang


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Gambar 2.53 Kedalaman Anak Tangga


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

95
Gambar 2.54 Pengukuran Anak Tangga dengan Tumpuan yang Stabil
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Gambar 2.55 Anak Tangga dengan Permukaan Injakan yang Tidak


Stabil
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

7. PAGAR PENGAMAN DAN REL PEGANGAN TANGAN


a. Sarana jalan ke luar yang lebih dari 75 cm (30 inci) diatas lantai
atau di bawah tanah harus dilengkapi dengan pagar pengaman
untuk mencegah jatuh dari sisi yang terbuka.
b. Tangga dan ram harus mempunyai rel pegangan tangan pada kedua
sisinya. Di dalam penambahan, rel pegangan tangan harus
disediakan di dalam jarak 75 cm (30 inci) dari semua bagian lebar
jalan ke luar yang dipersyaratkan oleh tangga. Lebar jalan ke luar
yang dipersyaratkan harus sepanjang jalur dasar dari lintasan.
a) Pengecualian 1: Pada tangga yang sudah ada, pegangan tangga
harus disediakan di dalam jarak 110 cm ( 44 inci ) dari semua
bagian lebar jalan ke luar yang disyaratkan oleh tangga.
b) Pengecualian 2: Jika bagian dari batu penahan pinggiran trotoir
memisahkan sisi pejalan kaki dari jalan kendaraan, sebuah
langkah tunggal atau sebuah ram tidak harus disyaratkan untuk
mempunyai rel pegangan tangan.

96
c) Pengecualian 3: Tangga yang sudah ada, ram yang sudah ada,
tangga di dalam unit rumah tinggal dan di dalam wismar tamu,
dan ram di dalam unit rumah tinggal dan di dalam wisma tamu,
harus mempunyai sebuah rel pegangan tangan tidak kurang
pada satu sisi.

Gambar 2.56 Dianggap Jalur Lintasan Biasa pada Tangga Monumental


dengan Lokasi Rel Pegangan Tangan yang Beragam
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Gambar 2.57 Dianggap Jalur Lintasan Biasa pada Tangga Monumental


dengan Lokasi Rel Pegangan Tangan yang Beragam
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

97
Gambar 2.58 Dianggap Jalur Lintasan Biasa pada Tangga Monumental
dengan Lokasi Rel Pegangan Tangan yang Beragam
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

c. Pagar pengaman dan rel pegangan tangan yang disyaratkan harus


menerus sepanjang tangga. Pada belokan tangga, rel pegangan
tangan bagian dalam harus menerus antara deretan tangga pada
bordes tangga. Pengecualian: Pada tangga yang sudah ada, rel
pegangan tangan harus tidak dipersyaratkan menerus antara deretan
tangga pada bordes.
d. Rancangan dari pagar pelindung dan rel pegangan tangan dan
perangkat keras untuk memasangkan rel pegangan tangan ke pagar
pelindung, balustrade atau dinding-dinding harus sedemikian
sehingga tidak ada tonjolan yang mungkin menyangkut pakaian.
e. Bukaan pagar pelindung harus dirancang untuk mencegah pakaian
yang menyangkut menjadi terjepit pada bukaan seperti itu.

Gambar 2.59 Detail Rel Pegangan Tangan


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

98
Gambar 2.60 Detail Rel Pegangan Tangan
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

f. Rel pegangan tangan pada tangga harus paling sedikit 86 cm (34


inci) dan tidak lebih dari 96 cm (38 inci) di atas permukaan anak
tangga, diukur vertikal dari atas rel sampai ke ujung anak tangga.
a) Pengecualian 1: Ketinggian dari rel pegangan tangan yang
diperlukan yang membentuk bagian dari pagar pelindung harus
diijinkan tidak lebih dari 107 cm (42 inci) diukur vertikal ke
bagian atas rel dari ujung anak tangga.
b) Pengecualian 2: Rel pegangan tangan yang sudah ada harus
paling sedikit 76 cm (30 inci) dan tidak lebih dari 96 cm (38
inci) di atas permukaan atas anak tangga, diukur vertikal ke
bagian atas rel dari ujung anak tangga.
c) Pengecualian 3: Rel pegangan tangan tambahan yang lebih
rendah atau lebih tinggi dari pada rel pegangan tangan utama
harus diijinkan.
g. Rel pegangan tangan yang baru harus menyediakan suatu jarak
bebas paling sedikit 3,8 cm (1 inci) antara rel pegangan tangan
dan dinding pada mana rel itu dipasangkan.
h. Rel pegangan tangan yang baru harus memiliki luas penampang
lingkaran dengan diameter luar paling sedikit 3,2 cm (1 inci) dan
tidak lebih dari 5 cm (2 inci). Rel pegangan tangan yang baru harus
dengan mudah dipegang terus menerus sepanjang seluruh
panjangnya.

99
a) Pengecualian 1: Setiap bentuk lain dengan satu dimensi
keliling paling sedikit 10 cm (4 inci) tetapi tidak lebih dari 16
cm (6 inci), dan dengan dimensi penampang terbesar tidak
lebih dari 5,7 cm (2 inci) harus diijinkan, asalkan ujungnya
dibulatkan sampai satu jarak radius minimum 0,3 cm (1/8
inci).
b) Pengecualian 2: Pengikat rel pegangan tangan atau balustrade
dipasang ke bagian bawah permukaan dari rel pegangan
tangan, yang mana tonjolan horisontalnya tidak melewati sisi
sisi dari rel pegangan tangan dalam jarak 2,5 cm (1 inci) dari
bagian bawah rel pegangan tangan dan yang memiliki ujung
dengan radius minimum 0,3 cm (1/8 inci), harus tidak
dipertimbangkan sebagai penghalang pada pegangan tangan.
i. Ujung rel pegangan tangan yang baru harus dikembalikan ke
dinding atau lantai atau berhenti pada tempat terbaru.
j. Rel pegangan tangan yang baru yang tidak menerus diantara
sederetan anak tangga harus melebar horisontal, pada ketinggian
yang diperlukan, paling sedikit 30 cm ( 12 inci ) tidak melebihi
tiang tegak teratas dan menerus miring pada kedalaman satu anak
tangga di atas tiang tegak paling bawah. Pengecualian: Apabila
disetujui oleh instansi yang berwenang karena keterbatasan tempat
dan di dalam unit hunian, kepanjangan horisontal di atas anak
tangga teratas tidak diperlukan asalkan rel pegangan tangan
memanjang pada ketinggian yang diperlukan sampai pada satu titik
langsung di atas tiang tegak teratas.
k. Ketinggian pagar pengaman yang dipersyaratkan harus diukur
vertikal ke bagian atas pagar pengaman dari permukaan yang dekat
dimaksud.
l. Pagar pengaman paling sedikit harus 100 cm (42 inci) tingginya.
a) Pengecualian 1: Pagar pengaman yang sudah ada yang di
dalam unit hunian harus sedikitnya 90 cm (36 inci) tingginya.
b) Pengecualian 2: Seperti yang ada pada bangunan kumpulan.
c) Pengecualian 3: Pagar pengaman yang sudah ada pada tangga
yang sudah ada harus paling sedikit tingginya 80 cm (30 inci).

100
m. Pagar pengaman terbuka harus mempunyai rel atau pola ornamen
sehingga bola berdiameter 10 cm (4 inci ) harus tidak bisa lolos
melalui bukaan sampai ketinggian 80 cm (34 inci ).
a) Pengecualian 1: Bukaan segitiga yang dibentuk oleh tiang
tegak, anak tangga, dan elemen bawah rel pagar pengaman
pada sisi terbuka dari sebuah tangga harus ukurannya
sedemikian rupa sehingga sebuah bola dengan diameter 15 cm
(6 inci) harus tidak dapat lolos melalui bukaan segitiga itu.
b) Pengecualian 2: Dalam rumah tahanan, dalam hunian industri,
dan di dalam gudang, jarak bebas antara rel terdekat diukur
tegak lurus pada rel harus tidak lebih dari 50 cm (21 inci).
c) Pengecualian 3: Pagar pengaman yang sudah ada yang
disetujui.

8. RUANGAN TERTUTUP DAN PROTEKSI DARI TANGGA


a. Semua tangga di dalam, yang melayani sebuah eksit atau
komponen eksit harus tertutup (harus aman dan terlindung dari api
dan gas panas yang beracun).
b. Semua tangga lain di dalam harus diproteksi sesuai dengan bukaan
vertikalnya. Pengecualian: Dalam bangunan gedung yang sudah
ada, apabila sebuah ruangan eksit dua lantai menghubungkan lantai
eksit pelepasan dengan lantai berdekatan, eksit tersebut harus
dipersyaratkan untuk ditutup pada lantai eksit pelepasan dan paling
sedikit 50% dari jumlah dan kapasitas eksit pada lantai eksit
pelepasan harus tersendiri ditutupnya.

Gambar 2.61 Jalur Tangga dengan Dinding Luar Tidak Tahan Api
dalam Bidang yang Sama dengan Dinding Luar
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

101
Gambar 2.62 Jalur Tangga dengan Keliling yang Menonjol ke Luar
pada Dinding Luar Bangunan
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

Gambar 2.63 Jalur Tangga dengan Dinding Luar


Tidak Diproteksi Berhadapan
Sumber: bestananda.blogspot.co.id

c. Apabila dinding yang bukan tahan terhadap api atau bukan tidak
terproteksi menutup bagian luar jalur tangga dan dinding serta
bukaan itu di ekspos pada bagian lain dari bangunan pada satu
sudut tidak lebih dari 180 derajat, dinding penutup bangunan dalam
jarak 3 m (10 ft) horisontal dari dinding yang bukan tahan api atau
bukan yang terproteksi harus dikonstruksikan seperti
dipersyaratkan untuk ruang jalur tangga tertutup termasuk proteksi
untuk bukaannya. Konstruksi harus menjulur vertikal dari dasar ke
suatu titik 3 m (10 ft) di atas bordes tangga di puncak paling tinggi
atau pada garis atap, yang mana yang lebih rendah.

102
Kelebihan tangga darurat yaitu sebagai berikut:
a. Merupakan jalur evakuasi yang berfungsi menghubungkan lantai atas
dengan lantai bawah.
b. Biasanya tangga darurat terdapat pada area luar gedung sehingga
memudahkan jalur evakuasi.
c. Bahan dari tangga darurat menggunakan bahan yang tahan terhadap api
seperti bahan dari konstruksi beton atau baja yang mempunyai
ketahanan kebakaran selama 2 jam.
d. Tangga dipisahkan dari ruangan-ruangan lain dengan dinding beton
yang tebalnya minimum 15 cm atau tebal tembok 30 cm yang
mempunyai ketahanan terhadap kebakaran selama 2 jam. Sehingga jalur
evakuasi relative lancar dan lebih tahan terhadap panas karena
ketebalan tembok rata-rata antara 15-30 cm.
Sedangkan kekurangan dari tangga darurat adalah sebagai berikut:
a. Pembuatan relative mahal karena harga bahan baku yang digunakan
juga relative tinggi(baja).
b. Pintu memiliki 3 engsel agar mampu menahan bahan baku yang berat
dan padat saat dibuka ataupun ditutup dengan ketebalan daur pintu 35
mm.
c. Jika jalur tangga terlalu padat dapat menyebabkan koban mengalami
luka-luka.
Untuk perencanaan tangga darurat/tangga kebakaran, perlu
mempertimbangkan jumlah orang (N) yang dapat terakomodasi, lebar
tangga darurat, dan jumlah lantai. Perhitungan ini dilakukan sesuai dengan
persamaan berikut:
P = 200w + [50(w 0,3)] (n 1)
Dimana:
P = jumlah orang yang direkomendasi
w = lebar tangga dalam meter
n = jumlah lantai bangunan
Berikut ini contoh perhitungan lebar minimum tangga yang diperlukan
untuk menghindari penumpukan penghuni pada tiap lantai: P = 226 orang
(bisa di dapat dari perhitungan Jumlah Orang = Luas bangunan/Beban
Okupansi) dan n = 10.

103
P = 200w + [50 (w 0,3)] (n 1)
226 = 200w + [50 (w 0,3)] (10 1)
226 = 200w + (50w 15) 9
226 = 200w + 450w 135
226 + 135 = 200w + 450w
361 = 650w
w = 1,80 m
Jadi lebar tangga yang diperlukan untuk tiap lantai adalah 1,80 m.
Pada tangga darurat harus diadakan penandaan jalur tangga. Dalam
perencanaan penandaan tangga darurat/kebakaran ada beberapa kriteria
yang disyaratkan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
26/PRT/M/2008 Bab 3 butir 3.8.4, antara lain:
a. Menunjukkan tingkat lantai,
b. Menunjukkan akhir teratas dan terbawah dari ruang tangga terlindung,
c. Menunjukkan tingkat lantai dari, dan ke arah eksit pelepasan,
d. Diletakkan di dalam ruang terlindung di tempat mendekati 1,5 m di atas
bordes lantai dalam suatu posisi yang mudah terlihat bila pintu dalam
posisi terbuka atau tertutup,
e. Dicat atau dituliskan pada dinding atau pada penandaan terpisah yang
terpasang kuat pada dinding,
f. Huruf identifikasi jalur tangga harus ditempatkan pada bagian atas dari
penandaan dengan tinggi minimum huruf 2,5 cm dan harus memenuhi
ketentuan tentang karakter huruf",dan
g. Angka level lantai harus ditempatkan di tengah-tengah penandaan
dengan tinggi angka minimum 12,5 cm.

Contoh 2.64 Penandaan dan Penempatan Tanda Arah Tangga


Sumber: bestananda.blogspot.co.id

104
E. LIFT DARURAT
Menurut Juwana (2005) untuk bangunan dengan ketinggian kurang
dari 8 lantai (kurang lebih 25 m) tangga sirkulasi dapat digunakan sebagai
tangga kebakaran, sedangkan bangunan diatas 8 lantai atau lebih dari 25 m
perlu dilengkapi dengan lift darurat dan penyembur api yang bekerja secara
otomatis. Bangunan maksimum 2 m dapat dengan mudah dipadamkan dari
luar dengan menggunakan tangga dan selang penyemprot yang dibawa oleh
petugas pemadam kebakaran.
Lift adalah alat transportasi vertikal yang biasa digunakan pada
bangunan tinggi, berupa box/cabinet yang dapat dapat digerakkan naik turun
perlantai sesuai kehendak dengan cara elektromekanik. Berdasar fungsinya,
elevator dibedakan menjadi passenger elevator (elevator penumpang),
freight elevator (elevator barang), dan service elevator (elevator service).
Untuk bangunan tinggi minimal harus ada passenger dan freight elevator.
Pembahasan elevator akan dikhususkan pada passenger elevator.
Pembahasan mencakup prinsip kerja elevator, dan menentukan spesifikasi
elevator pada suatu fungsi bangunan tinggi. Spesifikasi mencakup
kapasitas, kecepatan dan jumlah elevator yang cocok pada bangunan tinggi
tersebut. Passenger elevator (elevator penumpang) menurut penggunaannya
ada beberapa jenis yaitu berupa passenger lift untuk bangunan rumah sakit,
passenger lift untuk hotel, apartment, dormitory, passenger lift untuk
perkantoran, passenger lift untuk mall, pertokoan, dll. Masing-masing
mempunyai spesifikasi berbeda. Secara umum standard kebutuhan lift
adalah 250-300 persons / lift 30.000-35.000 sq.ft (2.800-3.250 m2)
lantai/lift.
Lift darurat merupakan sarana yang disediakan di dalam sebuah
gedung dengan ketinggian lebih dari 25 m untuk memudahkan jalur
evakuasi korban ke tempat yang lebih aman. Dalam ketentuan Menteri PU
no.10/KPTS/2000 bahaya kebakaran gedung meliputi akses petugas
diantaranya yaitu:
a. Dinding siap dibuka. Panel kaca dipecahkan. Bebas hambatan.
b. Dua akses berjarak 20 m, pada basis luas lantai 620 m2.
c. Jalan akses bagi petugas diberi tanda segitiga merah.

105
Fasilitas lift (LK) bagi petugas yaitu kombinasi dengan tangga dalam
satu sarf yang terlindung (tahan api dan kedap asap). Tinggi efektive
bangunan = 20 m (+ 7 lantai). Basement kedalaman 10 m (sampai Bsmt-3)
LK harus mampu melayani semua lantai tingkatan. untuk bangunan tinggi
efektif 25 m (8 lantai) pada saft yang berbeda masing-masing saft terdapat
satu unit LK. Contoh:
Low Zone 4 unit lift 8/8 = satu LK
Medium Zone lt.1 9 s/d 20 = satu LK
High Zone lt.1 21 s/d 30 = satu LK
Saf untuk LK harus tahan api.
Lift kebakaran harus memenuhi persayaratan SNI.
a. Bangunan kelas 9A (perawatan kesehatan)
b. Dimensi kereta = lebar 1.60 m x dalam 2.28 m
c. Dimensi pintu = lebar 1.30 m x tinggi 2.10 m
d. Kapasitas (daya angkut) = 600 kg untuk bangunan tinggi efektive 75 m
(= + 23 lantai)
e. Kabel catu daya harus tahan api selama 1 jam
f. Kabel harus terlindungi (dalam saluran tertutup).
Adapun spesifikasi elevator ditentukan oleh faktor-faktor berikut:
a. Fungsi Bangunan: fungsi suatu bangunan untuk menentukan:
prosentase jmlh orang minimal yang harus diangkut (%), misal: fungsi
hotel akan berbeda dengan fungsi untuk kantor. Jumlah satuan luas
lantai per orang ( sqft/person).
b. Jumlah Total Luas Lantai Bangunan: untuk menentukan jumlah total
penghuninya
c. Tinggi Total Bangunan: untuk menentukan kapasitas dan kecepatan lift
yang cocok dgn ketinggian tersebut.
d. Letak Bangunan Pada Konstelasi Kota: berpengaruh pada prosentase
penghuni yang dpt diangkut lift dalam 5 menit.

106
Perhitungan-perhitungan pada lift darurat ialah sebagai berikut.

Gambar 2.65 Pedoman Dimensi Elevator Diperlukan untuk


Menentukan Dimensi Shaft Lift (Tabung Lift).
Sumber: staff.uny.ac.id

1. WAKTU PERJALANAN BOLAK BALIK (t) SATUAN DETIK (s)


(+) () + ((+)
t= s

h= jarak lantai ke lantai (m)


s= kecepatan rata-rata lift (m/detik)
n= jumlah lantai yang dilayani lift
m= daya angkut/kapasitas lift

Diketahui:
h =3.6 m, s =1.5 m/detik, n = 12 lantai, m = 1000/12 orang
Penyelesaian:
(+) () + ((+)
t= s
( 2 . 3,6 + 4 . 1,5 ) ( 12 1 ) + (1,5 (2 (12+ 4 )
t= 1,5

( 7,2 + 6 ) . ( 11 ) + ( 1,5 ( 32 ))
= 1,5

( 13,2 ) (11) + 48
= 1,5

145,2 + 48
= 1,5

193,2
= 1,5
= 128,8 s

107
2. JUMLAH LIFT (n)
(( )
n= (.+) detik

t= waktu perjalan bolak balik


n= jumlah lantai yang dilayani
a= luas lantai tipikal
m= daya angkut/kapasitas lift/jumlah orang

Diketahui:
t= 128,8 detik, n= 12 lantai, a= 1152 m, m= 1000/12 orang
penyelesaian:
(2nT (2 a3 m)
n= 3 m(n.T+40000 ) detik

( 2 . 12 . 128,8 (2 (1152 ) 3 (12) )


n= detik
3 .12( 12 . 128,8 + 40000 )

( 2(1545 ,6) (2304 36)


= detik
36(1545 ,6+40000 )

(3091,2) (2268 )
= detik
36(41545 ,6)

7010841 ,6
= detik = 4,69 detik
1495641 ,6

3. WAKTU TUNGGU
w = t/n
128,8
= = 27,52 detik
4,69

Lift pemadam adalah lift yang digunakan oleh pemadam kebakaran


untuk mengakses bangunan, atau bagian bangunan yang tinggi yang sedang
mengalami musibah kebakaran, umumnya akses yang digunakan oleh
pemadam kebakaran untuk mengakses bagian bangunan tersebut adalah
hidrolik yang terdapat pada mobil pemadam, karena jika menggunakan
tangga pada bangunan penyelamatan akan menjadi sangat lambat, dan jika
menggunakan lift akan sangat berbahaya bagi petugas pemadam, sehingga
yang umumnya digunakan untuk mengakses bagian atas bangunan yang
sedang mengalami musibah kebakaran adalah hidrolik yang terdapat pada
mobil pemadam kebakaran.

108
Gambar 2.66 Mobil Pemadam sebagai Lift untuk Petugas Pemadam Kebakaran
Sumber: https://www.google.com/liftpemadam

Keuntungan dalam penggunaan lift darutat:


a. Untuk mengangkut orang dalam jumlah banyak, yang digunakan pada
gedung bertingkat ataupun sebagai jalur evakuasi untuk gedung tinggi
yang lebih dari 8 lantai atau sekitar 25 m.
b. Mempermudah jalur evakuasi dengan waktu yang lumayan singkat
tergantung tinggi gedung.
Kelemahan dalam penggunaan lift :
a. Biaya pembuatan yang cukup mahal.
b. Membuat orang malas untuk berolahraga dengan menggunakan tangga.
c. Jika tidak hati-hati bisa menelan korban, seperti terjepit lift, jari kaki
yang terpotong ketika menggunakan escalator, hal lainnya yang
membahayakan ketika pengguna cukup padat saat evakuasi.
d. Jika listrik padam maka lift dan escalator tidak dapat digunakan
sehingga menghambat jalur evakuasi ketika keadaan darurat.

109
F. MUSTER POINT (TITIK KUMPUL)
Sign "Titik Kumpul Darurat/Muster Point/Assembly Point" berfungsi
sebagai tanda area berkumpul sementara saat kondisi darurat. Kondisi
darurat meliputi bencana alam, kebakaran, ancaman bom, perampokan, dan
lain-lain. Titik kumpul darurat harus cukup menampung personil yang ada
di sekitar area. Biasanya dipasang di lokasi yang aman dari pengaruh
penyebab bencana/ bebas dari kemungkinan adanya bahaya lain.
Biasanya untuk mencapai titik kumpul di setiap bangunan yang
memiliki sistem evakuasi darurat yang baik, tentu memiliki lorong/koridor
jalur darurat yang di setiap dindingnya ditempel tanda menuju jalan keluar
gedung ketika dalam kondisi darurat maupun tanda lokasi titik kumpul.
Muster point/titik kumpul juga menyediakan space (3030)2
untuk satu orang (tanpa melihat ukuran gendut/kurusnya) dan dengan tinggi
2 m (minimum) atau lebih tinggi. Ini dikalikan jumlah orang yang mampu
ditampung dalam muster point tersebut sehingga didapat jumlah luas
minimal assembly/muster point yang dibutuhkan. Beberapa bangunan
instansi pemerintahan dan perusahaan swasta ada yang menetapkan space
per orang (3535) s/d (4545) 2 .
Syarat-syarat titik kumpul darurat sebagai berikut:
a. Lokasi titik kumpul dapat dinyatakan lokasi yang aman pada saat
darurat maupun setelah terjadi bencana.
b. Tempat titik kumpul minimal harus mampu menampung orang orang
disekitar area tempat titik kumpul tersebut.
c. Mudah dikenali dan diakses oleh korban bencana maupun penolong,
sehingga perlu ditandai pada dinding tempat titik kumpul dengan
ditempelkan sebuah simbol tanda titik kumpul.
Kapasitas ruang titik kumpul yaitu ruang titik kumpul pada umumnya
disediakan dengan ukuran ruang yang memungkinkan untuk mencukupi
orang-orang yang berada disekitar area titik kumpul. Selain itu pula
tergantung dari tingkat keramaian bangunan. Misalkan untuk bangunan mall
dan pusat perbelanjaan lainnya akan memiliki kapasitas ruang titik kumpul
yang mampu menampung lebih dari 150 orang. Jika bangunan tersebut
dikategorikan tingkat keramaian sedang seperti kantor dan rumah sakit
maka kapasitas orang yang dapat ditampung kisaran 100 sampai 150 orang.

110
Sedangkan untuk kategori keramaian rendah maka dapat menampung
sekitar 100 orang kebawah.
Titik kumpul seperti yang sudah diketahui merupakan salah satu
tempat evakuasi sementara dalam keadaan darurat. Meskipun seperti itu titik
kumpul memiliki kekurangan maupun kelebihan. Kelebihan dari tempat titik
kumpul tersebut ialah:
a. Tempat evakuasi sementara yang aman di saat darurat.
b. Titik kumpul mudah ditemukan di saat darurat jika bangunan menandai
setiap arah jalur menuju evakuasi ataupun menuju tempat titik kumpul.
c. Letaknya yang strategis.
Sedangkan yang menjadi kekurangan dari ruang titik kumpul yaitu:
a. Ruang evakuasi ini hanya bersifat sementara, jadi setelah merasa ada
kesempatan untuk berpindah, korban bencana baru bisa meninggalkan
ruangan titik kumpul.
b. Jangka waktu kondisi aman di tempat titik kumpul terbatas, sehingga
tim penyelamat harus segera hadir ke tempat titik kumpul.
c. Jika tanda-tanda penunjuk arah titik kumpul hilang karena beberapa
bagian bangunan yang terbakar, maka akan sangat kesulitan
menemukan tempat titik kumpul. Sehingga hanya sedikit korban yang
dapat diselamatkan.
Berikut ini merupakan contoh simbol titik kumpul yang dapat kita
temukan di kehidupan sehari-hari:

Gambar 2.67 Simbol dan Tempat Titik Kumpul


Sumber: sadiantoassegaf21.blogspot.co.id

111
G. RUANG KOMPATERMEN
Ruang kompatermen meruapakan salah satu tempat yang aman ketika
terjadi situasi darurat, selain itu ruang ini bertujuan dan memiliki fungsi
sebagai kompartemenisasi. Kompartemenisasi merupakan suatu usaha untuk
mencegah penjalaran kebakaran dengan cara membatasi api dengan dinding,
lantai, kolom, balok dan elemen lainnya yang tahan terhadap api dalam
waktu yang sesuai dengan kelas bangunan.
Berdasarkan ketentuan tempat dan sistem evakuasi, kompartemen
kebakaran adalah keseluruhan ruang yang ada dalam suatu bangunan yang
didalamnya dipisahkan menjadi bagian ruang dalam bangunan oleh
penghalang api dan asap kebakaran yang mempunyai ketahanan terhadap
penyebaran api dengan bukaan yang dilindungi secara baik. Kompartemen
kebakaran diantaranya meliputi dinding koridor, pintu-pintu ruang, dinding
pelindung yang menyelubungi tangga keluar, penutup-penutup pada bukaan
vertical (shaft mekanikal & elektrikal), dinding pembatas antar ruang dan
lain-lain. Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat
membatasi kobaran api yang potensal, sehingga dapat memberikan
perlindungan bagi penghuni yang berada diruangan lain di dalam bangunan.
Selain itu juga membatasi penjalaran api dan memudahkan bagi petugas
pemadam kebakaran dalam melaksanakan tugasnya.
Kapasitas ruang kompartemen yang dapat diperkirakan dari hasil
pengamatan yaitu dibagi menjadi 3.
a. Tingkat Pengunjung Bangunan Tinggi
Jika tingkat pengunjung yang datang tinggi, misalkan pada bangunan
pusat perbelanjaan, maka ruang kompartemen dapat menampung kira-
kira lebih dari 100 orang.
b. Tingkat Pengunjung Bangunan Sedang
Jika tingkat jumlah pengunjung yang datang pada bangunan terbilang
sedang, seperti kantor maupun rumah sakit, maka ruang kompartemen
dapat menampung kira-kira 50-100 orang.
c. Tingkat Pengunjung Bangunan Rendah
Sedangkan jika tingkat jumlah pengunjung yang datang rendah seperti
restoran, maka ruang kompartemen dapat menampung sekitar 50 orang.

112
Kelebihan ruang kompartemen adalah sebagai berikut.
a. Ruang evakuasi yang aman ketika keadaan darurat.
b. Sebagai pemisah antara ruang yang terbakar dengan lokasi korban.
c. Menghentikan penjalaran api dan asap
d. Memberikan tempat yang cukup nyaman bagi korban yang sedang
terguncang psikisnya ketika melihat kebakaran.
Sedangkan kekurangan ruang kompartemen ialah:
a. Cukup sulit untuk ditemukan oleh korban bencana.
b. Selain sulit ditemukan, juga cukup sulit dikenali sebagai ruang
kompartemen jika korban bencana bukan merupakan orang yang
mengatahui tentang bangunan tersebut.
c. Batas waktu perlindungan terbilang cukup singkat, karena disesuaikan
dengan level ketahanan kontruksi bangunan ruang kompartemen
terhadap api.

Gambar 2.68 Kompartemenisasi Ruangan


Sumber: irawanah.wordpress.com

113
H. KOLAM PINGGIR GEDUNG
Dalam sistem evakuasi, kolam pinggir gedung bermanfaat sebagai
perlindungan spontanitas saat keluar dari gedung yang akan runtuh akibat
kebakaran. Dengan adanya kolam pinggir gedung ini maka korban bencana
dapat menceburkan dirinya kedalam kolam untuk menghindari puing-puing
kayu atau benda lain yang terbakar dan berjatuhan.
Jika kolam pinggir gedung memiliki luasan yang sangat luas, ataupun
berada tepat disekeling gedung yang terbakar, maka hal itu dapat membantu
memadamkan api pada gedung yang terbakar. Tentu untuk memenuhi syarat
sebagai tempat evakuasi ataupun perlindungan sementara, kolam pinggir
gedung harus memiliki ketentuan sebagai berikut :
a. Kolam dengan mudah diakses setelah korban bencana keluar dari
koridor darurat.
b. Letaknya dipinggir gedung akan tetapi, memiliki jarak spesifik tertentu.
c. Ukuran besar kolam harus cukup besar ataupun memenuhi standar
kebutuhan layaknya kebutuhan besaran kolam renang. Sedangkan
kedalaman kolam sekitar 1 m-2 m, karena jika terlalu dangkal maka
berat massa air tidak mampu menahan berat puing puing yang
berjatuhan ke dalam kolam sehingga benturannya tidak terlalu keras
jika mengenai korban, sedangkan jika terlalu dalam, maka korban yang
berlindung dan masuk ke dalam kolam akan tenggelam jika tinggi
badannya tidak mencapai ketinggian kolam dan tidak bisa berenang.
Kapasitas kolam pinggir gedung tidak dapat dipastikan, karena
padangan umumnya kolam pinggir gedung tergantung dari besaran sesuai
desain rancangan yang akan dibangun. Akan tetapi sebagai ukuran untuk
kolam pinggir gedung yang dapat digunakan sebagai evakuasi korban, harus
mampu menampung kira-kira 50 orang bahkan lebih.
Kelebihan kolam pinggir gedung yaitu sebagai berikut :
a. Sangat mudah ditemukan oleh korban bencana yang keluar dari gedung
yang terbakar.
b. Merupakan tempat evakuasi sementara ketika puing-puing api
berjatuhan.
c. Membantu mematikan api pada korban yang terbakar.

114
Kekurangan kolam pinggir gedung, yaitu :
a. Meski mudah ditemukan, akan tetapi untuk menjangkau kolam pinggir
gedung sangat jauh dari lokasi korban di dalam gedung yang terbakar
sehingga korban perlu keluar gedung terlebih dahulu.
b. Hanya tempat evakuasi bersifat sementara bahkan sangat singkat.
c. Space perlindungan juga tidak menjamin keselamatan jika banyak
reruntuhan bangunan yang jatuh ke dalam kolam.

Gambar 2.69 Kolam Sekitar Gedung


Sumber: www.lidyafitrian.com

Gambar 2.70 Kolam Pinggir Gedung


Sumber: kartupos.co.id

115
2.3.4 SISTEM MANAJEMEN
Kebakaran pada bangunan berpotensi menimbulkan kehilangan jiwa,
harta, dan benda. Manajemen diperlukan dalam menjamin keselamatan
bangunan maupun penghuni bangunan. Manajemen pencegahan kebakaran
adalah usaha untuk memelihara peralatan/perlengkapan pencegahan kebakaran,
sehingga dapat digunakan secara optimal pada saat diperlukan. Manajemen
pencegahan kebakaran merupakan bagian dari strategi untuk memastikan
keselamatan secara preventif, membatasi perkembangan api, dan menjamin
keselamatan penghuni, seperti yang tertuang padabab VI butir 5.4 Kepmeneg
PU No. 10/KPT/2000 yaitu: Unsur manajemen pengamanan kebakaran (fire
safety management) terutama yang menyangkut kegiatan pemeriksaan,
perawatan dan pemeliharaan, audit keselamatan kebakaran dan latihan
penanggulangan kebakaran harus dilaksanakan secara periodik sebagai bagian
dari kegiatan pemeliharaan sarana proteksi aktif yang terpasang pada
bangunan.
Tujuan manajemen pencegahan kebakaran adalah setiap bangunan
gedung harus mampu mengatasi kemungkinan terjadinya kebakaran melalui
kesiapan dan keandalan sistem proteksi yang ada, serta kemampuan petugas
menangani pengendalian kebakaran, sebelum bantuan dari instansi pemadam
kebakaran datang. Menurut Kristiawan (1989), masalah pemeliharaan peralatan
proteksi kebakaran merupakan salah satu segi manajemen gedung (fire
protection management) karena manajemen yang salah mengakibatkan
pengelolaan dan pemeliharaan gedung menjadi buruk.
Adapun fungsi manajemen pencegahan kebakaran menurut laporan akhir
Puslitbang PU (2005) adalah:
a. Merencanakan dan mengorganisir kegiatan-kegiatan pengamanan terhadap
bahaya kebakaran dalam bangunan.
b. Melakukan review dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan pengamanan
terhadap kebakaran yang telah dilakukan.
c. Membina komunikasi dan hubungan baik dengan instansi terkait bahaya
kebakaran.
d. Meningkatkan kinerja sumber daya manusia, sarana dan proteksi
kebakaran, sistem dan metode yang diterapkan.

116
e. Membina kesadaran dan kesiagaan penghuni dan pemakai gedung secara
terus menerus terhadap bahaya kebakaran.
Berdasarkan Kepmen PU Nomor: 11/KPTS/2000, standar manajemen
pencegahan kebakaran pada bangunan dan lingkungan terdiri dari:
a. Penanggulangan kebakaran kota.
b. Penanggulangan kebakaran lingkungan.
c. Penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung termasuk ketentuan
mengenai satuan relawan kebakaran, serta pembinaan dan
pengendaliannya.
Pada tingkat yang paling bawah, penanggulangan kebakaran dimulai
pada bangunan gedung, sebagai unit terkecil dari lingkungan dan
perkembangan kota. Jika setiap unit bangunan mempunyai manajemen yang
baik pada pencegahan kebakaran, maka manajemen lingkungan juga dalam
kondisi siap, begitu juga manajemen perkotaanakan memberikan jaminan
keselamatan yang lebih baik kepada warganya.

A. MANUSIA
Manusia sebagai penyebab utama timbulnya kebakaran karena
keteledoran, kesengajaan, kurangnya pengetahuan, kelalaian, kesalahan
dalam perancangan, kurangnya pengawasan dan lain-lain. Maka dari itu,
pentingnya pengetahuan sejak dini tentang kebakaran mulai dari
pencegahan, evakuasi hingga penanganan pertama pada kecelakan. Ada
lima aspek yang harus dipertimbangkan di salam sistem manajemen ini,
yaitu tindakan preventif, prosedur, komunikasi, perawatan/pemeliharaan,
dan pelatihan. Kelima aspek-aspek tersebut masing-masing harus selalu
dievaluasi kelengkapan dan kegunaannya. Berikut ini penjelasan dari
kelima aspek tersebut.
1. TINDAKAN PENCEGAHAN
Aspek ini adalah yang paling langsung dan efektif dalam
mencegah datangnya kebakaran. Pencegahan dan pembatasan
perkembangan api harus dimulai dari saat bangunan masih dalam
bentuk gambar. Arsitek mempunyai tanggung gawab moral untuk
memasukkan perencanaan penanggulangan kebakaran ini pada konsep
bangunannya. Perlu juga dibuat instruksi manual sederhana untuk staf

117
yang kompeten serta untuk melatih penghuni beradaptasi bila hal yang
tidak diinginkan terjadi. Staf yang kompeten, misalnya satpam, atau
pegawai kebersihan, atau teknisi dll, perlu untuk diatur secara reguler
mengawasi bangunan.

2. PROSEDUR
Memformulasikan sistem prosedur adalah bertujuan untuk
mensikronisasikan operasional bangunan. Prosedur perbaikan dan
perawatan/perlengkapan khususnya peralatan darurat kebakaran harus
dikerjakan terdokumentasi dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh
oleh staf-staf yang berkompeten. Semua pihak yang terlibat dalam hal
ini (penghuni, terutama pegawai) haruslah mengetahui apa yang harus
dilakukan, siapa yang harus dihubungi, bagaimana melakukannya, dan
kapan itu perlu. Keuntuingan dari pelaksanaan yang sesuai prosedur,
adalah bisa menghindari keterlambatan penyelamatan bila keadaan
darurat.

3. KOMUNIKASI
Kebakaran tidak dapat diatur walaupun dengan sistem proteksi
yang paling baik, sehingga sangat penting untuk mendeteksi terjadinya
segera untuk keberhasilan penanggulangaannya. Sistem informasi yang
baik bisa berguna untuk memicu tindakan awal penyelamatan.
Komunikasi menjadi hal yang penting buat penghuni bangunan, baik itu
dari sistem alarm maupun penghuni lain, sehingga informasi harus
tersampaikan dan terdengar dengan jelas agar dapat memanfaatkan
waktu untuk penyelamatan yang perlu.

4. PEMELIHARAAN
Perbaikan dan pemeliharaan terhadap peralatan-peralatan darurat
seperti hidrant, bose reels, extinguisher, lampu darurat dll, adalah
sangat penting. Tipe, standar, dan frekuensi pemeliharaan harus
terdokumentasikan pada program manajemen ini dan staf yang
berkepentingan perlu mengetahuinya dan selalu menjalankannya
dengan benar.

118
5. PELATIHAN
Pelatihan pegawai yang berkepentingan terhadap penanggulangan
kebakaran ini tidak boleh luput dari perhatian. Mereka harus menerima
instruksi bagaimana menghidupkan alarm tanda bahaya bila mereka
menemukan kebakaran, serta mereka yang memberi peringatan
kebakaran kepada penghuni. Begitu pula terhadap penggunaan
peralatan pemadam api, yang harus mampu dipraktekkan. Beberapa
pelatihan yang dilaksanakan antara lain memberi pengetahuan tentang:
a. Pencegahan kebakaran secara umum.
b. Tindakan yang diambil pada waktu mendengarkan alarm dan
menemukan api.
c. Metode yang benar dalam memanggil pasukan pemadam.
d. Lokasi, kegunaan dan penggunaan peralatan pemadam.
e. Rute penyelamatan, titik pertemuan dan jalan keluar.
f. Prosedur evakuasi.

Sistem manajemen manusia pada kebarakan dalam bangunan bisa juga


dikatakan sebagai organisasi tim dalam bangunan tersebut. Organisasi yang
dimaksud adalah organisasi yang dibentuk oleh pengelola dan penghuni
bangunan dengan sebutan organisasi peran kebakaran/fire warden dan
merupakan bagian yang sangat penting di dalam rencana darurat pada
bangunan gedung. Tidak mungkin untuk menghubungi atau mengendalikan
ribuan orang yang bekerja di dalam gedung-gedung ini, terutama bila terjadi
keadaan darurat. Dapat dipastikan bahwa sebagian besar dari mereka tidak
pernah membaca peraturan ini apalagi mengingat-ingat apa yang harus
dilakukan saat keadaan darurat.
Fungsi utama anggota peran kebakaran gedung adalah melaksanakan
pemadaman tingkat awal sedini mungkin agar penjalaran kebakaran dapat
dikendalikan dengan baik sehingga bangunan dan isinya termasuk
penghuninya terhindar dari bencana yang lebih besar. Disamping fungsi
pemadaman tingkat awal, organisasi peran kebakaran bangunan
bertanggung jawab pula atas terlaksananya pengevakuasian penghuni dari
tempat bencana ke tempat aman yang telah ditentukan, apabila upaya
pemadaman kebakaran tingkat awal gagal dilaksanakan.

119
Oleh karena itu sangat penting bahwa tiap manajemen pegawai yang
berkepentingan terhadap pencegahan kebakaran harus mendapatkan
pelatihan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam usaha
pencegahan,penanggulangan dan evakuasi penghuni/pemakai gedung. Pada
saat terjadi kebakaran, mereka harus mampu memberikan instruksi
bagaimana menghidupkan alarm tanda bahaya, bila menemukan kebakaran,
serta memberi peringatan kebakaran kepada penghuni. Begitu pula terhadap
penggunaan peralatanpemadam api, yang harus mampu dipraktekkan.
1. SUSUNAN ORGANISASI KEADAAN DARURAT
Organisasi Keadaan darurat dan tanggung jawab personil
diterapkan dalam melaksanakan prosedur penanggulangan keadaan
darurat secara konsisten di bangunan gedung terdiri atas personil yang
memiliki peran-peran sebagai berikut :
1) Pengelola Gedung
a. Unsur pimpinan terdiri atas:
a) Penanggung-jawab keadaan darurat,
b) Koordinator keadaan darurat,
c) Kepala bagian keamanan,
d) Komandan regu dari masing-masing unit.
b. Unsur staf merupakan kelompok komunikasi:
a) Kurir/runner,
b) Telefonis,
c) Radio operator,
d) Petugas sound system/public address,
e) Petugas kontrol panel.
c. Kelompok teknisi:
a) Operator lif,
b) Operator AC,
c) Operator listrik/genset,
d) Operator pompa kebakaran,
e) Operator pengendalian asap/presurized fan.
d. Kelompok sekuriti dan penyelamatan:
a) Tim pemadam kebakaran,
b) Tim sekuriti,

120
c) Tim evakuasi,
d) Tim parkir,
e) Tim PPPK,
f) Tim pembersih/janitor.
e. Kelompok evaluasi: yang terdiri atas unsur manajemen
bangunan, manajemen penghuni, peran kebakaran, petugas
dinas kebakaran dan polisi, dikoordinasi oleh fire safety
officer.
2) Penghuni Gedung.
Terdiri atas unsur pelaksana yang berlokasi di tiap lantai
disebut floor warden/peran kebakaran lantai Floor warden/ peran
kebakaran lantai dengan anggota anggotanya terdiri atas:
a. Stair warden/petugas tangga darurat
b. Fire fighter/petugas pemadam kebakaran
c. Searcher/petugas pencari
d. Petugas pemandu orang difabled
e. Petugas PPPK lantai

2. URAIAN TUGAS
1) Unsur pimpinan berfungsi selaku emergency director dan
mempunyai tugas memantau atau mengawasi serta mengambil alih
tugas chief warden dan deputy chief warden apabila mereka tidak
dapat melakukan tugasnya dan memberikan pengarahan dalam
pelaksanaan kendali darurat.
2) Chief warden mempunyai tugas mengkoordinasi tindakan
mengatasi kondisi darurat yaitu:
a. Memimpin operasi pemadaman tingkat awal dan penyelamatan
jiwa,
b. Memastikan prosedur penanganan keadaan darurat ini dipatuhi
dan dilaksanakan oleh setiap personil termasuk penghuni
gedung,
a. Memberikan instruksi dan dalam setiap tindakan darurat,
b. Melakukan komunikasi efektif dengan instansi terkait seperti
Dinas Kebakaran, PLN, Polisi, Tim SAR dan lain-lain,

121
c. Melaporkan status keadaan darurat kepada unsur pimpinan.
3) Deputy chief warden mempunyai tugas membantu tugas-tugas
chief warden dalam melaksanakan penanggulangan keadaan
darurat.
4) Kelompok komunikasi bertugas menangani hal-hal yang berkaitan
dengan komunikasi keadaan darurat sesuai tanggung jawabnya
masing-masing yakni:
a. Kurir mempunyai tugas menyampaikan berita dari chief
warden atau deputy chief warden kepada floor wardenpada
saat ada gangguan pada sarana komunikasi selama operasi
penanggulangan tingkat awal.
b. Teleponis mempunyai tugas menerima dan mencatat laporan
keadaan darurat dan segera menghubungi chief warden atau
deputy chief warden untuk tugas penanggulangan kebakaran
tingkat awal.
c. Operator radio mempunyai tugas melaksanakan hubungan
komunikasi lewat handy talky dari dan ke chief warden atau
deputy chief warden.
d. Operator sound system mempunyai tugas menyampaikan
pengumuman atau perintah chief warden atau deputy chief
wardenke setiap lantai atau seluruh gedung melalui public
address.
5) Operator kontrol panel mempunyai tugas:
a. Memonitor terus menerus kontrol panel untuk mengetahui
secara dini kejadian kebakaran.
b. Jika monitor kontrol panel menyala dan alarm berbunyi, segera
menghubungi zone/lantai yang termonitor lewat public address
untuk pengecekan situasinya.
c. Jika tidak diperoleh informasi dari floor warden dilantai zone
yang termonitor itu, operator kontrol panel segera menuju ke
lantai/zone tersebut untuk memeriksa kejadian yang
sebenarnya dan segera melaporkannya kepada chief warden
atau deputy chief warden.

122
d. Dalam hal terjadi alarem palsu/false alarm, segera
menghubungi floor warden dilantai tersebut agar
memberitahukan kepada seluruh penghuni di lantai tersebut.
e. Membunyikan general alarm atau alarem per lantai atas
perintah chief warden atau deputy chief warden.
6) Kelompok teknisi
a. Operator lif Semua lif penumpang/passenger lift tidak
beroperasi dan kereta lif berada pada lantai1, main lobby. Lif
barang/service lift akan dioperasikan sebagai lif kebakaran
untuk keperluan petugas sekuriti dan petugas dinas kebakaran
untuk pemadaman kebakaran dan menolong korban.
b. Operator AC Sistim AC tidak beroperasi atau pada posisi off
c. Operator listrik/genset Siaga untuk mengoperasikan on atau off
listrik pada lantai tertentu atau seluruh gedung sesuai instruksi
chief warden. Siaga untuk mengoperasikan genset secara
manual bila sistim otomatis tidak bekerja pada saat pasokan
listrik PLN terputus.
d. Operator pompa kebakaran Siaga untuk mengoperasikan
pompa air secara manual bila sistim otomatis tidak bekerja
sehingga dapat menyediakan air untuk kebutuhan pemadaman
kebakaran.
e. Operator pengendalian asap Siaga untuk mengoperasikan
pressurise fan/kipas udara tekanan positif secara pada ruang
tangga darurat bila sistim otomatis tidak bekerja pada saat
general alarm berbunyi.
7) Kelompok sekuriti dan penyelamat
l. Tim Pemadaman Kebakaran
a) Memadamkan api pada kesempatan pertama dengan alat
yang tersedia secara cepat dan tepat (fire
extinguisher/apar, hose reel, hydrant).
b) Melokalisasi area yang terbakar dengan menyemprotkan
air hosereel/hydrantpada barang yang mudah terbakar
sampai Dinas Kebakaran datang.

123
c) Membantu di lantai lain yang terbakar bila memerlukan
tenaga dan bekerja sama dengan kelompok lain yang
memerlukan bantuan.
d) Menggunakan tangga darurat atau lif kebakaran selama lif
tersebut aman.
m. Tim Sekuriti
a) Menangani urusan keamanan dalam bangunan maupun
lingkungannya saat penanggulangan darurat berlangsung.
b) Melaksanakan pengawasan area dan mencegah orang yang
dicurigai menggunakan kesempatan melakukan kejahatan.
c) Menangkap orang yang jelas-jelas telah melakukan
kejahatan dan membawanya ke POSKO sekuriti.
d) Bersama tim evakuasi memeriksa ruangan dan
memastikan benar-benar bahwa semua personil telah
keluar dengan aman dan mengunci pintu. Tim ini adalah
tim yang terakhir meninggalkan lantai.
e) Satu orang sekuriti bertugas menjaga dan mengoperasikan
lift kebakaran yang dipergunakan untuk kelompok
pemadam kebakaran serta membantu mengevakuasikan
orang sakit, cedera, meninggal dsb.
n. Tim Evakuasi
a) Mengatur dan menunjukkan rute untuk evakuasi, dari
ruang-ruang disetiap lantai ke daerah tempat berkumpul /
konsolidasi.
b) Memberi peringatan-peringatan terhadap orang yang
membawa barang besar/berat, orang lari yang akan
menggunakan lif agar tidak menimbulkan bencana lebih
buruk.
c) Memeriksa ruangan kantor bila kemungkinan ada personil
yang masih tertinggal.
d) Bila ternyata ada yang masih tertinggal didalam ruangan,
segera lapor ke floor warden selanjutnya laporkan kepada
chief warden.

124
e) Menghitung berapa jumlah korban (sakit, pingsan,
meninggal) dan berusaha mengevakuasikan korban
melalui lift kebakaran, tangga darurat atau mobil tangga
Dinas Kebakaran.
o. Tim Parkir
a) Mengatur perparkiran saat penanggulangan keadaan
darurat termasuk pengaturan jalur dan rambu-rambu.
b) Mengatur arus mobil masuk dan keluar termasuk mobil
unit Dinas Kebakaran.
c) Bekerjasama dengan tim sekuriti dan Kepolisian dalam
masalah parkir.
p. Tim PPPK
a) Memberikan pertolongan kepada korban (sakit,
cedera,meninggal) di luar gedung setelah dievakuasikan
oleh petugas evakuasi.
b) Berusaha memanggil ambulan dan mengatur
penggunaannya.
c) Mengatur pengiriman orang sakit, cedera ke rumah sakit
terdekat dengan menggunakan ambulan.
q. Tim Pembersih/Janitor
a) Membersihkan area dari genangan air akibat pecahnya
kepala sprinkler, tumpahan cairan, bekas-bekas
pemadaman dan lain-lain.
b) Membantu dalam upaya pencarian lokasi bom, dalam hal
adanya ancaman bom, dan searcherdalam pencarian orang,
barang dan sebagainya.
8) Uraian tugas petugas peran kebakaran penghuni gedung secara
khusus adalah sebagai berikut:
a. Floor warden mempunyai tugas:
a) Memimpin operasi pemadaman tingkat awal dan tugas
penyelamatan jiwa di lantai yang menjadi tanggung
jawabnya.
b) Menerima perintah dan melaporkan jalannya operasi
kepada chief warden/deputy chief warden.

125
b. Stair warden bertugas melaksanakan pengevakuasian penghuni
lewat tangga darurat setelah mendapat perintah dari floor
warden.
c. Petugas pemadam bertugas memadamkan kebakaran tingkat
awal dengan menggunakan APAR/fire extinguisher atau
hosereel.
d. Petugas pencari (searcher) bertugas memeriksa secara cermat
disemua ruangan di lantai tersebut untuk memastikan apakah
penghuni lantai sudah berevakusi semua dan tidak ada yang
tertinggal serta berkewajiban untuk melapor kepada floor
warden.
e. Petugas pemandu orang difabledmembantu dan memandu
menempatkan orang-orang difabled ke tempat aman yang
terdekat dan mengevakuasikannya bilamana instruksi evakuasi
penghuni gedung segera dilaksanakan. Biasanya dua pemandu
untuk setiap disabled person.
f. Petugas PPPK lantai memberikan pertolongan pertama
terhadap korban di lantai yang menjadi tanggung-jawabnya,
dan melaporkan kepada Tim PPPK gedung.
g. Petugas evaluasi bertugas menghitung jumlah karyawan yang
berevakuasi dari lantai yang menjadi tanggung jawabnya dan
mengecek ulang di tempat berkumpul di luar gedung.
9) Uraian tugas petugas peran kebakaran secara umum adalah sebagai
berikut:
a. Memahami sepenuhnya tata letak bangunan, baik mengenai
daerah perkantoran yang menjadi tanggung jawabnya maupun
mengenai bangunan gedung secara keseluruhannya, terutama
mengenai jalan-jalan keluar untuk menyelamatkan diri.
b. Memahami sepenuhnya tentang alat-alat proteksi kebakaran
yang terdapat di dalam gedung, sistim pemadaman dan alarm,
mengetahui dimana lokasi masing-masing, bagaimana cara
bekerjanya, bagaimana memanfaatkannya dan
menggunakannya (apabila tersedia).

126
c. Memahami sepenuhnya bagaimana cara pencegahan dan
penanggulangan kebakaran untuk menjaga keamanan secara
baik di daerah yang menjadi tanggung jawabnya.
d. Memahami sepenuhnya tentang prosedur yang harus diikuti
pada waktu terjadi keadaan darurat dan bila terjadi haruslah
diperoleh kepastian bahwa prosedur tersebut akan
dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh mereka yang diserahi
tanggung jawab.
e. Memelihara daftar yang terakhir tentang personil dibawah
tanggung jawabnya dan berusaha mendidik mereka mengenai
peralatan yang ada di gedung, melakukan upaya pencegahan
bencana dan menerapkan prosedur evakuasi. Pada waktu
dilaksanakan evakuasi, harus meneliti apakah semua personil
dibawah tanggung jawabnya telah meninggalkan tempatnya
dan apakah semua tindakan yang perlu telah dilaksanakan
sebelum fire wardensendiri meninggalkan dan mengunci
tempatnya.
f. Bersama chief warden menentukan daerah berkumpul di
tempat parkir bagi penghuni lantai apabila terjadi keadaan
darurat dan meneliti anggotanya sebelum mereka kembali ke
kantornya.
g. Menyediakan kotak PPPK dan mampu memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan.

127
B. ALAT
Untuk menunjang bekerjanya alat, diperlukan suatu sistem koordinasi
melalui suatu panel kontrol atau tidak melalui suatu panel kontrol, seperti
hydrant. Untuk mengetahui kelayakan sarana penanggualangan kebakaran
yang ada, baik peralatan pendeteksi, pemadam, evakuasi dan sarana
penunjang kebakaran lainnya, maka perlu diadakan pemeriksaan secara
berkala.
Kegiatan pemeriksaan dan pemeliharaan ini merupakan unsur penting
guna menjamin segi keandalan peralatan proteksi bila terjadi kebakaran.
Pemeriksaan yang disertai pengetesan, pemeliharaan dan pemeriksaan
terhadap sistem deteksi dan alarm kebakaran, sistem sprinkler otomatis,
sistem hydrant, sistem pemadaman api, dan lain lain.
1. PEMERIKSAAN SISTEM ALAT PEMADAM KEBAKARAN
Pada tahapan ini ada 2 macam pemeriksaan yang perlu dilakukan yaitu:
a. Pemeriksaan Sebagian-Aebagian
Pemeriksaan ini perlu dilakukan sebelum sesuatu bagian dari
sistem pemadam kebakaran ditanam dalam tanah atau sebelum
diletakan diantara plafond dengan plat lantai. Kesemua ini harus
dilakukan disaat proses pembangunan agar pemeriksaan dapat
dilakukan lebih baik.
b. Pemeriksaan Keseluruhan
Pemeriksaan ini dilaksanakan apabila seluruh sistem telah
terpasang dan gedung telah mencapai penyelesaian sebesar 75 %
dari rencana keseluruhan.

Gambar 2.71 Pemerikasaan Alat


Sumber: http://patigeni.com/alat-pemadam-api/

128
2. PENGUJIAN SITEM ALAT PEMADAM KEBAKARAN
Pengujian umumnya dilakukan atas masing-masing jenis alat dan fungsi
dari seluruh sistem setelah selesai pemasangan.
a. Pengujian Tekanan
Pada pengujian tekanan ini perlu diketahui apakah pengujian
sampai kesemua bagian dari sistem instalasi pipa pemadam
kebakaran tersebut. Cara pelaksanaannya yaitu dengan
menjalankan pompa penguji untuk menghantarkan tekanan air
kesemua pipa cabang dan membuka semua katup untuk sementara
agar dapat diketahui apakah tekanan air yang masuk pada tiap-tiap
pipa cabang sesuai dengan yang diinginkan dan selama pengujian
berlangsung tidak boleh terjadi perubahan/penurunan tekanan.
b. Pengujian Tangki
Setelah selesai dibangun atau dipasang, tangki harus
dibersihkan secara baik dan kemudian diisi dengan air untuk
memeriksa adanya kebocoran, dan pada pengujian ini tangki harus
tidak menunjukan gejala-gejala adanya kebocoran sekurang-
kurangnya selama 24 jam.
c. Pengujian Pipa dan Aliran
Pada pengujian ini aliran harus benar-benar lancar sehingga
debit aliran masuk mendekati/sama dengan debit aliran keluar. Jika
hal tersebut tidak terpenuhi maka sistem instalasi harus diperiksa
ulang untuk menjamin bahwa sistem yang dipasang dapat berfungsi
dengan baik.
d. Pengujian Sistem Automatisasi Sprinkler
Pengujian ini dapat dilakukan hanya pada bagian dari
beberapa sprinkler, yaitu dengan cara memanaskan sprinkler head,
pada temperatur tertentu tabung kaca sprinkler head akan pecah
dan katup akan terbuka sehingga air akan terpancar keluar melalui
lubang-lubang sprinkler head.
e. Pengujian Katup
Pengujian katup secara khusus dilaksanakan, walaupun
pengujian pada katup sudah tercakup pada pengujian aliran pada
pipa.

129
C. EDUKASI
Manusia yang ada di dalam gedung wajib mendapatkan edukasi
mengenai api, kebakaran, dan bagaimana cara evakuasi baik secara lisan
maupun tulisan. Ini dimaksudkan agar siapapun yang berada di lokasi
kebakaran agar mampu melakukan pertolongan pertama pada diri sendiri
melalui jalur-jalur yang telah dijelaskan pada edukasi kebakaran. Setiap
manusia harus mengetahui pencegahan, penanggulangan, hingga evakuasi
saat terjadi kebakaran di dalam gedung.
1. PENCEGAHAN KEBAKARAN DI DALAM GEDUNG
Ini dilakukan saat tidak terjadi kebakaran di dalam gedung.
Berikut adalah hal-hal yang dilakukan untuk pencegahan kebakaran di
dalam gedung:

Gambar 2.72 Edukasi Pencegahan Kebakaran


Sumber: http://www.beritasatu.com/megapolitan/317745-gunnebo-
gelar-edukasi-pencegahan-dan-penanganan-kebakaran.html

a. Bagi Pegawai
1) Mematuhi aturan pencegahan dan penanggulangan bahaya
kebakaran.
2) Memberitahukan kepada petugas yang berwnang apabila
menemukan indikasi sumber kebakaran.
3) Tidak melakukan tindakan yang menimbulkan kebakaran
antara lain:

130
a) Tidak membuang punting asap rokok yang masih menyala
secara sembarangan.
b) Menggunakan stop kontak sesuai dengan kapasitas.
c) Selalu mematikan peralatan elektronik bila tidak
digunakan.
d) Menjaga agar selurah alat pemadam kebakaran yang
tersedia tidak terhalang barang apapun.
e) Menjaga agar jalur menuju pintu darurat tidak terhalang
benda lain.
f) Membebaskan ruang tangga dari benda apapun.
b. Bagi Pengunjung atau Tamu
1) Mematuhi peraturan pencegahan dan penanggulan bahaya
kebakaran.
2) Mencegah dan tidak melakukan tindakan yang menimbulkan
kebakaran.
3) Melaporkan kepada pegawai terdekat apabila menemukan
indikasi yang menimbulkan kebakaran.

2. PENANGGULANGAN KEBAKARAN
Hal yang harus dilakukan pada saat terjadi kebakaran adalah:
a. Memadamkan sumber api awal (api kecil)
b. Memadamkan api kecil dengan menggunakan alat pemadam
kebaran yang tersedia.
c. Semaksimal mungkin melokalisir areal kebakaran
d. Melakukan tindakan penyelematan terhadap manusia, dokumen
penting dan barang pentung milik Negara.

3. EVAKUASI SAAT TERJADI KEBAKARAN


Edukasi tentang bagaimana evakuasi pada saat kebakaran harus
sejak dari dini diberikan. Berikut merupakan prosedur evakuasi saat
terjadi kebakaran di dalam gedung:
a. Segera tinggalkan gedung sesuai dengan petunjuk team evakuasi
tanggap darurat atau ikuti arah jalur evakuasi/arah tanda keluar,
jangan kembali untuk alasan apapun.

131
b. Turun atau berlarilah ikuti arah tanda keluar, jangan panik, saling
membantu untuk memastikan evakuasi selamat.
c. Wanita tidak boleh menggunakan sepatu hak tinggi dan stoking
pada saat evakuasi.
d. Beri bantuan terhadap orang yang cacat atau wanita sedang hamil.
e. Berkumpul di daerah aman (muster point) yang telah ditentukan,
tetap berkumpul sambil menunggu instruksi selanjutnya, pengawas
team tanggap darurat dibantu atasan masing-masing mendata
jumlah karyawan, termasuk yang hilang dan terluka lalu
melaporkan kepada koordinator.
Koordinator akan mengumumkan keadaan aman berdasarkan
hasil koordinasi dengan team tanggap darurat setelah segala sesuatunya
dianggap aman. Selain itu, perhatikan langkah-langkah prosedur
evakuasi keadaan darurat kebakaran seperti berikut ini:
a. Tetap tenang dan jangan panik.
b. Segera menuju tangga darurat yang terdekat dengan berjalan biasa
dengan cepat namun tidak berlari.
c. Lepaskan sepatu hak tinggi karena dapat menyulitkan langkah kaki.
d. Jangan membawa barang yang lebih besar dari tas kantor/tas
tangan.
e. Beritahu orang lain/tamu yang masih berada didalam ruangan lain
untuk segera melakukan evakuasi.
f. Bila pandangan tertutup asap, berjalanlah dengan merayap pada
tembok atau pegangan pada tangga, atur pernafasan pendek-
pendek.
g. Jangan berbalik arah karena akan bertabrakan dengan orang-orang
dibelakang anda dan menghambat evakuasi.
h. Segeralah menuju titik kumpul yang ada di tempat tersebut untuk
menunggu instruksi berikutnya.

132
4. EDUKASI MELALUI POSTER
Sistem manajemen edukasi juga dapat dilakukan melaui poster-
poster seperti berikut ini.
a. Tanda dilarang merokok
Tanda ini biasanya tertempel di beberapa titik pada gedung
atau bangunan. Puntungan rokok yang masih menyala dapat
menimbulkan kebakaran. Puntungan rokok yang masih menyala
dapat membakar sampah-sampah dari sampah kering yang ada
pada tempat sampah yang dapat menyebabkan kebakaran.
Sistem penanggulangan terkini sudah dapat mendeteksi api
yang masih kecil, namun tetap saja kita tidak boleh menganggap
remeh. Maka dari itu, perlunya tanda dilarang merokok untuk
mengurangi resiko terjadinya kebakaran.

b. Tanda Tidak Boleh Menyalakan Api


Tanda ini terdapat pada titik-titik tertentu pada gedung. Pada
titik tertentu pada suatu gedung atau bangunan terdapat bahan yang
mudah terbakar bahkan hanya karena api yang sangat kecil. Maka
dari itu, sangat perlu untuk diperhatikan adanya tanda dilarang
menyalakan api ini.

Gambar 2.73 Poster Dilarang Merokok dan Menyalakan Api


Sumber: http://cdn2.tstatic.net/

Jadi edukasi tentang pencegehan, penanggulangan, evakuasi dan


poster sangat penting saat terjadi kebakaran sangatlah penting untuk
diketahui sejak dini. Agar dapat meminimalisir kemungkinan-kemungkinan
buruk yang bisa terjadi.

133
D. KOMBINASI
Sistem manajemen kombinasi merupakan gabungan antara sistem
manajemen manusia, sistem manajemen alat pemadam kebakaran, dan
sistem manajemen edukasi yang diharapkan dapat mencegah dan
meminimalisir terjadinya kebakaran di dalam gedung. Sistem manajemen
manusia menjelaskan peran manusia ketika terjadi kebakaran pada gedung.
Sistem manajemen alat pemadam kebakaran menjelaskan bagaimana alat
diletakan pada titik-titik tertentu sehingga mudah ditemukan dan sistem
manajemen edukasi menjelaskan pengetahuan tentang bagaimana cara
mencegah, menanggulangi, dan evakuasi pada saat terjadi kebakaran.
Pada sistem manajemen kombinasi ini, sistem manajemen manusia,
sistem manajemen alat, dan sistem manajemen edukasi digabungkan. Pada
sistem ini melibatkan peran manusia dan alat pemadam kebakaran. Manusia
terlebih dahulu diberikan edukasi tentang pencegahan, penanggulangan, dan
evakuasi saat terjadi kebakaran di dalam gedung. Manusia kemudian
menggunakan alat pemadam kebakaran yang ada untuk memadamkan
kebakaran.

134
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya kebakaran
merupakan suatu sistem atau pola pengelolaan unsur-unsur manusia, peralatan, data
teknis, dan kelengkapan proteksi kebakaran serta dukungan pembiayaan yang
kesemuanya dilakukan secara komprehensif. Sistem perlindungan dan pengamanan
bangunan terhadap bahaya kebakaran juga merupakan suatu konsep yang
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengawasi serta mengendalikan
aspek keselamatan dari kebakaran pada bangunan. Didalamnya tertuang tujuan dan
sasaran konkret keselamatan dari bahaya kebakaran yang meliputi keselamatan jiwa
penghuni yang ada didalamnya, perlindungan harta benda, kelangsungan usaha dan
keselamatan lingkungan. Adapun ruang lingkup sistem perlindungan dan pengamanan
bangunan terhadap bahaya kebakaran ini meliputi sistem pencegahan, sistem
pemadaman (fire fighting), sistem evakuasi, dan sistem manajemen.
Untuk menghindari terjadinya kebakaran pada suatu bangunan maka diperlukan
suatu cara/sistem pencegahan kebakaran. Sistem pencegah kebakaran atau
perlindungan kebakaran adalah salah satu sistem yang harus dipasang atau
diaplikasikan pada sebuah bangunan. Setiap pemasangan sistem pencegah kebakaran
atau perlindungan kebakaran patut mengikut akta dan standard yang bersesuaian
dengan bangunan tersebut. Sistem pencegahan kebakaran terdiri dari 4 sistem yaitu
sistem interpolarisasi, sistem deteksi, pemilihan struktur dan material, serta
kompartemensasi.
Fire fighting system atau biasa di kenal dengan sistem pemadam kebakaran
adalah suatu sistem yang di sediakan dalam suatu bangunan untuk menanggulangi
bahaya kebakaran. Sistem pamadam kebakaran pada gedung bertingkat tinggi adalah
wajib hukumnya untuk di sediakan. Mengingat dalam suatu gedung bertingkat akan
timbul keterbatasan tindakan yang dapat di lakukan penghuni untuk menyelamatkan
diri saat terjadi kebakaran. Selain itu proses penyelamatan para penghuni pun juga akan
sulit di lakukan oleh dinas pemadam kebakaran di sebabkan tingginya lokasi. Sistem
pemadaman ini terdiri dari beberapa sistem yaitu sistem hydrant, sistem sprinkler,
deluge system, dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
Sistem evakuasi merupakan sistem yang menyangkut proses penyelamatan
korban pada suatu keadaan yang dianggap berbahaya atau darurat ke area yang lebih

135
aman. Sistem evakuasi yang dilakukan untuk para korban pada lokasi kebakaran dapat
dilakukan melalui beberapa cara yaitu berupa penyediaan lonceng alarm, pintu darurat,
tangga darurat, lift darurat, balkon, serta hal lainnya yang berfungsi untuk
mengamankan korban maupun barang-barang yang berharga dan mencegah minimnya
kematian dan kerugian jika keadaan memungkinkan.
Ruang lingkup lainnya dari sistem perlindungan dan pengamanan bangunan
terhadap bahaya kebakaran yaitu sistem manajemen. Manajemen pencegahan
kebakaran adalah usaha untuk memelihara peralatan/perlengkapan pencegahan
kebakaran, sehingga dapat digunakan secara optimal pada saat diperlukan. Manajemen
pencegahan kebakaran merupakan bagian dari strategi untuk memastikan keselamatan
secara preventif, membatasi perkembangan api, dan menjamin keselamatan penghuni.
Tujuan manajemen pencegahan kebakaran adalah setiap bangunan gedung harus
mampu mengatasi kemungkinan terjadinya kebakaran melalui kesiapan dan keandalan
sistem proteksi yang ada, serta kemampuan petugas menangani pengendalian
kebakaran, sebelum bantuan dari instansi pemadam kebakaran datang.

3.2 SARAN
Salah satu bagian dari utilitas bangunan yang tidak bisa dipisahkan dalm proses
perancangan maupun operasionalnya adalah sistem perlindungan dan pengamanan
bangunan terhadap bahaya kebakaran. Sebagai seorang arsitek seharusnya mengetauhi
dan memahami bagaimana sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang
baik dalam suatu bangunan gedung. Hal ini disebabkan karena sistem tersebut akan
berpengaruh terhadap kualitas serta efektifitas bangunan. Oleh karena itu sistem
pencahayaan sistem perlindungan dan pengamanan bangunan terhadap bahaya
kebakaran harus diperhatikan dalam proses perancangan suatu bangunan.

136
DAFTAR PUSTAKA

A. Muntoha, W. 2016. Instalasi Fire Alarm Adressable. http://patigeni.com/instalasi-fire-


alarm-addressable/. 12 Februari 2017 (18.08).
Ajibata, T. 2011. Sistem Pemadam Kebakaran Pada Gedung.
https://multiworkshop.wordpress.com/2011/12/12/sistem-pemadam-kebakaran-pada-
gedung/. 10 Februari 2017 ( 14.00).
Amin. 2016. Jenis-jenis APAR (Alat Pemadam Api Ringan). http://pelatihanguru.net. 9
Februari 2017 (23:01).
Anggraito, M. 2016. Evaluasi Sistem Keselamatan Kebakaran Bangunan Menggunakan
Computerized Fire Safety Evaluasi System (CFSES) pada Gedung Program
Anonim. 2013. Sistem Pemadan Kebakaran Pada Sebuah. Diakses pada
projectmedia.blogspot.co.id. 10 Februari 2017 (21:29).
Anonim. 2014. Prinsip Kerja Fire Alarm Smoke Detector.
http://www.bromindo.com/prinsip-kerja-fire-alarm-smoke-detector/. 12 Februari
2017 (08.10).
Assagaf. 2011. Pengetahuan Kebakaran.
https://shefocus.files.wordpress.com/2011/02/smoke2bdect2b25262balarm.jpg. 9
Februari 2017 (21:35).
Assegaf, S. 2015. Simbol Evakuasi Bencana.
https://sadiantoassegaf12.blogspot.co.id/2015/10/simbol-evakuasi-bencana.html. 9
Februari 2017 (22.19).
Atmadilaga, A. 2014. Mengenal Jenis Tipe dan Fungsi Serta Kegunaan Masing-Masing
Tipe APAR (Alat Pemadam Api Ringan). http://kampuzsipil.blogspot.co.id. 9
Februari 2017 (23:56).
Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2000. Tata cara perencanaan, pemasangan dan
pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran
pada bangunan gedung. SNI 03-3985-2000. BSN. Jakarta.
Bappeda Jateng. 2016 Prosedur Dini dan Evakuasi Keadaan Kebakaran Gedung.
http://bappeda.jatengprov.go.id/2016/prosedur-dini-dan-evakuasi-keadaan-darurat-
kebakaran-gedung/. 12 Februri 2017 (19:15).
Bekasi Media. 2016. Damkar Sosialisasikan Pencegahan Kebakaran Gedung Pencakar
Langit. http://www.bekasimedia.com/damkar-sosialisasikan-pencegahan-kebakaran-
gedung-pencakar-langit-hingga-masyarakat/. 12 Februari 2017 (19:16).

137
Bromindo. 2016. Jenis Fitur Instalasi Fire Alarm Konvensional.
http://www.bromindo.com/jenis-fitur-instalasi-fire-alarm-konvensional/. 10 Februari
2017 (23:20).
Christian, F. 2015. Kode Warna Alat Pemadam Api Ringan (APAR). http://www.ruang-
zserver.com. 10 Februari 2017 (11:07).
Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. 2015. Profil
Perundangan dan Peraturan Terkait Bidang Proteksi Kebakaran.
http://www.jakartafire.net/profile/detail/35/perundangan-dan-peraturan-terkait-
bidang-proteksi-kebakaran. 11 Februari 2017 (13.35).
Fitrian, L. 2015. Hotel Dengan Suasana Rumah di Grand Zuri BSD - Jakarta Corners.
http://www.lidyafitrian.com/2015/11/hotel-dengan-suasana-rumah-di-grand.html. 10
Februari 2017 (14.35).
Garasi.in. 2010. Sistem manajemen penanggulangakan kebakaran SOP di Pt.Kimia Farma
Plant Jakarta. http://garasi.in/sistem-manajemen-penanggulangan-kebakaran-sop-
studi-kasus-di-pt-kimia-farma-plant-jakarta.html. 10 Februari 2017 (13.00).
Gunawan, T. 2011. Sistem Pemeriksaan Keandalan Bangunan dalam Pencegahan Bahaya
Kebakaran (Studi Kasus Bangunan Pusat Perbelanjaan Solo Square). Tesis. Magister
Teknik Sipil Konsentrasi Teknik Rehabilitasi dan Pemeliharaan Bangunan Sipil
Univeristas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta.
Hebbie Ilma, A. 2013. Rambu K3 : Kumpulan Rambu Sarana Evakuasi Darurat Kebakaran
(Safety Sign).
https://sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.co.id/2013/10/rambu-sarana-
evakuasi-darurat-kebakaran.html. 10 Februari 2017 (23:20).
Heryes Grace, N. Tanpa Tahun. Lift dan Eskalator.
http://gracethelovers.blogspot.co.id/2011/05/lift-adalah-angkutan-transportasi.html.
13 Februari 2017 (00:30).
Ibnur, S. 2015. Perhitungan Utilitas Bangunan.
http://shamalebra.blogspot.co.id/2012/07/perhitungan-utilitas-bangunan.html. 13
Februari 2017 (00:24).
Kartu Pos. 2015. Pemandangan Kolam Tepi Gedung. kartupos.co.id. 9 Februari 2017
(22.42).
Kresnayana, G. 2016. Utilitas Sistem Perlindungan dan Pengamanan Bangunan.
https://www.scribd.com/document/322963714/UTILITAS-SISTEM-Perlindungan-
Dan-Pengamanan-Bangunan. 9 Februari 2017 (23:54).

138
Mantara, A. 2012. Sistem Pemedaman Kebakaran Fire Fighting.
http://aloekmantara.blogspot.co.id/2012/09/sistem-pemadam-kebakaran-fire-
fighting.html. 9 Februari 2017 (21:29).
Martony, O. 2012. Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
http://oslidamartony.blogspot.co.id. 9 Februari 2017 (23.30).
Moloto, D. 2016. Sistem Pemadam Gedung Bertingkat Fire Fighting.
http://dionmloto.blogspot.co.id/2016/02/sistem-pemadam-kebakaran-gedung-
bertingkat-fire-fighting-system.html. 9 Februari 2017 (21:29).
Nanda, B. 2015. Pintu Keluar atau Pintu Kebakaran.
http://bestananda.blogspot.co.id/2015/02/pintu-keluarpintu-kebakaran.html. 12
Februari 2017 (00:09).
Nanda, B. 2015. Tangga Darurat atau Tangga Kebakaran.
http://bestananda.blogspot.co.id/2015/02/tangga-darurattangga-kebakaran.html. 12
Februari 2017 (00:14).
Permana, N. 2015. Flame Detector Bekerja Mendeteksi Infra-red.
http://patigeni.com/flame-detektor-bekerja-mendeteksi-infra-red/. 12 Februari 2017
(08.10).
Saputra, A. 2015. Tugas Sains Bangunan dan Utilitas 2.
https://www.academia.edu/8111122/TUGAS_SAINS_BANGUNAN_DAN_UTILITAS
_2. 9 Februari 2017 (00.08).
Seo, J. 2014. Kelebihan Dan Kekurangan Alat Pemadam Kebakaran Dari Bahan Utama
Air. http://alatpemadamkebakaran-cikarang.blogspot.co.id. 10 Februari 2017
(14:00).
Sobirin, R. 2015. Perlindungan dari Kebakaran dan Pemeliharaan Keamanan.
http://dokumen.tips/documents/makalah-perlindungan-dari-kebakaran-dan-resiko-
kebakaran.html. 9 Februari 2017 (23:57).
Sohry, A. 2017. Jenis-Jenis Sistem Fire Alarm. http://tikus-
installasi.blogspot.co.id/2016/03/jenis-jenis-system-fire-alarm.html. 10 Februari
2017 (23:11).
Sumardjito. Tanpa Tahun. Mata Kuliah Utilitas.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Modul%20Ajar%20MK%20utilitas%20FT%2
0UNY.pdf. 12 Februari 2017 (00:21).

139
Sunarno. 2010. Kajian terhadap Sarana Emergency Exit pada Plasa Ambarukmo
Yogyakarta. Proyek Akhir. Program Studi Teknik Sipil Universitas Negeri
Yogyakarta. Yogyakarta.
Tanggoro, D. 1999. Utilitas Bangunan. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.
The Airport Post. 2011. Sign Assembly Point. http://airportpost.blogspot.co.id/. 9 Februari
2017 (23.05).
Vikryana, V. 2015. Automatic Sprinkler System. http://pinapinapi.blogspot.co.id. 10
Februari 2017 (18:14).
Vokasi Universitas Indonesia Tahun 2014. http://www.lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-
05/S55261-Muhamad%20Anggraito. 9 Februari 2017 (21.37).
Wae, K. 2013. Jenis-Jenis Detector pemadam Kebakaran.
http://projectmedias.blogspot.co.id. 12 Februari 2017 (08.10).
Wahyudono, U. 2016. Konsep Terpadu Dalam Upaya Meningkatkan Keamanan Dan
Keselamatan Bangunan Gedung Dari Ancaman Risiko Kebakaran Dan Bahaya Lain.
http://mp2ki.org/index.php/2016/04/13/manajemen-penanggulangan-kebakaran/. 9
Februari 2017 (23:43).
Wanah, A. 2013. Kompartemenisasi Ruangan .
https://irawanah.wordpress.com/tag/kompartemenisasi/. 9 Februari 2017 (22.35).
Wancik. 2008. Badan Litbang PU Departement Pekerjaan Umum Jakarta. Rencana
Tindak Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung.
https://wancik.files.wordpress.com/2008/11/pd-t-12-2005-c-rencana-tindak-darurat-
kebakaran.pdf. 10 Februari 2017 (13.00).
Wikipedia. 2017 Alarm Kebakaran.
https://shefocus.files.wordpress.com/2011/02/smoke2bdect2b25262balarm.jpg. 9
Februari 2017 (21:29).

140