Anda di halaman 1dari 12

LAMPIRAN : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH

SAKITAR BUNDA PRABUMULIH


NO : 037 / RS-Bunda / PBM / I / 2017
TANGGAL : 03 Januari 2017
TENTANG : Panduan Asuhan Gizi Rawat Inap
RS AR Bunda Prabumulih

BAB I
DEFINISI

Asuhan Gizi adalah serangkaian kegiatan yang terorganisir/terstruktur yang memungkinkan untuk
identifikasi kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Terapi gizi
meliputi beberapa langkah, yaitu asesmen, diagnosis, intervensi dan monitoring. Adapun yang dimaksud
asesmen gizi adalah kegiatan mengumpulkan semua data yang berkaitan dengan pengambilan keputusan
antara lain riwayat gizi, riwayat personal, hasil laboratorium, antropometri, hasil pemeriksaan fisik klinis,
diet order dan perkiraan kebutuhan zat gizi.

Pelayanan asuhan gizi di RS AR Bunda Prabumulih dilaksanakan secara terkoordinasi antara


Dokter Penanggungjawab Pelayanan bersama nutrisionis/dietisien dan perawat. Upaya peningkatan status
gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam maupun di luar rumah sakit, merupakan tugas dan
tanggungjawab tenaga kesehatan, terutama tenaga gizi.
BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup asesmen/pengkajian gizi di RS AR Bunda Prabumulih meliputi :

1. Pelayanan Gizi Rawat Jalan


Pelayanan gizi rawat jalan adalah serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang
berkesinambungan dimulai dari asesmen/pengkajian, pemberian diagnosis, intervensi gizi dan
monitoring evaluasi kepada pasien/klien di rawat jalan. Asuhan gizi di rawat jalan pada umumnya
disebut kegiatan konseling gizi dan dietetik atau edukasi/penyuluhan gizi. Dokter
penanggungjawab penyakit dapat merujuk pasien kepada nutrisionis/dietisien untuk mendapatkan
konseling gizi, dengan menyertakan formulir permintaan konseling.

Pelayanan gizi rawat jalan meliputi kegiatan konseling individual seperti : pelayanan konseling
gizi dan dietetik di unit rawat jalan terpadu, dan penyuluhan berkelompok seperti pemberian
edukasi di kelompok pasien diabetes, ibu hamil dan menyusui serta pasien jantung koroner.

2. Pelayanan Gizi Rawat Inap


Pelayanan gizi rawat inap merupakan pelayanan gizi yang dimulai dari proses pengkajian gizi,
diagnosis gizi, intervensi gizi meliputi perencanaan, penyediaan makanan, penyuluhan/edukasi,
dan konseling gizi serta monitoring dan evaluasi gizi.

Mekanisme pelayanan gizi rawat inap terdiri dari :


2.1 Skrining Gizi
Tahapan pelayanan gizi rawat inap diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh perawat
ruangan dan penetapan order diet awal (preskripsi diet awal) oleh dokter. Bila hasil skrining
menunjukkan pasien beresiko malnutrisi berat (berdasarkan skor hasil skrining baik dengan
metode MST untuk pasien dewasa maupun metode Strong Kids untuk pasien anak) atau
memerlukan diet khusus sehubungan dengan penyakitnya (Hipertensi, Diabetes Mellitus,
Hepatitis, Stroke dan post operasi digestif) dirujuk ke nutrisionis/dietisien untuk
mendapatkan asuhan gizi lebih lanjut.

2.2 Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)


Proses Asuhan Gizi Terstandar adalah suatu metoda pemecahan masalah yang sistematis
dalam menangani problem gizi, sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang aman, efektif
dan berkualitas tinggi. Asuhan gizi dilakukan oleh nutrisionis/dietisien yang sudah
mendapatkan rincian kewenangan klinis dari Direktur.

BAB III
TATA LAKSANA

A. Skrining Gizi

Tahapan pelayanan gizi rawat inap diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh perawat ruangan
dan penetapan order diet awal (preskripsi diet awal) oleh dokter. Skrining gizi bertujuan untuk
mengidentifikasi pasien/klien yang beresiko, tidak beresiko malnutrisi atau kondisi khusus. Kondisi
khusus yang dimaksud adalah pasien dengan kelainan metabollik; hemodialisis; anak; geriatri; kanker
dengan kemoterapi/radiasi; luka bakar; pasien dengan imunitas menurun; sakit kritis dan sebagainya.

Idealnya skrining dilakukan pada pasien baru 1 x 24 jam setelah pasien masuk rumah sakit.
Metoda skrining sebaiknya singkat, cepat dan disesuaikan dengan kondisi dan kesepakatan di masing-
masing rumah sakit. Metoda skrining gizi yang digunakan di RS AR Bunda Prabumulih adalah
Malnutrition Scrining Tools (MST) untuk pasien dewasa (> 14 tahun) dan metode Strong Kids untuk
pasien anak-anak (0-14 tahun).

Adapun tahapan pelayanan gizi sebagai berikut pasien yang masuk melalui IGD (Instalasi Gawat
Darurat) diukur berat badan dan tinggi badannya atau bila tidak bisa ditimbang dilakukan pengukuran
LLA ( Lingkar Lengan Atas ) untuk pasien anak anak usia 0 14 tahun diukur berat badan dan panjang
badan, skrining gizi dilakukan oleh perawat di rawat inap dalam 24 jam setelah pasien dirawat dengan
menggunakan Malnutrition Screening Tools (MST).

Bila hasil skrining gizi menunjukkan pasien beresiko malnutrisi, maka dilakukan
pengkajian/asesmen gizi dan dilanjutkan dengan langkah-langkah proses asuhan gizi terstandar oleh
nutrisionis/dietisien. Bagi pasien dengan status gizi baik dan pasien resiko malnutrisi ringan dan sedang,
maka cukup dilakukan pemantauan oleh perawat ruangan bekerjasama dengan DPJP, dan bila pasien
malnutrisi berat maka asesmen gizi dilakukan oleh Nutrisionis/Dietisien. Bagi pasien dengan status gizi
baik evaluasi dapat dilakukan setelah 7 hari rawat. Pasien dengan resiko malnutrisi berat dimonitor dan
dievaluasi setiap hari kemudian dilakukan assesmen ulang setelah 3 hari.

Skrining awal dilakukan oleh perawat dengan menggunakan IMT ( Indeks Masa Tubuh ) dan
pengukuran LiLA untuk pasien dewasa yang tidak bisa ditimbang serta pasien anak-anak usia 0 sampai
14 tahun. Skrining dengan metode Malnutrition Screening Tool (MST) bertujuan untuk mengidentifikasi
dan menata laksana pasien dewasa yang mengalami gizi buruk, kurang gizi, atau obesitas. Untuk pasien
anak (0-14 tahun) menggunakan metode Strong-Kids.

1. Asesmen Gizi Pasien Dewasa


Kelima langkah MST adalah sebagai berikut:
1) Hitung Indeks Massa Tubuh (IMT) pasien dengan menggunakan kurva dibawah ini dan
berikanlah score.
Pengukuran alternatif:
Jika tinggi badan tidak dapat diukur, gunakan pengukuran panjang lengan bawah (ulna)
untuk memperkirakan tinggi badan dengan menggunakan tabel dibawah ini .

2) Langkah 2: nilai persentase kehilangan berat badan yang tak direncanakan menggunakan
tabel di bawah ini, dan berikanlah skor.
3) Langkah 3: nilai adanya efek/pengaruh akut dari penyakit yang diderita pasien, dan berikan
skor (rentang antara 0-2). Sebagai contoh, jika pasien sedang mengalami penyakit akut dan
sangat sedikit/tidak terdapat asupan makanan > 5 hari, diberikan skor 2
4) Langkah 4: tambahkan skor yang diperoleh dari langkah 1, 2 dan 3 untuk menilai adanya
risiko malnutrisi :
a) Skor 0 = risiko rendah
b) Skor 1 = risiko sedang
c) Skor 2 = risiko tinggi/berat
5) Langkah 5: gunakan panduan tatalaksana untuk merencanakan strategi keperawatan berikut
ini :
a) Risiko rendah
Perawatan rutin: ulangi skrining pada pasien di rumah sakit (tiap minggu), pada pasien
rawat jalan (tiap bulan), masyarakat umum dengan usia > 75 (tiap tahun).
b) Risiko sedang
Observasi:
Catat asupan makanan selama 3 hari
Jika asupan adekuat, ulangi skrining : pasien di rumah sakit (tiap minggu), pada
pasien rawat jalan (tiap bulan), masyarakat umum (tiap 2-3 bulan).
Jika tidak adekuat, rencanakan strategi untuk perbaikan dan peningkatan asupan
nutrisi, pantau dan kaji ulang program pemberian nutrisi secara teratur

c) Risiko tinggi
Tatalaksana:
Rujuk ke ahli gizi
Perbaiki dan tingkatkan asupan nutrisi
Pantau dan kaji ulang program pemberian nutrisi: Pada pasien di rumah sakit (tiap
minggu), pada pasien rawat jalan (tiap bulan), masyarakat umum (tiap bulan).
d) Untuk semua kategori:
Atasi penyakit yang mendasari dan berikan saran dalam pemilihan jenis makanan
Catat kategori risiko malnutrisi
Catat kebutuhan akan diet khusus dan ikuti kebijakan setempat
2. Asesmen Gizi Pasien Anak
1) Langkah-langkah melakukan skrining gizi anak metode Strong-Kids adalah
a. Lakukan asesmen dengan memberikan nilai/skor pada pertanyaan-pertanyaan yang
dicantumkan dalam metode skrining gizi Strong-Kids
b. Tambahkan skor yang diperoleh dari pertanyaan 1-4 untuk menilai adanya risiko malnutrisi :
i. Skor 0 = risiko rendah
ii. Skor 1- 3 = risiko sedang
iii. Skor 4-5 = risiko tinggi/berat
c. Rujuk pasien ke nutrisionis/dietisien apabila hasil skrining menunjukkan pasien beresiko
tinggi.

2) Asesmen Gizi Pasien Anak > 5 Tahun


Menggunakan grafik CDC dengan rumus :
% IBW = ( BB Aktual / BB Ideal) x 100 %
Klasifikasi % IBW :
Obesitas : > 120 % BB Ideal
Overweight : > 110 % - 120 % BB Ideal
Gizi Normal : 90 % - 110 % BB ideal
Gizi Kurang : 70 % - 90 % BB Ideal
Gizi Buruk : < 70 % BB Ideal

3) Asesmen Gizi Pasien Anak < 5 Tahun


Dengan melihat grafik Z Score WHO 2005 : BB / TB, BB / U. TB/U. Usia O 2 tahun laki
laki warna biru dan perempuan warna merah muda. Usia 2 5 tahun laki laki warna biru dan
perempuan warna merah muda.
Kriteria :
>3 SD : Obesitas
2 SD 3 SD : Gizi Lebih
-2 SD 2 SD : Gizi baik
-2 SD (- 3) SD: Gizi kurang
> - 3 SD : Gizi buruk

Berikut ini adalah grafik z-score WHO 2005 untuk anak laki-laki.

Grafik z-score untuk anak perempuan


B. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)
Proses Asuhan Gizi Terstandar (Nutrition Care Process/NC) dilakukan pada pasien yang beresiko
kurang gizi, sudah mengalami kurang gizi dan atau kondisi khusus dengan penyakit tertentu, proses ini
merupakan serangkaian kegiatan yang berulang (siklus) sebagai berikut :

Langkah PAGT terdiri dari :

Pasien
Masuk
Tidak Beresiko Tujuan
Tercapai
Skrining Diet STOP Pasien
Gizi Normal Pulang
Beresiko Malnutrisi/Sudah (standar)
Malnutrisi Tujuan Tercapai

PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR

Asessm Diagno Interve Monitori


ent sis nsi ng &
Evaluasi
Tujuan Tidak Tercapai

1. Assesmen/Pengkajian Gizi
Assesmen/pengkajian gizi dikelompokkan dalam 5 kategori yaitu :
1.1. Anamnesis Riwayat Gizi
Anamnesis riwayat gizi adalah data meliputi asupan makanan termasuk komposisi, pola makan,
diet saat ini dan data lain yang terkait. Selain itu diperlukan data kepedulian pasien terhadap gizi
dan kesehatan, aktivitas fisik dan olahraga dan ketersediaan makanan di lingkungan klien.

Gambaran asupan makanan dapat digali melalui anamnesis kualitatif dan kuantitatif. Anamnesis
riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran kebiasan makan/pola makan
sehari berdasarkan frekuensi penggunaan bahan makanan. Anamnesis secara kuantitatif dilakukan
untuk mendapatkan gambaran asupan zat gizi sehari melalui recall makanan 24 jam dengan alat
bantu food model. Kemudian dilakukan analisis zat gizi yang merujuk kepada daftar makanan
penukar, atau daftar komposisi zat gizi makanan.

1.2. Data Biokimia


Data biokimia meliputi hasil pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan yang berkaitan dengan
status gizi, status metabolik dan gambaran fungsi organ yang berpengaruh terhadap timbulnya
masalah gizi. Pengambilan kesimpulan dari data laboratorium terkait masalah gizi harus selaras
dengan data asesmen gizi lainnya seperti riwayat gizi yang lengkap, termasuk penggunaan
suplemen, pemeriksaan fisik dan sebagainya. Disamping itu proses penyakit, tindakan,
pengobatan, prosedur dan status hidrasi (cairan) dapat mempengaruhi perubahan kimiawi darah
dan urin, sehingga hal ini perlu menjadi pertimbangan.

1.3. Pengukuran Antropometri


Antropometri merupakan pengukuran fisik pada individu. Antropometri dapat dilakukan dengan
berbagai cara, antara lain pengukuran Tinggi Badan (TB); Berat Badan (BB). Pada kondisi tinggi
badan tidak dapat diukur dapat digunakan Panjang Badan (PB) dan atau Lingkar Lengan Atas
(LiLA).
Penilaian status gizi dilakukan dengan membandingkan beberapa ukuran tersebut diatas misalnya
Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu ratio BB terhadap TB. Untuk memperkirakan IMT, dapat juga
menggunakan pengukuran lingkar lengan atas (LiLA).

Lengan bawah sisi kiri pasien harus ditekuk 90 o terhadap siku, dengan lengan atas paralel di
sisi tubuh. Ukur jarak antara tonjolan tulang bahu (akromion) dengan siku (olekranon).
Tandai titik tengahnya.
Perintahkan pasien untuk merelaksasikan lengan atasnya, ukur lingkar lengan atas di titik
tengah, pastikan pita pengukur tidak terlalu menempel terlalu ketat


LLA < 23,5 cm = perkiraan IMT < 20 kg/m2

LLA > 32 cm = perkiraan IMT > 30 kg/m2
Parameter antropometri yang penting untuk melakukan evaluasi status gizi pada bayi, anak dan
remaja adalah Pertumbuhan. Pertumbuhan ini dapat digambarkan melalui pengukuran
antropometri seperti berat badan, panjang badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan beberapa
pengukuran lainnya. Hasil pengukuran ini kemudian dibandingkan dengan standar.
Pemeriksaan fisik yang paling sederhana untuk melihat status gizi pasien rawat inap adalah BB.
Pasien sebaiknya ditimbang dengan menggunakan timbangan yang akurat/terkalibrasi dengan
baik. Pengukuran BB sebaiknya mempertimbangkan hal-hal diantaranya kegemukan dan edema.
BB pasien dicatat pada saat pasien masuk dirawat dan dilakukan pengukuran BB secara periodik
selama pasien dirawat minimal 7 hari.

1.4. Pemeriksaan Fisik Klinis


Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berkaitan dengan
gangguan gizi atau dapat menimbulkan masalah gizi. Pemeriksaan fisik terkait gizi merupakan
kombinasi dari tanda-tanda vital dan antropometri yang dapat dikumpulkan dari catatan medik
pasien serta wawancara. Contoh beberapa data pemeriksaan fisik terkait gizi antara lain edema,
asites, kondisi gigi geligi, massa otot yang hilang, lemak tubuh yang menumpuk, dan lain
sebagainya.

1.5. Riwayat Personal


Data riwayat personal meliputi 4 area yaitu riwayat obat-obatan atau suplemen yang sering
dikonsumsi, sosial budaya, riwayat penyakit, dan data umum pasien.
a. Riwayat obat-obatan yang digunakan dan suplemen yang dikonsumsi
b. Sosial Budaya
Status sosial ekonomi, budaya, kepercayaan/agama, situasi rumah, dukungan pelayanan
kesehatan dan sosial serta hubungan sosial.
c. Riwayat Penyakit
Keluhan utama yang terkait dengan masalah gizi, riwayat penyakit dulu dan sekarang, riwayat
pembedahan, penyakit kronik atau resiko komplikasi, riwayat penyakit keluarga, status
kesehatan mental/emosi serta kemampuan kognitif seperti pada pasien stroke.
d. Data umum pasien antara lain umur, pekerjaan dan tingkat pendidikan

2. Diagnosis Gizi
Pada langkah ini dicari pola dan hubungan antar data yang terkumpul dan kemungkinan penyebabnya.
Kemudian memilah masalah gizi yang spesifik dan menyatakan masalah gizi secara singkat dan jelas
menggunakan terminologi yang ada. Penulisan diagnosa gizi terstruktur dengan konsep PES atau
Problem Etiologi dan Signs/Symptoms.
Diagnosis gizi dikelompokkan dalam tiga domain, yaitu :
2.1. Domain Asupan adalah masalah aktual yang berhubungan dengan asupan energi, zat gizi, cairan,
substansi bioaktif dari makanan baik yang melalui oral maupun parenteral dan enteral.
Contoh : Asupan protein yang kurang (P) berkaitan dengan perubahan indera perasa dan nafsu
makan (E) ditandai dengan asupan protein rata-rata sehari kurang dari 40% kebutuhan (S)
2.2. Domain Klinis adalah masalah gizi yang berkaitan dengan kondisi medis atau fisik/fungsi organ.
Contoh : Kesulitan menyusui (P) berkaitan dengan (E) kurangnya dukungan keluarga ditandai
dengan penggunaan susu formula bayi tambahan (S)
2.3. Domain Perilaku/lingkungan adalah masalah gizi yang berkaitan dengan pengetahuan,
perilaku/kepercayaan, lingkungan fisik dan akses dan keamanan makanan. Contoh : kurangnya
pengetahuan tentang makanan dan gizi (P) berkaitan dengan dengan mendapat informasi yang
salah dari lingkungannya mengenai anjuran diet yang dijalaninya (E) ditandai dengan memilih
bahan makanan yang tidak dianjurkan dan aktivitas fisik yang tidak sesuai anjuran (S).
3. Intervensi Gizi
Terdapat dua komponen intervensi gizi yaitu :
3.1. Perencanaan Intervensi, meliputi penetapan tujuan intervensi, preskripsi diet, jenis diet,
modifikasi diet, jadwal pemberian makanan dan jalur makanan
3.2. Implementasi Intervensi, adalah bagian kegiatan intervensi gizi dimana nutrisionis/dietisien
melaksanakan dan mengkomunikasikan rencana asuhan kepada pasien dan tenaga kesehatan atau
tenaga lain yang terkait. Suatu intervensi gizi harus jelas menggambarkan apa, dimana, kapan
dan bagaimana intervensi dilakukan. Kegiatan ini juga termasuk pengumpulan data kembali,
dimana data tersebut dapat menunjukkan respons pasien dan perlu atau tidaknya modifikasi
intervensi gizi. Untuk kepentingan dokumentasi dan persepsi yang sama (keseragaman),
intervensi dikelompokkan menjadi 4 domain yaitu pemberian makanan atau zat gizi; edukasi
gizi; konseling gizi dan koordinasi pelayanan gizi. Setiap kelompok mempunyai terminologinya
masing-masing

4. Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan monitoring dan evaluasi gizi dilakukan untuk mengetahui respon pasien/klien terhadap
intervensi dan tingkat keberhasilannya. Terdapat tiga langkah monitoring dan evaluasi gizi yaitu:
4.1. Monitor Perkembangan, yaitu kegiatan mengamati perkembangan kondisi pasien/klien yang
bertujuan untuk melihat hasil yang terjadi sesuai yang diharapkan oleh klien/pasien maupun tim.
Adapun kegiatan yang berkaitan dengan monitor perkembangan diantaranya : mengecek
pemahaman dan ketaatan diet klien/pasien, mengecek asupan makanan pasien, menentukan
apakah status gizi pasien tetap atau berubah, dan sebagainya.
4.2. Mengukur Hasil, yaitu kegiatan mengukur perkembangan/perubahan yang terjadi sebagai respon
terhadap intervensi gizi. Parameter yang harus diukur berdasarkan tanda dan gejala dari
diagnosis gizi.
4.3. Evaluasi Hasil, terdapat 4 jenis hasil berdasarkan tahapan diatas yaitu :
a. Dampak perilaku dan lingkungan terkait gizi yaitu tingkat pemahaman, perilaku, akses dan
kemampuan yang mungkin mempunyai pengaruh pada asupan makanan dan zat gizi.
b. Dampak asupan makanan dan zat gizi merupakan asupan makanan dan atau zat gizi dari
berbagai sumber, misalnya makanan, minuman, suplemen dan melalui rute enteral maupun
parenteral.
c. Dampak terhadap tanda dan gejala fisik yang terkait gizi yaitu pengukuran yang terkait
dengan antropometri, biokimia dan parameter pemeriksaan fisik/klinis.
d. Dampak terhadap pasien/klien terhadap intervensi gizi yang diberikan pada kualitas
hidupnya.
4.4. Pencatatan dan Pelaporan, merupakan bentuk pengawasan dan pengendalian mutu pelayanan dan
komunikasi. Terdapat berbagai cara dalam dokumentasi antara lain Subjective Objective
Assesssment Planning (SOAP) dan Assessment Diagnosis Intervensi Monitoring dan Evaluasi
(ADIME). Format ADIME merupakan model yang sesuai dengan langkah PAGT, sebagai bagian
dari dokumentasi PAGT.
BAB IV

DOKUMENTASI

Panduan Asuhan Gizi Rumah Sakit AR Bunda didokumentasikan dalam rekam medis
pasien yang berisi asesmen /skrining gizi baik dengan metode MST (Malnutrition Screening
Tools) untuk pasien dewasa maupun metode Strong-Kids untuk pasien anak-anak (0-14 tahun).
Nutisionis/dietisien mendokumentasikan hasil asesmen lanjut gizi di Formulir Assesmen Gizi
Lanjutan.

Ditetapkan di : Prabumulih
Tanggal : 03 Januari 2017
DIREKTUR RUMAH SAKIT
AR. BUNDA,

dr.H. Alip Yanson, MARS.