Anda di halaman 1dari 16

0

MAKALAH PRODUKSI TERNAK SAPI DAN KERBAU


Sapi Induk Wajib Bunting
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Produksi Ternak Sapid an Kerbau

Oleh :
Kelas C

FAUZIAH 200110150012

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah Subhanahu Wa Taala karena dengan

karunia dan hidayah-Nya, sehingga tugas makalah mata kuliah Produksi Ternak

Sapi dan Kerbau mengenai Sapi Induk Wajib Bunting dapat diselesaikan oleh

penulis dengan baik. Tugas makalah ini dibuat kemudian diajukan untuk

memenuhi salah satu tugas mata kuliah Produksi Ternak Sapi dan Kerbau.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Muh. Patah Wiyatna,

S.Pt., M.Si selaku Pengampu Mata Kuliah Produksi Ternak Sapi dan Kerbau yang

telah mengarahkan untuk pembuatan tugas makalah ini. Adanya bantuan-bantuan


tersebut penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun

penulis pada bidang pengetahuan ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam isi makalah ini

terutama pada pembahasan, dan dari sisi sistematika penulisan. Berdasarkan hal

tersebut penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi

perbaikan kearah yang lebih baik pada masa yang akan datang.

Sumedang, Mei 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Bab Halaman

COVER......................................................................................i

KATA PENGANTAR..............................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................iii

DAFTAR TABEL...................................................................iv

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah............................................................1
1.3 Maksud dan Tujuan.............................................................2
II. PEMBAHASAN
2.1 Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB)......................................3
2.2 Ruang Lingkup......................................................................3
2.3 Gambaran Umum...................................................................4
2.4 Target Upsus Siwab 2017......................................................4
2.5 Standar Operasional Prosedur SIWAB (SOP).......................5
2.6 Operasionalisasi Upsus Siwab...............................................7
2.7 Komponen Umum dan Teknis SIWAB..................................8
2.8 Pelaksanaan IB dan Introduksi IB pada SIWAB...................9
III. KESIMPULAN
3.1 kesimpulan...........................................................................10

DAFTAR PUSTAKA....................................................................12

3
DAFTAR GAMBAR

Tabel Halaman

1. Struktur Populasi Sapid an Kerbau ..............................................4

4
1

I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan dasar utama manusia yang pemenuhannya

merupakan bagian dari hak asasi setiap rakyat Indonesia. Pangan senantiasa harus

tersedia secara cukup, aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga yang

terjangkau daya beli masyarakat, serta tidak bertentangan dengan agama,

keyakinan, dan budaya masyarakat. Bila ditinjau dari sumber asalnya, bahan

pangan terdiri atas pangan nabati (asal tumbuhan) dan pangan hewani (asal ternak

dan ikan). Bahan pangan hewani yang berasal dari ternak adalah daging, telur dan

susu yang berfungsi sebagai sumber zat gizi, utamanya protein dan lemak. Saat ini

konsumsi daging ruminansia meningkat sebesar 18,2% dari 4,4 gram/kap/hari.

Dilain pihak dalam kurun waktu yang sama penyediaan daging sapi lokal rata-rata

baru memenuhi 65,24% kebutuhan total nasional. Sehingga kekurangannya masih

dipenuhi dari impor, baik berupa sapi bakalan maupun daging beku. Menghadapi

tantangan tersebut, Pemerintah perlu menyusun program peningkatan produksi

daging sapi/kerbau dalam negeri, menggunakan pendekatan yang lebih banyak

mengikutsertakan peran aktif masyarakat.

Mulai tahun 2017, Pemerintah menetapkan Upsus Siwab (upaya khusus

percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting). Dengan upaya khusus

ini sapi/kerbau betina produktif milik peternak dipastikan dikawinkan, baik

melalui inseminasi buatan maupun kawin alam. Sebagai dasar pelaksanaan

kegiatan ini, telah terbit Peraturan Menteri Pertanian Nomor

48/Permentan/PK.210/10/2016, tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan

Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Timbulnya permasalahan kekuragan daging


2

ini mengakibatkan kami untuk menjelaskan mengenai program SIWAB yang telah

diusut oleh Pemerintah .

1.2 Identifikasi Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan SIWAB.

2. Bagaimana ruang lingkup penyebaran SIWAB.

3. Bagaimana gambaran umum program SIWAB 2017.

4. Bagaiman target upsus SIWAB 2017.

5. Bagaimana Standar Operasional Prosedur SIWAB (SOP).

6. Bagaimana operasionalisasi Upsus Siwab.

7. Bagaimana Komponen Umum dan Teknis SIWAB.

8. Bagaiaman proses Pelaksanaan IB dan Introduksi IB pada SIWAB.

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui dan memahami makna SIWAB.

2. Untuk mengetahui penyebaran SIWAB di Indonesia.

3. Untuk mengetahui program SIWAB.

4. Untuk mengetahui target SIWAB 2017.

5. Untuk mengetahui berbagai Standar Operasional Prosedur SIWAB (SOP).

6. Untuk mengetahui Operasionalisasi Upsus Siwab.

7. Untuk mengetahui Komponen Umum dan Teknis SIWAB.

8. Untuk mengetahui proses Pelaksanaan IB dan Introduksi IB pada SIWAB.


3

II
PEMBAHASAN

2.1 Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB)

SIWAB adalah program Pemerintah untuk mengakselerasi percepatan target

pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri, Kementerian Pertanian

meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau

Bunting (UPSUS SIWAB). UPSUS SIWAB mencakup dua program utama yaitu

peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin

Alam (INKA). Program tersebut dituangkan dalam peraturan Menteri Pertanian

Nomor 48/Perment/ PK.210/10/2016 tentang upaya khusus percepatan

peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting yang ditandatangani Menteri

Pertanian pada tanggal 3 Oktober 2016. Upaya ini dilakukan sebagai wujud

komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan

Presiden Joko Widodo tercapai pada 2026 mendatang serta mewujudkan

Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, dan sekaligus

meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

2.2 Ruang Lingkup

Pedoman Pelaksanaan Upsus Siwab 2017 merupakan acuan yang masih

bersifat umum yang merupakan dasar pijakan (payung) untuk operasional

kegiatan dan telah dilengkapi juga dengan Pedoman yang bersifat teknis dari

masing-masing kegiatan seperti:

(1) Penetapan Status Reproduksi dan Penanganan Gangguan Reproduksi


4

(2) Penyediaan Semen Beku, Tenaga Teknis dan Sarana IB serta Pelaksanaan

IB

(3) Distribusi dan Ketersediaan Semen Beku, Nitrogen (N2) Cair dan

Kontainer

(4) Pemenuhan Hijauan Pakan Ternak dan Pakan Konsentrat

(5) Pengendalian Pemotongan Betina Produktif

(6) Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan.

Apabila dipandang perlu sesuai dengan kebutuhan teknis ataupun wilayah dapat

diperjelas dengan penerbitan Pedoman Teknis. (Putra, 2004).

2.3 Gambaran Umum

Menghitung perkiraan populasi dan jumlah akseptor sapi/kerbau tahun 2017

digunakan basis data hasil Sensus Pertanian tahun 2013 (ST 2013). Secara

nasional perkiraan total populasi sapi/kerbau betina dewasa (umur 2-8 tahun) pada

tahun 2017 sebesar 5,9 juta ekor (lihat Tabel 1).

2.4 Target Upsus Siwab 2017

Jumlah potensi akseptor seperti Tabel 1, yang diperkirakan menjadi akseptor

sebesar 70% atau setara 4 juta ekor. Melalui upaya khusus, dari 4 juta akseptor

tersebut target kebuntingannya 73% atau setara dengan 3 juta ekor. Sasaran target
5

aseptor dan sasaran kebuntingan di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota.

Sasaran IB dalam Upsus Siwab sebanyak 4 juta akseptor (lihat tabel 1 tentang

Alur Kerja Upsus Siwab Tahun 2017), terdiri dari: 2,9 juta akseptor yang

dipelihara secara intensif di pulau Jawa, Bali, dan Lampung (total populasi betina

dewasa 3,3 juta ekor); 0,8 juta ekor akseptor yang dipelihara secara semi intesif di

Sulawesi Selatan, Pulau Sumatera, dan Kalimatan (total populasi betina dewasa

1,9 juta ekor); dari 0,3 juta akseptor dipelihara secara ektensif di NTT, NTB,

Papua, Maluku, Sulawesi, Aceh, dan Kalimantan Utara (total populasi betina

dewasa 0,7 juta ekor). Sasaran pendukung keberhasilan Upsus Siwab 2017 perlu

penanaman hijauan pakan ternak 13.000 Ha (10.400 Ha di daerah insentif dan

2.600 Ha di daerah ekstensif); penanganan gangguan reproduksi 300.000 ekor;

perbaikan reproduksi karena hipofungsi 22.500 ekor dan penyelamatan

pemotongan betina produktif di 40 lokasi kabupaten/kota.

2.5 Standar Operasional Prosedur SIWAB (SOP)

Pedoman Pelaksanaan Operasionalisasi Upsus Siwab 2017 dibuat secara garis

besar dan masih merupakan payung, sehingga diperjelas dengan dilengkapi

beberapa pedoman yang brsifat teknis yang merupakan satu kesatuan dengan

pedoman pelaksanaan ini. Pedoman teknis tersebut di atas meliputi:

(1) Penetapan Status Reproduksi dan Penanganan Gangguan Reproduksi

(2) Penyediaan Semen Beku, Tenaga Teknis dan Sarana IB serta Pelaksanaan IB

(3) Distribusi dan Ketersediaan Semen Beku, Nitrogen (N2) Cair dan Kontainer

(4) Pemenuhan Hijauan Pakan Ternak dan Pakan Konsentrat

(5) Pengendalian Pemotongan Betina Produktif

(6) Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan.


6

Secara keseluruhan, untuk menjalankan Upsus Siwab 2017 mengacu pada 1

(satu) Pedoman Pelaksanaan bersama 6 (enam) Pedoman Teknis yang merupakan

bagian tidak terpisahkan. Pedoman Teknis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1 Pedoman Teknis Penyediaan Semen Beku, Tenaga Teknis dan Sarana IB

serta Pelaksanaan IB. Pedoman teknis ini menjelaskan pelaksanaan IB

dengan target 4.000.000 akseptor dan sapi/kerbau bunting di tahun 2017

sebanyak 3.000.000 ekor.

2 Pedoman Teknis Distribusi dan Ketersediaan Semen Beku, Nitrogen (N2)

Cair dan Kontainer. Pedoman teknis ini menjelaskan ketersediaan semen

beku, N2 cair, dan container serta mengatur tatacara pendistribusiannya ke

lokasi pelaksanaan Upsus Siwab ke seluruh Indonesia.

3 Pedoman Teknis Penanganan Gangguan Reproduksi menjelaskan

penanganan medis gangguan reproduksi ternak dengan target sebanyak

300.000 ekor yang diharapkan menjadi sehat kembali dan dapat dilakukan

IB dan berhasil bunting.

4 Pedoman Teknis Pemenuhan Hijauan Pakan Ternak dan Pakan Konsentrat

menjelaskan penyediaan hijauan pakan ternak dan pakan konsentrat untuk

memperbaiki kondisi ternak dengan target 22.500 ekor dari BCS lebih

kecil sama dengan (< 2) menjadi lebih besar sama dengan (> 3) sehingga

dapat dilakukan IB dan berhasil bunting.

5 Pedoman Teknis Pengendalian Betina Produktif menjelaskan tentang

mekanisme pengendalian betina produktif dimulai dari hulu sampai hilir

pada 40 Kabupaten/Kota. Hasil yang didapat adalah penurunan

pemotongan betina produktif sebesar 20%.


7

6 Pedoman Teknis Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan menjelaskan

tatacara pemantauan perkembangan capaian kinerja Upsus Siwab secara

cepat dan real time menggunakan intrumen dari modul iSIKHNAS yang

diintegrasikan dengan Sistem Monitoring dan Pelaporan SMS

Kementerian Pertanian.

2.6 Operasionalisasi Upsus Siwab

Operasionalisasi Upsus Siwab merupakan beberapa komponen kegiatan yang

saling berkaitan, dimulai dari komponen kegiatan yang tidak memerlukan

anggaran seperti penentuan target akseptor sampai yang memerlukan anggaran:

pelaksanaan kawin suntik (komponen utama Upsus Siwab), kegiatan monitoring,

evaluasi, dan pelaporan. Untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang Upsus

Siwab 2017 dan memudahkan dalam operasionalisasinya, maka dibuat matrik

ringkasan SOP dalam pedoman pelaksanaan Upsus Siwab 2017.

2.7 Komponen Umum dan Teknis SIWAB

Pedoman Pelaksanaan ini, berdasarkan sifatnya, macam komponen kegiatan

dibedakan menjadi umum dan teknis. Komponen yang bersifat umum akan

dibahas dalam pedoman pelaksanaan ini dan yang bersifat teknis akan dibicarakan

dalam pedoman teknis masing-masing. Semua komponen kegiatan ini

menyangkut tugas dan fungsi instansi sehingga tidak disediakan anggaran dalam

APBN. Dokumen yang dihasilkan adalah Surat Keputusan penentuan target

akseptor per provinsi oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, target

akseptor per kabupaten/kota oleh SKPD Provinsi, dan daftar aseptor di

kabupaten/kota oleh SKPD Kabupaten/Kota. Komponen kegiatan umum yang


8

merupakan kegiatan persiapan adalah penentuan status reproduksi. Penentuan

status reproduksi dilakukan oleh Tim Pelaksana Kabupaten/Kota dan ditetapkan

oleh SKPD Kabupaten/Kota yang diketuai oleh Koordinator Tim, dan anggotanya

terdiri dari unsur medis, paramedis, inseminator, petugas PKb, dan petugas ATR.

Tugas Tim Pelaksana Kabupaten/Kota adalah memeriksa akseptor yang sudah di-

SK-kan SKPD Kabupaten/Kota. Semua akseptor dicatat kondisi BCS-nya dan

diberi kartu ternak serta didaftar dalam isikhnas.

2.8 Pelaksanaan IB dan Introduksi IB pada SIWAB

Pelaksanaan IB dipisahkan berdasarkan sistem pemeliharaan, yaitu intensif

(ternak dipelihara di dalam kandang dan seluruh kebutuhan ternak disediakan),

semi intensif (ternak dipelihara di dalam kandang tetapi pada siang hari

digembalakan), dan ekstensif (ternak dipelihara tidak di dalam kandang dan

biasanya digembalakan). Sistem intensif dan semi intensif diberlakukan IB secara

normal yaitu dilaksanakan di kandang jepit yang disiapkan peternak baik secara

individu maupun kelompok. Sementara untuk introduksi IB dilakukan pada sistem


pemeliharaan ekstensif. Kegiatan IB dilakukan pada waktu yang ditentukan secara

berkala di holding ground dan gang way (kandang penampungan yang dilengkapi

lorong penanganan ternak) yang dibangun pemerintah. Pada saat pengumpulan

secara berkala, akseptor yang birahi dilakukan pelayanan IB dan akseptor

lainnya mendapatkan penanganan medisseperti pemriksaan kesehatan, pengobatan

dll. Apabila memungkinkan untuk meningkatkan tingkat berahi dan keberhasilan

kebuntingan dapat dilakukan pemberian hormon PGF2alfa (disesuaikan dengan

ketersediaan anggaran). Parameter berupa service per conception (S/C) yang

dipakai dalam penghitungan anggaran APBN 2017 dengan menggunakan nilai


9

S/C = 2,2. Sehingga secara umum pada masing-masing daerah jumlah kebutuhan

semen beku yang diperlukan untuk operasional pelaksanaan IB, maksimal adalah

2,2 x jumlah akseptor. Namun kondisi ini masih harus disesuaikan dengan tingkat

kinerja IB di masing-masing wilayah.


10

III
KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan makalah tersebut diperoleh 6 kesimpulan yaitu:

1. SIWAB adalah program Pemerintah untuk mengakselerasi percepatan target

pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri, Kementerian Pertanian

meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau

Bunting (UPSUS SIWAB).

2. Pedoman Pelaksanaan Upsus Siwab 2017 merupakan acuan yang masih

bersifat umum yang merupakan dasar pijakan (payung) untuk operasional

kegiatan.

3. Menghitung perkiraan populasi dan jumlah akseptor sapi/kerbau tahun 2017

digunakan basis data hasil Sensus Pertanian tahun 2013 (ST 2013).

4. Melalui upaya khusus, dari 4 juta akseptor tersebut target kebuntingannya

73% atau setara dengan 3 juta ekor.

5. Pedoman Pelaksanaan Operasionalisasi Upsus Siwab 2017 dibuat secara garis

besar dan masih merupakan payung, sehingga diperjelas dengan dilengkapi

beberapa pedoman yang brsifat teknis.

6. Operasionalisasi Upsus Siwab merupakan beberapa komponen kegiatan yang

saling berkaitan, dimulai dari komponen kegiatan yang tidak memerlukan

anggaran seperti penentuan target akseptor sampai yang memerlukan

anggaran.

7. Penentuan status reproduksi dilakukan oleh Tim Pelaksana Kabupaten/Kota

dan ditetapkan oleh SKPD Kabupaten/Kota yang diketuai oleh Koordinator

Tim, dan anggotanya terdiri dari unsur medis, paramedis, inseminator,


11

petugas PKb, dan petugas ATR. Tugas Tim Pelaksana Kabupaten/Kota

adalah memeriksa akseptor yang sudah di-SK-kan SKPD Kabupaten/Kota.

8. Pelaksanaan IB dipisahkan berdasarkan sistem pemeliharaan, yaitu intensif

(ternak dipelihara di dalam kandang dan seluruh kebutuhan ternak

disediakan), semi intensif (ternak dipelihara di dalam kandang tetapi pada

siang hari digembalakan), dan ekstensif (ternak dipelihara tidak di dalam

kandang dan biasanya digembalakan).

9.
12

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, Budi Tri. 2012. Budi Daya Sapi Potong. Balai inseminasi Ternak: Bogor
Surabaya.

Davis, J. 1962. Management Pemeliharaan Ternak Potong. PT. Yasaguna:


Bandung.

Putra, A. R. 2004. Kondisi Teknis Peternakan Sapi Rakyat Di Kelurahan Pondok


Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Skripsi. Program Studi
Teknologi Produksi Ternak. Fakultan Peternakan. Institut Pertanian Bogor:
Bogor.

Sudarmono. 1993. Kandang Ternak Perah. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Sudono, A., R. F. Rosdiana dan B. Setiawan. 2003. Petnjuk Praktis Beternak Sapi
Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka: Jakarta.

Syarief dan Harianto. 2001. Dasar Ilmu Ternak Ruminansia. PT. Mutiara: Jakarta.

. 2011.Dasar Ilmu Ternak Ruminansia. PT. Mutiara: Jakarta.

Syarief dan Sumoprastowo. 1990. Permenten Ternak UPSUS SIWAB. PT. Mutiara:
Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai