Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA REAKTOR NUKLIR


PERCOBAAN B : KALIBRASI BATANG
KENDALI & PENENTUAN CORE EXCESS

Tanggal Praktikum: 8 Desember 2015


Oleh : Noval Wahyu A NIM :
13/350091/TK/41246

LABORATORIUM
PUSAT STUDI DAN TEKNOLOGI AKSELARATOR
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2015
PERCOBAAN : B
(KALIBRASI BATANG KENDALI & PENENTUAN CORE EXCESS)

I. TUJUAN
a. Melakukan kalibrasi batang kendali reaktor KARTINI, yaitu
menentukan reaktivitas batang kendali dengan jalan membuat
grafik reaktivitas suatu batang kendali terhadap kedudukannya
(grafik versus h ) dan membuat grafik / h versus h.
b. Menghitung reaktivitas total ketiga elemen batang kendali di
dalam reaktor.
c. Menghitung reaktivitas lebih teras reaktor.
II. DASAR TEORI
- Reaktivitas ()

Batang kendali merupakan instrumen dalam reaktor nuklir yang


digunakan untuk mengendalikan laju fisi dari bahan bakar. Umumnya
batang kendali tersusun dari unsur kimia seperti boron, perak, indium
dan kadmium yang mempunyai kemampuan menyerap banyak neutron
tanpa material itu mengalami fisi sendiri.

Batang kendali dapat digerakkan keluar masuk dalam perangkat


bakar. Memasukkan batang kendali dalam perangkat bakar
menyebabkan neutron terserap banya dan mengeluarkannya berarti
menyebabkan sedikit neutron yang terserap. Sehingga batang kendali
dapat mengatur reaktivitas.

Di dalam teras reaktor Kartini terdapat tiga buah batang kendali, yaitu
sebuah batang kompensasi (ditempatkan di ring C9), sebuah batang
pengatur (di ring E1) dan sebuah batang pengaman (di ring C5).

Batang kendali tersebut pada dasarnya berisi bahanbahan yang


sangat kuat menyerap netron, dalam hal ini dipakai atom-atom boron (
= 3837 barn). Reaksi penyerapan antara boron dan netron dapat ditulis
sbb:

Batang-batang kendali tersebut dimasukkan ke dalam teras reaktor


melalui pipa-pipa pengarah batang kendali. Pipa-pipa pengarah tersebut
dari pipa aluminum yang telah dianodisasi. Besarnya kekuatan batang
kendali di dalam teras reaktor antara lain ditentukan oleh letak/posisi
batang kendali di dalam teras serta besar level daya reaktor yang
dibangkitkan dan ukuran teras reaktor, tampang lintang serapan,
temperatur dan lain-lain.

- Faktor Multiplikasi (k-eff)


Neutron memiliki peranan penting pada reaksi fisi berantai yang
terjadi dalam reaktor nuklir. Neutrron yang dihasilkan karena proses raksi
fisi berantai akan bergerak dalam raktor hingga khirnya berkurang
karena proses leakage, capture dan scattering. Leakageadalah proses
keluarnya neutrn dari reaktor / neutron bocor, capture adalah
kemungkinan neutron ditangkap oleh material bahan bakar ataupun
material lain, dan scattering adalah proses terjadinya tumbukan neutron
sehingga mengurangi energi neutron dan akhirnya lebih mudah
ditangkap.
Sejumlah neutron yang dihasilkan dari reaksi fisi yang terjadi akan
menumbuk dan beraksi dengan bahan-bakar fisil untuk memicu
terjadinya reaksi fisi selanjutnya. Banyaknya neutron yang bereaksi akan
menentukan lahirnya neutron-neutron baru hasil raksi fisi tersebut.
Banyaknya neutron yang ada pada reaktor dapat digunakan untuk
menentukan besarnya nilai faktor multlipikasi (k-eff) dengan
menggunakan persamaan berikut :

jumlah neutron ya ng dihasilkan


k eff =
jumlah neutron yang dipakai untuk reaksifisi

jumlah neutron yang dihasilkan bisa diibaratkan jumlah neutron pada


suatu generasi dan jumlah neutron yang dipakai untuk reaksi fisi bisa
diartikan sebagai jumlah neutron pada generasi sebelumnya.
Jika k-eff = 1, maka jumlah neutron yang dihasilkan dalam suatu
generasi sama dengan neutron yang dipakai untuk reaksi fisi pada
generasi sebelumnya (ajeg), dan kondisi inilah yang disebut dengan
kondisi reaktor kritis. Apabila k-eff < 1 maka jumlah neutron yang
dihasilkan dalam suatu generasi kurang dari neutron yang dipakai untuk
reaksi fisi pada generasi sebelumnya, dan kondisi inilah yang disebut
dengan kondisi reaktor subkritis. Apabila k-eff > 1 maka jumlah neutron
yang dihasilkan dalam suatu generasi lebih dari neutron yang dipakai
untuk reaksi fisi pada generasi sebelumnya, dan kondisi inilah yang
disebut dengan kondisi reaktor superkritis.

Kondisi yang diinginkan supaya reaktor aman adalah pada kondisi


kritis dimana jumlah neutron yang dihasilkan dalam suatu generasi sama
dengan neutron yang dipakai untuk reaksi fisi pada generasi
sebelumnya, sedangkan kondisi subkritis akan mengakibatkan reaktivitas
negatif yang dapat mengakibatkan reaktor kehabisan neutron dan
akhirnya reaktor akan mati, dan kondisi superkritis akan mengakibatkan
reaktivitas bernilai positif yang dapat mengakibatkan terjadinya reaks fisi
yang berlebihan dan meningkatnya suhu dari teras reaktor yang dapat
mengakibatkan dapat terjadinya kerusakan bahkan kecelakaan.

III. HASIL PERCOBAAN


Pada percobaan kali tentang kalibrasi batang kendali dan penentuan core
excess didapatkan data seperti pada dibawah ini:

- Batang Pengatur
Diketahui reaktivitas reaktor dengan posisi batang pengatur 0 = -25,1
sen

Pengam Kompens Pengat Reaktivit


an asi ur as ()
100 100 29 0
100 100 34,9 16,6
100 78,4 34,9 0,5
100 78,4 43,6 24,6
100 69,3 43,6 0,6
100 69,4 53,4 27,5
100 61,5 53,5 0,1
100 61,5 65 24,3
100 55,9 65 0,1
100 56,2 100 26,5
Didapatkn pula nilai reaktivitas pada saat batang kendali pada kondisi di
drop yaitu sebesar -25,1 sen. Dengan menggunakan data tersebut
didapatkan delta dan batang pengatur sebagai berikut:

batang
batang
pengatu
pengatur
r
0 0 0
29 25,1 25,1
34,9 16,6 41,7
43,6 24,1 65,8
53,4 26,9 92,7
65 24,2 116,9
100 26,5 143,4

Sehingga didapatkan Grafik Tinggi vs Reaktivitas Batang Kendali


sebagai berikut:

Grafik Tinggi vs Reaktivitas Batang Pengatur


200

150

100
Reaktivitas Batang Kendali

50

0
0 20 40 60 80 100 120

Tinggi Batang Pengatur

untuk mencari hubungan antara / h dengan h maka digunakan data


sebagai berikut:

/ h h
0 0
0,865517
29
241
2,813559
34,9
322
2,770114
43,6
943
2,744897
53,4
959
2,086206
65
897
0,757142
100
857

Dengan data seperti diatas didapatkan grafik antara / h dan h


sebagai berikut:

Grafik h vs /h
3
2.5
2
1.5
/h
1
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120

- Batang kompensasi
Dengan menggunakan data tersebut didapatkan delta dan batang
kompensasi sebagai berikut:

batang
batang
kompens
kompensasi
asi
0 0 0
50,5 130 130
55,2 20,7 150,7
59,9 19,9 170,6
66 23,4 194
74,5 23,7 217,7
100 25,2 242,9

Sehingga didapatkan Grafik Tinggi vs Reaktivitas Batang


Kompensasi sebagai berikut:
Grafik Tinggi vs Reaktivitas Batang Kompensasi
300
250
200
150
Reaktivitas Batang Kendali
100
50
0
0 20 40 60 80 100 120

Tinggi Batang Kompensasi

untuk mencari hubungan antara / h dengan h maka digunakan data


sebagai berikut:

/ h h
0 0
2,574257
50,5
426
0,375 55,2
0,332220
59,9
367
0,354545
66
455
0,318120
74,5
805
0,252 100

Dengan data seperti diatas didapatkan grafik antara / h dan h


sebagai berikut:
grafik /h vs h
3
2.5
2
1.5
/h
1
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120

- Batang Pengaman
Dengan menggunakan data tersebut didapatkan delta dan batang
pengaman sebagai berikut:

batang
batang
pengam
pengaman
an
0 0 0
49 140 140
54,6 25,6 165,6
60,2 22 187,6
66 16,9 204,5
76,8 25,9 230,4
100 16,2 246,6

Sehingga didapatkan Grafik Tinggi vs Reaktivitas Batang pengaman


sebagai berikut:
Grafik Tinggi vs Reaktivitas Batang Pengaman
300
250
200
150
Reaktivitas Batang Kendali
100
50
0
0 20 40 60 80 100 120

Tinggi Batang Pengaman

untuk mencari hubungan antara / h dengan h maka digunakan data


sebagai berikut:

/ h h
0 0
2,857142
50,5
857
0,468864
55,2
469
0,365448
59,9
505
0,256060
66
606
0,337239
74,5
583
0,162 100

Dengan data seperti diatas didapatkan grafik antara / h dan h


sebagai berikut:
grafik /h vs h
3.5
3
2.5
2
/h 1.5
1
0.5
0
0 20 40 60 80 100 120

IV. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini tentang kalibrasi batang kendali & core
excess dilakukan di reaktor KARTINI BATAN Yogyakarta, percobaan
pertama yaitu kalibrasi batang pengatur, percobaan dimulai dengan
menaikan batang pengaman secara perlahan hingga posisi naik 100%
kemudian dilanjutkan dengan menaikan posisi batang kompensasi hingga
100% dan selanjutnya dilakukan kalibrasi batang pengatur, kalibrasi
batang pengatur dilakukan dengan cara menaikan batang pengatur dan
dilihat perubahan reaktivitas yang terjadi di reaktor. Untuk mengetahui
besarnya dan menjaga reaktor tetap aman maka percobaan dilakukan
dengan cara menaikan batang pengatur seccara perlahan hingga kondisi
(100W) tertentu kemudian dicatat perubahan reaktivitasnya, setelah itu
batang kompensasi diturunkan perlahan untuk membuat reaktivitas
reaktor berada pada kondisi kritis dengan daya 10 W lagi dan untuk
memudahkan pada pencarian selanjutnya, setelah didapatkan kondisi
reaktor kritis maka batang pengatur dinaikan lagi pada kondisi tertentu
lagi, hal ini dilakukan terus menerus hingga batang pengatur mencapai
kondisi terangkat 100% hasil dari percobaan ini kemudian disimbolkan
sebagai .
Dari data yang didapatkan kemudian dicari hubungan antara tinggi
batang pengatur yang diangkat dengan reaktivitas batang pengatur,
grafik yang didapatkn sudah sesuai dengan teori yang ada, semakin
tinggi batang pengatur dinaikan maka nilai reaktivitas reaktor semakin
tinggi juga, dengan melihat hal tersebut dapat diketahui bahwa nilai
reaktivitas minus yang dipunyai batang pengatur adalah nilai reaktivitas
reaktor yang muncul akibat dari naiknya batang pengatur tersebut,
dengan menganalisa data diatas didapatkan bahwa nilai reaktivitas total
batang pengatur sebesar 143,4 sen.
Untuk grafik antara / h dan h didapatkan hasil yang agak
melenceng dari teori yangada seharusnya didapatkanhasil yang simetris
dan memiliki 1 puncak tetapi pada praktisnya didapatkan bentuk yang
tidak simetris bahkan terdapat dua puncak, namun perbedaan bentuk
dari hasil percobaan tidak terlalu jauh dari teori yang ada.
Percobaan kalibrasi batang kompensasi dan pengaman dilakukan
oleh pihak BATAN Yogyakarta dan mendapatkan reaktivitas negatif untuk
batang kompensasi sebesar 242,9 sen, reaktivitas negatif untuk batang
pengaman sebesar 246,6 sen. Dengan melihat hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa batang pengamanlah yang mempunyai nilai
reaktivitas terbesar hal ini dikarenakan posisi dari batang pengaman
yang berada pada tengah teras reaktor yang mempunyai flux neutron
paling besar, sehingga batang pengaman dapat menyerap neutron lebih
banyak dari pada yang lainnya.
Nilai reaktivitas batang kendali total yaitu jumlah reaktifitas
keseluruhan batang kendali dimana terdapat batang pengaman, batang
kompensasi, dan batang pengatur. Nilai reaktivitas total menjadi 143,4
sen + 242,9 sen + 246,6 sen = 632,9 sen atau setara dengan 6,329 $.

Sedangkan reaktivitas lebih teras (core excess reactivity) dapat


dihitung berdasar kurva integral masing-masing batang kendali dan
mengamati posisi batang kendali pada saat reaktor kritis pada daya
rendah. Reaktivitas lebih teras merupakan jumlah dari reaktivitas bagian
batang kendali yang masih berada dalam teras pada saat reaktor kritis
pada daya rendah. Dari tiap percobaan, didapat nilai reaktivitas lebih
teras yang berbeda-beda. Hal itu dapat disebabkan oleh pembacaan
yang berbeda dari tiap pengamat. Data yang tercatat, diperoleh
reaktivitas lebih teras adalah 98,36667 sen yang merupakan rata-rata
dari keempat data percobaan.

V. PERTANYAAN

VI. KESIMPULAN
a. Dari kurva yang telah diperoleh, didapat bahwa batang pengaman
mempunyai kemampuan kendali neutron paling tinggi, disusul batang
kompensasi dan terakhir batang pengatur.
b. Total reaktivitas batang kendali adalah = 632,9 sen.
c. Core excess (reaktivitas lebih) yang diperoleh adalah 98,36667 sen.

VII. DAFTAR PUSTAKA


[1]. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/549/jbptitbpp-gdl-debymardia-
27410-3-2007ta-2.pdf . Diakses pada tanggal 01 Desember 2015,
pukul 22.36 WIB.
[2]. Budisantoso, E.T. 1998. Petunjuk Praktikum Fisika Reaktor.
Yogyakarta : Badan Tenaga Nuklir Nasional.
[3]. Lamarsh, J. R. 1966. Introduction of Nuclear Reactor Theory.
Massachussets : Addison-Wesley.