Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA REAKTOR

PERCOBAAN A: KEKRITISAN

Di susun oleh:
Nama Praktikan : Bertha Rastika
NIM Praktikan : 13/351050/TK/41264
Hari/Tanggal Praktikum : Rabu / 25 November 2015

PUSAT SAINS DAN TEKNOLOGI AKSELERATOR

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

FASILITAS REAKTOR KARTINI

YOGYAKARTA

2015
Laporan Praktikum Fisika Reaktor

Kekritisan

I. Tujuan
Mahasiswa dapat memperkirakan massa kritis rektor secara aman.

II. Dasar Teori


Agar reaksi pembelahan dalam teras reaktor dapat berlangsung terus-menerus
maka kesetimbangan antara laju produksi neutron dalam sistem dan laju
kehilangan neutron harus dipertahankan sama. Perbandingan antara jumlah
neutron yang dihasilkan dalam satu generasi dengan jumlah neutron yang
dihasilkan pada generasi sebelumnya disebut faktor pelipatan effektif, k eff yang
dinyatakan sebagai berikut:

jumlah neutron dalam suatu generasi


k eff =
jumlah neutron dalam generasi sebelumnya

Reaktor dikatakan kritis apabila jumlah neutron yang diproduksi tiap satuan
volume dan tiap satuan waktu sama dengan jumlah neutron yang hilang tiap
satuan volume dan tiap satuan waktu atau dinyatakan dalam k eff = 1. Apabila
jumlah neutron yang diproduksi lebih besar daripada yang hilang, maka jumlah
neutron akan selalu meningkat dari generasi ke generasi, pada keadaan ini reaktor
dikatakan superkritis atau dinyatakan dengan keff >1. Sedangkan apabila jumlah
neutron yang diproduksi lebih kecil dari jumlah neutron yang hilang maka jumlah
neutron akan selalu berkurang dan akhirnya reaksi fisi berantai dalam teras reaktor
akan terhenti, keadaan ini disebut sebagai kondisi subkritis, dan dinyatakan k eff <1.
(Hidayat, Harto, & Syarip, 2005)

Faktor multiplikasi neutron dapat dituliskan sebagai berikut:

k eff =fp L f Lt

dengan, Lt merupakan faktor tidak bocor sebagai neutron thermal, L f


merupakan faktor tidak bocor sebagai neutron cepat, merupakan faktor fisi
pembelahan total
1
cepat = pembelahan thermal , p merupakan faktor keboleh-jadian bebas

resonansi, f merupakan faktor penggunaan thermal: , serta merupakan

faktor pembelahan thermal: . Apabila medium bahan bakar tak berhingga


besar, maka nilai Lt=Lf=1, sehingga faktor multiplikasi neutron menjadi
k =fp

yang nilainya ditentukan sepenuhnya oleh komposisi material dalam bahan bakar.

k
Untuk mendapatkan hubungan antara dengan geometri elemen
bakarnya maka digunakan teori diffusi neutron yang disederhanakan untuk
neutron dalam satu kelompok energi dengan medium homogen. Berdasarkan teori
diffusi, kekekalan neutron dalam medium bahan bakar dapat dinyatakan sebagai
berikut:

k a=D 2 + a
2
k a+ D a =0

k
( 1) a =0
D 2 +

Persamaan di atas menyatakan kesetaraan neutron antara laju produksi terhadap


proses diffusi dan laju serapan thermal-nya di dalam bahan bakar bilamana
v f 2 D
keadaan tepat kritis. Diketahui bahwa k = a ; L = a

k
k
( 1)
L2
( 1)=

B 2m= a
D

dengan B 2m merupakan buckling material, a


tampang lintang
makroskopis material teras, D merupakan koefisien diffusi material teras, serta L 2
merupakan panjang diffusi. Secara umum kedua persamaan di atas dapat
dituliskan sebagai berikut:
2 2
+ Bm =0

Persamaan diffusi neutron secara umum di atas apabila dituliskan dalam


koordinat silinder maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut:
2 2
1
2
+ + 2 +B 2m =0
r r r r
Persamaan berikut memiliki penyelesaian sebagai berikut:
2,405 r z
( r , z )= A J 0
R' ( )
cos '
H

2,405 2 2
B 2g= ( R')( )
+ '
H

Pada keadaan tepat kritis, buckling geometri hasil penyelesaian pada


2
persamaan B g di atas sama dengan buckling material.

2 2
B g=Bm (kondisi kritis)

Persamaan di atas menjadi syarat terjadinya keadaan tepat kriis dari suatu
kumpulan elemen bakar yang membentuk geometri tertentu. (Budisantoso)
Dengan ketentuan lebih lanjut, R dan H masing-masing merupakan ruji-ruji
dan tinggi terekstrapolasi. Dengan penambahan bahan bakar, maka jari-jari teras
akan bertambah, sedangkan tinggi teras tetap. Massa kritis reaktor selanjutnya
dapat ditentukan dari persamaan sebagai berikut:

mc = R c2 H

Dengan Rc merupakan jari-jari kritis, adalah massa jenis bahan bakar,


serta H merupakan tinggi aktif teras reaktor. (BATAN, 2014)

Elemen bahan bakar Reaktor Kartini mempunyai spesifikasi material sebagai


berikut:
- Jenis perangkat : Elemen Bakar Reaktor TRIGA
- Material kelongsong : SS304
- Material Bahan Bakar : 8,5% U dalam alloy U-Zr-H1.6
- Pengkayaan U-235 : 20%
- Berat U-235 : 38 gram/elemen.
(Budisantoso)

Dalam percobaan ini, penentuan massa kritis dilakukan dengan mengamati


pertambahan populasi neutron terhadap jumlah penambahan bahan bakar ke
dalam teras, sedemikian rupa sehingga harga keff = 1. Untuk maksud tersebut
terlebih dahulu dimasukkan sumber neutron (Am Be) ke dalam teras. Dari
sejumlah S neutron yang masuk ke dalam teras pada saat awal, akan dihasilkan
sejumlah (keff. S) neutron pada akhir generasi pertama dan sejumlah (keff2. S) pada
akhir generasi kedua dan seterusnya. Harga keff akan bertambah dengan
pertambahan bahan bakar. (BATAN, 2014)

III. Hasil Praktikum


Berikut merupakan hasil simulasi program Monte Carlo yang dilakukan oleh
praktikan di Batan:

a. Simulasi yang pertama, praktikan memvariasikan jumlah fuel, dengan kondisi


penuh ketika jumlah bahan bakar = 69.

No Jumlah Bahan
keff
. Bakar
1. 59 0,98969
2. 61 0,99747
3. 63 1,00530
4. 65 1,01101
5. 67 1,0638
6. 69 1,02260

Berdasarkan data di atas, dengan menggunakan interpolasi Langrange,


diperoleh jumlah bahan bakar ketika keff = 1 adalah 61,5536319.

Dalam bentuk grafik, keff terhadap massa bahan fissil dalam teras reaktor
digambarkan sebagai berikut:

Grafik keff vs. massa bahan fissil


1.03

1.02

1.01

1
keff
0.99

0.98

0.97
2200 2250 2300 2350 2400 2450 2500 2550 2600 2650

massa bahan fissil (gram)

b. Simulasi yang kedua, praktikan memvariasikan posisi batang kendali (control


rod), dengan kondisi pada teras reaktor terdapat 69 bahan bakar.

Jenis Batang
Letak Posisi keff
Kendali
Pengatur E1 0 0,99182
Kompensasi C9 500
Pengaman C5 1000

IV. Pembahasan
Praktikum Fisika Reaktor Nuklir yang dilakukan di Fasilitas Reaktor Kartini
BATAN Yogyakarta pada tanggal 25 November 2015, meninjau mengenai
kekrtitisan Reaktor Kartini, serta memperkirakan massa kritis reaktor. Praktikum
ini dilakukan secara simulasi dengan menggunakan simulator Monte Carlo yang
di desain khusus untuk Reaktor Kartini. Langkah pertama dalam perhitungan
massa kritis reaktor adalah dengan menyusun konfigurasi teras reaktor dengan
menggunakan simulator Monte Carlo (MCNP-X), konfigurasi teras reaktor
tersebut dapat dilihat pada lampiran. Terdapat 3 batang kendali (pengaman,
kompensasi, serta pengatur), grafit pada ring F (tidak semua grafit, terdapat bahan
bakar pada ring F), sumber neutron pada F17 (ring F nomor 17), Pneumatic
Irradiation Tube pada F8, CT (Central Timbal) pada ring A yang berfungsi untuk
keperluan irradiasi atau eksperimen dengan fluks maksimum, serta sisanya adalah
spaces untuk bahan bakar (jumlah bahan bakar full adalah 69 fuels).
Pada simulasi pertama, semua batang kendali dalam keadaan fully-up. Untuk
mendapatkan nilai variasi keff, dilakukan dengan cara memvariasikan jumlah
bahan bakar dalam teras reaktor, variasi pertama adalah kehilangan 10 bahan
bakar, sehingga jumlah bahan bakar dalam teras reaktor berjumlah 59 fuels,
kemudian running program akan diperoleh nilai keff sebesar 0,98969. Nilai keff
tersebut bernilai kurang dari 1, maka reaktor dalam keadaan sub-kritis. Jumlah
neutron pada generasi tinjauan lebih sedikit dibandingkan dengan generasi
sebelumnya, menunjukkan bahwa uranium fissil (U-235) dalam jumlah yang
sedikit, sehingga neutron yang dihasilkan akibat reaksi fisi terlampau sedikit jika
dibandingkan dengan jumlah neutron yang bocor ataupun terserap oleh bahan
bakar itu sendiri. Untuk itu, perlu ditambahakan komposisi uranium penghasil
neutron lagi dengan cara menambahakan 2 batang bahan bakar ke dalam
simulator, sehingga bahan bakar dalam teras reaktor saat ini berjumlah 61 fuels.
Running MCNP akan diperoleh keff sebesar 0,99747. Nilai keff masih kurang dari 1
menunjukkan bahwa reaktor masih dalam kondisi sub-kritis. Berikut
ditambahakan 2 bahan bakar lagi dalam simulator MCNP, sehingga total batang
bahan bakar saat ini adalah 63. Kembali dilakukan running program, dan
dihasilkan keff sebesar 1,00530. Nilai keff kini telah bernilai lebih dari 1, dengan
berarti reaktor ini dalam kondisi super-kritis. Penambahan jumlah bahan bakar
sampai kondisi teras reaktor penuh terisi 69 bahan bakar akan semakin
meningkatkan nilai keff. Oleh karena itu praktikan hanya mendapatkan 6 variasi
data keff dengan jumlah bahan bakar. Dengan 6 data variasi ini praktikan dapat
menentukan jumlah bahan bakar dalam kondisi kritis (keff = 1) dengan
menggunkaan metode numerik Lagrangian Interpolation. Hasil interpolasi dengan
menggunakan metode Lagrange diperoleh jumlah bahan bakar ketika keff kritis (keff
= 1), adalah 61,5536319.
Massa kritis reaktor ditentukan dari massa bahan fissil pada saat reaktor dalam
kondisi kritis (keff = 1). Telah diketahui sebelumnya, bahwa elemen bahan bakar
Reaktor Kartini memiliki spesifikasi berat U-235 sebesar 38 gram per elemen
bahan bakar. Oleh karenanya, untuk menentukan massa kritis minimum Reaktor
Kartini dapat diperoleh dari:
mc =61,5536319 38 gram

mc =2339,03801 gram

mc =2,33903801 kg

Massa di atas hanya menunjukkan massa dari U-235 saja, namun pada
kenyataannya elemen bahan bakar Reaktor Kartini merupakan campuran homogen
dari uranium zirkonium hibrida (U-Zr-H). Kandungan uranium sebanyak 8,5%
berat total campuran homogen dalam satu elemen bakar dan kandungan U 235
sebesar 20% dari berat uranium. Nilai 20% tersebut merupakan berat isotop U 235
pada setiap elemen bahan bakar sekitar 38 gram.

Pada kenyataannya massa kritis yang didapatkan berdasarkan perhitungan di


atas tidak berarti tepat pada kondisi teras yang sebenarnya, karena perhitungan
massa kritis dengan menggunakan simulator MCNP di atas disertai dengan asumsi
bahwa massa U-235 dalam setiap elemen bahan bakar disesuaikan dengan burn
up elemen tersebut, massa U-238 dalam elemen bakar bekas dianggap sama
dengan yang ada di dalam elemen bakar baru, serta seluruh hasil fissi maupun
bahan racun lainnya yang ada di dalam elemen bakar diabaikan.

Pada grafik keff vs. massa bahan fissil (U-235), dapat dilihat bahwa semakin
tinggi nilai keff maka akan semakin meningkat pula massa bahan fissil yang
diperlukan. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi nilai k eff menunjukkan
bahwa semakin banyak neutron yang dihasilkan dari reaksi fissi, namun jumlah
neutron yang hilang akibat bocor dan diserap bahan bakar itu sendiri lebih sedikit.
Kelebihan jumlah produksi neutron dibandingkan dengan jumlah neutron yang
hilang disebabkan karena berat bahan fissil yang melimpah sehingga
memungkinkan reaksi berantai yang mampu menghasilkan neutron yang
melimpah juga.

Massa kritis reaktor juga dapat dihitung dengan menggunakan persamaan


mc = R c2 H , namun sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu jari-jari kritis

reaktor serta tinggi aktif teras reaktor. Untuk tinggi aktif teras reaktor nilainya
selalu konstan,begitu juga untuk massa jenis uranium-235, namun untuk jari-jari
kritis (Rc), nilainya akan selalu berubah, bergantung pada penambahan elemen
bahan bakar. Untuk praktikum ini karena hanya dilakukan dengan simulator
MCNP, praktikan tidak dapat mendapatkan data C (laju cacah yang tercatat pada
detektor yang ditempatkan di sekitar reaktor), melainkan data yang diperoleh pada
running simulator berupa keff. Sehingga, praktikan tidak bisa memvariasikan nilai
1 1 1
c terhadap R2 dan pada saat harga c = 0, akan diperoleh jari-jari kritis,

Rc. Dengan diketahuinya nilai Rc, maka massa kritis reaktor (mc) juga akan
2
diketahui berdasarkan persamaan: mc = R c H .

V. Kesimpulan
1. Massa kritis reaktor adalah massa minimum bahan fissil (U-235) agar reaktor
berada dalam keadaan kritis (keff = 1), sehingga populasi neutron dalam teras
reaktor adalah konstan.
2. Massa kritis minimum Reaktor Kartini adalah 2,33903801 kg.

VI. Lampiran
Konfigurasi teras reaktor:
VII. Daftar Pustaka

BATAN. (2014). Petunjuk Praktikum Fisika reaktor. Yogyakarta.

Budisantoso, E. T. (t.thn.). Analisis Kekritisan Elemen Bakar Reaktor Kartini.


Yogyakarta.

Hidayat, T., Harto, A. W., & Syarip. (2005). Studi Neutronik Teras Reaktor Kartini
Menjadi Teras Reaktor Daya TRIGA dengan Daya 8 MWT. Prosiding Seminar
Nasional Sains dan Teknik Nuklir, (hal. 420). Bandung.