Anda di halaman 1dari 2

Pencemaran lingkungan tanah belakangan ini mendapat perhatian yang

cukup besar, akibat dari sector inustri global yang mematok hasil roduksi yang
tinggi berimbas pada pencemaran yang tinggi, salah satunya pencemaran tanah.
Sumber pencemar tanah umumnya adalah logam berat dan senyawa aromatik
beracun yang dihasilkan melalui kegiatan pertambangan dan industri. Senyawa-
senyawa ini umumnya bersifat mutagenik dan karsinogenik yang sangat
berbahaya bagi kesehatan (Joner dan Leyval, 2001 dalam Madjid, 2009). Dampak
negative yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu mendapat
perhatian khusus, karena limbah yang mencemari tanah pertanian dan lingkungan
ttersebut mengandung zat yang berbahaya. Zat berbahaya ini mengandung
sejumlah bahan kimia bebahaya yang dapat mencemari tanah dan mampu
merusak tanaman yang mampu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
manusia. Dalam fakta tersebut jelaslah bahwa dalam mengatasi pencemaran tanah
tersebut perlu ditanggulangi lebih lanjut.

Pencemaran tanah ini dapat diatasi dengan teknik bioremediasi. Bioremediasi


adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan
mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremidiasi tanah yang tercemar logam berat
ataupun limbah lainnya sudah banyak dilakukan dengan menggunakan bakteri
pereduksi limbah sehingga limbah yang tereduksi ke dalam tanah tidak dapat
diserap oleh tanaman. Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi
zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon
dioksida dan air)Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki
kontribusi yang lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat
dengan meningkatnya kadar logam berat (Fleibach, et al, 1994 dalam Madjid,
2009).

Pada praktikum kali ini dilakukan langkah awal dalam pelaksanaan


bioremediasi yaitu dengan melaukan pehitungan konsentrasi TPH yang dilakukan
untuk menguji kadar suatu sampel tanah dapat ditangani pencemarannya melalui
bioremediasi atau tidak.

Dewasa ini, permasalahan lingkungan kerap menjadi perbincangan seluruh


Negara di dunia ini. pasalnya lingkungan merupakan tempat dan habitat makhluk
hidup termasuk manusia yang sangat dinamis. Diperlukan oerawatan, pelestarian,
dan penjagaan terhadap lingkungan hidup. Begitu banyak permasalahan
lingkungan disekitar tempat tinggal manusia. Pencemaran terjadi di berbagai
sudut kota. Pencemaran air, udara, dan tanah. Salah satu permasalahan
lingkungan yang paling vital adalah pencemaran tanah.
Tanah merupakan sumber segala kehidupan. Berbagai siklus kimiawi dan
biologis meliatkan tanah sebagai media pertukaran gas, perubahan wujud zat,
degradasi zat organic, dan pertukaran zat hara dalam tumbuhan. Rantai kehidupan
yang melibatkan manusia juga sangat tergantung pada tanah. Berawal dari
tumbuhan di tanah yang dimakan herbivore, berlanjut ke karnivor, lalu sampai
manusia. Kemudian zat sisa juga kembail pada tanah dan diurai dalam tanah oleh
decomposer.
Pencemaran tanah yang diutama disebabkan oleh kandungan racun
hidrokarbon yang dihasilkan oleh kegiatan manufaktur skala besar, pembangunan
infrastruktur, dan pengeboran minyak. Solusi yang digunakan untuk mengatasi
permasalah pencemaran tanah adalah dilakukannya bioremediasi. Bioremediasi
adalah metode pemulihan atau pemindahan material berbahaya (pencemar) dari
daerah yang tercemar dengan menggunakan mikroba. Ketertarikan pada ilmu
bioremediasi tanah tercemar meningkat dalam dua decade terakhir ini. hal ini
disebabkan bahwa ilmu pengetahuan telah menelaah adanya mikroba yang dapat
mendegradasi hidrokarbon beracun dan unsur toxic-xenobiotik. (Singh, 2004).
Mekanisme bioremediasi, melibatkan makluk hidup sebagai pelaku degradasi
hidrokarbon, yakni mikroba. Oleh karena itu, banyak kondisi-kondisi yang harus
dipenuhi agar mikroba dapat bekerja dengan optimal. Untuk mendegradasi
kontaminan dalam tanah, mikroba membutuhkan kondisi lingkungan yang
mendukung. Kondisi tersebut antara lain pH, kelembaban, suhu, nutrisi, dan
aerasi tanah yang dapat membuat mikroba bekerja dengan baik dan optimal.
Maka, perlu diberikan bulking agents untuk dapat mengatasi kondisi tersebut.
Maka, dibutuhkan bulking agents untuk dapat meningkatkan porositas dan
permeabilitas tanah. Tanah dengan porositas rendah khususnya lempung dan
lumpur, biasanya memiliki siklus aerasi yang kurang baik. Hal ini disebabkan
oleh permeabilitas yang rendah. Bulking agents yang digunakan biasanya
memiliki ukuran partikel yang cukup besar seperti material kayu (serbuk kayu),
sekam padi, rumput liar, dan sampah tumbuhan lainnya. (Singh, 2003).
Jenis bulking agents memengaruhi laju remediasi yang dilakukan mikroba.
Dengan meningkatnya aerasi, permeabilitas, dan porositas tanah diharapkan dapat
memberikan kondisi ideal bagi laju bioremediasi.