Anda di halaman 1dari 4

LEGAL ETIK ISU DALAM KEPERAWATAN JIWA

Oleh bu Shanti

A. Overview
1. Seorang perawat yang bekerja dalam lingkup kesehatan jiwa
bertanggung jawab dalam mempraktekkan keperawatan secara etis,
berkompeten, aman, dan konsisten dengan hukum daerah setempah
dan negara.
2. Perawat bertanggung jawab untuk memahami dan melindungi hak-hak
klien.
B. Pentingnya legislasi (hukum) kesehatan jiwa
1. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah bagian rentan dari
populasi secara keseluruhan.
2. Orang dengan gangguan jiwa biasa menghadapi stigma dari
masyarakat.
3. ODGJ biasa mengalami permasalahan ekonomi dan diskriminasi.
4. Tidak adanya legislasi kesehatan jiwa pada 25% negara yang
penduduknya mencakup 32% penduduk dunia.
C. Interaksi antara legislasi (hukum) dan kebijakan kesehatan jiwa
1. Hak asasi manusia
2. Integrasi komunitas
3. Hubungan dengan sektor lain
4. Peningkatan kualitas pelayan kesehatan jiwa
D. Hak-hak pasien dilingkup kesehatan jiwa
1. Pasien dengan gangguan kesehatan jiwa memiliki hak yang sama
dengan penduduk lain, Seperti:
a. Penangan yang manusiawi dalam bidang kesehatan
b. Hak untuk memilih
c. Hak untuk mendapatkan keadilan lewat proses hukum
2. Klien dengan gangguan jiwa memiliki hak-hak khusus, seperti:
a. Informed consent : Hak untuk menolak tindakan perawatan
b. Hak kerahasiaan
c. Hak untuk memeriksa rencana keperawatan tertulis
d. Hak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang dari luar
e. Pemberian pelayanan interpretasif jika dibutuhkan
f. Perawatan diberikan dengan rasa hormat, menghargai, dan tanpa
diskriminasi.
g. Terbebas dari cedera yang erhubungan dengan restrain fisik atau
farmakologis, seklusi, dan kekerasan fisik atau mental atau
kelalaian.
h. Pemberian perawatan dilakukan dengan memilih intervensi yang
paling tidak memberatkan.
E. Prinsip-prinsip etik
PRINSIP DEFINISI CONTOH
ETIK
Beneficence Keinginan untuk melakukan Perawat yang
kebaikan dan bisa di deskripsikan membantu pasien
sebagai suatu bentuk amalan ODGJ dapat
membuat pasien
merasa aman dan
nyaman
Autonomy Klien memiliki hak untuk membuat Perawat
keputusan dalam perawatannya memberikan
penjelasan tindakan
kepada pasien
sebelum melakukan
tindakan, dan pasien
bisa memilih
tindakan apa yang
dilakukan dalam
perencanaan
keperawatan
Fidelity Loyalitas atau kesetiaan pada klien Klien pernah
dan tugas perawat meminta untuk
menelpon
keluarganya di akhir
pekan dan perawat
menjanjikan pada
klien hal tersebut.
Di akhir pekan,
perawat menepati
janji pada klien dan
memperbolehkan
klien untuk
menelpon
keluarganya
justice Perawatan yang adil dan setara Perawat
untuk semuanya memberikan
pelayanan dan
fasilitas yang sesuai
dengan kelas
perawatan yang
diminta oleh pasien
veracity Jujur pada saat berhadapan dengan Saat pasien
pasien menanyakan apakah
keluarganya akan
menjenguk hari ini?
Perawat menjawab
pertanyaan pasien
sesuai dengan fakta
yang ada
confidentiality Data yang dimiliki pasien hanya Perawat hanya
diketahui oleh perawat dan petugas memberitahukan
kesehatan terkait data pasien kepada
pasien, wali pasien,
perawat yang lain,
serta tenaga medis
terkait

F. Model untuk memilih keputusan perawatan yang etis


1. Pengkajian
2. Identifikasi masalah
3. Rencana :
a. Mempertimbangkan keuntungan dan konsekuensi dari rencana
b. Memperhatikan aspek prinsip-prinsip etik keperawatan
c. Mempersiapkan alternatif-alternatif
4. Implementasi
5. Evaluasi
G. Jenis-jenis perujukan ke fasilitas kesehatan jiwa
1. Perujukan secara volunter (sukarela)
a. Klien atau wali klien memutuskan untuk merujuk ke fasilitas
kesehatan jiwa dalam rangka mencapai kesehatan jiwa.
b. Pasien dianggap mampu dan memiliki hak untuk menolak tindakan
atau pengobatan.
2. Perujukan secara tidak sukarela (involunter)
Pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan jiwa tanpa sekehendaknya selama
periode waktu yang tidak ditentukan. Rujukan ini di dasarkan pada
kebutuhan klien untuk mendapatkan kesehatan jiwa, resiko mencederai
diri sendiri atau orang lain, ketidakmampuan untuk merawat diri
sendiri.
H. Hak-hak klien terhadap tindakan isolasi dan restrain
1. Perawat melakukan restrain dan isolasi sesuai dengan kebijakan
fasilitas kesehatan terkait.
2. Penggunaan ruang isolasi dan restrain dapat dilakukan dan diizinkan
pada pasien pada kasus-kasus khusus.
3. Restrain dan isolasi sebaiknya dilakukan pada waktu sesingkat-
singkatnya.
4. Klien berhak untuk meminta di isolasi apabila lingkungan sekitar klien
terlalu mengganggu atau terlalu menstimulasi.
5. Restrain dapat dilakukan secara fisik maupun secara kimiawi, seperti
dengan obat-obatan neuroleptik.
6. Isolasi ataupun restrain tidak boleh dilakukan untuk :
a. Memudahkan kerja staff rumah sakit.
b. Menghukum pasien.
c. Pasien yang kondisi fisik maupun mentalnya sangat tidak stabil.
d. Pasien yang tidak toleran terhadap kondisi ruang isolasi yang
sangat sepi.
I. Kewajiban perawat saat melakukan tindakan restrain dan isolasi
1. Mengkaji keamanan dan kebutuhan fisik dari pasien.
2. Mendokumentasikan respon pasien secara lengkap.
3. Memberikan makanan dan minuman secukupnya.
4. Membantu proses toileting pada psien.
5. Mengkaji seara terus-menerus kondisi vital sign pasien.
J. Dokumentasi terkait proses isolasi dan restrain
1. Faktor yang menyebabkan dilakukannya tindakan restrain dan isolasi
pada pasien.
2. Tindakan alternatif yang sudah dilakukan sebelum melakukan restrain
isolasi.
3. Waktu mulai dilakukannya restrain atau isolasi.
4. Kondisi klien meliputi:
a. Tingkah laku saat dilakukan isolasi atau restrain.
b. Makanan serta minuman yang diberikan pada pasien beserta
jumlahnya.
c. Kebutuhan yang diberikan pada pasien (toileting, mandi, dsb).
d. Konsisi tanda-tanda vital pasien pasa saat dilakukannya restrain
atau isolasi.
5. Obat yang diberikan beserta dosisnya.