Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MANAJEMEN KONFLIK

KELOMPOK :
AFDHIL FAHMI ROSYADI
AHMAD NUR SETIADI
HERFANI SETYO PRYANDIKA
ULI NUHO

STIKES HARAPAN BANGSA PRODI DII


PURWOKERTO
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat
pada waktunya dengan judul : Manajamen Konflik.
Kami juga menyadari bahwa dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini, masih
banyak terdapat kekurangan maupun kekeliruan. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan
saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.
Dan tidak lupa pula kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi diri kami pribadi dan para pembaca pada
umumnya.

Purwokerto,10 April 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Belakang................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 2
C. Tujuan............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................. 3
A. Definisi Manajemen Konflik.......................................................... 3
B. Jenis-Jenis Konflik......................................................................... 4
C. Sumber Konflik.............................................................................. 7
D. Pengelolaan Konflik....................................................................... 8
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 10
A. Kesimpulan..................................................................................... 10
B. Saran............................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sepanjang kehidupan manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik
baik itu secara individu maupun organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat
dihindarkan. Demikian halnya dengan kehidupan organisasi, setiap anggota organisasi
senantiasa dihadapkan pada konflik entah itu konflik antar individu, konflik antar
kelompok atau yang lain. Di dalam organisasai perubahan atau inovasi baru sangat rentan
menimbulkan konflik (destruktif). Dalam paradigma lama banyak orang percaya bahwa
konflik akan menghambat organisasi berkembang. Namun dalam paradigma baru ada
pandangan yang berbeda. Konflik memang bisa menghambat, jika tidak dikelola dengan
baik, namun jika dikelola dengan baik konflik bisa menjadi pemicu berkembangnya
organisasi menjadi lebih produktif.
Manajemen konflik sangat berpengaruh bagi anggota organisasi. Pemimpin
organisasi dituntut menguasai manajemen konflik agar konflik yang muncul dapat
berdampak positif untuk meningkatkan mutu organisasi.
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak
luar dalam suatu konflik, termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses
yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun
pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi.
Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah
informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara
pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.\

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi manajemen konflik?
2. Apa saja Jenis-jenis konflik?
3. Sumber konflik ?
4. Pengelolaan konflik?

C. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini,adalah:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Manajemen.
2. Sebagai media pembelajaran mengenai Manajemen Konflik.
3. Mengetahui konsep manajemen konflik, yang meliputi definisi konflik, aspek-asfek dan
factor-faktor yang mempengaruhi manajemen konflik, mode dan langkah untuk menangani
konflik dan penerapan manajemen konflik.
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI MANAJEMEN KONFLIK


Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun
pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang
berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah
laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan
dan interpretasi.
1. Definisi Manajemen
a. R Terry
Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-
tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian
yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang
telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-
sumber lainnya.
b. James F Stoner
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, dan
penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai
tujuan rganisasi yang telah ditetapkan.
2. Definisi Konflik
Ada beberapa pendapat mengenai manajemen konflik diantaranya :
a. Menurut Ross (1993), manajemen konflik merupakan langkah-langkah
yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan
perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin
menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau
tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat,
atau agresif.
b. Menurut Minnery (1980:220) menyatakan bahwa manajemen konflik
merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan
proses. dan proses manajemen konflik perencanaan kota merupakan
bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model
manajemen konflik perencanaan kota secara terus menerus mengalami
penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Konflik
adalah suatu cara atau proses mengambil langkah-langkah oleh para pelaku atau
pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil yang positif
dengan melakukan pendekatan, komunikasi dan evaluasi untuk mendapatkan
penyempurnaan untuk mendukung tujuan yang telah ditetapkan.

B. JENIS-JENIS KONFLIK
Konflik itu mempunyai banyak jenis seperti yang dikatakan James A.F. Stoner dan
Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflikyaitu konflik intrapersonal, konflik
interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik
antar organisasi.
1. Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri.
Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan
yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Sebagaimana diketahui bahwa dalam
diri seseorang itu biasanya terdapat hal-hal sebagai berikut:
a. Sejumlah kebutuhan-kebutuhan dan peranan-peranan yang bersaing
b. Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi di antara dorongan
dan tujuan.
c. Terdapatnya baik aspek yang positif maupun negatif yang menghalangi
tujuan tujuanyang diinginkan.
Hal-hal di atas dalam proses adaptasi seseorang terhadap
lingkungannya acap kali menimbulkan konflik. Kalau konflik dibiarkan maka
akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan.

Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu :


a. Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada
dua pilihan yang sama-sama menarik.
b. Konflik pendekatan penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan
pada dua pilihan yang sama menyulitkan.
c. Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan
pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus.

2. Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan
orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Maka Hal ini
sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan
lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat
penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan
melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa
tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut. Konflik
antar individu-individu dan kelompok-kelompok Hal ini seringkali
berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk
mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja
mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seseorang individu dapat
dihukum oleh kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-
norma produktivitas kelompok dimana ia berada.
Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama Konflik ini
merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasiorganisasi.
Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja manajemen merupakan dua
macam bidang konflik antar kelompok. Konflik antara organisasi Contoh
seperti di bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain
dianggap sebagai bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan
persaingan.Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan
timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru,
harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
3. Konflik antar perorangan
Konflik antar perorangan terjadi antara satu individu dengan individu
lain atau lebih. Konflik ini biasanya disebabkan oleh adanya perbedaan sifat
dan perilaku setiap orang dalam organisasi. Hal ini biasanya pernah dialami
oleh setiap anggota organisasi baik hanya dirasakan sendiri maupun
ditunjukkan dengan sikap. Misalnya seorang manajer pemasaran merasa tidak
senang dengan hasil kerja manajer produksi. Akan tetapi perasaan ini tidak
selalu dilakukan secara terbuka tapi bisa juga secara diam-diam. Apabila ini
berlangsung lebih lama, bisa menyebabkan ketidak selarasan dalam
pengambilan keputusan.
4. Konflik Antar Kelompok
Konflik antar perorangan terjadi antara satu individu dengan individu
lain atau lebih. Tingkat lainnya dalam konflik di organisasi adalah konflik
antar kelompok. Seperti diketahui bahwa sebuah organisasi terbentuk dari
beberapa kelompok kerja yang terdiri dari banyak unit. Apabila diantara unit-
unit disuatu kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari
kelompok lain maka manajer merupakan pihak yang harus bisa menjadi
penghubung antara keduanya. Hubungan pertentangan ini apabila
dipertahankan maka akan menjadi koordinasi dan integrasi kegiatan-kegiatan
menjadi sulit.
5. Konflik antar organisasi
Konflik juga bisa terjadi antara organisasi yang satu dengan yang lain.
Hal ini tidak selalu disebabkan oleh persaingan dari perusahaan-perusahaan di
pasar yang sama. Konflik ini bisa terjadi karena adanya ketidak cocokan suaut
badan terhadap kinerja suatu organisasi.
Sebagai contoh badan serikat pekerja di cocok dengan perlakuan suatu
perusahaan terhadap pekerja yang menjadi anggota serikatnya. Konflik ini
dimulai dari ketidak sesuaian antara para manajer sebagai individu yang
mewakili organisasi secara total. Pada situasi konflik seperti ini para manajer
tingkat menengah kebawah bisa berperan sebagai penghubung-penghubung
dengan pihak luar yang berhubungan dengan bidangnya.
Apabila konflik ini bisa diselesaikan dengan prioritas keorganisasian
atau perbaikan pada kegiatan organisasi, maka konflik-konflik bisa dijadikan
perbaikan demi kemajuan organisas

C. SUMBER KONFLIK
1. Teori hubungan masyarakat. Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi
yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang
berbeda dalam suatu masyarakat. Sasaran: meningkatkan komunikasi dan saling
pengertian antara kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi
dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada didalamnya.

2. Teori kebutuhan manusia. Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh
kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau
dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas,
pengakuan, partisipasi, dan otonomi. Sasaran: mengidentifikasi dan mengupayakan
bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan
untuk memenuhi kebutuhan itu.
3. Teori negosiasi prinsip. Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi
yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang
mengalami konflik. Sasaran: membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan
perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu dan memampukan mereka untuk
melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang
sudah tetap. Kemudian melancarkan proses kesepakatan yang menguntungkan kedua
belah pihak atau semua pihak.
4. Teori identitas. Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam,
yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak
diselesaikan. Sasaran: melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang
mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan ketakutan di antara
pihak tersebut dan membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.
5. Teori kesalahpahaman antarbudaya. Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh
ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
Sasaran: menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai budaya
pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain,
meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.
6. Teori transformasi konflik. Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-
masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial,
budaya dan ekonomi.

D. PENGELOLAAN KONFLIK
Banyak istilah tentang pengelolaan konflik namun fisher menggunkan istilah
transformasi konflik sebagai padanannya. (fisher,2001) . istilah lain yang sering muncul
selain pengelolaan konflik dan transformasi konflik antara lain : pencegahan konflik,
penyelesaian konflik, dan resolusi konflik. Masing-masing mempunyai makna yang
berbeda tipis dalam fase penerapannya.
Beberapa pendekatan konflik yaitu :
1. Pencegahan konflik : tujuannya mencegah munculnya konflik yang keras
2. Penyelesaian konflik : tujuannya mengakhiri prilaku kekerasan melalui suatu
persetujuan perdamaian
3. Pengelolaan konflik : tujuannya membatasi dan menghindari kekerasan dengan
mendorong perubahan prilaku yang positif bagi pihak yang terlibat
4. Resolusi konflik : tujuannya menangani nsebab konflik dan berusaha membangun
hubungan baru yang bisa tahen lama antar kelompok-kelompok yang bermusuhan
5. Transformasi konflik : tujuannya mengatasi sumber-sumber konflik yang lebih luas
dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi yang positif.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Manajemen konflik merupakan suatu cara atau langkah yang dilakukan oleh pelaku
konflik untuk mengarahkan suatu pertentangan ke arah hasil tertentu melalui beberapa
metode pengelolaan konflik baik dengan atau tanpa pihak ketiga.

B. SARAN
Untuk mengatasi konflik diperlukan pihak yang dapat bersikap netral dalam
mengambil sebuah keputusan sehingga konflik dalam manajemen dapat diatasi dan
diarahkan ke arah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Lukman, Hakim, 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta : Genta Press.


http://raitetsu.wordpress.com/2009/11/29/jenis-jenis-konflik/
http://www.masbied.com/2010/06/04/metode-pengelolaan-pengurangan-dan-penyelesaian-
konflik/
http://fardiansyah7fold.wordpress.com/11
http://www.pengertianmanagement.blogspot.com/2013/03/managemen-konflik-definisi-ciri-
sumber.html