Anda di halaman 1dari 20

Evaluasi Belanja (Expenditure Review)

Keuangan Negara dan Dearah

Oleh:

Norfadilla 1410531036
Yulia Efrina 1410531041
Olivia Solina 1410531044

Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi


Universitas Andalas
Padang
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat
dan kasih-Nya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah penulis terima, serta petunjuk-
Nya sehingga memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyusun makalah ini.

Didalam makalah ini penulis selaku penyusun hanya bisa memberikan sebatas ilmu
yang dirangkum kedalam topik Review Kritikal atas Belanja Pemerintah Pusat/Daerah.
Dimana didalam topik ini ada beberapa hal yang penting untuk dipahami dan dianalisa oleh
masyarakat luas, terutama untuk pemerintah daerah.

Penulis menyadari bahwa ada keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang


analisa keuangan negara dan daerah yang digunakan pada makalah ini, oleh karena itu masih
terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Tak ada gading
yang tak retak, maka penulis menerima semua kritikan dan saran demi kesempurnaan
penulisan.

Harapan penulis, semoga makalah ini membawa manfaat bagi kita semua,
terutama masyarakat Sumatera Barat. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang terkait didalam pembuatan makalah ini.

Padang, 23 April 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................1
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ......................................................................................2

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Cost and Benefit Analysis (CBA) ...............................................................................5


2.1.1 Pengertian CBA..............................................................................................5
2.1.2 Tujuan CBA...................................................................................................5
2.1.3 Manfaat CBA................................................................................................6
2.1.4 Kekuatan dan Kelemahan CBA....................................................................6
2.1.5 Langkah Pengukuran CBA............................................................................7
2.1.6 Metode Analisis Biaya dan Manfaat.............................................................9
2.1.7 Penerapan Analisis Biaya dan Manfaat.........................................................11
2.1.8 Pengukuran Kebijakan Analisis Biaya dan Manfaat.....................................12
2.2 Value for Money.........................................................................................................13
2.2.1 Pengertian Value for Money.........................................................................13
2.2.2 Value for Money sebagai Metode Penilaian Kinerja....................................14
2.2.3 Pengukuran Kinerja dengan Menggunakan Value for Money.....................14
2.2.4 Langkah-Langkah Pengukuran Value for Money........................................15
2.2.5 Tujuan Value for Money..............................................................................16

BAB III : PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan .................................................................................................................18

3.2 Saran ............................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................19
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Terbatasnya anggaran yang dimiliki oleh pemerintah pusat maupun daerah
menimbulkan permasalahan bagi pemerintah untuk menentukan alternatif-alternatif
program pemerintah yang akan dilaksanakan guna meningkatkan aspek sosial, ekonomi,
budaya dan lainnya dalam negara mapun daerah dengan tujuan dapat meningkatkan
kemakmuran dan kenyamanan baik masrayakat publik mapun daerah. Sehingga dalam
menentukan pilihan terhadap alternatif program atau intervensi yang ada pemerintah
memerlukan suatu alat untuk menganalisis akibat baik dan buruknya suatu keputusan
yang diambil.
Dengan adanya suatu alat analisis yang berguna dalam evaluasi ekonomi yang
membantu pemerintah dalam mengurangi kesalahan akibat pilihan yang akan diambil,
pemerintah dapat menggunakan Cost and Benefit Analysis (CBA). Dengan adanya alat
analisis ini, pemerintah maupun investor dapat mengambil keputusan terdahap berbagai
pilihan atas alternatif yang tersedia untuk memberikan dana terhadap suatu proyek atau
aktivitas.
Dalam perkembangannya, pengelolaan organisasi sektor publik, khususnya dalam
bagian keuangan telah melakukan reformasi yang bisa disebut value for money yang
menekankan tentang pengelolaan organisasi sektor publik yang dilakukan secara
ekonomis, efisien, dan efektif. Ketiga hal tersebut merupakan elemen pokok dalam
konsep value for money. Adanya ketiga unsur pokok tersebut diharapkan di terapkan pada
setiap organisasi sektor publik yang ada di Indonesia, agar terjadi sinergi positif terhadap
perkembangan perekonomian bangsa Indonesia.
Pengelolaan keuangan menrupakan perihal yang penting dalam upaya pengembangan
efektifitas dan efisiensi kinerja pemerintah. Pengelolaan semacam ini berorientasi pada
kemampuan pemerintah melaksanakan kebijakan, keputusan, rencana, serta terjun
langsung dalam pelaksanaan program-program yang telah ditentukan. value for
money diharapkan mampu melakukan pengawasan (controlling) terhadap kebijakan
pemerintah yang berkaitan dengan keuangan. Sehingga ada sinergi atau keterkaitan antara
nilai keuangan dengan komponen-komponen yang berkaitan dengan pengganggaran.
Konsep ini juga dapat dijadikan sarana pendorong kebutuhan ekonomi bangsa, yaitu
dengan mengurangi permasalahan-permasalahan ekonomi yang ada di bangsa ini, seperti
pengangguran dan kemiskinan.
Dengan pengelolaan keuangan organisasi sektor publik yang telah berjalan sesuai
sistem kinerja organisasi dan berorientasi pada tujuan yang jelas, maka tujuan organisasi
akan diarahkan dan dicapai dengan mudah dengan dibarengi perkembangan kualitas
sumber daya yang ada.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimanakah analisis konsep dari CBA?
2. Bagaimana cara untuk menentukan alternatif terbaik?
3. Apa konsep value for money?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN


1.3.1. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui konsep dari CBA
2. Dapat menghitung CBR dengan menganalisa alternatif
3. Memperdalam pengetahuan mengenai value for money
1.3.2. MANFAAT PENULISAN
1. Bagi Akademisi
Makalah ini diharapkan dapat membantu dalam menambah pengetahuan
untuk menghitung evaluasi pendapatan melalui perhitungan CBA/CBR.
2. Bagi Pembaca
Makalah ini diharapkan dapat menjadi sarana belajar dan referensi bagi
mahasisiwa dalam membantu mereka untuk mendapatkan pengetahuan
mengenai keuangan negara dan daerah terdahap evaluasi belanja.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Cost And Benefit Analysis (CBA)

1.Pengertian

Cost Benefit Analysis merupakan salah satu jenis evaluasi ekonomi. Evaluasi
ekonomi adalah cara untuk melakukan perbandingan terhadap tingkat efisiensi beberapa
intervensi (Probandari, 2007). Cost Benefit Analysis atau Benefit-Cost Analysis
merupakan salah satu metode yang digunakan pada proses evaluasi manajemen. Tidak
menutup kemungkinan juga analisis ini digunakan dalam tahap perencanaan. Analisis ini
digunakan untuk menilai beberapa alternatif sumber daya maupun program yang
memiliki manfaat lebih besar atau lebih baik dari alternatif lainnya.

Cost Benefit Analysis adalah tipe analisis yang mengukur biaya dan manfaat
suatu intervensi dengan beberapa ukuran moneter dan pengaruhnya terhadap hasil
perawatan kesehatan. Tipe analisis ini sangat cocok untuk alokasi beberapa bahan jika
keuntungan ditinjau dari perspektif masyarakat. Analisis ini sangat bermanfaat pada
kondisi antara manfaat dan biaya mudah dikonversi ke dalam bentuk rupiah (Orion,
1997) Jadi, Cost Benefit Analysis (CBA) adalah suatu analisis sistematis yang digunakan
untuk menghitung serta membandingkan biaya dan manfaat dari suatu proyek, keputusan
maupun kebijakan pemerintah.

2. Tujuan

a. Menentukan apakah suatu proyek merupakan suatu investasi yang baik.

b. Memberikan dasar untuk membandingkan suatu proyek, termasuk membandingkan


biaya total yang diharapkan dari setiap pilihan dengan total keuntungan yang
diharapkan, untuk mengetahui apakah keuntungan melampaui biaya serta berapa
banyak.

c. Untuk mengetahui besaran keuntungan atau kerugian serta kelayakan suatu proyek.
Analisis ini memperhitungkan biaya serta manfaat yang akan diperoleh dari
pelaksanaan program. Perhitungan manfaat dan biaya merupakan satu kesatuan yang
tidak bisa dipisahkan.
d. Untuk mengetahui seberapa baik atau seberapa buruk tindakan yang akan
direncanakan akan berubah. Analisis ini sering digunakan oleh pemerintah dan
organisasi lainnya, seperti perusahaan swasta, untuk mengevaluasi kelayakan dari
kebijakan yang diberikan.

3 Manfaat

Manfaat Cost Benefit Analysis adalah dapat membantu dalam proses pengambilan
keputusan baik pemerintah maupun sumber dana. Dengan adanya CBA sumber dana
dapat yakin untuk menginvestasikan dana dalam berbagai proyek. Selain itu, CBA dapat
dilakukan untuk mengontrol perkembangan proyekyang bersangkutan pada tahun-tahun
ke depannya. CBA juga bermanfaat untuk mengevaluasi suatu proyek yang telah selesai
dikerjakan. Tujuan dilakukannya evaluasi ini adalah untuk mengetahui kinerjasuatu
proyek dan hasil analisis yang telah dilakukan dapat digunakan untuk perbaikan program
yang selanjutnya.

4. Kekuatan dan Kelemahan CBA

Kekuatan Cost Benefit Analysis

Penggunaan sumber sumber ekonomi menjadi lebih efisien. Jika efisiensi


meningkat, pencapaian kesejahteraan masyarakat dari kebijakan publik yang
diimplementasikan lebih maksimal. Analisis biaya manfaat dalam pengitungan
biaya maupun manfaat diukur dengan mata uang sebagai unit nilai, sehingga
memudahkan efisiensi.
Sebagai dasar yang kuat guna mempengaruhi pengambilan keputusan
contohnya seperti pemerintah atau sumber dana serta meyakinkan mereka untuk
mengivestasikan dana dalam berbagai proyek
Dapat mengukur efisiensi ekonomi (ketika satu pilihan dapat meningkatkan
efisiensi, pilihan tersebut harus diambil).
Tidak hanya membantu mengambil kebijakan untuk memilih alternatif terbaik
dari pilihan yang ada, yang dalam hal ini pemilihan alternatif terbaik dilakukan
berdasarkan alasan perbandingan antara life cycles benefit dengan biaya yang
dikeluarkan, melainkan juga dapat membandingkan alternatif-alternatif tersebut.
Dapat mengontrol perkembangan dari proyek yang bersangkutan pada tahun-
tahun ke depan.
Dapat mengkuantifikasikan biaya dan manfaat yang bersifat kualitatif maupun
intangible.
Kelemahan Cost Benefit Analysis

Analisis ini membutuhkan waktu dan proses yang lama


Tidak memiliki fleksibilitas tinggi, karena semua penghitungan dilakukan
secara kuantitatif. Hal ini menimbulkan interpretasi jika analisis ini
dilaksanakan terlalu jauh, pemerintah tidak lagi dilaksanakan oleh wakilwakil
rakyat yang membawa aspirasi rakyat, melainkan seakan akan dilaksanakan
oleh robot computer
Tidak dapat mengukur aspek multidimensional seperti keberlangsungan, etika,
partisipasi publik dalam pembuatan keputusan dan nilai-nilai sosial yang lain.
CBA juga lebih berfungsi memberikan informasi kepada pengambil keputusan,
tapi tidak dengan sendirinya membuat keputusan.
Tidak ada standar dalam kuantifikasi biaya-manfaat. Subjektivitas yang terlibat
ketika mengidentifikasi, mengukur, dan memperkirakan biaya dan manfaat yang
berbeda dapat menimbulkan penafsiran biaya manfaat yang berbeda pula.

5. Langkah Pengukuran Cost Benefit Analysis (CBA)

Langkah langkah yang harus dilakukan dalam melakukan CBA adalah sebagai
berikut:

1. Identifikasi Alternatif dan Intervensi yang Akan Dianalisis


Intervensi yang dipilih untuk dilakukan analisis dapat lebih dari dua. Semakin banyak
intervensi yang akan dianalisis semakin baik hasilnya karena akan memberikan
pilihan yang bervariasi dan analisis yang lebih lengkap. Definisi operasional dari
masing- masing alternatif atau intervensi harus dijabarkan agar tampak perbedaan dari
masing-masing intervensi yang akan dianalisis. Contohnya : Poli Mata vs Poli THT,
dalam hal ini kita akan membandingkan mana yang lebih besar manfaatnya.
2. Identifikasi Biaya dari Masing-Masing Alternatif atau Intervensi
Dalam melakukan identifikasi biaya terlebih dahulu dilakukan pengklasifikasian
komponen-komponen seluruh biaya dari masing-masing alternatif. Semua komponen
biaya harus teridentifikasi baik yang bersumber dari anggaran proyek maupun dari
anggaran lainnya. Klasifikasi biaya bisa dilakukan menurut beberapa cara lain
meliputi biayainvestasi, biaya operasional dan biaya pemelliharaan, biaya risiko
kehilangan dan kerusakan.

3. Menghitung Total Biaya dari Masing-Masing Alternatif atau Intervensi


Setelah seluruh komponen biaya teridentifikasi dan diklasifikasikan kemudian
dilakukan penghitungan total seluruh biaya setiap intervensi. Cara penghitungan biaya
total sama seperti dalam penghitungan unit cost. Perhitungan biaya investasi
membutuhkan perhitungan AIC (Annual Investment Cost) yaitu membandingkan
biaya investasi barang sesuai masa pakai dengan masa hidup barang tersebut.

ket: AIC: Annual Investment Cost


i. IIC: Initial Investment Cost
ii. n: inflasi
iii. k: masa pakai
iv. l: masa hidup

Perhitungan biaya non investasi hanya dengan menjumlahkan seluruh biaya pertahun.
Hasil akhir penjumlahan seluruh biaya adalah Present Value Cost (PV cost) atau total
biaya.

4. Mentransformasi Manfaat dalam Bentuk Uang

Dalam mengidentifikasi manfaat dari masing-masing biaya alternatif terdapat dua


komponen, yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

5. Menghitung Total Benefit

Mentransformasi manfaat dalam bentuk uang, untuk manfaat langsung kita dapat
menghitung dengan menguangkan biaya keuntungannya. Sedangkan manfaat tidak
langsung dapat menguangkan biaya akibat kerugian yang ditimbulkan. Hasil dari
tahap ini adalah jumlah dari benefit langsung dan tidak langsung yang berupa PV
Benefit atau Present Value Benefit.

6. Menghitung Rasio Benefit (Discounting)

Penjumlahan antara benefit langsung dan tidak langsung dari masing-masing alternatif
atau intervensi dengan mengkonversikannya dalam bentuk uang. Dalam menghitung
manfaat tentunya harus mempertimbangkan discount rate bila manfaatnya akan
diperoleh untuk periode waktu kedepan.

1
Menghitung Discount factor= (1+i)

ket: i = Annual Interest Ratio

7. Melakukan Analisis Untuk Menentukan Pilihan dari Alternatif atau Intervensi yang
Paling Menguntungkan

Setelah data tentang total biaya dan manfaat sudah tersedia maka dilakukan
perhitungan NPV (Nett Present Value) = PV Benefit - PV Cost Kemudian dihitung
Rasio Biaya Manfaat (Cost Benefit Ratio) untuk setiap intervensi. Bila intervensi
yang dianalisa lebih dari 2 maka dapat dibuat tabel untuk memudahkan dilakukannya
analisis setiap intervensi.

pv benefit
Ratio B/C= pv cost

6.Metode Analisis Biaya dan Manfaat

Setelah komponenkomponen biaya dan manfaat telah dapat diidentifikasi,


selanjutnya analisis biaya/manfaat ini dapat dilakukan untuk menentukan apakah
proyek sistem informasi ini layak atau tidak. Di dalam analisis suatu
invetasi, terdapat dua aliran kas, yaitu aliran kas keluar (cash outflows) dan aliran kas
masuk (cash inflow). Aliran kas keluar terjadi karena pengeluaranpengeluran uang
untuk biaya investasi. Aliran kas masuk terjadi dari manfaat yang dihasilkan oleh
investasi. Aliran kas masuk ini sering dihubungkan dengan proceed, yaitu keuntungan
bersih sesudah pajak ditambah dengan depresiasi (bila depresiasi dimasukkan dalam
komponen biaya).Terdapat beberapa metode untuk melakukan analisis biaya/manfaat,
diantaranyasebagai berikut :

a. Metode periode pengembalian (payback period)


Metode ini menilai proyek investasi dengan dasar lamanya investasi tersebut
dapat tertutup dengan aliranaliran kas masuk. Metode ini tidak memasukkan faktor
bunga kedalam perhitungannya.
b. Metode pengembalian investasi (return on investment/ROI)
Metode ini digunakan untuk mengukur prosentase manfaat yang dihasilkan
oleh proyek dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkannya. ROI dari suatu proyek

total manfaat totalbiaya


inventasi dapat dihitung dengan rumus : ROI = total biaya

c. Metode nilai sekarang bersih (net present value/NPV)


Metode payback period dan ROI tidak memperhatikan nilai waktu dari uang
(time value of money) atau time preference of money). Satu rupiah nilai uang
sekarang lebih berharga dari satu rupiah nilai uang dikemudian hari. NPV
merupakan metode yang memperhatikan nilai waktu dari uang. Metode ini
menggunakan suku bunga diskonto yang akan mempengaruhi proceed atau arus
dari uangnya. NPV dapat dihitung dari selisih nilai proyek pada awal tahun
dikurangi dengan total proceed tiaptiap tahun yang dinilai uang ke tahun awal
dengan tingkat bunga diskonto. Besarnya NPV bila dinyatakan dalam rumus adalah
sebagai berikut :

i = tingkat bunga diskonto diperhitungkan

n = umur proyek investasi

Bila NPV bernilai lebih besar dari 0, berarti investasi menguntungkan dan
dapat diterima.

d. Metode tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR)


Merupakan metode yang memperhatikan nilai waktu dari uang. Pada metode
NPV, tingkat bunga yang diinginkan telah ditetapkan sebelumnya, sedang pada
metode IRR justru tingkat bunga tersebut yang akan dihitung. Tingkat bunga yang
akan dihitung ini merupakan tingkat bunga yang akan menjadikan jumlah
nilai sekarang dari tiaptiap proceed yang didiskontokan dengan tingkat bung
tersebut sama besarnya dengan nilai sekarang dari initial cash outflow
(nilai proyek). Atau dengan kata lain tingkat bunga ini adalah merupakan tingkat
bunga persis investasi bernilai impas, yaitu tidak menguntungkan dan juga tidak
merugikan.

7. Penerapan Analisis Biaya dan Manfaat

a. Perusahaan Swasta

Pada analisis perhitungan manfaat dan biaya pada proyek swasta, manfaat
umumnya diukur dengan cara mengalikan jumlah barang yang dihasilkan dengan
perkiraan harga barang. Biaya yang diperhitungkan adalah semua biaya yang
langsung digunakan dalam proyek tersebut berdasarkan harga pembeliannya.

b. Pemerintah

Proyek-proyek pemerintah pada umumnya mengukur manfaat penggunaan


sumbersumber ekonomi yang diukur dengan harga pasar oleh karena harga pasar pada
pasar persaingan sempurna mencerminkan nilai sesungguhnya dari sumber-sumber
ekonomi yang digunakan. Pada keadaan dimana tidak terdapat persaingan sempurna
maka harga-harga pasar tidak menunjukkan nilai sumber-sumber ekonomi yang
sesungguhnya. Dalam hal ini yang harus dilakukan adalah menyesuaikan harga
sumber ekonomi dengan menggunakan harga bayangan (shadow prices). Misalnya
pemerintah membangun suatu dam di daerah Cilacap. Apabila tenaga kerja yang
dipakai untuk membangun dam tersebut adalah tenaga kerja yangmenganggur, maka
harga buruh atau upah yang dihitung bukanlah upah yang diberikan kepada para
buruh, akan tetapi upah bayangan yang besarnya adalah nol. Jadi dalam menghitung
manfaat dan biaya kita hanya menghitung manfaat dan biaya yang mencerminkan
nilai oportunitas hasil proyek atau biaya proyek. Beberapa faktor yang menyebabkan
tidak terdapatnya harga-harga sebagaimana yang terjadi pada pasar persaingan
sempurna adalah adanya unsur monopoli, adanya pajak, adanya pengangguran, dan
adanya surplus konsumen. Secara umum dapat dikatakan bahwa pada proyek-proyek
pemerintah, semua input yang digunakan haruslah diukur dari biaya marginal
produksinya (atau harga yang terjadi pada pasar persaingan sempurna).

8. Pengukuran Kebijakan Analisis Biaya dan Manfaat


Pengukuran secara tepat dari keuntungan seringkali tidaklah mungkin.
Kesukaran-kesukaran dasar akan muncul dengan barang-barang umum yang tak dapat
dijual pada masyarakat, dan tiap penilaian harus didasarkan atas taksiran mengenai
kesukaan orang-orang dalam masyarakat sebagai satu keseluruhan untuk barang-barang
tersebut. Sebagai akibat, maka dengan barang-barang yang benar-benar sifatnya umum,
cara analisa biaya keuntungan akan menurun tarafnya menjadi perbandingan cara-cara
alternatif saja dan tak dapat memberi jawaban pada pertanyaan apakah suatu proyek atau
rencana tertentu dapat dipertanggungjawabkan.

Bahkan dengan kegiatan-kegiatan yang memberikan keuntungan lebih langsung


pun, maka penilaian dari hasil-hasil itu seringkali menimbulkan pertanyaan-pertanyaan
serius. Hasilnya seringkali tidak dijual dan diperlukan suatu penilaian yang konstruktif.
Suatu contoh adalah rekreasi; bagaimana harus menilai suatu hari yang dipergunakan
seseorang untuk memancing di danau yang diciptakan oleh bendungan, atau berpiknik
dalam hutan margasatwa?. Percobaan-percobaan telah dibuat untuk memberikan
penilaian-penilaian itu, namun sifatnya adalah sewenang-wenang. Bahkan penentuan dari
jumlah yang patut dari hasil fisiknya pundapat bersifat sangat ruwet. Jumlah para
pemakai dari suatu proyek rekreasi dapat dihitung bila proyek itu sudah berjalan, dan
peramalan dimuka mungkin dapat dibuat. Akan tetapi bila dari para pemakai tidak
ditagih pembayaran untuk penggunaan dari jasa-jasa tersebut, maka jumlah orang yang
menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut secara cuma-cuma mungkin akan jauh lebih
besar dari pada jumlah pemakai seandainya dipungut bayaran. Penggunaan jumlah yang
pertama akan membesar-besarkan keuntungan-keuntungan dari proyek tersebut.

Persoalan penilaian yang lain akan timbul karena tidak adanya pasaran hasil-hasil
yang diakibatkan oleh rencana itu. Bila pemerintah memungut bayaran untuk jasa
tersebut dan harganya didasarkan atas dasar monopoli, maka hasil total, dan karenanya
juga ukuran keuntungan, akan berlainan dari jumlah yang diperoleh bila ada keadaan
persaingan bebas. Atau, bila keuntungan-keuntungan itu diukur secara tidak langsung
berdasarkan hasil penjualan produk yang dihasilkan dengan bantuan kegiatan pemerintah
(hasil pertanian dari tanah yang mendapat pengairan), maka penjualan-penjualan itu
mungkin tak akan dilakukan dalam pasaran yang bersifat persaingan murni, atau, dalam
soal hasil pertanian, mungkin akan dilakukan dengan harga-harga yang mungkin dibuat
tinggi oleh rencana bantuan dari pemerintah. Atau sebaliknya, terutama dengan proyek-
proyek besar di negara-negara yang sedang berkembang, proyek pemerintah itu
mempunyai pengaruh yang demikian besar terhadap susunan harga seluruhnya, sehingga
penilaian berdasarkan harga-harga lama atau baru memberikan gambaran yang
menyesatkan mengenai keuntungan-keuntungan yang sebenarnya.

2.2 Value For Money

1.Pengertian Value For Money

Value for money menurut Mardiasmo (2009:4) merupakan konsep pengelolaan


organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu ekonomis,
efisiensi, dan efektivitas.

Ekonomi: pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang
terendah. Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value yang
dinyatakan dalam satuan moneter.
Efisiensi: pencapaian otput yang maksimum dengan input tertentu untuk
penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi
merupakan perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau
target yang telah ditetapkan.
Efektivitas: tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara
sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output.
Menurut University of Cambridge (2010), Pendanaan Pendidikan Tinggi Dewan
Inggris (HEFCE) menggambarkan nilai uang dengan cara berikut:

Nilai untuk uang' (VFM) adalah istilah yang digunakan untuk menilai apakah
organisasi telah memperoleh manfaat maksimal dari barang dan jasa yang baik
memperoleh dan memberikan, dalam sumber daya yang tersedia untuk itu. Beberapa
elemen mungkin subyektif, sulit diukur, tidak berwujud dan disalah
pahami. Penghakiman Oleh karena itu diperlukan ketika mempertimbangkan apakah
VFM telah tercapai atau tidak memuaskan. Tidak hanya mengukur biaya barang dan
jasa, tetapi juga memperhitungkan campuran kualitas, biaya, penggunaan sumber daya,
kesesuaian untuk tujuan, ketepatan waktu, dan kenyamanan untuk menilai apakah atau
tidak, bersama-sama, mereka merupakan nilai yang baik.

2. Value For Money Sebagai Metode Penilaian Kinerja


Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial
dan nonfinansial. Pengukuran kinerja sektor publik dilakukan untuk memenuhi tiga
maksud.

Membantu memperbaiki kinerja pemerintah.

Pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan.

Mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Kriteria pokok yang mendasari pelaksanaan manajemen publik dewasa ini adalah:
ekonomi, efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas publik. Tujuan yang
dikehendaki oleh masyarakat mencakup pertanggung jawaban mengenai
pelaksanaan value for money, yaitu: ekonomis (hemat cermat) dalam pengadaan dan
alokasi sumber daya, efisien (berdaya guna) dalam penggunaan sumber daya dalam arti
penggunaannya diminimalkan dan hasilnya dimaksimalkan (maximizing benefits and
minimizing costs), serta efektif (berhasil guna) dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.

3. Pengukuran Kinerja Dengan Menggunakan Value For Money

Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah
dan sektor publik. Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai dari sisi output yang dihasilkan
semata, akan tetapi secara terintegrasi harus mempertimbangkan input, output, dan
outcome secara bersama-sama. Permasalahan yang sering muncul adalah sulitnya
mengukur output karena output yang dihasilkan pemerintah tidak selalu berupa output
yang berwujud (tangible output), tetapi kebanyakan juga bersifat output tidak berwujud
(intangible output). Ukuran kinerja pada dasarnya berbeda dengan indikator kinerja.
Perbedaan antara ukuran kinerja dengan indikator kinerja adalah:

Ukuran kinerja, Umumnya mengacu pada penilaian kinerja secara langsung,

misalnya: laporan keuangan pemerintah.


Indikator kinerja, Mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal

yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja.


Mekanisme penentuan indikator kinerja membutuhkan:
a. Sistem perencanaan dan pengendalian. Meliputi proses, prosedur, dan struktur yang
memberi jaminan bahwa tujuan organisasi telah dijelaskan dan dikomunikasikan
keseluruh bagian organisasi dengan menggunakan rantai komando.
b. Spesifikasi teknis dan standarisasi. Spesifikasi ini digunakan sebagai ukuran kinerja
kegiatan, program dan organisasi.
c. Kompetensi teknis dan profesionalisme. Personil yang memiliki kompetensi dan
professionalmerupakan jaminan dukungan dalam pekerjaan.
d. Mekanisme ekonomi dan mekanisme pasar. Mekanisme ekonomi terkait dengan
pemberian reward dan punishment yang bersifat finansial.
e. Sedangkan mekanisme pasar terkait dengan penggunaan sumber daya. Mekanisme ini
digunakan untuk memperbaiki kinerja personil dan organisasi.

4. Langkah-langkah Pengukuran Value For Money

1. Pengukuran Ekonomi,

Pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan masukan (input) yang


gunakan. Pertanyaan yang diajukan adalah:

Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang dianggarkan?,


Apakah biaya organisasi lebih besar dari pada biaya organisasi lain yang sejenis
yang dapat diperbandingkan?
Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansialnya secara optimal?

2. Pengukuran Efisiensi,

Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output
dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi.

Cara perbaikan terhadap efisiensi adalah:

a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama,


b. Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi peningkatan
input.
c. Menurunkan input pada tingkatan output yang sama.
d. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan
output.
3. Pengukuran Efektifitas,
Efeketivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya.
Efektivitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk
mencapai tujuan tersebut.

4. Pengukuran Outcome,

Outcome adalah dampak suatu program atau kegiatan terhadap masyarakat atau
mengukur kualitas output terhadap dampak yang dihasilkan.

Pengukuran outcome memiliki 2 peran:

a. Peran Retrospektif, terkait dengan penilaian kinerja masa lalu.

b. Peran Prospektif, terkait dengan perencanaan kinerja di masa yang akan datang.

Dalam peran ini, pengukuran outcome digunakan untuk mengarahkan keputusan


alokasi sumber daya publik.

5. Estimasi Indikator Kinerja,

Suatu unit organisasi perlu melakukan estimasi untuk menentukan target kinerja
yang ingin dicapai pada periode mendatang. Penentuan target tersebut didasarkan pada
perkembangan cakupan layanan atau indicator kinerja.

5. Tujuan Value For Money

Tujuan pelaksanaan value for money adalah;

ekonomi: hemat cermat dalam pengadaan dan alokasi sumber daya.


efisiensi: Berdaya guna dalam penggunaan sumber daya
efektivitas: berhasil guna dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.
equity: Keadilan dalam mendapatkan pelayanan publik.
equality: Kesetaran dalam penggunaan sumber daya.

Tujuan lain yang dikehendaki terkait pelaksanaan value for money adalah
Meningkatan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan
tepat sasaran
Meningkatkan mutu pelayanan publik
Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya
penghematan dalam penggunan input
Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan publik
Meningkatkan kesadaran akan uang publik (public costs awareness) sebagai akar
pelaksanaan akuntanbilitas public
BAB III

PENUTUPAN

3.1. Kesimpulan
Analisis cost benefit merupakan bagian dari berbagai analisis dalam farmakoekonomi
yangmembandingkan antara cost/biaya dan keuntungan. Cost benefit memiliki
keunggulan dimanacost dan benefit dihitung dalam satuan moneter sehingga dapat mudah
dibandingkan, namunkelemahan dari analisis ini adalah tidak semua keuntungan dapat
diterjemahkan dalam nilaiuang. Analisis cost benefit dapat diterapkan secara luas,
semakin tinggi rasio benefit to cost dannet benefit, semakin menguntungkan intervensi
tersebut.
Value for money merupakan seseuatu yang menilai apakah suatu organisasi telah
memperoleh tujuan yang diharapkan atau belum dalam kaitanya dengan pengelolaan
keuangan. Reformasi penataan keuangan negara saat ini menghendaki penerapan
konsep value for money atau yang lebih dikenal degan konsep 3E (Ekonomi, Efisien, dan
Efektif). Oleh karena itu dalam reformasi ini pemerintah diminta baik dalam mencari
dana maupun menggunakan dana selalu menerapkan prinsip 3 E tersebut. Hal ini
mendorong pemerintah berusaha selalu memperhatikan tiap sen/rupiah dan (uang) yang
diperoleh dan digunakan. Perhatian tertuju pada hubungan antarainput-output-outcome.

3.2. Saran
Semua program untuk meningkatkan kelayakan dan kenyamanan masyarakat tentunya
adalah baik, tinggal pemerintah lebih cermat dan hati-hati dalam memilih program mana
yang sebaiknya dilakukan atau dilaksanakan terlebih dahulu agar kemungkinan terjadinya
kesalahan semakin sedikit sehingga tidak menimbulkan dampak terlalu besar.
Kinerja pemerintah harus dari sisi input, output, dan outcome. Hal ini mengingat tujuan
pengukuran value of money adalah mengukur tingkat keekonomisan dalam alokasi
sumber daya, efisiensi, serta efektifitas dalam penggunaan sumber daya.
Daftar Pustaka

http://ikma11.weebly.com/uploads/1/2/0/7/12071055/ekokes_kel_7.pdf diakses tanggal


22 April 2017

http://adindapramesti.blogspot.co.id/2012/10/pengukuran-kinerja-pemerintah-
dengan.htmldiakses tanggal 22 April 2017

https://www.academia.edu/6718348/COST_BENEFIT_ANALYSIS_BARU_COST_B
ENEFIT_ANALYSISdiakses tanggal 23 April 2017

http://yosipratamaputra.blogspot.co.id/2012/04/value-for-money.htmldiakses tanggal 23
April 2017

file:///C:/Users/Acer/Downloads/Teknik%20Analisis%20Biaya%20dan
%20Manfaat.pdfdiakses tanggal 23 April 2017