Anda di halaman 1dari 12

Defisit Financing

Keuangan Negara dan Daerah

Oleh:

Norfadilla 1410531036
Yulia Efrina 1410531041
Olivia Solina 1410531044

Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi


Universitas Andalas
Padang
2017
DEFISIT FINANCING
Kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh suatu negara senantiasa
berhadapan dengan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Dalam
hal ini, pertumbuhan ekonomi menjadi suatu syarat untuk tercapainya masyarakat
yang sejahtera. Pembangunan ekonomi tidak hanya berfokus pada perkembangan
ekonomi, tetapi juga mengenai peningkatan kesejahteraan, keamanan dan kualitas
sumber daya yang dimiliki. Sumber daya dimaksud bukan hanya pengolahan
sumberdaya alam, tetapi juga mengenai peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Khusus terhadap pertumbuhan ekonomi, diperlukan adanya kebijakan yang kondusif
agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Ada 2 sebab yang mengharuskan sebuah negara harus mencapai pertumbuhan


ekonominya, yaitu untuk menciptakan lapangan pekerja bagi penduduknya yang
setiap saat bertambah dan untuk menaikkan tingkat kemakmuran masyarakat
(Sadono sukirno, 1994 ; 25). Berdasarkan hal tersebut maka pembangunan ekonomi
dilakukan oleh semua negara, termasuk Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi tersebut mencerminkan kinerja perekonomian pada


saat tahun target. Kinerja ekonomi akan sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor
internal dan eksternal dari negara yang bersangkutan. Contoh faktor eksternal yang
digunakan sebagai indikator dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) Indonesia adalah Harga Minyak dan Nilai Tukar Rupiah. Faktor
internal yang digunakan dalam asumsi makro antara lain Tingkat Inflasi; Suku Bunga
Sertifikat Bank Indonesia; dan Lifting Migas.

Anggaran negara, melalui unit yang menangani penerimaan dan belanja,


memegang peranan penting dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan
pengelolaan anggaran sangat berpengaruh terhadap kualitas anggaran tersebut.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara(APBN) masih menunjukkan defisit pada
tahun 2014 dan pada RAPBN 201 , hal tersebut terjadi karena Indonesia masih
menganut penganggaran defisit.

Definisi Defisit Anggaran


Rahardja dan Manurung (2004), defisit anggaran adalah anggaran yang memang
direncanakan untuk defisit, karena budget constraint, pengeluaran pemerintah
direncanakan lebih besar dari penerimaan pemerintah (G>T) untuk memenuhi
tujuan bernegara. Anggaran yang defisit ini biasanya ditempuh bila pemerintah
ingin menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Hal ini umumnya dilakukan bila
perekonomian berada dalam kondisi resesi.
Samuelson dan Nordhaus (2001) adalah suatu anggaran ketika terjadi pengeluaran
lebih besar dari pajak.

Dornbusch, Fischer dan Startz defisit anggaran adalah selisih antara jumlah uang
yang dibelanjakan pemerintah dan penerimaan dari pajak. Kombinasi dari besaran
pengeluaran dan penerimaan pemerintah terangkum dalam suatu anggaran
pemerintah.

Untuk menghadapi kondisi perekonomian tertentu, salah satu yang dapat


dilakukan pemerintah adalah melalui kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal tersebut
dapat dilihat dalam anggaran pemerintah, dan defisit anggaran adalah salah satu
kebijakan fiskal pemerintah yaitu kebijakan fiskal ekspansif.

Algifari (2009) melakukan penelitian terhadap perekonomian Indonesia


berdasarkan data defisit anggaran pemerintah dan pertumbuhan ekonomi tahun 1990-
2007 dengan partial adjusment model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defisit
anggaran pemerintah berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada
periode yang sama dan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada
periode berikutnya.

Menurut Abimanyu (2005), defisit anggaran pemerintah merupakan stimulus


fiskal yang bersifat ekspansif. Perekonomian yang berada pada kondisi kelesuan,
yang ditunjukkan oleh menurunnya pertumbuhan ekonomi memerlukan kebijakan
fiskal ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Kartika (2006), pemerintah mempunyai tiga pilihan untuk menutup


defisit APBN, yaitu dari hasil privatisasi BUMN, Utang Dalam Negeri, dan dari
Utang Luar Negeri.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi diperlukanlah peran pemerintah di dalam


perekonomian. Pada dasarnya peranan pemerintah dalam perekonomian sangat luas.
Salah satu bentuk aktivitas tersebut dapat dirangkum dalam kerangka anggaran
pemerintah. Anggaran suatu negara dapat disusun berbeda-beda tergantung pada
kondisi perekonomian negara tersebut.

Suatu negara dapat menyusun anggarannya secara seimbang apabila kondisi


perekonomian normal. Kebijakan anggaran yang surplus dapat diaplikasikan
manakala terjadi perubahan kebijakan fiskal yang bersifat Ekspansioner atau
Kontraksioner (Shone,1989:116). Selain itu, negara juga dapat menyusun
penganggaran defisit.
Pada masa Depresi Besar, teori klasik ataupun neo klasik tak dapat menyelesaikan
persoalan. Keynes datang membawa solusi, pada masa resesi, anggaran berimbang
atau surplus tidak dapat diterapkan. Pemerintah haruslah menerapkan defisit
anggaran. Kini, defisit anggaran diterapkan hampir di setiap negara.
Pada saat perekonomian mengalami krisis, defisit anggaran pemerintah merupakan
kebijakan yang dipilih oleh banyak negara untuk menggairahkan perekonomian.

Tentang seberapa penting defisit anggaran, kita akan menemukan jawaban yang
berbeda tergantung pada keadaan/status ekonomi suatu negara. Cara termudah
menghitung ukuran defisit anggaran adalah persentase GDP. Ada batas tertentu yang
dijadikan ukuran itu. Di Indonesia, untuk tahun 2015, defisit anggarannya adalah
2,21 %. Defisit anggaran terbesar terjadi di Irlandia, Jepang, UK dan US sebesar
lebih dari 8% GDP.

Bagi negara yang sedang berkembang, utang merupakan salah satu sumber dana
untuk membantu mempercepat proses pembangunan ekonomi negaranya. Hal ini
terjadi karena belum cukupnya dana yang berasal dari tabungan di dalam negeri,
sehingga sumber pembiyaan berupa utang, khususnya utang dari luar negeri sangat
diperlukan. Salah satu alternatif untuk mencukupi kekurangan dana di negara yang
sedang berkembang termasuk Indonesia diatasi oleh pemerintah yang bersangkutan
dengan cara mencari bantuan berupa utang. Pengeluaran pemerintah untuk
pembiayaan pembangunan ekonomi dengan menggunakan utang, khususnya yang
bersumber dari luar negeri memang mendatangkan manfaat, namun selain
memperhatikan pemanfaatannya bagi pertumbuhan perekonomian, hal lain yang
harus dipikirkan ada beban utang yang muncul di kemudian hari. Namun dalam
tahap awal pembangunan, penggunaan komponen utang sebagai sumber pembiayaan
memang sangat menguntungkan (Subri dan Basri, 2003). Pada intinya, kebijakan
fiskal adalah kebijakan untuk mengendalikan keseimbangan makro ekonomi
(Surjaningsih et al, 2012). Kebijakan fiskal merupakan bentuk campur tangan
pemerintah dalam perekonomian dan pembangunan ekonomi suatu negara.
Kebijakan fiskal memiliki dua instrumen pokok, yaitu Penerimaan dan pengeluaran
pemerintah (government expenditure) (Mankiw, 2003; Turnovsky, 1981).

Dampak kebijakan fiskal merupakan isu yang kontroversial dan sudah ada sejak
lama. Beberapa upaya reformasi kebijakan fiskal sering dilakukan agar
perekonomian berjalan pada jalur yang benar. Namun kebijakan yang diambil belum
dapat menunjukkan hasil yang maksimal karena pengaruh kebijakan non-ekonomi
yang lebih dominan. Hendrin H. Sawitri (2006) menyatakan bahwa bermula dari
krisis tahun 1997 hingga sekarang yang berlanjut dengan krisiskrisis yang lain
mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat sulit untuk tumbuh
positif. Krisis ekonomi ditandai dengan menurunnya permintaan agregat sehingga
kondisi perekonomian menunjukkan ciri ciri depresi seperti menurunnya daya beli
secara drastis, berkurangnya bahkan hilangnya investasi asing, dan meningkatnya
pengangguran di berbagai sektor. Di sektor yang lain, sektor penawaran, terjadi
ketidakkondusifan berbagai kebijakan yang mengakibatkan elastisitas penawaran
sangat lemah. Kebijakan fiskal dalam perekonomian tersebut dituangkan dalam pos
pos yang tercantum dalam penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
Menurut Romer dalam Sawitri (2006) menyatakan bahwa secara simultan fungsi
fiskal bertujuan untuk menciptakan kondisi makro ekonomi secara kondusif dalam
mencapai pertumbuhan ekonomi, penciptaan tenaga kerja yang sekaligus menekan
jumlah pengangguran, pengendalian tingkat inflasi, dan mendorong distribusi
pendapatan semakin merata.

Kebijakan defisit anggaran menjadi penting dalam masa krisis sehingga banyak
persoalan menjadi dilematis dalam memilih kebijakan fiskal yang tepat. Kebijakan
defisit maupun surplus anggaran menjadi isu penting untuk dikaji karena dalam
siklus bisnis defisit anggaran menjadi pembahasan yang cukup serius dalam memacu
pertumbuhan ekonomi.

Secara teoritis, kebijakan defisit anggaran mempengaruhi variabel moneter


malalui dua jalur (R. Maryanto, 2004). Kedua jalur tersebut mempengaruhi variable
moneter melalui sektor riil dan melalui hubungan keuangan antara pemerintah dan
penguasan moneter. Stanley Fischer dan William Easterly (1990) juga
mengungkapkan terdapat hubungan antara persamaan income account budget,
persamaan pendanaan defisit anggaran, dan persamaan dinamik antara evolusi rasio
utang terhadap GNP. Efek kebijakan defisit anggaran merupakan pergerakan yang
tidak tampak karena mempunyai dampak jangka panjang.

Mengurangi Defisit Anggaran

Di dalam dokumen Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara


Perubahan (RAPBN-P) 2015, pemerintah berencana menurunkan target defisit
anggaran tahun 2015 menjadi 1,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Menteri Keuangan, Bambang P.S. Brodjonegoro, penurunan defisit
anggaran ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi defisit transaksi
berjalan.

Seperti diketahui, sebelumnya, dalam APBN tahun anggaran 2015 defisit


anggaran ditargetkan sebesar 2,21 persen dari PDB. Tujuan pengurangan target
defisit anggaran ini sendiri adalah untuk memberikan sinyal kepada pelaku pasar
bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk mengurangi defisit anggaran sekaligus
defisit transaksi berjalan pada tahun 2015 ini. Penurunan defisit transaksi berjalan
sendiri sangat diperlukan sebagai upaya untuk memitigasi dampak rencana penaikan
tingkat bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS).

Dalam rangka menutup defisit anggaran tersebut, akan dilakukan langkah


langkah kebijakan guna memperoleh sumber pembiayaan dengan biaya rendah dan
tingkat risiko yang dapat ditoleransi.

1. Kebijakan pembiayaan dalam negeri

Melakukan pengelolaan portofolio surat utang negara (SUN) melalui langkah-


langkah pembayaran bunga dan pokok obligasi negara secara tepat waktu,
penerbitan SUN dalam mata uang rupiah dan mata uang asing, penukaran
utang (debt switching) serta pembelian kembali (buyback) obligasi negara;

Melanjutkan kebijakan privatisasi yang pelaksanaannya dilakukan berdasarkan


ketentuan yang berlaku di pasarmodal;

Memanfaatkan dana eks moratorium untuk membiayai program rekonstruksi


dan rehabilitasi NAD-Nias;

Menggunakan sebagian dana simpanan pemerintah; dan

Memberikan dukungan dana bagi percepatan pembangunan infrastruktur dalam


rangka kemitraan PemerintahSwasta.

2. Kebijakan pembiayaan luar negeri

Mengamankan pinjaman luar negeri yang telah disepakati dan rencana


penyerapan pinjaman luar negeri, baik pinjaman program maupun pinjaman
proyek, dan

Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang sudah jatuh tempo.

Dalam rangka membiayai pembiayaan defisit anggaran, Pemerintah akan


mengedepankan prinsip kemandirian dengan lebih memprioritaskan pendanaan
yang bersumber dari dalam negeri. Pendanaan dari luar negeri akan dilakukan
lebih selektif dan berhati-hati dengan mengupayakan beban pinjaman yang paling
ringan melalui penarikan pinjaman dengan tingkat bunga yang rendah dan
tenggang waktu yang panjang dan tidak mengakibatkan adanya adanya ikatan
politik serta diprioritaskan untuk membiayai kegiatankegiatan yang produktif.

3. Kebijakan dari Sisi Pengeluaran:


Mengurangi subsidi; Bantuan yang diambil dari anggaran negara untuk
pengeluaran yang sifatnya membantu konsumen untuk mengatasi tingginya
harga yang tidak terjangkau oleh mereka agar tercipta kestabilan politik dan
sosial lainnya, misalnya subsidi pupuk, subsidi bahan bakar minyak (BBM),
subsidi listrik, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya negara memberikan
subsidi terhadap suatu barang, karena barang itu dianggap harganya terlalu
tinggi dibanding dengan kemampuan daya beli masyarakat. Agar tidak terjadi
gejolak di masyarakat, maka negara mengeluarkan dana untuk mensubsidi
barang tersebut. Subsidi itu dilakukan dengan beberapa cara, misalnya :

Memberikan subsidi kepada konsumen dengan cara memberikan subsidi harga


barang-barang yang dikonsumsi;

Memberikan subsidi kepada produsen, yaitu memberikan subsidi pada bahan


baku yang dipergunakan untuk memproduksi barang tersebut. Kalau
pengeluaran subsidi itu dikurangi akan berakibat pada kenaikan harga barang
yang diberi subsidi itu.

Penghematan pada setiap pengeluaran baik pengeluaran rutin maupun


pembangunan. Penghematan pada pengeluaran rutin dilakukan oleh
departemen teknis, misalnya untuk pengeluaran listrik, telepon, alat tulis,
perjalanan dinas, rapat-rapat, seminar dan sebagainya tanpa mengurangi kinerja
dari departemen teknis yang bersangkutan.

Menyeleksi sebagian pengeluaran-pengeluaran pembangunan


Pengeluaran pembangunan yang berupa proyek-proyek pembangunan diseleksi
menurut prioritasnya, misalnya proyek-proyek yang cepat menghasilkan.
Proyek-proyek yang menyerap biaya besar dan penyelesaiannya dalam jangka
waktu yang lama, sementara ditunda pelaksanaannya.

Mengurangi pengeluaran program-program yang tidak produktif dan tidak


efisien.

Programprogram semacam ini yang tidak mendukung pertumbuhan sektor


riil, tidak mendukung kenaikan penerimaan pajak, dan tidak mendukung kenaikan
penerimaan devisa. Pemotongan program-program ini harus dilakukan dengan
hati-hati. Pemotongan pengeluaran tanpa memperbaiki produktivitas program,
berarti akan ada kecenderungan akan menurunnya kualitas dan kuantitas output.

Mengurangi defisit anggaran itu dapat menjadi masalah. Jika sebuah negara
punya defisit yang meningkat cepat, maka pemerintah harus membuat kebijakan
pengurangan defisit. Hal tiba-tiba ini bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi
melambat dan resesi ekonomi. Mengurangi atau menambah defisit anggaran,
tentulah harus diperhatikan penggunaan pembiayaan defisit anggaran tesebut.
Menilik kondisi saat ini, APBN kita masih negative net flow. Cash Flow Negatif
adalah situasi di mana pembayaran (dana yang ke luar) selama jangka waktu
tertentu melebihi arus kas masuk (dana yang masuk) pada periode yang sama. Hal
ini dicontohkan bahwa Pemerintah meminjam dana 1 milyar rupiah, namun di
tahun yang sama kita membayar pinjaman sebesar 2 milyar rupiah. Hal ini secara
langsung menunjukkan bahwa setiap utang yang diterima tidak memiliki manfaat
sama sekali pada proses pembangunan di Indonesia. Hal inilah yang mendasari
pemerintah untuk berusaha mengurangi porsi pembiayaan yang berasal dari
pinjaman luar negeri. Perlu disadari atau tidak bahwa kebijakan utang luar negeri
hanya melanjutkan praktik eksploitasi luar negeri terhadap anggaran Indonesia
akibat terjadinya selisih transfer negatif sejak tahun 1984/1985.
Selain itu penggunaan utang luar negeri bukan merupakan solusi untuk
mengurangi beban utang karena makin meningkatnya beban-beban utang dari
penarikan utang utang baru berbiaya mahal yang sangat bias dengan
kepentingan kreditor.

Hal lain yang mendasar dari net negative flow adalah Indonesia mengirim hasil
kegiatan ekonomi nasional ke luar yang ditransfer untuk pembayaran utang. Net
negative flow juga menyebabkan struktur ekonomi menjadi rentan karena
kebutuhan pembayaran hutang yang besar sekaligus kebutuhan cadangan ekonomi
yang besar. Namun, kegagalan dalam mengurangi defisit anggaran, seperti yang
sudah diterakan sebelumnya, dapat merusak pertumbuhan ekonomi. Kegagalan
dalam mengurangi defisit anggaran dapat disebabkan beberapa hal. Pertama,
perbedaan antara riil GDP dengan nominal GDP. Penerimaan perpajakan yang
tidak tercapai dan di bawah tax ratio. Dan yang ketiga, arah fiskal belum berada di
sisi penawaran. Arah fiskal yang belum berada di sisi penawaran ini menyebabkan
kegiatan produksi belum memiliki nilai yang signifikan untuk menciptakan neraca
perdagangan yang baik.

Peranan Investasi

Penanaman modal atau investasi merupakan pengorbanan konsumsi di masa


kini untuk meningkatkan konsumsi di masa depan. Investasi atau pembentukan
modal ini dapat berbentuk investasi pada asset riil, dan asset finansial. Investasi pada
asset riil misalnya pembelian tanah, mesin, pembangunan pabrik dan lain-lain.
Sementara itu, investasi pada asset finansial dapat dilakukan di pasar uang atau di
pasar modal.
Investasi akan sangat berpengaruh terhadap permintaan agregat dan akhirnya
berakibat juga pada output dan kesempatan kerja. Selain itu investasi menghimpun
modal. Dengan membangun gedung atau melakukan pembelian peralatan -peralatan,
output potensial akan bertambah, dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang
juga meningkat.

Keynes memformulasikan hubungan antara investasi dengan output nasional.


Model akselerator investasi menegaskan bahwa laju investasi akan sebanding dengan
perubahan output perekonomian (Mankiw, 2000). Unsur penting dari investasi adalah
biaya investasi. Unsur ini terkait erat dengan suku bunga yang merupakan
mekanisme dalam kebijakan moneter pada percaturan ekonomi modern. Pada saat
jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat, maka harga dari uang tersebut
(suku bunga) akan berkurang. Berkurangnya suku bunga ini akan membuat biaya
investasi turun, dan perusahaan akan dapat lebih banyak membeli lebih banyak
mesin, dan bentuk investasi lainnya, dan nantinya akan dapat meningkatkan besaran
investasi secara agregat. Selain suku bunga, unsur lain yang berpengaruh dari segi
biaya dalam keputusan investasi adalah pajak.

Tinggi rendahnya pajak yang ditetapkan tersebut digunakan pemerintah untuk


mendorong atau menghambat investasi di sektor swasta. Kaum Neo Klasik dan
Keynesian memiliki perbedaan mengenai pengeluaran investasi sektor swasta. Neo
Klasik berpendapat bahwa sektor swasta relatif stabil. Alasannya ialah karena
pengeluaran sektor swasta didasarkan pada teori pendapatan permanen sehingga
pengeluaran konsumsi akan relatif stabil. Pengeluaran konsumsi merupakan
komponen pengeluaran yang relatif besar dan hanya berubah secara perlahan, yaitu
dalam rangka penyesuaian konsumsi individu dengan perkiraan pendapatan
permanen dalam jangka panjang. Faktor lain yang menyebabkan pengeluaran
konsumsi ini relatif stabil adalah elastisitas pengeluaran investasi terhadap tingkat
bunga yangcukup besar.

Fleksibilitas tingkat bunga dan harga juga menyebabkan pengeluaran


investasi dan konsumsi stabil. Jika terjadi penurunan investasi dan jumlah uang
beredar yang tetap maka tingkat bunga akan turun. Penurunan tingkat suku bunga ini
akan menyebabkan investasi kembali terdorong naik untuk mengimbangi penurunan
investasi awal. Ini berarti investasi tidak banyak berubah. Apabila kenaikan investasi
dan/atau konsumsi tidak cukup untuk menutupi penurunan investasi maka melalui
perubahan harga pengeluaran swasta akan tetap stabil. Mekanismenya adalah
penurunan investasi akan berakibat pada timbulnya pengangguran sehingga upah dan
kemudian harga akan turun. Untuk jumlah uang beredar, turunnya harga berarti nilai
riil uang akan naik. Kenaikan nilai riil uang akan mendorong pengeluaran. Dalam
alternatif pandangan Keynesian, naiknya nilai riil uang akan menurunkan tingkat
bunga kemudian akan mendorong kenaikan investasi.

Bertolak belakang dengan pemikiran Neo Klasik, Keynesian berpendapat


bahwa sektor swasta tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut berasal dari pergeseran
sikap dan perkiraan dari pengusaha dan konsumen. Selain itu, ketidakstabilan sektor
swasta juga disebabkan oleh harga yang tidak fleksibel. Aliran Neo Klasik
mengklaim bahwa terdapat 100% pendesakan investasi oleh belanja pemerintah.
Diasumsikan perekonomian mempunyai ciri-ciri paham Klasik dan Neo Klasik.
Kurva penawaran agregat (AS) adalah vertikal dan hanya uang yang dapat
mempengaruhi permintaan agregat. Apabila pemerintah meningkatkan
pengeluarannya, kurva permintaan agregat (AD) tidak akan bergeser. Ini dikarenakan
hanya uang yang dapat mempengaruhi pengeluaran total. Jika kebijakan fiskal tidak
mempegaruhi permintaan, maka dampak dari kebijakan ini adalah penurunan
investasi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketika kebijakan fiskal merangsang


perekonomian, permintaan uang akan meningkat, dan apabila jumlah uang beredar
tidak berubah, suku bunga akan meningkat, dan pada akhirnya suku bunga akan
meningkat secukupnya sedemikian rupa sehingga investasi turun sebesar jumlah dari
kenaikan belanja pemerintah.

Sedangkan menurut pandangan Keynesian, dalam perekonomian diasumsikan


terdapat pengangguran, dan tingkat sensitifitas investasi oleh suku bunga adalah
rendah. Oleh karena terdapat pengangguran, perekonomian bekerja tidak pada
tingkat full emplyoment. Kebijakan moneter pun diasumsikan dapat mengimbangi
kebijakan fiskal dengan baik. Dalam hal ini, bank sentral akan menaikkan atau
menurunkan jumlah uang beredar untuk mempertahankan suku bunga agar tidak
berubah ketika output meningkat. Dengan asumsi-asumsi tersebut, kebijakan
ekspansi fiskal dianggap tidak akan mempengaruhi suku bunga, dan kebijakan
tersebut akan dapat meningkatkan output dan pendapatan. Keynesian menganggap
bahwa ada dampak yang positif dari kebijakan ekspansi terhadap investasi yaitu
dengan adanya ekspektasi positif dari para investor. Ekspektasi positif tersebut
berupa peningkatan kualitas dan kuantitas barang-barang publik yang dapat
menudukung kelancaran aktifitas ekonomi. Pada akhirnya ekspansi fiskal akan
berpengaruh positif terhadap investasi dengan kata lain investasi akan terdorong
masuk (crowding in).
Referensi

http://catatanpringadi.com/defisit-anggaran/, diakses pada 3 Mei 2017

http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=189098&val=6467&title=ANALISIS%20DAMPAK%20DEFISIT
%20ANGGARAN%20TERHADAP%20INVESTASI%20DAN
%20PERTUMBUHAN%20EKONOMI%20DI%20INDONESIA:%20STUDI
%20KASUS%20TAHUN%201990%20%C3%A2%E2%82%AC%E2%80%9C
%202011, diakses pada 3 Mei 2017