Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas

manusia seutuhnya adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab

profesional setiap guru. Pengembangan kualitas manusia menjadi suatu

keharusan, terutama dalam memasuki era globalisasi saat ini, agar generasi

muda tidak menjadi korban globalisasi itu sendiri. Sehingga tidak

mengherankan jika berbagai jalan dilakukan untuk menciptakan pendidikan

yang berkualitas dan humanis di berbagai Negara belahan dunia tidak

terkecuali dengan pendidikan Indonesia.

Dalam usaha menciptakan pendidikan kualitas dan humanis

Strategi pembelajaran fisika yang tepat adalah strategi pembelajaran

yang menekankan pada kegiatan aktif siswa dalam menggunakan semua

indera melalui memahami dan menerapkan konsep-konsep fisika. Pada

dasarnya siswa memerlukan rangsangan-rangsangan agar minat belajarnya

berkembang. Hal ini perlu menggunakan strategi yang bisa membuat siswa

merasa bahwa mata pelajaran fisika bukan suatu hal yang menyulitkan tetapi

suatu hal yang menyenangkan.

Hal ini bisa diatasi dengan kemanpuan guru untuk membuat gairah

belajar siswa meningkat. Guru harus memiliki gaya mengajar dan metode

pembelajaran tersendiri, sehingga menimbulkan minat belajar siswa. Seperti

kita ketahui dalam ilmu pendidikan sendiri banyak metode dan model

1
pembelajaran yang bisa mengembangkan kemanpuan siswa dalam menuntun

ilmu.

Menurut agus (Wara, 2004) pendidikan yang baik harus dapat

menyediakan model pembelajaran untuk optimalisasi kedua belahan otak.

Pengembangan model pembelajaran fisika dengan memberikan konsep-

konsep, melakukan eksperimen atau aktivitas-aktivitas lain yang melibatkan

siswa secara aktif, diyakini dapat lebih memperdayakan kedua belahan otak

siswa. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah dengan inkuiri.

Inkuiri merupakan metode sains yang mengacu pada suatu cara untuk

mempertanyakan, mencari pengetahuan, informasi, atau mempelajari suatu

gejala (Koes, 2003:12). Pembelajaran inkuiri membuat siswa untuk bisa

mencari dan menyelidiki suatu masalah dengan cara sistematis, kritis, logis

dan di analisa dengan baik. Model pembelajaran ini akan membuat siswa

lebih banyak berdiskusi untuk memecahkan masalah. Model pembelajaran ini

cocok untuk pembelajaran fisika, karena siswa dituntun untuk meneliti suatu

hal yang lebih kritis. Disini guru hanya menjadi fasilator yang membimbing

siswa untuk menemukan permasalahan yang di berikan.

Menurut Sumantri M. dan Johar Permana (2000 : 142) inkuiri adalah

cara penyajian pembelajaran dengan memberi kesempatan kepada peserta

didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Menurut

Syaiful Sagala (2011:196) metode inkuiri adalah metode pembelajaran yang

berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa yang

berperan sebagai subjek belajar, sehingga dalam proses pembelajarannya ini

2
siswa lebih banyak sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan

masalah sedangkan menurut Piaget (Mulyasa, 2006) mendefinisikan metode

inkuiri adalah metode yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk

melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin

melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari

jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan

penemuan yang lainya, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang

ditemukan peserta didik lainnya.

Pada umunnya setiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan

kekurangan dalam dunia pendidikan. Hal itu juga di alami pada model

pembelajaran inkuiri. Kelebihan model pembelajaran inkuiri tersendiri yaitu

siswa lebih aktif dalam belajar, membangkitkan motivasi belajar siswa,siswa

memahami benar bahan pelajaran, menimbulkan rasa puas bagi siswa dan

menambah kepercayaan pada diri sendiri menjadi penemu. Selain itu

kekurangan pada model pembelajaran inkuiri sebagai berikut menyita banyak

waktu , cara belajar ini diperlukan adanya kesiapan mental, tidak semua siswa

melakukan penemuan, tidak berlaku semua topik, dan metode ini kurang

berhasil untuk mengajar kelas yang besar karena sangat merepotkan guru.

Jika dilihat dari kenyataan yang ada di lapangan, bahwa sistem

pembelajaran yang diterapkan di SMA Swasta Muhammadiyah Ende, lebih

didominasi oleh pembelajaran konvesional. Siswa cenderung lebih pasif

karena mereka hanya menerima materi dan latihan soal dari guru, hal itu tidak

3
cukup mendukung penguasaan konsep fisika dan menyebabkan nilai prestasi

fisika siswa yang masih dibawah KKM sekolah yaitu 70.

Bertolak dari uraian diatas, maka penulis merasa tertarik melakukan

penelitian dengan judul PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

INKUIRI DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

PADA MATERI KALOR UNTUK SISWA KELAS X SEMESTER 2 SMA

SWASTA MUHAMMADIYAH ENDE TAHUN AJARAN 2015/2016

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirincikan kedalam

identifikasi masalah yaitu sebagai berikut:

1. Rendahnya minat siswa dalam belajar bidang fisika.


2. Rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran fisika.
3.Guru cenderung menggunakan metode konvesional pada mata

pelajaran fisika

C. Pembatasan Masalah

Sesuai dengan latar belakang dan identifikasi masalah yang disajikan,

maka dalam penelitian ini permasalahan dibatasi rendahnya prestasi belajar

siswa pada mata pelajaran fisika sehingga penulis tertarik menggunakan

penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan prestasi belajar

siswa pada materi kalor untuk siswa kelas X semester 2 SMA Swasta

Muhammadiyah Ende tahun ajaran 2015/2016.

D. Rumusan Masalah

4
Dari identifikasi dan uraian pembatasan masalah diatas, maka

dirumuskan permasalahan yaitu apakah penerapan model pembelajaran

inkuiri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi kalor untuk

siswa kelas X semester 2 SMA swasta Muhammadiyah Ende tahun ajaram

2015/2016.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penilitian ini yakni untuk

mengetahui penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan

prestasi belajar siswa pada materi kalor untuk siswa kelas X semester 2 SMA

swasta Muhammadiyah Ende tahun ajaram 2015/2016.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah agar metode pembelajaran

inkuiri dapat menjadi bahan refrensi dalam meningkatkan prestasi belajar

siswa.
2. Manfaat Praktis
Adapun manfaat praktis dari penelitian diuraikan sebagai berikut:
a. Guru
Sebagai masukkan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar

lebih efektif.
b. Siswa-Siswi
Sebagai motivasi bagi siswa-siswi untuk meningkatkan prestasi

belajar dan sebagai motivasi bagi siswa-siswi untuk cari tahu sendiri
c. Sekolah
Sebagai bahan pertimbangan dalam proses belajar selanjutnya
d. Bagi Peneliti

5
Sebagai calon guru fisika diharapkan dapat mengetahui segala

permasalahan yang ada dalam proses belajar mengajar dan dapat

melatih untuk berpikir kritis dan ilmiah dalam menentukan dan

memecahkan masalah yang dihadapi

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. KAJIAN TEORI

1. Pengertian Pembelajaran

Kata pembelajaran adalah terjemahan dari instruction yang

banyak di pakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Hal ini

seperti yang diungkapkan oleh Gagne 1992 dalam sanjaya (2006:78),

yang menyatakan bahwa: instruction is a set of event that effect learners

in a such a way that learning is faciliated

Oleh karena itu menurut Gagne, mengajar atau teaching

merupakan bagian dari pembelajaran, dimana peran guru lebih di tekankan

kepada bagaimana merancang atau mengarasemen berbagai sumber dan

fasilitas yang tersedia untuk digunakam atau dimanfaatkan siswa dalam

mempelajari sesuatu.

Terdapat beberapa karakteristik pembelajaran penting dari istilah

pembelajaran antara lain:

6
1. Pembelajaran berarti membelajarkan siswa
2. Proses pembelajaran dilakukan dimana saja
3. Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan

Sebagai proses pengaturan, kegiatan pembelajaran memiliki ciri-ciri

tertentu, menurut Edi Suardi dalam Djamarah dan Zain (2010:39) sebagai

berikut:

1) Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni membentuk siswa dalam

suatu perkembangan tertentu.


2) Ada suatu prosedur yang direncanakan, didesain untuk mencapai

tujuan yang telah di tetapkan.


3) Kegiatan pembelajaran di tandai dengan satu penggarapan materi yang

khusus.
4) Ditandai dengan aktivitas siswa.
5) Dalam kegiatan belajar mengajar, Guru berperan sebagai pembimbing.
6) Dalam pembelajaran membutuhkan disiplin.
7) Ada batas waktu.
8) Evaluasi.

Adapun komponen yang terdapat dala, pembelajaran antara lain

(Djamarah dan Zain, 2010:40):

1) Tujuan.
2) Bahan pelajaran.
3) Kegiatan belajar mengajar.
4) Metode
5) Alat/ sarana belajar
6) Sumber belajar

2. Model Pembelajaran Inkuiri

a. Konsep Model Inkuiri


Inkuiri pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang dialami

(Mulyasa, 2003:235). Stategi inkuiri memberikan peluang kepada

7
peserta didik untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Peserta

didik lebih banyak ditantang untuk mencari, melakukan dan

menemukan sendiri. Didasari hal inilah suatu pembelajaran inkuiri

dikembangkan.
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta,atau

terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencar informasi,

dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa pembelajaran

inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara untuk siswa membangun

kecakapan-kecakapan intelektual terkait dengan proses berpikir

reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka

harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun

kemanpuan itu.
Inkuiri adalah suatu metode yang digunakan dalam

pembelajaran fisika dan mengacu pada suatu cara untuk

mempertanyakan, mencari pengetahuan, informasi atau mempelajari

suatu gejala. Wayne Welch berpendapat bahwa metode penyelidikan

ilmiah sebagai proses inkuiri. Ia juga mengindentifikasi lima sifat dari

proses inkuiri yaitu pengamatan, pengukuran, ekperimentasi ,

komunikasi, dan proses-proses mental ( Koes, 2003:12-13)


Selanjutnya Sanjaya (2008:19) menyatakan bahwa ada beberapa

hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri.


a) Strategi inkuiri menekankan kepada aktikfitas siswa secara

maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan

inkuiri menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dalam proses

pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima

8
pembelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka

berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu

sendiri.
b) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari

dan menemukan sendiri dari sesuatu di pertanyakan, sehingga

dapat menumbuhkan sikap percaya diri ( self belief). Artinya dalam

pendekatan inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber

belajar, akan tetapi sebagai fasililator dan motivator belajar siswa.


c) Tujuan dari teknik pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan

kemampuan intelektual sebagai dari proses mental, akibatnya

dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar

menguasai pelajaran akan tetapi bagaimana mereka dapat

menggunakan potensi yang dimilikinya.

Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri

mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:


1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana

atau iklim pembelajaran yang responsif. Sehingga pada langkah ini

guru mengondisikan serta merangsang dan mengajak siswa untuk

berpikir memecahkan masalah. Selain itu pada langkah ini, dapat

menjelaskan topik, tujuan, hasil belajar yang diharapkan serta

menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang dilakukan oleh siswa.


2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa

pada suatu persoalan yang menantang siswa untuk berpikir

9
sehingga dapat dikembangkan melalui proses pencarian dan

menemukan jawaban.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan yang

perlu diuji kebenaranya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru

untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada

setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyan yang

dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban

sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan

kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi

yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajuakan. Dalam

strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan

proses mental yang sangat penting dalam pengmbangan intelektual.

Oleh sebab itu tugas dan peran guru tahapan ini adalah mengajukan

pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir

mencari informasi yang dibutuhkan.


5. Analisis data
Data yang sudah dikumpul harus dianalisis untuk dapat

membuktikan kebenarannya. Faktor penting dalam menguji

hipotesis adalah mecari tingkat keyakinan siswa serta

mengembangkan kemampuan berpikir rasional siswa.


6. Membuat kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan

temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Oleh

10
karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat hendaknya

guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.


Dari langkah-langkah diatas dapat disimpulkan bahwa dalam

pembelajaran inkuiri menunjukan adanya perilaku guru dan siswa

dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hal tersebut dilakukan melalui

tahapan-tahapan seperti yang dikutip oleh Sanjaya (2006:202-205).


Pembelajaran dengan teknik inkuiri yang mensyaratkan

keterlibatan aktif siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar

dan sikap anak terhadap pelajaran fisika, khususnya kemanpuan

pemahaman dan komunikasi fisika siswa. Pembelajaran dengan

pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya

menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehimgga

dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri.

Peranan guru dalam inkuiri sebagai pembimbing dan fasilator. Tugas

guru memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk

dipecahkan.
Menurut Gulo (2002:86-87) peranan utama guru dalam

menciptakan kondisi pembelajaran inkuiri sebagai berikut:


1. Motivator; yang memberikan rangsangan supaya siswa aktif dan

gairah berpikir.
2. Fasilator; yang menunjukan jalan keluar jika hambatan dalam

proses berpikir siswa.


3. Penanya; untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka

perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri


4. Administrator; yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan

dikelas.

11
5. Pengarah; yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan

yang diharapkan
6. Manajer; yang mengelolah sumber belajar, waktu, dan organisasi

kelas.
7. Rewarder; yang memberi perhargaan pada prestasi yang dicapai

dalam rangka peningkatan semangat para siswa


b. Pembagian Inkuiri
Sund dan Trownbridge (2005) dalam Mulyasa, mengemukakan

bahwa pelaksanaan model inkuiri ini mempunyai tiga macam cara,

yaitu:
1. Inkuiri terbimbing (guide inquiri): siswa memperoleh pedoman

sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut

biasanya pertanyaan-pertanyaan membimbing. Dalam

menyelesaikan persoalan siswa sesuai dengan prosedur yang

telah ditetapkan oleh guru.


2. Inkuiri bebas (free inquiri): metode inkuiri ini siswa diberi

kebebasan dan inisiatif untuk memikirkan bagaimana

memecahkan masalah. Dalam inkuiri bebas siswa difasilitasi

untuk dapat mengidentifikasi masalah dan merancang proses

penyelidikan. Siswa secara bebas memilih dan menggunakan

prosedur masing-masing, menyusun data yang diperolehnya,

menganalisis dan kemudian mengambil kesimpulan.


3. Inkuiri bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry): pada

inkuiri jenis ini guru hanya sebagai pemberi masalah atau

problem kemudian siswa diminta untuk memecahkan

permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi dan

prosedur penelitian.

12
c. Keunggulan dan Kelemahan Inkuiri
1. Keunggulan Metode Inkuiri
a. Lebih menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif,

dan psikomotorik secara seimbang sehingga pembelajaran

menjadi lebih bermakna.


b. Dapat memberi ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan

gaya belajarnya masing-masing.


c. Menempatkan siswa sebagai subjek belajar
d. Melibatkan siswa dalam proses mencari dan menemukan

jawaban dari suatu persoalan.


e. Merangsang siswa untuk berpikir dan bertindak dalam

menemukan jawaban.
2. Kelemahan Metode Inkuiri
a. Sulit untuk mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa dalam

proses pembelajaran.
b. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena

terbentur kebiasaan siswa dalam belajar.


c. Memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit

menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.


d. Pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas besar karena

sebagian waktu akan hilang karena membantu siswa untuk

menemukan teori-teori.
e. Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin

mengecewakan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan

pembelajaran yang tradisonal jika guru tidak menguasai

pembelajaran inkuiri.
Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Inkuiri

No Tahapan Perilaku Guru dan Siswa


1. Orientasi 1. Guru mengondisikan siswa dari keadaan
yang sebelumnya.
2. Guru menjelaskan topik dan tujuan

13
pembelajaran.
3. Guru membagi siswa dalam kelompok.

2. Merumuskan Masalah Guru membimbing siswa dalam


merumuskan masalah dan masalah
dituliskan dipapan.

3. Merumuskan 1. Guru memberi kesempatan pada siswa


untuk menyampaikan pendapat dalam
Hipotesis bentuk hipotesis.
2. Guru membimbing siswa dalam
menentukan hipotesis yang relevan dengan
masalah dan memproritaskan hipotesis yang
menjadi prioriatas penyelidikan.

4. Mengumpulkan Data 1. Guru bersama siswa merancang percobaan


untuk proses pengumpulan data.
2. Guru memberi kesempatan pada siswa
untuk menentukan langkah-langkah
percobaan
3. Guru membimbing siswa mengurutkan
langkah-langkah percobaan.
5. Menganalisis Data 1. Guru memberi kesempatan pada siswa
untuk menganalisis data yang telah
dikumpulkan.
2. Guru memberi kesempatan pada siswa
untuk menyajikan data yang telah dianalisis.
6. Membuat Kesimpulan Guru membimbing siswa dalam membuat
kesimpulan.

3. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar


Kata prestasi berasal dari bahasa belanda yaitu prestatie.

Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil

usaha. Istilah prestasi belajar (achievement) berbeda dengan hasil

belajar (learning outcome). Prestasi belajar pada umunnya berkenan

dengan aspek pengetahuannya, sedangkan hasil belajar meliputi aspek

pembentukan watak peserta didik.

14
Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat perenial

dalam sejarah kehidupan manusia, karena sepanjang rentang kehidupan

manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemanpuan

masing-masing. Prestasi belajar (achievement) semakin terasa penting

dibahas, karena mempunyai beberapa fungsi utama antara lain:


1. Prestasi belajar indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang

dikuasai peserta didik.


2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dan inovasi pendidkan.
4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern.
5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap (kecerdasan)

peserta didik.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor internal
a. Kondisi fisik yang prima dari siswa akan menguntungkan bagi

siswa.
b. Keadaan psikologis yang baik besar pengaruhnya terhadap

prestasi belajar.
Faktor Eksternal
a. Keluarga
Peranan keluarga dalam kaitan dengan prestasi belajar siswa

adalah:
a. Memberikan bimbingan kepada siswa secara baik.
b. Menciptakan kondisi belajar yang kondusif.
b. Sekolah
Sekolah merupakan tempat siswa belajar untuk berpikir logis,

berperanan, dan berkemauan. Hal-hal yang mempengaruhi prestasi

belajar yang datang dari sekolah adalah:


a. Ketersedian tenaga pengajar atau guru.
b. Fasilitas dan sarana prasarana yang memadai.
c. Pengunaan pembelajaran yang tepat
c. Masyarakat
Siswa aadalah bagian dari masyarakat, sehingga masyarakat juga

berpengaruh terhadap belajar siswa.

15
4. Kalor

a. Pengertian Kalor

Kalor adalah energi panas yang berpindah dari suhu tinggi kesuhu

rendah (Kanginan, 2006).

kalori setara dengan 4,184 joule atau 4,2 joule.

1 joule = 4,2 kalori

b. Kalor jenis dan kapasitas kalor

c. Kalor jenis (c)

Kalor jenis adalah banyak kalor yang diperlukan untuk

menaikkan suhu atau melepaskan suhu 1 kg massa suatu zat

sebesar 10C atau 1 K (Nurhayati, 2009:211).

c= atau Q = m c T .............................................. (2.1)

Keterangan:
Q = Kalor (J)
m = Massa zat (Kg)
c = kalor jenis (joule/K atau kalori/K)
T = perubahan suhu (0c)
d. Kapasitas Kalor ( C )

Kapasitas kalor adalah banyak kalor yang diperlukan zat

menaikkan suhu sebesar 10C atau 1 K (Nurhayati, 2009:212)

C = m. c...................................................... (2.2)
Keterangan
C = kapasitas kalor (joule/kg.K atau kalori/gram.K)

c. Asas Black

16
Asas black adalah Setiap dua benda atau lebih dengan suhu

berbeda dicampurkan maka benda yang bersuhu lebih tinggi akan

melepaskan kalornya, sedangkan benda yang bersuhu lebih rendah

akan menyerap kalor hingga mencapai keseimbangan yaitu suhunya

sama. Pelepasan dan penyerapan kalor ini besarnya harus imbang.

Kalor yang dilepaskan sama dengan kalor yang diserap sehingga

berlaku hukum kekekalan energi (Handayani, 150:2009).

Persamaan:

Q1 = Q 2
m1 c1 T=m2 c2 T ............................................... (2.3)
Keterangan:
Ms = Massa kalor yang diserap (kg)
Cs = kalor jenis yang diserap
Ts = Perubahan suhu diserap
Ml = Massa kalor yang dilepas
Cl = Kalor jenis lepas
Tl = Perubahan suhu yang dilepas
d. Perubahan Wujud

Perubahan wujud suatu benda diakibatkan karena terjadinya

proses pemanasan dan pendinginan atau pemberian kalor terhadap

suatu zat. Miaslnya; es menjadi cair, air menguap dan lain-lain.

Perubahan wujud tersebut dapat dilihat pada diagram dibawah ini.

Keterangan :

17
Melebur adalah perubahan wujud dari padat menjadi cair,

Membeku adalah perubahan wujud dari cair menjadi padat,

Menguap adalah perubahan wujud dari cair menjadi gas,

Mengembun adalah perubahan wujud dari gas menjadi cair,

Menyublim adalah perubahan wujud dari padat langsung menjadi

gas.

Deposisi adalah kebalikan dari menyublim.

e. Perpindahan Kalor

Berdasarkan definisi kalor menyatakan bahwa kalor

merupakan bentuk energi yang berpindah dari suhu tinggi kesuhu

rendah. Dari definisi tersebut meka perpindahan kalor dapat dilakukan

dengan tiga cara (Handayani, 225-226: 2009).

a. Perpindahan kalor secara konduksi


Konduksi adalah proses perpindahan kalor tanpa disertai

dengan perpindahan partikel. Konduksi terjadi pada zat padat. Laju

konduksi (H) kalor bergantung pada temperatur (T), ketebalan

dinding (d), luas permukaan (A), dan konduktivitas termal (k).


Dengan demikian laju kalor dapat dirumuskan sebagai

berikut:

H = k .A. . .(2.4)

Sedangkan untuk menentukan laju konduksi yang terjadi

pada dua benda yang berbeda jenisnya disambung maka

persamaannya akan menjadi:


H1 = H2

18
K1 . A1 . = k2 . A2 . (2.5)

b. Perpindahan kalor secara konveksi


Konveksi adalah proses perpindahan kalor yang disertai

dengan perpindahan partikel. Hal ini disebabkan karena adanya

perbedaan massa jenis atau kerapatan. Perpindahan kalor secar

konveksi terjadi pada fluida (zat cair dan gas).


Besarnya kalor yang mengalir tiap satuan waktu sebesar :
H = h. A. T (2.6)
Keterangan
h = koefisien konveksi termal (joule/m20C)
A = luas permukaan fluida (m2)
T = perbedaan suhu (0C)
H = kalor yang mengalir tiap satuan waktu (J/s)

c. Perpindahan kalor secara radiasi


Perpindahan kalor secara radiasi adalah perpindahan energi

kalor dalam bentuk gelombang elektromagnetik (pancaran).

Besarnya energi yang dipancarkan berbanding lurus dengan

pangkat empat suhu mutlaknya.


Secara matematis ditulis persamaan sebagai berikut :
W = e . . T4 (2.7)
Keterangan :
W = intensitas radiasi (W/m2)
e = emisivitas (e = 1)
= tetapan stefan-boltzmann (5,6 x 10-8 W/m2K4)
T = suhu mutlak (K)

B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN

1. Risa Umami, Marungkil Pasaribu, dan Amran Rede

berjudul Penerapan metode inkuiri untuk meningkatkan

prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD Inpres Bajawali

Kecamatan Larlang Kabupaten Mamuju utara. Pada

19
penelitian ini siswa yang menggunakan model

pembelajaran Inkuiri lebih tinggi prestasi belajarnya

daripada menggunakan model konveksional hal ini dilihat

dari tes yang dilakukan penelitian menunjukkan

sebanyak 92% siswa nilai diatas 75 sedangkan hanya 8 %

siswa yang nilainya masih dibawah 75.

2. Asep Kumila Jayadianta berjudulPenerapan Model

Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Prestasi

Belajar Siswa Tentang Peristiwa Benda Padat Dalam Air .

Melalui Kegiatan Pada penelitian ini terjadi peningkatan

prestasi belajar pada materi peristiwa benda padat

didalam air, hal berdasarkan hasil uji t terhadap skor

pretes dan postes diperoleh hasil rata-rata postes (42,84)

> rata-rata pretes (17,34) dengan t-hitung (16,11) > t

tabel (2,04).
3. Arimurti Puput Chandra bejudul Pengaruh Model Inkuiri

Terbimbing Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata

Pelajaran IPA Kelas IV SD Paliyan II Gunung Kidul ().

Pada penelitian ini siswa yang menggunakan metode

inkuiri terbimbing nilainya lebih tinggi atau berbeda

dengan yang menggunakan metode biasa. Hal ini

berdasarkan hampir 90% nilai siswa mendapat nilai 80

diatas nilai standar kkm nya yaitu 70.

20
C. KERANGKA PIKIR

Untuk menentukan prestasi belajar siswanya guru harus membuat

sebuah kegiatan, dimana kegiatan itu bisa menjadi bahan acuan guru. Bahan

acuan itu berupa sebuah strategi yang bisa meningkatkan daya belajar siswa.

Tetapi acuan itu sesuai dengan kurikulum yang telah di tetapkan

sekolah.walaupun guru sudah siap menyusun strategi tetapi tidak didukung

sarana dan prasarana maka kegiatan belajar bisa terganggu. Sebelum

melakukan kegiatan mengajar guru harus menyiapkan materi lebih dahulu.

Salah satu materi yang akan di bahas adalah materi kalor. Materi

pembelajaran tersebut akan disajikan oleh guru melalui proses pembelajaran.

Salah satu model pembelajaran adalah metode pembelajaran inkuiri.

Dari dasar pemikiran diatas, maka dapat dituangkan dalam bentuk

bagan sebagai berikut:

Guru

Materi Pembelajaran
Model Pembelajaran Inkuiri
Siswa
Prestasi Belajar

D. HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang

telah diubah. Hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan model

pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi

21
kalor untuk siswa kelas X semester 2 SMA swasta Muhammadiyah Ende

tahun ajaram 2015/2016 minimal mencapai KKM 70.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan

pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui dan

mendeskripsikan secara jelas tentang kegiatan yang berhubungan dengan

penerapan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan prestasi

belajar siswa pada materi kalor untuk siswa klas X semester 2 SMA swasta

Muhammadiyah Ende tahun ajaran 2015-2016.

2. Desain Penelitian

Adapun desain penelitian yang digunakan yaitu true exprerimental

desaign (one group, pre test-post tes) (Slamento, 2000:79) dengan bagan

sebagai berikut :

Kelas Pre-test Perlakuan Post-test Hasil test


E X1 Y1 X2 A

Keterangan:

E : kelas eksperimen

22
X1 : Test awal (Kemampuan awal siswa) kelas eksperimen

X2 : Test akhir (prestasi belajar siswa) kelas eksperimen

Y1 : Pembelajaran Fisika dengan model pendekatan inkuiri

A : hasil tes (X2 X1)

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada kelas X SMA Swasta

Muhammadiyah Ende tahun pelajaran 2015-2016.

2. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan, mulai bulan Mei sampai Juni

2016.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah kumpulan dari seluruh elemen sejenis tetapi dapat

dibedakan satu sama lain. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini

adalah seluruh siswa kelas X SMA Swasta Muhammadiyah Ende tahun

pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 80 orang yang terdiri dari 3 kelas.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakterisik yang dimiiki

populasi tersebut (Sugiyono, 2012:118). Sampel yang diambil pada

penelitian ini adalah satu kelas yaitu kelas X yang berjumlah 25 orang.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitan ini adalah

D. Variabel penelitian

23
Variabel penelitian yaitu sesuatu yang menjadi objek penelitian atau apa saja

yang menjadi titik penelitian. Pada variabel penelitian ada dua yaitu variabel

terikat dan variabel bebas.

1. Variabel terikat
Yaitu prestasi belajar siswa yang ingin dicapai dengan

mendapatkan suatu yang baru. .


2. Variabel bebas
Model pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran

inkuiri. Inkuiri adalah suatu metode yang digunakan dalam

pembelajaran fisika dan mengacu pada suatu cara untuk

mempertanyakan, mencari pengetahuan, informasi atau

mempelajari suatu gejala.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

1. Teknik dan Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes

objektif berupa tes hasil prestasi belajar siswa (tes awal dan tes akhir).
2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen dalam penelitian ini adalah butir-butir soal tes prestasi

belajar siswa. Setiap butir soal yang disiapkan sebanyak 40 butir soal

dalam bentuk tes objektif dengan 5 (lima) alternative jawaban yaitu

a,b,c,d.e. setiap butir soal hanya memiliki satu jawaban yang benar, yakni

jika jawaban yang benar di beri skor satu (1) dan jawaban yang salah

diberi skor nol (0).

F. validitas dan Reliabilitas Instrumen

Sebelum soal diberikan pada kelas percobaan soal diuji coba

dikelas atas dengan menghitung validitas, realibilitas, daya pembeda dan

24
taraf kesukaran dari instrumen tersebut. Uji coba dilakukan pada kelas atas

yaitu kelas XI SMA Swasta Muhammadiyah Ende tahun pelajaran 2015-

2016. Adapun analisis yang dilakukan terhadap soal-soal uji coba sebagai

berikut:

1. Validitas Soal
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat

kevaliditasan atau kesahihan suatu instrumen. Untuk mengetahui

validitas butir soal dapat digunakan rumus koefisien korelasi point

biserial (Sudijono,2004:186) sebagai berikut:

( 3.1)

Keterangan:

Mp = skor rata-rata hitung dari skor siswa menjawab yang


benar
rpbi = koefisien korelasi point biserial yang melambangkan
koefisien validitas butir soal
Mt = skor rata-rata soal
p = Proporsi testee yang menjawab benar butir soal yang
diuji validitasnya
q = proporsi testee yang menjawab salah butir yang di uji
validitasnya.

Instrumen dikatakan valid jika koefisien korelasinya poin

biserial lebih besar dari kefisien ( rpbi > rtabel) diperoleh dari nilai

koefisien korelasi r product moment dengan derajat kebebasan

(dk) =N-2 dan taraf nyata () = 0,05. Dalam pemberian

interprestasi terhadap rpbi digunakan derajat kebebasan sebesar

(n=2) dan taraf nyata atau signifikan( ) = 0,05.

25
2. Reliabilitas Soal
Reliabilitas butir soal adalah tingkat kepercayaan

terhadap soal. Suatu butir soal dapat diketahui mempunyai taraf

kepercayaan yang tinggi jika butir soal tersebut dapat memberikan

hasil yang tetap reliabilitas butir soal diukur dengan menggunakan

rumus KR-20 adalah (Surapnata, 2009:114).

= (3.2)

Keterangan:
rii = realibilitas tes
k = banyaknya soal
p = proporsi subyek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subyek yang menjawab item dengan salah
pq = jumlah hasil perkalian p dan q
S = standar deviasi dari tes

S = .(3.3)

Keterangan:
x2 = jumlah deviasi danri retara kuadrat
N = banyaknya subjek yang mengikuti tes

Instrument dikatakan reliabel jika nilai r11 > r tabel pada

taraf signifikanan () = 0,05 dan dk= n-2


3. Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan soal untuk

membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang

pandai ( kemapuan rendah). Untuk mengetahui daya pembeda dari

26
butir soal digunakan persamaan (Arikunto, 2007:120) adalah

sebagai berikut:
DP= PA-PB (3.4)
Keterangan
D= indeks angka diskriminasi
PA = proporsi siswa yang kelompok atas yang menjawab
dengan benar
PB = proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar
dengan benar
Adapun kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut:
0-0,20 = kurang
0,21-0,40 = cukup
0,41- 0,70= baik
0,71- 1,00 = baik sekali
4. Taraf kesukaran
Taraf kesukaran soal pernyataan tentang seberapa sukar

sebuah butir soal itu bagi taste atau siswa terkait, untuk mengetahui

taraf kesukaran dalam suatu tes digunakan persamaan (Arikunto,

2007:120) adalah sebagai berikut:

TK= (3.5)

Keterangan:
TK : takar kesusahan soal
U : kelompok atas yang menjawab soal benar ( upper group)
L : kelompok bawah yang menjawab soal benar (lower group)
N : jumlah soal dari kelompok atas dan kelompok bawah

Angka indeks kesukaran soal besarnya berkisar antara 0,00

sampai 1,00 artinya angka tersebut paling rendah 0,00 dan paling

tinggi 1,00.

Kriteria penilaian
0,00-0,20= sukar sekali
0,21-0,40= sukar
0,41-0,70= sedang
0,71-1,00= mudah

G. Teknik Analisa Data

27
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kuantitatif,

karena itu data tersebut dianalisis dengan menggunakan persamaan

persamaan statistik. Uji statistik yang digunakan adalah uji prasyarat analisis

dan uji hipotesis penelitian.

1. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan membuktikan bahwa data dari

kelas sampel penelitian ini mengikuti model distribusi normal atau tidak.

Persamaan statistik yang digunakan (Sudjana, 2002:273):

..(3.6)

Keterangan:
Oi = frekuensi nyata
Ei = frekuensi Harapan
K = banyaknya kelas interval
= chi-kuadrat
E i diperoleh dari hasil kali antara banyaknya data (n) dengan

peluang atas luas dibawah kurva normal yang bersangkutan. Untuk

mencari peluang (luas), digunakan persamaan:

Zi= .(3.7)

Keterangan
Z = batas bawah kelas interval ke-i (i=1,2,3,........k)
x = rata_rata sampel
S= simpangan baku sampel
Data dikatakan berdistribusi normal jika x2hitung< x2tabel pada

taraf signifikan = 0,05 dan dk= K 3

2. Uji hipotesis
Langkah-langkah pengujian hipotesis:

28
Uji kesamaan dua rata-rata P uji dua pihak
1. Ho: < 70

Penggunaan model pembelajaran inkuiri belum efektif

meningkatkan prestasi belajar siswa karena nila belum mencapai

70.
2. Hi : 70

Maka penggunaan model pembelajaran inkuiri efektif dalam

meningkatkan hasil prestasi belajar fisika karena mencapai nilai

minimal 70.
3. Taraf signifikasi () = 0,05
4. Derajat kebebasan dk = N-1
5. Kriteria pengujian:
Terima H0 jika thitung < ttabel
Tolak H0 jika thitung > ttabel

29