Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PRODUKSI TERNAK UNGGAS


Pengaruh Kandungan Protein Ransum terhadap Produksi Telur
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Produksi Ternak
Unggas yang Diampu oleh Dr. Ir. Siti Wahyuni H.S., MS.

Oleh :
Kelas : C
Kelompok : 6

Irma Sukmawati 200110150076


Fita Nur Hania 200110150088
Destyana Aulia K 200110150238
Eka Setiawan P.S 200110150253
Jeffry Adi Nababan 2001101502xx

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala karena


atas berkah, rahmat, dan karunia-Nya penyusunan makalah mata kuliah Produksi
Ternak Unggas dalam judul Pengaruh Kandungan Protein Ransum terhadap
Produksi Telur ini dapat terselesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Dr. Ir. Siti Wahyuni H.S., MS.
2. Teman-teman yang telah membantu pelaksanaan penyusunan makalah.
Penulis berharap makalah Pengaruh Kandungan Protein Ransum terhadap
Produksi Telur ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta menjadi informasi ilmiah
serta penulis meminta kritik dan saran yang membangun agar tidak terjadi
kesalahan di penyusunan makalah selanjutnya.

Sumedang, April 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman

KATA PENGANTAR...........................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................... iii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................
1.3 Tujuan..................................................................................................

II PEMBAHASAN
2.1 Faktor Genetik...........................................................................................
2.2 Faktor Lingkungan....................................................................................
2.3 Pengaruh Kandungan Protein Ransum terhadap Produksi Telur................

III KESIMPULAN...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iii
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Telur adalah salah satu bahan pangan hewani dengan kualitas nutrisi yang
paling baik dari hasil ternak unggas yang memiliki sumber protein hewani.
Menurut sumbernya protein dibagi menjadi dua golongan yaitu protein nabati dan
hewani, protein hewani merupakan protein sempurna karena mengandung asam
amino lisin dan metionin yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perawatan
jaringan. Protein hewani salah-satunya dapat diperoleh dari telur. Beberapa faktor
yang mempengaruhi produksi ayam petelur antara lain kemampuan genetik,
pemberian ransum, dan kualitas ransum. Kualitas ransum yang baik dapat dilihat
dari kandungan nutrient dan keseimbangannya. Protein, energi, mineral dan
kalsium menjadi acuan dalam menyusun ransum unggas, karena nutrien tersebut
sangat penting bagi pertumbuhan yang dapat menunjang produktivitas pada
periode selanjutnya.
Pemeliharaan ayam petelur periode pertumbuhan pada umur 12 20
minggu harus digunakan ransum dengan protein yang tinggi karena, laju
pertumbuhan secara total sudah mulai meningkat. Dengan meningkatnya kualitas
bibit ayam ras petelur maka, pertumbuhannya menjadi lebih cepat, dewasa
kelamin lebih dini dan puncak produksi dicapai lebih cepat karenanya konsep
pemberian ransum dengan kandungan protein yang tinggi. Pada saat memasuki
periode produksi (umur 20 minggu) pertumbuhan organ reproduksi harus optimal
guna mempersiapkan pertumbuhan folikel dan penimbunan material guna
pembentukkan telur serta persiapan awal produksi guna mencapai puncak
produksi yang tinggi. Oleh karena itu, pada saat pemeliharan ayam petelur harus
diberi ransum dengan kadar protein yang tinggi agar produksi telurnya akan
optimal.

1.2 Rumusan Masalah


1. Faktor genetik apa saja yang mempengaruhi produksi telur.
2

2. Faktor lingkungan apa saja yang mempengaruhi produksi telur.


3. Bagaimana pengaruh kandungan protein ransum terhadap produksi telur.

1.3 Maksud dan Tujuan


1. Untuk mengetahui faktor genetik yang mempengaruhi produksi telur.
2. Untuk mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi telur.
3. Untuk mengetahui pengaruh kandungan protein ransum terhadap produksi
telur.
3

II

PEMBAHASAN

2.1. Faktor Genetik


Faktor genetik yang mempengaruhi produksi telur adalah umur masak
kelamin seperti yang disebutkan Apriyantono (1997) bahwa faktor genetik
merupakan faktor yang menentukan kemampuan produksi, semakin cepat ayam
memasuki umur masak kelamin maka semakin lama dan semakin tinggi
produktivitasnya. Sehingga dalam pemeliharaan ternak unggas untuk
mendapatkan produski telur yang tinggi perlu dilakukan penyeleksian agar dapat
memilih ternak dari keturunan yang mempunyai produksi telur yang tinggi pula.
Selain itu faktor genetik ditentukan oleh jenis strain ternak yang
dipelihara. Pemilihan strain merupakan salah satu langkah awal yang harus
ditentukan agar pemeliharaan berhasil. Di Indonesia ayam yang sering diternakan
adalah strain Isa Brown dan Lohman. Menurut PT. Charoen Pokphand Jaya Farm
Indonesia (2006), kelebihan strain Isa Brown adalah produktivitas tinggi (selain
produksi telur juga produksi daging), konversi ransum rendah, kekebalan dan
daya hidup tinggi, dan pertumbuhan yang baik. Ayam betina strain Lohman
memiliki umur awal produksi pada 19-20 minggu dan pada umur 22 minggu
produksi telur mencapai 50 %. Selain itu juga, berat tubuh strain Lohman pada
umur 20 minggu sekitar 1,6-1,7 kg dan akhir produksi 1,9-2,1 kg. Puncak
produksi strain Lohman mencapai 92-93 %, dengan FCR sebesar 2,3-2,4 serta
tingkat kematiannya sampai dengan 2-6 %.

2.2 Faktor Lingkungan


4

2.3 Pengaruh Kandungan Protein Ransum terhadap Produksi Telur


2.3.1 Menurut Jurnal
Ayam petelur merupakan salah satu komoditi ternak penyumbang protein
hewani yang mampu menghasilkan produk yang bergizi tinggi. Tingkat nilai gizi
dari hasil produksi ayam petelur mengacu pada kualitas telur baik kualitas
eksternal dan internal. Kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
bangsa ayam, penyakit, pakan yang diberikan dan juga perlakuan terhadap telur
tersebut (Apriyantono et.al, 1997). Menurut Romanoff (1963), persentase kuning
telur, putih telur dan kerabang tidak selalu sama tetapi telur-telur dari suatu
spesies yang sama umumnya mempunyai proporsi dan komposisi yang sama
sesuai dengan ransum yang diberikan karena faktor ransum dapat mempengaruhi
proporsi komposisi telur serta kualitas telur ayam. Protein merupakan salah satu
nutrien yang perlu diperhatikan baik dalam menyusun ransum maupun dalam
penilaian kualitas suatu bahan. Protein dibutuhkan oleh ayam yang sedang
tumbuh untuk hidup pokok, pertumbuhan bulu dan pertumbuhan jaringan ( Scott
dkk., 1982 ). Hal ini juga sesuai menurut Tillman dkk., (1996) menyatakan bahwa
tubuh ternak dibangun dari zat zat makanan yang diperoleh dari ransum yang
dikonsumsi dan komposisi tubuh ternak dipengaruhi oleh umur, jenis ternak dan
makanan yang dimakan.
Peningkatan taraf protein menjelang periode produksi mengakibatkan
meningkatnya total egg mass walaupun persentase produksi telur tidak berbeda.
(Cave, 1984; Lilburn dan Myer-Miller, 1990; Keshavarz dan Nakajima ,1995).
Pada salah satu penelitian, tampak bahwa penggunaan taraf protein ransum 12-
18% pada periode pertumbuhan (umur 12-20 minggu) tidak berpengaruh pada
rataan total persentase produksi telur selama periode produksi telur fase I (umur
21-44 minggu), taraf protein ransum yang tinggi (18 %) pada saat periode
pertumbuhan hanya berpengaruh positif terhadap persentase produksi telur,
eggmass dan konversi ransum yang lebih tinggi pada saat awal periode produksi
(umur 21-24 minggu) dibandingkan protein sedang (15 %) dan rendah (12 %).
Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat periode
5

pertumbuhan akhir atau developer (umur 12-20 minggu) dapat digunakan taraf
protein ransum dengan kisaran yang luas untuk memperoleh performan produksi
yang memadai. Hal ini sesuai dengan pendapat Holcombe dkk., (1976) dan Scott
dkk., (1982), bahwa pada periode pertumbuhan ayam petelur dara mampu
memanfaatkan ransum dengan kisaran taraf protein yang luas untuk memperoleh
performans yang memadai pada saat periode produksi. Menurut (Keshavarz,
1984) bahwa penggunaan taraf protein tinggi pada periode pertumbuhan
memberikan keuntungan ekonomis lebih baik dibandingkan taraf protein rendah
karena meningkatnya eggmas selama periode produksi. Sedangkan taraf protein
rendah dapat memberikan keuntungan karena biaya ransum yang rendah pada saat
periode pertumbuhan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat retensi protein adalah konsumsi
protein dan energi termetabolis ransum. Konsumsi protein yang tinggi akan diikuti
dengan retensi protein yang tinggi serta akan terjadi penambahan bobot badan bila
energy dalam ransum cukup, tetapi bila energy ransum rendah tidak selalu diikuti
dengan peningkatan bobot badan. Nieto dkk., (1995) menyatakan besarnya protein
yang di retensi tergantung dari banyaknya asam amino yang diberikan dan
tergantung pada kualitas dan kuantitas dari protein ransum. Meningkatnya retensi
protein menyebabkan meningkatnya pertumbuhan. Hal ini disebabkan karena
semakin banyaknya protein yang digunakan untuk menyusun komponen tubuh
ayam. Meningkatnya retensi protein juga didukung oleh meningkatnya kandungan
energi metabolis ransum. Wahyu (1992) menyatakan bahwa tingkat retensi protein
dipengaruhi oleh konsumsi protein dan energi termetabolis ransum. Selanjutnya
Lloyd dkk., (1978) menyatakan bahwa jumlah protein yang diretensi akan
menentukan tinggi rendahnya produksi atau pertumbuhan ayam. Telur konsumsi
yang diproduksi oleh ayam merupakan deposisi nutrisi dari pakan oleh karena itu,
kualitas telur akan sangat dipengaruhi oleh kualitas nutrisi dari pakan. Oleh
karena itu, untuk memenuhi kebutuhan protein sesempurna mungkin, maka asam
asam amino essensial harus disediakan dalam jumlah yang tepat dalam ransum
(Anggorodi, 1985).
6

2.3.2 Menurut Jurnal


Menurut P. Gunawardana, D. A. Roland, Sr. M. M. Bryant (2008) protein
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi telur, massa telur, asupan
pakan, konversi pakan, berat telur, persentase komponen kulit telur, warna kuning
telur, kuning telur dan albumen. Sebagai energi diet meningkat dari 0 sampai 238
kkal ME / kg dengan penambahan minyak unggas, asupan pakan menurun secara
linier. Peningkatan energi makanan juga meningkat secara signifikan pada warna
kuning telur dan kuning telur. Seiring meningkatnya energi makanan, persentase
padatan kuning telur meningkat pada 2 tingkat protein diet yang lebih besar,
sedangkan gravitasi spesifik telur menurun secara linear pada tingkat protein
17,38%. Peningkatan energi dan protein pakan secara signifikan meningkatkan
konversi pakan. Peningkatan asupan protein meningkatkan kadar albumen dan
kuning telur secara signifikan namun tidak berpengaruh pada kandungan kuning
telur, albumen. Energi makanan dan protein mewakili sekitar 85% dari total biaya
pakan. Saat ini, tingkat energy (2.685 sampai 3.100 kkal ME / kg) dan tingkat
protein (14,5 sampai 19%) digunakan oleh industri telur selama fase molt 1.
Sejumlah penyelidikan telah berfokus pada metode yang mempengaruhi
berat telur melalui manipulasi makanan selama berbagai tahap produksi.
Peningkatan kadar protein, lemak, metionin, lisin dan asam linoleat telah
menghasilkan perbaikan pada berat telur. Warna kuning telur memiliki pengaruh
yang cukup besar terhadap pemasaran telur. Studi tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi intensitas warna kuning telur adalah signifikansi ekonomi bagi
produsen telur. Warna kuning telur tergantung pada karotenoid yang larut dalam
lemak dalam makanan. Bukti eksperimental mengenai efek penambahan lemak
pada warna kuning telur memang kontradiktif. Sullivan, Holleman, Madiedo,
Sunde melaporkan bahwa lemak makanan tambahan tidak berpengaruh pada
warna kuning telur; Namun, Mackay dkk dan Stevans dkk melaporkan bahwa
lemak tambahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap warna kuning telur.
Peningkatan protein diet secara signifikan meningkatkan konsumsi pakan,
produksi telur, berat telur, massa telur, dan albumen dan berat kuning telur.
7

Namun, peningkatan protein diet secara signifikan menurunkan berat jenis telur,
warna kuning telur, dan persentase tempurung kelapa. Konversi pakan
ditingkatkan dengan peningkatan protein makanan.
2.3.3 Menurut Jurnal
Menurut Hong Sun, Yifei Wu, Xin Wang, Yong Liu, Xiaohong Yao,
Jianwu Tang (2015) telur ayam dikenal sebagai sumber protein, lipid, vitamin dan
nutrisi berharga lainnya yang sempurna, namun telur juga mengandung kolesterol
tinggi, yang sangat terkait dengan penyakit kardiovaskular. Tingkat yang
disarankan saat ini untuk asupan harian kolesterol kurang dari 300 mg dan orang
sering membatasi konsumsi telur mereka untuk menghindari peningkatan kadar
kolesterol darah. Suplementasi makanan yang sesuai dengan nasi ragi merah dapat
menurunkan kadar kolesterol serum dan kuning telur dan meningkatkan kualitas
telur pada ayam petelur tanpa penurunan kinerja peletakan. Dosis optimal dari
ragi merah dapat 5 g/kg dalam kondisi percobaan saat ini, walaupun penelitian
lebih lanjut masih diperlukan untuk menjelaskan pengaruh nasi ragi merah
terhadap nutrisi unggas pada tingkat tambahan yang berbeda.
8

III
KESIMPULAN

1. Faktor genetik yang mempengaruhi produksi telur adalah umur masak kelamin
dan tipe strain yang dipelihara.
2. Faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi telur adalah
3. Pengaruh kandungan protein ransum terhadap produksi telur adalah
9

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir Dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas.


Universitas Indonesia Press. Jakarta

Apriyantono, et.al. 1997. Kualitas Telur Ayam Omega 3. Prosiding Seminar


Teknologi Pangan. Hal. 245-250.

Cave, N.A.D. 1984. Effect of high protein diet fed prior to the onset of lay on
performance of Broiler breeder pullets. Poultry Sci. 63:1823- 1827.

Halcombe, D.J., D.A. Roland, Sr., and R.H. Harms. 1976. The ability of hens to
regulate protein intake when offered a choice of diets contain- ing different
levels of protein. Poultry Sci 55: 1731-1737.

Keshavardz, K. 1984. The effect of reducing dietary protein in the rearing and
laying periods on performance and net return of commercial strain of White
Leghorn Chicken. Poultry Sci. 63: Suplement 1 (Abstract).

PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Indonesia. 2006. Manual Manajemen Layer CP
909. PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Indonesia. Lampung.

Romanoff, A. L. and A. J. Romanoff. 1963. The Avian Egg. John Wiley and Sons
Inc., New York.

Scott, M.L., M.C. Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrition of the Chicken. M.L.
Scott and Assiciate. Ithaca. New York.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S.


Lebdosoekojo. 1996. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.