Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Segala bentuk prosedur pembedahan dan anestesi selalu didahului

suatu reaksi emosional tertentu oleh pasien, apakah reaksi tersebut jelas

atau tersembunyi. Sebagai contoh kecemasan pre anestesi merupakan

respon antisipasi terhadap pengalaman yang dianggap pasien sebagai

ancaman terhadap perannya dalam hidup, integritas tubuh atau bahkan

kehidupannya itu sendiri. Pikiran yang bermasalah secara langsung

mempengaruhi fungsi tubuh, karenanya diperlukan identifikasi kecemasan

yang dialami pasien (Stuart dan Sundeen, 2007).

Prevalensi gangguan kecemasan di Amerika Serikat, lebih dari 23

juta penduduk (kira-kira satu dari empat individu) mengalami gangguan

kecemasan. Kurang dari 25% penduduk yang mengalami gangguan panik

mencari bantuan terutama karena mereka tidak menyadari bahwa gejala

fisik yang mereka alami (misal: palpitasi jantung, nyeri dada, sesak nafas)

disebabkan oleh masalah kecemasan (Stuart, 2006).

Di Indonesia, prevalensi gangguan kecamasan berkisar pada angka

6-7% dari populasi umum (perempuan lebih banyak dibandingkan

prevalensi laki-laki). Kecemasan merupakan pengalaman emosional yang

berlangsung singkat dan merupakan respon yang wajar, pada saat individu

menghadapi tekanan atau peristiwa yang mengancam kehidupannya baik

itu ancaman eksternal dan internal. Tindakan operasi merupakan

pengalaman menegangkan bagi sebagian pasien, hal ini dikarenakan oleh

1
2

adanya ketakutan terhadap anestesi, takut terhadap nyeri dan kematian,

takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman

lain terhadap citra tubuh sehingga menyebabkan kecemasan. Pada periode

pre operasi pasien dapat mengalami kecemasan kemungkinan karena

merupakan suatu respon antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dapat

dianggap pasien sebagai suatu ancaman terhadap perannya dalam hidup,

integritas tubuh, bahkan kelangsungan hidup pasien itu sendiri (Smeltzer

and Bare, 2001).

Gangguan kecemasan atau ansietas merupakan kelompok

gangguan psikiatri yang paling sering ditemukan. National Comorbidity

Study melaporkan bahwa satu dari empat orang memenuhi kriteria untuk

sedikitnya satu gangguan kecemasan dan terdapat angka prevalensi 12

bulan sebesar 17,7%. Di Indonesia sendiri telah dilakukan survei untuk

mengetahui prevalensi gangguan kecemasan. Prevalensi gangguan mental

emosional di Indonesia seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar

11,6% dari populasi orang dewasa (Depkes, 2008). Hasil Riskesdas

(2013), Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah dengan penderita

gangguan mental emosional terbanyak.yaitu 6% dari jumlah populasi

terutama daerah kota Yogyakarta.

Kecemasan merupakan gejala yang paling sering muncul pada

tahap preoperasi (Faradisi, 2012; Mau dan Kedang, 2013; Sandjaya dan

Sulistyaningsih, 2012). Menurut Muttaqin dan Sari (2009), kecemasan

yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan adanya perubahan


3

secara fisik maupun psikologis yang akhirnya dapat meningkatkan kerja

saraf simpatis dan akan terjadi peningkatan denyut jantung, frekuensi

napas, tekanan darah, keringat dingin, merasa mulas, gangguan

perkemihan, dan secara umum mengurangi tingkat energi pada pasien

sehingga merugikan pasien itu sendiri. Dalam penelitiannya, Mau dan

Kedang (2013) menambahkan cemas dapat menyebabkan perubahan pada

sistem kardiovaskuler yaitu palpitasi, jantung berdebar, tekanan nadi

menurun, hingga dapat menyebabkan syok sedangkan pada sitem

pernafasan, cemas menyebabkan nafas cepat dan dangkal, rasa tertekan

pada dada hingga menimbulkan rasa tercekik.

Dalam penelitian Masdin (2010) mengatakan kecemasan yang

timbul menjelang tindakan anestesi akan mengganggu jalannya proses

operasi. Kecemasan dapat mengakibatkan frekuensi jantung yang dapat

berpengaruh pada tekanan darah dan pernafasan pasien. Kecemasan dapat

pula mempengaruhi dosis obat anestesi, kenaikan laju metabolisme basal

pre anestesi dan meningkatkan kepekaan terhadap rasa sakit. Setyoadi

(2011) dalam bukunya menyebutkan, bahwa untuk mengurangi

penggunaan obat-obatan dalam mengatasi kecemasan diperlukan terapi

komplementer atau terapi nonbiomedis yang dapat mengurangi tingkat

kecemasan, yaitu terapi musik.

Terapi musik merupakan salah satu teknik distraksi yang efektif,

karena musik dapat menurunkan nyeri fisiologis, stress, dan kecemasan

dengan mengalihkan perhatian seseorang dari nyeri. Menurut Tamsuri


4

(2007) musik terbukti menunjukkan efek antara lain menurunkan frekuensi

denyut jantung, mengurangi kecemasan dan depresi, menghilangkan nyeri,

menurunkan tekanan darah, dan mengubah persepsi waktu. Berdasarkan

penelitian Lin et al. (2011) terapi musik dapat menekan sistem saraf

simpatik yang terlibat dengan penurunan respon stres tubuh. Musik juga

memicu otak untuk melepaskan endorfin, meningkatkan kadar dopamin,

dan memblokir jalur nyeri, semua yang dapat membantu untuk

meningkatkan rasa kesejahteraan (Lin et al., 2011 and Guetin,2009).

Menurut Setiadi (2012) terapi musik digunakan lebih komprehensif

termasuk untuk mengatasi rasa sakit, manajemen stress, pastostimulasi

pertumbuhan dan perkembangan bayi. Peran musik bukan seperti obat

yang dapat dengan segera dapat menghilangkan rasa sakit maupun rasa

cemas, namun secara perlahan-lahan dan bertahap melalui irama musikal

akan mengurangi kesedihan, kecemasan, dan rasa sakit. Setiap musik akan

memiliki makna berbeda bagi setiap individu, karena sangat ditentukan

oleh nilai-nilai individual, falsafah yang dianut, pendidikan, tatanan klinis,

dan latar belakang budaya. Pada dasarnya semua terapi musik mempunyai

tujuan yang sama, yaitu membantu mengekspresikan perasaan, memberi

pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi, meningkatkan

memori, serta menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi dan

membangun kedekatan emosional. Dengan demikian, terapi musik

diharapkan dapat membantu mengurangi stress dan meringankan rasa

sakit.
5

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2009) di RSUP

Soeradji Tirtonegoro didapatkan 8 pasien pre anestesi mengalami

kecemasan, 3 diantara 8 pasien mengalami peningkatan tekanan darah, dan

diperoleh hasil penelitian bahwa pasien mengalami kecemasan ringan 64,5

%, dan 35,5% pasien mengalami kecemasan sedang. Menurut penelitian

Nurmala (2009) dari 30 pasien yang akan dilakukan anestesi dan operasi,

4 orang (13,3 %) menunjukkan tingkat kecemasan sedang, 20 orang (66,7

%) tingkat kecemasan ringan, dan 6 orang (20%) sama sekali tidak

mengalami kecemasan.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta merupakan salah satu rumah

sakit swasta yang terletak di pusat kota Yogyakarta. Berdasarkan hasil

studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 8 Maret 2017 di Ruang

Instalasi Bedah Sentral RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta memiliki 4

kamar operasi dan 1 ruang recovery room dan didapatkan jumlah pasien

dewasa hingga lansia awal yang menjalani tindakan operasi dengan

general anestesi sebanyak 354 pasien pada bulan Desember 2016-Februari

2017 dengan rata-rata per bulan 118 pasien. Hasil wawancara dengan salah

satu perawat kamar operasi mengatakan bahwa puncak kecemasan

berdasarkan pengamatan oleh perawat bangsal maupun perawat kamar

operasi yaitu 2 jam saat pasien yang akan menjalani operasi masih berada

di bangsal sebelum pasien dibawa ke kamar operasi atau sekitar 30-150

menit sebelum pasien menjalani tindakan pembedahan dan anestesi. Gejala

sering Nampak pada pasien yang mengalami cemas pre operasi yaitu
6

tampak gelisah, sering menarik napas dalam, nadi dan tekanan darah

meningkat 20 % hingga 30 %. Manajemen penanganan kecemasan pasien

pre operasi yang berlaku di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yaitu

dengan pemberian terapi obat dan pemberian health education kepada

pasien untuk mengurangi gejala kecemasan. Di RS PKU Muhammadiyah

Yogyakarta, seluruh pasien yang akan menjalani prosedur pembedahan dan

anestesi dilakukan visite pre anestesi oleh dokter anestesi dan perawat

anestesi yang memberikan informasi operator bedah, jenis anestesi serta

mengkaji keadaan fisik pasien sebelum operasi (usia, jenis kelamin,

tekanan darah, nadi, hasil lab), dan pasien diberikan bina rohani sesuai

agama dan keyakinan pasien beberapa jam sebelum pasien dibawa ke

ruang operasi. Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebelumnya

pernah dilakukan penelitian tentang penggunaan terapi musik klasik untuk

mengurangi kecemasan pasien pre operasi yang dilakukan di ruang operasi

15 menit sebelum pasien menjalani proses pembedahan pada pasien

dengan spinal anestesi.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang pengaruh pemberian terapi musik terhadap kecemasan

pasien pre general anestesi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah
7

Berdasarkan dari uraian dalam latar belakang masalah di atas,

dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut Apakah ada

pengaruh pemberian terapi musik terhadap kecemasan pasien pre general

anestesi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya pengaruh pemberian terapi musik terhadap penurunan

tingkat kecemasan pre general anestesi umum di RS PKU

Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien sebelum diberikan terapi

musik

b. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien sesudah diberikan terapi

musik

D. Ruang Lingkup

1. Ruang Lingkup Tempat

Penelitian ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017- Juni2017

3. Ruang Lingkup Materi

Materi yang diteliti berkaitan dengan pengaruh pemberian terapi musik

untuk mengurangi kecemasan pasien pre general anestesi.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk

pengembangan di bidang ilmu keperawatan terutama tentang pengaruh


8

pemberian terapi musik terhadap kecemasan pasien pre general

anestesi.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pasien / masyarakat

Diharapkan dapat mengetahui pengaruh pemberian terapi musik

terhadap kecemasan pasien pre general anestesi

b. Bagi peneliti selanjutnya

Diharapkan dapat digunakan sebagai data penelitian tentang terapi

musik dan kecemasan pasien pre general anestesi.

c. Bagi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Sebagai masukan untuk membuat intervensi keperawatan mandiri

dalam penyusunan standard operational procedure (SOP) untuk

menurunkan kecemasan pada pasien pre general anestesi.

d. Bagi Praktisi di bidang Keperawatan Anestesi

Diharapkan dapat pemberian terapi musik pada pasien pre general

anestesi sebagai alternatif untuk menurunkan kecemasan.

e. Bagi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Sebagai bahan bacaan tentang pemberian terapi musik untuk

menurunkan kecemasan pasien pre general anestesi.

F. Keaslian penelitian

1. Penelitian Aemilisnus Mau (2013) dengan judul Pengaruh terapi

musik terhadap kecemasan pasien pre operasi di ruang Anggrek dan

Asoka RSU Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Penelitian ini

merupakan jenis penelitian pra eksperimen dengan rancangan pre-post

test design. Persamaan dengan peneliti lakukan adalah meneliti tentang

pengaruh musik terhadap kecamasan dengan variable independennya


9

adalah pemberian terapi musik dan metode penelitiannya yaitu

menggunakan rancangan penelitian one group pre-post test design.

Perbedaan dengan peneliti lakukan adalah rancangan peneliti

menggunakan pre-post test design dengan kelompok kontrol, sampel

pada penelitian sebelumnya yaitu pada semua pasien yang

menggunakan general maupun regional anestesi sedangkan peneliti

hanya menggunakan sampel yaitu pada pasien pre general anestesi,

instrument pada penelitian sebelumnya yaitu HRS-A (Hamilton Rating

Scale for Anxiety) sedangkan peneliti menggunakan The APAIS

(Amsterdam Preoperative Anxiety Scale), waktu dan tempat penelitian

berbeda dengan peneliti sebelumnya.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Nuh Huda, Tujiana, dan Retno Wardani

(2008) dengan judul Hubungan antara komunikasi terapeutik perawat

dan tingkat kecemasan pada klien pre operasi di ruang pre med ICU

RS Dr. Ramelan Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian

kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Persamaan dengan

penlitian yang peneliti lakukan adalah variabel dependen yaitu tingkat

kecemasan. Perbedaannya terletak pada metode penelitian Karena

peneliti menggunakan pendekatan kohort, variabel independen

penelitian sebelumnya yaitu hubungan komunikasi terapeutik perawat

sedangkan peneliti menggunakan variabel independen pemberian

terapi musik, sampel serta waktu dan tempat penelitian yang berbeda.

3. Penelitian Edi Purwanto (2008) yang berjudul Efek musik terhadap

perubahan intensitas nyeri pada pasien post operasi di ruangan bedah

(cendana 2) RSUP Dr. Sardjito. Penelitian ini menggunakan pre-post

test group design. Persamaan dengan peneliti adalah variabel


10

independen yaitu efek musik dan metode penelitian yaitu pre-post test

design. Perbedaannya yaitu terletak pada variabel dependen penelitian

sebelumnya yaitu perubahan intensitas nyeri sedangkan peneliti

menggunakan variable dependen perubahan tingkat kecamasan,

sampel yang digunakan peneliti sebelumnya yaitu pada pasien post

operasi baik dengan general anestesi maupun regional anestesi

sedangkan peneliti menggunakan sampel pasien pre general anestesi,

serta waktu dan tempat penelitian yang berbeda yaitu penelitian

sebelumnya melakukan penelitian di RSUP Dr. Sardjito sedangkan

peneliti di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.