Anda di halaman 1dari 40

C.

SUB UNIT KIMIA KLINIK

Pemeriksaan Laboratorium Kimia Klinik adalah suatu rangkaian

pemeriksaan laboratorium yang berhubungan dengan komponen kimia dalam

darah. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2011), hasil pemeriksaan

laboratorium termasuk pemeriksaan kimia klinik dapat dijadikan acuan dalam

membantu diagnosis, mengkonfirmasi diagnosis, menilai status klinik pasien dan

mengevaluasi efektivitas terapi. Sub Unit Kimia Klinik di Laboratorium Klinik

RSUD Wangaya merupakan sub unit pelayanan laboratorium yang melayani

beberapa parameter pemeriksaan kimia darah, meliputi: pemeriksaan Pemeriksaan

Faal Hati, Faal Ginjal, Lipid Profil, Gula Darah, Elektrolit, HbA1C, Analisa Gas

Darah, Pemeriksaan Cairan Tubuh (Cairan Pleura) dan beberapa pemeriksaan lain,

meliputi SI (Serum Iron), Ferritin, dan TIBC (Total Iron Binding Capacity), dari

sampel darah pasien, baik yang berasal dari pasien rawat jalan, rawat inap,

maupun pasien rujukan. Secara umum, pemeriksaan Kimia Klinik di Sub Unit

Kimia Klinik di Laboratorium Klinik RSUD Wangaya ini dikerjakan dengan

menggunakan alat baik secara otomatis dan juga semi otomatis, yaitu:
1. Alat BioSystem A25 dan BioSystem BA400 untuk pemeriksaan Faal hati

(Bilirubin total, Bilirubin direk, Bilirubin indirek, SGPT, SGOT, Protein total,

Albumin, Globulin, Fosfatase Alkali, dan Gamma GT), Lemak dan Jantung

(Kolesterol total, Kolesterol HDL, Kolesterol LDL, dan LDH), Faal Ginjal

(Ureum, Kreatinin, dan Asam urat), Gula darah (Glukosa sewaktu, glukosa

puasa dan glukosa 2 Jam PP), dan beberapa pemeriksaan lain (Serum Iron,

Ferritin, TIBC)

2. Alat Alere Afinion untuk pemeriksaan HbA1c


3. Alat Radiometer Copenhagen ABL 5 untuk pemeriksaan Analisa Gas Darah

76
4. Alat Spotchem Se-1520 Arkray dan Cronley AFT-300 untuk pemeriksaan

Elektrolit (Na, K, Cl)


5. Pemeriksaan Cairan Pleura
1. Pemeriksaan Kimia Klinik dengan BioSystem A25 dan BioSystem BA400
a. Tujuan kegiatan
1) Tujuan umum
Untuk dapat mengetahui dan memahami cara pemeriksaan Kimia Klinik

yang meliputi beberapa parameter, yaitu: Faal hati (Bilirubin total, Bilirubin direk,

Bilirubin indirek, SGPT, SGOT, Protein total, Albumin, Globulin, Fosfatase

Alkali, dan Gamma GT), Lemak dan Jantung (Kolesterol total, Kolesterol HDL,

Kolesterol LDL, dan LDH), Faal Ginjal (Ureum, Kreatinin, dan Asam urat), Gula

darah (Glukosa sewaktu, glukosa puasa dan glukosa 2 Jam PP), dan beberapa

pemeriksaan lain (Serum Iron, Ferritin, TIBC).


2) Tujuan khusus
Untuk dapat melakukan pemeriksaan Kimia Klinik dan menginterpretasikan

nilai dari masing-masing parameter yang meliputi: Faal hati (Bilirubin total,

Bilirubin direk, Bilirubin indirek, SGPT, SGOT, Protein total, Albumin, Globulin,

Fosfatase Alkali, dan Gamma GT), Lemak dan Jantung (Kolesterol total,

Kolesterol HDL, Kolesterol LDL, dan LDH), Faal Ginjal (Ureum, Kreatinin, dan

Asam urat), Gula darah (Glukosa sewaktu, glukosa puasa dan glukosa 2 Jam PP),

dan beberapa pemeriksaan lain (Serum Iron, Ferritin, TIBC).

b. Metode
Metode yang digunakan adalah automatic analyzer dengan Biosystem A25

dan BioSystem BA400.


c. Prinsip kerja
Sampel cup diisi dengan serum atau plasma, kemudian dimasukkan ke

dalam alat lalu alat diprogram sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta pada

formulir pemeriksaan. Alat akan melakukan pemipetan sampel dan reagen secara

otomatis dan hasil akan terlihat pada layar komputer yang tersambung dengan

77
program LIS.
d. Dasar teori
1) Pemeriksaan Fungsi Hati

Pemeriksaan fungsi hati diindikasikan untuk mendeteksi adanya kelainan

atau penyakit hati, membantu menengakkan diagnosis, memperkirakan beratnya

penyakit, membantu mencari etiologi suatu penyakit, menilai hasil pengobatan,

membantu mengarahkan upaya diagnostik selanjutnya serta menilai prognosis

penyakit dan disfungsi hati (Rosida, 2016).

a) Bilirubin

Pemeriksaan bilirubin untuk menilai fungsi eksresi hati di laboratorium

terdiri dari pemeriksaan bilirubin total, bilirubin direk, dan bilirubin indirek.

Menurut Rosida (2016), bilirubin berasal dari pemecahan heme akibat

penghancuran sel darah merah oleh sel retikuloendotel. Metabolisme bilirubin

dimulai oleh penghancuran eritrosit setelah usia 120 hari oleh sistem

retikuloendotel menjadi heme dan globin. Globin akan mengalami degradasi

menjadi asam amino dan digunakan untuk pembentukan protein lain. Heme akan

mengalami oksidasi dengan melepaskan karbonmonoksida dan besi menjadi

biliverdin. Biliverdin reduktase akan mereduksi biliverdin menjadi bilirubin tidak

terkonjugasi (bilirubin indirek). Setelah dilepaskan ke plasma bilirubin tidak

terkonjugasi berikatan dengan albumin kemudian berdifusi ke dalam sel hati.

Bilirubin tidak terkonjugasi dalam sel hati akan dikonjugasi oleh asam glukuronat

membentuk bilirubin terkonjugasi (bilirubin direk), kemudian dilepaskan ke

saluran empedu dan saluran cerna.

b) SGPT (Serum Glutamate Piruvat Transferase)

78
SGPT atau disebut juga ALT (Alanine Transaminase) merupakan suatu

enzim dengan konsentrasi yang paling tinggi ditemukan di hati, yaitu pada

sitoplasma dalam sel hati (Rosida, 2016). Enzim ini juga terdapat pada jantung,

otot dan ginjal. SGPT lebih spesifik menunjukkan fungsi hati jika dibandingkan

dengan pemeriksaan SGOT. Pemeriksaan SGPT berguna untuk membantu

menegakkan diagnosa penyakit hati dan memantau lamanya pengobatan penyakit

hepatik, sirosis post-neurotik dan efek hepatotoksik obat (Kementerian Kesehatan

RI, 2011).

c) SGOT (Serum Glutamate Oxaloacetate Transferase)

SGOT atau disebut juga AST (Aspartate Transaminase) merupakan enzim yang

terdapat di dalam sel jantung, hati, otot rangka, ginjal, otak, pankreas, limpa dan

paru. Kadar tertinggi terdapat di dalam sel jantung. Tingginya kadar AST/SGOT

berhubungan langsung dengan jumlah kerusakan sel (Rosida, 2016).

d) ALP (Alkali Phospate atau Fosfatase Alkali)

Aktivitas enzim ALP digunakan untuk menilai fungsi kolestasis. Enzim ini

terdapat di tulang, hati, dan plasenta. ALP di sel hati terdapat di sinusoid dan

membran, selain itu ALP banyak dijumpai pada osteoblast. Peningkatan aktivitas

enzim ALP mencapai 4 kali lebih dari normal mengarah pada kelainan

hepatobilier (Rosida, 2016). Menurut Kementerian Kesehatan RI (2011), pada

penyakit hati kadar alkali fosfatase akan meningkat karena ekskresinya terganggu

akibat obstruksi saluran bilier.

e) Gamma GT (Gamma Glutamil Transferase)

Enzim GGT merupakan enzim yang terutama terdapat pada hati, ginjal,

terdapat dalam jumlah yang lebih rendah pada prostat, limfa, dan jantung

79
(Kementerian Kesehatan RI, 2011). Pada sel hati, Gamma GT terdapat di

retikulum endoplasma sedangkan di empedu terdapat pada sel epitel (Rosida,

2016). Enzim ini merupakan marker (penanda) spesifik untuk fungsi hati dan

kerusakan kolestatis dibandingkan ALP. Monitoring GGT berguna untuk

mendeteksi pecandu alkohol akut atau kronik, obstruksi jaundice, kolangitis dan

kolesistitis (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Kolestasis adalah kegagalan aliran

empedu mencapai duodenum (Rosida, 2016)

f) Protein
Menurut Guyton dan Hall (2011), total protein pada plasma terdiri dari:

albumin, globulin, dan juga fibrinogen. Albumin disintesa oleh hati dan berperan

dalam mempertahankan keseimbangan distribusi air dalam tubuh (tekanan onkotik

koloid). Albumin juga membantu transport beberapa komponen darah, seperti:

ion, bilirubin, hormon, enzim, obat (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Apabila

terdapat gangguan fungsi sintesis sel hati maka kadar albumin serum akan

menurun (hipoalbumin) terutama apabila terjadi lesi sel hati yang luas dan kronik.

(Rosida, 2016)
Globulin merupakan unsur dari protein tubuh yang terdiri dari globulin

alpha, beta, dan gama. Globulin berfungsi sebagai pengangkut beberapa hormon,

lipid, logam, dan antibodi. Pada sirosis, sel hati mengalami kerusakan arsitektur

hati, penimbunan jaringan ikat, dan terdapat nodul pada jaringan hati, dapat

dijumpai rasio albumin : globulin terbalik. Peningkatan globulin terutama gama

dapat disebabkan peningkatan sintesis antibodi, sedangkan penurunan kadar

globulin dapat dijumpai pada penurunan imunitas tubuh, malnutrisi,

malababsorbsi, penyakit hati atau penyakit ginjal (Rosida, 2016).

2) Lemak dan Jantung


a) Kolesterol

80
Kolesterol merupakan lemak darah yang disintesis di hati serta ditemukan

dalam sel darah merah, membran sel, dan otot. Kolesterol digunakan tubuh untuk

membentuk garam empedu sebagai fasilisator pencernaan lemak dan untuk

pembentukkan hormon oleh kelenjar adrenal, ovarium, dan testis. Kolesterol

dalam serum dapat digunakan sebagai indikator penyakit arteri korener dan

arterosklerosis (Kee, 2013). Pemeriksaan kolesterol di laboratorium dapat

meliputi pemeriksaan kolesterol total, kolesterol HDL, kolesterol LDL, dan

Trigliserida. LDL (Low Density Lipoprotein) berfungsi sebagai pengangkut

kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh. HDL (High density lipoprotein) merupakan

produk sintesis oleh hati dan saluran cerna serta katabolisme trigliserida,

fungsinya adalah sebagai pengangkut kolesterol dari sel-sel tubuh ke hati

(Kementerian Kesehatan RI, 2011).


Trigliserida ditemukan dalam plasma lipid dalam bentuk kilomikron dan

VLDL (very low density lipoprotein) (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

Sebagian besar trigliserida disimpan sebagai lemak dalam jaringan adiposa.

Fungsi trigliserida adalah memberikan energi pada otot jantung dan otot rangka.

Trigliserida merupakan penyebab utama terjadinya penyakit arteri lebih sering

dibandingkan dengan kolesterol (Kee, 2013).


b) LDH (Laktat Dehidrogenase)

LDH merupakan enzim intraseluler yang terdistribusi secara luas dalam

jaringan, terutama hati, ginjal, jantung, paru-paru, dan otot rangka. Enzim

glikolitik ini mengkatalisasi perubahan laktat dan piruvat. LDH bersifat non

spesifik, tetapi membantu menegakkan diagnosis infark miokard atau infark

pulmonal bersamaan dengan data klinik lain (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

3) Pemeriksaan Fungsi Ginjal

81
Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi untuk melakukan beberapa

fungsi penting dalam metabolisme tubuh. Pemeriksaan laboratorium sangat

membantu dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi fungsi ginjal. Pada saat ini

telah dikembangkan beberapa pemeriksaan laboratorium yang bertujuan untuk

menilai fungsi ginjal (Verdiansah, 2016). Menurut Kementerian Kesehatan RI

(2011), fungsi pemeriksaan faal ginjal, meliputi: untuk mengidentifikasi adanya

gangguan fungsi ginjal, untuk mendiagnosa penyakit ginjal, untuk memantau

perkembangan penyakit, untuk memantau respon terapi, dan untuk mengetahui

pengaruh obat terhadap fungsi ginjal.

a) Ureum

Ureum adalah produk akhir katabolisme protein dan asam amino yang

diproduksi oleh hati dan didistribusikan melalui cairan intraseluler dan

ekstraseluler ke dalam darah untuk kemudian difiltrasi oleh glomerulus.

Pemeriksaan ureum sangat membantu menegakkan diagnosis gagal ginjal akut.

Klirens ureum merupakan indikator yang kurang baik karena sebagian besar

dipengaruhi diet (Gowda, dkk. dalam Verdiansah, 2016).

b) Kreatinin

Kreatinin adalah produk antara hasil peruraian kreatinin otot dan

fosfokreatin yang diekskresikan melalui ginjal. Produksi kreatinin konstan selama

masa otot konstan. Penurunan fungsi ginjal akan menurunkan ekskresi kreatinin

(Kementerian Kesehatan RI, 2011). Jika terjadi disfungsi renal maka kemampuan

filtrasi kreatinin akan berkurang dan kreatinin serum akan meningkat.

Peningkatan kadar kreatinin serum dua kali lipat mengindikasikan adanya

penurunan fungsi ginjal sebesar 50% (Alfonso, Mongan, dan Memah 2016).

82
c) Asam Urat

Asam urat adalah produk akhir dari metabolisme purin. Asam urat

terionisasi terutama dalam plasma, cairan ekstraseluler, dan cairan sinovial yang

dapat ditemukan dalam bentuk monosodium urat pada pH 7,4. Asam urat lebih

mudah larut di dalam urin dibandingkan di air, karena adanya urea, protein, dan

mukopolisakarida (Harrison, 1994). Peningkatan kadar asam urat dalam urine dan

serum tergantung pada fungsi ginjal, laju metabolisme purin, dan asupan diet dari

makanan yang mengandung purin. Jumlah asam urat yang berlebihan dieksresikan

melalui urin. Asam urat dapat mengkristal dalam saluran kemih pada kondisi urin

yang bersifat asam, oleh sebab itu fungsi ginjal yang efektif dan kondisi urin yang

alkali diperlukan jika hiperurisemia terjadi. Masalah yang paling banyak terjadi

berkaitan dengan hiperurisemia adalah gout (Kee, 2013).

4) Gula Darah

Glukosa dibentuk dari hasil penguraian karbohidrat dan perubahan glikogen

dalam hati. Pemeriksaan glukosa darah adalah prosedur skrining yang

menunjukan kemampuan sel pankreas dalam memproduksi insulin, kemampuan

usus halus mengabsorpsi glukosa, kemampuan sel mempergunakan glukosa secara

efisien, dan kemampuan hati mengumpulkan serta memecahkan glikogen

(Kementerian Kesehatan RI, 2011). Pemeriksaan glukosa darah dapat meliputi:

pemeriksaan glukosa sewaktu, pemeriksaan glukosa puasa, pemeriksaan glukosa 2

jpp, dan pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Menurut Adam (2006),

pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa dan

kemudian dapat diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dapat

dilakukan sebagai tes penyaringan DM.

83
Pemeriksaan glukosa sewaktu merupakan pemeriksaan untuk mengetahui

kadar glukosa dalam tubuh pada saat tertentu. Kemampuan tubuh dalam mengatur

kadar glukosa darah dapat dinilai dengan tes kadar glukosa darah puasa dan kadar

gula darah 2 jam setelah makan. Pengukuran kadar glukosa darah 2 jam setelah

makan biasanya digunakan untuk mendiagnosis penyakit diabetes melitus awal.

Normalnya, kadar gula darah setelah makan akan meningkat pada kondisi awal

kemudian akan kembali ke keadaan semula pada 2 jam setelah makan

(Purnamasari, 2011).

5) Pemeriksaan lain (Serum Iron, Ferritin, dan TIBC)

Pemeriksaan Serum Iron, Ferritin dan TIBC (Total Iron Binding Capacity)

merupakan pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk menilai

defisiensi besi dalam tubuh. Menurut Januardhani (2010), anemia defisiensi besi

ditandai dengan perubahan status besi dalam tubuh yang dapat diketahui melalui

pengukuran Serum Iron (SI), Total Iron Binding Capacity (TIBC), saturasi

transferin, dan serum ferritin. Anemia defisiensi besi ini mayoritas dialami oleh

pasien Gagal Ginjal Kronik stadium V yang menjalani hemodialisa. Hal ini

disebabkan karena adanya asupan besi yang kurang dan absorbsi besi yang

menurun oleh sel mukosa usus pada pasien yang menjalani hemodialisis.

e. Alat dan bahan


1) Alat:
a) Alat BioSystem A25 dan BioSystem BA400
b) Mikropipet
c) Yellow tip atau blue tip
d) Sample cup
e) Sentrifuge
f) Rak tabung
2) Bahan:
a) Sampel serum atau plasma
b) Reagen pemeriksaan untuk alat BioSystem A25 dan BioSystem BA400
f. Prosedur kerja

84
1) Tahap Pra-Analitik
a) Dipastikan alat BioSystem A25 dan BioSystem BA400 dalam keadaan siap

digunakan dan sudah dilakukan kontrol sebelum digunakan.


b) Dipastikan kontrol yang dilakukan sudah masuk, yaitu: berada pada rentang

yang ditentukan pada setiap parameter.


c) Sampel darah (tanpa antikoagulan) untuk pemeriksaan kimia klinik yang

datang dari tempat sampling diperiksa kesesuaian identitas pada tabung dan

juga pada formulir laboratorium (meliputi: nama pasien, nomor laboratorium,

parameter yang akan diperiksa, dan asal sampel).


d) Sampel darah dibiarkan membeku pada suhu kamar, lalu dilakukan proses

sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.


e) Jika hendak melakukan pemeriksaan menggunakan alat BioSystem A25, maka

dipindahkan 500 l (minimal 200 l) serum pada cup serum khusus untuk

alat tersebut.
f) Jika hendak melakukan pemeriksaan menggunakan alat BioSystem BA400

maka dipindahkan 500 l (minimal 200 l) serum pada sampel cup,

kemudian diletakkan pada tabung yang telah berisi barcode tadi.


g) Disiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Tahap Analitik
a) BioSystem A25
(1) Dipastikan Alat Biosystem A25 dalam keadaan siap digunakan (stand by).
(2) Diklik icon (entering of new sample).
(3) Ditentukan jenis kelas dari sampel (normal, stat, blank, calibrator, control).

Pilihan normal untuk pasien normal, stat untuk pasien

cyto/urgent,blankuntuk blanko,calibrator untuk kalibrator, dan

control untuk serum control.


(4) Ditentukan jenis dari sample, yaitu Ser untuk serum.
(5) Diisi kode sampel pasien yang akan diperiksa sesuai dengan nomor

laboratorium dan juga kode pemeriksaan kimia klinik pada bagian akhir, yaitu

11.
(6) Kemudian dipilih jenis pemeriksaan yang dikehendaki dengan cara mengklik

nama parameter pemeriksaan satu persatu.

85
(7) Setelah itu, diklik tanda agar data yang di entry tadi terdaftar pada tabel

kerja.
(8) Kemudian diulangi langkah h,i,j untuk mendaftarkan sampel berikutnya.
(9) Jika semua pasien sudah terdaftar, diklik icon (position) yang terdapat

pojok kanan bawah sehingga tampilan akan berubah menjadi tabel posisi

reagen dan sampel.


(10) Kemudian diklik kembali icon (entering of new sample)

untuk menentukan posisi sampel di dalam alat.


(11) Dibuka penutup alat kemudian dimasukkan sampel yang sudah disimpan

pada sampel cup khusus dan diletakkan sampel sesuai dengan nomor yang

telah diatur secara otomatis oleh alat.


(12) Jika posisi sampel telah sesuai dengan apa yang diprogram sebelumnya,

kemudian ditutup kembali penutup alat.


(13) Selanjutnya diklik , kemudian klik OK, dan selanjutnya

diklik icon untuk melanjutkan perintah.


(14) Alat akan bekerja secara otomatis, baik dari pemipetan sampel dan juga

reagen. Jika sudah selesai, maka hasilnya dapat dilihat pada komputer yang

sudah tersambung dengan program LIS.


(15) Catatan: Pada saat alat sedang bekerja, melalui mode Monitor kita dapat

memantau setiap kejadian mengenai : pesan error, status dari alat, status rotor,

volume reagen, volume sampel, dan volume waste.


b) BioSystem BA400
(1) Pemograman secara otomatis
(a) Dipastikan alat Biosystem BA400 dalam keadaan siap digunakan (stand by).
(b) Sampel yang sudah selesai dipreparasi diletakkan pada rak alat. Peletakkan

sampel dapat dilakukan secara acak, hanya saja barcode pada tabung sampel

dihadapkan ke arah luar agar alat dapat men-scan secara otomatis.


(c) Setelah semua sampel dimasukkan, diklik ikon , yaitu start untuk memulai

pemeriksaan.
(d) Selanjutnya alat akan bekerja secara otomatis, baik dari pembacaan barcode,

pemograman parameter pemeriksaan, pemipetan sampel dan juga reagen. Jika

86
sudah selesai, maka hasilnya dapat dilihat pada komputer yang sudah

tersambung dengan program LIS.


(2) Pemograman secara manual

Untuk alat BioSystem BA400, pemograman secara manual biasanya

dilakukan untuk parameter pemeriksaan TIBC, hal ini dikarenakan untuk

pemeriksaan tersebut terdapat beberapa prosedur yang dilakukan secara manual,

meliputi:

(a) Dipipet serum sebanyak 500 l ke dalam tabung reaksi, kemudian

ditambahkan dengan reagen A (iron chloride) sebanyak 1000 l.


(b) Campuran dalam tabung tersebut dikocok dan didiamkan selama 30 menit.
(c) Setelah didiamkan 30 menit, ditambahkan satu sendok reagen B (magnesium

hydroxide carbonate powder).


(d) Didiamkan kembali selama 30-60 menit.
(e) Campuran tersebut disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
(f) Diambil supernatannya ke dalam cup serum khusus, kemudian dilakukan

pembacaan menggunakan alat BioSystem BA-400 dengan memprogram

secara manual.
(g) Diklik icon untuk memasukkan sampel baru.
(h) Diisi kode sampel pasien yang akan diperiksa sesuai dengan nomor

laboratorium dan juga kode pemeriksaan kimia klinik pada bagian akhir, yaitu

11.
(i) Kemudian dipilih jenis pemeriksaan yang dikehendaki dengan cara mengklik

nama parameter pemeriksaan satu persatu dan diklik perintah Save dan

Ok.
(j) Diulangi langkah 8 dan 9 untuk sampel berikutnya.
(k) Jika semua pasien telah terprogram, diklik icon untuk menentukan

posisi sampel pada rak.


(l) Selanjutnya sampel diletakkan pada nomor rak yang telah diatur oleh alat.
(m)Setelah semua sampel dimasukkan, diklik ikon , yaitu start untuk memulai

pemeriksaan
Catatan:

87
Pada saat alat sedang bekerja, melalui mode Monitor kita dapat

memantau setiap kejadian mengenai : pesan error, status dari alat, status rotor,

volume reagen, volume sampel, dan volume waste.

3) Tahap Post Analitik


a) Diperiksa kesesuaian hasil dengan history pasien pada pemeriksaan

sebelumnya dan dengan riwayat atau kondisi pasien pada saat pemeriksaan

dilakukan.
b) Jika hasil meragukan dilakukan pengulangan pemeriksaan dan dilaporkan

kepada dokter penangung jawab.

Tabel 2
Nilai Normal pada Sub Unit Kimia Klinik RSUD Wangaya Denpasar

Nama Pemeriksaan Nilai Normal Nama Pemeriksaan Nilai Normal


Bil. Total 0,2-1,0 mg/dL Asam Urat 3,4-7,0 mg/dL
Bil. Direk 0,1-0,4 mg/dL Kolesterol Total < 200 mg/dL
Bil. Indirek 0,1-0,6 mg/dL HDL > 40 mg/Dl
SGOT < 37 U/L LDL < 130 mg/dL
SGPT < 42 U/L LDH 207-414 U/L
ALP 53-128 U/L Trigliserida <150 mg/dL
Gamma GT 11-61 U/L Glukosa Puasa 80-100 mg/dL
Protein Total 6,6-8,7 g/dL Glukosa 2 JPP 100-140 mg/dL
Albumin 3,8-5,1 g/dL Glukosa Sewaktu 80-200 mg/dL
Globulin 2,3-3,5 g/dL TIBC 171-504 g/dL
Ureum 10-50 mg/dL Ferritin 20-250 g/mL
Kreatinin 0,3-1,2 mg/dL Serum Iron 65-175 mg/L

g. Hasil kegiatan

Hasil kegiatan pada parameter Kimia Klinik menggunakan alat

BioSystem A25 dan BioSystem BA400 yang berasal dari pasien rawat

jalan dan pasien rawat inap di Laboratorium Klinik RSUD Wangaya, yang

dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai dengan 29 April 2017, adalah

sebagai berikut:

1) Bilirubin Total berjumlah 203 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal

88
sebanyak 102 sampel (persentase sebesar 50,2%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 101 sampel (persentase sebesar 49,8%).


2) Bilirubin Direct berjumlah 203 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 97 sampel (persentase sebesar 47,8%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 106 sampel (persentase sebesar 52,2%).


3) Bilirubin Indirect berjumlah 203 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan

normal sebanyak 181 sampel (persentase sebesar 89,1%) dan hasil

pemeriksaan abnormal sebanyak 22 sampel (persentase sebesar 10,9%).


4) SGOT berjumlah 1220 pemeriksaan.
5) SGPT berjumlah 1220 pemeriksaan.
6) Alkaline Phospatase berjumlah 17 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan

normal sebanyak 5 sampel (persentase sebesar 29,4%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 12 sampel (persentase sebesar 70,6%).


7) Gamma GT berjumlah 13 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 4 sampel (persentase sebesar 30,8%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 9 sampel (persentase sebesar 69,2%).


8) Protein Total berjumlah 128 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 76 sampel (persentase sebesar 59,3%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 52 sampel (persentase sebesar 40,7%).


9) Albumin berjumlah 476 pemeriksaan.
10) Globulin berjumlah 116 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 88 sampel (persentase sebesar 75,8%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 28 sampel (persentase sebesar 24,2%).


11) Kolesterol Total berjumlah 663 pemeriksaan.
12) Kolesterol HDL berjumlah 611 pemeriksaan.
13) Kolesterol LDL berjumlah 655 pemeriksaan.
14) Trigliserida berjumlah 622 pemeriksaan.
15) LDH berjumlah 34 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal sebanyak

19 sampel (persentase sebesar 55,8%) dan hasil pemeriksaan abnormal

sebanyak 15 sampel (persentase sebesar 44,2%).


16) Ureum berjumlah 1946 pemeriksaan.
17) Kreatinin berjumlah 1969 pemeriksaan.
18) Asam Urat berjumlah 550 pemeriksaan.

89
19) Glukosa Sewaktu berjumlah 4314 pemeriksaan.
20) Glukosa Puasa berjumlah 2304 pemeriksaan.
21) Glukosa 2 Jam PP berjumlah 941 pemeriksaan.
22) Ferritin berjumlah 65 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal sebanyak

10 sampel (persentase sebesar 15,4%) dan hasil pemeriksaan abnormal

sebanyak 55 sampel (persentase sebesar 84,6%).


23) Serum Iron berjumlah 65 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal

sebanyak 9 sampel (persentase sebesar 13,8%) dan hasil pemeriksaan

abnormal sebanyak 54 sampel (persentase sebesar 86,2%).


24) TIBC berjumlah 65 pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan normal sebanyak

12 sampel (persentase sebesar 18,5%) dan hasil pemeriksaan abnormal

sebanyak 53 sampel (persentase sebesar 81,5%).


h. Permasalahan yang ditemui

Berdasarkan kegiatan PKL yang telah dilakukan dari tanggal 01

Maret hingga 29 April 2017 di Laboratorium Klinik RSUD Wangaya,

terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan pada parameter Kimia

Klinik dengan menggunakan alat BioSystem A25 dan BioSystem BA400,

yaitu: volume sampel yang terlalu sedikit, hal ini tidak sebanding dengan

jumlah parameter yang akan diperiksa dan terkadang terdapat sampel yang

lisis.

i. Pembahasan dan pemecahan masalah


Pemeriksaan parameter Kimia Klinik di Laboratorium Klinik RSUD

Wangaya menggunakan alat otomatis BioSystem A25 dan BioSystem BA400.

Kedua alat ini sama-sama dapat melakukan pemeriksaan kimia klinik dalam

jumlah besar dan dengan waktu yang cukup singkat. Jika dibandingkan, kedua

alat ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan alat

BioSystem BA400 adalah dapat bekerja secara autoanalyser termasuk dari

pembacaan barcode (identitas sampel), pemograman parameter yang akan

90
diperiksa dan proses analisisnya, sedangkan pada alat BioSystem A25 untuk

pemograman (identitas sampel dan parameter yang akan diperiksa) dilakukan

secara manual. Sehingga alat Biosystem BA400 lebih efektif digunakan untuk me-

running banyak sampel sekaligus (umumnya digunakan untuk me-running sampel

pada pagi hari). Kelebihan alat BioSystem A25 adalah dapat memberikan hasil

yang lebih cepat dibandingkan BioSystem BA400, sehingga penggunaan alat

BioSystem A25 biasanya digunakan untuk me-running sampel pada sore atau

malam hari, karena jumlah sampel yang diperiksa umumnya pada jumlah yang

kecil.
Alat BioSystem A25 dan Alat BioSystem BA400 rutin dilakukan kontrol dan

pengecekan alat setiap pagi hari. Setiap pemeriksaan dikontrol menggunakan

serum kontrol yang telah diketahui rentang nilainya, jika kontrol yang dilakukan

berada pada rentang yang ditentukan, maka alat dapat digunakan untuk

pemeriksaan sampel. Namun jika ada kontrol yang tidak masuk, dilakukan proses

pengulangan (replay), jika masih belum masuk maka dilakukan pengecekan

reagen dan jika masih terdapat masalah, maka teknisi diminta untuk

menanganinya. Kedua alat ini saling mem-back up jika salah satu alat mengalami

masalah, sehingga laboratorium tetap dapat memberikan pelayanan pada pasien

meskipun jika salah satu alatnya mengalami masalah.


Laboratorium Klinik RSUD Wangaya Denpasar melakukan pelayanan

pemeriksaan kimia klinik setiap hari dalam 24 jam, namun ada beberapa

parameter pemeriksaan yang hanya dilakukan pada hari Rabu dan Jumat, yaitu

pemeriksaan SI, Ferritin, dan TIBC. Ketiga pemeriksaan ini umumnya diminta

oleh dokter dalam membantu menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi pada

pasien setelah menjalani hemodialisa.


Beberapa permasalahan yang dijumpai selama kegiatan PKL yang dilakukan

91
dari tanggal 01 Maret hingga 29 April 2017 adalah volume sampel (serum) yang

terlalu sedikit, dimana sampel tersebut biasanya berasal dari pasien rawat inap

atau berasal dari pasien neonatus. Jika volume serum yang diperoleh terlalu

sedikit dan tidak mencukupi sesuai dengan jumlah parameter yang akan diperiksa,

maka sebaiknya dilakukan pengambilan sampel ulang. Selama kegiatan PKL,

sampel dengan volume sedikit sering dijumpai pada pasien neonatus yang diminta

dokter untuk dilakukan pemeriksaan bilirubin. Jika pada pasien neonatus tersebut

tidak memungkinkan melakukan pengambilan sampel ulang, maka pemeriksaan

bilirubin tetap dapat dilakukan dengan pengenceran tertentu menggunakan NaCl,

kemudian hasilnya dikalikan sesuai dengan pengenceran yang dilakukan.


Permasalahan lainnya adalah sampel yang lisis, hal ini dapat diketahui

setelah melakukan proses sentrifugasi. Serum akan terlihat berwarna merah

seperti darah, sampel yang lisis ini dapat diakibatkan karena proses pemindahan

sampel dari semprit ke tabung yang terlalu cepat atau terburu-buru sehingga

menyebabkan sel-sel darah dalam sampel menjadi pecah. Sampel lisis tidak dapat

digunakan untuk pemeriksaan. Jika ditemui permasalahan sampel yang lisis maka

sebaiknya dilakukan pengambilan sampel darah ulang.


Pada beberapa kasus, jika dijumpai kedua permasalahan di atas, maka

sampel serum dapat diganti dengan menggunakan sampel plasma EDTA. Sesuai

dengan insert kit pada kedua BioSystem alat tersebut, pemeriksaan kimia klinik

diperbolehkan menggunakan plasma EDTA, kecuali pemeriksaan Protein Total,

Albumin dan Globulin. Hal ini karena pada plasma masih mengandung fibrinogen

yang merupakan salah satu bentuk protein, sehingga pada pemeriksaan protein

dianjurkan untuk tetap menggunakan serum.

92
93
2. Pemeriksaan HbA1c dengan Alat Alere Afinion
a. Tujuan kegiatan
1) Tujuan umum
Untuk dapat mengetahui dan memahami teknik pemeriksaan HbA1c.
2) Tujuan Khusus

Untuk dapat melakukan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan

HbA1c pada sampel darah pasien.

b. Metode
Metode yang digunakan adalah auto analyzer.
c. Prinsip Kerja

Sampel darah dimasukkan ke dalam cartridge yang berisi reagen

untuk pemeriksaan HbA1c. Cartridge dimasukkan ke dalam alat. Sampel

darah secara otomatis akan diencerkan dan dicampur dengan larutan yang

terdapat dalam katrid.

d. Dasar teori
Diabetes adalah salah satu penyakit yang underdiagnosed. Sekitar 30%

penderita diabetes sering tidak menyadari penyakitnya dan pada saat diagnosis

ditegakkan, sekitar 25% sudah menderita komplikasi mikrovaskular. Rata-rata

keterlambatan sejak onset hingga diagnosis ditegakkan diperkirakan sekitar 7

tahun; oleh karena itu identifi kasi diabetes harus dilakukan lebih awal dengan

cara yang lebih efisien. Pemeriksaan Hemoglobin A1c (HbA1c) dipertimbangkan

sebagai pemeriksaan untuk skrining dan diagnosis diabetes (Paputungan, 2014).


Manfaat HbA1c selama ini lebih banyak dikenal untuk menilai kualitas

pengendalian glikemik jangka panjang dan menilai efektivitas terapi, namun

beberapa studi terbaru mendukung pemanfaatan HbA1c yang lebih luas, bukan

hanya untuk pemantauan, tetapi juga bermanfaat dalam diagnosis ataupun

skrining diabetes melitus tipe 2. Kadar HbA1c normal adalah 3,5% - 5%.

(Paputungan, 2014).
e. Alat dan bahan

94
1. Alat
a) Afinion AS100 Analyzer
2. Bahan
a) Cartridge pemeriksaan HbA1c
b) Sampel Darah dengan antikoagulan EDTA atau darah kapiler.
f. Prosedur Kerja
1) Tahap Pra Analitik
a) Dipastikan alat dalam keadaan siap digunakan dan sudah dikontrol

sebelumnya.
b) Sampel darah untuk pemeriksaan yang datang dari tempat sampling diperiksa

kesesuaian identitas pada tabung dan juga pada formulir laboratorium

(meliputi : nama pasien, nomor laboratorium, parameter yang akan diperiksa,

dan asa sampel).


c) Dipastikan sampel yang akan diperiksa ditampung pada tabung yang sesuai

yaitu tabung vacutainer dengan tutup berwarna ungu dan dengan volume yang

cukup.
2) Tahap Analitik
a) Homogenkan sampel yang telah ditampung pada tabung vacutainer.
b) Ambil dan gunakan samplling device dari cartridge.
c) Isi kapiler sebanyak 1,5l; posisikan ujung tip menyentuh sampel pasien.
d) Masukkan sampling device ke dalam cartridge.
e) Masukkan cartridge ke dalam alat.
f) Alat secara otomatis akan merunning sampel dan hasil akan muncul pada

layar.
3) Tahap Post Analitik
a) Diperiksa kesesuaian hasil dengan history pasien pada pemeriksaan

sebelumnya dan dengan riwayat atau kondisi pasien pada saat pemeriksaan

dilakukan.
b) Jika hasil meragukan, dilakukan pengulangan pemeriksaan dan dilaporkan

kepada dokter penanggung jawab.

Nilai normal HbA1c yang digunakan di Sub Unit Kimia Klinik RSUD

Wangaya Denpasar yaitu 4.4 5.4 %.

g. Hasil kegiatan

95
Hasil kegiatan pada pemeriksaan HbA1c menggunakan alat Afinion

AS100 Analyzer yang berasal dari pasien rawat jalan dan pasien rawat inap

di Laboratorium Klinik RSUD Wangaya, yang dilaksanakan dari tanggal 1

Maret sampai dengan 29 April 2017 adalah sebanyak 181 pemeriksaan

dimana didapatkan hasil abnormal sebanyak 140 sampel dan hasil normal

41 sampel.

h. Permasalahan yang ditemui

Permasalahan yang ditemui pada pemeriksaan HbA1c yakni :

1) Muncul kode error 106


2) Muncul kode error 201

i. Pembahasan dan pemecahan masalah

HbA1c merupakan komponen minor paling besar dari sel darah

manusia, normalnya 4% dari total hemoglobin A. HbA1c telah digunakan

secara luas sebagai indikator kontrol glikemik, karena mencerminkan

konsentrasi glukosa darah 1-2 bulan sebelum pemeriksaan dan tidak

dipengaruhi oleh diet sebelum pengambilan sampel darah. HbA1c

merupakan alat pemantauan yang penting dalam penatalaksanaan pasien

dengan diabetes melitus (Paputungan, 2014).

Permasalahan yang ditemui pada pemeriksaan HbA1c yakni

munculnya kode 106 dan 201. Kode error 106 menandakan kadar HbA1c

sampel yang diperiksa terlalu tinggi (>15%) sehingga alat tidak dapat

membaca dan menampilkan hasilnya. Jika hal ini terjadi, laboran hanya

perlu mencantumkan hasil >15 % dan tidak perlu melakukan pemeriksaan

ulang. Kode error 201 muncul disebabkan oleh kurangnya sampel

pemeriksaan, pipet kapiler yang kosong, adanya gelembung pada pipet

96
kapiler dan pipet kapiler tidak terisi dengan sempurna. Jika hal ini terjadi,

pemeriksaan harus dilakukan kembali dan laboran harus lebih

memperhatikan prosedur kerja yang akan dilakukan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan HbA1c, antara lain :

1) Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan HbA1c adalah darah EDTA atau

kapiler.
2) Pastikan cartridge yang digunakan belum kadaluwarsa.
3) Pada saat memasukkan sampel ke cartridge pastikan tidak ada gelembung,

pipet kapiler terisi sesuai volume yang dibutuhkan agar hasil tidak error dan

hasil yang didapat akurat.

3. Pemeriksaan Analisis Gas Darah dengan Radiometer Copenhagen ABL 5


a. Tujuan kegiatan
1) Tujuan umum
Untuk dapat mengetahui dan memahami teknik pemeriksaan analisis gas

darah.
2) Tujuan khusus

Untuk dapat melakukan dan menginterpretasikan menentukan kadar

gas dalam darah.

b. Metode
Metode yang digunakan adalah metode auto analyzer.
c. Prinsip kerja
Sampel berupa serum dimasukkan ke dalam alat dan hasil akan keluar pada

display.
d. Dasar teori
Analisis Gas Darah (AGD) digunakan untuk pengujian laboratorium yang

berhubungan dengan keseimbangan asam basa (pH) dan status oksigenasi pasien.

Status oksigenasi dinilai menggunakan tekanan parsial oksigen (pO2) dan saturasi

oksigen hemoglobin (sO2 ). Parameter lain yang dilaporkan seperti total CO2

97
(tCO2), konsentrasi bikarbonat (cHCO3-) dan kelebihan basa (BE) dihitung dari

nilai yang terukur. Croatian Chamber of Medical Biochemists (CCMB)

mengkategorikan AGD sebagai analisis prioritas pertama yang harus dilaporkan

dalam waktu 30 menit. Instalasi gawat darurat dan intensif menggunakan AGD

sebagai bagian tak terpisahkan dari penilaian status klinis pasien.


Sampel yang digunakan untuk pemeriksaan analisis gas darah yakni darah

arteri, kapiler, dan darah vena. Dokter harus mempertimbangkan kondisi pasien,

kelebihan dan keterbatasan berbagai jenis sampel saat menentukan jenis sampel.

Darah arteri adalah jenis sampel yang digunakan untuk mengetahui kadar

pertukaran gas yang sebenarnya, fungsi paru-paru (pO2 dan pCO2), khususnya

status oksigenasi. Komposisi darah arteri itu seragam dan tidak tergantung pada

perubahan sirkulasi sistemik atau lokal. Darah arteri adalah jenis sampel yang

paling sering digunakan untuk evaluasi status pernafasan, dan juga cocok untuk

mengetahui adanya gangguan asam-basa metabolik. Pengambilan sampel

dilakukan dengan menggunakan alat suntik yang dirancang secara khusus untuk

pengambilan jalur arteri. Penusukan dilakukan pada arteri radial, arteri brakialis

atau femoralis (Dukic, 2016).


Sampel darah kapiler dapat dianggap sebagai pengganti yang cukup untuk

darah arteri pada unit neonatal dan pediatrik. Pengambilan sampel kapiler juga

berlaku untuk pasien dewasa dengan luka bakar parah, kecenderungan trombosis,

pasien obesitas dan geriatri. Pengambilan sampel kapiler dilakukan pada ujung

jari atau tumit, tergantung pada usia pasien. Penusukan pada tumit dilakukan pada

neonatal, sedangkan ujung jari direkomendasikan untuk populasi anak-anak.

Sampel darah vena bukanlah pengganti yang sesuai untuk darah arteri pada

pemeriksaan AGD karena sifat sampel dan perbedaan tingkat oksigenasi yang

98
berbeda. Sampel darah vena biasanya digunakan untuk penilaian varian yang

berbeda dari hemoglobin, elektrolit, serta pH, PCO 2, HCO 3 - dan metabolit

(Dukic, 2016).

e. Alat dan bahan


1) Alat
a) Radiometer Copenhagen ABL 5
2) Bahan
a) Sampel darah heparin
f. Prosedur Kerja
1) Tahap Pra Analitik
a) Dipastikan alat dalam keadaan siap digunakan dan sudah dikontrol

sebelumnya.
b) Sampel darah untuk pemeriksaan yang datang dari tempat sampling diperiksa

kesesuaian identitas pada tabung dan juga pada formulir laboratorium

(meliputi : nama pasien, nomor laboratorium, parameter yang akan diperiksa,

dan asa sampel).


c) Dipastikan sampel yang akan diperiksa ditampung pada tabung yang sesuai

yaitu tabung vacutainer dengan tutup berwarna hijau atau ditampung pada

spuit khusus dengan tutup hijau dan dengan volume yang cukup.
2) Tahap Analitik
a) Alat dan bahan yang akan digunakan dalam pemeriksaan AGD disiapkan.
b) Homogenkan sampel.
c) Alat dibuka. sampel darah dimasukkan ke dalam alat.
d) Tombol ditekan, dibiarkan sampel disedot sampai ada bunyi beep
e) Sampel dikeluarkan dan tutup.
f) Ditunggu sampai proses pada alat selesai bekerja dan hasil pemeriksaan

elektrolit akan muncul pada layar monitor dan print out.


3) Tahap Post Analitik
a) Diperiksa kesesuaian hasil dengan history pasien pada pemeriksaan

sebelumnya dan dengan riwayat atau kondisi pasien pada saat pemeriksaan

dilakukan.
b) Jika hasil meragukan, dilakukan pengulangan pemeriksaan dan dilaporkan

kepada dokter penanggung jawab.

99
Nilai normal yang digunakan di Sub Unit Kimia Klinik RSUD

Wangaya Denpasar yaitu :

pH : 7.350 7.450

PCO2 : 35 45 mm Hg

PO2 : 80.0 100.0 mm Hg

cHCO3 : 23 33 mmol/L

ABE : (-2) (+2) mmol/L

SBC : 22 26 mmol/L

SO2 : 95 99 %

g. Hasil kegiatan

Hasil kegiatan pada pemeriksaan analisis gas darah menggunakan

alat Radiometer Copenhagen ABL 5 yang berasal dari pasien rawat jalan

dan pasien rawat inap di Laboratorium Klinik RSUD Wangaya, yang

dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai dengan 29 April 2017 adalah

sebanyak 263 pemeriksaan.

h. Permasalahan yang ditemui


Permasalahan yang ditemui pada pemeriksaan analisis gas darah adalah

sampel arteri tercampur dengan darah vena sehingga menghasilkan hasil yang

tidak akurat.
i. Pembahasan dan pemecahan masalah

Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) adalah salah satu tindakan

pemeriksaan laboratorium yang ditujukan ketika dibutuhkan informasi

yang berhubungan dengan keseimbangan asam basa (Ph), jumlah oksigen,

dan karbondioksida dalam darah pasien. Pemeriksaan ini digunakan untuk

menilai fungsi kerja paru-paru dalam menghantarkan oksigen kedalam

100
sirkulasi darah dan mengambil karbondioksida dalam darah. AGD

meliputi PO2, Ph, HCO3, dan seturasi O2.

Pemeriksaan AGD yang dilakukan di Laboratorium RSUD Wangaya

Denpasar mengguakan metode auto analyzer dengan alat Radiometer

Copenhagen ABL. Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan AGD

berupa darah arteri yang ditampung pada tabung yang mengandung

antikoagulan heparin. Pemeriksaan AGD dilakukan dengan cara

memasukkan sampel ke dalam alat dan biarkan alat menyedot darah

sendiri kemudian ditunggu sampai proses selesai.

Jika Sampel arteri yang digunakan tercampur dengan sampel vena,

hasil yang didapat pastilah tidak akurat. Hal ini dapat dilihat dari warna

sampel yang berwarna merah tua. Darah arteri seharusnya berwarna merah

terang karena kaya akan oksigen sehingga jika warna sampel merah tua

atau agak gelap sudah pasti sampel tersebut bercampur dengan darah vena.

Selain warna, jika sampel tercampur darah vena maka hasil dari SO2 akan

<95%. Karena nilai normal dari darah arteri adalaah antara 95-99%.

Pengambilan sampel ulang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang

akurat.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan elektrolit, antara

lain:

1) Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan AGD adalah darah heparin.

101
2) Sampel yang digunakan harus darah arteri tidak boleh menggunakan darah

vena. Karena jika menggunakan darah vena maka dapat mempengaruhi hasil,

dan menyebabkan hasil yang akurat.


3) Pada saat memasukkan sampel ke alat tidak boleh ada gelembung yang masuk

karena bisa membuat hasil eror dan menjadi hasil yang tidak akurat.
4) Darah yang akan digunakan untuk pemeriksaan AGD harus benar-benar

dihomogenkan.

102
4. Pemeriksaan Elektrolit (Na, K, Dan Cl) Darah Dengan Spotchem Se-1520

Arkray dan Cronley AFT-300


a. Tujuan kegiatan
1) Tujuan umum
Untuk dapat mengetahui dan memahami teknik pemeriksaan kadar elektrolit

darah.
2) Tujuan khusus
Untuk dapat melakukan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan

elektrolit dalam darah yaitu Na, K, dan Cl.


b. Metode

Metode yang digunakan adalah auto analyzer untuk alat Spotchem

Se-1520 Arkray dan Ion Selective Elektroda untuk alat Cronley AFT-300.

c. Prinsip kerja

Alat Spotchem Se-1520 Arkray : Ketika sampel dan reagen

dimasukkan secara bersamaan ke dalam sample well, keduanya akan

menyebar secara merata ke permukaan masing-masing elektroda. Ketika

sampel dan reagen melakukan kontak dengan membran ion selektif dari

masing-masing elektroda, menghasilkan respon potensial sesuai dengan

konsentrasi masing-masing elektrolit dan rangkaian listrik akan terbentuk

sehingga menghasilkan kadar dari masing-masing parameter.

Alat Cronley AFT-300 : Elektrolit diukur berdasarkan perbedaan

elektrik potensial antara dua elektrode pada sel elektrokimia, dimana

membran ion selektif pada alat mengalami reaksi dengan elektrolit sampel

kemudian bereaksi terhadap perubahan listrik ion dan menyebabkan

perubahan potensial membran yang dapat diukur dan dibandingkan dengan

elektrode referens.

d. Dasar teori
Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi

103
partikel yang bermuatan (ion) positif atau negatif. Sebagian besar proses

metabolisme memerlukan dan dipengaruhi oleh elektrolit. Konsentrasi elektrolit

yang tidak normal dapat menyebabkan banyak gangguan. Pemeliharaan tekanan

osmotik dan distribusi beberapa kompartemen cairan tubuh manusia adalah fungsi

utama empat elektrolit mayor, yaitu natrium (Na+), kalium (K+), klorida (Cl-), dan

bikarbonat (HCO3-). Pemeriksaan keempat elektrolit mayor tersebut dalam klinis

dikenal sebagai profil elektrolit. Natrium adalah kation terbanyak dalam cairan

ekstrasel, kalium kation terbanyak dalam cairan intrasel dan klorida merupakan

anion terbanyak dalam cairan ekstrasel. Jumlah natrium, kalium dan klorida dalam

tubuh merupakan cermin keseimbangan antara yang masuk terutama dari saluran

cerna dan yang keluar terutama melalui ginjal. Gangguan keseimbangan natrium,

kalium dan klorida berupa hipo- dan hiper-. Hipo terjadi bila konsentrasi elektrolit

tersebut dalam tubuh turun lebih dari beberapa miliekuivalen dibawah nilai

normal dan hiper- bila konsentrasinya meningkat diatas normal (Yaswir, 2012).
3. Fisiologi Natrium
Natrium adalah kation terbanyak dalam cairan ekstrasel, jumlahnya bisa

mencapai 60 mEq per kilogram berat badan dan sebagian kecil (sekitar 10-14

mEq/L) berada dalam cairan intrasel. Lebih dari 90% tekanan osmotik di cairan

ekstrasel ditentukan oleh garam yang mengandung natrium, khususnya dalam

bentuk natrium klorida (NaCl) dan natrium bikarbonat (NaHCO3) sehingga

perubahan tekanan osmotik pada cairan ekstrasel menggambarkan perubahan

konsentrasi natrium. Jumlah natrium dalam tubuh merupakan gambaran

keseimbangan antara natrium yang masuk dan natrium yang dikeluarkan.

Pemasukan natrium yang berasal dari diet melalui epitel mukosa saluran cerna

dengan proses difusi dan pengeluarannya melalui ginjal atau saluran cerna atau

104
keringat di kulit. Pemasukan dan pengeluaran natrium perhari mencapai 48-144

mEq (Yaswir, 2012).


4. Fisiologi kalium

Sekitar 98% jumlah kalium dalam tubuh berada di dalam cairan

intrasel. Konsentrasi kalium intrasel sekitar 145 mEq/L dan konsentrasi

kalium ekstrasel 4-5 mEq/L (sekitar 2%). Jumlah konsentrasi kalium pada

orang dewasa berkisar 50-60 per kilogram berat badan (3000-4000 mEq).

Jumlah kalium ini dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin. Jumlah

kalium pada wanita 25% lebih kecil dibanding pada laki-laki dan jumlah

kalium pada orang dewasa lebih kecil 20% dibandingkan pada anak-anak.

Jumlah kalium dalam tubuh merupakan cermin keseimbangan kalium yang

masuk dan keluar. Pemasukan kalium melalui saluran cerna tergantung

dari jumlah dan jenis makanan. Orang dewasa pada keadaan normal

mengkonsumsi 60-100 mEq kalium perhari (hampir sama dengan

konsumsi natrium). Kalium difiltrasi di glomerulus, sebagian besar (70-

80%) direabsorpsi secara aktif maupun pasif di tubulus proksimal dan

direabsorpsi bersama dengan natrium dan klorida di lengkung henle.

Kalium dikeluarkan dari tubuh melalui traktus gastrointestinal kurang dari

5%, kulit dan urine mencapai 90% (Yaswir, 2012).

5. Fisiologi Klorida

Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel. Pemeriksaan

konsentrasi klorida dalam plasma berguna sebagai diagnosis banding pada

gangguan keseimbangan asam-basa. Jumlah klorida pada orang dewasa

normal sekitar 30 mEq per kilogram berat badan. Sekitar 88% klorida

berada dalam cairan ekstraseluler dan 12% dalam cairan intrasel.

105
Konsentrasi klorida pada bayi lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak

dan dewasa. Perbedaan kadar klorida antara cairan interstisial dan cairan

intrasel disebabkan oleh perbedaan potensial di permukaan luar dan dalam

membran sel. Jumlah klorida dalam tubuh ditentukan oleh keseimbangan

antara klorida yang masuk dan yang keluar. Klorida yang masuk

tergantung dari jumlah dan jenis makanan. Kandungan klorida dalam

makanan sama dengan natrium. Orang dewasa pada keadaan normal rerata

mengkonsumsi 50-200 mEq klorida per hari, dan ekskresi klorida bersama

feses sekitar 1-2 mEq perhari. Drainase lambung atau usus pada diare

menyebabkan ekskresi klorida mencapai 100 mEq perhari. Kadar klorida

dalam keringat bervariasi, rerata 40 mEq/L. Bila pengeluaran keringat

berlebihan, kehilangan klorida dapat mencapai 200 mEq per hari. Ekskresi

utama klorida adalah melalui ginjal (Yaswir, 2012).

e. Alat dan bahan


1) Alat:
a) Spotchem SE-1520 ArkRAY dan Cornley AFT-300
b) Centrifuge
c) Micropipet
2) Bahan:
a) Sampel serum
b) Tissue
c) Reagen Standar alat Spotchem SE-1520 ArkRAY
f. Prosedur Kerja
1) Tahap Pra Analitik
a) Dipastikan alat dalam keadaan siap digunakan dan sudah dikontrol

sebelumnya.
b) Sampel darah untuk pemeriksaan yang datang dari tempat sampling diperiksa

kesesuaian identitas pada tabung dan juga pada formulir laboratorium

(meliputi : nama pasien, nomor laboratorium, parameter yang akan diperiksa,

dan asa sampel).


c) Dipastikan sampel yang akan diperiksa ditampung pada tabung yang sesuai

106
yaitu tabung vacutainer dengan tutup berwarna merah dan dengan volume

yang cukup.
d) Centrifuge sampel dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
2) Tahap Analitik
a) Alat Spotchem SE-1520 ArkRAY
(1) Alat dan bahan yang akan digunakan dalam pemeriksaan kadar elektrolit

darah disiapkan.
(2) Serum yang diperoleh dari hasil sentrifugasi dipipet menggunakan mikropipet

500 l ke dalam cup sample.


(3) Sebelum sampel dimasukkan ke dalam alat, dipastikan pada layar monitor alat

dalam keadaan siap ready.


(4) Dipipet cairan standar dan sampel.
(5) Dimasukkan kaset pemeriksaan elektrolit, sampel dan standar dimasukkan

sampai muncul tulisan pull out pipette


(6) Ditunggu sampai proses pada alat selesai bekerja dan hasil pemeriksaan

elektrolit akan muncul pada layar monitor dan print out.


(7) Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan dicatat pada buku register untuk arsip

dan dibuat print out berupa bukti tindakan laboratorium dan dilaporkan

kepada petugas laboratorium yang kemudian diberikan kepada keluarga pasien

atau dokter.
b) Alat Cornley AFT-300
(1) Serum yang diperoleh dari hasil sentrifugasi dipipet menggunakan mikropipet

500 l ke dalam cup sample.


(2) Pastikan alat Cornley menampilkan keterangan lift Probe to analyze
(3) Buka tutup probe pada alat, kondisikan probe tersebut masuk ke cup dan

mengenai serum yang ada didalam cup.


(4) Tekan Yes pada alat
(5) Tunggu hasil selama 30 detik
3) Tahap Post Analitik
a) Diperiksa kesesuaian hasil dengan history pasien pada pemeriksaan

sebelumnya dan dengan riwayat atau kondisi pasien pada saat pemeriksaan

dilakukan.
b) Jika hasil meragukan, dilakukan pengulangan pemeriksaan dan dilaporkan

kepada dokter penanggung jawab.

107
Nilai normal kadar elektrolit darah yang digunakan di Laboratorium

RSUD Wangaya Denpasar, yaitu:

Na : 136-145 mmol/L

K : 3,5-5,1 mmol/L

Cl : 97-111 mmol/L

g. Hasil kegiatan

Hasil kegiatan pada pemeriksaan elektrolit darah (Na, K, dan Cl)

menggunakan alat Spotchem SE-1520 ArkRAY dan Cornley AFT-300 yang

berasal dari pasien rawat jalan dan pasien rawat inap di Laboratorium

Klinik RSUD Wangaya, yang dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai

dengan 29 April 2017 adalah sebanyak 3.927 pemeriksaan.

h. Permasalahan yang ditemui

Beberapa permasalahan yang ditemui dalam melakukan pemeriksaan

kadar elektrolit darah (Na, K, dan Cl), yaitu :

1) Penggunaan serum dari hasil sentrifugasi darah yang lisis menyebabkan

ketidakakuratan hasil pemeriksaan kadar elektrolit dalam serum karena dapat

meningkatkan kadar elektrolit.


2) Sampel yang terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi untuk dilakukannya

pemeriksaan.
i. Pembahasan dan pemecahan masalah

Elektrolit merupakan molekul terionisasi yang terdapat di dalam

darah, jaringan, dan sel tubuh. Molekul tersebut, baik yang positif (kation)

maupun yang negatif (anion) menghantarkan arus listrik dan membantu

mempertahankan pH dan level asam basa dalam tubuh. Elektrolit juga

memfasilitasi pergerakan cairan antar dan dalam sel melalui suatu proses

108
yang dikenal sebagai osmosis dan memegang peraran dalam pengaturan

fungsi neuromuskular, endokrin, dan sistem ekskresi. Pemeliharaan

tekanan osmotik dan distribusi beberapa kompartemen cairan tubuh

manusia adalah fungsi utama tiga elektrolit mayor, yaitu Na (Na +), K (K+),

dan Cl (Cl-). Pemeriksaan ketiga elektrolit mayor tersebut dalam klinis

dikenal sebagai profil elektrolit. Na adalah kation terbanyak dalam cairan

ekstrasel, K kation terbanyak dalam cairan intrasel dan Cl merupakan

anion terbanyak dalam cairan ekstrasel. (Salam,______).

Pemeriksaan elektrolit yang dilakukan di Laboratorium RSUD

Wangaya Denpasar mengguakan metode auto analyzer dengan alat

Spotchem SE-1520 ArkRAY dan Cornley AFT-300. Sampel yang digunakan

dalam pemeriksaan elektrolit darah berupa serum. Permasalahan yang

ditemui adalah setelah sampel darah dicentrifuge, serum yang terbentuk

dibagian atas berwarna merah yang menandakan sampel tersebut lisis.

Pemeriksaan tidak dapat dilakukan karena sampel lisis menyebabkan hasil

yang didapat tidak akurat. Begitu juga dengan sampel yang kurang

menyebabkan pemeriksaan tidak dapat dilakukan. Maka dari itu

pengambilan sampel ulang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang

akurat.

Yang menyebabkan adanya suatu peningkatan terhadap kebutuhan cairan

harian diantaranya :
1) Demam ( kebutuhan meningkat 12% setiap 10 C, jika suhu > 370 C )
2) Hiperventilasi
3) Suhu lingkungan yang tinggi
4) Aktivitas yang ekstrim / berlebihan
5) Setiap kehilangan yang abnormal seperti diare atau poliuria

Yang menyebabkan adanya penurunan terhadap kebutuhan cairan

109
harian diantaranya yaitu :

1) Hipotermi ( kebutuhannya menurun 12% setiap 10 C, jika suhu <370 C )


2) Kelembaban lingkungan yang sangat tinggi
3) Oliguria atau anuria
4) Hampir tidak ada aktivitas
5) Retensi cairan misal gagal jantung (Salam,______).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan elektrolit, antara

lain:

1) Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan elektrolit adalah serum karena

tidak akan adanya bekuan darah yang terdapat dalam serum yang dapat

mengganggu proses pemeriksaan pada alat.


2) Tidak diperkenankan menggunakan serum dari hasil sentrifugasi darah yang

lisis untuk pemeriksaan elektrolit darah karena dapat menyebabkan

ketidakakuratan hasil yang mana akan terjadi peningkatan kadar elektrolit.

Apabila serum yang setelah disentrifuge lisis, maka harus dilakukan

pengambilan sampel darah ulang terhadap pasien untuk memperoleh hasil

pemeriksaan yang lebih akurat.


3) Tabung yang digunakan untuk menampung sampel darah pemeriksaan

elektrolit sebaiknya adalah tabung merah atau kuning karena jika ditampung

menggunakan tabung ungu yang berisi Na-EDTA atau K-EDTA dapat

menyebabkan hasil elektrolit tinggi palsu terutama kadarNa dan K. Maka dari

itu digunakan tabung merah atau kuning agar hasil yang didapatkan valid dan

akurat.

110
5. Pemeriksaan Cairan Pleura
a. Tujuan kegiatan
1) Tujuan umum
Untuk mengetahui dan memahami teknik pemeriksaan cairan pleura. secara

makroskopis, mikroskopis dan kimia klinik.


2) Tujuan khusus
Untuk melakukan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan cairan pleura

secara makroskopis, mikroskopis dan kimia klinik.


b. Metode

Pemeriksaan makroskopis menggunakan metode secara

makroskopis, Pemeriksaan mikroskopis menggunakan metode

flourescence flowcytometry and hydrodynamic focusing technologies

menggunakan alat Sysmex XN-1000 dan Pemeriksaan kimia klinik

mengguunakan metode automatic analyzer menggunakan alat BioSystem

BA 400.

c. Prinsip kerja
1) Pemeriksaan makroskopis : Sampel pleura diamati secara makroskopis

melihat warna, kejernihan, ada tidaknya bekuan.


2) Pemeriksaan mikroskopis : Sampel yang telah dihomogenkan kemudian

dimasukkan ke dalam alat. Sel-sel darah dalam sampel diairkan melalui suatu

celah sehingga sel-sel darah tersebut satu persatu, kemudian alat akan

menghitung sel-sel tersebut berdasarkan ukuran dan bentuknya.


3) Pemeriksaan Kimia Klinik : Sampel cup diisi dengan sampel pleura yang telah

disentrifus, kemudian dimasukkan ke dalam alat lalu alat diprogram sesuai

dengan jenis pemeriksaan yang diminta pada formulir pemeriksaan. Alat akan

melakukan pemipetan sampel dan reagen secara otomatis dan hasil akan

terlihat pada layar komputer yang tersambung dengan program LIS.


d. Dasar teori

Pleura merupakan membran serosa yang melingkupi parenkim paru,

111
mediastinum, diafragma serta tulang iga; terdiri dari pleura viseral dan

pleura parietal. Rongga pleura terisi sejumlah tertentu cairan yang

memisahkan kedua pleura tersebut sehingga memungkinkan pergerakan

kedua pleura tanpa hambatan selama proses respirasi. Cairan pleura

berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler pleura, ruang interstitial paru,

kelenjar getah bening intratoraks, pembuluh darah intratoraks dan rongga

peritoneum.

e. Alat dan bahan


1) Alat
a) Tabung Serologis
b) Pipet tetes
c) Centrifuge
d) BioSystem BA 400
e) Sysmex XN-1000
f) Mikropipet
g) Yellow tip
h) Sampel cup
2) Bahan
a) Sampel pleura
b) Asam asetat glasial
c) Aquadest
f. Prosedur Kerja
1) Tahap pra-analitik
a) Cairan pleura diambil oleh dokter pengirim menggunakan jarum khusus.
b) Cocokkan identitas pasien yang tertera pada sampe dengan formulir

pemeriksaan.
c) Sentrifuge sampel pleura secukupnya untuk pemeriksaan kimia.
2) Tahap analitik
a) Pemeriksaan Makroskopis
(1) Pastikan identitas pasien pada sampel sama dengan formulir pemeriksaan.
(2) Homogenkan sampel.
(3) Amati secara makroskopis cairan pleura dari warna, kejernihan serta bekuan.
(4) Catat hasil yang didapatkan.
b) Pemeriksaan Mikroskopis
(1) Dipastikan alat Sysmex XN-1000 dalam keadaan siap digunakan dan sudah

dilakukan kontrol sebelum digunakan.


(2) Homogenkan sampel.
(3) Masukkan sampel ke dalam tabung serologis secukupnya.
(4) Masukkan identitas pasien secara manual ke dalam komputer.

112
(5) Tekan tombol berwana abu, rak sampel akan keluar.
(6) Letakkan tabung serologis pada rak sampel.
(7) Klik menu cap open. Klik OK.
(8) Tekan tombol biru pada alat. Rak akan masuk dan memulai pemeriksaan.
(9) Setelah pemeriksaan selesai, rak sampel akan keluar secara otomatis.
(10) Ambil tabung lalu tekan tombol abu untuk menutup rak.
(11) Hasil akan muncul pada layar.
c) Pemeriksaan Kimia
(1) Pemeriksaan Rivalta
(a) Isi tabung serologis dengan aquadest hingga bagian tabung.
(b) Teteskan 8 tetes asam asetat gacial ke dalam tabung.
(c) Arahkan tabung ke sumber cahaya. Teteskan 1 tetes supernatan hasil sentrifus.
(d) Amati kabut atau awan yang terbentuk.
(e) Catat hasil yang didapat.
(2) Pemeriksaan dengan alat BA 400 Biosystem
(a) Pipet supernatan dan masukkan ke dalam cup serum.
(b) Klik icon untuk memasukkan sampel baru.
(c) Diisi kode sampel pasien sesuai dengan nomor id dan ketik pleura dibagian

akhir.
(d) Pilih parameter pemeriksaan Glukosa, Protein, Albimun dan LDH. Klik

Save dan Ok.


(e) Klik icon untuk menentukan posisi sampel pada rak. Letakkan sampel

pada posisi yang telah ditentukan.


(f) Klik icon untuk memulai pemeriksaan.
(g) Hasil akan muncu pada layar.
3) Tahap Post Analitik
a) Diperiksa kesesuaian hasil dengan history pasien pada pemeriksaan

sebelumnya dan dengan riwayat atau kondisi pasien pada saat pemeriksaan

dilakukan.
b) Jika hasil meragukan, dilakukan pengulangan pemeriksaan dan dilaporkan

kepada dokter penanggung jawab.

Nilai normal untuk pemeriksaan pleura yang digunakan di

Laboratorium RSUD Wangaya Denpasar, yaitu:

Makroskopis : Warna : Kuning


Kekeruhan : Tidak keruh
Bekuan : Negatif
Mikroskopis : Limfosit : 2-30%
Granula : 10%
Monosit : 30-75%

113
Kimia : Rivalta : (+) = Eksudat
(-) = Transudat
Glukosa : 70-110 md/dL
Protein : < 2.5 g/dL
Albimun : 3.80-5.10 g/dL
g. Hasil kegiatan

Hasil kegiatan pada pemeriksaan Cairan Pleura secara makroskopis

dan mikroskopis di Laboratorium Klinik RSUD Wangaya, yang

dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai dengan 29 April 2017 adalah

sebanyak 22 pemeriksaan. Hasil yang didapat pada pemeriksaan

makroskopis yakni didapatkan sampel berwarna kuning dan berwarna

merah yang keruh serta ada yang positif dan negatif bekuan. Pada

pemeriksaan rivalta, didapatkan hasil negatif yang ditandai dengan tidak

terbentuknya awan yang berarti sampel tersebut merupakan transudat dan

hasil positif yang ditandai dengan terbentuknya awan yang berarti sampel

merupakan eksudat.

h. Permasalahan yang ditemui


Tidak ditemukan permasalahan pada pemeriksaan cairan pleura.
i. Pembahasan

Cairan pleura berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler pleura,

ruang interstitial paru, kelenjar getah bening intratoraks, pembuluh darah

intratoraks dan rongga peritoneum. Jumlah cairan pleura dipengaruhi oleh

perbedaan tekanan antara pembuluh-pembuluh kapiler pleura dengan

rongga pleura sesuai gaya Starling (laju filtrasi kapiler di pleura

parietal)serta kemampuan eliminasi cairan oleh sistem penyaliran limfatik

pleura parietal. Cairan pleura mengandung 1.500 4.500 sel/mL, terdiri

dari makrofag (75%), limfosit (23%), sel darah merah dan mesotel bebas.

Cairan pleura normal mengandung protein 1 2 g/100 mL. Kadar molekul

114
bikarbonat cairan pleura 20 25% lebih tinggi dibandingkan kadar

bikarbonat plasma, sedangkan kadar ion natrium lebih rendah 3 5% dan

kadar ion klorida lebih rendah 6 9% sehingga pH cairan pleura lebih

tinggi dibandingkan pH plasma. Keseimbangan ionik ini diatur melalui

transpor aktif mesotel. Kadar glukosa dan ion kalium cairan pleura setara

dengan plasma (Pratomo, 2013).

Pemeriksaan cairan pleura di Laboratorium RSUD Wangaya terdiri dari

pemeriksaan makroskopis yang mengamati warna, kejernihan serta ada tidaknya

bekuan, pemeriksaan mikroskopis yang terdiri dari jumlah sel, limfosit,

granulosit, dan monosit serta pemeriksaan kimia yang terdiri dari pemeriksaan

rivalta, glukosa, protein, albumin dan LDH. Selama PKL berlangsung tidak

ditemukan adanya permasalahan saat pemeriksaan pleura dilakukan.


Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pemeriksaan pleura yakni:
1) Pastikan identitas pasien yang tertera pada sampel dan formulir pemeriksaan

sudah sama dan benar.


2) Selalu homogenkan sampel sebelum memulai pemeriksaan.
3) Saat pemeriksaan rivalta, pastikan dilakukan di tempat yang dekat dengan

cahaya agar kabut yang terbentuk terlihat.

115