Anda di halaman 1dari 15

BAB 11

MENYELESAIKAN AUDIT

A. Penerapan Pengujian Tambahan atas Penyajian dan Pengungkapan

Pendekatan auditor dalam memperoleh bukti sehubungan dengan tujuan penyajian dan
pengungkapan konsisten dengan pendekatan dalam memperoleh bukti yang berkaitan dengan
transaksi dan saldo, diantaranya yaitu :

1. Melakukan prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian untuk tujuan


penyajian dan pengungkapan sebagai bagian dari prosedur penilaian resiko.
2. Melakukan pengujian pengendalian yang berhubungan dengan pengungkapan saat
penilaian awal resiko pengendalian berada di bawah maksimum.
3. Melakukan prosedur subtantif

Prosedur untuk tujuan penyajian dan pengungkapan diintegrasikan dengan pengujian auditor
atas tujuan audit terkait transaksi dan tujuan audit terkait saldo. Banyak informasi yang
disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan diaudit sebagai bagian dari pengujian
auditor pada tahap awal audit. Ditahap ini auditor mengevaluasi bukti yang diperoleh dari 3
tahap pertama untuk menilai apakah diperlukan bukti tambahan untuk tujuan penyajian dan
pengungkapan. Auditor juga mengevaluasi apakah keseluruhan penyajian dalam laporan
keuangan dan penjelasan tambahan terkait telah mematuhi prinsip akuntansi berlaku umum.
Hal ini meliputi evaluasi apakah setiap laporan keuangan mencerminkan klasifikasi yang tepat
dan deskripsi setiap akun yang konsisten dengan persyaratan dan bahwa informasi disajikan
dalam bentuk yang benar dan dengan terminology yang tepat seperti disyaratkan dalam standar
akuntansi.

Salah satu perhatian utama auditor berhubungan dengan tujuan penyajian dan pengungkapan
adalah menentukan apakah manajemen sudah mengungkapkan seluruh informasi yang
diperlukan. Untuk menilai resiko yang tidak dapat memenuhi tujuan penyajian dan
pengungkapan, auditor harus mempertimbangkan informasi yang diperoleh selama tiga tahap
pertama dalam pengujian audit untuk menentukan apakah sudah cukup menjelaskan fakta dan
keadaan yang harus diungkapkan.

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 1


Sehubungan dengan uniknya pengungkapan atas kewajiban kotijensi dan kejadian setelah
tanggal neraca, auditor sering kali memberikan penilaian resiko tinggi karena tidak seluruh
informasi yang dibutuhkan diungkapkan dalam penjelasan tambahan. Pengujian audit yang
dilakukan pada tahap awal audit sering kali tidak menyediakan bukti yang memadai mengenai
kewajiban kotijensi dan kejadian setelah tanggal neraca. Oleh karena itu, auditor mendesain
dan melakukan prosedur pada setiap audit untuk menelaah kewajiban kotijensi dan kejadian
setelah tanggal neraca sebagai bagian dari pengujian tahap keempat.

B. Telaah atas Kewajiban Kontijensi dan Komitmen

Kewajiban Kontinjensi adalah potensi utang di masa depan kepada pihak luar atas jumlah yang
belum dapat ditentukan yang dihasilkan dari aktivitas yang telah dilakukan. Terdapat tiga
kondisi yang diperlukan atas munculnya kewajiban kontijensi, yaitu :

1. Terdapat potensi pembayaran di masa mendatang kepada pihak luar atau penurunan
nilai asset yang dihasilkan dari kondisi sekarang.
2. Terdapat ketidakpastian jumlah pembayaran atau penurunan nilai di masa mendatang.
3. Hasilnya akan diperoleh dari kejadian di masa mendatang.

Ketidakpastian atas pembayaran di masa mendatang dapat bervariasi dari sangat mungkin
terjadi sampai kemungkinan besar tidak terjadi. Adapun menurut PSAK 57 dijelaskan tiga
tingkatan kemungkinan keterjadian dan perlakuan atas laporan keuangan yang dapat
digunakan sebagai standard evaluasi dalam mempertimbangkan dan melakukan penilaian
secara profesional bagi auditor terhadap kondisi pelaporan klien.

Standar audit mensyaratkan bahwa manajemen, bukan auditor, bertanggung jawab atas
identifikasi dan penetuan perlakuan akuntansi yang tepat untuk kewajiban kontinjensi dan pada
dasarnya dalam pengungkapan atas kontijensi dapat dilakukan atas kerjasama pihak
manajemen dengan auditor. Tujuan utama auditor dalam melakukan verifikasi kewajiban
kontijensi adalah :

Mengevaluasi perlakuan akuntansi atas kewajiban kontinjensi yang diketahui untuk menentukan
apakah manajemen telah mengklasifikasikan kontijensi dengan benar (tujuan penyajian dan
pengungkapan untuk klasifikasi).

Mengidentifikasi praktek kontinjensi yang belum diidentifikasi manajemen (tujuan penyajian dan
pengungkapan untuk kelengkapan).

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 2


Komitmen sangat berkaitan erat dengan kewajiban kontinjensi. Komitmen meliputi hal-hal
seperti perjanjian untuk membeli bahan baku atau melakukan sewa guna usaha suatu fasilitas
pada harga tertentu dan penjualan barang dagangan pada harga yang sudah ditentukan.
Karakteristik dalam komitmen yaitu perusahaan setuju berada dalam kondisi tertentu di masa
mendatang, tanpa memperhatikan apa yang terjadi dengan laba perusahaan atau
perekonomian keseluruhan. Perusahaan biasanya menjelaskan seluruh komitmen, baik dalam
penjelasan tambahan terpisah maupun digabungkan, dengan sebuah catatan mengenai
kontinjensi.

1. Prosedur Audit Untuk Menemukan Kontijensi


Langkah pertama dalam melakukan audit kontijensi adalah menentukan apakah
terdapat kontijensi (tujuan penyajian dan pengungkapan atas keterjadian). Seperti pada
kenyataannya lebih sulit menemukan transaski yang tidak tercatat daripada melakukan
verifikasi atas informasi yang tercatat. Saat auditor mengetahui terjadi kontijensi mereka
akan melakukan evaluasi Materialitas dan Pengungkapan Penjelasan Tambahan.
Berikut adalah prosedur audit yang biasa digunakan oleh para auditor dalam mengaudit
kewajiban kontijensi :
Melakukan Tanya-Jawab dengan pihak manajemen (langsung / tertulis) tentang
tercatatnya kontijensi.
Menelaah laporan agen penerimaan internal pada tahun berjalan dan tahun
sebelumnya atas penentuan PPh.
Menelaah notulensi pertemuan direktur dan pemegang saham bila ada indikasi
tuntutan hukum atau kontijensi lainnya.
Menelaah kondisi hukum untuk periode audit dan menelaah tagihan dan pernyataan
dari penasihat hukum atas terjadinya kewajiban kontijensi.
Memperoleh surat dari penasihat hukum atas status kewajiban kontijensi
Menelaah dokumentasi audit bila terdapat informasi yang mengindikasikan
terjadinya kontijensi.
Memeriksa perjanjian kredit tanggal neraca dan meminta konfirmasi saldo yang
terpakai atau tidak.
2. Evaluasi Kewajiban Kontijensi Yang Telah Diketahui
Jika auditor menyimpulkan bahwa terdapat kewajiban kontijensi, maka harus mengevaluasi
signifikansi potensi utang dan sifat pengungkapan yang diperlukan dalam laporan
keuangan untuk memperoleh bukti atas keterjadian atas hak dan kewajiban dalam tujuan
penyajian dan pengungkapan. Untuk kontijensi yang membutuhkan pengungkapan , auditor
juga menelaah konsep penjelasan tambahan untuk memastikan bahwa informasi yang
diuangkapkan dapat dipahami dan dinyatakan dengan wajar sesuai kondisi kontijensi.

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 3


3. Prosedur Audit Untuk Menemukan Komitmen
Penelitian untuk mencari komitmen yang belum diketahui biasanya dilakukan sebagai
bagian dari audit atas masing-masing area audit. Misalkan, dalam melakukan verifikasi
penjualan, auditor seharusnya waspada atas adanya komitmen penjualan.
4. Tanya Jawab Dengan Pengacara Klien
Prosedur utama yang diandalkan auditor untuk mengungkapkan tuntutan hukum yang
diketahui atau klaim lain terhadap klien dan mengidentifikasi klaim tambahan yaitu Tanya
jawab dengan pengacara klien. Auditor mengandalkan keahlian dan pengetahuan
pengacara mengenai masalah hukum guna memberikan pendapat professional atas hasil
tuntutan hukum yang diharapkan dan kemungkinan jumlah kewajiban kewajiban termasuk
biaya sidang.

C. Telaah Kejadian Setelah Tanggal Neraca

Telaah kejadian setelah tanggal neraca harus dilakukan auditor untuk menelaah transaksi dan
kejadian yang muncul setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah terdapat transaksi
atau kejadian yang mempengaruhi penyajian dan pengungkapan pada laporan periode
berjalan. Prosedur audit ini disyaratkan di PSA 46 (SA 560). Tanggung jawab auditor atas telaah
kejadian setelah tanggal neraca biasanya terbatas pada periode awal, yaitu pada tanggal
neraca dan berakhir pada tanggal laporan auditor. Oleh karena tanggal laporan auditor
merupakan saat penyelesaian prosedur audit yang penting di kantor klien, maka telaah kejadian
setelah tanggal neraca harus diselesaikan mendekati akhir audit.

a. Jenis-Jenis Kejadian Setelah Tanggal Neraca


Ada dua kejadian yang harus dipertimbangkan oleh manajemen dan dievaluasi oleh
auditor yaitu:
Kejadian yang berdampak langsung pada Laporan Keuangan dan membutuhkan
penyesuaian. Beberapa kejadian setelah tanggal neraca memberikan informasi
tambahan kepada manajemen agar dapat menentukan penyajian dan pengungkapan
yang wajar atas saldo akun pada tanggal neraca. Informasi ini membantu auditor
dalam melakukan verifikasi saldo. Kejadian setelah tanggal neraca seperti berikut ini,
memerlukan penyesuaian atas saldo akun pada laporan keuangan tahun berjalan jika
jumlahnya material; Pernyataan kebangkrutan oleh pelanggan atas saldo piutang
dagang yang beredar karena kondisi keuangan pelanggan memburuk.
Penetapan proses litigasi pada nilai yang berbeda dengan nilai yang ditetapkan pada
pembukuan. Penghentian asset tetap yang tidak digunakan dalam operasi pada nilai di
bawah nilai buku. Penjualan investasi pada harga di bawah harga perolehan. Saat

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 4


kejadian setelah tanggal neraca digunakan untuk mengevaluasi jumlah yang
dimasukkan dalam laporan keuangan akhir tahun, auditor harus memisahkan antara
kondisi pada tanggal neraca dan kondisi setelah akhir tahun. Informasi setelah tanggal
neraca tidak boleh dimasukkan dalam laporan jika keadaan yang menyebabkan
perubahan nilai terjadi setelah akhir tahun.
b. Kejadian yang tidak berdampak langsung pada Laporan Keuangan, tetapi memerlukan
pengungkapan.
Kejadian ini memberikan kondisi yang tidak terjadi pada tanggal neraca yang
dilaporkan, tetapi tidak signifikan namun tetap memerlukan pengungkapan meskipun
tidak memerlukan penyesuaian akun. Akun ini biasanya diungkapkan dengan
penjelasan tambahan, tetapi terkadang bisa cukup signifikan sehingga memerlukan
pengungkapan pada laporan keuangan tambahan (supplemental financial statements)
yang memasukkan dampak kejadian seolah-olah kejadian tersebut muncul pada
tanggal neraca. Kejadian atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca yang
memerlukan pengungkapan, bukan hanya penyesuaian dalam laporan keuangan,
meliputi:
Penurunan nilai pasar atas sekuritas milik perusahaan untuk investasi sementara
atau akan dijual kembali
Penerbitan obligasi atau sekuritas ekuitas
Penurunan nilai pasar atas persediaan sebagai dampak dari tindakan pemerintah
yang membatasi penjualan produk
Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat kebakaran
Penggabungan usaha atau akuisisi.

Auditor perusahaan publik dapat juga mengidentifikasi kejadian yang berhubungan dengan
pengendalian internal atas laporan keuangan yang muncul setelah tanggal neraca. Jika auditor
menentukan bahwa kejadian setelah tanggal neraca ini berdampak material pada pengendalian
internal atas laporan keuangan perusahaan, maka laporan auditor harus memasukkan
paragraph penjelasan, baik yang menjelaskan kejadian dan dampaknya atau pun yang
langsung mengarahkan pembaca kepada pengungkapan laporan manajemen dalam
pengendalian internal berikut dampaknya.

Pengujian Audit

Prosedur audit untuk menelaah kejadian setelah tanggal neraca terbagi dalam dua kategori
yaitu:

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 5


Prosedur yang biasanya terintegrasi sebagai bagian dari verifikasi saldo akun akhir tahun.

Prosedur ini meliputi pengujian pisah batas dan penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari
pengujian perincian saldo. Misal auditor memeriksa transaksi penjualan dan pembelian setelah
tanggal neraca untuk menentukan apakah pisah batasnya akurat.

Prosedur yang dilakukan khususnya untuk menemukan kejadian atau transaksi yang harus
diakuai sebagai kejadian setelah tanggal neraca.

Kategori pengujian kedua adalah pengujian yang khusus menyediakan informasi untuk menguji
saldo akun tahun berjalan atau penjelasan tambahan sebagai pengujian kelengkapan untuk
tujuan penyajian dan pengungkapan. Pengujian tersebut meliputi:

Tanya jawab dengan Manajemen


Tanya jawab dengan pihak manajemen mengenai kejadian setelah tanggal neraca harus
dilakukan dengan pihak klien yang tepat untuk mendapatkan jawaban yang memadai.
Koresondensi dengan Pengacara
Auditor berkorespondensi dengan pengacara sebagai bagian dari pencarian kewajiban
kontijensi. Auditor biasanya meminta pengacara untuk memberikan tanggal dan
mengirimkan surat pada tanggal penyelesaian pekerjaan lapangan untuk memenuhi
kewajiban auditor atas kejadian setelah tanggal neraca.
Telaah atas Laporan Internal yang dibuat setelah tanggal neraca
Dalam menelaah laporan internal, auditor harus menekankan perubahan pada bisnis
perusahaan yang dibandingkan dengan hasilnya untuk periode audit dan perubahan
setelah akhir tahun. Mereka harus berhati-hati atas perubahan besar yang terjadi dalam
bisnis atau lingkunganr dimana klien beroperasi. Auditor harus membahas laporan intern
dengan manajemen untuk menentukan apakah laporan itu dibuat dengan dasar yang
sama dengan laporan periode berjalan dan melakukan Tanya jawab mengenai
perubahan signifikan atas hasil operasinya.
Telaah atas pencatatan yang dibuat setelah tanggal neraca
Auditor harus menelaah jurnal dan buku besar untuk menentukan keberadaan dan sifat
dari transaksi signifikan yang berhubungan dengan tahun berjalan. Jika jurnal tidak
selalu terbarui, maka auditor harus menelaah dokumen yang akan digunakan untuk
menyusun jurnal tersebut.
Pemeriksaan notulensi pertemuan dewan direksi setelah tanggal neraca
Auditor harus memeriksa notulensi pertemuan pemegang saham dan pertemuan direksi
atas kejadian-kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi pelaporan periode
berjalan.

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 6


Permintaan surat representasi
Surat represintasi dibuat oleh manajemen klien kepada auditor yang menyatakan
adanya perbedaan hal-hal selama masa audit, termasuk pembahasan mengenai
kejadian setelah tanggal neraca. Surat ini harus dibuat dan mencakup hal-hal lain yang
penting.

Penetapan Tanggal Ganda

Biasanya auditor menentukan bahwa kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi
laporan keuangan periode berjalan terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai, tetapi sebelum
laporan audit diterbitkan. Misal jika klien audit membeli perusahaan lain setelah hari terakhir
pekerjaan lapangan. Dengan mengasumsikan bahwa pembelian terjadi pada 23 Maret,
sedangkan hari terakhir pekerjaan lapangan adalah 11 Maret. Dalam situasi ini, PSA 43 (SA
530) mensyarakatkan auditor untuk memperluas pengujian audit pada kejadian setelah tanggal
neraca yang baru ditemukan untuk memastikan hal itu sudah diungkapkan. Auditor memiliki dua
pilihan atas perluasan pengujian kejadian setelah tanggal neraca, yaitu:

Memperluas seluruh kejadian setelah tanggal neraca ke batas tanggal yang baru.
Membatasi telaah kejadian setelah tanggal neraca sehubungan dengan kejadian baru
setelah tanggal neraca.

A. Akumulasi Bukti Akhir


Terdiri dari beberapa tahap yaitu :
Melakukan Prosedur Analitis Akhir
Saat melakukan prosedur analitis selama tahap telah akhir, yang disyaratkan dlam
standar audit, rekanan biasanya membaca laporan keuangan, termasuk penjelasan
tambahan, dan mempertimbangkan hal berikut :
- Kecukupan bukti yang dikumpulkan atas saldo akun yang tidak lazim atau tidak
diharapkan atau hubungan yang teridentifikasi selama perencanaan atau selama
pelaksanaan audit.
- Saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau hubungan yang tidak
teridentifikasi sebelumnya.
- Hasil dari prosedur analitis akhir bisa jadi mengindikasikan bahwa bukti audit
tambahan dibutuhkan.
Mengevaluasi Asumsi Kelangsungan Usaha
Auditor membuat penilaian pada awalnya sebagai bagian dari perencanaan, tetapi bisa
saja mengubah hasil penilaian bila ada informasi baru. Misalnya, penilaian awal atas
kelangsungan usaha akan direvisi bila ada temuan auditor selama masa audit bahwa

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 7


perusahaan tidak dapat membayar utang, kehilangan konsumen utama, atau
memutuskan untuk menjual aset penting untuk membayar utang. Auditor menggunakan
prosedur analitis, mendiskusikan dengan manajemen mengenai kemungkinan adanya
kesulitan keuangan, dan mengumpulkan informasi mengenai bisnis klien selama masa
audit agar dapat memberikan penilaian terhadap kemungkinan kesulitan keuangan pada
tahun depan.
Penilaian akhir atas kelangsungan usaha entitasdipertimbangkan setelah seluruh bukti
dikumpulkan dan rencana penyesuaian audit diajukan kedalam laporan keuangan. Saat
auditor menetapkan asumsi kelangsungan usaha, mereka harus mengevaluasi rencana
manajemen dalam menghindari kebangkrutandan mengevaluasi kelayakan dalam
realisasi rencana tersebut.
Memperoleh Surat Representasi Manajemen
Tiga tujuan suat representasi klien tersebut adalah :
- Menekankan kepada manajemen bahwa mereka bertanggung jawab atas penilaian
laporan keungan. Manajemen mudah melupakan tanggung jawab mereka atas
penyajian laporan keuangan yang wajar, terutama untuk perusahaan kecil yang
personelnya kurang memahami akuntansi.
- Mengingatkan manajemen atas potensi salah saji atau hal yang tidak dimasukkan
dalam laporan keuangan. Misalnya, jika surat representasi memasukkan referensi
aset yang dijaminkan atau kewajiban kontijensi, maka manajemen yang jujur akan
diingatkan atas kesalahan tak disengaja terhadap pengungkapan laporan keuangan
secara memadai, yang akan membantu memenuhi kelengkapan tujuan penyajian
dan pengungkapan. Untuk memenuhi tujuan ini, surat representasi harus memuat
perincian secara memadai untuk mengingatkan manajemen.
- Mendokumentasikan jawaban dari manajemen atas tanya jawab mengenai
berbaagai spek dalam audit. Dokumen ini dinuat tertulis dan memuat perihal
ketidaksetujuan atu tuntutan hukum antara auditor dengan klien. Oleh karena hal ini
lebih formal dibandingkan dengan kamunikasi langsung, maka surat representasi
juga membantu mengurangi kesalahpahaman antara manajemen dan auditor.

1. Laporan keuangan
Pernyataan manajemen berisi pertanggungjawaban atas penyajian laporan keuangan
yang wajar. Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar
dan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
2. Kelengkapan informasi
Ketersediaan seluruh pencatatan akuntansi dan data terkait. Kelengkapan dan
ketersediaan seluruh notulensi pertemuan pemegang saham, direktur, dan dewan
direksi.

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 8


3. Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
Keyakinan manajemen bahwa dampak dari salah saji laporan keuangan yang tidak
dikoreksi adalah tidak material bagi laporan keuangan keseluruhan.
Informasi mengenai kecurangan meliputi (a) manajemen, (b) karyawan yang berperan
penting dalam pengendalian internal, atau (c) lain-lain dimana kecurangan dapat
berdampak material dalam laporan keuangan.
Informasi mengenai transaksi pihak terkait dan jumlah piutang dan terutang dari dan
kepada pihak terkait. Klaim yang belum diajukan atau penilaian dari pengacara klien
memiliki asersi penting dan harus diungkapkan sesuai PSAK No.57, Estimasi Utang,
Kewajiban Kontijensi, dan Aset Bersyarat.
4. Kejadian setelah tanggal neraca
Kebangkrutan konsumen utama dengan piutang dagang berjumlah besar pada tanggal
neraca. Penggabungan usaha atau akuisisi setelah tanggal neraca. Surat representasi
klien adalah pernyataan tertulis dari sumber yang tidak independen, karena itu tidak
dapat dianggap sebagai bukti yang bisa diandalkan. Meskipun demikian, surat tersebut
merupakan dokumen dimana manajemen ditanyai dengan pertanyaan tertentu untuk
memastikan bahwa manajemen memahami tanggung jawabnya dan untuk melindungi
auditor jika manajemen akan menuntut auditor.
5. Mempertimbangkan Informasi yang Menyertai Laporan Keuangan Dasar
Auditor harus jelas memisahkan audit dan tanggung jawab pelaporan atas laporan
keuangan utama dan untuk informasi tambahan. Biasanya, auditor tidak melakukan
audit terperinci yang memadai untuk menyesuaikan opini atas informasi tambahan,
tetapi dalam kondisi tertentu auditor dapat saja mengandalkan bahwa informasi tersebut
disajikan dengan wajar. Standar pelaporan profesi mensyaratkan auditor untuk membuat
pernyataan yang jelas mengenai tingkat tanggung jawab yang diambil atas informasi
tambahan ini. Dua jenis opini yang diperbolehkan : opini positif yang mengindikasikan
tingkat kepastian tinggi atau tidak memberikan pendapat yang mengindikasikan tidak
ada kepastian.
Klien kadang-kadang memasukkan informasi tambahan di luar laporan keuangan dasar
yang dibuat untuk manajemen atau pengguna laporan dari luar. PSA 36 (SA 351)
merujuk pada informasi tambahan tersebut sebagai informasi yang menyertai laporan
keuangan dasar dalam dokumen yang diserahkan oleh auditor.
Saat auditor menerbitkan opini atas informasi tambahan yang menyertai laporan
keuangan, materialitasnya sama dengan yang digunakan dalam membuat opini
terhadap laporan keuangan dasar. Akibatnya, prosedur tambahan yang diperlukan tidak
seluas saat auditor menerbitkan opini atas informasi yang diambilnya sendiri, seperti
atas laporan akun atau bagian tertentu. Auditor memberikan tambahan kata-kata pada

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 9


laporan standar auditor saat menyatakan opini untuk tambahan informasi, seperti
contoh berikut :
Audit kami dilakukan dengan membentuk opini atas laporan keuangan dasar secara
keseluruhan. Informasi yang menyertai pada halaman x sampai y disajaikan sebagai
analisis tambahan dan bukan bagian penting dalam laporan keuangan dasar. Informasi
ini ditujukan untuk memenuhi prosedur audit yang diterapkan pada audit laporan
keuangan dasar dan, dalam opini kami, disajikan dengan wajar dalam segala hal yang
sifatnya material sehubungan dengan laporan keuangan dasar secara keseluruhan.

Evaluasi Hasil

Setelah melaksanakan seluruh prosedur audit dalam setiap area audit, termasuk telaah untuk
kontinjensi dan kejadian setelah tanggal neraca serta akumulasi bukti akhir, auditor harus
mengintergrasikan hasil tersebut kedalam satu kesimpulan keseluruhan mengenai laporan
keuangan. Pada akhirnya, auditor harus memutuskan apakah bukti audit sudah memadai dan
tepat untuk diakumulasikan untuk menjamin kesimpoulan bahwa laporan keuanga disajikan
sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum, dan diaplikasikan secara konsisten dengan
tahun sebelumnya.

Evaluasi akhir atas kecukupan bahan bukti adalah berupa penelaahan oleh auditor atas seluruh
audit untuk menentukan apakah seluruh aspek penting telah cukup diuji setelah
mempertimbangkan situasi penugasan. Langkah utama dalam proses ini adalah penelaahan
program audit untuk meyakinkan bahwa seluruh bagian telah secara akurat diselesaikan dan
didokumentasikan dan bahwa seluruh tujuan audit dipenuhi.

Bukti yang tepat dan memadahi


Untuk membuat evaluasi akhir apakah bukti sudah diakumulasikan dengan tepat dan
memadai, auditor menelaah dokumentasi atas audit keseluruhan untuk menentukan
apakah seluruh hal material dari transaksi, akun dan pengungkapan sudah diuji secara
memadai, dengan mempertimbangkan seluruh kondisi audit. Bagian penting dalam
telaah adalah memastikan bahwa seluruh bagian dari program audit dilengkapi dengan
akurat dan didokumentasikandan seluruh tujuan audit terpenuhi.
Untuk membantu dalam memutuskan apakah audit sudah memadai, auditor sering
menggunakan daftar pembanding (checklist) penyelesaian audit, sebagi pengingat
biloa ada yang terlewatkan. Jika auditor memutuskan bahwa bukti yang memadai tidak
terpenuhi dalam rangka memutuskan apakah laporan keuangan disajikan secara

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 10


wajar, maka mereka memiliki dua pilihan: (1) mengakumulasikan bukti tambahan atau
(2) menerbitkan opini dengan pengecualian atau tidak memberikan opini.
Bukti pendukung opini auditor
Bagian penting dari evaluasi apakah laporan keuangan disajikan secara wajar adalah
mengikhtisarkan salah saji yang ditemukan dalam audit. Manakala auditor menemukan
salah saji yang material, neraca saldo harus disesuaikan untuk menkoreksi laporan
keuangan. Jika auditor percaya bahwa terdapat kecukupan bahan bukti tetapi tidak
menjamin kesimpulan mengenai penyajian laporan keuangan yang awajar, auditor
sekali lagi mempunyai dua pilihan: laporan harus direvisi hingga auditor puas atau
memberikan pendapat wajar tanpa syarat atau menolak untuk memberikan pendapat
harus diterbtikan. Perhatikan bahwa pilihan disini berbeda dengan yang dibahas dalam
kasus ketidakcukupan bahan bukti yang diperoleh.
Pengungkapan laporan keuangan
Sebelum menyelesesaikan audit, auditor harus membeuat evaluasi akhir apakah
pengungkapan laporan keuangan sudah memenuhi seluruh tujuan penyajian dan
pengungkapan.
Sebagai bagian dari telaah akhir dalam pengungkapan laporan keuangan, banyak KAP
mensyaratkan adanya penyelesaian daftar pembanding laporan keuangan untuk setiap
audit. Kuesioner ini didesain untuk mengingatkan auditor tentang masalah yang
biasanya muncul dalam laporan keuangan dan memfasilitasi telaah akhir untuk
keseluruhan audit oleh seorang rekanan independen.
Telaah dokumentasi audit
Ada tiga alasan mengapa staf firma audit yang berpengalaman harus menelaah
dokumentasi audit pada saat penyelesaian audit:
- Untuk mengevalusi kinerja karyawan yang belum berpengalaman.
Bagian yang perlu dipertimbangkan dari kebanyakan audit dilaksanakan oleh staf
audit dengan pengalaman kurang dari empat atau lima tahun.

Memastikan bahwa proses audit memenuhi standar kinerja

Dalam setiap organisasi kualitas kinerja individu sangat bervariasi, tetapi penelaahan yang
seksama oleh staf tingkat atas dalam perusahaan membantu mempertahankan kualitas audit
yang seragam.

Menghilangkan kerancuan yang sering muncul dalam penilaian auditor

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 11


Auditor dapat berusaha agar senantiasa objektif dalam seluruh audit, tetapi mudah untuk
kehilangan perspektif yang memadai dalam audit yang panjang jika terdapat masalah kompleks
yang ingin dipecahkan.

Telaah independen

Pada saat penyelesaian audit yang lebih besar, biasanya terdapat telaah untuk laporan
keuangan dan keseluruhan berkas audit oleh penelaah independen yang ridak terlibat dalam
audit, tetapi merupakan staf kantor akuntan yang juga melakukan audit. Telaah independen
diisyaratkan oleh SEC termasuk telaah atas informasi keuangan interim dan audit pengendalian
internal.

Ringkasan evaluasi bukti

Auditor mengevaluasi kecukupan dan kelayakan bukti pada saat mengevauasi risiko audit,
berdasarkan akun dan siklus, dan kemudian membuat evaluasi yang sama untuk laporan
keuangan keseluruhan. Auditor juga mengevaluasi bukti pendukung atas opini audit dengan
mengestimasi salah saji dalam setiap akun dan kemudian untuk laporan keuangan
keseluruhan. Evaluasi risiko audit dan estimasi salah saji dibuat pada waktu bersamaan dan
berdasarkan evaluasi tersebut, laporan audit diterbitkan untuk laporan keuangan.

Penerbitan Laporan Audit

Auditor harus menunggu untuk menentukan laporan audit untuk di audit hingga seluruh bukti
diakumulasi dan dievaluasi. Hal tersebut dilakukan karena laporan audit merupakan satu-
satunya yang dilihat oleh sebagian besar pengguna dari keseluruhan proses audit dan
konsekuensi dari penerbitan laporan audit yang tidak benar sangat besar.

Sebagian besar auditor dalam mengaudit menerbitkan laporan standar tanpa pengecualian
dengan kata-kata baku. KAP biasanya memiliki bentuk baku laporan audit dan hanya di ganti
nama klien, judul laporan keuangan, dan tanggalnya. Apabila KAP memutuskan bahwa laporan
standar tanpa pengecualian tidak memadai, maka pembahasan lebih lanjut dilakukan antara
rekanan dalam KAP dan juga klien. KAP memiliki manual laporan audit komprehensif yang
membantu mereka dalam memilih kata-kata yang tepat dalam laporan jika diperlukan oleh
auditor.

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 12


Berkomunikasi dengan Komite Audit dan Manajemen

Pembahasan Tentang Kecurangan dan Tindakan Ilegal

PSA 32 (SA 316) dan PSA 31 (SA 317) mensyaratkan auditor untuk menyampaikan seluruh
kecurangan dan tindakan illegal kepada komite audit dan kelompok lain yang sejenis, meskipun
tidak material. Tujuannya adalah untuk membantu komite audit dalam melakukan tugas
pengawasan atas laporan keuangan.

Pembahasan Tentang Kurangnya Pengendalian Internal

Auditor harus menyampaikan perihal kurangnya pengendalian internal dan kelemahan material
dalam desain atas pengoperasian pengendalian internal secara tertulis kepada pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola. Untuk perusahaan yang lebih besar, hal tersebut
disampaikan kepada komite audit dan dalam perusahaan yang lebih kecl, dapat dilakukan
kepada pemilik perusahaan atau manajemen senior.

Pembahasan Hal Lainnya Kepada Komite Audit

PSA 48 (SA 380) mensyaratkan auditor untuk menyampaikan informasi tambahan yang
diperoleh selama audit kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, biasanya adalah
komite audit. Tujuan dari penyampaian ini adalah agar komite audit dan pihak lain yang
bertanggung jawab atas tata kelola mengetahui tentang informasi penting dan relevan
mengenai proses laporan keuangan dan memberikan kesempatan kepada komite audit untuk
membahas hal-hal penting dengan auditor.

Surat Manajemen (Management Letter)

Surat manajemen ditujukan untuk menginformasikan kepada klien mengenai rekomendasi KAP
guna meningkatkan bisnis klien. Rekomendasi biasanya berfokus pada efisiensi pengoperasian
perusahaan. Kombinasi antara pengalaman auditor dalam berbagai area bisnis dan melalui
pemahaman yang diperoleh dalam melakukan audit membuat auditor dapat memberikan
pengarahan kepada managemen.

Surat manajemen berbeda dengan surat yang melaporkan kurangnya pengendalian internal.
Surat manajemen diperlukan karena adanya kekurangan signifikan atau kelemahan penting

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 13


atas pengendalian internal dan harus mengikuti format yang diberikan dan dikirimkan sesuai
dengan persyaratan standar audit. Surat manajemen merupakan suatu opsi dan ditujukan untuk
membantu klien dalam mengoperasikan bisnisnya lebih efektif.

Penemuan Fakta Setelah Tanggal Neraca

Audit dikatakan selesai ketika auditor menerbitkan laporan audit dan menyelesaikannya seluruh
pembahasan dengan manajemen dan komite audit. Terkadang auditor menemukan bahwa
setelah audit laporan keuangan diterbitkan terjadi salah saji material dalam laporan keuangan.
Pada saat terdapat penemuan fakta setelah penerbitan laporan audit terjadi, auditor
berkewajiban untuk memastikan bahwa pengguna laporan keuangan mendapatkan informasi
atas salah saji tersebut. Jika auditor mengetahui salah saji sebelum pelaporan audit diterbitkan,
maka auditor akan memaksa manajemen untuk melakukan koreksi salah saji atau menerbitkan
laporan audit yang berbeda.

Jika auditor menemukan bahwa terdapat kekeliruan dalam laporan keuangan setelah
diterbitkan, maka tindakan yang paling tepat adalah meminta klien untuk menerbitkan revisi
laporan keuangan yang memasukkan penjelasan atas alasannya. Jika periode setelah tanggal
neraca atas laporan keuangan sudah selesai sebelum revisi diterbitkan, maka diperbolehkan
mengungkapkan salah saji tersebut dalam laporan periode setelah tanggal neraca. Jika hal
tersebut penting, maka klien harus melaporkan kepada Bapepam-LK dan regulator lainnya atas
salah saji laporan keuangan tersebut.

Jika klien menolak mengungkapkan salah saji ke dalam laporan, maka auditor harus
menginformasikan kepada dewan dierksi dan harus mengingatkan kepada regulator agar
membatasi klien karena laporan keuangan tidak lagi disajikan wajar dan jika memungkinkan,
menyampaikan kepada semua pihak pengguna laporan keuangan. Jika saham perusahaan
dijual kepada publik, maka auditor dapat meminta Bapepam-LK dan pihak pasar modal untuk
mengingatkan para pemegang saham mengenai hal tersebut.

Tanggung jawab auditor atas telaah kejadian setelah tanggal neraca berakhir pada tanggal
penyelesaian pekerjaan lapangan. Auditor tidak bertanggung jawab untuk mencari fakta-fakta,
tetapi jika mereka menemukan bahwa laporan keuangan tidak dinyatakan dengan wajar, maka
mereka harus melakukan tindakan koreksi.

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 14


Sumber :

Auditing dan Jasa Assurance Jilid 1 dan Jilid 2 karya Alvin A. Arens, Randal J. Elder,
dan Mark S

Modul Auditing 2 Universitas Widyatama Page 15