Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Dermatoterapi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengobatan

penyakit kulit. Penyakit kulit dapat diobati dengan bermacam-macam cara:

topikal, sistemik, atau intralesi. Bila cara-cara tersebut belum memadai, dapat

digunakan cara-cara lain, seperti radioterapi, sinar UV, pengobatan laser,

krioterapi, bedah listrik, atau bedah skalpel.


Yang menarik perhatian ialah kemajuan dalam bidang pengobatan topikal

yang berupa perubahan dari cara pengobatan nonspesifik dan empirik menjadi

pengobatan spesifik dengan dasar yang rasional.


Kegunaan dan khasiat pengobatan topikal didapat dari pengaruh fisik dan

kimiawi obat-obat yang diaplikasi di atas kulit yang sakit. Pengaruh fisik antara

lain ialah mengeringkan, membasahi (hidrasi), melembutkan, lubrikasi,

mendinginkan, memanaskan, dan melindungi (proteksi) dari pengaruh buruk dari

luar. Senua hal itu bermaksud untuk mengadakan homeostasis, yaitu

mengembalikan kulit yang sakit dan jaringan di sekitarnya ke keadaan fisiologik

stabil secepat-cepatnya. Selain itu juga untuk menghilangkan gejala-gejala yang

mengganggu, misalnya rasa gatal dan panas.


Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini telah dikembangkan preparat-

preparat topikal yang mempunyai khasiat kimiawi yang spesifik terhadap

organisme di kulit atau terhadap kulit itu sendiri. Secara ideal maka pemberian

obat topikal harus berkhasiat fisis maupun kimiawi. Kalau obat topikal digunakan

secara rasional, maka hasilnya akan optimal, sebaliknya bila digunakan secara

salah obat topikal menjadi tidak efektif dan dapat menyebabkan penyakit

iatrogenik.
Prinsip obat topikal secara umum terdiri atas 2 bagian, yaitu bahan dasar

(vehikulum) dan bahan aktif.


A. Bahan Dasar (Vehikulum)
Memilih bahan dasar (vehikulum) obat topikal merupakan langkah awal

dan terpenting yang harus diambil pada pengobatan penyakit kulit. Pada

umumnya sebagai pegangan ialah pada keadaan dermatosis yang membasah

dipakai bahan dasar yang cair/basah, misalnya kompres; dan pada keadaan kering

dipakai bahan dasar padat/kering, misalnya salep.


Secara sederhana bahan dasar dibagi menjadi cairan, bedak, dan salep. Di

samping itu ada 2 campuran atau lebih bahan dasar, yaitu:


- Bedak kocok (lotion), yaitu campuran cairan dan bedak
- Krim, yaitu campuran cairan dan salep.
- Pasta, yaitu campuran salep dan bedak
- Linimen (pasta pendingin), yaitu campuran cairan, bedak dan salep.

Bagan Vehikulum

1. Cairan
Cairan terdiri atas:
- solusio, artinya larutan dalam air
- tingtura, artinya larutan dalam alkohol
Solusio dibagi dalam:
a. kompres
b. rendam (bath), misalnya rendam kaki, rendam tangan
c. mandi (full bath)
Cara kompres lebih disukai daripada cara rendam dan mandi, karena pada

kompres terdapat pendinginan dengan adanya penguapan, sedangkan pada

rendam dan mandi terjadi proses maserasi.


Prinsip pengobatan cairan ialah:
1. membersihkan kulit yang sakit dari debris (pus, krusta, dsb.) dan sisa-sisa obat

topikal yang pernah dipakai.


2. untuk terjadinya perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, dan pustula.
Hasil akhir pengobatan ialah:
1. keadaan yang membasah menjadi kering
2. permukaan menjadi bersih sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh dan

mulai terjadi proses epitelisasi.


3. Pengobatan cairan berguna juga untuk menghilangkan gejala, misalnya rasa

gatal, rasa terbakar, parestesi oleh bermacam-macam dermatosis.


Harus diingat bahwa pengobatan dengan cairan dapat menyebabkan

kulit menjadi terlalu kering. Jadi pengobatan cairan harus dipantau secara

teliti, kalau keadaan sudah mulai kering pemakaiannya dikurangi dan bila

perlu dihentikan untuk diganti dengan bentuk pengobatan lainnya.


Pada kompres, bahan aktif yang dipakai biasanya bersifat astringen

dan antimikrobial. Astringen mengurangi eksudat akibat presipitasi protein.

Ada 2 macam cara kompres, yaitu kompres terbuka dan kompres tertutup.
a. Kompres terbuka
Dasarnya ialah terjadi penguapan cairan kompres disusul oleh absorbsi

eksudat atau pus.


Indikasi:
- dermatosis madidans
- infeksi kulit dengan ertema yang mencolok (mis: erisipelas)
- ulkus kotor yang mengandung pus dan krusta
Efek pada kulit:
- kulit yang semula eksudatif akan kering
- permukaan kulit menjadi dingin
- vasokonstriksi
- eritema berkurang
Cara:
Menggunakan kain kasa yang bersifat absorben dan non-iritasi serta tidak

terlalu tebal (3 lapis). Balutan jangan terlalu ketat, tidak perlu steril, jangan

menggunakan kapas karena lekat dan menghambat penguapan.


Kasa dicelup ke dalam cairan kompres, diperas, dibalutkan, lalu didiamkan

biasanya sehari dua kali selama 3 jam. Jangan sampai terjadi maserasi, bila

kering dibasahkan lagi. Daerah yang dikompres maksimal luasnya bagian

tubuh agar tidak terjadi pendinginan.


b. Kompres tertutup (kompres impermeabel)
Diharapkan terjadi vasodilatasi, bukan untuk penguapan. Diindikasikan untuk

kelainan yang dalam, misalnya limfogranuloma venerium. Caranya dengan

menggunakan pembalut tebal dan ditutup dengan bahan impermeabel,

misalnya selofan atau plastik.


2. Bedak
Bedak yang diaplikasikan di atas kulit membentuk lapisan tipis di kulit yang

tidak melekat erat sehingga penetrasinya sedikit sekali.


Efek bedak ialah:
- mendinginkan
- antiinflamasi ringan karena ada sedikit efek vasokonstriksi
- antipruritus lemah
- mengurangi pergeseran pada kulit yang berlipat (intertrigo)
- proteksi mekanis
Yang diharapkan dari bedak terutama ialah efek fisis. Biasanya bedak

dicampur dengan seng oksida sebab zat ini bersifat mengabsorbsi air dan

sebum, astringen, antiseptik lemah, dan antipruritus lemah.


Indikasi pemberian bedak:
- dermatosis yang kering dan superfisial
- mempertahankan vesikel/bula agar tidak pecah, misalnya pada varisella dan

herpes zoster.
Kontraindikasi untuk dermatitis yang basah, terutama bila disertai dengan

infeksi sekunder.
3. Salep
Salep ialah bahan berlemak atau seperti lemak, yang pada suhu kamar

berkonsistensi seperti mentega. Bahan dasar biasanya vaselin, tetapi dapat

pula lanolin atau minyak.


Indikasi pemberian salep ialah:
- dermatosis yang kering dan kronik
- dermatosis yang dalam dan kronik, karena daya penetrasi salep paling kuat

dibandingkan dengan bahan dasar lainnya.


- Dermatosis yang bersisik dan berkrusta.
Kontraindikasi untuk dermatitis madidans. Jika kelainan kulit terdapat pada

bagian badan yang berambut, penggunaan salep tidak dianjurkan dan salep

jangan dipakai di seluruh tubuh.


4. Bedak kocok (lotion)
Bedak kocok terdiri atas campuran air dan bedak, biasanya ditambah dengan

gliserin sebagai bahan perekat. Supaya bedak tidak terlalu kental dan tidak

cepat menjadi kering, maka jumlah zat padat maksimal 40% dan jumlah

gliserin 10-15%. Ini berarti bila beberapa zat aktif padat ditambahkan, maka

presentase tersebut jangan dilampaui.


Indikasi bedak kocok:
- dermatosis yang kering, superfisial, dan agak luas. Yang diinginkan ialah

sedikit penetrasi.
- Pada keadaan subakut.
Kontraindikasi:
- dermatitis madidans
- daerah badan yang berambut.

5. Krim
Krim ialah campuran W (water, air), O (oil, minyak), dan emulgator.
Krim ada 2 jenis:
a. Krim W/O: air dalam minyak
b. Krim O/W: minyak dalam air.
Selain ditambah emulgator, biasanya ditambah bahan pengawet (mis: paraben)

dan parfum. Berbagai bahan aktif dapat dimasukkan dalam krim.


Indikasi penggunaan krim:
- indikasi kosmetik
- dermatosis yang subakut dan luas, yang dikehendaki ialah penetrasi yang lebih

besar daripada bedak kocok.


- Krim boleh digunakan di daerah berambut
Kontraindikasi ialah dermatitis madidans.

6. Pasta
Pasta ialah campuran homogen bedak dan vaselin. Pasta bersifat protektif dan

mengeringkan.
Indikasi penggunaannya ialah dermatosis yang agak basah.
Kontraindikasi: dermatosis yang eksudatif dan daerah yang berambut. Untuk

daerah genital eksterna dan lipatan-lipatan badan pasta tidak dianjurkan karena

terlalu melekat.

7. Linimen (= pasta pendingin)


Linimen ialah campuran cairan, bedak, dan salep.
Indikasi: dermatosis yang subakut
Kontraindikasi: dermatosis madidans

Gel
Ada vehikulum lain yang tidak termasuk dalam bagan vehikulum di atas,

yaitu gel. Gel ialah sediaan hidrokoloid atau hidrofilik berupa suspensi yang

dibuat dari senyawa organik. Zat untuk membuat gel diantaranya ialah

karbomer, metilselulosa, dan tragakan. Bila zat-zat tersebut dicampur dengan

air dengan perbandingan tertentu akan terbentuk gel. Karbomer akan membuat

gel menjadi sangat jernih dan halus. Gel segera mencair jika berkontak dengan

kulit dan membentuk satu lapisan. Absorpsi perkutan lebih baik daripada krim.
BAB II
HORMON KORTIKOSTEROID
Hormon kortikosteroid adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar

adrenal. Kedua kelenjar adrenal, yang masing-masing mempunyai berat kira-kira

4 gram, terletak di kutub superior dari kedua ginjal. Tiap kelenjar terdiri atas 2

bagian yang berbeda, yaitu medula adrenal dan korteks adrenal. Medula adrenal

secara fungsional berkaitan dengan sistem saraf simpatis yang mensekresikan

hormon epinefrin dan norepinefrin. Korteks adrenal mensekresikan kelompok

hormon kortikosteroid. Korteks adrenal sendiri dibagi dalam 3 zona yang

mensintesis berbagai steroid. Bagian luar yaitu zona glomerulosa menghasilkan

mineralokortikoid, yaitu aldosteron yang mempengaruhi keseimbangan elektrolit

(mineral) cairan ekstraseluler, terutama natrium dan kalium. Bagian tengah, zona

fasikulata dan lapisan terdalam zona retikularis mensintesis glukokortikoid seperti

kortisol/hidrokortisol dan androgen adrenal. Berikut ini adalah skema sintesis

kortikosteroid.

Kortikosteroid alami yang paling banyak dihasilkan oleh tubuh adalah kortisol.

Kortisol disintesis dari kolesterol oleh korteks adrenal.


Sekresi kortikosteroid diregulasi oleh hormon hipotalamus yaitu CRH

(Corticotropin Releasing Hormone). CRH kemudian akan memberi sinyal kepada

hipofisis anterior untuk mengeluarkan ACTH. ACTH ini akan merangsang sel

fasikulata pada korteks adrenal untuk mengeluarkan kortisol. Sekresi hormone ini

mencapai kadar puncak pada jam 8 pagi hari yaitu sekitar 16g/100ml. sedangkan

kadar terendah kortisol adalah pada jam 4 sore hari yaitu sekitar 4g/100ml. Dan

kadar sekresi kortisol rata-rata pada keadaan optimal adalah sekitar 10mg/hari.

Fungsi hormon kortikosteroid adalah menjaga fungsi hemostasis tubuh

dengan mengatur aktifitas enzim dalam tubuh. Kortikosteroid dibedakan menjadi

dua golongan besar yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid.


Efek utama mineralokortikoid adalah mempengaruhi keseimbangan

elektrolit (mineral) cairan ekstraseluler, terutama natrium dan kalium. Tanpa

mineralokortikoid, maka besar konsentrasi ion kalium dalam cairan ekstraseluler

meningkat secara bermakna, konsentrasi natrium dan klorida akan berkurang dan
volume total cairan ekstrasesluler dan volume darah juga akan sangat berkurang.

Pasien akan mengalami penurunan curah jantung yang dapat berakibat kematian.
Sedangkan efek glukokortikoid antara lain:

Meningkatkan protein breakdown terutama yang tersimpan di otot.


Meningkatkan gluconeogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari substansi

non-karbohidrat seperti laktat, piruvat,gliserol, dan asam amino, oleh

karena itu dapat meningkatkan kadar glukosa darah.


Meningkatkan lipolisis dengan cara memecahkan triglyserida dan

melepaskan asam lemak ke aliran darah.


Efek anti-inflamasi dengan cara menekan sistem imun, mengurangi

migrasi lekosit ke daerah radang, mengurangi permeabilitas kapiler,

menekan produksi enzim proteolitik.


BAB III
KORTIKOSTEROID TOPIKAL
Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan

masa kerjanya, yaitu kerja singkat, sedang dan lama. Sediaan kerja singkat

mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam. Sediaan kerja sedang

mempunyai masa paruh biologis 12-36 jam. Sediaan kerja lama mempunyai masa

paruh biologis lebih dari 36 jam. Kortikosteroid dapat diberikan secara oral,

parenteral (IV, IM, intrasinovial, dan intralesi), topikal pada kulit dan mata (dalam

bentuk salep, krim, losio), serta aerosol melalui jalan napas.


Penggunaan kortikosteroid topikal pertama kali diperkenalkan oleh

Sulzberger dan Witten pada tahun 1952 dengan menggunakan hidrokortison.

Sejak itu, kortikosteroid topikal adalah obat yang paling umum diberikan dalam

obat dermatologik. Terapi topikal adalah metode yang paling tepat tetapi

efikasinya tergantung dari pemahaman terhadap fungsi barier kulit yang dimulai

dari stratum korneum. Kulit memiliki banyak fungsi penting di antaranya adalah

proteksi, termoregulasi, respon imun, sintesis biokimia, deteksi sensori, dan

komunikasi sosial dan seksual.

3.1 Prinsip Dermatoterapi dengan Kortikosteroid Topikal

Potensi klinis dari kortikosteroid topikal tidak hanya tergantung pada

struktur molekulnya tetapi juga pada jenis vehikulum yang digunakan dan sifat

kulit. Vehikulum mempengaruhi jumlah steroid yang dilepaskan dalam periode

tertentu. Vehikulum yang oklusif seperti salep meningkatkan efek glukokortikoid

karena vehikulum tersebut meningkatkan permeabilitas dan hidrasi stratum

korneum. Kelarutan glukokortikoid dalam vehikulum juga mempengaruhi

penetrasi ke dalam epidermis. Propilen glikol adalah suatu zat yang biasa
digunakan dalam melarutkan glukokortikoid di dalam vehikulum dan ditemukan

banyak di dalam preparat glukokortikoid topikal. Pada umumnya senyawa yang

mengandung konsentrasi propilen glikol yang lebih tinggi akan lebih poten.

Perlakuan pada kulit sebelum pemakaian steroid topikal juga dapat mempengaruhi

absorbsinya dalam kulit. Misalnya, penggunaan keratolitik atau pelarut lipid

seperti aseton memungkinkan peningkatan penetrasi dengan menggunakan sawar

epidermis.

3.2 Klasifikasi
Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan

masa kerjanya, yaitu kerja singkat, sedang dan lama. Sediaan kerja singkat

mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam. Sediaan kerja sedang

mempunyai masa paruh biologis 12-36 jam. Sediaan kerja lama mempunyai masa

paruh biologis lebih dari 36 jam.

Durasi T Potensi Potensi Dosis


(menit) glukokortikoid mineralokortikoid Ekivalen
(mg)
Short Acting
Kortisol 8-12 30-90 0,8 2 25
Hidrokortison 8-12 60-120 1 2 20
Intermediate
Acting
Prednison 24-36 60 4 1 5
Prednisolon 24-36 115-212 4 1 5
Metilprednisolon 24-36 180 5 0 4
Triamsinolon 24-36 78-188 5 0 4

Long acting
Deksametason 36-54 100-300 20-30 0 0,75
Betametason 36-54 100-300 20-30 0 0,6-0,75

Selain itu, kortikosteroid juga dapat diklasifikasikan berdasarkan potensi

dan sediaannya, antara lain:

Potensi Obat Sediaan


1/+ Hidrokortison Krim 0.25-2.5 %
m-prednisolon Krim 0.25 dan 1.0 %
Deksametason Krim 0.1 %

2/++ Aklometason dipropionat Krim 0.05 %


Betametason valerat Krim 0.01 %
Triamsinolon asetonid Krim 0.025 %

3/+++ Hidrokortison butirat Krim 0.1 %


Flutikason propionat Krim 0.05 %
Desoksimetason Krim 0.05 %
Flusinolon asetonid Krim 0.25 %
Hidrokortison valerat Krim 0.2 %
Mometason fluroat Krim 0.1 %
Flusinolon asetonid Salep 0.02 %

4/++++ Betamethason dipropionat Krim 0.05 %


Flutikason propionat Krim 0.005 %
Flusinolon asetonid Salep 0.2 %

5/+++++ Desoksimetason Krim 0.05 %


Mometason fluroat Salep 0.1 %
Klobetasol propionat Krim 0.05 %
Diflorasone diacetat Krim 0.05 %

6 /++++++ Klobetasol propionat Salep 0,05%

3.3 Indikasi

Kortikosteroid dengan potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihan

untuk suatu penyakit kulit. Dan ahrus selalu diingat bahwa kortikosteroid topical

bersifat paliatif dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan merupakan

pengobatan kausal.
Yang perlu diperhatikan dalam memberi kortikosteroid topikal untuk

mengobati kelainan kulit adalah respons penyakit pada steroid, yakni sebagai

berikut:

Respon tinggi Respon sedang Respon lemah

Psoroasis intertriginous Psoriasis tubuh Palmoplantar psoriasis


Dermatitis atopik Dermatitis atopik Psoriasis pada kuku
(anak anak) (dewasa)
Dermatitis seborhoik Dermatitis numular Eksema dishidrotik
intertrigo
Dermatitis iritan primer Lupus eritematosus
Urtikaria papular Pempigus
Parapsoriasis Likhen planus
Likhen simpleks kronikus Granuloma anular
Sarkoidosis
Dermatitis kontak alergik,
fase akut
Gigitan serangga

3.4 Kontraindikasi

Beberapa penyakit dalam pengobatannya tidak diperbolehkan untuk

memakai kortikosteroid, seperti :


1. Penderita yang hipersensitif terhadap kortikosteroid
2. Tuberkulosis pada kulit
3. Herpes simplek
4. Varicela
5. Kelainan kulit yang disebabkan oleh jamur

3.5 Farmakokinetik

Potensi klinis hidrokortison dipengaruhi beberapa faktor diantaranya yaitu

bentuk molekul, bentuk vehikulum, dan karakteristik kulit masing masing

individu. Vehikulum glukokortikoid topikal dapat berupa salep, krim, lotio, gel.

Salep memiliki daya penetrasi terkuat dibandingkan bentuk lainnya. Berikut

beberapa bentuk vehikulum glukokortikoid topikal :


1. Salep: adalah bahan berlemak, yang pada suhu kamar berkonsistensi

seperti mentega. Bahan dasar biasanya vaselin, tetapi dapat pula lanolin

atau minyak. Sangat bagus untuk mengobati lesi kering. Memberi efek

menjaga kelembaban meskipun pasien banyak mengeluh terlalu licin.


2. Krim: adalah campuran air, minyak dan emulgator. Krim mengandung

pengemulsi dan pengawet yang dapat menimbulkan alergi pada beberapa

pasien. Tekstur krim tidak selicin salep; tidak melembabkan kulit sebaik
salep, dapat digunakan pada kulit berambut, dan secara kosmetik lebih

nyaman digunakan.
3. Lotio: adalah campuran antara cairan dengan bedak, menyerupai krim.

Lebih mudah tersebar di kulit tubuh namun efek penetrasinya rendah.


4. Gel: vehikulum yang berbentuk setengah padat pada suhu kamar dan akan

mencair pada suhu tubuh (bila bersentuhan dengan kulit).


Pemilihan vehikulum tergantung pada :
1. Stadium/gambaran klinis penyakit
Pada stadium akut (eritem, oedem, basah) kompres dengan vehikulum

cairan, beri krim, bedak kocok, bedak pasta.


Pada stadium kronik (kering) beri salep
2. Distribusi dan lokalisasi penyakit
Salep tidak boleh digunakan untuk lesi generalisata (kecuali salep 2-4

untuk skabies) dan kulit berambut.


3. Efek yang diinginkan
Misalnya salep untuk melembabkan dan melicinkan. Kulit yang tipis

seperti daerah muka dan lipatan akan lebih mudah menyerap

glukokortikoid dibandingkan kulit yang tebal dan kering.


Pemberian glukokortikoid secara lokal dapat diserap secara sistemik jika

diberikan dalam waktu lama dan pada area kulit yang luas sehingga dapat

menimbulkan feed back negatif terhadap sumbu hipothalamus-hipofise-adrenal.


Terdapat variasi pada lokasi regional tubuh dalam kemampuan absorbsi

melalui kulit untuk setiap obat yang dioleskan. Variasi ini ditentukan oleh

sejumlah faktor seperti ketebalan stratum korneum, kepadatan folikel rambut, dan

kualitas vaskularisasi daerah tersebut pada masing-masing regio tubuh.


Absorbsi kortikosteroid topikal oleh kulit adalah sebagai berikut :
1. Lengan 1%
2. Ketiak 4%
3. Muka 7%
4. Genitalia dan kelopak mata 30%
5. Telapak tangan 0.1%
6. Telapak kaki 0.05%
Cara aplikasi:
Pada umumnya dianjurkan pemakaian salep 2-3x/ hari sampai penyakit

tersebut sembuh. Gejala takifilaksis perlu dipertimbangkan yaitu menurunnya


respon kulit terhadap glukokortikoid karena pemberian obat yang berulang-ulang,

berupa toleransi akut yang berarti efek vasokonstriksinya akan menghilang,

setelah beberapa hari efek vasokonstriksinya akan timbul kembali dan akan

menghilang lagi bila pengolesan obat tetap dilanjutkan.


Lama pemakaian:
Lama pemakaian steroid topikal sebaiknya tidak lebih dari 4- 6 minggu

untuk steroid potensi lemah dan tidak lebih dari 2 minggu untuk potensi kuat.

3.6 Farmakodinamik

Berikut adalah beberapa efek kortikosteroid topikal :


1. Vasokonstriksi
Kemampuan kortikosteroid topikal yang dapat mengakibatkan

vasokonstriksi pada kapiler-kapiler kecil pada dermis superfisial dapat

mengurangi kemerahan yang terdapat pada dermatosis. Kemampuan agen

glukokortikoid untuk menyebabkan vasokonstriksi biasanya berhubungan

dengan efek antiinflamasinya.


2. Anti proliferatif
Proliferasi sel terdapat pada membrana basalis epidermis kulit.

Kortikosteroid topikal dapat mengurangi mitosis dan proliferasi sel

melalui penghambatan sintesis dan mitosis DNA. Penyakit yang

mempunyai karakteristik proliferasi yang berlebihan seperti pada psoriasis

dapat menggunakan efek dari kortikosteroid ini. Pada penggunaan

kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dan penggunaan secara

intralesi dapat mengakibatkan hipopigmentasi.


3. Efek antiinflamasi
Efek antiinflamasi glukokortikoid didapat dengan menghambat

pembentukan prostaglandin dan derivat lain dari asam arakidonat.

Glukokortikoid menghambat pelepasan fosfolipase A2, enzim yang

berperan dalam melepaskan asam arakidonat dari membran sel, sehingga


menghambat jalur pembentukan arakidonat. Mekanisme lain dari efek

antiinflamasi glukokortikoid melibatkan penghambatan fagositosis dan

stabilisasi dari membran lisosom dari sel-sel fagosit.


4. Immunosupresi
Efek imunosupresi glukokortikoid belum dipahami, namun beberapa

penelitian menunjukkan glukokortikoid menyebabkan penurunan jumlah

sel mast di kulit dan inhibisi kemotaksis neutrofil lokal. Beberapa sitokoin

(IL-1, TNF , Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor, IL-8)

juga dipengaruhi secara langsung oleh glukokortikoid.

3.7 Efek samping

Efek samping terjadi apabila:

1. Penggunaan kortikosteroid yang lama dan berlebihan.


2. Penggunaan kortikosteroid dengan potensi kuat atau sangat kuat atau

penggunaan secara oklusif.

Efek samping yang biasa terjadi dibagi menjadi:

A. Efek samping pada bagian dalam tubuh :

1. Supresi kelenjar adrenal, steroid topikal dapat menekan produksi dari

steroid alami tubuh.


2. Retardasi pertumbuhan dan Iatrogenic Cushings syndrome: terjadi akibat

supresi aksis pituitary adrenal akibat steroid topikal terabsorbsi dalam

jumlah yang banyak, menyebabkan retensi cairan, kenaikan tekanan darah

dan diabetes

B. Efek samping pada kulit :

1. Striae dan atrofi kulit : biasanya terjadi karena penggunaan yang lama (3-4

minggu). Biasa terjadi pada area yang berkeringat, oklusi dan penetrasi

tinggi seperti aksila atau inguinal dan bersifat reversible.


2. Akne steroid, karakteristik dengan lesi padat crops of dense, pustule akibat

inflamasi akan timbul pada stadium yang sama. Biasanya lesi terjadi pada

daerah muka, dada dan punggung.


3. Dermatitis perioral dan periokular, biasanya akan membaik dengan

menghentikan pemakaian.
4. Kulit gampang memerah, terjadi pada penggunaan steroid pada kulit yang

tipis.
5. Dermatitis kontak alergi atau iritan.
6. Infeksi mudah terjadi dan meluas
7. Teleangiektasis.
8. Hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
9. Hipertrikosis.

Telangiectasis Skin thinning


Striae