Anda di halaman 1dari 11

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Definisi

Pengetahuan dasar tentang penyakit ini diletakkan oleh VON


HEBRA, bapak dermatologi modern. Penyebabnya ditemukan oleh BENOMO
pada tahun 1687, kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada
sukarelawan selama perang dunia II.
Pengertian dari skabies itu sendiri adalah penyakit kulit yang disebabkan
1
oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabei var, hominis dan produknya.
Penyakit ini sangat mudah sekali menular dan sangat gatal terutama pada malam
hari. Faktor yang mempengaruhi ialah hygiene yang kurang baik.

3.2 Sinonim

The itch, gudik, budukan, gatal agogo.

3.3 Etiopatogenesis

Sarcoptes scabei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo


Ackarima, super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabei var.
hominis. Selain itu terdapat Sarcoptes scabei yang lain, misalnya pada kambing dan
babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya
cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor dan
tidak bermata. Ukurannya, yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350
mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200
mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki didepan sebagai
alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir pada rambut,
sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan
keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan)
yang terjadi diatas kulit, yang jantan akan mati, kadang- kadang masih dapat
hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina
yang sudah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan
kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir
sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yanag dibuahi ini dapat
hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan
mempunyai larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam
terowongan, tetapi dapat juga keluar.Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang
mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus
hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12
hari.
5
Gambar 1. Sarcoptes Scabiei var. hominis.

Setelah sekitar 1 minggu, telur menetas, dan anak Sarcoptes akan tumbuh
menjadi dewasa. Sarcoptes dewasa ini akan keluar dari lorong-lorong untuk mencari
pasangannya (hal ini biasanya terjadi pada malam hari). Oleh karena itu penderita
scabies akan merasakan gatal-gatal pada malam hari.
Siklus tersebut akan terulang lagi. Lorong-lorong yang lama akan
menyembuh, sedangkan ditempat yang lain akan terbentuk lorong-lorong baru.
Bekas lorong-lorong tersebut akan meninggalkan kelainan gambaran sebagai
berikut:
1. Hiperpigmentasi

2. Tidak berskuama
5
Gambar 2. Kelainan kulit pada scabies.

Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabies, tetapi juga
pada penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabakan oleh
sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira
sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Dengan gaukan dapat timbul
erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.

Gambar 3. Tampak kelainan yang ditimblukan oleh skabies pada daerah axilla
5
(sekitar ketiak), glutea (sekitar bokong), dan pada genetalia (penis dan scrotum).
3.4 Gambaran klinis

Terdapat 4 tanda kardinal dari skabies, dimana diagnosis dapat


ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal tersebut atau menemukan
tanda kardinal ke - 4:
1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan
karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan
panas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu
pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar
tetangga yang berdekatan akan diserang tungau tersebut. Dikenal keadaan
hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena. Walaupun
mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini
bersifat sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan. Berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-
rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu didapatkan papul atau vesikel.
Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustula,
ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat
dengan stratum korneum yang tipis, yaitu: sela-sela jari tangan,
pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian
depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genetalia eksterna
(pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan
dan telapak kaki.
4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Efflorosensinya berupa papula atau vesikel dimana puncaknya terdapat
gambaan yang sebenarnya merupakan lorong-lorong rumah sarcoptes yang biasanya
disebut dengan istilah burrows atau kunikulus. Kunikulus ini pada pemeriksaan fisik
kadang tidak terlihat (tidak ditemukan) karena sudah hilang akibat garukan
kronis. Jika terjadi infeksi sekunder, kunikilus ini dapat menjadi pustula.
Apabila skabies mengenai glans penis seperti gambar diatas, maka akan
terbentuk papula-papula eritematus yang jelas. Papula ini mirip dengan papula pada
sifilis, hanya bedanya bahwa papula pada skabies tersebut terasa gatal sekali.
Jika skabies ini terjadi pada skrotum seperti gambar diatas pula, maka gambarannya
akan semakin jelas lagi. Hal ini dikarenakan stratum korneum scrotum lebik tipis.
Sehingga papula akan semakin jelas terlihat. Didaerah lain, stratum korneumnya
biasanya lebih tebal, sehingga papulanya akan lebih tidak terlihat.
Penularan skabies dapat terjadi secara :

1. Kontak langsung dengan penderitanya


2. Secara tidak langsung, misalnya melalui pakaian, alat-alat tidur, dan lain-
lain.
3. Sarcoptes Scabei sendiri senang berpindah-pindah tempat.

Sebagai catatan sewaktu terjadi penularan tersebut, orang yang ditulari tidak
merasa gatal-gatal. Apabila seseorang pernah terkena skabies, maka pada penularan
yang kedua telah terjadi sensitisasi gejalanya akan berubah menjadi:
1. Nodul
2. Besar
3. Teraba keras
4. Khas pada daerah longgar atau lunak. Gejala ini sering dikelirukan dengan
4
urtika.

Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit
dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut
6
antara lain :
1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai
dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga
sangat sukar ditemukan.
2. Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan
kortikosteroid sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau
tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga
menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan
mirip penyakit lain.
3. Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang
gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia
laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi
hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih
dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap
selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan
anti scabies dan kortikosteroid.
4. Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai
seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki,
dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga
terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi juga dapat ditemukan di
daerah wajah.
5. Skabies pada orang tua. Pada kelompok usia lanjut, diagnosis skabies
mungkin terlewatkan karena sedikitnya perubahan yang terjadi pada kulit
mereka. Gatal yang dirasakan mungkin akan diarahkan penyebabnya ke
senile pruritus, xerosis, obat, dan penyebab psikis lainnya.
6. Skabies Norwegia. Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh
lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang
tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga
bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi
kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies
Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah
tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia
terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal
membatasi proliferasi tungau dapat berkembang biak dengan mudah
7. Skabies pada penderita HIV/AIDS. Bentuk yang sering dijumpai
adalah skabies berkusta dan skabies papular atipikal. Karena manifestasi
klinisnya yang atipikal tersebut maka sering sekali mengalami keterlambatan
dalam diagnosis dan meningkatkan resiko penyebaran ke sekitarnya.
8. Skabies di daerah kulit kepala. Hal ini sangat jarang terjadi pada orang
dewasa, namun jika seandainya terjadi maka akan menyertai atau
memicu terjadinya dermatitis seborrhoik. Skabies di kulit kepala dapat
terjadi pada bayi dan anak anak, orang tua, penderita AIDS, dan pasien
dengan dermatomiositis.
9. Skabies bullosa. Gambaran vesikula sering ditemui pada pasien skabies
anak- anak, namun sangat jarang ditemukan pada orang dewasa. Jika
terjadi pada orang dewasa, maka gambarannya sulit dibedakan dengan
pemphigoid bullosa.

3.5 Pembantu Diagnosis

Dengan adanya keluhan gatal terutama pada malam hari, kelainan kulit pada
tempat predileksi, dan adanya penyakit serupa pada angota keluarga yang serumah,
sudah dapat diduga bahwa penyakit tersebut adalah skabies. Terlebih- lebih jika
ditemukannya terowongan.
Cara menemukan tungau :

1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul


atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan diatas sebuah kaca
obyek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop
cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas
putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsy irisan. Caranya: lesi dijepit dengan 2 jari
kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop
cahaya.
4. Dengan biopsy eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.

3.6 Diagnosis banding

Adanya pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the


great imitator karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal.
Sebagai diagnosis banding ialah : prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis, dan lain-
lain.
3.7 Penatalaksanaan

Syarat obat yang ideal adalah :

1. Harus efektif terhadap semua stadium tungau.


2. Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik.
3. Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian.
4. Mudah diperoleh dan harganya murah.

Cara pengobatannya ialah seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk


penderita yang hiposensitisasi).
Jenis obat topikal yang dapat diberikan kepada pasien adalah :

1. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk


salep atau krim. Preparat ini karena tidak efektif terhadap stadium telur,
maka penggunaanya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangannya yang
lain ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan
iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
2. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium,
diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering
memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
3. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1%
dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua
stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak
dianjurkan pada anak dibawah enam tahun dan wanita hamil, karena
toksis terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali
jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian.
4. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal ; harus dijauhkan dari
mata, mulut, dan uretra.
5. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim, kurang toksik jika
dibandingkan gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan
dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi selama seminggu. Tidak
dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 bulan.

Bila disertai infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika. Untuk rasa gatal
dapat diberikan antihistamin per oral. Perlu diperhatikan jika diantara anggota
keluarga ada yang menderita skabies juga harus diobati.

Karena sifatnya yang sangat mudah menular, maka apabila ada salah satu
anggota keluarga terkena skabies, sebaiknya seluruh anggota keluarga tersebut juga
harus menerima pengobatan. Pakaian, alat-alat tidur, dan lain-lain hendaknya dicuci
dengan air panas.

3.8 Komplikasi
Erupsi dapat berbentuk limfangitis, impetigo, ektima, selulitis, folikulitis,
dan furunkel jika skabies dibiarkan tidak diobati selama beberapa minggu
sampai beberapa bulan. Pada anak-anak sering terjadi glomerulonefritis. Pemakaian
antiskabies misalnya gamma benzene heksaklorida yang berlebihan dan terlalu
sering dapat menimbulkan dermatitis iritan. Akan terjadi iritasi dalam penggunaan
benzyl benzoate sehari 2 kali terutama pada pemakaian di genitalia pria. Dapat
timbul infeksi sekunder sistemik yang memperberat perjalanan penyakit seperti
6
pielonefritis, abses, internal, pneumonia piogenik, dan septikemia.
3.9 Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat
pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain hygiene yang buruk),
maka penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik.