Anda di halaman 1dari 4

KANTOR ADVOKAT

FADILLA MARISKA PUTRI, S.H.,M.H dan PARTNERS


SK. MENTERI KEHAKIMAN & HAK ASASI MANUSIA RI NO : D.209.KP.05.12-TH. 2005
JL. PAHLAWAN NO.25, SURAKARTA ( 50146 ) TELP./FAX. ( 0271 ) 7850021

Surakarta, 4 Maret 2010


Hal : Memori Banding
Kepada :
Yth. Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah
Melalui
Yth. Panitera Pengadilan Negeri Surakarta
di Surakarta

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini, Fadilla Mariska Putri, S.H.,M.H, pekerjaan Advokat,
berkantor di Kantor Advokat Fadilla Mariska Putri, S.H.,M.H & Partners yang berkedudukan
di Jalan Pahlawan Nomor 25 Surakarta. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 28
Februari 2010, bertindak untuk dan atas nama klien kami Noorman, bertempat tinggal di Jalan
Garuda Nomor 10 Solo, dalam hal ini memilih tempat kediaman hukum (domicilie) di Kantor
Kuasanya tersebut di atas, hendak menandatangani dan mengajukan Memori Banding ini,
selanjutnya disebut Pemohon Banding; melawan PT. Mobilindo, beralamat di Jalan Slamet
Riyadi Nomor 2 Solo, selanjutnya disebut Termohon Banding;
Dengan ini Pemohon Banding hendak mengajukan Memori Banding sebagai keberatan
atas :
Putusan Pengadilan Negeri Surakarta, Nomor 32/Pdt.G/2009/PN/Slo., tertanggal 20
Februari 2010 yang amarnya berbunyi :
1. Menolak eksepsi Tergugat
2. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya
3. Menyatakan Tergugat telah melakukan wanprestasi
4. Menghukum Tergugat untuk membayar kekurangan pembayaran mobil sebesar Rp
85.000.000,- ( delapanpuluh limajuta rupiah )
5. Menolak gugatan Penggugat Rekonpensi untuk seluruhnya

Adapun alasan-alasan permohonan Banding tersebut adalah sebagai berikut :


1. Bahwa Majelis Hakim pada Pengadilan Tingkat Pertama telah keliru menolak
Eksepsi Tergugat dalam mempertimbangkan kewenangan Pengadilan Negeri mana
yang berwenang dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut.
Terhadap pertimbangan putusan mengenai eksepsi tersebut, maka Pembanding
menolak dan menyangkal putusan Pengadilan Negeri Surakarta, karena Pengadilan
Negeri Surakarta telah keliru dalam mempertimbangan hukumnya. Dalam hal ini Majelis
Hakim menggunakan atau mengacu pada pasal 118 HIR ayat ( 1 ) yang menyatakan
bahwa :
Gugatan perdata atau tuntutan hak yang pada tingkat pertama masuk kekuasaan
pengadilan negeri, harus dimasukkan dengan surat permintaan yang
ditandatangani oleh penggugat atau oleh wakilnya menurut Pasal 123 kepada
ketua pengadilan negeri di daerah hukum siapa tergugat bertempat diam atau jika
tidak diketahui tempat diamnya, ke tempat tinggal sebetulnya.
Dari Pasal 118 HIR ayat (1) dijelaskan bahwa gugatan dapat diajukan ke Pengadilan
Negeri di wilayah hukum Tergugat bertempat tinggal (Actor Sequitur Forum Rei). Namun
disamping itu, menurut Pasal 118 HIR ayat (4) yang menyatakan bahwa :
Bila dengan surat sah dipilih dan ditentukan suatu tempat berkedudukan, maka
penggugat dapat memasukan surat gugatan itu kepada ketua pengadilan negeri
dalam daerah hukum yang dipilih itu.
Dari pasal 118 HIR ayat (4) dijelaskan bahwa apabila ada sebuah tempat kedudukan
atau Pengadilan Negeri yang ditunjuk khusus dalam sebuah akta atau tercantum dalam
sebuah perjanjian, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Negeri tempat kedudukan
atau Pengadilan Negeri yang tercantum dalam akta atau perjanjian tersebut. Persetujuan
para pihak mengenai pilihan domisili, pada prinsipnya tunduk pada prinsip kebebasan
berkontrak sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1338 KUHPerdata dan syarat sahnya
Perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Oleh karena itu, apabila dilihat dari jual beli
yang telah berlangsung antara Penggugat dan Tergugat yang dituangkan dalam Akta
Perjanjian Nomor 23 tanggal 2 Agustus 2008, yang mana kedua belah pihak telah sepakat
memilih domisili hukum tetap di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Semarang maka
seharusnya gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri Semarang.
Bahwa atas hal tersebut Pemohon Banding tidak sependapat dan keberatan atas
pertimbangan hukum Majelis Hakim Tingkat Pertama sebagaimana diuraikan diatas.
Dengan adanya domisili hukum yang dipilih yang mana seharusnya gugatan diajukan ke
Pengadilan Negeri Semarang, dengan demikian eksepsi Tergugat beralasan dan tidak
patut ditolak.
2. Bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama telah keliru mempertimbangkan
pemeriksaan pokok perkara yang mengabulkan gugatan Penggugat (Termohon
Banding) seluruhnya.
Bahwa mengenai pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri pada tingkat
pertama yang menyatakan bahwa Tergugat tidak pernah melakukan kewajibannya
mengangsur, sehingga terbukti telah ingkar janji ( wanprestasi ) dan patut dihukum
membayar kekurangan pembelian mobil Penggugat sebesar Rp 85.000.000,-
( delapanpuluh limajuta rupiah ). Dalam hal ini, Pembanding menolak, menyangkal dan
tidak sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri pada tingkat
pertama tersebut di atas.
Dilihat dari fakta yang terjadi, baik Penggugat dan Tergugat sama-sama melakukan
Wanprestasi. Dimana 3 ( tiga ) minggu setelah perjanjian yang berlangsung antara
Penggugat dan Tergugat, mobil Tergugat mengalami kecelakaan dengan bus di
Yogyakarta. Akibat dari kecelakaan itu mobil rusak berat. Sehingga Penggugat menarik
mobil itu dan berjanji akan mengganti dengan mobil baru. Namun sampai setahun
kemudian, Penggugat tidak segera memenuhi janjinya sehingga tindakan Penggugat juga
terbukti telah ingkar janji ( wanprestasi ).
Oleh karena itu, Majelis Hakim pada tingkat pertama telah keliru menilai Tergugat
telah ingkar janji ( Wanprestasi ), dikarenakan kedua belah pihak telah sama-sama lalai
dan tidak memenuhi prestasi, sehingga salah satu pihak tidak bisa dikatakan ingkar janji
( wanprestasi). Hal tersebut sesuai dengan Asas Exceptio non adimpleti contractus yang
mana apabila Penggugat dalam keadaan lalai juga, maka dengan demikian tidak dapat
menuntut pemenuhan prestasi. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dengan
segala kerendahan hati Pembanding menolak sebagian besar isi putusan Perkara Perdata
Nomor 32/Pdt.G/2009/PN.Slo tersebut.

3. Bahwa Majelis Hakim pada Pengadilan Tingkat Pertama telah keliru dalam
menentukan batas dewasanya seseorang dalam perjanjian jual beli.
Bahwa mengenai pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri pada tingkat
pertama yang merujuk pada pasal 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan untuk menyatakan seseorang sudah dapat dikatakan dewasa jika sudah
berumur 18 tahun, telah jelas keliru. Karena perkara ini merupakan perkara perikatan jual
beli yang diatur dalam Buku Ketiga Kitab Undang-undang Hukum Perdata ( Burgerlijk
Wetboek ) dan tidak ada hubungannya dengan perkara perkawinan.
Berdasarkan Buku Ketiga Kitab Undang-undang Hukum Perdata, seseorang sudah
dapat dikatakan dewasa jika sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Pada waktu
mengadakan perjanjian Tergugat masih berusia 17 tahun sehingga belum dewasa, maka
perjanjian itu tidak sah dan batal demi hukum. Dalam hal ini, Majelis Hakim pada
Pengadilan Tingkat Pertama telah keliru dalam menentukan batas
dewasanya seseorang dalam perjanjian jual beli.

Bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, maka Pemohon Banding memohon


kepada Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, berkenan memeriksa dan mejatuhkan
putusan sebagai berikut :

1. Menerima permohonan Banding


2. Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Surakarta Nomor
32/Pdt.G/2009/PN.Ska, tertanggal 20 Februari 2010

Hormat saya,

Kuasa Hukum Pemohon Banding,

Fadilla Mariska Putri, S.H.,M.H