Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Di berbagai belahan dunia, laporan kasus skabies masih sering ditemukan


pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status ekonomi rendah, tingkat
pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau
cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari,
secara tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat
terutama tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan
dilakukannya disiang hari juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung
lama, maka efisiensi dan efektifitas kerja menjadi menurun yang akhirnya
mengakibatkan menurunnya kualitas hidup masyarakat.

Skabies merupakan penyakit kulit yang sangat mudah menular baik secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya ibu yang
menggendong anaknya yang menderita scabies atau penderita yang bergandengan
tangan dengan teman- temannya. Secara tidak langsung misalnya melalui tempat
tidur, handuk, pakaian dan lain-lain.

Predileksi dari skabies ialah biasanya pada daerah tubuh yang memiliki
lapisan stratum korneum yang tipis, seperti misalnya: axilla, areola mammae,
sekitar umbilikus, genital, bokong, pergelangan tangan bagian volair, sela-sela
jari tangan, siku flexor, telapak tangan dan telapak kaki.

Karena sifatnya yang sangat menular, maka skabies ini populer dikalangan
masyarakat padat. Banyak faktor yang menunjang perkembangan dari penyakit
ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan
seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan
dermografik serta ekologik.1 Penyakit ini juga dapat digolongkan ke dalam
penyakit akibat hubungan seksual (PHS).