Anda di halaman 1dari 33

REFLEKSI KASUS BEDAH

HIDROKEL

DOSEN PEMBIMBING

dr. Pudji Sri Rasmiati, MPH, Sp.B, FINACS

Disusun oleh :

Alfeus Grady Christnawan 42160027

Kepaniteraan Klinik Bagian Bedah


Rumah Sakit Bethesda
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta
2017
STATUS PASIEN BEDAH
IDENTITAS PASIEN

Nama : Bp. S

Nomor RM : 01149925

Tanggal Lahir : 28-09-1947

Usia : 69 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Jogonegaran GT 1/1006 Yogyakarta

Bangsal : Rabu, 23 Februari 2017 pukul 15.00 WIB

ANAMNESA

Keluhan utama

Benjolan pada skrotum kiri yang semakin membesar.

Riwayat Penyakit Sekarang

Sekitar 1 bulan yang lalu, pasien merasakan adanya benjolan yang

terasa pada skrotum kiri. Sebelumnya benjolan ini teraba kecil namun

semakin membesar tanpa disertai dengan nyeri. Ukuran benjolan

dirasakan tidak mengecil dengan perubahan posisi tubuh ataupun saat

mengejan. Pasien tidak mengeluhkan adanya demam maupun mual

dan muntah serta tidak ada keluhan saat BAK. Pasien juga mengatakan

bahwa tidak ada benjolan di tempat lainnya. Pada kunjungan pasien

sebelumnya (2 Februari 2017), pasien sudah dilakukan pemeriksaan

USG dan didapatkan multiple small cyst testis sinistra di caput

epididimis dengan tanda hidrokel.


Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (+)

Diabetes mellitus (+)

Riwayat keganasan (-)

Riwayat Operasi Inguinal (-)

Riwayat infeksi pada testis (-)

Riwayat trauma testis (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Hipertensi (-)
Diabetes mellitus (-)
Penyakit jantung (-)
Tumor / Keganasan (-)

Riwayat Pengobatan

Penggunaan obat rutin untuk DM yaitu Metformin dan Glimepirid

Riwayat Alergi

Riwayat alergi obat dan alergen (-)

Riwayat Gaya Hidup

Pola makan banyak sayur, buah, serta daging ayam dan ikan.

Narkotika dan zat adiktif lain (-)

Rokok (-)

Konsumsi alkohol (-)

PEMERIKSAAN FISIK (24 Februari 2017)

Keadaan Umum dan Skrining


Keadaan umum : Baik

GCS : E4 V5 M6

Kesadaran : Compos mentis

Berat badan : 80 kg

Tinggi badan : 169 cm

IMT : 28.01 obesitas

Asesmen Risiko Dekubitus (dengan skala Norton):

No Parameter Kondisi Skor


1 Kondisi Fisik Baik. Pasien tidak mengalami 4

cacat atau kelemahan fisik


2 Kondisi Mental Compos mentis 4
3 Rentang Ambulasi/ pasien jbisa 4

aktivitas bergerak bebas


4 Mobilitas Bisa bergerak bebas 4
5 Inkontinensia BAB dan BAK normal 4
Total Skor 20
Total Skor Risiko Dekubitus : 16 20 = rendah

Status Fungsional :

1. Nutrisi dan Hidrasi : tidak ada keluhan, nafsu makan menurun

(-), mual (-), muntah (-), akral dingin (-), oedema (-), mukosa

mulut/kulit kering (-), diet (-)

Skrining nutrisi dengan Nutritional Risk Screening (NRS)

1 Indeks Massa Tubuh (IMT) < 20,5 IMT = BB (kg)/TB (m)2 Tidak
Kehilangan BB yang tidak direncanakan dalam 3 bulan
2 Tidak
terakhir
3 Penurunan asupan makan dalam 1 minggu terakhir Tidak
4 Apakah pasien mengalami sakit berat Tidak

2. Eliminasi dan Pelepasan

- BAK : frekuensi 3 4 x/hari, volume 1000 cc, warna

kuning, tidak ada keluhan.

- BAB : frekuensi 1 x/hari, konsistensi lembek, warna

kuning, tidak ada keluhan.

3. Aktivitas dan Istirahat

- Tidur/Istirahat : Susah masuk tidur karena perubahan

suasana kamar.

- Aktivitas/Latihan dan Perawatan Diri : mandiri

- Alat bantu : tidak

4. Seksual dan Reproduksi

Laki-laki : teraba benjolan pada skrotum sinistra

Kenyamanan/Nyeri : keluhan nyeri (-)

Proteksi/Keselamatan

1. Risiko Jatuh (Dengan Skala Morse)

No Variabel Nilai Skor


Tidak 0
1 Riwayat jatuh 0
Ya 25
2 Diagnosa Tidak 0 15
Ya 15
sekunder
Tidak 0

Penggunaan bergerak/bedrest/dgn
3 0
alat bantu bantuan perawat
Krug/tongkat/walker 15
Furniture 30
Intra vena Tidak 0
Ya 20
4 atau terpasang 20

infus
Normal/bedrest/dengan 0

5 Cara Berjalan kursi roda 0


Terdapat kelemahan 10
Terdapat gangguan 20
Orientasi baik (mengerti 0

kemampuan sendiri)
Merasa diri mampu lebih 15
6 Status Mental 0
dari kenyataan/lupa

keterbatasan gerak
Total Skor 35
Keterangan :

Total Skor : 0 24 = Tidak Beresiko

Perawatan dasar Risiko rendah 25 - 50

Pelaksanaan intervensi pencegahan jatuh standar Risiko tinggi

51

Kesimpulan : Perawatan dasar Risiko rendah

Kebutuhan Komunikasi, Kognisi, dan Edukasi :

Bicara : normal, gangguan bicara (-)


Hambatan belajar : tidak

Kesediaan untuk menerima informasi dan edukasi : Ya

Vital Sign

Tekanan Darah : 189/96 mmHg

Nadi : 89x/ menit

Suhu : 36,40 C

Nafas : 20x/ menit

Skala Nyeri :-

Status Generalis

Kepala

- Ukuran : normocephali

- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

- Telinga : bentuk normal, simetris, otorrhea (-)

- Hidung : bentuk normal, rhinorea (-)

- Mulut : bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-)

Leher

- Inspeksi : bentuk normal, simetris, benjolan (-)

- Palpasi : pembesaran limfonodi (-), nyeri tekan

limfonodi(-), pembesaran kelenjar tiroid (-)

Thoraks

Paru-paru
- Inspeksi : ketinggalan gerak napas (-),

massa kulit (-), bekas luka operasi (+)

- Palpasi : nyeri tekan (-), fremitus baik (kanan

dan kiri sama), pengembangan dada simetris

- Perkusi : sonor pada kedua lapang paru,

tidak ditemukan suara perkusi redup yang dapat

mengindikasikan adanya metastasis

- Auskultasi : Vesikuler (+/+), wheezing (-/-),

rhonki (-/-)

Jantung

- Inspeksi : iktus kordis tidak tampak

- Palpasi : iktus kordis teraba di linea

midclavikularis sinistra SIC VI

- Perkusi : Batas jantung di linea

parasternalis dextra linea midclavicularis

sinistra.

- Auskultasi : Suara S1/S2 murni-reguler,

murmur (-), gallop (-), S3/S4 (-)

Abdomen

- Inspeksi : distensi (-), massa (-)

- Auskultasi : peristaltik usus (+) normal pada

keempat kuadran abdomen


- Perkusi : timpani

Hepar : pembesaran hepar (-), nyeri (-)

Lien : pembesaran lien (-), nyeri (-)

- Palpasi : supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-)

Hepar : massa (-), pembesaran hepar (-), nyeri tekan (-)

Lien : massa (-), pembesaran lien (-), nyeri tekan (-)

Genitalia

Tidak dilakukan

Ekstremitas

- Superior : oedem (-), CRT < 2 detik, akral


5 5
hangat, kekuatan otot anggota gerak
5 5
Status Lokalis

Pemeriksaan Regio Skrotalis

- Inspeksi : Testis asimetris dan skrotum sinistra tampak

adanya benjolan yang membuat skrotum terlihat membesar.

- Palpasi :

- Skrotalis dekstra: Testis teraba normal, tanpa

adanya massa selain testis pada skrotum.

- Skrotalis sinistra :Teraba massa bulat pada

cranial testis sinistra yang teraba lunak dengan

diameter 2 cm, mobile, tidak dapat di reposisi,


tidak terdapat nyeri tekan serta transiluminasi

(+).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan


Haemoglobin 11.2 g/dl 11.7-15.5
Eritrosit 4.66 juta/mmk 3.9-5.2
Hitung jenis
Eosinofil 5.0 % 2-4
Basofil 0.3 % 0-1
Segment 65.7 % 50-70
neutrofil
Limfosit 20.4 % 18-42
Monosit 8.6 % 2-8
Hematokrit 37.9 % 35.0-49.0
RDW 17.3 % 11.5-14.5
MCV 81.3 Fl 80-94
MCH 24.0 pg 26-32
MCHC 29.6 g/dL 32-36
Trombosit 326 ribu/mmk 150-400
PDW 8.4 fL 9.0-13.0
GDS 157.2 mg/dL 70-140
Ureum 41.9 mg/dL 20-43
Kreatinin 1.56 mg/dL 0.55-1.02
Perdarahan 2.30 Menit.detik 1.00-6.00
Pembekuan 10.00 Menit.detik 5.00-12.00

Pemeriksaan EKG

Normal aksis
Pemeriksaan Mammografi

- Scrotalis dekstra: Tampak intrascrotal testis ukuran dan

bentuknya normal disertai dengan struktur internal/parenkimal

yang normoekoik dan homogen. Pada CFM tampak aliran

vaskuler yang baik terutama tak terlihat SOL atau tanda-tanda

proses inflamasi. Epididimis dan funiculus spermaticus

tampak normal disertai dengan pembuluh darah spermatica

yang baik.

- Scrotalis sinistra: Tampak fluid collection dengan tampak

intrascrotal testis ukuran dan bentuknya normal disertai

bentukan small cyst di dalamnya. Pada CFM tampak aliran

vaskuler Epididimis dan funiculus spermaticus tampak

bentukan lesi kistik ukuran lk 2.5x1.9 cm.

- Kesan : Tanda multiple small cyst testis sinistra dengan

bentukan cyst uk lk 2.5x1.9 cm. di caput ephydidimis dengan

tanda hydrocele testis sinistra. Tak tampak kelainan pada testis

dekstra.

Pemeriksaan Rontgen Thoraks

Thorax : PA

- Kedua apical pulmo tampak tenang

- Bronchovasculer marking kasar, meningkat

- Air bronchogram : (+)


- Lnn hilus tidak prominen

- Hemidiaphragma : licin

- Sinus costophrenicus lancip, terbuka

- COR : CTR > 0,50

Kesan : Radiologis Cardiomegali ringan dengan vasculer paru meningkat

DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis : Hidrokel non communicans testis sinistra

DIAGNOSA BANDING

Hidrokel
Varikokel
Torsi testis
Spermatokel
Hematokel
HIL
Tumor testis

RINGKASAN STATUS PASIEN

S : Adanya benjolan yang terasa pada skrotum kiri, benjolan semakin

membesar tanpa disertai dengan nyeri. Ukuran benjolan tidak mengecil

dengan perubahan posisi tubuh ataupun saat mengejan.

O : KU CM; Vital sign : Tekanan Darah :189/96 mmHg, nadi: 89x/ menit,

suhu: 36,40 C, dan nafas: 20x/ menit; status generalis dbn; status lokalis :

Skrotalis sinistra :Teraba massa bulat pada cranial testis sinistra yang teraba
lunak dengan diameter 2 cm, mobile, tidak dapat di reposisi, tidak terdapat

nyeri tekan serta transiluminasi (+).

A : Hidrokel non communicans testis sinistra

P : Operasi hydrocelectomy/herniotomy, konsultasi anestesi, pemilihan

antibiotik profilaksis sebelum operasi, cek GDS.

PLANNING

Awal/Terapi Simptomatik

- Metformin tab 500mg 2x1


- Glimepirid tab 50 mg 1x1
- Ceftriaxone inj 2g 2x1
- Novorapid inj 10 iu

Operatif

Hydrocelectomy dengan eksplorasi.

Laporan Operasi (24 Februari 2017)

Diagnosis pre operasi Hydrocele testis sinistra (Communicans)


Dd: Hernia Inguinalis Lateralis (Scrotalis) Sinistra
Reponibilis.
Diagnosis Post Operasi Hydrocele testis sinistra
Operasi dimulai Tanggal 24-02-2017
Jam : 11.10 WIB
Operasi Selesao Tanggal 24-02-2017
Jam : 12.25 WIB
Lama Operasi 1 Jam 15 menit
Posisi pasien Supine
Tindakan Hydrocelectomy dengan eksplorasi
Incisi kulit inguino kiri, perdalam sampai subkutis, buka
canalis inguinalis sesuai arah serat. Cari Funiculus
spermaticus dikait dengan selang. Eksplorasi tidak
didapatkan tract yang menghubungkan dengan cavum
abdomen / tidak didapatkan kantong hernia. Incisi scrotal
lateral l.d.l sampai tampak kantong isi cairan dibuka
keluarkan caira serous 100cc, eksisi kantong hydrocel, jahit
dengan chromic 3/0 continue. Kontrol perdarahan, cuci luka
dengan NaCl 0.9%.
Instruksi Post Operasi Rawat luka, jaga luka operasi tetap kering. Penggantian kassa
dan desinfeksi jika muncul nanah atau darah. Pasang infus
RL 20 tpm. Berikan obat ketorolac 3x30 mg dan ondansetron
4 mng.
Injeksi :
- Ceftriaxone 1 g

Rencana lanjutan

- Pengobatan oral post operasi dengan cefixime tab 100mg 2x1, Na

diklofenak 50 mg 2x1, antasid tab 80 mg 3x1 selama 5 hari.


- Tirah baring dan BAK menggunakan kateter.

PROGNOSIS

Quo ad vitam (hidup) : dubia ad bonam


Quo ad fungtionam (fungsi) : dubia ad bonam
Quo ad sanationam (sembuh) : dubia ad malam

TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN
Hidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis,
yang menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebabnya karena
gangguan dalam pembentukan alat genitalia eksternal, yaitu kegagalan penutupan
saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan
peritoneum mengalir melalui saluran yang terbuka tersebut dan terperangkap di
dalam skrotum sehingga skrotum membengkak.

Sekitar 10% bayi baru lahir mengalami hidrokel, dan umumnya akan hilang
sendiri dalam tahun pertama kehidupan. Biasanya tidak terasa nyeri dan jarang
membahayakan sehingga tidak membutuhkan pengobatan segera. Pada bayi hidrokel
dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia kehamilan 28 minggu , testis turun
dari rongga perut bayi kedalam skrotum, dimana setiap testis ada kantong yang
mengikutinya sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis tersebut. Pada orang
dewasa, hidrokel bisa berasal dari proses radang atau cedera pada skrotum. Radang
yang terjadi bisa berupa epididimitis (radang epididimis) atau orchitis (radang testis).

Tunika vaginalis di skrotum sekitar testis normalnya tidak teraba, kecuali bila
mengandung cairan membentuk hidrokel, yang jelas bersifat diafan (tembus cahaya)
pada transiluminasi. Jika tidak dapat ditemukan karena besarnya hidrokel, testis harus
dicari di sebelah dorsal karena testis terletak di ventral epididimis sehingga tunika
vaginalis berada di sebelah depan. Bila ada hidrokel, testis dengan epididimis
terdorong ke dorsal oleh ruang tunika vaginalis yang membesar. Hidrokel testis
mungkin kecil atau mungkin besar sekali.

Hidrokel bisa disebabkan oleh rangsangan patologik seperti radang atau tumor
testis. Pada operasi, sebagian besar dinding dikeluarkan. Kadang ditemukan hidrokel
terbatas di funikulus spermatikus yang berasal dari sisa tunika vaginalis di dalam
funikulus; benjolan tersebut jelas terbatas dan bersifat diafan pada transiluminasi.

Jarang sekali ditemukan benjolan di funikulus yang dapat dihilangkan dengan


tekanan, sedangkan memberikan kesan terbatas jelas di sebelah kranial. Bila
demikian, terdapat tunika vaginalis yang berhubungan melalui saluran sempit dengan
rongga perut dan berisi cairan rongga perut. Hernia inguinalis lateralis atau indirek
yang mengandung sedikit cairan rongga perut ini kadang diberikan nama salah
hidrokel komunikans. Karena hubungan dengan rongga perut terlalu sempit sekali.
Kelainan ini memberi kesan hidrokel funikulus; kantong hernia ini tidak dapat
dimasuki usus atau omentum.
ANATOMI TESTIS

Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di skrotum. Ukuran testis pada
orang dewasa adalah 432,5 cm dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid kedua
buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. Diluar
tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan
parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada disekitar testis
memungkinkan testis dapat digerakan mendekati rongga abdomen untuk
mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil.

Secara histopatologis, testis terdiri atas kurang lebih 250 lobuli dan tiap
lobulus terdiri atas tubuli seminiferi. Didalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel
spermatogenia dan sel Sertoli, sedang diantara tubulus seminiferi terdapat sel-sel
Leyding. Sel-sel spermatogenia pada proses spermatogenesis menjadi sel
spermatozoa. Sel-sel Sertoli berfungsi memberi makanan pada bakal sperma,
sedangkan sel-sel Leyding atau disebut sel interstisial testis berfungsi dalam
menghasilkan hormon testosteron. Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli
seminiferi testis disimpan dan mengalami pematangan atau maturasi diepididimis
setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari
epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Sel-sel itu
setelah dicampur dengan cairan-caidari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis,
serta cairan prostat menbentuk cairan semen.

Vaskularisasi

Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu :

Arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta

Arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior

Arteri kremasterika yang merupakan cabang arteri epigastrika. Pembuluh vena


yang meninggalkan testis berkumpul membentuk pleksus Pampiniformis. Plesksus ini
pada beberapa orang mengalami dilatasi dan dikenal sebagai varikokel.
Gambar 1. Anatomi normal testis

HIDROCELE

DEFINISI

Hidrokel adalah penumpukan cairan berbatas tegas yang berlebihan di antara lapisan
parietalis dan viseralis tunika vaginalis, pada bayi biasanya disebabkan tidak
sempurnanya penutupan prosesus vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang
berada di dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara
produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.
EPIDEMIOLOGI

Di USA, insidensi hidrokel adalah sekitar 10-20 per 1000 kelahiran hidup dan lebih
sering terjadi pada bayi premature. Lokasi tersering adalah di sebelah kanan, dan
hanya 10% yang terjadi secara bilateral.

Insidensi PPPVP menurun seiring dengan bertambahnya umur. Pada neonates, 80%-
94% memiliki PPPVP. Risiko hidrokel lebih tinggi pada bayi premature dengan berat
badan lahir kurang dari 1500 gram dibandingkan dengan bayi aterm.

ETIOLOGI

Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena : (1) belum
sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritoneum
ke prosesus vaginalis atau (2) belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum
dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel.

Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder.
Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau
epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan di
kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi, atau trauma
pada testis/epididimis. Kemudian hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang
berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus
spermatikus.

Hidrokel dapat diklasifikasi menjadi dua jenis berdasarkan kapan terjadinya


yaitu:

1. Hidrokel Primer

Hidrokel primer terlihat pada anak akibat kegagalan penutupan prosesus


vaginalis. Prosesus vaginalis adalah suatu divertikulum peritoneum embrionik
yang melintasi kanalis inguinalis dan membentuk tunika vaginalis. Hidrokel
jenis ini tidak diperlukan terapi karena dengan sendirinya rongga ini akan
menutup dan cairan dalam tunika akan diabsorpsi.
2. Hidrokel Sekunder
Pada orang dewasa, hidrokel sekunder cenderung berkembang lambat dalam
suatu masa dan dianggap sekunder terhadap obstruksi aliran keluar limfe.
Dapat disebabkan oleh kelainan testis atau epididimis. Keadaan ini dapat
karena radang atau karena suatu proses neoplastik. Radang lapisan mesotel
dan tunika vaginalis menyebabkan terjadinya produksi cairan berlebihan yang
tidak dapat dibuang keluar dalam jumlah yang cukup oleh saluran limfe dalam
lapisan luar tunika.

Berdasarkan kejadian:

1. Hidrokel Akut
Biasanya berlangsung dengan cepat dan dapat menyebabkan nyeri. Cairan
berrwarna kemerahan mengandung protein, fibrin, eritrosit dan sel polimorf.

2. Hidrokel Kronis
Hidrokel jenis ini hanya menyebabkan peregangan tunika secara perlahan dan
walaupun akan menjadi besar dan memberikan rasa berat, jarang
menyebabkan nyeri.

Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis, secara klinis dibedakan


beberapa macam hidrokel, yaitu

1. Hidrokel testis.
Kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat
diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang
hari.

2. Hidrokel funikulus.
Kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak di sebelah kranial dari
testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada di luar kantong
hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.

3. Hidrokel Komunikan
Terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum
sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada anamnesis
kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah pada saat
anak menangis. Pada palpasi kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat
dimasukkan kedalam rongga abdomen
PATOFISIOLOGI

Hidrokel disebabkan oleh kelainan kongenital (bawaan sejak lahir) ataupun


ketidaksempurnaan dari prosesus vaginalis tersebut menyebabkan tidak menutupnya
rongga peritoneum dengan prosessus vaginalis. Sehingga terbentuklah rongga antara
tunika vaginalis dengan cavum peritoneal dan menyebabkan terakumulasinya cairan
yang berasal dari sistem limfatik disekitar. Hidrokel cord terjadi ketika processus
vaginalis terobliterasi di atas testis sehingga tetap terdapat hubungan dengan
peritoneum, dan processus vaginalis mungkin tetap terbuka sejauh batas atas scrotum.
Area seperti kantung di dalam canalis inguinalis terisi dengan cairan. Cairan tersebut
tidak masuk ke dalam scrotum.

Cairan yanng seharusnya merupakan keseimbangan antara produksi dan


reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. Tetapi pada penyakit ini, telah
terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan limfa. Dan terjadilah penimbunan
di tunika vaginalis tersebut. Akibat dari tekanan yang terus-menerus, mengakibatkan
Obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus. Dan terjadilah atrofi
testis dikarenakan akibat dari tekanan pembuluh darah yang ada di daerah sekitar
testis tersebut.

Selama perkembangan janin, testis terletak di sebelah bawah ginjal, di dalam


rongga peritoneal. Ketika testis turun melalui canalis inguinalis ke dalam scrotum,
testis diikuti dengan ekstensi peritoneum dengan bentuk seperti kantung, yang dikenal
sebagai processus vaginalis. Setelah testis turun, procesus vaginalis akan terobliterasi
dan menjadi fibrous cord tanpa lumen. Ujung distal dari procesus vaginalis menetap
sebagai tunika yang melapisi testis, yang dikenal sebagai tunika vaginalis.
Normalnya, region inguinal dan scrotum tidak saling berhubungan dengan abdomen.
Organ viscera intraabdominal maupun cairan peritonel seharusnya tidak dapat masuk
ke dalam scrotum ataupun canalis inguinalis. Bila procesus vaginalis tidak tertutup,
dikenal sebagai persistent patent processus vaginalis peritonei (PPPVP).
Gambar 2. Patogenesis Hidrokel

Bila PPPVP berdiameter kecil dan hanya dapat dilalui oleh cairan, dinamakan
sebagai hidrokel komunikan. Bila PPPVP berdiameter besar dan dapat dilalui oleh
usus, omentum, atau organ viscera abdomen lainnya, dinamakan sebagai hernia.
Banyak teori yang membahas tentang kegagalan penutupan processus vaginalis. Otot
polos telah diidentifikasi terdapat pada jaringan PPPVP, dan tidak terdapat pada
peritoneum normal. Jumlah otot polos yang ada mungkin berhubungan dengan
tingkat patensi processus vaginalis. Sebagai contoh, jumlah otot polos yang lebih
besar terdapat pada kantung hernia dibandingkan dengan PPPVP dari hidrokel.
Penelitian terus berlanjut untuk menentukan peranan otot polos pada pathogenesis ini.

Mekanisme terjadinya PPPVP juga berhubungan dengan adanya peningkatan


tekanan intraabdominal. Keadaan apapun yang menyebabkan terjadinya peningkatan
tekanan intraabdominal dapat menghambat atau menunda proses penutupan processus
vaginalis. Keadaan tersebut antara lain batuk kronis (seperti pada TB paru), keadaan
yang membuat bayi sering mengedan (seperti feses keras), dan tumor intraabdomen.
Keadaan tersebut di atas menyebabkan peningkatan risiko terjadinya PPPVP yang
dapat berakibat sebagai hidrokel maupun hernia.
Gambar 3. Jenis-jenis Hidrokel

GAMBARAN KLINIS

Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi
kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi.
Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang
sulit melakukan pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan
ultrasonografi. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis, secara klinis
dibedakan beberapa macam hidrokel, yaitu (1) hidrokel testis, (2) hidrokel funikulus,
dan (3) hidrokel komunikan. Pembagian ini penting karena berhubungan dengan
metode operasi yang akan dilakukan pada saat melakukan koreksi hidrokel.

Gambar 4. Hidrokel komunikans (pada anak)


Gambar 5. Hidrokel non-komunikans (pada dewasa)

Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga


testis tak dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah
sepanjang hari.

Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak di


sebelah kranial testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada di luar
kantong hidrokel. Pada anamnesis, kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.

Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan


rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada
anamnesis, kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar
pada saat anak menangis. Pada palpasi, kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat
dimasukkan ke dalam rongga abdomen.

PEMERIKSAAN FISIK

Lakukan pemeriksaan pada posisi berbaring dan berdiri. Jika pada posisi berdiri
tonjolan tampak jelas, baringkan pasien pada posisi supine. Bila terdapat resolusi
pada tonjolan (dapat mengecil), harus dipikirkan kemungkinan hidrokel komunikan
atau hernia.

Bila tonjolan tidak terlihat, lakukan valsava maneuver untuk meningkatkan tekanan
intaabdominal. Pada anak yang lebih besar, dapat dilakukan dengan menyuruh pasien
meniup balon, atau batuk. Pada bayi, dapat dilakukan dengan memberikan tekanan
pada abdomen (palpasi dalam) atau dengan menahan kedua tangan bayi diatas
kepalanya sehingga bayi akan memberontak sehingga akan menimbulkan tonjolan.

Pemeriksaan transiluminasi pada scrotum menunjukkan cairan dalam tunika vaginalis


mengarah pada hidrokel. Namun, tes ini tidak sepenuhnya menyingkirkan hernia.

Gambar 6. Tes Transiluminasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG

TRANSILUMINASI

Merupakan langkah diagnostik yang paling penting sekiranya menemukan massa


skrotum..Dilakukan didalam suatu ruang gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi
pembesaran skrotum . Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak
dapat ditembusi sinar. Trasmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga
yang mengandung cairan serosa, seperti hidrokel .

ULTRASONOGRAFI

Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan


membantu melihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel), vena abnormal
(varikokel) dan kemungkinan adanya tumor.
Diferential Diagnosis

Secara umum adanya pembengkakan skrotum memberikan gejala yang hampir sama
dengan hidrokel, sehingga sering salah terdiagnosis. Oleh karena itu diagnosis
banding hidrokel adalah :

Hernia scrotalis:

Hidrokel dan hernia inguinalis bermanifestasi klinis sebagai benjolan pada


daerah testis dengan perbedaan utama berupa benjolan pada hernia bersifat
hilang timbul, sedangkan pada hidrokel, benjolan dapat berkurang tapi lama.
Dengan melakukan tes transiluminasi, hidrokel memberikan hasil tes yang
positif sedangkan pada hernia inguinalis hasil tes negatif. Pentingnya
membedakan kedua kasus tersebut sehubungan dengan penanganan yang
dilakukan untuk kemudian mengurangi komplikasi yang dapat terjadi.

Varikokel
Adalah varises dari vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran
darah balik vena spermatika interna.
Gambaran klinis :
Anamnesa :
1. Pasien biasanya mengeluh belum mempunyai anak setelah beberapa tahun
menikah.
2. Terdapat benjolan di atas testis yang tidak nyeri.
3. Terasa berat pada testis
Pemeriksaan Fisik : (Pasien berdiri dan diminta untuk manuver valsava)
Inspeksi dan Palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing di dalam
kantung, yang letaknya di sebelah kranial dari testis, permukaan testis licin,
konsistensi elastis.

Pada posisi berbaring, benjolan akan menghilang, sedangkan pada hidrokel


tidak hilang, hanya dapat berkurang tetapi butuh waktu yang lama.
Torsi Testis
Adalah keadaan dimana funikulus spermatikus terpuntir sehingga terjadi
gangguan vaskularisasi dari testis yang dapat berakibat terjadinya gangguan
aliran darah daripada testis.
Gambaran klinis :

Anamnesa :

1. Timbul mendadak, nyeri hebat dan pembengkakan skrotum.


2. sakit perut hebat, kadang mual dan muntah.
3. nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal.

Pemeriksaan Fisik :
1. Inspeksi
Testis bengkak, terjadi retraksi testis ke arah kranial, karena funikulus
spermatikus terpuntir dan memendek, testis pada sisi yang terkena lebih tinggi
dan lebih horizontal jika dibandingkan testis sisi yang sehat.
2. Palpasi teraba lilitan / penebalan funikulus spermatikus
Pemeriksaan fisik yang paling sensitive pada torsio testis adalah hilangnya
reflex kremaster. Refleks kremaster dilakukan dengan menggores atau
mencubit paha bagian medial, menyebabkan kontraksi musculus cremaster
yang akan mengangkat testis. Refleks kremaster dikatakan positif bila testis
bergerak ke arah atas minimal 0.5 cm.
Pada torsio appendix testis, teraba adanya nodul keras berdiameter 2-3 mm di
ujung atas testis, dapat tampak berwarna kebiruan, yang dikenal dengan blue
dot sign.
Prehns sign negative mengindikasikan nyeri tidak berkurang dengan
pengangkatan testis dapat menunjukkan adanya torsio testis, merupakan
operasi CITO dan harus dikoreksi dalam 6 jam.

Hematocele
Adalah penumpukan darah di dalam tunika vaginalis, biasanya didahului oleh
trauma.
Gambaran klinik : benjolan pada testis
Pemeriksaan Fisik :
Masa kistik
Transiluminasi (-)
Tumor Testis
Keganasan pada pria terbanyak usia antara 15-35 tahun.
Gambaran klinis :
Anamnesa :
Keluhan adanya pembesaran testis yang tidak nyeri.
Terasa berat pada kantong skrotum
Pemeriksaan Fisik :
Benjolan pada testis yang padat, keras, tidak nyeri pada palpasi.

TERAPI

Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun
dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri;
tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk
dilakukan koreksi. Mayoritas hidrokel pada neonates akan hilang karena penutupan
spontan dari PPPVP awal setelah kelahiran. Cairan dalam hidrokel biasanya akan
direabsorpsi sebelum bayi berumur 1 tahun. Berdasarkan fakta tersebut, observasi
umumnya dilakukan pada hidrokel pada bayi.

Indikasi operasi perbaikan hidrokel :

Gagal untuk hilang pada umur 2 tahun

Rasa tidak nyaman terus-menerus akibat hidrokel permagna

Pembesaran volume cairan hidrokel sehingga dapat menekan pembuluh darah

Adanya infeksi sekunder (sangat jarang)

Gambar 7. Hidrokel testis


Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali
hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel,
sekaligus melakukan herniografi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan pendekatan
scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel sesuai cara
Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai cara Lord. Plikasi kantong hernia
(Lords procedure) digunakan untuk hidrokel ukuran kecil sampai medium. Tehnik ini
mengurangi resiko terjadiya hematoma. Eversi dan penjahitan kantong hidrokel
dibelakang testis (Jaboulay procedure) dihubungkan dengan pengurangan kejadian
rekurensi, tetapi tidak mengurangi resiko terjadinya hematom. Pada hidrokel
funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto.

Penatalaksanaan Post Operasi Hidrokel

Penyembuhan post-operasi hidrokel biasanya cepat.

Terapi yang diberikan antara lain :

Analgetik

Bayi Ibuprofen 10mg/kg setiap 6-8 jam; paracetamol 15 mg/kg setiap 6-8 jam;
hindari penggunaan narkotika pada bayi karena adanya risiko apneu

Anak yang lebih besar Paracetamol dengan kodein (1mg/kg kodein) setiap 6-8 jam

Sekitar 2 minggu setelah operasi, posisi mengangkang (naik sepeda) harus dihindari
untuk mencegah perpindahan testis yang mobile keluar dari scrotum, dimana dapat
terjebak oleh jaringan ikat dan mengakibatkan cryptorchidism sekunder.

Pada anak dengan usia sekolah, aktivitas olahraga harus dibatasi selama 4-6 minggu.

Karena kebanyakan operasi hidrokel dilakuakn pada dasar pasien rawat jalan
(outpatient), pasien dapat kembali ke sekolah segera setelah tingkat kenyamanan
memungkinkan (biasanya 1-3 hari post-operasi).
Teknik Operasi Hidrokel (High Ligation)

1. Memeriksa anak untuk mengkonfirmasi adanya testis.

2. Membuat incisi inguinal kecil

3. Masuk ke canalis inguinalis dan diseksi PV, yang merupakan kantung


hidrokel, harus bebas dari vas deferens dan pembuluh darah.

4. Keluarkan isi kantung hidrokel (cairan) ke dalam abdomen

5. Ligasi kantung pada atau di atas annulus inguinalis interna

6. Inspeksi annulus inguinalis interna untuk memastikan seluruh isi kantung


telah dikeluarkan seluruhnya.

7. Jahit lapisan fascia dan kulit..


A. Incisi pada kuadran bawah abdomen sepanjang 2-4cm, ke arah lateral dari
titik tepat di atas spina pubic.

B. Fascia superfisialis telah diincisi. Musculus obliqus externus terlihat.

C. Musculus obliqus externus telah diincisi, tampak kantung hidrokel dan cord.

D. Fascia oblique externus dijepit, memperlihatkan musculus cremaster dan


fascia spermaticus interna melapisi kantung dan cord.

E. Kantung yang melalui canalis inguinalis dan annulus inguinalis externa


dipisahkan dari cord di bawahnya. Ujung distal telah dibuka sebagian. Ujung
proximal akan dilakukan high ligation pada leher kantung.

F. Ujung proximal kantung diangkat. Retroperitoneal fat pad yang selalu ada dan
merupakan indikasi titik untuk high ligation. Jahitan dilakukan pada leher
kantung. Setelah dijahit, jahitan kedua dilakukan pada distal dari jahitan
pertama untuk memastikan ligasi yang permanen.

G. Musculus oblique externus dijahit.

H. Menjahit jaringan subcuticular.

KOMPLIKASI OPERASI

Komplikasi pasca bedah ialah perdarahan dan infeksi luka operasi.


TEKNIK NEEDLE ASPIRATION/DECOMPRESSION

Drainase cairan hidrokel dengan menggunakan jarum. Memiliki kekurangan


mudahnya terjadi kekambuhan

TEKNIK SCLEROSIS

Menyuntikan agen iritatif, yang biasanya tetracycline derivative ke kantung


hidrokele. Agen tersebut akan mengakibatkan luka pada kantung hidrokel sehingga
produksi cairan berkurang. Teknik ini merupakan opsi bagi pasien yang tidak bisa
dilakukan operasi. Teknik ini memiliki komplikasi infeksi ataupun gangguan fertilitas

PROGNOSIS

Pada bayi dengan hidrokel primer, prognosis sangat baik. Mereka yang menjalani
operasi high ligation memiliki angka kekambuhan yang rendah.

Pada pasien dengan hidrokel sekunder, prognosis sangat bergantung pada proses
patologisnya. Namun dengan operasi high ligation memiliki angka kekambuhan yang
rendah.

KESIMPULAN

Hidrokel adalah penumpukan cairan berbatas tegas yang berlebihan di antara lapisan
parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di
dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan
reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya. Hidrokel yang terjadi pada bayi baru
lahir dapat disebabkan karena : (1) belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis
sehingga terjadi aliran cairan peritoneum ke prosesus vaginalis atau (2) belum
sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan
hidrokel.

Gambaran klinis pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak
nyeri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan
konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya
transiluminasi. Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal
kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan
pemeriksaan ultrasonografi.
Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi.
Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena selain angka kekambuhannya tinggi,
kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi. Jika dibiarkan, hidrokel
yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel permagna bisa menekan
pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga menimbulkan atrofi testis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Benson CD, Mustard WT. Pediatric Surgery. Volume 1. 1962. Year Book Medical
Publishers, Inc. USA. p. 580-582
2. Sjamsuhidajat R. dan Jong W.D., Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 4, Jakarta, EGC, 1997
3. James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier. Philadelphia. p
118-129
4. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12. McGraw-
Hill Companies. New York. p 245-259
5. Brunicardi FC et al. Schwartzs principles of surgery. 8th edition. United States
America : McGraw Hill, 2005.826-42.
6. http://www.medindia.net/patients/patientinfo/hydrocele-adult-
surgery.htm#ixzz12zjIvvR5
7. http://emedicine.medscape.com/article/777386-print
8. http://emedicine.medscape.com/article/1015147-print
9. http://emedicine.medscape.com/article/438724-overview