Anda di halaman 1dari 42

ARTHROPODA PARASIT

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Parasitologi
yang dibina oleh Ibu Dr. Endang Suarsini, M.Ked dan Ibu Sofia Ery Rahayu,
S.Pd, M.Si

Oleh:
Kelompok 5 (GK-HK) :
IpradityaLanggeng (130342615)
LailatulQomariyah (130342603489)
Suhartini (130342603499)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

September 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Watala, karena


atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami diberi kesehatan dam kekuatan
sehingga dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul
ArthropodaParasit.
Penulis juga menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada :
1. Ibu Dr. Endang Suarsini, M.Ked dan Ibu Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M.Siselaku
dosen matakuliah Parasitologi atas bimbingan beliau pada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini.
2. teman sekelas dan lain kelas yang saling mendukung dalam proses penulisan
makalah ini sehingga prosesnya berjalan lancar.
Kami sadar bahwa dalam penulisan makalah ini banyak hal yang kurang
sempurna baik itu dari penulisan ataupun dari ejaan yang kami gunakan, maka
dari itu segala kritik dan saran sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah
ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat berguna bagi masyarakat pada
umumnya, dan khususnya untuk para mahasiswa.

Malang, 25 September 2015

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Filum Arthropoda tersebar luas dan merupakan filum dengan spesies yang
beranekaragam. Filum ini memiliki lebih banyak spesies dibandingkan dengan
filum lainnya dalam kingdom animalia (Brown, 1979). Diantara anggota filum
Arthropoda diketahui ada yang sangat berguna bagi kehidupan manusia dan
sebaliknya diketahui pula ada yang berperan merugikan manusia dan hewan.
Kelompok yang merugikan lebih dikenal sebagai ektoparasit atau pengganggu
atau hama. Yang termasuk di dalam kelompok ektoparasit adalah kelas Insecta
(serangga) dan kelas Arachnida (caplak dan tungau). Kelas Insecta yang penting
diketahui bagi dunia pengendalian hama permukiman antara lain adalah ordo
Dictyoptera atau Blattodea (lipas), ordo Diptera (lalat dan nyamuk), ordo
Hymenoptera (semut, tawon, lebah), ordo Siphonaptera (pinjal), ordo Phthiraptera
(subordo Mallophaga atau kutu penggigit dan subordo Anoplura atau kutu
penghisap), ordo Rhynchophthirina, ordo Hemiptera, ordo), ordo Coleoptera
(kumbang), dan ordo Psocoptera. Adapun kelas Arachnida yang penting diketahui
antara lain ordo Parasitiformes (contohnya caplak) dan Acariformes (contohnya
tungau) (Hadi, tanpa tahun).
Stadium dewasa dan stadium larva arthropoda dapat merugikan manusia
dengan cara peracunan, menimbulkan gelembung, menghisap darah, dan
menginvasi jaringan. Arthropoda juga dapat menularkan penyakit yang
disebabkan bakteri, rickettsia, spirochaeta, virus, dan zooparasit. Arthropoda
bersifat simetri bilateral, badan beruas-ruas, mempunyai eksoskeleton keras
terbuat dari chitine. Tubuh terdiri atas kepala, thorax, dan abdomen. Pernafasan
pada golongan yang hidup di air menggunakan insang dan pada golongan yang
hidup didarat menggunakan trachea (Brown, 1979).
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu diketahui lebih lanjut mengenai
arthropoda parasit terutama yang merugikan manusia. Arthropoda parasit tersebut
perlu diketahui siklus hidup, epidemiologi, prevalensi, predileksi, etiologi,
stadium infektif, patogenitas, diagnosis serta terapi penyakit yang ditimbulkan
oleh spesies pathogen. Oleh sebab itu disusunlah makalah ini dengan judul
Arthropoda Parasit.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut.
1. Bagaimana taksonomi, morfologi, siklus hidup, epidemiologi, prevalensi,
predileksi, etiologi, patologi, diagnosis serta pencegahan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamuk Anopheles sp ?
2. Bagaimana taksonomi, morfologi, siklus hidup, epidemiologi, prevalensi,
predileksi, etiologi, patologi, diagnosis serta pencegahan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamukCulex sp.?
3. Bagaimana taksonomi, morfologi, siklus hidup, epidemiologi, prevalensi,
predileksi, etiologi, patologi, diagnosis serta pencegahan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan tujuan sebagai
berikut.
1. Mengetahui taksonomi, morfologi, siklus hidup, epidemiologi, prevalensi,
predileksi, etiologi, patologi, diagnosis serta pencegahan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamuk Anopheles sp
2. Mengetahuitaksonomi, morfologi, siklus hidup, epidemiologi, prevalensi,
predileksi, etiologi, patologi, diagnosis serta pencegahan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamuk Culexsp
3. Mengetahui taksonomi, morfologi, siklus hidup, epidemiologi, prevalensi,
predileksi, etiologi, patologi, diagnosis serta pencegahan penyakit yang
ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti
1.
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Nyamuk Sebagai Vektor


Nyamuk termasuk jenis serangga dalam ordo diptera, dari kelas insecta.
Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing dan enam kaki
panjang. Antar spesies berbeda-beda tetapi jarang sekali panjangnya melebihi 15
mm (Levine, 1994).
Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup yaitu telur, larva, pupa
dan dewasa. Nyamuk menghisap darah bukan untuk mendapatkan makanan
melainkan untuk mendapatkan protein yang terdapat dalam darah sebagai nutrisi
telurnya. Nyamuk jantan dan betina hanya memakan cairan nektar bunga,
sedangkan nyamuk menghisap darah demi kelangsungan spesiesnya (Spielman,
2001).
Seekor nyamuk jantan telah cukup dewasa untuk kawin akan menggunakan
antenanya (organ pendengar) untuk menemukan nyamuk betina. Fungsi antena
nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina. Bulu tipis di ujung antenanya
sangat peka terhadap suara yang dipancarkan nyamuk betina. Tepat di sebelah
organ seksual nyamuk jantan, terdapat anggota tubuh yang membantunya
mencengkram nyamuk betina ketika mereka melakukan perkawinan di udara.
Nyamuk jantan terbang berkelompok, sehingga terlihat seperti awan. Ketika
seekor betina memasuki kelompok tersebut, nyamuk jantan berhasil
mencengkram nyamuk betina dan akan melakukan perkawinan denganya selama
penerbangan. Perkawinan tidak berlangsung lama dan nyamuk jantan akan
kembali ke kelompoknya setelah melakukan perkawinan. Sejak saat itu, nyamuk
betina memerlukan darah untuk perkembangan telurnya (http//harun yahya.com).

2.2 Taksonomi
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Philum : Anthrophoda
Sub Philum: Mandibulata
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Sub ordo : Nematocera
Familia : cilicidae
Ordo diptera ini mempunyai 2 sayap (di=dua, ptera=sayap), yang terdapat pada
mesothorax dan terdapat juga sayap yang rudimenter berfungsi sebagai alat
keseimbangan (haltera). Metamorfosis lengkap :
telur larva pupa dewasa (Rosdiana Safar,2009).

2.3 Morfologi Nyamuk


Nyamuk dapat berperan sebagai vektor penyakit pada manusia dan binatang.
Pada nyamuk betina, bagian mulutnya membentuk probosis panjang untuk
menembus kulit manusia maupun binatang untuk menghisap darah. Nyamuk
betina menghisap darah untuk mendapatkan protein untuk pembentukan telur
yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian
mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah. (Spielman,2001)
Pada stadium dewasa nyamuk dapat dibedakan jenisnya misalkan nyamuk
kulicini betina palpinya lebih pendek daripada probosisnya. Sedangkan pada
nyamuk kulicini jantan palpinya melebihi panjang probosisnya. Sisik sayapnya
ada yang lebar dan asimetris (mansonia) ada pula yang sempit dan panjang
(Aedes, Culex) . Kadang-kadang sisip sayap membentuk bercak-bercak berwarna
putih dan kuning atau putih dan cokelat, juga putih hitam (speckled). Ujung
abdomen Aedes lancip (pointed) sedangkan ujung abdomen Mansonia seperti
tumpul dan terpancung (truncated) (Gandahusada,2006).

2.4 Siklus Hidup Nyamuk


Fase perkembangan nyamuk dari telur hingga dewasa sangat menakjubkan.
Telur nyamuk biasanya diletakan di atas daun lembab atau kolam kering selama
musim panas atau musim gugur. Sebelumnya si induk memeriksa permukaan
tanah secara menyeluruh dengan reseptor halus di bawah perutnya reseptor ini
berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembaban. Setelah menemukan tempat yang
cocok nyamuk mulai bertelur. Telur-telur tersebut panjangnya kurang dari
1mm,tersusun dalam satu baris secara berkelompok atau satu-satu. Beberapa
spesies nyamuk meletakan telurnya saling bergabung membentuk suatu rakit yang
bisa terdiri dari 300 telur (Spielman. 2001).
Telur berwarna putih dan tersusun rapi segera menjadi gelap warnanya, lalu
menghitam dalam beberapa jam. Warna hitam ini memberikan perlindungan bagi
larva agar tidak terlihat oleh burung atau serangga lain. Selain telur warna kulit
sebagian larva juga berubah sesuai dengan lingkungan sehingga mereka lebih
terlindungi (http//harun Yahya.com).
Setelah masa inkubasi, (musim dingin) larva mulai keluar dari telur secara
hampir bersamaan. Larva yang terus menerus makan, tumbuh dengan cepat. Kulit
mereka menjadi sempit, sehingga tidak bisa tumbuh menjadi lebih besar lagi, lalu
melakukan pergantian kulit yang pertama. Pada tahap ini kulit yang keras dan
rapuh mudah pecah. Larva nyamuk berganti kulit dua kali sampai selesai
berkembang. Larva membuat pusaran kecil di dalam air dengan menggunakan
dua anggota badan yang berbulu dan mirip kipas angin. Pusaran ini membuat
bakteri atau mikroorganisme mengalir ke mulut. Sambil bergantung di dalam
air,larva bernafas melalui pipa udara yang miripsnorkel yang digunakan para
penyelam. Tubuhnya mengeluarkan cairankental yang mencegah masuknya air ke
lubang yang digunakan untuk bernafas. Jika tidak memiliki pipa udara, ia tidak
akan mampu bertahan hidup (http//harun yahya.com).

2.5 Jenis Nyamuk


Berdasarkan klasifikasinya nyamuk dapat dibedakan jenisnya dilihat dari
perbedaan bentuk morfologi nyamuk dewasa, diantaranya :
1. Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan penyakit demam berdarah dengue
(DBD) melalui tusukanya. Nyamuk ini berwarna gelap yang dapat diketahui
dari adanya garis putih keperakan dengan bentuk lyre pada toraknya dan
mempunyai gelang putih pada bagian pangkal kaki,proboscis bersisik hitam.
(Suroso Thomas,1998).

2. Culex
Nyamuk dewasa dapat berukuran 4 10 mm (0,16 0,4 inci). Dan dalam
morfologinya nyamuk memiliki tiga bagian tubuh umum: kepala, dada, dan
perut. Nyamuk Culex yang banyak di temukan di Indonesia yaitu jenis Culex
quinquefasciatus.
3. Anopheles
Hewan yang termasuk dalam kelas Hexapoda (insektor) mempunyai satu
pasang antena dan tiga pasang kaki. Dalam daur hidupnya terjadi beberapa
perubahan yaitu perubahan bentuk,perubahan sifat hidup dan perubahan
struktur bagian dalam insekta atau juga metamorfosis.

BAB III
METODE PENULISAN

3.1 Waktu dan Tempat Penulisan


Waktu : 25 September 2015
Tempat : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Negeri Malang.

3.2 Alat dan Bahan


Alat : alat tulis, laptop, berbagai buku, berbagai artikel jurnal, printer.
Bahan :tinta, kertas, staples, lakban.
3.3 Prosedur Penulisan
1. Mencari dan mengumpulkan bahan atau materi berkaitan dengan tema
terkait baik dari buku literatur ataupun internet.
2. Menulis informasi yang didapat dari literatur dan disesuaikan dengan
kebutuhan.
3. Membuat makalah.
4. Membuat Power Point.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Anopheles
4.1.1 Klasifikasi
Nyamuk Anopheles sp adalah nyamuk vektor penyakit malaria. Di dunia
kurang lebih terdapat 460 spesies yang sudah dikenali, 100 diantaranya mepunyai
kemampuan menularkan malaria dan 30-40 merupakan host dari parasite
Plasmodium yang merupakan penyebab malaria di daerah endemis penyakit
malaria. Di Indonesia sendiri, terdapat 25 spesies nyamuk Anopheles yang mampu
menularkan penyakit Malaria.
Anopheles gambiae adalah paling terkenal akibat peranannya sebagai
penyebar parasit malaria dalam kawasan endemik di Afrika, sedangkan Anopheles
sundaicus adalah penyebar malaria di Asia.
Urutan penggolongan klasifikasi nyamuk Anopheles seperti binatang lainnya
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Hexapoda / Insecta
Sub Class : Pterigota
Ordo : Diptera
Familia : Culicidae
Sub Famili : Anophellinae
Genus : Anopheles
Spesies Anopheles
Ada beberapa spesies Anopheles yang penting sebagai vektor malaria
di Indonesia antara lain :
a. Anopheles sundauicus
Spesies ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Bali. Jentiknya
ditemukan pada air payau yang biasanya terdapat tumbuhtumbuhan
enteromopha, chetomorpha dengan kadar garam adalah 1,2 sampai 1,8 %. Di
Sumatra jentik ditemukan pada air tawar seperti di Mandailing dengan ketinggian
210 meter dari permukaan air laut dan Danau Toba pada ketinggian 1000 meter.
b. Anopheles aconitus
Di Indonesia nyamuk ini terdapat hampir di seluruh kepulauan, kecuali Maluku
dan Irian. Biasanya terdapat dijumpai di dataran rendah tetapi lebih banyak di
daerah kaki gunung pada ketinggian 4001000 meter dengan persawahan
bertingkat. Nyamuk ini merupakan vector pada daerahdaerah tertentu di
Indonesia, terutama di Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali.
c. Anopheles barbirostris
Spesies ini terdapat di seluruh Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran
rendah. Jentik biasanya terdapat dalam air yang jernih, alirannya tidak begitu
cepat, ada tumbuhtumbuhan air dan pada tempat yang agak teduh seperti pada
tempat yang agak teduh seperti pada sawah dan parit.
d. Anopheles kochi
Spesies ini terdapat diseluruh Indonesia, kecuali Irian. Jentik biasanya ditemukan
pada tempat perindukan terbuka seperti genangan air, bekas tapak kaki kerbau,
kubangan, dan sawah yang siap ditanami.
e. Anopheles maculatus
Penyebaran spesies ini di Indonesia sangat luas, kecuali di Maluku dan Irian.
Spesies ini terdapat didaerah pengunungan sampai ketinggian 1600 meter diatas
permukaan air laut. Jentik ditemukan pada air yang jernih dan banyak kena sinar
matahari.
f. Anopheles subpictus
Spesies ini terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Nyamuk ini dapat dibedakan
menjadi dua spesies yaitu :
1) Anopheles subpictus subpictus
Jentik ditemukan di dataran rendah, kadangkadang ditemukan dalam air payau
dengan kadar garam tinggi.
2) Anopheles subpictus malayensis
Spesies ini ditemukan pada dataran rendah sampai dataran tinggi. Jentik
ditemukan pada air tawar, pada kolam yang penuh dengan rumput pada selokan
dan parit.
g. Anopheles balabacensis
Spesies ini terdapat di Purwakarta, Jawa Barat, Balikpapan, Kalimantan Timur,
Kalimantan Selatan. Jentik ditemukan pada genangan air bekas tapak binatang,
pada kubangan bekas roda dan pada parit yang aliran airnya terhenti.
4.1.2 Morfologi

Gambar 1. Larva Anopheles sp: (1. a) Thorax, (1.b) Palmate hairs, dan (1. c)
Ventral brush.

Telur Anopheles sp berbentuk seperti perahu yang bagian bawahnya konveks


dan bagian atasnya konkaf dan diletakkan satu per satu di atas permukaan air serta
memiliki sepasang pelampung yang terletak di bagian lateral. Di tempat
perindukan, larva Anopheles mengapung sejajar dengan permukaan air dengan
bagian badan yang khas yaitu spirakel pada bagian posterior abdomen, batu palma
pada bagian lateral abdomen, dan tergal plate pada bagian tengah setelah dorsal
abdomen (Gambar 1). Pada stadium pupa terdapat tabung pernafasan yang
disebut respiratory trumpet yang berbentuk lebar dan pendek yang berfungsi
untuk mengambil O2 dari udara. Stadium dewasa Anophelini jantan dan betina
memiliki palpi yang hampir sama dengan panjang probosisnya, hanya pada
nyamuk jantan palpi pada bagian apikal berbentuk gada yang disebut club form
sedangkan pada nyamuk betina ruas itu mengecil. Bagian posterior abdomen agak
sedikit lancip. Kosta dan vena 1 atau sayap pada bagian pinggir ditumbuhi sisik-
sisik yang berkelompok sehingga membentuk belang-belang hitam putih

4.1.3 Siklus Hidup


Nyamuk Anopheles mempunyai siklus hidup , yang termasuk dalam
metamorfosa sempurna. Yang berarti dalam siklus hidupnya terdapat stage/fase
pupa. Lama siklus hidup dipengaruhi kondisi lingkungan, misal : suhu, adanya zat
kimia/biologisdi tempat hidup. Siklus hidup nyamuk Anopheles secara umum
adalah

a. Telur
Setiap bertelur setiap nyamuk dewasa mampu menghasilkan 50-200 buah
telur. Telur langsung diletakkan di air dan terpisah (tidak bergabung menjadi satu).
Telur ini menetas dalam 2-3 hari (pada daerah beriklim dingin bisa menetas dalam
2-3 minggu)
b. Larva
Larva terbagi dalam 4 instar , dan salah satu ciri khas yang membedakan
dengan larva nyamuk yang lain adalah posisi larva saat istirahat adalah sejajar di
dengan permukaan perairan, karena mereka tidak mempunyai siphon (alat bantu
pernafasan). Lama hidup kurang lebih 7 hari, dan hidup dengan memakan
algae,bakteri dan mikroorganisme lainnyayang terdapat dipermukaan
c. Pupa(kepompong)

Bentuk fase pupa adalah seperti koma, dan setelah beberapa hari pada bagian
dorsal terbelah sebagai tempat keluar nyamuk dewasa.

d.Dewasa Nyamuk

dewasa mempunyai proboscis yang berfungsi untuk menghisap darah atau


makanan lainnya (misal, nektar atau cairan lainnya sebagai sumber gula). Nyamuk
jantan bisa hidup sampai dengan seminggu, sedangkan nyamuk betina bisa
mencapai sebulan. Perkawinan terjadi setelah beberapa hari setelah menetas dan
kebanyakan perkawinan terjadi disekitar rawa (breeding place). Untuk membantu
pematangan telur, nyamuk menghisap darah, dan beristirahat sebelum bertelur.
Salah satu ciri khas dari nyamuk anopheles adalah pada saat posisi istirahat
menungging.
4.1.4 Habitat
Masing-masing spesies Anopheles mempunyai ekologi atau lingkungan yang
berbeda-beda, mulai dari daerah pantai, sawah dan hutan.
Pantai
Daerah pantai dengan karakteristik airnya payau, kelembaban tinggi serta sinar
matahari langsung, biasanya disenangi oleh spesies An. sun- daicus dan An.
subpictus. Di samping itu ada pula spesies lain yang ditemukan seperti An.
barbirostris, An. vagus. An.kochi dll. Tapi yang domi- nan dan biasanya menjadi
vektor di daerah ini adalah An. sundaicus. Kepadatan tertinggi biasanya terjadi pa-
da musim kemarau.
Sawah
Karakteristik daerah seperti ini adalah airnya tawar dan tersedia sepanjang
tahun, sinar matahari tidak langsung mengenai air, kelembaban tinggi dan suhu
stabil. Sawah yang dijadikan tempat perindukan biasanya sawah bertingkat yang
di pegunungan airnya bersumber dari mata air yang ada sepanjang tahun. Di
daerah seperti ini spesies Anopheles yang dominan adalah An. aconitus di
samping itu juga biasa ditemukan An. bar- birostris, An. vagus, An. kochi dll. Di
samping di sawah, An. aco- nitus juga bisa berkembang bi- ak di aliran sungai
irigasi yang berasal dari mata air yang sisinya ditumbuhi rumput. Kepadatan
nyamuk tertinggi, biasanya terjadi pa- da saat tanaman padi mulai berusia 50 hari
sampai panen tiba, pada saat daunnya telah rimbun.
Daerah pegunungan
Karakteristik daerah seperti ini adalah airnya jernih dan tawar, kelembaban
tinggi. Perairan yang dijadikan tem- pat perindukan adalah tepi danau yang
terlindung, mata air yang terlindung serta kobakan yang ada di dasar sungai pada
musim kemarau. Populasi Anopheles yang dominan di daerah ini adalah
An.maculatus. Di samping itu juga bisa ditemukan An. phili- pinensis, An.
ramsayi, An. annu- laris, An. barbirostris dll. Kepadatan nyamuk tertinggi
biasanya terjadi pada musim kemarau ketika air danau dan mata air volumenya
berku- rang dan debitnya mengecil. Juga dasar sungai pegunun- gan biasanya
menyusut dan tercipta beberapa kobakan di dasarnya.
4.1.5 patologi
Nyamuk Anopheles sp adalah adalah nyamuk vektor penyakit malaria.
Penularan malaria secara ilmiah berlangsung melalui gigitan nyamuk Anopheles
betina. Hanya spesies nyamuk Anopheles tertentu yang mampu menularkan
penyakit malaria dan spesies tersebut disebut sebagai vektor. Lebih dari 400
spesies Anopheles didunia, hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit
dan dapat menularkan malaria. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies
Anopheles yang menjadi vektor malaria.
Malaria merupakan penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, malaria
disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium ditandai dengan demam, anemia
dan splenomegali. Sampai sekarang dikenal 4 jenis plasmodium, yaitu :
1. plasmodium falciparum sebagai penyebab Malaria Tropika.
2. plasmodium vivaks sebagai penyebab penyakit Malaria Tertiana.
3. plasmodium malariae sebagai penyebab penyakit Malaria Quartana.
4. plasmodium ovale yang menyebabkan penyakit Malaria yang hampir serupa
dengan Malaria Tertiana. Dalam daur hidupnya Plasmodium mempunyai 2
hospes, yaitu vertebrata dan nyamuk. Siklus aseksual didalam hospes vertebrata
dikenal sebagai skizogoni dan siklus seksual yang terbentuk sporozoit disebut
sebagai sporogoni.
4.1.6 Etiologi
Siklus Hidup Malaria.
Dalam siklus hidupnya plasmodium mempunyai dua hospes yaitu pada
manusia dan nyamuk. Siklus Aseksual yang berlangsung pada manusia disebut
skizogoni dan siklus seksual yang membentuk sporozoit didalam tubuh nyamuk
disebut sporogoni
a. Siklus Aseksual dalam tubuh manusia.
Siklus parasit malaria adalah setelah nyamuk Anopheles yang mengandung parasit
malaria menggigit manusia, maka keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk
masuk kedalam darah dan jaringan hati. Parasit Malaria padPa siklus
hidupnya,membentuk stadium skizon jaringan dalam sel hati (ekso-eritrisiter).
Setelah sel hatipecah akan keluar merozoit/ kriptozoit yang masuk ke eritrosit
membentuk stadium skizon dalam eritrosit (stadium eritrositer), mulai bentuk
tropozoit muda sampai skizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan keluar
merozoit. Merozoit sebagian besar masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil
membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk
malaria betina dan melanjutkan siklus hidup di tubuh nyamuk/stadium sporogoni

Gambar 2.1: Siklus di luar sel darah merah

b. Siklus seksual dalam tubuh nyamuk.

Siklus dalam tubuh nyamuk

Setelah melewati stadium sporogoni selanjutnya pada lambung nyamuk terjadi


penyatuan antara sel gamet jantan (mikrogamet) dan sel gamet betina
(makrogamet) yang menghasilkan zigot. Zigot akan berubah menjadi ookinet,
kemudian masuk kedalam dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista.
Setelah ookista matang kemudian pecah, maka keluar sporozoit dan masuk ke
kelenjar liur nyamuk yang siap untuk ditularkan ke dalam tubuh manusia. Khusus
plasmodium vivax dan plasmodium ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati
(skizon jaringan), sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan
siklusnya ke sel eritrosit tetapi tertanam di jaringan hati di sebut hipnozoit, bentuk
hipnozoit inilah yang menyebabkan malaria relaps. Pada penderita yang
mengandung hipnozoit, apabila suatu saat dalamkeadaan daya tahan tubuh
menurun misalnya akibat terlalu lelah atau perubahan iklim (musim hujan), maka
hipnozoit akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit daridalam sel hati ke
eritrosit. Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul gejala penyakitnya
kembali.

Mekanisme penularan malaria

Siklus penularannya adalah sebagai berikut : orang yang sakit malaria digigit
nyamuk Anopheles dan parasit yang ada di dalam darah akan ikut terisap didalam
tubuh nyamuk dan akan mengalami siklus seksual (siklus sporogoni) yang
menghasilkan sporozoit. Nyamuk yang didalam kelenjar ludahnya sudah terdapat
sporozoit mengigit orang yang rentan, maka didalam darah orang tersebut akan
terdapat parasit dan berkembang didalam tubuh manusia yang dikenal dengan
siklus aseksual

Penularan Penyakit Malaria dikenal ada berbagai cara :

1) Penularan secara alamiah (natural infection) : penularan ini terjadi melalui


gigitan

nyamuk Anopheles. Nyamuk ini jumlahnya kurang lebih ada 80 jenis dan dari 80
jenis tersebut terdapat kurang lebih 16 jenis sebagai vektor penyebaran malaria di
Indonesia.

2) Penularan yang tidak alamiah, antara lain : Seorang yang sakit malaria dapat
menulari 25 orang disekitarnya dalam waktu satu musim penularan atau 3 bulan

a) Malaria bawaan (congenital).

Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria,
penularan terjadi melalui tali pusat atau plasenta.

b) Secara mekanik.

Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik yang tidak
steril.
c) Secara oral ( Melalui Mulut ).

Pada umumnya sumber infeksi malaria pada manusia adalah manusia lain yang
sakit malaria baik dengan gejala klinis maupun tanpa gejala klinis. Masa inkubasi
pada penularan secara alamiah bagi masing-masing species parasit adalah sebagai
berikut

a. Plasmodium Falciparum 9 - 14 hari.

b. Plasmodium vivax 12 17 hari.

c. Plasmodium malariae 18 - 40 hari.

d. Plasmodium Ovale 16 -18 hari.

4.1.7 Epidemiologi malaria


Secara alamiah, penularan malaria terjadi karena adanya interaksi antara agent
(parasit Plasmodium spp), host de finitive (nyamuk Anopheles spp) dan host
intermediate (manusia). Karena itu, penularan malaria dipengaruhi oleh
keberadaan dan fluktuasi populasi vektor (penular yaitu nyamuk Anopheles spp),
yang salah satunya dipengaruhi oleh intensitas curah hujan, serta sumber parasit
Plasmodium spp. atau penderita di samping adanya host yang rentan.Sumber
parasit Plasmodium spp. adalah host yang menjadi penderita positif malaria Tapi
di daerah endemis malaria tinggi, seringkali gejala klinis pada penderita tidak
muncul (tidak ada gejala klinis) meskipun parasit terus hidup di dalam tubuhnya.
Ini disebabkan adanya perubahan tingkat resistensi manusia terhadap parasit
malaria sebagai akibat tingginya frekuensi kontak dengan parasit, bahkan di
beberapa negara terjadinya kekebalan ada yang diturunkan melalui mutasi
genetik. Keadaan ini akan mengakibatkan penderita carrier (pembawa penyakit)
atau penderita malaria tanpa gejala klinis (asymptomatic), setiap saat bisa
menularkan parasit kepada orang lain, sehingga kasus baru bahkan kejadian luar
biasa (KLB) malaria bisa terjadi pada waktu yang tidak terduga.Selain penularan
secara alamiah, malaria juga bisa ditulakan melalui transfusi darah atau
transplasenta dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya. Kejadian luar biasa
(KLB) ditandai dengan peningkatan kasus yang disebab- kan adanya peningkatan
populasi vektor sehingga transmisi malaria meningkat dam jumlah kesakitan
malaria juga me- ningkat. Sebelum peningkatan populasi vektor, selalu didahului
perubahan lingkungan yang berkaitan dengan tempat perindukan potensial seperti
luas perairan, flora serta karakteristik lingkungan yang mengakibatkan
meningkatnya kepadatan larva. Untuk mencegah KLB malaria, maka peningkatan
vektor perlu diketahui melalui pengamatan yang terus menerus (surveilans).4
Ketika parasit dalam bentuk sporozoit masuk ke dalam tubuh manusia melalui
gigitan nyamuk Anopheles spp, kurang lebih dalam waktu 30 menit akan sampai
ke dalam sel hati. Selanjutnya akan melakukan siklus dalam sel hati dengan
berubah dari sporozoit menjadi schizon hati muda, kemudian tua dan matang.
Selanjutnya schizon hati yang matang.

4.1.8 Pengendalian Nyamuk Anopheles


1. Pengendalian yang mungkin dan sudah di lakukan
Nyamuk Anopheles dewasa ini banyak sekali metode pengendalian vector dan
binatang pengganggu yang telah dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia. Dari
berbagai metode yang telah dikenal dapat dikelompokkan sebagai berikut.
1) Pengendalian dengan cara menghindari/mengurangi kontak atau gigitan nyamuk
Anopheles.
a. Penggunaan kawat kasa pada ventilasi.
Dimana keadaan rumah ventilasi udara dipasangi atau tidak dipasangi kawat kasa
ini berfungsi untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah.
b. Menggunakan kelambu pada waktu tidur.
Kebiasaan menggunakan kelambu pada tempat yang biasa di pergunakan sebagai
tempat tidur dan di gunakan sesuai dengan tata cara penggunaan kelambu untuk
tempat tidur dan waktu penggunaan kelambu saat jam aktif nyamuk mencari
darah.
c. Menggunakan zat penolak (Repellent).
Untuk kebiasaan penggunaan repellent yang digunakan pada saat atau waktu
nyamuk menggigit atau pada waktu akan tidur malam atau pada waktu lain di
malam hari.
2) Pengendalian dengan cara genetik dengan melakukan sterelisasi pada nyamuk
dewasa.
3) Pengendalian dengan cara menghilangkan atau mengurangi tempat perindukan,
yang termasuk kegiatan ini adalah :
a. Penimbunan tempat-tempat yang dapat menimbulkan genangan air.
b. Pengeringan berkala dari satu sistem irigasi.
c. Pengaturan dan perbaikan aliran air.
d. Pembersihan tanaman air dan semak belukar.
e. Pengaturan kadar garam misalnya pada pembuatan tambak ikan atau udang.
4) Pengendalian Cara Biologi.
Pengendalian dengan cara ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh
alaminya (predator) atau dengan menggunakan protozoa, jamur dan beberapa
jenis bakteri serta jenis-jenis nematoda.
5) Pengendalian Cara Fisika-Mekanik.
Pengendalian dengan Fisika-Mekanik ini menitik beratkan usahanya pada
penggunaan dan memanfaatkan faktor-faktor iklim kelembaban suhu dan cara-
cara mekanis.
6) Pengendalian dengan cara pengolaan lingkungan (Environmental management).
Dalam pengendalian dengan cara pengelolaan lingkungan dikenal dua cara
yaitu .
a. Perubahan lingkungan (Environmental Modivication).
Meliputi kegiatan setiap pengubahan fisik yang permanen terhadap tanah, air
dan tanaman yang bertujuan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi
tempat perindukan nyamuk tanpa menyebabkan pengaruh yang tidak baik
terhadap kuwalitas lingkungan hidup manusia. Kegiatan ini antara lain dapat
berupa penimbunan (filling), pengertian (draining), perataan permukaan tanah dan
pembuatan bangunan, sehingga vektor dan binatang penganggu tidak mungkin
hidup.
b. Manipulasi Lingkungan (Environment Manipulation)
Sehingga tidak memungkinkan vektor dan binatang pengganggu berkembnang
dengan baik. Kegiatan ini misalnya dengan merubah kadar garam (solinity),
pembersihan tanaman air atau lumut dan penanaman pohon bakau pada pantai
tempat perindukan nyamuk sehingga tempat itu tidak mendapatkan sinar matahari.

2. Pengendalian Dengan Cara Kimia (Chemical Control)


Pengendalian dengan cara kimia (Chemical Control) ini disebut juga
pengendalian dengan menggunakan pestisida. Pestisida adalah suatu zat kimia
yang dapat membunuh vektor dan binatang pengganggu. Disamping pengendalian
secara langsung kepada vektor, pengendalian secara kimiawi juga bisa dilakukan
terhadap tanaman yang menunjang kehidupan vektor dan binatang penggangu
dengan menggunakan herbisida. Penggunaan pestisida untuk mengendalikan
vektor dan binatang pengganggu memang sangat efektif tetapi dapat menimbulkan
masalah yang serius karena dapat merugikan manusia dan lingkungannya.

3. Pemanfaatan Ekstrak Daun Zodia


Zodia merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari daerah Irian
(Papua). Oleh penduduk setempat tanaman ini biasa digunakan untuk menghalau
serangga, khususnya nyamuk apabila hendak pergi ke hutan, yaitu dengan cara
menggosokkan daunnya ke kulit.
Selain itu tanaman yang memiliki tinggi antara 50 cm hingga 200 cm (rata-
rata 75 cm) di percaya mampu mengusir nyamuk dan serangga lainnya dari sekitar
tanaman. Oleh sebab itu, tanaman ini sering di tanam di pekarangan ataupun di
pot untuk menghalau nyamuk. Aroma yang dikeluarkan oleh tanaman zodia cukup
wangi.
Biasanya tanaman ini mengeluarkan aroma apabila tanaman tergoyah oleh
tiupan angin hingga di antara daunnya saling menggosok maka keluarlah aroma
yang wangi.
Saat ini sebagian masyarakat menyimpan tanaman zodia pada pot didalam
ruangan sehingga selain memberikan aroma yang khas, juga aromanya dapat
menghalau nyamuk didalam ruangan. Namun demikian tidak berarti bahwa
nantinya di dalam ruangan terdapat bangkai nyamuk sebagai akibat dari tanaman
ini, nyamuk hanya terusir karena tidak menyukai aroma dari tanaman ini.
Penyimpanan tanaman juga sering diletakkan disekitar tempat angin masuk ke
dalam ruangan, nyamuk yang hendak masukpun terhalau.

4.1.9 Manifestasi klinis Malaria

Manifestasi klinis malaria yang biasa ditemukan yaitu demam (pengukuran


dengan thermometer > 37,5 derajat Celcius) , menggigil, berkeringat dan dapat
disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal dapat
juga ditemukan konjungtiva dan telapak tangan pucat, pembesaran limpa
(splenomegali), pembesaran hati (hepatomegali) dan pada keadaan malaria dengan
komplikasi dapat ditemukan gangguan kesadaran dalam berbagai derajat, keadaan
umum yang sangat lemah (tidak mampu duduk atau berdiri), kejang-kejang, mata
dan tubuh kuning. Ketika didapati gejala klinis seperti diatas penderita harus
segera dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan secara mikroskopik untuk
kepastian diagnosis.

4.1.10 Pengobatan
Berdasarkan hasil pemeriksaan pengobatan yang biasa diberikan adalah :

1. Klorokuin

Kerja obat ini terhadap skizon darah: sangat efektif terhadap semua jenis parasit
malaria dengan menekan gejala klinis dan menyembuhkan secara klinis dan
radikal, obat pilihan terhadap serangan akut, demam hilang dalam 24 jam dan
parasitemia hilang dalam 48-72 jam; bila penyembuhan lambat dapat dicurigai
terjadi resistensi (gagal obat) terhadap Plasmudium falciparum yang resisten
klorokuin masih dapat mencegah kematian dan mengurangi penderitaan.
Gametosit tidak evektif terhadap gamet dewasa tetapi masih efektif terhadap
gamet muda. Efek sampingnya gangguan gastro-intestinal seperti mual, muntah,
diare terutama bila perut dalam keadaan kosong pandangan kabur, sakit kepala,
pusing (vertigo) gangguan pendengaran.
Kerja obat ini bagi skizon jaringan sangat efektif terhadap Plasmudium falciparum
dan Plasmudium vivax, terhadap Plasmudiummalaria tidak diketahui, skizon
darah: aktif terhadap Plasmudium falciparum dan Plasmudium vivax tetapi
memerlukan dosis tinggisehingga perlu hati-hati, gametosit sangat efektif
terhadap semua spesies parasit, hipnosoit dapat memberikan kesembuhan radikal
padaPlasmudium vivax dan Plasmudium ovale. Efek sampingnya: gangguan
gastro-intestinal seperti mual, muntah, anoreksia, sakit perutterutama bila dalam
keadaan kosong, Kejang-kejang atau gangguan kesadaran, gangguan sistem
haemopoitik. (Nuraini Widjajanti,v.1988)

2. Kina

Kerja obat ini adalah skizon darah sangat efektif terhadap penyembuhan secara
klinis dan radikal Gametosit: tidak berefek terhadap semua gamet dewasa
Plasmudium falciparum dan terhadap spesies lain cukup efektif. Efek sampingnya
3. Primakuin

adalah chinchonisme Syndrom dengan keluhan pusing, sakit kepala, gangguan


pendengaran telinga berdenging (tinuitis dll), mual dan muntah, tremor dan
penglihatan kabur.

4. Sulfadoksin Pirimetamin (SP)

Kerja obat ini adalah skizon darah sangat efektif terhadap semua Plasmudium
falciparum dan kuRang efektif terhadap parasit lain dan menyembuhkan secara
radikal. Efeknya bisa lambat bila dipakai dosis tunggal sehingga harus
dikombinasikan dengan obat lain (Pirimakuin) .Gametosit: tidak efektif terhadap
gametosit tetapi pirimetamin dapat mensterilkan gametosit. Efek sampingnya
gangguan gastro-intestinal seperti mual, muntah pandangan kabur sakit kepala,
pusing (vertigo) ,haemolisis,anemia aplastik.

4.2 Culex quinquefasciatus


4.2.1 Klasifikasi
Menurut Clement (1963) dan Dharmawan (1993) klasifikasi dari nyamuk
Culex quinquefasciatus adalah:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Sub filum : Mandibulata
Kelas : Insecta
Sub kelas : Pterygota
Ordo : Diptera
Sub Ordo : Nematocera
Famili : Culicidae
Sub Famili : Culicinae
Genus : Culex
Spesies : Culex quinquefasciatus
Culex quinquefasciatus termasuk dalam ordo Diptera (sayap sepasang) Yng
mengalami metamorfosis sempurna, yaitu melewati tahapan telur-larva-pupa-
dewasa. Dari larva sampai dengan pupa berkembang di dalam air. Dalam waktu 1-
2 hari telur menetas menjadi larva yang disebut larva instar 1. Selanjutnya larva
instar 1 berkembang menjadi larva instar 2, 3 dan 4. Setiap pergantian instar
ditandai dengan pengelupasan kulit yang disebut dengan ekdisis (moulting).
Setelah mengalami pengelupasan kulit, larva instar 4 akan berubah menjadi
stadium pupa. Nyamuk dewasa merupakan tahapan serangga yang aktif terbang,
sedangkan larva dan pupa merupakan tahapan organisme aquatik yang hanya
hidup di air. Dalam keadaan optimal perkembangan larva sekitar 6-8 hari dan
perkembangan pupa 2-4 hari (Pranoto et al, 1989).
4.2.2 Morfologi
Nyamuk mempunyai beberapa ciri yaitu tubuhnya dibedakan atas kaput,
toraks, abdomen dan mempunyai 3 pasang kaki dan sepasang antena. Satu pasang
sayap dan halter menempatkan nyamuk pada ordo Diptera. Sisik pada sayap dan
adanya alat mulut yang panjang seperti jarum menempatkan nyamuk ke dalam
famili Culicidae (Borror dkk, 1992). Genus Culex dicirikan dengan bentuk
abdomen nyamuk betina yang tumpul pada bagian ujungnya.
Kepala Culex umumnya bulat atau sferik dan memiliki sepasang mata,
sepasang antena, sepasang palpi yang terdiri atas 5 segmen dan 1 probosis antena
yang terdiri atas 15 segmen. Berbeda dengan Aedes, pada genus Culex tidak
terdapat rambut pada spiracular maupun pada post spiracular. Panjang palpus
maxillaries nyamuk jantan sama dengan probosis.
Bagian toraks nyamuk terdiri atas 3 bagian, yaitu protoraks, mesotoraks dan
metatoraks. Bagian metatoraks mengecil dan terdapat sepasang sayap yang
mengalami modifikasi menjadi halter. Abdomen terdiri atas 8 segmen tanpa bintik
putih di tiap segmen. Ciri lain dari nyamuk Culex adalah posisi yang sejajar
dengan bidang permukaan yang dihinggapi saat istirahat atau saat menusuk
dengan kaki belakang yang sedikit terangkat (Setiawati, 2000).
Genus Culex dikenali dengan struktur skuletumnya yang trilobus, ujung
abdomen yang tumpul dan badannya yang penuh dengan sisik-sisik. Selain itu,
struktur yang membedakan genus ini dengan genus yang lain adalah struktur yang
disebut pulvilus yang berdekatan dengan kuku di ujung kaki nyamuk (Setiawati,
2000). Nyamuk Culex quinquefasciatus berwarna coklat, berukuran sedang,
dengan bintik-bintik putih di bagian dorsal abdomen. Sedangkan kaki dan
proboscis berwarna hitam polos tanpa bintik-bintik putih. Spesies ini sulit
dibedakan dengan nyamuk genus Culex lainnya.
4.2.3 Siklus Hidup
Seluruh siklus hidup Culex quinquefasciatus mulai dari telur hingga dewasa
membutuhkan waktu sekitar 14 hari. Untuk bertelur, nyamuk betina akan mencari
tempat yang sesuai dengan genangan air yang lembab.

Gambar. Daur hidup nyamuk Culex quinquefasciatus(Anonim,


2005.www.geocities.com).
Metamorfosis sempurna nyamuk Culex, adalah sebagai berikut:
a. Telur
Nyamuk Culex meletakkan telur di atas permukaan air secara bergerombol dan
bersatu membentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung. Sekali bertelur
menghasilkan 100 telur dan biasanya dapat bertahan selama 6 bulan. Telur akan
menjadi jentik setelah sekitar 2 hari.
Gambar. Telur Nyamuk Culex quinquefasciatus(Anonim, 2005).
b. Larva
Salah satu ciri dari larva nyamuk Culex adalah memiliki siphon. Siphon dengan
beberapa kumpulan rambut membentuk sudut dengan permukaan air. Nyamuk
Culex mempunyai 4 tingkatan atau instar sesuai dengan pertumbuhan larva
tersebut, yaitu:
1. Larva istar I, berukurab paling kecil, yaitu 1-2 mm atau 1-2 hari
setelah menetas. Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong
pernafasan pada siphon belum jelas.
2. Larva II, berukuran 2,5-3,5 mm atau 3-4 hari setelah menetas.
Duri-duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
3. Larva instar III, berukuran 4-5 mm atau 3-4 hari setelah telur
menetas. Duri-duri dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna
coklat kehitaman.
4. Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5-6 mm atau 4-6 hari
setelah telur menetas, dengan warna kepala hitam.

Gambar. Larva Nyamuk Culex quinquefasciatus(Matsumura, 1985).


c. Pupa
Tubuh pupa berbentuk bengkok dan kepalanya besar. Pupa membutuhkan
waktu 2-5 hari. Pupa tidak makan apapun. Sebagian kecil tubuh pupa kontak
dengan permukaan air, berbentuk terompet panjang dan ramping, setelah 1-2 hari
akan menjadi nyamuk Culex (Kardinan, 2003).
Gambar. Pupa Nyamuk Culex quinquefasciatus(Matsumura, 1985).
Keterangan :
1. Antena
2. Kaki
3. Tabung pernapasan
d. Nyamuk Dewasa
ciri-ciri nyamuk Culex dewasa adalah berwarna hitam belang-belang putih,
kepala berwarna hitam dengan putih pada ujungnya. Pada bagian thorak terdapat 2
garis putih berbentuk kurva.

Gambar. Nyamuk Culex quinquefasciatus dewasa (Matsumura, 1985).


Keterangan :
1. Kaki belakang
2. Kepala
3. Palp
4. Palp kecil
5. Belalai
6. Torak
7. Kaki tengah
8. Abdomen
9. Sayap
10. Antena
4.2.4 Bionomik Nyamuk Culex
a. Tempat berkembang biak
Nyamuk Culex sp suka berkembang biak di sembarang tempat misalnya di air
bersih dan air yang kotor yaitu genangan air, got terbuka dan empang ikan.
b. Perilaku makan
Nyamuk Culex sp suka menggigit manusia dan hewan terutama pada malam
hari. Nyamuk Culex sp suka menggigit binatang peliharaan, unggas, kambing,
kerbau dan sapi. Menurut penelitian yang lalu kepadatan menggigit manusia di
dalam dan di luar rumah nyamuk Culex sp hampir sama yaitu di luar rumah
(52,8%) dan kepadatan menggigit di dalam rumah (47,14%), namun ternyata
angka dominasi menggigit umpan nyamuk manusia di dalam rumah lebih tinggi
(0,64643) dari nyamuk menggigit umpan orang di luar rumah (0,60135).
c. Kesukaan beristirahat
Setelah nyamuk menggigit orang atau hewan nyamuk tersebut akan
beristirahat selama 2 sampai 3 hari. Setiap spesies nyamuk mempunyai kesukaan
beristirahat yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp suka beristirahat dalam rumah.
Nyamuk ini sering berada dalam rumah sehingga di kenal dengan nyamuk
rumahan.
d. Aktifitas menghisap darah
Nyamuk Culex sp suka menggigit manusia dan hewan terutama pada malam
hari (nocturnal). Nyamuk Culex sp menggigit beberapa jam setelah matahari
terbenam sampai sebelum matahari terbit. Dan puncak menggigit nyamuk ini
adalah pada pukul 01.00-02.00.

4.2.5 Habitat
Nyamuk dewasa merupakan ukuran paling tepat untuk memprediksi potensi
penularan arbovirus.Larva dapat di temukan dalam air yang mengandung tinggi
pencemaran organik dan dekat dengan tempat tinggal manusia. Betina siap
memasuki rumah-rumah di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi
untuk mamalia lain.
4.2.6 Faktor Lingkungan Fisik
1. Suhu
Faktor suhu sangat mempengaruhi nyamuk Culex sp dimana suhu yang tinggi
akan meningkatkan aktivitas nyamuk dan perkembangannya bisa menjadi lebih
cepat tetapi apabila suhu di atas 350C akan membatasi populasi nyamuk. Suhu
optimum untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara 200C 300C. Suhu udara
mempengaruhi perkembangan virus dalam tubuh nyamuk.
2. Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara
yang dinyatakan dalam (%). Jika udara kekurangan uap airyang besar maka daya
penguapannya juga besar. Sistem pernafasan nyamuk menggunakan pipa udara
(trachea) dengan lubang-lubang pada dinding tubuh nyamuk (spiracle). Adanya
spiracle yang terbuka lebar tanpa ada mekanisme pengaturannya. Pada saat
kelembaban rendah menyebabkan penguapan air dalam tubuh sehingga
menyebabkan keringnya cairan tubuh. Salah satu musuh nyamuk adalah
penguapan, kelembaban mempengaruhi umur nyamuk, jarak terbang, kecepatan
berkembang biak, kebiasaan menggigit, istirahat dan lain-lain.
3. Pencahayaan
Pencahayaan ialah jumlah intensitas cahaya menuju ke permukaan per unit
luas. Merupakan pengukuran keamatan cahaya tuju yang diserap. Begitu juga
dengan kepancaran berkilau yaitu intensitas cahaya per unit luas yang dipancarkan
dari pada suatu permukaan. Dalam unit terbitan SI, kedua-duanya diukur dengan
menggunakan unit lux (lx)atau lumen per meter persegi (cd.sr.m-2). Bila dikaitkan
antara intensitas cahaya terhadap suhu dan kelembaban, hal ini sangat
berpengaruh. Semakin tinggi atau besar intensitas cahaya yang dipancarkan ke
permukaan maka keadaan suhu lingkungan juga akan semakin tinggi. Begitu juga
dengan kelembaban, semakin tinggi atau besar intensitas cahaya yang dipancarkan
ke suatu permukaan maka kelembaban di suatu lingkungan tersebut akan menjadi
lebih rendah.
4.2.7 Predileksi
Juwita (2011) menyatakan bahwa : tempat yang disenangi oleh nyamuk
Culex quinquefasciatus adalah dinding rumah, kandang ternak dan semak-semak.
Nyamuk genus Culex ini mempunyai kebiasaan menghisap pada malam hari saja
(Dinata, 2009).
4.2.1 Patologi
Nyamuk Culex quinquefasciatus merupakan golongan serangga penular
(vector). Nyamuk dari spesies Culex quinquefasciatus dapat menyebarkan
penyakit Japanese Enchephalitis (radang otak), West Nile Virus, Filariasis, St
Louis encephalitis. Japanese Encephalitis (JE) adalah suatu penyakit yang
menyerang susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus (Anonim, 2006).
4.2.2 Etiologi Penyakit Japanese Encephalitis
Japanese Encephalitis (JE) merupakan penyakit zoonosa yang dapat
menyebabkan terjadinya radang otak pada hewan dan manusia. Penyakit ini
bersifat arbovirus karena ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan
nyamuk. Penyakit ini telah menyebar luas di Asia bagian Timur seperti Jepang,
Korea, Siberia, China, Taiwan, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Philipina,
Malaysia, Indonesia, Myanmar, Banglades, India, Srilangka, dan Nepal. Di
Indonesia, kasus JE pertama kali dilaporkan pada tahun 1960 (Erlanger 2010).
Kasus JE banyak di laporkan di daerah Bali. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Liu et al. (2009) menyebutkan bahwa identifikasi kasus
encephalitis dirumah sakit di Bali antara tahun 2001-2004 menemukan 163 kasus
encephalitis dan 94 diantranya secara serologis mengarah pada kasus JE. Selain
itu, kasus JE pada manusia juga dilaporkan di beberapa daerah yaitu di Sumatra
Barat, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara
Barat, Nusa Tenggra Timur dan Papua (Ompusunggu et al. 2008).
Penyebab penyakit ini ialah virus Japanese Encephalitis dari family
Flaviviridae. Virus Japanese Encephalitis ditularkan lewat perantara hewan yaitu
oleh nyamuk Culex. Penykit ini jug termasuk kedalam zoonosis karena dapat
menginfeksi manusia dan juga hewan. Pada hewan virus ini biasanya menyerang
babi dan burung liar.
4.2.3 Prevalensi
Menurut Sendow dkk, (2000) menyatakan bahwa prevalensi tertinggi
ditemukan pada sapi (51%) dan terendah pada babi, anjing dan kuda (11%, 12%
dan 14%).
4.2.4 Epidemiologi
Menurut Kanamitsu et al., (1979) vektor JE terdapat di seluruh Indonesia,
tetapi di sebelah timur garis Wallace kecuali Lombok, antibody terhadap JE pada
orang sangat jarang teradapat. Berdasarkan fakta ini garis Wallace merupakan
batas penyebaran virus JE ke sebelah timur Indonesia. Tetapi perkembangan
terakhir menunjukan bahwa ada kemungkinan virus JE ini telah menyebar ke
bagian timur Indonesia (Poerwosoedarmo et al.,1996).
Di daerah tropis, virus JE senantiasa beredar di antara nyamuk, burung dan
babi (Harwood dan James, 1979; Blaha, 1989). Berbagai jenis burung air seperti
burung Heron (burung cangak atau kowak) dan Egret (burung kuntul) merupakan
resevoar utama atau inang pemelihara (maintenance host) di alam bagi virus JE.
Adapun babi merupakan inang amplifier (amplifier host) yang dapat menunjukan
gejala klinis terutama pada babi-babi bunting. Infeksi pada manusia dan kuda
dapat menyebabkan gejala encephalitis yang hebat dan fatal, meskipun
sebenarnya manusia dan kuda hanya sebagai inang insidental (incidental host).
Infeksi yang tidak menampakkan gejala klinis juga terjadi pada sapi, domba, dan
kambing, serta hewan lain seperti anjing, kucing, rodensia, kelelawar, ular dan
katak.
4.2.5 Gejala Klinis
Gejala klinis yang biasa ditunjukkan pada kasus Japanese Encephalitis
biasanya berupa gejala yang non-spesifik seperti demam, yang diikuti dengan
sakit kepala, muntah, dan penurunan tingkat kesadaran. Karena jaringan yang
menutupi otak dan sumsum tulang belakang menjadi terinfeksi dan bengkak,
penderita biasanya akan mengalami kekakuan pada leher dan merasa sangat
menyakitkan. Kemudian dalam dua atau tiga hari, penderita mulai mengalami
efek pembengkakan pada otak. Efek ini dapat berupa gangguan dengan
keseimbangan dan koordinasi, kelumpuhan pada beberapa kelompok otot, tremor,
kejang, dan gangguan dalam kesadaran (Solomon et al. 2000).
Penderita juga mengalami dehidrasi dan kehilangan berat badan. Jika
penderita dapat bertahan dengan sakitnya, demam akan turun pada waktu sekitar
hari ke 7, dan gejala akan mulai meningkat lagi sekitar pada hari ke 14. Sementara
itu ada juga penderita yang akan terus mengalami demam sangat tinggi dan
gejalanya terus bertambah buruk. Dalam kasus ini, biasanya akan diikuti dengan
gejala koma dan kemudian kematian yang terjadi dalam 7-14 hari. Banyak juga di
antar penderita yang telah sembuh tetapi diikuti dengan cacat permanen akibat
kerusakan otak (Solomon et al. 2000).
Pada anak-anak penyakit ini juga dilaporkan dapat menyebabkan abnormalitas
prilaku. Pada beberapa anak gejala klinis yang muncul dapat berupa kejang
tunggal yang diikuti dengan pemulihan kesadaran yang cepat. Gejala-gejala
kejang yang biasa terjadi ialah menyebabkan gemetar pada digit atau mulut,
deviasi mata, nystagmus, air liur berlebih, atau respirasi tidak teratur (Solomon et
al. 2000).

4.2.6 Pengendalian
Secara garis besar ada 3 cara pengendalian vector, yaitu dengan cara 1)
kimiawi, 2) biologis, dan 3) mekanik atau pengelolaan lingkungan (Dinata, 2006).
Pengendalian secara kimiawi biasanya digunakan insektisida dari golongan
orghanochlorine, organophosphor, carbamate dan pyrethoid. Bahan-bahan tersebut
dapat diaplikasikan dalam bentuk penyemprotan terhadap rumah-rumah penduduk
(Dinata, 2006).
Pencegahan secara mekanik, cara ini dapat di lakukan dengan mengubur
kaleng-kaleng atau tempat-tempat sejenis yang dapat menampung air hujan
danmembersihkan lingkungan yang berpotensial di jadikan sebagai sarang
nyamuk Culex sp misalnya got dan potongan bambu. Pengendalian mekanis lain
yang dapat dilakukan adalah pemasangan kelambu dan pemasangan perangkap
nyamuk baik menggunakan cahaya lampu dan
raket pemukul.
Pengendalian lingkungan digunakan beberapa cara antara lain dengan
mencegah nyamuk kontak dengan manusia yaitu dengan memasang kawat kasa
pada lubang ventilasi, jendela dan pintu. Cara yang lan yaitu dengan gerakan 3M
plus yaitu: 1) menguras tempat-tempat penampungan air, 2) menutup rapat
tempat penampungan air, 3) menimbun barang-barang bekas atau sampah yang
dapat menampung air hujan dalam tanah. plus menabur bubuk pembasmi jentik
(larvasida), memelihara ikan pemakan jentik di tempat penampungan air dan
pemasangan kelambu (Dinata, 2006).
Pencegahan secara biologi, intervensi yang di dasarkan pada pengenalan
organisme pemangsa, parasit, pesaing untuk menurunkan jumlah Culex sp. Ikan
pemangsa larva misalnya ikan kepala timah, gambusia ikan mujaer dan nila di bak
dan tempat yang tidak bisa ditembus sinar matahari misalnya tumbuhan bakau
sehingga larva itu dapat di makan oleh ikan tersebut dan merupakan dua
organisme yang paling sering di gunakan. Keuntungan dari tindakan pengendalian
secara biologis mencakup tidak adanya kontaminasi kimiawi terhadap lingkungan.
Selain dengan penggunaan organisme pemangsa dan pemakan larva nyamuk
pengendalian dapat di lakukan dengan pembersihan tanaman air dan rawa-rawa
yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau
mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk dan membersihkan
semak-semak di sekitar rumah dan dengan adanya ternak seperti sapi, kerbau dan
babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia apabila kandang
ternak di letakkan jauh dari rumah.
Sejauh ini karena JE merupakan penyakit virus, maka tidak ada pengobatan
untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan virus ini. Pengobatan
hanya dapat dilakukan dengan cara simptomatis yaitu menghilangkan gejala-
gejala yang terlihat setiap penderita. Cairan bisa diberikan untuk mengurangi
dehidrasi dan obat-obatan diberikan untuk mengurangi demam dan rasa sakit.
Dapat juga diberikan obat-obatan yang dapat mengurangi pembengkakan otak.
Penderita yang dalam keadaan koma mungkin diberikan bantuan-bantuan yang
sifatnya mekanik dengan bantuan pernapasan.

4.3 Aedes aegypti

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus


dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga
merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya.
Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh
dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama
(primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran
dengue di desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah,
masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan
jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah.
Aedes aegyptiadalah nyamuk yang termasuk dalam subfamili Culicinae,
famili Culicidae, ordo Diptera, kelas Insecta. Nyamuk ini berpotensi untuk
menularkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). DBD adalah suatu penyakit
yang ditandai dengan demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun di
bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan syok dan kematian. Penyakit DBD
ini terutama menyerang anak-anak termasuk bayi, meskipun sekarang proporsi
penderita dewasa meningkat.
Penyebab penyakit demam berdarah ialah virus Dengue yang termasuk
dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Terdapat empat serotipe dari virus
Dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, yang semuanya dapat
menyebabkan DBD. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti.
Nyamuk betina terinfeksi melalui pengisapan darah dari orang yang sakit. Tempat
perindukan Aedes aegypti dapat dibedakan atas tempat perindukan sementara,
permanen, dan alamiah. Tempat perindukan sementara terdiri dari berbagai
macam tempat penampungan air (TPA) yang dapat menampung genangan air
bersih. Tempat perindukan permanen adalah TPA untuk keperluan rumah tangga
dan tempat perindukan alamiah berupa genangan air pada pohon. Cara yang saat
ini dianggap tepat untuk mengendalikan penyebaran DBD adalah dengan
mengendalikan populasi dan penyebaran vektor, yaitu dengan 3M: menguras bak
mandi, menutup TPA, dan mengubur barang bekas.

4.3.1 Morfologi Nyamuk Aedes Aegyti


Ciri-ciri jentik Aedes aegypti :
a. Bentuk siphon besar dan pendek yang terdapat pada abdomen terakhir
b. Bentuk comb seperti sisir
c. Pada bagian thoraks terdapat stroot spine
Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti
a. Bentuk tubuh kecil dan dibagian abdomen terdapat bintik-bintik serta
berwarna hitam.
b. Tidak membentuk sudut 90
c. Penyebaran penyakitnya yaitu pagi atau sore
d. Hidup di air bersih serta ditempat-tempat lain yaitu kaleng-kaleng bekas
yang bisa menampung air hujan
e. Penularan penyakit dengan cara membagi diri.
f. Menyebabkan penyakit DBD.
Telur Aedes aegypti
Telur Aedes Aegypti diletakkan pada bagian yang berdekatan dengan
permukaan air atau menempel pada permukaan benda yang terapung. Jentik
nyamuk Aedes Aegypti memiliki rambut abdomen dan pada stadium ini jentik
membentuk sudut dan terdapat alat untuk menghisap oksigen.
Larva Aedes aegepty
Larva Aedes aegepty membentuk sudut dan terdapat alat untuk menghisap
oksigen. Probosis Aedes lebih panjang daripada nyamuk lainnya. Pupa merupakan
stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air. Pada stadium ini tidak
memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap sehingga dapat terbang.
Stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari. Pada
fase ini nyamuk membutuhkan waktu 2-5 hari untuk menjadi nyamuk.
Pupa nyamuk aedes aegypti
Pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk
yang dapat terbang dan keluar dari air. Stadium pupa pada nyamuk Aedes berada
dibawah permukaan air dengan melingkarkan badannya. Ekor pupa agak lurus
dengan kepala melingkar dan menempel dibadannya namun tidak bertemu dengan
ekor. Ciri morfologi yang khas yaitu memiliki tabung atau terompet pernafasan
yang berbentuk segitiga. Setelah berumur 1 2 hari, pupa menjadi nyamuk
dewasa (jantan atau betina). Pada pupa terdapat kantong udara yang terletak
diantara bakal sayap nyamuk dewasa dan terpasangsayap pengayuh yang saling
menutupi sehingga memungkinkan pupa untuk Ekor pupa agak lurus dengan
kepala melingkar dan menempel dibadannya namun tidak bertemu dengan ekor.
Nyamuk Dewasa Aedes aegypty
Nyamuk Aedes aegypti jantan hanya manghisap cairan tumbuh-tumbuhan atau
sari bunga untuk keperluan hidupnya, sedangkan yang betina menghisap darah.
Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia daripada darah binatang. Darah
diperlukan untuk pemasakan telur agar jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan,
telur yang dihasilkan dapat menetas. Setelah berkopulasi, nyamuk betina
menghisap darah dan tiga hari kemudian akan bertelur sebanyak kurang lebih 100
butir. Nyamuk akan menghisap darah setelah 24 jam kemudian dan siap bertelur
lagi. Setelah menghisap darah, nyamuk ini beristirahat di dalam atau kadang-
kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Tempat
hinggap yang disenangi adalah benda-benda tergantung seperti kelambu, pakaian,
tumbuh-tumbuhan, di tempat ini nyamuk menunggu proses pemasakan telur.
4.3.2 siklus hidup
Nyamuk Aedes aegypti memiliki siklus hidup sempurna. Siklus hidupn
yamuk ini terdiri dari empat fase, mulai dari telur, larva, pupa dan
kemudianmenjadi nyamuk dewasa. Nyamuk Aedes aegypti meletakkan telur pada
permukaanair bersih secara individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan
terpisah satudengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva.
Terdapatempat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar.
Perkembangan dariinstar 1 ke instar 4 memerlukan waktu sekitar 5 hari. Setelah
mencapai instar ke-4, 10larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki
masa dorman. Pupa bertahanselama 2 hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa
keluar dari pupa. Perkembangandari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan
waktu 8 hingga 10 hari, namundapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak
mendukung

4.3.3 Perilaku menggigit nyamuk aedes aegypti


Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia (anthropophilic) daripada darah
binatang dan nyamuk jantan hanya tertarik pada cairan mengandung gula seperti
pada bunga. Aedes aegypti biasanya menggigit nyamuk ini memiliki kebiasaan
menghisap darah pada jam 08.00-12.00 WIB dan sore hari antara 15.00-17.00
WIB (Lestari dkk, 2011). Malam harinya lebih suka bersembunyi di sela-sela
pakaian yang tergantung atau gorden, terutama di ruang gelap atau lembab.
Mereka mempunyai kebiasaan menggigit berulang kali. Nyamuk ini memang
tidak suka air kotor seperti air got atau lumpur kotor tapi hidup di dalam dan di
sekitar rumah.

Tempat istirahat nyamuk aedes aegypti


Pada malam hari setelah menggigit dan selama menunggu waktu pematangan
telur, nyamuk Aedes aegypti (betina maupun jantan) beristirahat di dalam rumah
pada benda-benda yang tergantung seperti pakaian gelap yang bergelantungan di
ruangan yang tidak terang, kelambu, kopiah, dan pada tempat-tempat gelap,
lembab dan sedikit angin. di dalam rumah.
Tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti
Tempat perkembangbiakan tersebut berupa:
Tempat penampungan air (TPA) yaitu tempat menampung air guna
keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC dan
ember.
Bukan tempat penampungan air (non TPA) yaitu tempat-tempat yang biasa
digunakan untuk menampung air tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari
seperti tempat minum hewan piaraan, kaleng bekas, ban bekas, botol,
pecahan gelas, vas bunga dan perangkap semut.
Tempat penampungan air alami (TPA alami) seperti lubang pohon, lubang
batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang
dan potongan bambu.

4.3.3 Perilaku dan Daur Hidup Nymuk Aedes aegypty


Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari.
Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina, karena hanya nyamuk betina
yang menghisap darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein
yang diperlukannya untuk memproduksi telur.Pengisapan darah dilakukan dari
pagi sampai petang dengan dua puncak waktu yaitu setelah matahari terbit (8.00-
10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00- 17.00).Nyamuk jantan tidak
membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga ataupun
tumbuhan. Nyamuk ini menyenangi area yang gelap dan benda- benda
berwarna hitam atau merah. Nyamuk dewasa biasanya tinggal pada tempat gelap
di dalam ruangan seperti lemari baju dan di bawah tempat tidur.
Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan perilaku
yang mengarah pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu kemampuan nyamuk
menyebarkan virus. Infeksi virus dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal
dalam menghisap darah, berulang kali menusukkan probosisnya, namun tidak
berhasil menghisap darah, sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang
lain, akibatnya resiko penularan virus menjadi semakin besar. Tempat perindukan
Ae. aegypti di daerah asalnya (Afrika) berbeda dengan di Asia. Di Afrika nyamuk
hidup di hutan dan tempat perindukkannya pada genangan air di pohon. Di Asia
nyamuk hidup di daerah pemukiman, dan tempat perindukannya pada genangan
air bersih buatan manusia (man made breeding place). Tempat perindukan Ae.
aegypti dapat dibedakan atas tempat perindukan sementara, permanen, dan
alamiah. Tempat perindukan sementara terdiri dari berbagai macam tempat
penampungan air (TPA), termasuk kaleng bekas, ban mobil bekas, pecahan botol,
pecahan gelas, talang air, vas bunga, dan tempat yang dapat menampung
genangan air bersih. Tempat perindukan permanen adalah TPA untuk keperluan
rumah tangga seperti bak penampungan air, reservoar air, bak mandi, gentong air.
Tempat perindukan alamiah berupa genangan air pada pohon, seperti pohon
pisang, pohon kelapa, pohon aren, potongan pohon bambu, dan lubang pohon.
Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna. Nyamuk betina
meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual, terpisah satu
dengan yang lain, dan menempel pada dinding tempat perindukkannya. Seekor
nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata sebanyak seratus butir telur tiap kali
bertelur. Telur menetas dalam satu sampai dua hari menjadi larva. Terdapat empat
tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar
I ke instar IV memerlukan waktu sekitar lima hari. Setelah mencapai instar IV,
larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman. Pupa bertahan
selama dua hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa.
Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu tujuh
hingga delapan hari, namun bisa lebih lama bila kondisi lingkungan tidak
mendukung Telur Ae. aegypti tahan kekeringan dan dapat bertahan hingga satu
bulan dalam keadaan kering. Jika terendam air, telur kering dapat menetas
menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat membutuhkan air yang cukup untuk
perkembangannya. Kondisi larva saat berkembang dapat mempengaruhi kondisi
nyamuk dewasa yang dihasilkan. Sebagai contoh, populasi larva yang melebihi
ketersediaan makanan akan menghasilkan nyamuk dewasa yang cenderung lebih
rakus dalam menghisap darah
4.3.4 Epidemiologi
Aedes aegypti adalah vektor utama penyakit DBD di daerah tropik. Nyamuk
ini semula berasal dari Afrika kemudian menyebar melalui sarana transportasi ke
negara lain di Asia dan Amerika. Di Asia, Ae. Aegypti merupakan satu-satunya
vektor yang efektif menularkan DBD, karena tempat perindukkannya berada di
sekitar rumah dan hidupnya tergantung pada darah manusia. Di daerah yang
penduduknya jarang, Ae. aegypti masih memiliki kemampuan penularan yang
tinggi karena kebiasaan nyamuk ini menghisap darah manusia berulang-ulang
(Chahaya, 2003).
Aedes aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia meliputi semua provinsi
yang ada. Walaupun spesies-spesies ini ditemukan di kota-kota pelabuhan yang
penduduknya padat, namun spesies nyamuk ini juga ditemukan di daerah
pedesaan yang terletak di sekitar kota pelabuhan. Penyebaran Ae. aegypti dari
pelabuhan ke desa disebabkan karena larva Ae. aegypti terbawa melalui
transportasi yang mengangkut benda- benda berisi air hujan pengandung larva
spesies ini.
4.3.5 Etiologi
DBD disebabkan oleh virus Dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus,
keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri
dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106. Terdapat 4
serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang semuanya dapat
menyebabkan DBD. Keempat serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN-3
merupakan serotipe terbanyak. Penelitian pada artropoda menunjukkan virus
Dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus Aedes (Stegomya) dan
Toxorhynchites.
Infeksi terhadap serotipe memunculkan imunitas sepanjang umur, tetapi tidak
menghasilkan imunitas silang (cross protective immunity). Virus Dengue sensitif
terhadap eter, namun stabil bila disimpan pada suhu minus 70C dan pada
keadaan liofil stabil pada suhu 5C. Virus Dengue bertahan hidup melalui siklus
transmisi lingkungan kota pada daerah tropis dan subtropis oleh nyamuk Ae.
aegypti, spesies yang berhubungan erat dengan habitat manusia.

4.3.6 Pengendalian Vektor Penyakit


Cara yang saat ini masih dianggap tepat untuk mengendalikan penyebaran
penyakit DBD adalah dengan mengendalikan populasi dan penyebaran vektor.
Program yang paling sering dikampanyekan di Indonesia adalah 3 M, yaitu
menguras, menutup, dan mengubur.Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak
adanya larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang
melekat pada dinding bak mandi.Menutup tempat penampungan air, sehingga
tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur.Mengubur
barang bekas, sehingga tidak dapat menampung air hujan
BAB IV
PENUTUP

3.1 Simpulan
3.1.1 Nyamuk Anopheles dapat menyebabkan penyakit malaria. Siklus
hidupnya mengalami metamorphosis sempurna.
3.1.2 Nyamuk Culex quinquefasciatus merupakan golongan serangga
penular (vector). Nyamuk dari spesies Culex quinquefasciatus dapat
menyebarkan penyakit Japanese Enchephalitis (radang otak), West
Nile Virus, Filariasis, St Louis encephalitis. Siklus hidupnya
merupakan metamorphosis sempurna.
3.1.3 Nyamuk Aedes aegephty menyebabkan penyakit Demam Berdarah
(DBD). Nyamuk ini siklus hidupnya juga mengalami metamorphosis
sempurna.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Medical


Entomology.www.geocities.com/kuliah_farm/parasitologi/insecta.doc.
Jumat, 25 September 2015.
Anonim. 2006. Nyamuk si Pembawa
Penyakit.www.iptek.net.id/ind/ch=infopop&id=298&PHPSESSid=81fbfd
139aa8fdad77f6dfe54029el172. Iptek. Di akses hari Jumat, 25 September
2015.
Anonim. 2006. Guidelines for the treat- ment of malaria. Geneva: World Health
Organization. 12.Kyabayinze, D.J., Asiimwe, C., Nakanjako, D.,
Nabakooza, J., Counihan, H., Tibenderana, J.K. 2010. Use of RDTs to
improve malaria diagnosis and fever case management at primary health
care facilities in Uganda. Malaria Journal. Vol 9 :200.
Borror, T. dan Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi Keenam.
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Brown, Harold W. 1979. Dasar Parasitologi Klinis. Jakarta: PT Gramedia.
Clement, A.N. 1963. The Physiology of Mosquitoes. New York: Press Book The
Mac Millan Company. Page. 314.
Dharmawan, R. 1993. Metode Identifikasi Spesies Kembar Nyamuk Anopheles.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.
Erlanger TE, Weiss S, Keiser J, et al. 2009. Past, Present, and Future of Japanese
Encephalitis. Emerging Infectious Diseases 15(1): 1-7
Gandahusada S, dkk. 2006. Parasitologi Kedokteran, Cetakan ke-VI. Jakarta:
FKUI.
Hadi, Upik Kesumawati. Tanpa tahun. Pengenalan Arthropoda dan Biologi
Serangga. Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Hiswani.2004. Gambaran Penyaklt Dan Vektor Malaria di Indonesia. Sumatra
utara:USU digital library
Johnston, S.P., Pieniazek, N.J., Xaya- vong, M.V., Slemenda, S.B., Wilkins, P.P.,
Silva, A.J.d. 2006.
Mishra, S.K., Sohn, K. 2006. Comparison between conventional Microscopy and
Polymerase Chain Reaction (PCR) in ma- laria diagnosis. Kathmandu
Nepal: De- partment of Biochemistry, Intitute of Mediicne (IOM)
Maharajginj
Juwita, Ratna. 2011. Kepadatan Nyamuk Culex quinquefasciatus Tersangka
Vektor Filariasis dan Gambaran Kondisi Lingkungan Di Desa Jeruksari
Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan. Skripsi.
Levine, Norman. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press.
Liu W, Gibbons RV, Kari K, et al. 2010. Risk factors for Japanese encephalitis: a
case-control study. Epidemiol Infect 138(9):1292-1297. Ompusunggu S,
Hills SL, Maha MS, et al . 2008. Confirmation of Japanese Eneephalitis
as an Endmie Human Disease Through Sentinel Surveillance in
Indonesia. Atn J Trop Med Hyg 79(6):963-970.
Matsumura, F. 1985. Toxicology of Insecticides. 2nd Edition. Plenum Press:
London.
Pranoto, Sugito, Suroso T. 1989. Aspek Entomologi Demam Berdarah Dengue.
Semiloka DBD, Berbagai Aspek DBD dan Penanggulangannya. Depok.
Rodulfo, H., Donato, M.D., Mora, R., Gonzalez, L., Contreras, C.E. 2007. Com-
parison of the diagnosis of malaria by mi- croscopy,
immunochromatography and PCR in endemic areas of Venezuela. Bra-
zilian Journal of Medical and Biological Research. Vol 40:pp. 535-43.

Rosdiana Safar, 2009. Parasitologi Kedokteran Protozoologi Helmintologi


Entomologi. Yrama Widya.
Safar, R. 2010. Parasitologi Kedokteran Edisi Khusus. Yrama Widya. Bandung.
Sendow, Dkk. 2000. Prevalensi Japanese-B-Encephalitis Pada Berbagai Spesies
Di Indonesia.Jitv Vol. 5 No 1 Th. 2000. Balai Penelitian VeterinerJalan
R.E. Martadinata No. 30, P.O. Box 151, Bogor 16114
Sendow I, Bahri S. 2005. Perkembangan Japanese Encephalitis di Indonesia.
Wartazoa 15(3): 111-118.
Solomon T, Dung NM, Kneen R, et al. 2000. Japanese encephalitis. J Neurol
Neurosurg Psychiatry 68:405415
Spielman, A., and M. D'Antonio. 2001. Mosquito: A Natural History of Our Most
Persistent and Deadly Foe. Hyperion Press, New York.
Suroso, Thomas. 1998, Epidemiologi dan Penanggulangan Penyakit DBD di
Indonesia. Jakarta: UI.
(online)http://www.harunyahya.com/indo/buku/keruntuhan010.htm. Diakses pada
tanggal 25 September 14:30 WIB.
Umar Zein: Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue dan Dengue Syok
Sindrom Pada Dewasa, Majalah Kedokteran Nusantara, Volume 37 No.1
Maret 2005.

Widjajanti,V. Nuraini. 1988.Obat-obatan.Yogyakarta:Penerbit Kanisius


World Health Organization. Guidelines for the treatment of malaria. Switzerland:
WHO; 2006