Anda di halaman 1dari 6

Komplikasi Odontektomi

Odontektomi tergolong minor surgery, namun tetap mengandung risiko. Komplikasi dapat
timbul pada saat dan setelah pembedahan, akibat faktor iatrogenik. Odontektomi dengan tingkat
kesulitan tinggi yaitu pada gigi impaksi totalis yang terletak dalam, harus diperhitungkan oleh
operator sejak awal berdasarkan gambaran foto dental dan atau panoramik. Saat pembedahan,
dapat terjadi fraktur akar, gigi molar kedua goyah, trauma pada persendian temporo-mandibular,
akar terdorong ke ruang submandibula, bahkan fraktur angulus mandibula (Gambar 11b),
walaupun hal yang terakhir ini sangat jarang terjadi (Wagner 2005:725; Nusrath 2010:279;
Kasapoglu 2014).

Gambar 11 : Gambaran radiografik gigi bungsu impaksi totalis, pra-odontektomi (11a). Pasien yang sama,
mengalami komplikasi fraktur angulus mandibula saat odontektomi (11b).
Sumber: dimodifikasi dari Wagner et al.

Komplikasi lain adalah cedera nervus alveolaris inferior, yang mengakibatkan parestesia labial
inferior
sampai dagu pada sisi yang sama. Parestesia dapat bersifat sementara ataupun permanen,
tergantung pada besarnya rudapaksa terhadap saraf tersebut. Cedera dapat terjadi sekaligus,
mengenai arteri dan vena alveolaris inferior yang berjalan sejajar dengan nervus tersebut, yang
dapat menimbulkan perdarahan hebat. Secara fisiologis pada pasien usia muda, 24-48 jam pasca
bedah, akan terjadi edema pipi dan munculnya perasaan kurang nyaman. Hal itu memang
merupakan bagian proses penyembuhan. Trismus atau spasme muskulus masseter dapat dicegah
dengan memotivasi pasien agar membuka mulut lebar berulangkali sejak hari pertama setelah
pembedahan. Pada pasien berusia di atas 50 tahun, edema dapat terjadi sampai lima hari.
Komplikasi ekimosis pada daerah submukosa/subkutan dapat terjadi karena tonus jaringan sudah
menurun, kapiler yang rapuh dan perlekatan interselular yang melemah. Keadaan tersebut tidak
berbahaya, dan biasanya berlangsung mulai hari ke-dua sampai ke-tujuh pasca tindakan bedah
(Hupp
2008:279; Kasapoglu 2014). Komplikasi infeksi pasca bedah juga dapat terjadi pada soket bekas
tempat gigi impaksi, nyeri berdenyut menyebar sampai telinga dan timbul halitosis, bau tidak
sedap yang berasal dari soket. Keadaan itu disebabkan karena telah terjadi localized
osteomyelitis atau alveolar osteitis yang dikenal pula dengan sebutan dry socket, yang
menyebabkan masa penyembuhan lebih lama.

Perawatan Pasca Odontektomi


Pengobatan medikamentosa dilakukan dengan pemberian antibiotik, anti-inflamasi dan analgetik
untuk membantu mengatasi berbagai komplikasi tersebut. Antibiotik golongan penisilin tetap
merupakan obat pilihan, namun bila uji kulit positif diberikan klindamisin dengan dosis 3300
mg selama 3-5 hari. Untuk penghilang nyeriringan biasanya cukup diberikan tablet ibuprofen
400-800 mg atau asetaminofen 500 mg 3-4 kali sehari, selama 2-3 hari. Agar lebih efektif,
sebaiknya obat langsung diminum segera setelah tindakan bedah karena diperlukan waktu sekitar
1 jam untuk mendapatkan efek maksimal obat. Pada kasus odontektomi berat, untuk nyeri
sedang sampai berat, diberikan analgetik ideal yaitu dikombinasikan dengan penambahan tablet
codein 15-30 mg (Hupp 2008:180-84).
Pasien dianjurkan makan makanan berbentuk cair/lunak, protein tinggi, dan meningkatkan
kebersihan rongga mulut dengan merendam daerah pembedahan dengan antiseptik oral
klorheksidin 0,2% atau povidoneiodine 1% yang akan dapat mempersingkat proses
penyembuhan. Irigasi dengan larutan H2O2 3% juga sangat efektif terhadap kuman anaerob,
selain itu busa yang dihasilkan memberikan efek mekanis untukmembersihkan oral debris/sisa
makanan (Hupp 2008:175; Sridar 2011:101-11).

Daftar pustaka
Rahayu, Sri. Odontektomi, Tatalaksana Gigi Bungsu Impaksi. E Journal WIDYA Kesehatan dan
Lingkungan 2014; 1(2): 81-89
Perawatan Post Operasi Odontektomi
Menurut Wray dkk. (2003), instruksi post operasi dapat dikemukakan langsung kepada pasien
atau dapat pula diprint. Instruksi post operasi tersebut meliputi :
1.Perawatan rongga mulut
-Hindari berkumur pada enam jam pasca pencabutan
- Gunakan air garam hangat (1 sendok teh dalam 1 gelas) untuk berkumur secara lembut.
- Jangan menyentuh-menyentuh luka dengan lidah atau jari.
- Sikat gigi lainnya tetapi hindari daerah luka dan soket gigi.
- Sebisa mungkin membatasi gerakan lidah dan pipi.
2. Nyeri
- Rasa sakit dan tidak nyaman beberapa saat setelah pencabutan adalah hal yang normal.
- Dokter meresepkan analgesic dengan dosis yang tepat dan tidak berlebihan.
- Minum analgesic sebelum efek anestesi hilang.
-Bila 24-48 jam nyeri belum sembuh, segera mencari pertolongan.
3. Perdarahan
-Perdarahan yang ringan biasa terjadi pada 24 jam pertama.
4.Pembengkakan
- Pembengkakan pasca pencabutan adalah hal yang umum.
- Pembengkakan mencapai puncaknya kurang lebih 24 jam sesudah pembedahan.
-Cara yang terbaik untuk mengatasi pembengkakan adalah dengan kompres dingin pada daerah
wajah di dekat gigi yang dicabut.

Daftar pustaka
Wray D, Stenhouse D, Lee D, Clark AJE. 2003. Textbook of General and Oral Surgery. Elsevier
Instruksi Pasca Odontektomi.

Gigit tampon 30-60, tampon dapat diganti dengan tampon steril sampai beberapa kali.

Tdk menghisap-hisap luka.

Tdk diperkenankan kumur-2. Pada keadaan perdarahan ringan diperkenankan untuk


menggigit tampon kembali.

Fungsi kunyah dikurangi.

Kompres es EO (pada pipi) untuk 15 setiap setengah jam sampai 4 jam setelah
odontektomi, hal ini akan mengurangi perdarahan dan pembengkakan.

Jaga kebersihan luka (pada hari ke-2 post.op.).

Diperkenankan makan dengan diet lunak.

Setelah makan mulut direndam dengan obat kumur antiseptik dan hanya boleh
dipergunakan 24 jam pascaodontektomi.

Menjaga kebersihan mulut dengan tetap menggosok gigi dan dihindari untuk berkumur
keras, air hanya dialirkan ke dalam rongga mulut dan hanya dengan menggunakan air
matang bukan air kran.

Hindari makan dan minum panas.

Tidak diperkenankan merokok.

Kontrol sehari post. op.

Komplikasi Odontektomi pada saat Pembedahan.


Perdarahan
Tertekan / putusnya n.alv.inf.
Fraktura : akar, proc.alv.lingual, tulang rhg bagian lingual, mandibula terutama daerah angulus.
Trauma pd gigi terdekat rusak, goyang, sampai tercabut.
Rusaknya tumpatan atau mahkota pada gigi molar kedua di samping molar ketiga yang dilakukan
odontektomi.
Masuknya gigi / sisa akar gigi ke dalam submand. Space, kanalis mandibularis atau spasia regio
lingual.
Alergi pada obat-obatan yang diberikan : antibiotika, analgetika maupun anaestesi lokal.
Syok anafilaktik.
Patahnya instrumen

komplikasi Pasca Bedah.


Rasa sakit atau pernah mengalami rasa sakit di regio gigi molar ketiga impaksi.
Pembengkakan.
Perdarahan sekunder.
Dry socket (alv. Osteitis).
Infeksi pada jaringan lunak maupun tulang.
Memar jaringan lunak ekstraoral dan dapat meluas sampai ke regio leher dan dada di regio
odontektomi atau bilateral.
Facial abses.
Trismus.
Fraktur rahang.
Emphysema.
Parestesi.
Aspirasi.
Luka di daerah sudut bibir.

Daftar pustaka

Archer, W. Harry. ORAL SURGERY : A Step-by-Step Atlas of Operative Tecnique. 3rd ed.
W.B. Saunders Co.Philapdelphia.1961; p. 95-184.
Fragiskos, D. Fragiskos. Oral Surgery. Athens, Greece. Springer Science & Bussiness
Media. 2007; p. 33-46; 155-76.
Pedersen, Gordon W. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih bahasa Purwanto, drg.,
Basoeseno, MS., drg. EGC. Jakarta. 1996; h.47-52.

Anda mungkin juga menyukai