Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Surveilans epidemiologi adalah suatu rangkaian proses pengamatan yang terus


menerus sistematik dan berkesinambungan dalam pengumpulan data, analisis dan interpretasi
data kesehatan dalam upaya untuk menguraikan dan memantau suatu peristiwa kesehatan
agar dapat dilakukan penanggulangan yang efektif dan efesien terhadap masalah kesehatan
masyarakat tersebut (Depkes, 2013). Dengan demikian kata kunci dalam surveilans
kesehatan masyarakat adalah mengumpulkan, menganalisis,
menginterpretasi, menerapkan, dan menghubungkan dengan praktik-praktik
kesehatan masyarakat.

Pada awalnya surveilans kesehatan masyarakat hanya dikenal dalam bidang


epidemiologi, namun dengan berkembangnya teori dan aplikasi diluar bidang epidemiologi,
maka surveilans menjadi cabang ilmu tersendiri yang diterapkan luas dalam kesehatan
masyarakat. Surveilans mencakup masalah morbiditas, mortalitas,masalah gizi, demografi,
penyakit menular, penyakit tidak menular, demografi, pelayanan kesehatan, kesehatan
lingkungan, kesehatan kerja, dan beberapa faktor risiko pada individu, keluarga, masyarakat
dan lingkungan sekitarnya. Saat ini surveilans mutlak diperlukan pada setiap upaya kesehatan
masyarakat, baik upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, maupun terhadap
upaya kesehatan lainnya.

Pelaporan Penyakit Menular hanya salah satu bagian saja namun yang paling penting
dari suatu system surveilans kesehatan masyarakat. Bertambahnya jumlah penduduk dan
overcrowding mempercepat terjadinya penularan penyakit dari orang ke orang. Faktor
pertumbuhan dan mobilitas penduduk ini juga memperngaruhi perubahan gambaran
epidemiologis serta virulensi dari penyakit menular tertentu. .

Surveilans epidemiologi bukan hanya sekedar pengumpulan data dan penyelidikan


saja tetapi kegunaan dari surveilans epidemiologi menyediakan informasi epidemiologi yang
peka terhadap perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan program pemberantasan penyakit
yang menjadi prioritas pembangunan. Sistem surveilans yang efektif akan menyebabkan
program pencegahan dan pemberantasan penyakit menjadi sangat efektif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian, Tujuan Dan Jenis Surveilans Epidemiologi


2.1.1 Pengertian Surveilans
Ada beberapa pengertian Surveilans yang biasa dipakai, beberapa nya yaitu :
a) Menurut WHO :
Surveilans merupakan pengumpulan, pengolahan, analisis data kesehatan secara
sistematis dan terus menerus, serta desiminasi informasi tepat waktu kepada pihak pihak
yang perlu mengetahui sehingga dapat diambil tindakan yang tepat (Last, 2001 dalam Bhisma
Murti, 2003).
b) Menurut Centers for Disease Control ( CDC ), 1996.
Surveilans merupakan pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara
sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi
upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan desiminasi data secara tepat waktu kepada
pihak pihak yang perlu mengetahuinya.
c) Menurut Vaughan & Morrow
Surveilans merupakan komponen penting dalam Manajemen Upaya Kesehatan
Masyarakat, karena menyediakan input informasi yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi
masalah masalah yang sedang timbul serta mengevaluasi efektivitas tindakan pengendalian
masalah lama. Penyediaan informasi ini memungkinkan otoritas kesehatan mengambil tindakan
yang tepat dan cepat untuk pengendalian penyakit atau melakukan investigasi lebih mendalam.
2.1.2 Pengertian Epidemiologi
Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan suatu kesehatan atau
kejadian (penyakit) di sebuah Negara, dan dapat diaplikasikan untuk membantu pengendalian
penyakit dan masalah kesehatan lainnya.

2.1.3 Pengertian Surveilans Epidemiologi


Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus
menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang
mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan,
pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program
kesehatan (Gunawan, 2000). Ada beberapa pengertian dari Surveilans Epidemiologi,
diantaranya yaitu :
1. Menurut Karyadi (1994),
Surveilans epidemiologi adalah : Pengumpulan data epidemiologi yang akan
digunakan sebagai dasar dari kegiatan dalam bidang penanggulangan penyakit, yaitu :
Perencanaan program pemberantasan penyakit. Mengenal epidemiologi
penyakit berarti mengenal masalah yang kita hadapi. Dengan demikian suatu
perencanaan program dapat diharapkan akan berhasil dengan baik.
Evaluasi program pemberantasan penyakit. Bila kita tahu keadaan penyakit
sebelum ada program pemberantasannya dan kita menentukan keadaan
penyakit setelah program ini, maka kita dapat mengukur dengan angka-angka
keberhasilan dari program pemberantasan penyakit tersebut.
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah. Suatu sistem surveilans
yang efektif harus peka terhadap perubahan-perubahan pola penyakit di suatu
daerah tertentu. Setiap kecenderungan peningkatan insidens, perlu secepatnya
dapat diperkirakan dan setiap KLB secepatnya dapat diketahui. Dengan
demikian suatu peningkatan insidens atau perluasan wilayah suatu KLB dapat
dicegah.
2. Menurut Nur Nasry Noor (1997),
Surveilans epidemiologi adalah : Pengamatan secara teratur dan terus
menerus terhadap semua aspek penyakit tertentu, baik keadaan maupun
penyabarannya dalam suatu masyarakat tertentu untuk kepentingan pencegahan dan
penanggulangannya.
3. Menurut Depkes 2013
Surveilans epidemiologi adalah suatu rangkaian proses pengamatan yang terus
menerus sistematik dan berkesinambungan dalam pengumpulan data, analisis dan
interpretasi data kesehatan dalam upaya untuk menguraikan dan memantau suatu
peristiwa kesehatan agar dapat dilakukan untuk menguraikan dan memantau suatu
peristiwa kesehatan agar dapat dilakukan penanggulangan yang efektif dan efesien
terhadap masalah kesehatan masyarakat tersebu

Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari oleh kondisi kondisi


berikut ( WHO, 2002 ) : 1. Beban Penyakit ( Burden of Disease ) tinggi, sehingga
merupakan masalah penting kesehatan masyarakat; 2. Terdapat tindakan masyarakat
yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ; 3. Data yang relevan mudah
diperoleh; 4. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan
( pertimbangan efisiensi).

Yang menjadi Ciri Khas dari Kegiatan Surveilans Epidemiologi adalah :


1. Adanya kegiatan pengumpulan data yang sistematis, kontinu dan rutin
2. Adanya kegiatan analisa dan interpretasi data
3. Adanya penyebarluasan informasi.

Surveilans berbeda dengan Survey/Monitoring /Auditing, dimana Surveilans


melakukan pengamatan secara kontinu dan terus menerus ; Lebih aktif dan dinamis
mencakup penggunaan data yang telah dikumpulkan untuk upaya pencegahan dan
pengendalian masalah kesehatan. Sedangkan Monitoring Survey / Auditing
mengamati secara Intermiten, Episodik dan Kasuistik serta kurang
dinamis( Langmuir, 1976 dalam Bhisma Murti, 2003 ). Pada umumnya surveilans
epidemiologi dilakukan pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah, penyakit
kronis, penyakit endemis, penyakit baru yang dapat menimbulkan masalah
epidemiologis, penyakit yang dapat menimbulkan epidemi ulang.

2.1.4 Tujuan Surveilans Epidemiologi


Surveilans Epidemiologi bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah
kesehatan populasi, sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat
dilakuakn tindakan penanggulangan secepatnya.
Tujuan khusus Surveilans Epidemiologi:
a. Memonitor kecenderungan penyakit;
b. Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini outbreak;
c. Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease burden)
pada populasi;
d. Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi,
monitoring, dan evaluasi program kesehatan;
e. Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan;
f. Mengidentifikasi kebutuhan riset. (Last, 2001; Giesecke, 2002; JHU, 2002)

Menurut WHO 2002 tujuan surevilans epidemiologi adalah sebagai berikut


1. Memprediksi dan mendeteksi dini Epidemi ( Outbreak ).
2. Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program pencegahan dan
pengendalian penyakit.
3. Sebagai sumber informasi untuk penentuan prioritas, pengambilan kebijakan,
perencanaan, implementasi, dan alokasi sumber daya kesehatan.
4. Monitoring kecenderungan penyakit Endemis dan mengestimasi dampak penyakit
di masa mendatang.
5. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut.

2.1.5 Jenis Surveilans Epidemiologi


Dikenal beberapa jenis surveilans :
1. Surveilans Individu
Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu
yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus,
demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional
segera terhadap kontak, sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh,
karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang orang
atau binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular
selama periode menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa
inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).
Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan SARS.
Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial. Karantina total
membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular selama masa
inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial
membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan
dan tingkat bahaya transmisi penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah
penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperke-nankan terus bekerja. Satuan
tentara yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pos-pos lainnya tetap bekerja.
Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal,
politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-
langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat (Bensimon dan
Upshur, 2007).

2. Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus
terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis,
konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan
lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu.
Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria. Beberapa dari
sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara
dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak program
surveilans penyakit vertical yang berlangsung parallel antara satu penyakit dengan penyakit
lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk
sumberdaya masing-masing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan
inefisiensi.

3. Surveilans Sindromik
Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-
menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit.
Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun
populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik
mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau
temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi
laboratorium tentang suatu penyakit.
Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun
nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan
kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip
influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam
surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan
definisi kasus sederhana (demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan
mingguan tentang jumlah kasus, jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis
kelamin, dan jumlah total kasus yang teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor
aneka penyakit yang menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat
memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrument untuk memonitor krisis
yang tengah berlangsung. (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006)
Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari fasilitas
kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu, disebut surveilans
sentinel. Pelaporan sampel melalui system surveilans sentinel merupakan cara yang baik
untuk memonitor masalah kesehatan dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.
(DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010)

4. Surveilans Berbasis Laboratorium


Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit
infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti
salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri
tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada
sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinik-klinik. (DCP2, 2008).

5. Surveilans Terpadu
Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan
surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah
pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia
yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan
pengendalian penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan
perbedaan kebutuhan data khusus penyakit-penyakit tertentu. (WHO, 2001, 2002; Sloan et
al., 2006).
Karakteristik pendekatan surveilans terpadu:
a. Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services);
b. Menggunakan pendekatan solusi majemuk;
c. Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural;
d. Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan,
pelaporan, analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan
dan supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya);
e. Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun menggunakan
pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda
memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda. (WHO, 2002)

6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global


Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan
binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara.
Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan Negara maju
di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemic global (pandemi) khususnya
menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para
praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan organisasi internasional untuk memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan surveilans yang melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit
menular merebak pada skala global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-
emerging diseases), maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases),
seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif
melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan dan
ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008)

2.2 Manajemen Surveilans, Pendekatan Surveilans dan Karakteristik Surveilans Efektif


2.2. 1 Manajemen Surveilans
Surveilans mencakup dua fungsi manajemen: (1) fungsi inti; dan (2) fungsi
pendukung. Fungsi inti (core activities) mencakup kegiatan surveilans dan langkah-langkah
intervensi kesehatan masyarakat. Kegiatan surveilans mencakup deteksi, pencatatan,
pelaporan data, analisis data, konfirmasi epidemiologis maupun laboratoris, umpan-balik
(feedback). Langkah intervensi kesehatan masyarakat mencakup respons segera (epidemic
type response) dan respons terencana (management type response). Fungsi pendukung
(support activities) mencakup pelatihan, supervisi, penyediaan sumber daya manusia dan
laboratorium, manajemen sumber daya, dan komunikasi (WHO, 2001; McNabb et al., 2002).

2.2.2 Pendekatan Surveilans


Surveilans Epidemiologis, secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
1. Surveilans Pasif
Adalah : Pengumpulan data yang diperoleh dari laporan bulanan sarana pelayanan
kesehatan di daerah.
Kelebihan surveilans pasif, relatif murah dan mudah untuk dilakukan. Negara-negara
anggota WHO diwajibkan melaporkan sejumlah penyakit infeksi yang harus
dilaporkan, sehingga dengan surveilans pasif dapat dilakukan analisis perbandingan
penyakit internasional.
Kekurangan surveilans pasif adalah kurang sensitif dalam mendeteksi kecenderungan
penyakit. Data yang dihasilkan cenderung under-reported, karena tidak semua kasus
datang ke fasilitas pelayanan kese-hatan formal. Selain itu, tingkat pelaporan dan
kelengkapan laporan biasanya rendah, karena waktu petugas terbagi dengan
tanggungjawab utama memberikan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan masing-
masing. Untuk mengatasi problem tersebut, instrumen pelaporan perlu dibuat
sederhana dan ringkas

2. Surveilans Aktif
Adalah : Pengumpulan data yang dilakukan secara langsung untuk mempelajari penyakit
tertentu dalam waktu yang relatif singkat ( seminggu sekali atau 2 minggu sekali )
yang dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencatat ada atau tidaknya kasus baru
penyakit tertentu.
Pencatatan meliputi Variabel Demografis seperti : Umur, jenis kelamin, pekerjaan, sosial
ekonomi; Saat / Waktu timbulnya gejala ; Pola Makanan ; Tempat Kejadian yang
berkaitan dengan penyakit tertentu dan Pencatatan ini tetap dilakukan walaupun tidak
ditemukan kasus baru.
Surveilans Aktif dilakukan apabila : Ditemukan kasus baru, Penelitian tentang cara
penyebaran yang baru suatu penyakit tertentu, Resiko tinggi terjadinya penyakit
musiman, Penyakit tertentu yang timbul di daerah baru atau akan menimbulkan
pengaruh pada kelompok penduduk tertentu atau penyakit dengan insidensi yang
rendah mendadak terjadi peningkatan.
Kelebihan surveilans aktif, lebih akurat daripada surveilans pasif, sebab dilakukan
oleh petugas yang memang dipekerjakan untuk menjalankan tanggungjawab itu.
Selain itu, surveilans aktif dapat mengidentifikasi outbreak lokal. Kelemahan
surveilans aktif, lebih mahal dan lebih sulit untuk dilakukan daripada surveilans pasif.

2.2.3 Karakteristik Surveilans Efektif


Karakteristik surveilans yang efektif: cepat, akurat, reliabel, representatif, sederhana,
fleksibel, akseptabel, digunakan (Wuhib et al., 2002; McNabb et al., 2002; Giesecke,
2002; JHU, 2006).
a. Kecepatan. Informasi yang diperoleh dengan cepat (rapid) dan tepat waktu (timely)
memungkinkan tindakan segera untuk mengatasi masalah yang diidentifikasi. Investigasi
lanjut hanya dilakukan jika diperlukan informasi tertentu dengan lebih
mendalam.Kecepatan surveilans dapat ditingkatkan melalui sejumlah cara: (1)
Melakukan analisis sedekat mungkin dengan pelapor data primer, untuk mengurangi
lag (beda waktu) yang terlalu panjang antara laporan dan tanggapan; (2)
Melembagakan pelaporan wajib untuk sejumlah penyakit tertentu (notifiable diseases);
(3) Mengikutsertakan sektor swasta melalui peraturan perundangan; (4) Melakukan
fasilitasi agar keputusan diambil dengan cepat menggunakan hasil surveilans; (5)
Mengimplementasikan sistem umpan balik tunggal, teratur, dua-arah dan segera.
b. Akurasi. Surveilans yang efektif memiliki sensitivitas tinggi, yakni sekecil mungkin
terjadi hasil negatif palsu. Aspek akurasi lainnya adalah spesifisitas, yakni sejauh mana
terjadi hasil positif palsu. Pada umumnya laporan kasus dari masyarakat awam
menghasilkan false alarm (peringatan palsu). Karena itu sistem surveilans perlu
mengecek kebenaran laporan awam ke lapangan, untuk mengkonfirmasi apakah memang
tengah terjadi peningkatan kasus/ outbreak. Akurasi surveilans dipengaruhi beberapa
faktor: (1) kemampuan petugas; (2) infrastruktur laboratorium. Surveilans membutuhkan
pelatihan petugas. Contoh, para ahli madya epidemiologi perlu dilatih tentang dasar
laboratorium, sedang teknisi laboratorium dilatih tentang prinsip epide-miologi, sehingga
kedua pihak memahami kebutuhan surveilans. Surveilans memerlukan peralatan
laboratorium standar di setiap tingkat operasi untuk meningkatkan kemampuan
konfirmasi kasus.
c. Standar, seragam, reliabel, kontinu. Definisi kasus, alat ukur, maupun prosedur yang
standar penting dalam sistem surveilans agar diperoleh informasi yang konsisten. Sistem
surveilans yang efektif mengukur secara kontinu sepanjang waktu, bukannya intermiten
atau sporadis, tentang insidensi kasus penyakit untuk mendeteksi kecenderungan. Pela-
poran rutin data penyakit yang harus dilaporkan (reportable diseases) dilakukan
seminggu sekali.
d. Representatif dan lengkap. Sistem surveilans diharapkan memonitor situasi yang
sesungguhnya terjadi pada populasi. Konsekuensinya, data yang dikumpulkan perlu
representatif dan lengkap. Keterwakilan, cakupan, dan kelengkapan data surveilans dapat
menemui kendala jika penggunaan kapasitas tenaga petugas telah melampaui batas,
khususnya ketika waktu petugas surveilans terbagi antara tugas surveilans dan tugas
pemberian pelayanan kesehatan lainnya
e. Sederhana, fleksibel, dan akseptabel. Sistem surveilans yang efektif perlu sederhana
dan praktis, baik dalam organisasi, struktur, maupun operasi. Data yang dikumpulkan
harus relevan dan terfokus. Format pelaporan fleksibel, bagian yang sudah tidak berguna
dibuang. Sistem surveilans yang buruk biasanya terjebak untuk menambah sasaran baru
tanpa membuang sasaran lama yang sudah tidak berguna, dengan akibat membebani
pengumpul data. Sistem surveilans harus dapat diterima oleh petugas surveilans, sumber
data, otoritas terkait surveilans, maupun pemangku surveilans lainnya. Untuk
memelihara komitmen perlu pembaruan kesepakatan para pemangku secara berkala pada
setiap level operasi.
f. Penggunaan (uptake). Manfaat sistem surveilans ditentukan oleh sejauh mana informasi
surveilans digunakan oleh pembuat kebijakan, pengambil keputusan, maupun pemangku
surveilans pada berbagai level. Rendahnya penggunaan data surveilans merupakan
masalah di banyak negara berkembang dan beberapa negara maju. Salah satu cara
mengatasi problem ini adalah membangun network dan komunikasi yang baik antara
peneliti, pembuat kebijakan, dan pengambil keputusan.

2.3 Prinsip, Manfaat, Persiapan, Langkah, Pelaksanaan dan Hambatan Surveilans


Epidemiologi
2.3.1 Prinsip

Dalam melakukan Pengamatan / Surveilans Epidemiologis terdapat 4 (empat)


Kegiatan Pokok / Utama sebagai berikut yakni Pengumpulan Data, Pengolahan Data, Analisis
Data dan Interpretasi Data , Penyebaran Informasi.

A. Pengumpulan data, pencatatan insidensi

Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pencatatan insidensi terhadap orang


orang yang dicurigai ( Population at Risk ) melalui kunjungan rumah ( active surveillance )
atau pencatatan insidensi berdasarkan laporan rutin dari sarana pelayanan kesehatan seperti
Rumah Sakit, Puskesmas atau laporan dari petugas surveilans di lapangan dan laporan dari
masyarakat serta petugas kesehatan lain ( pasive surveillance).
Unsur yang diamati untuk pengumpulan data adalah (10 Elemen Langmuir ), yaitu : Data
Mortalitas, Data Morbiditas, Data Pemeriksaan Laboratorium. Laporan Penyakit,
Penyelidikan Peristiwa Penyakit, Laporan Wabah, Laporan Penyelidikan wabah, Survey
Penyakit, Vektor dan Reservoir, Penggunaan Obat, Vaksin dan Serum, Demografi dan
Lingkungan

B. Pengelolaan data
Data dalam bentuk data mentah (row data) masih perlu disusun sedemikian rupa
sehingga mudah dianalisis. Data yang terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel, bentuk
grafik maupun bentuk peta atau bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut harus dapat
memberikan keterangan yang berarti.

C. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan


Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan
interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi yang ada
dalam masyarakat.

Analisa data dilakukan dengan 2 cara, yaitu :


1. Analisa Deskriptif
Analisis Deskriptif dilakukan berdasarkan variabel orang, tempat dan waktu sehingga
diperoleh gambaran yang sistematis tentang penyakit yang sedang diamatai. Visualisasi
dalam bentuk Grafik, Tabel, Diagram yang disertai Uraian/Penjelasan.
2. Analisa Analitik
Dilakukan dengan cara Uji Komparasi, Korelasi dan Regresi. Uji Komparasi untuk
membandingkan kejadian penyakit pada kondisi yang berbeda. Uji Korelasi untuk
membuktikan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Uji Regresi untuk
membuktikan pengaruh suatu variabel (kondisi) terhadap kejadian penyakit.

Kunci keberhasilan : Data lengkap, Cepat, Tahu cara memanfaatkannya. Tahap


tahapnya meliputi : Coding (membuat kode kode dari data yang ada), Editing
(melengkapi dan memperjelas tulisan), Entry (memasukkan dalam program pengolahan
data) Pengolahan secara Diskriptif, Analitik.
D. Penyebarluasan data dan keterangan termasuk umpan balik
Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan yang cukup jelas
dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan, selanjutnya dapat disebarluaskan kepada
semua pihak yang berkepentingan, agar informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai mana
mestinya.
Sasarannya adalah : Instansi terkait baik secara vertikal maupun horisontal.
Tujuan : untuk memperoleh kesepahaman dan feedback dalam perumusan kebijakan.
Manfaat : Mendapatkan respon dari instansi terkait sebagai feed back, tindak lanjt dan
kesepahaman.
Metode : tertulis dan deseminasi laporan, verbal dalam rapat, media cetak dan elektronik.

E. Evaluasi
Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat digunakan untuk
perencanaan, penanggulangan khusus serta program pelaksanaannya, untuk kegiatan tindak
lanjut (follow up), untuk melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan program dan
pelaksanaan program, serta untuk kepentingan evaluasi maupun penilaian hasil kegiatan.

2.3.2 Manfaat Surveilans Epidemiologi


Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk
menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah
dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan
masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-
perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).
Keuntungan dari kegiatan surveilans epidemiologi disini dapat juga diartikan sebagai
kegunaan surveilans epidemiologi, yaitu :
1. Dapat menjelaskan pola penyakit yang sedang berlangsung yang dapat dikaitkan
dengan tindakan-tindakan/intervensi kesehatan masyarakat. Dalam rangka menguraikan
pola kejadian penyakit yang sedang berlangsung, contoh kegiatan yang dilakukan
adalah sebagai berikut :
Deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya
Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit
Identifikasi dan faktor risiko dan penyebab lainnya, seperi vektor yang dapat
menyebabkan sakit dikemudian hari
Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi
2. Dapat melakukan monitoring kecenderungan penyakit endemis.
3. Dapat mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologi penyakit, khususnya
untuk mendeteksi adanya KLB/wabah. Melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat
bermanfaat sebagai berikut :
Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi
kesehatan masyarakat
Membantu untuk mengidentifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi
Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit
4. Memberikan informasi dan data dasar untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan
kesehatan dimasa mendatang. Data dasar sangat penting untuk menyusun perencanaan
dan untuk mengevaluasi hasil akhir intervensi yang diberikan. Dengan semakin
kompleksnya pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, maka
diperlukan data yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang
sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).
5. Dapat membantu pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan
membandingkan besarnya masalah sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
6. Membantu menetapkan masalah kesehatan dan prioritas sasaran program pada
tahap perencanaan program. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat
prioritas masalah dalam kegiatan surveilans epidemiologi adalah :
Frekuensi kejadian (insidens, prevalens dan mortalitas);
Kegawatan/ Severity (CFR, hospitalization rate, angka kecacatan);
Biaya (biaya langsung dan tidak langsung);
Dapat dicegah (preventability);
Dapat dikomunikasikan (communicability);
Public interest
Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal
dimana masalah kesehatan sering terjadi dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu
(musiman, dari tahun ke tahun), dan cara serta dinamika penularan penyakit
menular.
2.3.3 Persiapan
Meskipun di lapangan banyak variasi pelaksanaannya, namun secara garis besarnya
langkah-langkah pokok yang perlu ditempuh adalah dengan melakukan persiapan internal
dan persiapan eksternal. Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
Persiapan
1. Persiapan Internal. Hal-hal yang perlu disiapkan meliputi seluruh sumber daya
termasuk petugas kesehatan, pedoman/petunjuk teknis, sarana dan prasarana pendukung
dan biaya pelaksanaan.
Petugas Surveilans. Untuk kelancaran kegiatan surveilans di desa siaga sangat
dibutuhkan tenaga kesehatan yang mengerti dan memahami kegiatan surveilans.
Petugas seyogyanya disiapkan dari tingkat Kabupaten/Kota, tingkat Puskesmas
sampai di tingkat Desa/Kelurahan. Untuk menyamakan persepsi dan tingkat
pemahaman tentang surveilans sangat diperlukan pelatihan surveilans bagi petugas.
Untuk keperluan respon cepat terhadap kemungkinan ancaman adanya KLB, di
setiap unit pelaksana (Puskesmas, Kabupaten dan Propinsi) perlu dibentuk Tim
Gerak Cepat (TGC) KLB. Tim ini bertanggung jawab merespon secara cepat dan
tepat terhadap adanya ancaman KLB yang dilaporkan oleh masyarakat.
Pedoman/Petunjuk Teknis, Sebagai panduan kegiatan maka petugas kesehatan
sangat perlu dibekali buku-buku pedoman atau petunjuk teknis surveilans.
Sarana & Prasarana. Dukungan sarana & prasarana sangat diperlukan untuk kegiatan
surveilans seperti : kendaraan bermotor, alat pelindung diri (APD), surveilans KIT,
dll.
Biaya. Sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan surveilans. Biaya diperlukan
untuk bantuan transport petugas ke lapangan, pengadaan alat tulis untuk keperluan
pengolahan dan analisa data, serta jika dianggap perlu untuk insentif bagi kader
surveilans.
2. Persiapan Eksternal. Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan masyarakat,
terutama tokoh masyarakat, agar mereka tahu, mau dan mampu mendukung
pengembangan kegiatan surveilans berbasis masyarakat. Pendekatan kepada para tokoh
masyarakat diharapkan agar mereka memahami dan mendukung dalam pembentukan
opini publik untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi kegiatan surveilans di desa
siaga. Dukungan yang diharapkan dapat berupa moril, finansial dan material, seperti
kesepakatan dan persetujuan masyarakat untuk kegiatan surveilans.
Langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, agar mereka
mau memberikan dukungan. Jika di desa tersebut terdapat kelompok-kelompok sosial
seperti karang taruna, pramuka dan LSM dapat diajak untuk menjadi kader bagi kegiatan
surveilans di desa tersebut.
3. Survei Mawas Diri atau Telaah Mawas Diri. Survei mawas diri (SMD) bertujuan agar
masyarakat dengan bimbingan petugas mampu mengidentifikasi penyakit dan masalah
kesehatan yang menjadi problem di desanya. SMD ini harus dilakukan oleh masyarakat
setempat dengan bimbingan petugas kesehatan. Melalui SMD ini diharapkan masyarakat
sadar akan adanya masalah kesehatan dan ancaman penyakit yang dihadapi di desanya,
dan dapat membangkitkan niat dan tekad untuk mencari solusinya berdasarkan
kesepakatan dan potensi yang dimiliki. Informasi tentang situasi penyakit/ancaman
penyakit dan permasalah kesehatan yang diperoleh dari hasil SMD merupakan informasi
untuk memilih jenis surveilans penyakit dan faktor risiko yang diselenggarakan di desa
tersebut.
4. Pembentukan Kelompok Kerja Surveilans Tingkat Desa. Kelompok kerja surveilans
desa bertugas melaksanakan pengamatan dan pemantauan setiap saat secara terus
menerus terhadap situasi penyakit di masyarakat dan kemungkinan adanya ancaman
KLB penyakit, untuk kemudian melaporkannya kepada petugas kesehatan di Poskesdes.
Anggota Tim Surveilans Desa dapat berasal dari kader Posyandu, Juru pemantau jentik
(Jumantik) desa, Karang Taruna, Pramuka, Kelompok pengajian, Kelompok peminat
kesenian, dan lain-lain. Kelompok ini dapat dibentuk melalui Musyawarah Masyarakat
Desa.
5. Membuat Perencanaan Kegiatan Surveilans. Setelah kelompok kerja Surveilans
terbentuk, maka tahap selanjutnya adalah membuat perencanaan kegiatan, meliputi :
Rencana Pelatihan Kelompok Kerja Surveilans oleh petugas kesehatan
Penentuan jenis surveilans penyakit dan faktor risiko yang dipantau.
Lokasi pengamatan dan pemantauan
Frekuensi Pemantauan
Pembagian tugas/penetapan penanggung jawab lokasi pemamtauan
Waktu pemantauan
Rencana Sosialisasi kepada warga masyarakat

2.3.4 Langkah
Langkah-langkah dalam surveilans sangat di butuhkan agar kita mendapatkan hasil
yang diinginkan dan tepat penggunaannya. Terdapat beberapa langkah-langkah dalam
suerveilans epidemiologi, antara lain yaitu:
1. Perencanaan surveilans
Perencanaan kegiatan surveilans dimulai membuat kerangka kegiatan surveilans
yaitu dengan penetapan tujuan surveilans, dilanjutkan dengan penentuan definisi kasus,
perencanaan perolehan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis dan mekanisme
penyebarluasan informasi.
2. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan awal dari rangkaian kegiatan untuk memproses data
selanjutnya.. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan pencatatan insidensi
terhadap orang-orang yang dianggap penderita malaria atau population at risk melalui
kunjungan rumah (active surveillance) atau pencatatan insidensi berdasarkan laporan
sarana pelayanan kesehatan yaitu dari laporan rutin poli umum setiap hari, laporan
bulanan Puskesmas desa dan Puskesmas pembantu, laporan petugas surveilans di
lapangan, laporan harian dari laboratorium dan laporan dari masyarakat serta petugas
kesehatan lain (passive surveillance).
Proses pengumpulan data diperlukan system pencatatan dan pelaporan yang baik.
Secara umum pencatatan di Puskesmas adalah hasil kegiatan kunjungan pasien dan
kegiatan luar gedung. Sedangkan pelaporan dibuat dengan merekapitulasi data hasil
pencatatan dengan menggunakan formulir tertentu, misalnya form W1 Kejadian Luar
Biasa (KLB) , form W2 (laporan mingguan) dan lain-lain.
3. Pengolahan dan penyajian data
Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel,
grafik (histogram, polygon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area). Penggunaan
computer sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data diantaranya
dengan menggunakan program (software).
4. Analisis data
Analisis merupakan langkah penting dalam surveilans epidemiologi karena akan
dipergunakan untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi serta tindakan pencegahan
dan penanggulangan penyakit.
Data yang sudah diolah selanjutnya dianalisis dengan membandingkan data bulanan
atau tahun-tahun sebelumnya, sehingga diketahui ada peningkatan atau penurunan, dan
mencari hubungan penyebab penyakit malaria dengan factor resiko yang berhubungan
dengan kejadian malaria.

5. Penyebarluasan informasi
Penyebarluasan informasi dapat dilakukan ketingkat atas maupun ke bawah. Dalam
rangka kerja sama lintas sektoral instansi-instansi lain yang terkait dan masyarakat juga
menjadi sasaran kegiatan ini. Untuk diperlukan informasi yang informative agar mudah
dipahami terutama bagi instansi diluar bidang kesehatan.
Penyebarluasan informasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang mudah
dimengerti dan dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan, upaya
pengendalian serta evaluasi program yang dilakukan. Cara penyebarluasan informasi
yang dilakukan yaitu membuat suatu laporan hasil kajian yang disampaikan kepada
atasan, membuat laporan kajian untuk seminar dan pertemuan, membuat suatu tulisan di
majalah dan memanfaatkan media internet yang setiap saat dapat di akses dengan mudah.
6. Umpan balik
Kegiatan umpan balik dilakukan secara rutin biasanya setiap bulan saat menerima
laporan setelah diolah dan dianalisa melakukan umpan balik kepada unit kesehatan yang
melakukan laporan dengan tujuan agar yang mengirim laporan mengetahui bahwa
laporannya telah diterima dan sekaligus mengoreksi dan memberi petunjuk tentang
laporan yang diterima.
Bentuk dari umpan balik bias berupa ringkasan dari informasi yang dimuat dalam
bulletin (news letter) atau surat yang berisi pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan
yang dilaporkan atau berupa kunjungan ke tempat asal laporan untuk mengetahui
keadaan yang sebenarnya. Laporan perlu diperhatikan waktunya agar terbitnya selalu
tepat pada waktunya, selain itu bila mencantumkan laporan yang diterima dari eselon
bawahan, sebaliknya yang dicantumkan adalah tanggal penerimaan laporan.
7. Investigasi penyakit
Setelah pengambilan keputusan perlunya mengambil tindakan maka terlebih dahulu
dilakukan investigasi/penyelidikan epidemiologi penyakit. Dengan investigator
membawa ceklis/format pengisian tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam hal ini
adalah penyakit yang diteliti dan bahan untuk pengambilan sampel di laboratorium.
Setelah melakukan investigasi penyelidikan kemudian disimpulkan bahwa benar-benar
telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang perlu mengambil tindakan atau sebaliknya.
8. Tindakan penanggulangan
Tindakan penanggulangan yang dilakukan melalui pengobatan segera pada penderita
yang sakit, melakukan rujukan penderita yang tergolong berat, melakukan penyuluhan
mengenai penyakit kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran agar tidak tertular
penyakit atau menghindari penyakit tersebut, melakukan gerakan kebersihan lingkungan
untuk memutuskan rantai penularan.
9. Evaluasi data sistem surveilans
Program surveilans sebaiknya dinilai secara periodik untuk dapat dilakukan evaluasi
manfaat kegiatan surveilans. Sistem dapat berguna apabila memenuhi salah satu dari
pernyataan berikut:
a. Apakah kegiatan surveilans dapat mendeteksi kecenderungan dan mengidentifikasi
perubahan dalam kejadian kasus.
b. Apakah program surveilans dapat mendeteksi epidemic kejadian kasus di wilayah
tersebut.
c. Apakah kegiatan surveilans dapat memberikan informasi tentang besarnya morbiditas
dan mortalitas yang berhubungan dengan kejadian penyakit di wilayah tersebut.
d. Apakah program surveilans dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang
berhubungan dengan kasus atau penyakit.
e. Indikator surveilans
Indikator surveilans meliputi:
Kelengkapan laporan.
Jumlah dan kualitas kajian epidemiologi dan rekomendasi yang dapat dihasila
n.
Terdistribusinya berita epidemiologi lokal dan nasional.
Pemanfaatan informasi epidemiologi dalam manajemen program kesehatan.
Meningkatnya kajian Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) penyakit.

2.3.5 Pelaksanaan
1. Pelaksanaan Surveilans di Tingkat Desa
Pelaksanaan Surveilans oleh Kelompok Kerja. Surveilans penyakit di tingkat desa
dilaksanakan oleh kelompok kerja surveilans tingkat desa, dengan melakukan
kegiatan pengamatan dan pemantauan situasi penyakit/kesehatan masyarakat desa
dan kemungkinan ancaman terjadinya KLB secara terus menerus. Pemantauan
tidak hanya sebatas penyakit tetapi juga dilakukan terhadap faktor risiko
munculnya suatu penyakit.
Pengamatan dan pemantauan suatu penyakit di suatu desa mungkin berbeda
jenisnya dengan pemantauan dan pengamatan di desa lain. Hal ini sangat
tergantung dari kondisi penyakit yang sering terjadi dan menjadi ancaman di
masing-masing desa.. Hasil pengamatan dan pemantauan dilaporkan secara berkala
sesuai kesepakatan (per minggu/ per bulan/ bahkan setiap saat) ke petugas
kesehatan di Poskesdes. Informasi yang disampaikan berupa informasi :
- Nama Penderita
- Penyakit yang dialami/ gejala
- Alamat tinggal
- Umur
- Jenis Kelamin
- Kondisi lingkungan tempat tinggal penderita, dll.
Pelaksanaan Surveilans oleh Petugas Surveilans Posyandu
Kegiatan surveilans di tingkat desa tidak lepas dari peran aktif petugas petugas
kesehatan/surveilans Posyandu. Kegiatan surveilans yang dilakukan oleh petugas
kesehatan di Posyandu adalah :
- Melakukan pengumpulan data penyakit dari hasil kunjungan pasien dan dari
laporan warga masyarakat.
- Membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) dengan menggunakan data
laporan tersebut diatas dalam bentuk data mingguan. Melalui PWS akan terlihat
kecenderungan peningkatan suatu penyakit. PWS dibuat untuk jenis penyakit
Potensial KLB seperti DBD, Campak, Diare, Malaria, dll serta jenis penyakit lain
yang sering terjadi di masyarakat desa setempat.
- Menyampaikan laporan data penyakit secara berkala ke Puskesmas
(mingguan/bulanan).
- Membuat peta penyebaran penyakit. Melalui peta ini akan diketahui lokasi
penyebaran suatu penyakit yang dapat menjadi focus area intervensi.
- Memberikan informasi/rekomendasi secara berkala kepada kepala desa tentang
situasi penyakit desa/kesehatan warga desa atau pada saat pertemuan musyawarah
masyarakat desa untuk mendapatkan solusi permasalah terhadap upaya-upaya
pencegahan penyakit.
- Memberikan respon cepat terhadap adanya KLB atau ancaman akan terjadinya
KLB. Respon cepat berupa penyelidikan epidemiologi/investigasi bersama-sama
dengan Tim Gerak Cepat Puskesmas.
- Bersama masyarakat secara berkala dan terjadwal melakukan upaya-upaya
pencegahan dan penanggulangan penyakit.
2. Pelaksanaan Surveilans di Tingkat Puskesmas. Kegiatan surveilans di tingkat
Puskesmas dilaksanakan oleh petugas surveilans puskesmas dengan serangkaian
kegiatan berupa pengumpulan data, pengolahan, analisis dan interpretasi data
penyakit, yang dikumpulkan dari setiap desa siaga. Petugas surveilans puskesmas
diharuskan:
- Membangun sistem kewaspadaan dini penyakit, diantaranya melakukan
Pemantauan Wilayah Setempat dengan menggunakan data W2 (laporan mingguan).
Melalui PWS ini diharapkan akan terlihat bagaimana perkembangan kasus
penyakit setiap saat.
- Membuat peta daerah rawan penyakit. Melalui peta ini akan terlihat daerah-daerah
yang mempunyai risiko terhadap muncul dan berkembangnya suatu penyakit.
Sehingga secara tajam intervensi program diarahkan ke lokasi-lokasi berisiko.
- Membangun kerjasama dengan program dan sektor terkait untuk memecahkan kan
permasalah penyakit di wilayahnya.
- Bersama Tim Gerak Cepat (TGC) KLB Puskesmas, melakukan respon cepat jika
terdapat laporan adanya KLB/ancaman KLB penyakit di wilayahnya.
- Melakukan pembinaan/asistensi teknis kegiatan surveilans secara berkala kepada
petugas di Poskesdes.
- Melaporkan kegiatan surveilans ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota secara
berkala (mingguan/bulanan/tahunan).

2.3.6 Hambatan yang terjadi dalam surveilans epidemiologi


Ada beberapa hambatan surveillans epidemiologi, dintaranya:
1) Kerjasama lintas sektoral
Surveillens epidemiologi harus bekerjasama dengan berbagai sektor yang berkaitan
dengan kesehatan, kerjasama tersebut membutuhkan partisipasi yang penuh untuk
tecapainya pemecahan masalah kesehatan, kadang kala sektor yang lain mempunyai
pertisipasi yang rendah dalam kerjasama lintas sektoral tersebut.
2) Partisipasi masyarakat rendah
Surveillens epidemiologi yang memang menangani masalah kesehatan masyrakat
seharusnya benar-benar menggali informasi dari masyarakat dan penanganannyapun
hasrus dengan masyarakat, sering dijumpai partsipasi masyarakat dalam pengambilan
informasi dari petugas kesehatan berbelit-belit dan cenderung menutup-nutupi.

3) Sumber daya
Hambatan yang paling menonjol dari hasil penelitian ini adalah sumber daya manusia.
Hambatan yang berhasil di identifikasi berdasarkan persepsi responden adalah sebagai
berikut ;
- Jumlah tenaga yang kurang untuk mengcover kegiatan survei
- Banyaknya tugas rangkap.
- Sarana Komputer, biasanya komputer bergantian untuk menyelesaikan tugas lain.
4) Ilmu pengetahuan dan teknologi
Surveillans epidemiologi membutuhkan teknologi untuk mempercepat deteksi,
analisis penanggulangan dan penanggulangan masalah kesehatan. Kondisi di lapangan
seringkali teknologi di laboratorium lambat, sehingga mengganggu tahap deteksi dini
dan penanganan kasus akan terlambat.
5) Kebijakan
Seringkali kebijakan dari pemerintah dirasa masih menghambat dalam pelaksanaan
surveilans. Contohnya saja baru ditangani apabila memang sudah menjadi KLB.
Birokrasi pemerintahan yang rumit sering menjadi kendala dalam melakukan surveilans.
Kebijakan yang belum dipahami petugas juga menjadi kendala dalam pelaksanaan
surveilans.
6) Dana
Kegiatan surveilans ini tidak membutuhkan dana yang sedikit juga. Sering kali
permasalahan dana menjadi penghambat dalam melakukan surveilans.
7) Jarak dan Transportasi
Lokasi yang jauh dari perkotaan dan minimnya transportasi membuat kegiatan
surveilans terhambat. Sering kali jarak membuat kegiatan surveilans berlangsung
berhari-hari karena transportasi yang minim dan jarak yang jauh. Kondisi jalan juga
mempengaruhi.

2.4 Ruang Lingkup Surveilans Epidemiologi


1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan
faktor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular.
Ruang lingkupnya antara lain :
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
Penyakit potensial wabah atau klb penyakit menular dan keracunan
Penyakit DBD/DSS
Malaria
Penyakit zoonosis, antraks, rabies, leptospirosis, dsb.
Penyakit filariasis
Penyakit tuberculosis
Penyakit diare, tifus perut, kecacingan, dan penyakit perut lainnya
Penyakit kusta
Penyakit HIV/AIDS
Penyakit Menular Seksual
Penyakit pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (termasuk SARS)

2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular


Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan
factor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.
Ruang lingkupnya antara lain : Hipertensi, Stroke, Penyakit Jantung Koroner (PJK),
Diabetes Mellitus, Neoplasma, Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), dan
Gangguan mental.

3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku


Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan factor risiko
untuk mendukung program penyehatan lingkungan.
Ruang lingkupnya antara lain : Sarana Air Bersih, vektor penyakit, tempat-
tempat umum, pemukiman, lingkungan perumahan, limbah industri, Rumah
Sakit dan sarana yankes lain, termasuk Infeksi Nosokomial (INOS)

4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan


Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan
faktor risiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.
Ruang lingkupnya antara lain:
- Surveilans gizi dan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
- Gizi mikro (Kekurangan yodium, anemia zat Besi KVA)
- Gizi lebih
- Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk kesehatan reproduksi (Kespro)
- Penyalahgunaan napza
- Penggunaan sediaan farmasi, obat, obat tradisional, bahan kosmetika serta peralatan
- Kualitas makanan dan bahan tambahan makanan

5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra


Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan
factor risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra.
Ruang lingkupnya antara lain:
- Kesehatan Haji
- Kesehatan Pelabuhan dan Lintas Batas Perbatasan
- Bencana dan masalah sosial
- Kesehatan matra laut dan udara
- KLB Penyakit dan Keracunan

2.5 Ruang Lingkup Surveilans Epidemiologi Menurut Tempatnya


Ruang lingkup surveilans epidemiologi menurut tempatnya dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu surveilans epidemiologi dalam masyarakat dan surveilans epidemiologi di rumah
sakit.
1. Surveilans epidemiologi dalam masyarakat
Surveilans epidemiologi ini dilakukan pada suatu wilayah administrasi atau pada
kelompok populasi tertentu. Dengan analisis secara teratur berkesinambungan terhadap
data yang dikumpulkan mengenai kejadian kesakitan atau kematian, dapat memberikan
kesempatan lebih mengenal kecenderungan penyakit menurut variabel yang diteliti.
Variabel tersebut diantaranya adalah distribusi penyakit menurut musim atau periode
waktu tertentu, mengetahui daerah geografis dimana jumlah kasus/penularan meningkat
atau berkurang, serta berbagai kelompok risiko tinggi menurut umur, jenis kelamin, ras,
agama, status sosial ekonomi serta pekerjaan.
2. Surveilans epidemiologi di rumah sakit
Saat ini penderita penyakit menular yang dirawat di rumah sakit jumlahnya masih
cukup besar. Suatu keadaan khusus dimana faktor lingkungan, secara bermakna dapat
mendukung terjadinya risiko meendapatkan penyakit infeksi, sehingga tekhnik surveilans
termasuk kontrol penyakit pada rumah sakit rujukan pada tingkat propinsi dan regional
memerlukan perlakuan tersendiri. Pada rumah sakit tersebut, terdapat beberapa penularan
penyakit dan dapat menimbulkan infeksi nosokomial. Selain itu, rumah sakit mungkin
dapat menjadi tempat berkembangbiaknya serta tumbuh suburnya berbagai jenis mikro-
organisme.
Untuk mengatasi masalah penularan penyakit infeksi di rumah sakit maka telah
dikembangkan sistem surveilans epidemiologi yang khusus dan cukup efektif untuk
menanggulangi kemungkinan terjadinya penularan penyakit (dikenal dengan infeksi
nosokomial) di dalam lingkungan rumah sakit.

BAB III
PENUTUP
Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus
menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan serta kondisi yang
mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar
dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan, pengolahan data dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan. Surveilans epidemiologi memiliki ciri khas antara lain
adanya kegiatan pengumpulan data yang sistematis, kontinu dan rutin; adanya kegiatan
analisa dan interpretasi data; dan adanya penyebarluasan informasi.
Karakteristik surveilans yang efektif: cepat, akurat, reliabel, representatif, sederhana,
fleksibel, akseptabel. Meskipun di lapangan banyak variasi pelaksanaannya, namun secara
garis besarnya langkah-langkah pokok yang perlu ditempuh adalah dengan melakukan
persiapan internal dan persiapan eksternal. Surveilans epidemiologi juga memiliki beberapa
hambatan surveillans epidemiologi, dintaranya: Kerjasama lintas sektoral, Partisipasi
masyarakat rendah, Sumber daya, Ilmu pengetahuan dan teknologi, Kebijakan, Dana, Jarak
dan Transportasi

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, Ridwan. 2013. Mengembangkan Evidence Based Public Health HIV dan AIDS
berbasis surveilans. Jurnal AKK. 2(2): 48-55

Arias, Kathleen Meehan. 2002. "Program Surveilans Rutin Untuk Fasilitas Pelayanan
Kesehatan", Investigasi dan Pengendalian Wabah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
EGC, hal 25-55.

Bensimon CM, Upshur REG (2007). Evidence and effectiveness in decision making for
quarantine. Am J Public Health;97:S44-48.Giesecke J (2002). Modern infectious disease
epidemiology. London:Arnold.

Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi. Rineka Cipta. Jakarta.

Budiarto, Eko & Dewi Anggraeni. 2002. "Pengamatan Epidemiologis (Surveilans)",


Pengantar Epidemiologi, Edisi 2. Jakarta: EGC, hal 100-106.

Coggon, D dkk. 1996. "Perencanaan dan Pelaksanaan Survei", Epidemiologi Bagi Pemula.
Jakarta: EGC, hal 38-49.

DCP2 (2008). Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics. Disease
Control Priority Project. www.dcp2.org/file/153/dcpp
-surveillance.pdf

Gordis, L (2000). Epidemiology. Philadelphia, PA: WB Saunders Co.Erme MA, Quade TC


(2010). Epidemiologic surveillance. Enote.www.enotes.com/public-health.../epidemiologic-
Surveillance
JHU (=Johns Hopkins University) (2006). Disaster epidemiology. Baltimore, MD: The Johns
Hopkins and IFRC Public Health Guide for Emergencies.

Keputusan Menkes RI No. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan


Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.

Last, JM (2001). A dictionary of epidemiology. New York: Oxford University Press, Inc.

Mandl KD, Overhage M, Wagner MM, Lober WB, Sebastiani P, Mostahari F, Pavlin
JA,Gesteland PH, Treadwell T, Koski E, Hutwagner L, Buckeridge DL , Aller RD, Grannis S
(2004). Implementing syndromic surveillance: A practical guide informed by the early
experience. J Am Med Inform Assoc., 11:141150.

McNabb SJN, Chungong S, Ryan M, Wuhib T, Nsubuga P, Alemu W, Karande-Kulis V,


Rodier G (2002). Conceptual framework of public health surveillance and action and its
application in health sector reform. BMC Public Health, 2:2 http://www.biomedcentral. Com

Murti, Bhisma. 2003. "Surveilans", Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Edisi Kedua.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hal 299-307.

Noor, Nur Nasry. 2006. "Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular", Pengantar
Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: PT. Rineka Cipta, hal 82-95.

Pavlin JA (2003). Investigation of disease outbreaks detected by syndromic surveillance


systems. Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine, 80(Suppl
1): i107-i114(1).

Ryadi, A. L.Slamet. 2011. "Surveilans Epidemiologi", Dasar-Dasar Epidemiologi. Jakarta:


Salemba Medika, hal 82.
Sloan PD, MacFarqubar JK, Sickbert-Bennett E, Mitchell CM, Akers R, Weber DJ, Howard
K (2006). Syndromic surveillance for emerging infections in office practice using billing
data. Ann Fam Med 2006;4:351-358.

Sugiyono, Prof. Dr. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Atfabeta.
Bandung.

Sutrisna, Bambang. 1986. Pengantar Metode Epidemiologi. PT. Dian Rakyat. Jakarta.

Valaris, Barbara. 1992. "Disease Control and Surveillance", Epidemiology in Nursing and
Health Care, Second Edition. Oregon: Appleton & Lange, hal 305-325.

WHO (2001). An integrated approach to communicable disease surveillance. Weekly


epidemiological record, 75: 1-8. http://www.who.int/wer

_____ (2002). Surveillance: slides. http://www.who.int

Wuhib T, Chorba TL, Davidiants V, MacKenzie WR, McNabb SJN (2002). Assessment of the
infectious diseases surveillance system of the Republic of Armenia: an example of
surveillance in The Republics of the former Soviet Union. BMC Public Health, 2:3
http://www.biomedcentral.com.