Anda di halaman 1dari 1
Revitalisasi kawasan desa mandiri energi : studi kasus di Gambar |, Tanaman nyamplung. a) pertanaman nyamplung di Desa Buluagung, b) reaktor biodiesel minyak nyamplung dan ¢) biokerosin minyak nyamplung 125,5 ha yang tersebar di Kecamatan Sukamande (12,5 ha), Kecamatan Pedotan (81,3), Kecamatan Curah- jati (4,8 ha), dan Kecamatan Blam- bangan (27 ha). Sebagian besar ta- naman nyamplung ini ditanam di daerah pesisir pantai sebagai peme- cah angin (wind breaker), tanam- an pangan dan konservasi daerah pantai Budidaya di KPH Banyuwangi Selatan Tanaman nyamplung yang ada di KPH Banyuwangi Selatan, baru 62,4 ha yang sudah menghasilkan buah. Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam pada tahun 1987 de- ngan rata-rata kerapatan 3.300 po- hon/ha. Hal ini dikarenakan meng- gunakan jarak tanam 3 x 1 m. Menurut Badan Litbang Kemen- terian Kehutanan, jarak tanam yang baik untuk tanaman nyamplung adalah 5 x 5 m, Saat ini jumlah pohon produktif yang ada KPH Banyuwangi Selatan mencapai 205.920 pohon. Jarak tanam yang terlalu sempit menyebabkan tiap pohon nyamplung hanya mampu memproduksi biji sebanyak + 30 kg/tahun (biji lepas kulit 2,4 dan dalam | tahun 2 kali panen). Sehing- ga dari 62,4 ha tanaman nyamplung mampu menghasilkan biji 1.544,4 ton/tahun atau 4,29 ton/ha/tahun (25% panen hasilnya bagus). Pada- hal tiap tanaman nyamplung dapat menghasilkan 100 kg bijiahun. Pasca Panen Serta Nilai Ekono- minya Sebagai sarana pengolahan bio- diesel, serta untuk mendukung pro- gram Desa Mandiri Energi (DME), telah dibangun unit pengolahan bio- diesel di areal dekat hutan nyam- plung, tepatnya di Desa Buluagung, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi sebagai hasil kerjasama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Perum Perhutani. Unit peng- olahan tersebut dibuat dengan skala 230 kg/hari, padahal produksi biji nyamplung mencapai 4,29 ton/hari Kapasitas produksi biodiesel yang rendah menyebabkan pabrik tidak mampu mengolah semua _biji nyamplung. Bahan yang menjadi biodiesel hanya biji yang sudah jatuh ke tanah, itupun banyak yang tidak terambil sehingga tum- buh menjadi tanaman_nyamplung muda, Pada pabrik pengolahan, buah nyamplung diolah menjadi bio- kerosin atau biodiesel. Proses peng- olahan biokerosin yang dilakukan di pabrik tersebut dimulai dengan me- ‘mecah buah nyamplung dengan alat pemecah, dikukus dan dikeringkan, diekstrak menggunakan alat press ulit, kemudian diproses degum- ming. Tika ingin diolah menjadi biodiesel, minyak yang dihasilkan tersebut diesterifikasi, transesterifi- kasi, pencucian, dan pengeringan. Rata-rata berat kernel nyamplung sekitar 40% dari buah nyamplung, ume 18 Nomor sedangkan sisanya berat kulit dan kernel. Kandungan minyak nyam- plung mencapai 56% namun ren- demen minyak yang dapat diekstrak pada LMDH tersebut baru mencapai 30%. Rendahnya rendemen ini di- sebabkan Karena pabrik mengolah biji nyamplung yang sudah jatuh di tanah. Padahal biji yang telah jatuh ke tanah tersebut, rendemen minyak- nya rendah dan asam lemak bebas- nya meningkat. Minyak yang me- ngandung asam lemak bebas tinggi dapat meningkatkan biaya produksi, Karena selain membutuhkan waktu pengolahan yang lebih lama juga membutuhkan katalis yang lebih banyak. Pabrik membeli buah nyamplung dari petani pengumpul dengan harga Rp 600/kg, biaya tersebut merupa- kan biaya untuk mengambil buah nyamplung di bhutan milik Perum Pethutani. Biaya pengolahan dari buah nyamplung hingga _men- jadi biokerosin dibutuhkanbiaya Rp 4.125,-/liter, yang meliputi biaya upah tenaga kerja, katalis, dan bahan bakar, sedangkan biaya produksi biodiesel sebesar Rp 10.884,-/liter. Biokerosin yang dihasilkan dijual kepada pabrik pembuat genteng sebagai bahan pelapis. Pabrik pengolahan ini berjalan tersendat dikarenakan permintaan biokerosin yang tidak menentu dan harga biodiesel yang tidak dapat bersaing dengan solar. Jika bio- diesel nyamplung dijual seharga solar subsidi (Rp 4.500) pabrik rugi Ae (ee ee te ee