Anda di halaman 1dari 9

PEMERIKSAAN KADAR TOTAL PROTEIN

Oleh:
Nama : Nitami Sugiyati
NIM : B1J014034
Rombongan : IV
Kelompok :2
Asisten : Suci Indah Rahmadani

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti yang paling
utama) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan
polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain
dengan ikatan peptida. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel
makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim.
Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit mensintesis
fibrinogen, albumin, dan 60 80 % dari bermacam-macam protein yang memiliki
ciri globulin. Globulin-globulin yang tersisa adalah imunoglobulin (antibodi) yang
dibuat oleh sistem limforetikuler.
Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan
albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar protein total,
yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut dalam serum. Penetapan
ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein berisi asam amino dan asam amino
berisi nitrogen. Total protein terdiri atas albumin (60%) dan globulin (40%). Bahan
pemeriksaan yang digunakan untuk pemeriksaan total protein adalah serum. Bila
menggunakan bahan pemeriksaan plasma, kadar total protein akan menjadi lebih
tinggi 3 5 % karena pengaruh fibrinogen dalam plasma.
Cara yang paling sederhana dalam penetapan protein adalah dengan
refraktometer (dipegang dengan tangan) yang menghitung protein dalam larutan
berdasarkan perubahan indeks refraksi yang disebabkan oleh molekul-molekul
protein dalam larutan. Indeks refraksi mudah dilakukan dan tidak memerlukan
reagen lain, tetapi dapat terganggu oleh adanya hiperlipidemia, peningkatan bilirubin,
atau hemolisis. Saat ini, pengukuran protein telah banyak menggunakan analyzer
kimiawi otomatis. Pengukuran kadar menggunakan prinsip penyerapan (absorbance)
molekul zat warna. Protein total biasanya diukur dengan reagen Biuret dan tembaga
sulfat basa. Penyerapan dipantau secara spektrofotometri pada 545 nm. Albumin
sering dikuantifikasi sendiri. Sedangkan globulin dihitung dari selisih kadar antara
protein total dan albumin yang diukur. Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik
yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum
dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan
sehingga terjadi edema. Rasio A/g merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi
dua protein yang penting, yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan A/G adalah >
1.0. Nilai rasio yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, sedangkan rasio yang rendah
ditemukan pada penyakit hati dan ginjal. Perhitungan elektroforesis merupakan
perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara perhitungan rasio A/G.
Protein Total dan Albumin secara khusus dapat dievaluasi menggunakan
bermacam-macam teknik, seperti : Teknik Radio Immuno Diffusion, Ultra Violet
Spektrofotometri, Nephelometri, Turbidimetri, Elektroforesis, Immunofixation, dan
lain-lain. Metode pemeriksaan kadar protein total yang umum digunakan adalah
metode Biuret, sedangkan untuk albumin yang digunakan adalah metode warna
(BCG/BCP). Rasio kadar Albumin dengan Globulin (A/G ratio) digunakan sebagai
petunjuk adanya perubahan protein serum selama terjadinya gangguan atau penyakit
dalam tubuh.

Mencit merupakan hewan yang paling banyak digunakan sebagai hewan


model laboratorium dengan kisaran penggunaan antara 40-80%. Mencit banyak
digunakan sebagai hewan laboratorium (khususnya digunakan dalam penelitian
biologi), karena memiliki keunggulan-keunggulan seperti siklus hidup relatif pendek,
jumlah anak per kelahiran banyak, variasi sifat-sifatnya tinggi, mudah ditangani,
serta sifat produksi dan karakteristik reproduksinya mirip hewan lain, seperti sapi,
kambing, domba, dan babi. Menurut Mencit dapat hidup mencapai umur 1-3 tahun
tetapi terdapat perbedaan usia dari berbagai galur terutama berdasarkan kepekaan
terhadap lingkungan dan penyakit (Malole & Pramono, 1989).

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah

1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan kadar total protein dengan


menggunakan metode biuret

2. Mahasiswa dapat menentukan status imunitas mencit melalui pemeriksaan


kadar albumin dan total protein
BAB II. MATERI DAN METODE
2.1 Materi

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Tabung reaksi, rak
tabung reaksi, pipet berukuran 60l dan 1000l, dan spektrofotometer.Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen biuret, reagen standar
protein, dan serum atau plasma.
2.2. Metode
1. Disiapkan 3 buah tabung reaksi, masing-masing diberi label untuk reagen Blanko
(RB), Reagen Standard (STD) dan Sampel (SPL) berupa serum darah.
2. Tabung blanko diberi 3.000l Reagen biuret.
3. Tabung standard diberi 40l Reagen Standard Protein dan ditambah dengan
3.000l Reagen Biuret, dicampur supaya homogen.
4. Tabung sampel diberi 60l Sampel (serum) dan 3.000l Reagen Biuret , dicampur
supaya homogen.
5. Selanjutnya masing-masing diinkubasi selama 10 menit pada temperature kamar.
6. Diukur absorbs (A) dari standar dan sampel terhadap blangko dengan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm.
7. dilakukan perhitungan dengan rumus:
Kadar Total Protein (g/dl)= A SPL x 8 g/dl
A STD

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Hasil
3.2. Pembahasan

Molekul protein adalah rantai panjang yang tersusun oleh mata


rantai asam- asam amino. Dalam molekul protein, asam-asam amino saling
dirangkaikan melalui reaksi gugusan karboksil asam amino yang satu dengan
gugusan amino dari asam amino yang lain, sehingga terjadi ikatan yang disebut
ikatan peptida. Ikatan pepetida ini merupakan ikatan tingkat primer. Dua
molekul asam amino yang saling diikatkan dengan cara demikian disebut ikatan
dipeptida. Bila tiga molekul asam amino, disebut tripeptida dan bila lebih
banyak lagi disebut polypeptida. Polypeptida yang hanya terdiri dari sejumlah
beberapa molekul asam amino disebut oligopeptida. Molekul protein adalah
suatu polypeptida, dimana sejumlah besar asam-asam aminonya saling bertemu
dengan ikatan peptida tersebut
Struktur umum asam amino terdiri atas beberapa bagian:
1. Gugusan amino
2. Gugusan karboksil
3. Gugusan sisa molekul (molecular rest)
Perbedaan asam amino yang satu dengan yang lainnya terletak pada
struktur sisa molekul R. Asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh
disebut asam amino esensial. Untuk orang dewasa terdapat 8 jenis asam amino
esensial, yaitu lisin, leusin, isoleusin, valin, treonin, fenilalanin, metionin,
triptofan, sedangkan untuk anak-anak yang sedang tumbuh, ditambahkan dua
jenis lagi, ialah histidin dan arginin. Dalam molekul protein, asam-asam amino
saling dirangkaikan melalui reaksi gugusan karboksil asam amino yang satu
dengan gugusan amino dari asam amino yang lain, sehingga terjadi ikatan yang
disebut ikatan peptida.
Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur protein adalah :
a. Suhu Pada protein suhu sangatlah dijaga, hal ini di kerenakan
kenaikan suhu menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Denaturasi adalah
rusaknya struktur protein dikarenakan yang menyebabkan protein kehilangan
satu hingga sebagian fungsi biologiknya. Contohnya adalah telur yang digoreng
akan menyebabkan ovalbumin mengalami denaturasi. Atau penambahan
detergen pada kebanyakan protein dalam larutan menyebabkan pengrusakan
interaksi hidrofobik pada bagian dalam dari molekul protein dan dengan
demikian menyebabkan perubahan dalam struktur keseluruhan protein.
b. pH Pada umumnya struktur ion protein tergantung pada pH
lingkungannya. Struktur protein terdiri dari beberapa asam amino, dimana asam
amino ini dapat bertindak sebagai ion positif, ion negatif atau berdwikutub
(zwitterion). Bentuk ion dwikutub bentuk tak berdisosiasi Disamping itu, pH
yang rendah dan tinggi dapat menyebabkan terjadinya denaturasi dan merubah
strukktur dari protein.
c. Radiasi Radiasi merupakan faktor lainnya yang dapat
mempengaruhi struktur dari suatu protein. Banyak orang mungkin tidak
mengetahui bahwa radiasi sangatlah berpengaruh terhadap struktur protein. Hal
ini disebabkan karena dalam struktur protein terdapat ikatan-ikatan yang bila
terkena sinar radiasi akan berpengaruh. Contoh yang umum adalah mengenai
rambut yang merupakan protein, dimana akan rusak strukturnya bila terus
menerus disinari sinar matahari (salah satu bentuk radiasi).
Berdasarkan bentuknya protein dapat dibedakan menjadi 3, Yaitu .
Protein fibriler, globuler, dan konjungsi. Protein fibriler
(skleroprotein)Merupakan protein yang bentuknya serabut. Protein ini tidak bisa
larut dalam pelarut-pelarut encer, baik larutan garam, asam basa ataupun
alkohol. Contohnya kolagen yang terdapat pada tulang rawan, keratin pada
rambut, miosin pada otot, dan fibrin pada gumpalan darah. Contoh protein
serabut : Kolagen, elastin, keratin, miosin. Protein globuler (steroprotein)
merupakan protein yang berbentuk mirip dengan bola. Protein ini larut dalam
larutan garam dan asam encer, untuk protein jenis ini lebih mudah berubah
dibawah pengaruh suhu, konsentrasi garam, pelarut asam dan basa
dibandingkan protein fibriler. Protein ini sangat mudah terdenaturasi, yaitu
susunan molekul dapat berubah diikuti dengan perubahan sifat fisik dan
fisiologik seperti yang dialami oleh enzim dan hormon. Contoh : Albumin,
globumin, histon, protamin. Protein konjungsi merupakan protein sederhana
yang terikat dengan bahan-bahan non asam amino (gugus prostetik). Contoh :
Nukleoprotein, lipoprotein, fosfoprotein, metaloprotein.
Protein dari sudut fungsi fisiologik yaitu berhubungan dengan daya
dukung untuk pertumbuhan badan dan pemeliharaan jaringan tubuh, protein ini
dapat dibedakan menjadi protein sempurna dan tidak sempurna. Protein
sempurna, apabila protein bisa mendukung pertumbuhan badan dan
pemeliharaan jaringan. Protein sempurna sangat diperlukan untuk anak-anak
karena mempengaruhi masa pertumbuhan dan perkembangan. Protein setengah
sempurna, apabila protein sanggup mendukung pemeliharaan jaringan, tetapi
tidak dapat mendukung pertumbuhan badan. Protein yang memelihara jaringan
yang rusak. Protein tidak sempurna, apabila sama sekali tidak sanggup
membantu pertumbuhan badan dan pemeliharaan jaringan.
Protein memegang peranan penting dalam berbagai proses biologi.
Peran-peran tersebut antara lain:
1. Transportasi dan penyimpanan
Molekul kecil dan ion-ion ditansport oleh protein spesifik. Contohnya
transportasi oksigen di dalam eritrosit oleh hemoglobin dan transportasi
oksigen di dalam otot oleh mioglobin.
2. Proteksi imun
Antibodi merupakan protein yang sangat spesifik dan sensitif dapat
mengenal kemudian bergabung dengan benda asing seperti: virus, bakteri,
dan sel dari organisma lain.
3. Koordinasi gerak
Kontraksi otot dapat terjadi karena pergeseran dua filamen protein. Misalnya
pergerakan kromosom saat proses mitosis dan pergerakan sperma oleh
flagela.
4. Penunjang mekanis
Ketegangan dan kekerasan kulit dan tulang disebabkan oleh kolagen yang
merupakan protein fibrosa.
5. Katalisis enzimatik
Sebagaian besar reaksi kimia dalam sistem biologi, dikatalisis oleh enzim
dan hampir semua enzim yang berperan adalah protein.
6. Membangkitkan dan menghantarkan impuls saraf
Rangsang spesifik direspon oleh selespon sel saraf diperantarai oleh protein
reseptor. Contohnya rodopsin adalah protein yang sensitive terhadap
cahaya ditemukan pada sel batang retina. Contoh lainnya adalah protein
reseptor pada sinapsis.
7. Pengendali pertumbuhan dan diferensiasi
Protein mengatur pertumbuhan dan diferensiasi organism tingkat tinggi.
Misalnya faktor pertumbuhan saraf mengendalikan pertumbuhan jaringan
saraf. Selain itu, banyak hormon merupakan protein (Santoso, H. 2008).
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan

4.2 saran