Anda di halaman 1dari 19

TEORI AKUNTANSI

KONSEP LABA

Kelompok 3

ANANDA CAHYA B1C1 13 0


RIZKI PUJA KHUMAERAH B1C1 14 048
SALIANI B1C1 14 050
MELANI RUDITA B1C1 14 051
ANDI MAYASARI TENRI PADA B1C1 14 053
USNUL KHAERATIH GAFFAR B1C1 14 054

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI

2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Karunia-
Nya yang begitu besar, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan harapan dapat bermanfaat
dalam menambah ilmu dan wawasan kita terhadap ilmu pengetahuan dalam hal ini kaitannya
dengan Teori Akuntansi.
Dalam membuat makalah ini,dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang kami miliki,
kami berusaha mencari sumber data dari berbagai sumber informasi,terutama dari media internet
dan media lainnya.
Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada pihak-pihak
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung atas sumber-sumber materi sebagai bahan
referensi yang membantu dalam penyusunan makalah ini.
Sebagai manusia biasa, kami sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu kami berharap akan adanya masukan yang membangun sehingga
makalah ini dapat bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun pengguna makalah ini.
Akhirulkalam kami mengucapkan semoga Allah SWT membimbing kita semua dalam
naungan kasih dan sayang-Nya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Kendari, Mei 2017

Kelompok 2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................... 2
2.1 Pengantar ................................................................................................... 5-6
2.2 Polemik tentang Laba................................................................................. 6-11
2.3 Laba Ekonomi (Economic Income)............................................................ 11-17
2.4 Laba Akuntansi dan Money Income........................................................... 18
2.5 Ilustrasi Perhitungan Laba ........................................................................ 19
2.6 Laba Menurut Konsep Akuntansi (Accounting Income) ..........................
BAB III PENUTUP................................................................................................... 20
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 20
3.1 Saran ................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu fungsi akuntansi adalah melakukan pengukuran termasuk pengukuran prestasi,
hasil usaha, laba maupun posisi keuangan. Salah satu isu berat dalam pengukuran itu adalah
pengukuran laba. Pengukuran laba ini salah satunya sangat penting untuk menentukan prestasi
perusahaan.
Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian pemakai karena angka laba
diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Dari sudut
pandang perekayasa akuntansi, konsep laba dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan
informasi tentang kinerja perusahaan secara luas.
Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau
transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain
yang mempunyai badan usaha selama satu periode, kecuali yang timbul dari pendapatan
(revenue) atau investasi pemilik.
Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya dalam
jangka waktu (periode) tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan
pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi.
Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam
kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang
direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan pada periode tertentu. Meskipun akuntansi tidak harus dapat mengukur dan
menyajikan laba ekonomi, akuntansi paling tidak harus menyediakan informasi laba yang dapat
digunakan pemakai untuk mengukur laba ekonomi yang gilirannya untuk menentukan nilai
ekonomi perusahaan.
Siapa pun yang melakukan kegiatan bisnis pasti memiliki alasan ekonomis yaitu
mendapatkan laba. Oleh karena itu, pelaku bisnis harus bisa memiliki pandangan tentang apa
yang dimaksud laba menurutnya dan bagaimana menentukan laba tersebut. Banyak pandangan
dan praktik di masyarakat dalam pengukuran laba ini. Karena perbedaan pandangan tersebutlah
maka muncul berbagai polemik atau perbedaan persepsi tentang laba ini.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dalam menyusun makalah ini kami menggunakan rumusan masalah sebagai lingkup
pembahasan kami, antara lain:
1. Menjelaskan bagaimana pengantar konsep laba?

2. Menjelaskan bagaimana Polemik tentang Laba?

3. Menjelasakan Pengertian Laba Ekonomi (Economic Income)?

4. Menjelaskan pengertian Laba Akuntansi dan Money Income?

5. Memberikan Ilustrasi Perhitungan Laba?

6. Menjelaskan pengertian Laba Menurut Konsep Akuntansi (Accounting Income)?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui bagaimana pengantar konsep laba?

2. Untuk mengetahui bagaimana Polemik tentang Laba?

3. Untuk mengetahui Pengertian Laba Ekonomi (Economic Income)?

4. Untuk mengetahui pengertian Laba Akuntansi dan Money Income?

5. Untuk mengetahui Ilustrasi Perhitungan Laba?

6. Untuk mengetahui pengertian Laba Menurut Konsep Akuntansi (Accounting Income)?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengantar
Dalam praktiknya fungsi akuntansi adalah melakukan pengukuran kinerja atau prestasi
management perusahaan. Produk akuntansi yaitu laporan keuangan diharapkan dapat
memberikan tolak ukur secara jelas terhadap prestasi perusahaan. Banyak faktor dalam
laporan keuangan yang dapat menjadi tolak ukur, salah satu faktor yang digunakan adalah
pengukuran income atau laba. Laba merupakan elemen penting yang menjadi perhatian para
pemakai laporan keuangan karena diharapkan laba cukup besar untuk menunjukkan kinerja
perusahaan dinilai baik secara keseluruhan.
Salah satu fungsi akuntansi adalah melakukan pengukuran laba. Pengukuran laba
digunakan sebagai menentukan prestasi perusahaan, informasi untuk pembagian laba,
penentuan kebijakan investasi, pembayaran pajak, zakat, bonus, dan pembagian hasil.
Pengukuran laba memiliki peranan yang sangat penting sehingga para fiskus, pemegang
saham, analis keuangan, pengusaha, ekonom, pedagang kaki lima, bahkan siapapun yang ada
di dalam kegiatan bisnis akan melakukan pengukuran laba.
Untuk menentukan laba, para pelaku ekonomi ini memiliki pandangan yang berbeda.
Misalnya pandangan antara pedagang kaki lima dengan pengusaha yang lebih besar. Biasanya
pedagang kaki lima akan menentukan labanya dengan cara yang sederhana. Sedangkan
pengusaha yang lainnya akan menentukan labanya dengan cara yang lebih kompleks, dengan
memperhitungkan jumlah penjualan dikurangi seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan
dikurangi investasi baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan, dan juga
memperhitungkan saldo persediaan, dll. Dan masih banyak lagi pandangan dan praktik dalam
masyarakat, namun yang menjadi pembahasan kali ini ialah :
1. Laba menurut ilmu ekonomi
2. Laba menurut fiskus (petugas pajak)
3. Laba menurut akuntansi
4. Laba menurut perhitungan zakat

Perbedaan itu disebabkan berbagai alasan antara lain karena :


1. Produk atau jasa yang akan dinilai (biaya historis, biaya ganti, biaya realisasi, present
value)
2. Unit ukur
2.2 Polemik Tentang Laba
Sebuah polemik yang tertulis dalam surat pembaca TEMPO 9 desember 1989 antar
penulis dengan Kwik Kian Gie yang menyangkut perbedaan persepsi tentang konsep laba.
Berikut ini adalah polemic tersebut.
Menurut hasil wawanara penulis dengan Kwik Kian Gie yang dimuat TEMPO edisi 25
november 1989 di rubric Ekonomi dan bisnis dengan judul tidak cukup dengan itikad baik ,
memuat tanggapan beliau tentang posisi AGIO SAHAM. Beliau berpandapat bahwa agio
saham adalah laba karena empat alasan pokok. Seperti di bawah ini:
1. Perusahaan biasanya minta agio dengan alasan akan membagikan keuntungan di
kemudian hari
Jawaban penulis :
Alasan ini tidak mudah untuk menopang pendapat agio sebagai laba. Penulis berpendapat
agio bukan diminta melainkan muncul dari perbedaan harga jual saham dengan harga
nominal yang telah dibayar oleh investor. Tentu setelah mempertimbangkannya secara
rasional. Alasan membagikan dikemudian hari juga tidak dapat menguatkan bahwa agio
adalah laba. Pembagian keuntungan sebenarnya bukan didasarkan pada agio atau diluar
laba, baik laba ditahan maupun laba tahun berjalan. Membagikan keuntungan
mempunyai arti bahwa yang dibagi adalah untung (laba)bukan yang lain. Dan bagian
tersebut diberikan berupa kas atau aktiva jenis lainnya.
2. Prinsip akuntansi secara ketat menetapkan agio harus dicantumkan secara pisah, karena
agio bukan modal saham.
Jawaban Penulis:
Pencantuman agio saham secara terpisah dari perkiraan modal saham berarti bahwa
setiap pos yang dipisahkan dari modal otomatis dianggap sebagai laba. Pemisahan itu
adalah untuk melaksanakan prinsip full dislosurc. Agio Saham adalahmerupakan unsure
modal setor (paid in capital) yang terdiri dari modal saham nominal ditambah dengan
agio saham tadi. Yang benar, prisip akuntansi secara ketat haqqul yakin menganggap agio
bukan laba.
3. Agio juga merupakan laba. Perusahaan boleh membagi dividen dari agio saham.
Jawaban Penulis :
Deviden adalah bagian laba yang diterima oleh pemilik perusahaan. Pembagian deviden
ini didasarkan pada laba, bak laba ditahan maupun laba tahun berjalan. Secar teoritis
tanpa laba tidak aka nada deviden. Namun, di Indonesia sering terjadi deviden sudah
dijamin, kendati perhitungan laba rugi perusahaan belum final. Ini terjadi karena praktek
pasarmodal kita masih belum sepenuhnya diatur pasar.
4. Agio boleh langsung dikantongi emiten
Jawaban Penulis :
Ini sangat absurd. Laba tidak sama dengan penerimaan kas. Kalau Kwik menganggap
setiap yang dikantongi perusahaan adalah laba, yang paling senang adalah Fiskus, karena
pemasukan pajak akan sangat deras.

Pengertian laba yang paling diterima umum menurut kami yakni laba menurut
akuntansi. Bahkan dalam akuntansi sendiri konsep laba itu bervariasi. Menurut akuntansi, laba
berasal dari perbedaan antara penghasilan dan biaya. Penghasilan adalah kenaikan aktiva atau
penurunan aktiva atau penurunan kewajiban akibat penjualan barang atau jasa perusahaan..
Sedang biaya adalah penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban akibat aktivitas produksi
(pembelian, penjualan barang atau jasa perusahaan). Laba rugi adalah penghasilan dikurangi
biaya.
Laba adalah kenaikan asset dalam satu periode akibat kegiatan produktif yang dapat
dibagi atau didistribusi kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham (dalam bentuk bunga,
pajak, dan deviden) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas pemegang saham semula.
Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi sekarang ini adalah laba akuntansi yang
merupakan selisih antara pengukuran pendapatan dan biaya. Besar kecilnya laba sebagai
kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Jadi
dalam hal ini laba hanya merupakan angka artikulasi dan tidak dapat didefinisikan tersendiri
secara ekonomik seperti halnya aktiva dan atau hutang.

2.3 Laba Akuntansi dan Money Income


Accounting Income adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari
transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk
mendapatkan penghasilan itu. Venon Kam (1986) menggunakan istilah business income yang
berarti kelebihan dari harga akhir yang dibayar individu dan lembaga lain atas output
perusahaan diatas biaya yang dikeluarkannya.
Belkoui menyebutkan bahwa laba akuntansi memiliki lima karakteristik berikut (Belkoui,
1993) :
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual terutama yang berasal dari penjualan
barang atau jasa.
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodisasi dan mengacu pada kinerja
perusahaan selama satu periode tertentu.
3. Laba akuntansi didasarkan prinsip pendapatan yang memerlukan pemahaman khusus
tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan.
4. Laba akuntansi memerlukan pengukuran tentang biaya (expenses) dalam bentuk biaya
historis.
5. Laba akuntansi menghendaki adanya penandingan (matching) antara pendapatan
dengan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.

Kelima karakteristik laba akuntansi di atas memungkinkan untuk menganalisis


keunggulan dan kelemahan laba akuntansi. Keunggulan laba akuntansi dapat dirumuskan
sebagai berikut (Belkoui, 1993):
1. Laba akuntansi bermanfaat untuk membantu pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laba akuntansi diukur dan dilaporkan secara objektif, dapat diuji kebenarannya karena
didasarkan pada transaksi atau fakta aktual, yang didukung bukti objektif.
3. Laba akuntansi memenuhi kriteria konservatisme, dalam arti akuntansi tidak mengakui
perubahan nilai tetapi hanya mengakui untung yang direalisasi.
4. Laba akuntansi dipandang bermanfaat untuk tujuan pengendalian, terutama
pertanggungjawaban manajemen.

Sementara itu, kelemahan mendasar dari laba akuntansi terletak pada relevansinya dalam
proses pengambilan keputusan. Kelemahan laba akuntansi dapat dirumuskan sebagai berikut
(Belkoui, 1993) :
1. Laba akuntansi gagal mengakui kenaikan aktiva yang belum direalisasi dalam satu
periode karena prinsip cost histories dan prinsip realisasi.
2. Laba akuntansi yang didasarkan pada cost histories mempersulit perbandingan laporan
keuangan karena adanya perbedaan metode perhitungan cost dan metode alokasi.
3. Laba akuntansi yang didasarkan prinsip realisasi, cost histories, dan konservatisme
dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan tidak relevan.

Penghitungan income atau profit ini sangat sederhana jika transaksi itu completed atau
sempurna, tidak ada saldo piutang, sisa persediaan atau aktiva tetap. Semua terjual dan
menjadi kas. Untuk kasus seperti ini, laba adalah jumlah kas yang ada setelah semua
dikonversikan ke kas pada akhir periode dikurangi dengan jumlah kas (modal awal) pada awal
periode. Kalau hasil penjualan barang dan sebagainya Rp15.000,00 sedangkan modal awal
adalah Rp10.000,00, laba bisnis adalah Rp5.000,00.
Namun, dalam kenyataannya tidak demikian, apalagi bisnisnya besar dan luas. Di
samping ada transaksi perusahaan yang sudah sempurna dilaksanakan, masih banyak lagi
transaksi yang belum sempurna dilaksanakan, masih banyak lagi transaksi yang belum
sempurna pelaksanaannya, yang masih memerlukan kas tambahan atau pengorbanan lainnya.
Mungkin ada piutang, ada persediaan barang, dan ada aktiva tetap yang terus-menerus dipakai
dalam proses bisinis. Dalam konteks ini Vernom Kam (1986) memberi dua kemungkinan,
yaitu:
1. Kondisi pasti (certainty), di mana jumlah harga atau kas yang akan diterima atau
dibayarkan di masa yang akan datang dapat ditentukan;
2. Kondisi penuh ketidakpastian (uncertainty) dimana jumlah harga atau kas yang akan
diterima atau dibayarkan di masa yang akan datang belum dapat ditentukan secara
pasti.

Untuk kasus yang pertama , hampir sama dengan kasus sederhana diatas, perbedaannya
hanya terletak pada taksiran kas terhadap kondisi dari transaksi yang akan datang yang sudah
dapat ditentukan itu. Sementara itu, yang selalu terjadi adalah kasus kedua dimana transaksi
kas kebanyakan masih belum menentu baik kejadiannya, waktunya, dan harganya. Untuk itu,
kita menghadapi beberapa masalah tentang : nilai ekonomi, harga, modal, skala, pengukuran
pertukaran. Nilai ekonomi adalah preferensi seseorang terhadap suatu komoditas berdasarkan
kegunaan baginya di masa yang akan datang dibanding dengan komoditas lain. Jika terjadi
pertukaran, muncullah harga atau harga pertukaran (exchange price). Harga ini ditetapkan
berdasarkan nilai uang. Maka, di sini muncul beberapa bentuk harga, yaitu:
1. Harga historis (historical cost)
2. Harga sekarang (current price) atau harga ganti (replacement cost) atau exit price;
3. Harga nanti bisa harga ganti nanti, atau harga exit price nanti;
4. Harga diskonto atau computed amount.
Akuntansi konvensional masih lebih banyak menggunakan harga historis. Harga ini
sangat menentukan dalam perhitungan laba, income atau profit. Tetapi dengan FASB 157
mulai digunakan Fair Value.
2.3.1 Modal (Capital)
Modal adalah aktiva bersih. Laba menaikkan modal atau aktiva bersih.
Laba adalah arus kekayaan, sedangkan modal adalah simpanan kekayaan. Oleh
karena itu, penentuan laba, yaitu penentuan kenaikan modal juga menyangkut
masalah harga juga. Modal bisa berarti financial capital di mana tekanannya
adalah nilai uang dari aktiva dikurangi dengan nilai kewajiban yang merupakan
kontribusi uang pemilik kepada perusahaan. Physical capital, yaitu di sini
difokuskan pada kemampuan fisik dari modal itu untuk memproduksikan barang
dan jasa bukan pada nilai uangnnya. Ukurannya adalah kapasitas produksi dari
aktiva yang dimiliki.
2.3.2 Replacement Cost Income
Dalam konsep Replacement Cost Income dikenal dua komponen income, yaitu:
a. Current operating profit yang dihitung dari pengurangan biaya pengganti
(replacement cost) dari penghasilan;
b. Realized holding gain and loss yang dihitung dari perbedaan antara
replacement cost dari barang yang dijual dengan biaya historis dari barang
yang sama. Laba rugi ini dapat dibagi dua, yaitu.
Yang direalisasi dan accrued selama periode itu;
Yang direalisasi pada periode itu, tetapi accrued pada periode sebelumnya.

Dari pembagian ini, menurut Belkaoui, Accounting Income dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pa = X + Y + Z
Pa = Accounting Income
X = Current operating profit
Y = Realisasi dan accrued holding gain pada periode itu
Z = Realisasi holding gain pada periode itu, tetapi accrued pada periode sebelumnya
Money Income berbeda dengan Accounting Income dalam hal:
a. Money income dihitung berdasarkan nilai replacement cost, sedangkan Accounting
Income berdasarkan historical cost;
b. Money income hanya mengikuti gain yang accrued pada periode itu.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa money income dapat dihitung sebagai berikut.
Pm = Pa Z + W
Pm = Money Income
Pa = Accounting income
Z = Realisasi holding gain and loss pada periode itu accrued pada periode sebelumnya
W = Holding gain and loss yang belum terealisasi

Atau bisa juga dihitung sebagai penjumlahan dari:


1. Current operating profit atau X;
2. Realisasi dan accrued holding gain pada periode itu atau Y;
3. Holding gain dan loss yang belum direalisasi yang accrued pada periode itu.

2.4 Laba Ekonomi (Economic Income )


Sebenarnya yang memulai membahas masalah konsep laba ini adalah para ahli ekonomi.
Kemudian propesi akuntan mengikutinya. Adam smith menjelaskan bahwa income adalah
kenaikan dalam kekayaan. Pengertian ini diikuti oleh marshall dan kawan-kawan dan
dihubungkannya dalam konsep praktik bisnis. mereka membedakan modal tetap dengan
modal kerja, modal fisik, dan laba dan menekankan pada realisasi sebagai pengakuan laba.
Von Bohm Bawerk pada akhir abad 19 telah memperkenalkan pendapat bahwa laba bukan
saja unsure kas, dia memperkenalkan konsep laba dan moneter. Kemudian pada awal abad 20,
fischer, lindahl, dan hick menjelaskan sifat- sifta laba ekonomi, mencakup 3 tahap:
1. Physical Income : konsumen barang dan jasa pribadi yang sebenarnya memberikan
kesenangan fisik dan pemenuhan kebutuhan. Laba jenis ini tidak dapat diukur.
2. Real income : ungkapan kejadian yang memberikan peningkatan terhadapa
kesenangan fisik. Ukuran yang dapat digunakan untuk real income ini adalah biaya
hidup. (cost of living) dengan kata lain kepuasan timbul karena kesenangan fisik yang
timbul dari keuntungan yang diukur dengan pembayaran uang yang dilakukan untuk
membeli barang dan jasa sebelum dan sesudah konsumsi
3. Money income : hasil yang diterima dan dimaksudkan untuk konsumsi dalam
memenuhi kebutuhan hidup. Menurut fischer, real income lebih dekat dengan
pengertian akuntansi tentang income. Lindahl menganggap konsep laba sebagai interst
yaitu merupakan penghargaan terus menerus terhadap barang modal sepanjang waktu.
Perbedaan antara interest dan konsumsi yang diharapakan pada periode tertentu
dianggap sebagai saving. Hick mengembangkan teori fischer dan lindahl tentang
economic income , ia mendefinisikan personal income sebagai berikut :
Jumlah paling tinggi yang dapat dikonsumsikan seseorang selama seminggu dan dia
masih mengaharapkan seperti itu pada akhir minggu sebagaimana keadaannya pada
awalnya.
Definisi dapat disederhanakan menjadi :
Jumlah maksimum yang dapat dikonsumsikan pada periode tertentu dan dia masih
tetap mempertahankan modalnya tidak berkurang sebagai saldo di awal.
Konsep Capital Maintenance
Menurut konsep ini, laba baru disebut ada setelah modal yang dikeluarkan tetap masih
ada (capital maintenance atau return of capital) atau biaya yang telah ditutupi (cost recovery)
atau pengambilan modal return of capital.
Konsep ini dapat dinyatakan baik dalam ukuran uang (unit of money) yang disebut
financial capital atau dalam ukuran tenaga beli (general purchasing power) yang disebut
physical capital. Berdasarkan dua konsep ini, maka konsep capital maintenance menghasilkan
empat konsep sebagai berikut :
Financial capital
a. Money maintenance, yaitu financial capital yang diukur menurut unit uang. Menurut
konsep ini modal yang ditanamkan oleh pemilik tetap terpelihara. Laba menurut
konsep ini adalah perubahan net aset dengan menyesuaikan transaksi modal yang
dijabarkan dalam ukuran uang. Konsep ini sama dengan konsep yang dianut dalam
akuntansi konvensional.
b. General purchasing power money maintenance yaitu financial capital yaiu yang diukur
menurut benda yang sama. Menurut konsep ini, tenaga beli dari modal yang
diinvestasikan pemilik tetap dipertahankan sehingga menurt knsep ini laba adalah
perubahan net aset setelah disesuaikan transaksi modal yang diukur dengan tenaga beli
yang sama. Konsep ini sama dengan GPLA (general price level adjusted) historical
cost accounting.
Physical Capacity
a. Productive capacity maintenance yaitu physical capital yang diukur menurut konsep
uang. Menurut konsep ini, kapasitas produksi dipertahankan, kapasitas produksi dapat
diartikan sebagai kapasitas fisik, kapasitas untuk berproduksi, (volume) barang dan
jasa yang sama dan kapasitas / memproduksi nilai barang dan jasa yang sama. Konsep
ini sama dengan current value accounting.
Current value (nilai sekarang) dapat dihitung dengan tiga metode:
1. Capitalization atau present value method. Yaitu jumlah berssih dari arus kas (kas
masuk- kas keluar) yang diharapkan diterima selama umur ekonominya yang
didiskontkan pada saat sekarang. Untuk menghitung ini, perlu diketahui :
a) Arus kas yang diharapkan dari penggunaan / penjualan aset tersebut.
b) Jangka wakktu arus tersebut.
c) Jumlah sisa umur aktiva tersebut
d) Discount rate (tingkat diskonto)
2. Current entry price yaitu jumlah kas atau aktiva lainnya yang dibutuhkan untuk
mendapatkan aktiva yang sejenis atau yang sama. Istilah yang sering ada adalah:
a) Repleacement cost used adalah jumlah kas yang diperlukan untuk
mendapatkan aset yang serupa yang memilki umur pemakaian yang sama di
pasaran barang bekas.
b) Reproduction cost adalah jumlah akas atau aktiva yang diperlukan untuk
mendapatkan aset yang persisi sama dengan aktiva yang ada sekarang (aset
yang baru).
3. Current exit price (net realizable value) current exit price adalah jumlah kas yang
diterima atau utang yang dianggap lunas. Apabila aset tersebut dijual, umumnya
nilai ini bermakna :
a) harga penjualan yang ada di pasar bebas bukan harga yang timbul karena
terpaksa.
b) Harga jual saat berlangsungnya pengukuran/ pencatatan
b. General purchasing powe, productive capacity maintenance yaitu physical capital yang
diukur denga unit tenaga beli yang sama. Menurt konsep ini, kapasitas produksi fisik
perusahaan yang diukur dalam unit tenaga yang sama dipertahankan. Konsep yang
serua dengan ini adalah GPLA current velue accounting.
2.5 Ilustrasi Perhitungan Laba
Contoh untuk pembedaan keempat konsep laba diatas :
PT. Cimpago Maju memilki kekayaan bersih sebesar Rp. 10.000.000,- pada tanggal 1
Januari 2000 dan pada tanggal 31 Deember 2000 menjadi 15.000.000,- . untuk
mempertahankan kapasitas produksi fisik perusahaan yang sebenarnya diperlukan biaya Rp.
12.500.000,- sedangkan tingkat harga umum naik 10% selama periode itu.
Pertanyaan : hitunglah menurut keempat konsep
Jawab :

1. Money maintenance :
Net asset 31 Desember 2000 Rp. 15.000.000,-
Net asset 1 Desember 2000 Rp. 10.000.000,-
Laba Rp 5.000.000,-

2. GPP Money maintenance :


Net asset 31 Desember 2000 Rp. 15.000.000,-
Net asset 1 Desember 2000 Rp. 10.000.000,-
Penyesuaian GPL =
10% x Rp. 10.000.000,- = Rp. 1.000.000,-
Rp. 11.000.000,-
Laba Rp 5.000.000,-

3. Productive capacity maintenance :


Net asset 31 des 2000 Rp.15.000.000,-
Bagian yang diperlukan untuk
mempertahankan kapasitas produksi perusahaan Rp.12.500.000,-
Laba Rp. 2.500.000,-

4. GPP productive capacity maintenance :


Net aset 31 des 2000 Rp. 15.000.000,-
Bagian untuk mempertahankan
kapasitas produksi yang diperlukan
Net asset 1 jan 2000 Rp. 12.500.000,-
Penyusesuaian GPL =
10% x Rp. 12.500.000,- = Rp. 1.250.000
Rp. 13.750.000,-
Laba Rp. 1.250.000,-

2.6 Laba menurut Konsep Akuntansi


Ada beberapa perbedaan pandangan dalam mengitung laba (income) menurut konsep
akuntansi. Di antaranya ada empat konsep yaitu:
1. Pemikiran klasik yang berpedoman pada postulat unit of measure dan prinsip hisrtorical
cost yang sering disebut historical cost accounting atau conventional accounting
sebagaiman yang kita anut saat ini. Konsep ini dinamakan konsep laba accounting income.
2. Pemikiran neo klasik yang mengubah postulat unit of measure untuk menerapkan dengan
menerapkan perhitungan perubahan tingkat harga umum (general price level) dn tetap
mempertahankan prinsip historical cost. Konsep ini dikenal dengan istilah GPLA historical
cost accounting. Dan perhitungan labanya disebut GPLA accounting income.
3. Pemikiran radikal: yang memilih harga sekarang (current value) sebagai dasar penilaian
bukan historical cost lagi. Konsep ini dikenal dengan current value accounting sedang
perhitungan labanya disebut current income.
4. Pemikiran neo radikal yang menggunakan current value tetapi disesuaikan dengan
perubahan tingkat harga umum. Konsep ini disebu GPLA current value accounting,
sedangkan perhitungan labanya disebut adjusted current income.
Menurut akuntansi, laba kauntansi dalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang
timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan
pada periode tersebut. Menurut belkaoui, definisi tentang laba itu mengandung lima sifat :
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi yaitu timbulnya hasil
dan biaya untuk mendapatkan hasil tersebut.
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodik laba itu, artinya merupakan prestasi
perusahaan itu pasa periode tertentu.
3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue yang memerlukan batasan tersendiri
tentang apa yang termasuk hasil.
4. Laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap biaya dalam bentuk biaya yang historis
yang dikeluarkan perusahaan untuk memdapatkan hasil tertentu.
5. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip matching artinya hasil dikurangi biaya yang
diterima atau dikeluarkan dalam periode yang sama.
Ciri- ciri ini ditambah oleh Most dan didukung oleh Ijiri, Kohler, dan Mautz.
Disamping itu ada kelemahan yang terkandung di dalamnya:
1. Tidak dapat menujukkan laba yang belum direalisasi yang timbul dari kenaikan nilai.
Kenaikan ini ada, namum belum direalisasi.
2. Sulit mengakui kebenaran ika dilakukan perbandingan. Hal ini timbul karena perbedaan
dalam metode menghitung cost, perbedaan waktu antara realisasi hasil dan biaya.
3. Penerapan prinsip realisasi, historical cost, dan conservatisme dapat menimbulkan salah
pengertian terhadap data yang disajikan.
BAB 111

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Laba atau keuntungan dapat didefinisikan dengan dua cara. Laba dalam ilmu ekonomi
murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan seorang investor sebagai hasil penanaman
modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan penanaman modal
tersebut (termasuk di dalamnya, biaya kesempatan). Sementara itu, laba dalam akuntansi
didefinisikan sebagai selisih antara harga penjualan dengan biaya produksi. Perbedaan
diantara keduanya adalah dalam hal pendefinisian biaya. Laba merupakan selisih antara
pendapatan dan biaya secara akrual.
Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam
kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang
direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan pada periode tertentu.
Meski berbeda namun keduanya saling berkaitan, pengukuran laba tergantung bagaimana
cara pandang si pelaku bisnis dan bagaimana mereka menetukan laba tersebut. Karena pada
dasarnya baik individu maupun perusahaan memiliki konsep yang berbeda-beda. Perbedaan
hanya terletak pada benda atau produk dan jasa yang akan dinilai serta bagaimana unit ukur
yang digunakan.

3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini, banyak hal yang perlu adanya perbaikan-perbaikan
dalam penyusunan makalah ini. Tak ada gading yang tak retak. Untuk itu penyusun
menyadari atas kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Antara lain masih banyaknya
penulisan ejaan yang tidak sesuai, bahasa yang terlalu kasar, banyak menyinggung orang
lain, dan banyak yang bukan dari pemikiran pribadi tertuang dalam penyusunan makalah ini.
Harap dijadikan maklum dan kritik serta saran yang membangun sangat saya harapkan untuk
perbaikan-perbaikan selanjutnya. Akhir kata dengan kerendahan hati mohon maaf yang
sebesar-besarnya dan disampaikan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Sofyan Syafri. 2011. Teori Akuntansi. Edisi revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada

Luphi, Ahmad. 12,24,2015. Makalah Konsep Laba. [Online]. Tersedia dalam:


[https://ahmadlupi.blogspot.co.id/2015/12/makalah-konsep-laba.html] {4 Mei 2017}

Arby, Fauziah Ulfa. 05.2010. Teori Akuntansi (Konsep Laba). [Online]. Tersedia dalam:
[http://fauziahupearby.blogspot.co.id/2010/05/teori-akuntansi-materi-konsep-laba.html]