Anda di halaman 1dari 49

MINI RISET

PROFESI KEPENDIDIKAN
SIKAP PERILAKU GURU DI SMK NEGERI 1 MEDAN
Oleh
ATI MALEM SARI GINTING 4143312002
CHRYSTIN YESICA SIAHAAN 4143312003
DEBY NURUL HUDA 4143312004
GAYATRI RIKAYANA SIANTURI 4143312010
M. HAMDANI ADITYA 4143312018
PENDIDIKAN MATEMATIKA BILINGUAL 2014

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017

1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur disampaikan oleh para penulis kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkatnya maka makalah mini riset ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
mendukung proses pembuatan dari makalah rekayasa ide ini .
Pembuatan makalah mini riset ini dibuat untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
kuliah Profesi Pendidikan. Penulis juga berterimakasih kepada Dosen pengampuh mata
kuliah Profesi Pendidikan ini, yang telah menuntun penulis untuk membuat makalh mini
riset. Dan penulis juga berharap dengan adanya makalah mini riset ini akan meningkatkan
pengetahuan dan pengalaman para pembaca.
Karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan, Penulis yakin dalam penulisan
makalah mini riset ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis menerima segala
kritik dan saran yang membantu dalam penyempurnaan makalah mini riset ini.

Medan, 3rd Mei 2017

Kelompok 1

2
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................2
1.3 Tujuan Pebelitian ............................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................2
BAB II KERANGKA BERPIKIR
2.1 Sikap Guru Yang Telah Mendapat Sertifikasi..............................................................3
2.2 Sikap Guru Berdasarkan Kode Etik Guru...................................................................6
2.3 Kegiatan Guru Supervisi Pendidikan Yang Di Terima Di Sekolah.............................9
2.4 Sikap Guru Mengajar Dan Mendidik Siswa Didalam Kelas.....................................
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian ..........................................................................................21
3.2 Jenis Penelitian ..........................................................................................21
3.3 Tempat Dan Waktu Pelaksanaan................................................................................21
3.4 Populasi Dan Sampel ..........................................................................................21
3.5 Teknik Pengumpulan Data.........................................................................................22
3.6 Teknik Analisa Data ..........................................................................................23
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Persiapan Penelitian ..........................................................................................23
4.2 Pelaksanaan Penelitian ..........................................................................................23
4.3 Hasi Penelitian dan Pembahasan ..............................................................................23
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................44
5.2 Saran ..........................................................................................44
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................45
LAMPIRAN I ..............................................................................................
LAMPIRAN II....................................................................................................................
LAMPIRAN III ..............................................................................................
LAMPIRAN IV ..............................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Guru sebagai sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar
terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah dan juga membantu perkembangan peserta
didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat, kemampuan, dan
potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan
ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya
mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa
guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian. Sebab orang yang
pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk
menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional yang
harus mengusai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu
pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui pendidikan tertentu atau
pendidikan prajabatan.
Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya
fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya
sama-sama membawa kepentingan dan saling membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi
tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan,
membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik
muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan
kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar.
Hugget (1985) mencatat sejumlah besar politisi Amerika Serikat yang mengutuk
para guru kurang professional, sedangkan orangtua juga telah menuding mereka tidak
kompeten dan malas.Kalangan bisnis dan industrialis pun memprotes para guru karena hasil
didikan mereka dianggap tidak bermanfaat.Sudah tentu tuduhan dan protes dari berbagai
kalangan itu telah memerosotkan harkat para guru.
Dengan dasar itulah, maka kami mengangkat masalah sikap profesional
keguruansebagai bahan pada mini riset ini. Jika seseorang ingin menjadi guru, maka orang
tersebut haruslah memiliki keahlian sebagai seorang guru. Jika tidak, maka orang tersebut
tidak dapat menjadi seorang guru. Jadi, tidak sembarang orang yang bisa jadi seorang guru.

4
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah adalah
sebagau berikut:
1. Bagaimana sikap guru profesional berdasarkan sikap sertifikasi guru profesional di
SMKN 1 Medan ?
2. Bagaimana sikap guru profesional berdasarkan kode etik guru di SMKN 1 Medan ?
3. Bagaimana sikap guru profesional berdasarkan kegiatan supervisi pendidikan di
SMKN 1 Medan ?
4. Bagaimana sikap guru profesional berdasarkan sikap guru mengajar dan mendidik
siswa di sekolah di SMKN 1 Medan ?
1.4 TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui sikap guru profesional berdasarkan sikap sertifikasi guru
profesional di SMKN 1 Medan
2. Untuk mengetahui sikap guru profesional berdasarkan kode etik di SMKN 1 Medan
3. Untuk mengetahui sikap guru profesional berdasarkan kegiatan supervisi pendidikan
di SMKN 1 Medan
4. Untuk mengetahui sikap guru profesional berdasarkan sikap guru mengajar dan
mendidik siswa di sekolah di SMKN 1 Medan
1.5 MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, sbb :
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Bagi Penulis
a. Menambah pengetahuan tentang sikap profesional keguruan
b. Menjadi pedoman untuk menjadi guru yang profesional
c. Memenuhi tugas matakuliah
2. Bagi Pembaca
a. Menanmbah wawasan tentang sikap profesional keguruan
b. Menjadi bahan bacaan untuk pedoman menjadi guru yang profesional

5
BAB II
KERANGKA BERPIKIR
2.1 SIKAP GURU YANG TELAH MENDAPAT SERTIFIKASI
2.1.1 Pengertian Sertifikasi Guru
Jejak Pendidikan- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
dalam Muslich (2010 : 2), tentang Guru dan Dosen Pasal 1 Ayat (11) disebutkan bahwa
sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru dan dosen. Agar
pemahaman tentang sertifikasi lebih jelas, berikut ini dikutipkan beberapa pasal yang tertuang
dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
sebagai berikut.

1. Pasal 1 butir 11: sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru
dan dosen,

2. Pasal 8: guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik,


sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional,

3. Pasal 11 butir 1: sertifikat pendidik sebagaimana dalam Pasal 8 diberikan kepada guru
yang telah memenuhi persyaratan,

4. Pasal 16: guru yang memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan profesi
sebesar satu kali gaji, guru negeri maupun swasta dibayar pemerintah.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 dapat


disimpulkan sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada guru, dan dosen yang
memiliki persyaratan tertentu, yaitu kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan
rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang
dibarengi dengan peningkatan kesejateraan yang layak yaitu memperoleh tunjangan profesi
sebesar satu kali gaji. Sertifikasi yang dimaksud adalah sertifikasi guru. Sertifikasi guru
adalah guru yang telah menerima sertifikat, sertifikasi berdasarkan kompetensi, kualifikasi
akademik, dan kemampuan yang dimiliki oleh guru serta melaksanakan beban kerja
sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka perminggu.

6
Menurut Mulyasa (2013 : 33-34), sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses
pemberian pengakuan bahwa seorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan
pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang
diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi. Dengan kata lain, sertifikasi guru adalah proses
uji kompetensi yang dirancang untuk mengugkapkan penguasaan kompetensi seseorang
sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik. National Commission on Education Service
(NCES) dalam Mulyasa (2013: 34), memberikan pengertian sertifikasi secara lebih umum.
Certification is a procedure whereby the state evaluates and riviews a teacher
candidates credentials and provides him or her license to teach.

Dalam hal ini sertifikasi merupakan prosedur untuk menentukan apakah seorang
calon guru layak diberikan izin dan kewenangan untuk mengajar. Dari pendapat para ahli
dapat dipahami bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru
yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan. Sertifikasi yang dimaksud
adalah sertifikasi guru yang harus melaksanakan jam mengajar 24 jam tatap muka perminggu
dan berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

Peraturan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang program pembangunan


nasional yang berisikan pembentukan badan akreditasi dan sertifikasi mengajar didaerah.
Dimana tujuan dari dikeluarkanya undang-undang tersebut, sebagi upaya pemerintah dalam
meningkatkan kualitas guru secara nasional. Dengan demikian dapat disimpulakan,
upaya pemerintah dalam memberlakukanya program sertifikasi bagi guru adalah agar dapat
meningkatkan kinerja guru. Sedangkan berdasarkan UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen, bahwa seorang guru adalah pendidikan profesional dengan tugas utama medidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.

Disebutkan pada (Pasal 1 Ketentuan Umum), guru profesional yang dimaksud adalah
pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang sebagai sumber penghasilan
yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau
norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Dengan profesionalime yang dimiliki
guru diharapkan oleh pemerintah dapat meningkatkan kinerja guru.

7
Menurut Muslich, (2010 : 8), peningkatan mutu guru lewat program sertifikasi ini
sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru
bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya bagus maka KBM-nya juga
bagus. KBM yang bagus diharapkan dapat membuahkan pendidikan yang bermutu.
Pemikiran itulah yang mendasari bahwa guru perlu disertifikasi. Oleh karena itu
sertifikasi dapat disimpulkan dapat berpengaruh terhadap kinerja guru.
2.1.2 Tujuan Sertifikasi Guru
Menurut Mulyasa (2013 : 35), mengungkapkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah.

1. Melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan,

2. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten, sehingga merusak


citra pendidik dan tenaga kependidikan,

3. Membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan, dengan menyediakan


rambu-rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang
kompeten,

4. Membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan,

5. Memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dan tenaga pendidik.

Berdasarkan pendapat ahli, ada beberapa tujuan sertifikasi. Tujuan tersebut antara lain,
untuk melindungi profesi dan tenaga kependidikan, melindungi dan membangun citra
masyarakat serta lembaga penyelenggara pendidikan terhadap profesi dan tenaga pendidik.
Tujuan ini adalah tujuan sertifikasi guru. Tujuan tersebut yaitu, untuk meningkatkan
kesejahteraan guru dan untuk melindungi serta membangun citra masyarakat terhadap guru.

Lebih lanjut dikemukakan Mulyasa (2013:35), bahwa sertifikasi pendidik dan tenaga
kependidikan mempunyai manfaat sebagai berikut.

Pengawasan Mutu

1. Lembaga sertifikasi yang telah mengidentifikasi dan menentukan seperangkat


kompetensi yang bersifat unik,

8
2. Untuk setiap jenis profesi dapat mengarahkan para praktisi untuk mengembangkan
tingkat kompetensinya secara berkelanjutan,

3. Peningkatan profesionalisme melalui mekanisme seleksi, baik pada waktu awal


masuk organisasi profesi maupun pengembangan karier selanjutnya,

4. Proses seleksi yang lebih baik, program pelatihan yang lebih bermutu maupun usaha
belajar secara mandiri untuk mencapai peningkatan profesionalisme.

Penjamim Mutu

1. Adanya proses pengembangan profesionalisme dan evaluasi terhadap kinerja praktisi-


praktisi akan menimbulkan persepsi masyarakat dan pemerintah menjadi lebih baik
terhadap organisasi profesi beserta anggotanya. Dengan demikian pihak
berkepentingan, khususnya para pelanggaran/pengguna akan makin menghargai
organisasi profesi dan sebaliknya organisasi profesi dapat memberikan jaminan atau
melindungi para pelanggan/pengguna,

2. Sertifikasi menyedia informasi yang berharga bagi para pelanggan/pengguna yang


ingin memperkerjakan orang dalam bidang keahlian dan keterampilan tertentu.

2.2 SIKAP GURU BERDASARKAN KODE ETIK GURU


2.2.1 Pengertian Kode Etik Guru Indonesia
Ditinjau dari segi etimologi, pengertian kode etik ini telah dibahas dan dikembangkan oleh
beberapa tokoh yang mempunyai jalan fikiran yang berbeda-beda. Namun pada dasarnya
mempunyai pengetian yang sama. Socrates seorang filosof yang hidup di zaman Romawi, yang
dianggap sebagai pencetus pertama dari etika yang mana dia telah menguaraikan etika secara ilmu
tersusun. Malah sampai sekarang perkembangan etika semakin berkembang, hal ini dapat
dirasakan dengan adanya fenomena-fenomena yang realita dalam masyarakat.
Menurut Adi Negoro dalam bukunya Ensiklopedi Umum sebagaimana yang dikutip oleh
Sudarno, dkk, mengemukakan : Etika berasal dari kata Eticha yang berarti ilmu kesopanan, ilmu
kesusilaan. dan kata Ethica (etika, ethos, adat, budi pekerti, kemanusiaan). Menurut Hendiyat
Soetopo, "Etik diartikan sebagai tata-susila (etika) atau hal-hal yang berhubungan dengan
kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan". William Lillie, mendefinisikan Ethics as the
normative science of conduct of human being living in societies a science which judges this conduct
to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way. Maksud dari pengertian di atas

9
bahwa etik adalah ilmu pengetahuan tentang norma/ aturan ilmu pengetahuan tentang tingkah
laku kehidupan manusia dalam masyarakat, yang mana ilmu pengetahuan tersebut menentukan
tingkah laku itu benar atau salah, baik atau buruk atau sesuatu yang semacamnya. Kemudian
secara etimologi kode etik berasal dari dua kata kode dan etik. Kode berasal dari bahasa Prancis
Code yang artinya norma atau aturan. Sedangkan Etik berasal dari kata Etiquete yang artinya Tata
cara atau Tingkah laku.
Sementara itu menurut Elizabeth B. Hurlock mendifinisikan tingkah laku sebagai berikut :
Behaviour which may be called true morality not only conforms to social standards but also
is carried out valuntarilly, it comes with the transition from external to internal authority and
consists of conduct regulated from within.
Arti definisi tersebut di atas adalah tingkah laku boleh dikatakan sebagai moralitas yang
sebenarnya itu bukan hanya sesuai dengan standar masyarakat tetapi juga dilaksanakan dengan
sukarela. Tingkah laku itu terjadi melalui transisi dari kekuatan yang ada di luar (diri) ke dalam
(diri) dan ada ketetapan hati dalam melakukan (bertindak) yang diatur dari dalam (diri).
Selanjutnya definisi guru, yaitu semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk
membimbing dan membina anak didik, baik secara individual atau klasikal, di sekolah maupun
luar sekolah. Sebagai pendidik, guru dibedakan menjadi dua, yakni pertama, guru kodrati dan guru
jabatan. Guru kodrati adalah orang dewasa yang mendidik terhadap anak-anaknya. Disebut kodrat
karena mereka mempunyai hubungan darah dengan anak (si terdidik). Kedua, guru jabatan, yaitu
mereka yang memberikan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Peran mereka terutama nampak
dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu mentransformasikan kebudayaan secara
terorganisasi demi perkembangan peserta didik (siswa) khususnya di bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Pembahasan selanjutnya yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah guru
profesional yang secara khusus mempunyai tugas dan tanggung jawab membimbing dan
membina anak didik dalam proses belajar mengajar di Negara Indonesia. Jadi, kode etik guru
diartikan : aturan tata-susila keguruan. Maksudnya aturan-aturan tentang keguruan (yang
menyangkut pekerjaan-pekerjaan guru) dilihat dari segi susila. Kata susila adalah hal yang
berkaitan dengan baik dan tidak baik menurut ketentuan-ketentuan umum yang berlaku. Dalam
hal ini kesusilaan diartikan sebagai kesopanan, sopan-santun dan keadaban. Dengan demikian
yang dimaksud dengan Kode Etik Guru Indonesia adalah pedoman/ aturan-aturan/ norma-norma
tingkah laku yang harus ditaati dan diikuti oleh guru profesional di Indonesia dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari sebagai guru profesional.
2.2.2 Dasar Kode Etik Guru Indonesia
Kode Etik Guru Indonesia merupakan usaha pendidikan untuk mencapai cita-cita luhur
bangsa dan negara Indonesia sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang mutlak

10
diperlukan sebagai sarana yang teratur dan tertib sebagai pedoman yang merupakan tanggung
jawab bersama.
Kode Etik Guru Indonesia harus disusun berdasarkan antara lain kepada:
1. Dasar falsafah negara, yaitu Pancasila. Sebab Pancasila juga merupakan dasar pendidikan
dan penganjaran Nasional. Sila-sila dari Pancasila di samping merupakan norma-norma
fundamental juga merupakan norma-norma praktis, sila-sila tersebut menyatakan adanya
dua macam interaksi antara hubungan secara horizontal (manusia dengan sesama
makhluk) dan hubungan secara vertikal (antara manusia dengan Tuhan). Hubungan
horizontal tersebut merupakan realisasi dari sila-sila sampai dengan kelima. Sedangkan
hubungan vertikal adalah merupakan realisasi dari sila pertama. Pancasila merupakan
dasar dari pada Kode Etik Guru Indonesia, yang harus ditanamkan dan menjiwai setiap
pendidik dan profesinya baik sebagai manusia, sebagai warga negara yang bertanggung
jawab. Tujuan Pendidikan dan pengajaran Nasional sesuai dengan TAP MPRS No.
XXVII/MPRS/1966 yang berbunyi : Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia
Pancasila sejati yang berdasarkan ketentuan yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD
1945 dan Isi UUD 45.
2.2.3 Tujuan Kode Etik Guru Indonesia
Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota
organisasi profesi itu sendiri. Secara umum kode etik mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak luar atau masyarakat,
agar mereka jangan sampai memandang rendah atau remeh terhadap profesi yang bersangkutan.
Oleh karenanya, setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak-tanduk atau
kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi terhadap dunia luar. Dari
segi ini, kode etik juga sering disebut kode kehormatan.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota profesi guru
Yang dimaksud kesejahteraan di sini meliputi kesejahteraan lahir (material) maupun
kesejahteraan batin (spiritual atau mental). Dalam hal ini kesejahteraan lahir pada anggota
profesi, kode etik umumnya memuat larangan-larangan kepada anggotanya untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang merugikan kesejahteraan para anggotanya.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
Tujuan lain Kode Etik dapat juga berkaitan dengan peningkatan kegiatan pengabdian profesi,
sehingga bagi para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab
pengabdiannya dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, kode etik merumuskan ketentuan-
ketentuan yang perlu dilakukan para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.

11
4. Untuk meningkatkan mutu profesi
Untuk meningkatkan mutu profesi kode etik juga memuat norma-norma dan anjuran agar
para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pengabdian para anggotanya.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi, maka diwajibkan kepada semua anggota untuk
secara aktif berpartisipasi dalam membina organisasi profesi dan kegiatan yang dirancang
organisasi.Yakni, PGRI, sehingga PGRI tetap berwibawa di dalam masyarakat dan tetap berfungsi
sebagai wadah profesi yang dapat menghimpun dan memecahkan masalah-masalah prinsip, sehingga
peranan dan kedudukan guru berfungsi sebagaimana mestinya.
2.2.4 Tujuan Kode Etik Guru Indonesia
Secara umum tujuan kode etik jabatan seorang guru adalah untuk menjamin para guru atau
petugas lainnya agar dapat melaksanakan tugas kependidikan mereka sesuai dengan tuntutan etis
dari segala aspek kegiatan penyelenggaraan pendidikan.
Sedangkan secara khusus tujuan Kode Etik Guru Indonesia adalah sebagai berikut :
Menanamkan kesadaran kepada anggotanya bahwa kode etik merupakan produk anggota
profesinya yang berlandaskan kepada falsafah Pancasila dan UUD 1945, dan karenanya segala
sepak terjang profesinya harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Mewujudkan terciptanya individu-individu profesional di bidang kependidikan yang mampu
tampil profesional sesuai dengan kompetensinya (personal, profesional dan sosial). Membentuk
sikap professional di kalangan Tenaga Kependidikan maupun masyarakat umumnya dalam
rangka penyelenggaraan pendidikan. Meningkatkan kualitas profesional Tenaga Kependidikan
untuk keperluan pengembangan kode etik itu sendiri.
2.3 KEGIATAN GURU SUPERVISI PENDIDIKAN YANG
DILAKSANAKAN DI SEKOLAH
2.3.1 Pengertian Supervisi Pendidikan
Menurut N.A. Ametembun dkk Supervisi Pendidikan adalah pembinaan yang berupa
bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan Situasi pada umumnya dan peningkatan mutu
mengajar dan belajar pada khusunya. Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan
W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : Supervisi dialih bahasakan
dari perkataan inggris Supervision artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara
etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk
perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision =
lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor
mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat,
menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.

12
Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa
supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian
peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966,
Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Rifai (1992: 20)
merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini disamping
bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap pengawasan akademik yang
mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan
manajemen biasa yang bersifat human, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan profesional
yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat di indikasikan bahwa supervisi pendidikan
adalah sebuah tugas profesional yang dilaksanakan oleh seorang ahli yang telah di tunjuk dari
lembaga tertinggi, yang berfungsi untuk emngawasi dan menilai kinerja berdasarkan kaidah-
kaidah perngawasan yang ada. Dari kegiatan supervisi ini diharapkan dapat mengembangkan
dan dapat memperbaiki kualitas untuk pihak-pihak yang bermasalah didalam aktifitasnya.
2.3.2 Tujuan Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan mempunyai tujuan dan manfaat yang penting. Di antaranya adalah
sebagai berikut:

1. Membangkitkan dan mendorong semangat guru dan pegawai administrasi sekolah


lainnya untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

2. Agar guru dan pegawai administrasi lainnya berusaha melengkapi kekurangan-


kekurangan mereka dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk bermacam-macam
media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran jalannya proses belajar dan
mengajar yang baik.

3. Bersama-sama berusaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-


metode baru demi kemajuan proses belajar dan mengajar yang baik.

4. Membina kerja sama yang harmonis antara guru, murid, dan pegawai sekolah.
Misalnya, dengan mengadakan seminar, workshop, in-service, maupun training.

Empat tujuan supervisi tersebut menjadi target pelaksanaan supervisi. Sehingga tercipta
budaya unggul di sekolah, budaya yang berbasis etos kerja tinggi, kompetisi sportif, kerja

13
sama yang harmonis, dan pelayanan yang kompetitif terhadap stake holders lembaga
pendidikan. Dengan budaya unggul itu pula, kepuasan publik dapat terwujud

Tujuan supervisi secara umum adalah mengembangkan situasi belajar mengajar yang
lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar. Dari sumber lain dijelaskan
bahwa tujuan supervisi pendidikan ialah membantu guru mengembangkan profesinya,
pribadinya, dan sosialnya, membantu kepala sekolah menyesuaikan program pendidikan
dengan kondisi masyarakat setempat, dan ikut berjuang meningkatkan kuantitas dan kualitas
lulusan.

Adapun tujuan supervisi dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Tujuan Umum

Tujuan umum supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru
(dan staf sekolah yang lain) agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya,
terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus supervisi meliputi:

Meningkatkan kinerja siswa sekolah dalam perannya sebagai peserta didik yang
belajar dengan semangat tinggi, agar dapat mencapai prestasi belajar secara optimal.

Meningkatkan mutu kinerja guru sehingga berhasil membantu dan membimbing


siswa mencapai prestasi belajar yang diharapkan.

Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan


baik di dalam proses pembelajaran di sekolah serta mendukung dimilikinya
kemampuan pada diri lulusan sesuai dengan tujuan lembaga.

Meningkatkan keefektifan dan keefisiensian sarana dan prasarana yang ada untuk
dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan
keberhasilan belajar siswa.

14
Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, khususnya dalam mendukung terciptanya
suasana kinerja yang optimal, yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar
sebagaimana yang diharapkan.

Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sedemikian rupa sehingga tercipta


situasi yang tenang dan tentram serta kondusif bagi kehidupan sekolah pada
umumnya, khususnya pada kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan
lulusan.

2.3.3 Prinsip Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan mempunyai prinsip-prinsip sebagai aktivitas pembinaan guru,


antara lain hendaknya supervisi dilaksanakan secara:

1. Ilmiah (scientific) yang berarti harus sistematis yaitu dilaksanakan secara teratur,
berprogram dan kontinu, obyektif yaitu berdasar pada data dan informasi,
menggunakan instrumen yang dapat memberi data atau informasi sebagai bahan untuk
mengadakan penilaian terhadap proses pembelajaran.

2. Demokratis, yaitu menjunjung tinggi asas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan


yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.

3. Kooperatif, yaitu mengembangkan usaha bersama untuk menciptakan situasi


pembelajaran yang lebih baik.

4. Konstruktif dan kreatif, yaitu membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk akif
dalam menciptakan situasi pembelajaran yang lebih baik

Menurut Suharsimi Arikunto, prinsip-prinsip supervisi pendidikan ialah:

1. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan
staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan, dan bukan
mencari-cari kesalahan.

2. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung.

15
3. Apabila pengawas atau kepala sekolah merencanaan akan memberikan saran atau
umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa.

4. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala.

5. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya


hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi.

6. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau
terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat berisi hal-hal penting yang
diperlukan untuk membuat laporan.

Sutisna mengidentifikasi sembilan prinsip kegiatan supervisi yaitu:

1. Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan, ia adalah pelayanan


yang bersifat kerjasama.

2. Semua guru berhak mendapatkan layanan supervisi.

3. Supervisi hendaknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari


personil sekolah.

4. Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan dan sasaran pendidikan.

5. Supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua staf
sekolah dan juga supervisi bertujuan untuk menciptakan hubungan antara sekolah dan
masyarakat menjadi lebih dekat dan saling memiliki.

6. Tanggung jawab dalam pengembangan supervisi berada pada kepala sekolah dan para
penilik atau pengawas di wilayahnya.

7. Harus ada dana yang memadai dalam pelaksanaan program supervisi ini dan
dimasukkan ke dalam anggaran tahunan.

8. Efektivitas program supervisi hendaknya mendapatkan laporan yang teradministratif.

9. Supervisi hendaknya membantu menjelaskan dan menerapkan dalam praktek


penemuan penelitian pendidikan yang mutakhir.

16
2.3.4 Fungsi Supervisi Pendidikan

Fungsi supervisi menyangkut bidang kepemimpinan, hubungan kemanusiaan, pembinaan


proses kelompok, administrasi personil, dan bidang evaluasi. Pengertian supervisi tersebut,
mempertegas bahwa supervisi dilakukan secara intensif kepada guru. Hal ini, secara tidak
langsung berdampak pada prestasi belajar siswa. Berpijak pada keterangan ini, maka
supervisi pendidikan mempunyai tiga fungsi, yaitu:

1. Sebagai suatu kegiatan untuk meningkatkan mutu pendidikan

2. Sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsur-unsur yan terkait
dengan pendidikan

3. Sebagai kegiatan dalam hal memimpin dan membimbing

Dari sini, supervisi pendidikan bisa mencerahkan dan memperbaiki secara konsisten program
lembaga pendidikan sehingga meraih kesuksesan.

Menurut Suharsimi Arikunto dalam Nadhirin, fungsi supervisi yaitu pertama, fungsi
peningkatan mutu pembelajaran yang tertuju pada aspek akademik yang terjadi di ruang kelas
ketika guru sedang memberikan bantuan, bimbingan dan arahan kepada siswa. Kedua, fungsi
memicu unsur yaitu berfungsi sebagai alat penggerak terjadinya perubahan yang tertuju pada
unsur-unsur yang terkait dengan atau bahkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
peningkatan kualitas pembelajaran. Ketiga, fungsi membina dan memimpin yaitu
pelaksanaan supervisi pendidikan diarahkan kepada guru dan tenaga tata usaha.

Menurut Nadhirin, fungsi supervisi yaitu sebagai upaya yang dilakukan oleh
supervisor dalam rangka membina para guru agar kualitas proses pembelajaran dan hasilnya
meningkat, serta mengupayakan agar guru lebih meningkatkan kinerja sehingga dapat
menyesuaikan dengan tuntutan profesi yang ada.

2.3.5 Obyek Supervisi Pendidikan

Dalam pelaksanaannya, kegiatan supervisi diarahkan pada pembinaan dan


pengembangan aspek-aspek yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Guru merupakan
komponen yang terlibat langsung dan bertanggung jawab atas proses pembelajaran di kelas,

17
sehingga yang menjadi fokus atau sasaran utama supervisi adalah yang berkaitan dengan
guru.

Obyek supervisi pendidikan merupakan sasaran dari pelaksanaan supervisi, yaitu


supervisi ditujukan kepada pembinaan personil dan non personil. Supervisi terhadap personil
dimaksudkan sebagai upaya melakukan pengawasasn terhadap individu-individu yang terlibat
dalam pelaksanaan proses pendidikan, antara lain kepala, guru mata pelajaran, guru kelas,
staff usaha, dan tenaga kependidikan lainnya. Supervisi non-personil dimaksudkan sebagai
upaya kepengawasan yang dilakukan supervisor terhadap berbagai kesiapan dan kelengkapan
sarana dan prasarana sekolah dalam menunjang pelaksanaan proses pendidikan antara lain
perpustakaan, administrasi sekolah, ketersediaan buku ajar, program perencanaan pendidikan
dan sarana pendidikan lainnya. Obyek sasaran supervisi pendidikan secara lebih mendalam
sebenarnya adalah sasaran berupa peningkatan kemampuan guru.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa yang menjadi sasaran atau obyek
supervisi pendidikan adalah unsur-unsur yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Guru
merupakan faktor utama dalam proses pembelajaran dan gurulah yang mempunyai
kewenangan untuk merancang bagaimana proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Ditinjau dari obyek yang disupervisi, ada tiga macam supervisi, yaitu:

1. Supervisi akademik, yang menitikberatkan supervisor pada masalah-masalah


akademik yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan pembelajaran pada
waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu.

2. Supervisi administrasi, yang menitikberatkan pada pengamatan supervisor pada


aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar
terlaksananya pembelajaran.

3. Supervisi lembaga, yang menyebarkan obyek pengamatan supervisor pada aspek-


aspek yang berada di seantero sekolah.

2.4 SIKAP GURU MENGAJAR DAN MENDIDIK SISWA DIDALAM KELAS

2.4.1 Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan

18
Kalau kita tinjau pengertian sikap ini, maka pengertian itu relatif adanya. Karena
mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia, maka sikap itupun tergantung pada
manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya
sehari-hari. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai
hubungan, bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Jadi
bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat, itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat
dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu, bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari
hadirnya pemangku sikap itu sendiri.

Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang
tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Perasaan
bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak, antara murid dan guru dan
dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara
orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain.

Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan
sikapnya, bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Tetapi tidak
dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari
sikapnya itu. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Jadi sikap itu
sangat berpengaruh dalam diri sesorang, dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di
dalam diri seseorang. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat
dipertanggung jawabkan.

2.4.2 Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya.

1. Sikap berpakaian.

Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang,
dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian, maka hal
ini kita bicarakan. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan, sederhana tetapi
terpelihara. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Tak usah
berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Ingat bahwa seorang guru

19
yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan murid-murid. Akibatnya
seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang
menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala
perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Ia makin bertambah
bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali, padahal ia telah membuat
persiapan dengan sungguh-sungguh.

2. Sikap di muka kelas.

Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Kelas menjadi
gaduh, kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan
bijaksana. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras, bersikap tegas berarti begini:
kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang, mereka harus mengidahkan
suruhannya. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan
pelajaran, kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Kalau masih ada murid-murid
yang bercanda, bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar, maka percakapan itu
akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Kerena itu peganglah teguh disiplin
kelas, berbicaralah dengan tenang dan tegas, jangan menggangap.

Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain, yaitu, jangan
terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara, jangan berbicara terlalu
keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Bergeraklah dengan tengan dan
berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut, kalau guru ribut kelas akan segera
ribut pula. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara),
mungkin guru, sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-
murid. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian
tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Bagi seorang guru kita haris berani:

a. Berani memandang tiap-tiap murid, matanya.

b. Jangan bersikap putus asa.

c. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri.

d. Jangan mengajak murid-murid.

20
e. Ciptakan suasana kelas yang baik.

f. Jangan memberi hukuman badan.

Dalam kelas yang suasananya baik, murid-murid dapat bekerja bersma-sama, saling tolong
menolong. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga, cintailah murid-nurid seperti ibu
bapak mencintai anak-anaknya.

3. Sikap sabar.

Sering guru merasa, bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh.
Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan
enthousianisme, namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Guru
selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa.
Karena itu harap sabar, karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera
kelihatan oleh kita. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan
mengindahkan keinginan kita.

4. Sikap yang mengejek murid.

Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek,
mencela, mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar
murid. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang
murid meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga, kata-kata yang
demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. Dan
kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung
jawabkan. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-
temannya. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu, hal
ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya.

5. Sikap yang lekas marah

Banyak hal yang dapat mengecewakan guru, umpamanya: murid yang tidak sopan ,
yang tolol, yang selalu gaduh, yang kotor, dan sebagainya. Janganlah guru lekas marah
karena itu, orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Guru mudah marah
menghukum anak, mengejek, mencelanya, memukulnya dan sebagainya.

21
6. Sikap yang memberi hukuman badan.

Menurut peraturan sekolah, guru dilarang memberi hukuman badan, umpamanya:


memukul, menedang, melempar dsb. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat
dirugikan/disakiti karenanya. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan,
tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru, atau ia menjadi takut kepada
guru, dan kedua-duanya tidak baik. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi
hukuman badan ia tidak segan-segan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid.
Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan, dan hukuman yang diberikan
sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Memukul murid dengan tongkat kecil, bukan
hak itu tidak jarang dilakukan. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan
mutlak, untuk memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis, guru boleh memberi
hukuman badan, kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya, bertanggung jawab penuh atas
tindakannya itu, artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak,
bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Jadi hukuman
itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya, dan tidak diberikan untuk
membalas dendam.

7. Sikap yang banyak memberi larangan.

Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya


tidak dituruti oleh murid-muridnya. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Guru
yang baik, jarang melarang, sebab biasanya perintahnya dituruti. Larangan yang banyak dapat
menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-
murid. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid, karena itu
jangan banyak melarang.

8. Bersikap jujur dan adil.

Murid-murid akan lekasa mengerti, apakah guru itu bertidak adil dan jujur, mereka
lekas melihat, bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Yang satu diperlakukan lebih
manis dari pada yang lain, ini adalah suatu bahaya bagi mereka, mereka lekas-lekas
mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil, tidak jujur, pilih kasih dan sebagainya. Dan
mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Suasana
kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian.

22
9. Sikap guru yang bertanggungjawab

Sama halnya dengan dokter, ahli hukum, insinyur, montir, gurupun membutuhkan
sejumlah pengetahuan, metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk
melaksanakan tugasnya. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik, ada
yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi, ada pula pada syarat intelek, sosial dan
sebagainya. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang
terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui
sebuah masa pendidikan. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi
tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang
dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Salah satu
caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Dalam
pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa
perkembangan anak didiknya. Memang dalam mendidik, seorang guru harus mempunyai rasa
tanggung jawab yang dalam. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka
banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab
dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan.
Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan
pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri
maupun oleh orang tua sekolah dan negara.

Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan


berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu
pengetahuan. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara
dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Dan
guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang
dibutuhkan dalam masyarakat, serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa
susial serta bertanggung jawab moral.

23
BAB III
METODOLOGI
3.1 PENDEKATAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu proses penelitian
dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena social
dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks,
meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan suatu di pada
situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bog dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan
bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
3.2 JENIS PENELITIAN

24
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dapat diartikan sebagai prosedur
penulisan yang menghasilkan data datadeskriptif kata-kata tertulis atau lisan dari perilaku
orang-orang yang diamati. Sedangkan penulisan penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu
memberikan gambaran suatu keadaan tertentu secara rinci disertai dengan bukti.
3.3 TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN
Penelitian ini bertempat di SMK Negeri 1 Medan , sedangkan waktu penelitian
dilaksanakan pada tanggal12 April 2017.
3.4 POPULASI DAN SAMPEL
3.4.1 Populasi
Arikunto (2006:130) menyatakan populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Subjek penelitian adalah tempat variable melekat. Variabel penelitian adalah objek
penelitian. Sementara itu Sukardi (2010:53) menyatakan populasi adalah semua anggota
kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat
dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Populasi
yang digunakan adalah guru profesional yang sudah mendapat Sertifikasi Guru.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari pupulasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131).
Mardalis (2009:55) menyatakan sampel adalah contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu
yang menjadi objek penelitian. Jadi sampel adalah contoh yang diambil dari sebagain
populasi penelitian yang dapat mewakili populasi. Walaupun yang diteliti adalah sampel,
tetapi hasil penelitian atau kesimpulan penelitian berlaku untuk populasi atau kesimpulan
penelitian digeneralisasikan terhadap populasi.Dalam penelitian ini subjek penelitian berupa
sampel yaituguru-guru yang berada di sekolah SMK Negeri 1 Medan .
3.5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menyusun penelitian ini adalah
dengan metode kuisioner atau penyebaran angket dan juga dengan observasi atau pengamatan
di dalam kelas. Metode ini dilakukan dengan cara seperangkat pertanyaan atau
pernyataankepada orang lain yang dijadikan responden untuk di jawabnya.
3.6 TEKNIK ANALISA DATA
Analisis data yang di pakai adalah dengan Tabel Kriteria dengan menghitung jumlah
pernyataan-pernyataan yang diterapkanoleh guru-guru tersebut berdasarkan pada angket-
angket yang berisi 20 butir pernyataan setiap indikator.

25
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 PERSIAPAN PENELITIAN


Langkah awal dari penelitian ini adalah mengumpulkan dan mempelajari sejumlah
literature baik dari buku, jurnal maupun artikel yang berkaitan. Sebelum kelompok peneliti
melakukan penelitian maka terlebih dahulu mempersiapkan instrumen yang digunakan yaitu
angket yang berkaitan dengan penilaian tentang sikap sikap guru profesional. Aspek apek
yang dinilai antara lain mengenai sikap dan perilaku guru yang telah mendapat sertifikat guru
profesional, sikap dan perilaku guru sesuai dengan kode etik guru, kegiatan supervisi yang

26
N Pelaksanaan
Aspek Yang Diamati
o Ya Tidak
1 Apakah guru memiliki SK Pembagian
Tugas Mengajar dari kepala sekolah tahun
pelajaran terakhir.
diterima guru disekolah, serta
2 Apakah guru memiliki jadwal pelajaran sikap perilaku guru saat
minimal 24 jam per minggu sedang mengajar dan
3 Apakah guru membuat program tahunan mendidik peserta didik di
dalam tahun terakhir. sekolah.
4 Apakah guru memiliki silabus yang 4.2 PELAKSANAAN
dibuat sendiri PENELITIAN
5 Apakah guru memiliki RPP yang disusun Kelompok peneliti
sendiri memilih tempat yang sesuai
6 Apakah guru melakukan pembelajaran untuk melaksanakan
sesuai jadwal penelitian yaitu di sekolah
7 Apakah guru memiliki dan menggunakan SMK NEGERI 1 MEDAN.
buku teks dan buku referensi
Penelitian berlangsung pada
8 Apakah guru memiliki Instrumen, kunci,
Rabu, 19 April 2017.
rubrik dan kriteria penilaian UH.
Penelitian dilaksanakan di
9 Apakah guru memiliki Instrumen, kunci,
rubrik dan kriteria penilaian UTS
dua (2) kelas, yaitu di kelas
10 Apakah guru memiliki Instrumen, kunci, X jurusan Perkantoran dan
rubrik, kriteria dan kisi-kisi penilaian Akutansi pada jam pelajaran
UAS matematika.
11 Apakah guru mengoreksi hasil ulangan 4.3 HASIL PENELITIAN
12 Apakah guru membuat program dan DAN PEMBAHASAN
4.3.1 Sikap Perilaku
instrumen penugasan terstruktur dan
kegiatan mandiri tidak terstruktur
Guru yang telah Mendapat

13 Apakah guru memiliki buku daftar nilai Sertifikat Guru Profesional


Berdasarkan hasil penelitian
dan berisi Nilai UH, Remidi, UTS, UAS
observasi dan wawancara
dan Nilai Tugas.
pada dua (2) orang guru mata
14 Apakah guru menyusun dan
melaksanakan program pengayaan. pelajaran matematika yang
15 Apakah guru mendapatkan tambahan dan telah mendapat sertifikat,
memiliki data administrasi tugas selain maka diperoleh bahwa;
mengajar a. Ibu Netty
16 Apakah guru memiliki Permendiknas Susanti S.Pd
nomor 22, 23 tahun 2006 dan
Permendiknas nomor 20 tahun 2007
17 Apakah guru memiliki buku-buku
panduan (panduan pengembangan RPP,
panduan pengembangan silabus, panduan
27
pengembangan bahan ajar dll)
18 Apakah guru melakukan pengembangan
bahan ajar
N Pelaksanaan
Aspek Yang Diamati
o Ya Tidak
1 Apakah guru memiliki SK Pembagian
Tugas Mengajar dari kepala sekolah tahun
pelajaran terakhir.
2 Apakah guru memiliki jadwal pelajaran
minimal 24 jam per minggu (lebih)
3 Apakah guru membuat program tahunan
dalam tahun terakhir. b. Ibu Juwita Hana
4 Apakah guru memiliki silabus yang S.Pd
dibuat sendiri
5 Apakah guru memiliki RPP yang disusun
sendiri
6 Apakah guru melakukan pembelajaran
sesuai jadwal
7 Apakah guru memiliki dan menggunakan
buku teks dan buku referensi
8 Apakah guru memiliki Instrumen, kunci,
rubrik dan kriteria penilaian UH.
9 Apakah guru memiliki Instrumen, kunci,
rubrik dan kriteria penilaian UTS
10 Apakah guru memiliki Instrumen, kunci,
rubrik, kriteria dan kisi-kisi penilaian
UAS
11 Apakah guru mengoreksi hasil ulangan
12 Apakah guru membuat program dan
instrumen penugasan terstruktur dan
kegiatan mandiri tidak terstruktur
13 Apakah guru memiliki buku daftar nilai
dan berisi Nilai UH, Remidi, UTS, UAS
dan Nilai Tugas. Untuk menentukan apakah
14 Apakah guru menyusun dan guru guru yang diamati
melaksanakan program pengayaan. termasuk dalam kategori
15 Apakah guru mendapatkan tambahan dan guru yang bersikap
memiliki data administrasi tugas selain profesional, dapat kita
mengajar
tentukan melalui tabel
16 Apakah guru memiliki Permendiknas
kriteria dibawah ini;
nomor 22, 23 tahun 2006 dan
Permendiknas
Jumlah nomor 20 tahun 2007 yang Kriteria
pernyataan
17 Apakah guru memiliki buku-buku
dilaksanakan
panduan (panduan pengembangan RPP,
panduan pengembangan silabus, panduan
28
pengembangan bahan ajar dll)
18 Apakah guru melakukan pengembangan
bahan ajar
0-10 Tidak Profesional (TP)
10-15 Cukup Profesional (CP)
15-20 Profesional (P)

Hasil penelitian dalam angket diperoleh;


Nama Guru Jumlah Pernyataan yang Di Kriteria
Pilih
Netty Susanti S.Pd 18 Profesional (P)
Juwita Hana S. Pd 18 Profesional (P)

Maka dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh kelompok peneliti,
diperoleh bahwa Ibu Netty Susanti dan Ibu Juwita Hana telah menerakan sikap dan perilaku
guru profesional berdasarkan syarat sertifikasi yang diterima oleh keduanya. Diantara 20
pernyataan yang diberikan, kedua guru tersebut tidak memenuhi syarat pada poin ke 19, yaitu
mengenai pembuatan karya ilmiah. Dari hal ini dapat kita ketahui bahwa salah satu kendala
dalam penerapan sikap profesional sebagai seorang guru sertifikasi adalah pembuatan karya
ilmiah yang kurang dimengerti oleh setiap guru di sekolah.
4.3.2 Sikap dan Perilaku Guru Sesuai dengan Kode Etik Guru
Berdasarkan hasil penelitian observasi dan wawancara pada dua (2) orang guru mata
pelajaran matematika , maka diperoleh bahwa;
a. Ibu Netty Susanti S. Pd
N DAFTAR PERNYATAAN Pelaksanaan
Ya Tidak
o

1. Rekan sekerja saling membantu dalam


bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas
tambahan dari sekolah
2. Rekan sekerja dapat mendorong guru untuk
bekerja dengan baik.
3. Bila ada masalah dalam pekerjaan, guru
mendapat dukungan moril dari rekan
sekerja.
4. Guru bertanggung jawab untuk
menyelesaikan tepat waktu tugas yang
dipercayakan oleh kepala sekolah.
5. Guru bertanggung jawab melalui
keterlibatan secara aktif dalam kegiatan
sekolah.

29
6. Guru memiliki kesadaran menyelesaikan
tugas secara maksimal dalam memenuhi
harapan yang diinginkan kepala sekolah.

7. Guru diberi kebebasan bekerja dengan


penuh disiplin.

8. Guru membuat laporan perkembangan


siswa setiap bulan untuk disampaikan
kepada kepala sekolah dan orang tua
murid

9. Guru menjalin komunikasi intensif


dengan orang tua murid untuk
mengetahui perkembangan siswa di
rumah

10 Guru akan mulai melaksanakan tugas


. sebelum terlebih dahulu diingatkan dan
ditegur oleh kepala sekolah.

11 Guru datang dan pulang kerja tepat


. waktu

12 Guru mentaati peraturan yang ada di


. sekolah

13 Guru perlu mencari gagasan/ide baru


. untuk menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan perkembangan belajar
siswa

14 Guru aktif memberi masukan mengenai


. program kerja pada level / jenjang kelas
tempat saya mengajar

15 Guru tidak sewenang-wenang dalam


. mengambil keputusan

30
16 Setiap awal tahun ajaran guru harus
. memperbaharui program kerja

17 Guru harus menggunakan prosedur


. belajar mengajar yang tepat

18 Guru harus menggunakan metode-


. metode mengajar yang tepat untuk setiap
materi pelajaran

19 Guru harus memiliki visi dan misi yang


. jelas dalam mengajar

20 Guru merupakan faktor penentu yang


. sangat dominan dalam pendidikan,
sehingga guru memiliki multi peran baik
sebagai pengajar maupun pendidik bagi
siswa

b. Ibu Juwita Hana S. Pd

N DAFTAR PERNYATAAN Pelaksanaan


Ya Tidak
o

1. Rekan sekerja saling membantu dalam


bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas
tambahan dari sekolah
2. Rekan sekerja dapat mendorong guru untuk
bekerja dengan baik.
3. Bila ada masalah dalam pekerjaan, guru
mendapat dukungan moril dari rekan
sekerja.
4. Guru bertanggung jawab untuk
menyelesaikan tepat waktu tugas yang
dipercayakan oleh kepala sekolah.
5. Guru bertanggung jawab melalui
keterlibatan secara aktif dalam kegiatan
sekolah.

31
6. Guru memiliki kesadaran menyelesaikan
tugas secara maksimal dalam memenuhi
harapan yang diinginkan kepala sekolah.

7. Guru diberi kebebasan bekerja dengan


penuh disiplin.

8. Guru membuat laporan perkembangan


siswa setiap bulan untuk disampaikan
kepada kepala sekolah dan orang tua
murid

9. Guru menjalin komunikasi intensif


dengan orang tua murid untuk
mengetahui perkembangan siswa di
rumah

10 Guru akan mulai melaksanakan tugas


. sebelum terlebih dahulu diingatkan dan
ditegur oleh kepala sekolah.

11 Guru datang dan pulang kerja tepat


. waktu

12 Guru mentaati peraturan yang ada di


. sekolah

13 Guru perlu mencari gagasan/ide baru


. untuk menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan perkembangan belajar
siswa

14 Guru aktif memberi masukan mengenai


. program kerja pada level / jenjang kelas
tempat saya mengajar

15 Guru tidak sewenang-wenang dalam

32
. mengambil keputusan

16 Setiap awal tahun ajaran guru harus


. memperbaharui program kerja

17 Guru harus menggunakan prosedur


. belajar mengajar yang tepat

18 Guru harus menggunakan metode-


. metode mengajar yang tepat untuk setiap
materi pelajaran

19 Guru harus memiliki visi dan misi yang


. jelas dalam mengajar

20 Guru merupakan faktor penentu yang


. sangat dominan dalam pendidikan,
sehingga guru memiliki multi peran baik
sebagai pengajar maupun pendidik bagi
siswa

Untuk menentukan apakah guru guru yang diamati termasuk dalam kategori guru
yang bersikap profesional dilihat dari segi pelaksanaan kode etik guru, dapat kita tentukan
melalui tabel kriteria dibawah ini;
Jumlah pernyataan yang Kriteria
dilaksanakan
0-10 Tidak Profesional (TP)
10-15 Cukup Profesional (CP)
15-20 Profesional (P)

Hasil penelitian dalam angket diperoleh;


Nama Guru Jumlah Pernyataan yang Di Kriteria
Pilih
Netty Susanti S.Pd 17 Profesional (P)
Juwita Hana S. Pd 19 Profesional (P)

Maka dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh kelompok peneliti,
diperoleh bahwa Ibu Netty Susanti dan Ibu Juwita Hana telah menerapkan sikap dan perilaku
guru profesional berdasarkankode etik guru. Diantara 20 pernyataan yang diberikan, Ibu

33
Netty Susanti tidak memenuhi syarat pada poin ke 5 ( lima) yaitu turut serta berperan aktif
dalam kegiatan sekolah, selain itu pada poin yang ke delapan (8) dan ke sembilan (9), yaitu
tidak membuat laporan mengenai perkembangan siswa untuk disampaikan pada orangtua
dan sekolah serta belum menjalin komunikasi intensif dengan orangtua untuk mengetahui
perkembangan peserta didik. Lain halnya dengan Ibu Netty Susanti, Ibu Juwita Hana hanya
belum melaksanakan poin ke sembilan (9), yaitu menjalin komunikasi intensif dengan
oramngtua untuk mengetahui perkembangan peserta didik. Dari hal ini dapat kita ketahui
bahwa salah satu kendala dalam penerapan sikap profesional sebagai seorang guru ditinjau
dari segi pelaksanaan kode etik guru adalah kurangnya komunikasi aktif antara orangtua dan
peserta didik denagn guru di sekolah.
4.3.3 Kegiatan Supervisi Pendidikan atau Supervisi Klinis yang diterima Oleh
Guru
Berdasarkan hasil penelitian observasi dan wawancara pada dua (2) orang guru mata
pelajaran matematika yang telah mendapat supervisi pendidikan maupun supervisi klinis,
maka diperoleh bahwa;
a. Ibu Netty Susanti S.Pd
NO SIKAP GURU YA TIDA
K
1 Guru merencanakan kegiatan pembelajaran.
2 Guru melaksanakan pembelajaran
3 Guru menilai proses dan hasil pembelajaran
4 Guru memanfaatkan hasil penilaian
5 Guru memberikan umpan balik
6 Guru melayani peserta didik yang mengalami
kesulitan
7 Guru menciptakan lingkungan belajar yang
menyenangkan
8 Guru mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu
pembelajaran,
9 Guru memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran
yang tersedia
10 Guru mengembangkan interaksi pembelajaran
(strategi, metode, dan teknik).
11 Guru melakukan penelitian praktis untuk perbaikan
pembelajaran
12 Guru melibatkan peserta didik secara aktif dalam
proses belajar yang dilakukan secara sungguh-
sungguh dan mendalam untuk mencapai pemahaman
konsep, tidak terbatas pada materi yang diberikan
oleh guru

34
13 Guru bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan
kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran
yang diampunya.
14 Persiapan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran
oleh guru
15 Relevansi materi dengan tujuan instruksional.
16 Pemberian motivasi kepada siswa.
17 Guru menggunakan bahasa yang baik
18 Guru menggunakan strategi pembelajaran
19 Gaya,sikap, dan perilaku guru terhadap siswa baik.
20 Guru bisa memanajemen kelas.

b. Ibu Juwita Hana S.Pd

NO SIKAP GURU YA TIDA


K
1 Guru merencanakan kegiatan pembelajaran.
2 Guru melaksanakan pembelajaran
3 Guru menilai proses dan hasil pembelajaran
4 Guru memanfaatkan hasil penilaian
5 Guru memberikan umpan balik
6 Guru melayani peserta didik yang mengalami
kesulitan
7 Guru menciptakan lingkungan belajar yang
menyenangkan
8 Guru mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu
pembelajaran,
9 Guru memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran
yang tersedia
10 Guru mengembangkan interaksi pembelajaran
(strategi, metode, dan teknik).
11 Guru melakukan penelitian praktis untuk perbaikan
pembelajaran
12 Guru melibatkan peserta didik secara aktif dalam
proses belajar yang dilakukan secara sungguh-
sungguh dan mendalam untuk mencapai pemahaman
konsep, tidak terbatas pada materi yang diberikan
oleh guru
13 Guru bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan
kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran
yang diampunya.
14 Persiapan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran
oleh guru
15 Relevansi materi dengan tujuan instruksional.

35
16 Pemberian motivasi kepada siswa.
17 Guru menggunakan bahasa yang baik
18 Guru menggunakan strategi pembelajaran
19 Gaya,sikap, dan perilaku guru terhadap siswa baik.
20 Guru bisa memanajemen kelas.

Untuk menentukan apakah guru guru yang diamati termasuk dalam kategori guru yang
bersikap profesional dilihat dari segi pelaksanaan supervisi pendidikan dan supervisi klinis,
dapat kita tentukan melalui tabel kriteria dibawah ini;

Jumlah pernyataan yang Kriteria


dilaksanakan
0-10 Tidak Profesional (TP)
10-15 Cukup Profesional (CP)
15-20 Profesional (P)

Hasil penelitian dalam angket diperoleh;


Nama Guru Jumlah Pernyataan yang Di Kriteria
Pilih
Netty Susanti S.Pd 19 Profesional (P)
Juwita Hana S. Pd 19 Profesional (P)

Maka dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh kelompok peneliti,
diperoleh bahwa Ibu Netty Susanti dan Ibu Juwita Hana telah menerapkan sikap dan perilaku
guru profesional berdasarkan hasil supervisi pendidikan maupun supervisi klinis. Diantara 20
pernyataan yang diberikan, Ibu Netty Susantidan Ibu Juwita Hana tidak memenuhi syarat
pada poin yang ke sebelas (11), yaitu tidak memiliki penelitian praktis untuk memperbaiki
pelajaran . Dari hal ini dapat kita ketahui bahwa salah satu kendala dalam penerapan sikap
profesional sebagai seorang guru ditinjau dari segi pelaksanaan supervisi pendidikan dan
supervisi klinis adalah sikap kepala sekolah yang kurang tegas dalam mengadakan supervisi
di sekolah. Karena salah satu dari kegiatan supervisi yang dapat dibimbing oleh kepala
sekolah adalah membuat penelitian, workshop, karya ilmiah guru, dll.
4.3.4 Sikap dan Perilaku Guru Ditinjau dari Segi Mengajar dan Mendidik
Peserta Didik
Berdasarkan hasil penelitian observasi dan wawancara pada dua (2) orang guru mata
pelajaran matematika saat sedang mengajarkan materi di kelas, maka diperoleh bahwa;
a. Ibu Netty Susanti S.Pd
NO SIFAT/PERILAKU GURU MENGAJAR PELAKSANA

36
PESERTA DIDIK AN
YA TIDAK
1. Guru memastikan bahwa semua peserta
didik mendapatkan kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran

2. Guru menggunakan berbagai teknik untuk


memotiviasi kemauan belajar peserta didik.

3. Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran


sesuai dengan rancangan yang telah disusun
secara lengkap dan pelaksanaan aktivitas
tersebut mengindikasikan bahwa guru
mengerti tentang tujuannya.

4. Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran


yang bertujuan untuk membantu proses
belajar peserta didik, bukan untuk menguji
sehingga membuat peserta didik merasa
tertekan.

5. Guru mengkomunikasikan informasi baru


(misalnya materi tambahan) sesuai dengan
usia dan tingkat kemampuan belajar peserta
didik.

6. Guru menyikapi kesalahan yang dilakukan


peserta didik sebagai tahapan proses
pembelajaran, bukan semata-mata
kesalahan yang harus dikoreksi. Misalnya:
dengan mengetahui terlebih dahulu peserta
didik lain yang setuju/tidak setuju dengan
jawaban tersebut, sebelum memberikan
penjelasan tentang jawaban yg benar.

37
7. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran
sesuai isi kurikulum dan mengkaitkannya
dengan konteks kehidupan sehari hari
peserta didik.

8. Guru melakukan aktivitas pembelajaran


secara bervariasi dengan waktu yang cukup
untuk kegiatan pembelajaran yang sesuai
dengan usia dan tingkat kemampuan belajar
dan mempertahankan perhatian peserta
didik.

9. Guru memperlakukan semua peserta didik


secara adil, memberikan perhatian dan
bantuan sesuai kebutuhan masing masing,
tanpa memperdulikan faktor personal
10. Guru mampu menyesuaikan aktivitas
pembelajaran yang dirancang dengan
kondisi kelas. menggunakan alat bantu
mengajar, dan/atau audio-visual (termasuk
TIK) untuk

11. Guru memberikan banyak kesempatan


kepada peserta didik untuk bertanya,
mempraktekkan dan berinteraksi dengan
peserta didik lain.

12. Guru mengatur pelaksanaan aktivitas


pembelajaran secara sistematis untuk
membantu proses belajar peserta didik.
Sebagai contoh: guru menambah informasi
baru setelah mengevaluasi pemahaman
peserta didik terhadap materi sebelumnya

13. Guru menggunakan alat bantu mengajar,

38
dan/atau audio-visual (termasuk TIK) untuk
meningkatkan motivasi belajar peserta
didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

14. Guru secara aktif membantu peserta didik


dalam proses pembelajaran dengan
memberikan perhatian kepada setiap
individu.

15. Guru memberikan kesempatan belajar


kepada peserta didik sesuai dengan cara
belajarnya masing-masing.

16. Guru memusatkan perhatian pada interaksi


dengan peserta didik dan mendorongnya
untuk memahami dan menggunakan
informasi yang disampaikan.

17. Guru mendengarkan dan memberikan


perhatian terhadap semua jawaban peserta
didik baik yang benar maupun yang
dianggap salah untuk mengukur tingkat
pemahaman peserta didik.

18. Guru menyajikan kegiatan pembelajaran


yang dapat menumbuhkan kerja sama yang
baik antarpeserta didik.

19. Guru bersikap dewasa dalam menerima


masukan dari peserta didik dan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk
berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

20. Guru mengawali dan mengakhiri


pembelajaran dengan tepat waktu.

39
b. Ibu Juwita Hana S.Pd
NO SIFAT/PERILAKU GURU MENGAJAR PELAKSANA
PESERTA DIDIK AN
YA TIDAK
1. Guru memastikan bahwa semua peserta
didik mendapatkan kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran

2. Guru menggunakan berbagai teknik untuk


memotiviasi kemauan belajar peserta didik.

3. Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran


sesuai dengan rancangan yang telah disusun
secara lengkap dan pelaksanaan aktivitas
tersebut mengindikasikan bahwa guru
mengerti tentang tujuannya.

4. Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran


yang bertujuan untuk membantu proses
belajar peserta didik, bukan untuk menguji
sehingga membuat peserta didik merasa
tertekan.

5. Guru mengkomunikasikan informasi baru


(misalnya materi tambahan) sesuai dengan
usia dan tingkat kemampuan belajar peserta
didik.

6. Guru menyikapi kesalahan yang dilakukan


peserta didik sebagai tahapan proses
pembelajaran, bukan semata-mata
kesalahan yang harus dikoreksi. Misalnya:
dengan mengetahui terlebih dahulu peserta
didik lain yang setuju/tidak setuju dengan

40
jawaban tersebut, sebelum memberikan
penjelasan tentang jawaban yg benar.

7. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran


sesuai isi kurikulum dan mengkaitkannya
dengan konteks kehidupan sehari hari
peserta didik.

8. Guru melakukan aktivitas pembelajaran


secara bervariasi dengan waktu yang cukup
untuk kegiatan pembelajaran yang sesuai
dengan usia dan tingkat kemampuan belajar
dan mempertahankan perhatian peserta
didik.

9. Guru memperlakukan semua peserta didik


secara adil, memberikan perhatian dan
bantuan sesuai kebutuhan masing masing,
tanpa memperdulikan faktor personal
10. Guru mampu menyesuaikan aktivitas
pembelajaran yang dirancang dengan
kondisi kelas. menggunakan alat bantu
mengajar, dan/atau audio-visual (termasuk
TIK) untuk

11. Guru memberikan banyak kesempatan


kepada peserta didik untuk bertanya,
mempraktekkan dan berinteraksi dengan
peserta didik lain.

12. Guru mengatur pelaksanaan aktivitas


pembelajaran secara sistematis untuk
membantu proses belajar peserta didik.
Sebagai contoh: guru menambah informasi
baru setelah mengevaluasi pemahaman

41
peserta didik terhadap materi sebelumnya

13. Guru menggunakan alat bantu mengajar,


dan/atau audio-visual (termasuk TIK) untuk
meningkatkan motivasi belajar peserta
didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

14. Guru secara aktif membantu peserta didik


dalam proses pembelajaran dengan
memberikan perhatian kepada setiap
individu.

15. Guru memberikan kesempatan belajar


kepada peserta didik sesuai dengan cara
belajarnya masing-masing.

16. Guru memusatkan perhatian pada interaksi


dengan peserta didik dan mendorongnya
untuk memahami dan menggunakan
informasi yang disampaikan.

17. Guru mendengarkan dan memberikan


perhatian terhadap semua jawaban peserta
didik baik yang benar maupun yang
dianggap salah untuk mengukur tingkat
pemahaman peserta didik.

18. Guru menyajikan kegiatan pembelajaran


yang dapat menumbuhkan kerja sama yang
baik antarpeserta didik.

19. Guru bersikap dewasa dalam menerima


masukan dari peserta didik dan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk
berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

42
20. Guru mengawali dan mengakhiri
pembelajaran dengan tepat waktu.

Untuk menentukan apakah guru guru yang diamati termasuk dalam kategori guru yang
bersikap profesional dilihat dari segi proses belajar mengajar di ruangan kelas, dapat kita
tentukan melalui tabel kriteria dibawah ini;

Jumlah pernyataan yang Kriteria


dilaksanakan
0-10 Tidak Profesional (TP)
10-15 Cukup Profesional (CP)
15-20 Profesional (P)

Hasil penelitian dalam angket diperoleh;


Nama Guru Jumlah Pernyataan yang Di Kriteria
Pilih
Netty Susanti S.Pd 19 Profesional (P)
Juwita Hana S. Pd 19 Profesional (P)

Maka dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh kelompok peneliti,
diperoleh bahwa Ibu Netty Susanti dan Ibu Juwita Hana telah menerapkan sikap dan perilaku
guru profesional ditinjau dari segi proses belajar mengajar di kelas. Diantara 20 pernyataan
yang diberikan, Ibu Netty Susantidan Ibu Juwita Hana tidak memenuhi syarat pada poin yang
ke sebelas (20), yaitu tidak tepat waktu dalam menutup pembelajaran . Dari hal ini dapat kita
ketahui bahwa salah satu kendala dalam penerapan sikap profesional sebagai seorang guru
ditinjau dari segi proses belajar mengajar di kelas adalah kurangnya manajemen waktu di
dalam kelas, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menutup jam ppelajaran yang
harusnya sudah selesai. Maka dari itu, untuk menjadi seorang guru yang profesional, guru
juga harus mampu memanajemen atau mengelolah kelas sehingga rencana pembelajaran
dengan alokasi waktu yang disediakan dapat berjalan sesuai dengan RPP dan Silabus yang
dibuat oleh guru itu sendiri.

43
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dari dua responden yang diteliti, terdapat hasil sebagai berikut:
1. Dari segi profesionalitasnya, kedua guru tersebut dinyatakan profesional.
2. Dari segi sifat dan perilaku sebagai guru profesional, kedua guru tersebut sudah
memenuhi kriteria tersebut.
3. Dari segi proses belajar sebagai guru profesional, kedua guru tersebut sudah
memenuhi kriteria tersebut.
4. Dari segi pelaksanaan kode etik guru, kedua guru tersebut telah mematuhi kode etik
yang ada.
5. Ibu Netty Susanti tidak memenuhi syarat poin ke 5 yang berisi "turut serta berperan
aktif dalam kegiatan sekolah".
6. Kedua guru tersebut memperoleh poin yang sama pada butir penilaian 1,2 dan 4.
7. Pada butir penilaian 3, ibu Netty Susanti memperoleh nilai lebih rendah ketimbang
ibu Juwita Hana karena pada poin ke 5, ibu NNetty tidak berpartisipasi dalam
kegiatan sekolah).
5.2 SARAN
Guru merupakan tiang bagi suatu negara. Suatu negara bisa dikatakan maju apabila
perkembangan pendidikannya berkembang pesat. Saran kami sebagai calon guru, diharapkan
semua guru-guru disekolah sudah mendapatkan predikat profesional meskipun guru tersebut

44
belum mendapatkan sertifikasi dari pemerintah. Diharapkan harus ada kesadaran bagi tiap-
tiap guru untuk bekerja dengan sepenuh hati dan dilandasi oleh rasa cintanya terhadap
pekerjaannya serta mampu menerapkan kode etik yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

45
LAMPIRAN I
INSTRUMENT PENILAIAN

46
LAMPIRAN II
BIODATA PENULIS

1. NAMA : Cristin Yessica Siahaan


Nim : 4143312003
Jabatan : Ketua
Tugas :a. Mencari sekolah yang akan di obsevasi
b. Mengantar surat ke sekolah
c. Mewawancarai guru
d. Mengerjakan bagian pembahasan

2. Nama : Ati Malem Sari Ginting


Nim : 4143312002
Jabatan : Sekretaris
Tugas :a. Mencari sekolah yang akan di observasi
b. Mewawancarai guru
c. Mengerjakan bagian pendahuluan
d. Mengkombine dan merapikan laporan makalah

3. Nama : Deby Nurul Huda

47
Nim : 4143312004
Jabatan : Bendahara
Tugas :a. Mencari sekolah yang akan di observasi
b. Mengobservasi guru di sekolah
c. Mengerjakan bagian tinjauan pustaka dan membuat kesimpulan

4. Nama : Gayatri Rikayana Sianturi


Nim : 4143312010
Jabatan : Anggota
Tugas :a. Mencari sekolah yang akan di observasi
b. Mengantar surat ke sekolah
c. Mengerjakan bagian metodologi penelitian
d. Memprint laporan mini riset
LAMPIRAN III
ANGGARAN BIAYA

48
LAMPIRAN IV
TEMPAT PELAKSANAAN

Tempat : SMKN I Medan


Tanggal Pelaksanaan : 19 April 2017
Subjek : Guru Mata Pelajaran Matematika
Pembuatan Laporan Observasi : 20 April 2017 03 Mei 207

49