Anda di halaman 1dari 21

CONTOH MAKALAH BELUM SELESAI

SEJARAH PERKEMBANAGN PG MADU KISMO

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi salah satu Syarat Mengikuti Ujian Praktek pada Program Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA)

oleh
Tedy Rizky Alam Syah
NIS ..
XI IPS-1
PROGRAM ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
SMA YAYASAN ATIKAN SUNDA BANDUNG
2013

LEMBAR PENGESAHAN
PENGOLAHAN LIMBAH DI PG.MADUKISMO
oleh,
Tedy Rizky Alam Syah
NIS .
XI IPS-1
Makalah ini Telah Dipertahankan di Depan Tim Penguji pada Pelaksanaan Ujian Presentasi
Makalah
1. Dra. Farida Dahliana (Pembimbing)
NIP _________________________ ____________________
2. (Penguji)
NIP ________________________ ____________________

Mengetahui
Kepala Sekolah,
Drs. Usman, M. Si.
NIP. 195711181986031006

SEJARAH PERKEMBANAGN PG MADU KISMO

Siswa Kelas XI IPS 1 SMA YAS BANDUNG

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pemurah, berkat kemurahanNYA penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Sejarah Perkembanagn Pg Madu Kismo
.
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian
praktek pada program IPA. Penulis menyadari bahwa tidak sedikit masalah dan tentangan dalam
proses penulisan makalah ini, namun syukur alhamdulillah makalah ini dapat terselesaikan tepat
waktu berkat bantuan beberapa pihak.
Demikian, maka selayaknya penulis haturkan terimakasih kepada:
1. Allah Swt yang senantiasa memberikan kelancaran selama masa bimbingan hingga saat ini;
2. Bapak Drs. Usman, M. Si., selaku kepala sekolah SMA YAS BANDUNG;
3. Ibu Dra. Farida Dahliana, selaku pembimbing yang senantiasa memberi arahan dan masukan
dalam proses bimbingan;
4. Ibu Asti Raina Nungerti, S. Pd., selaku wali kelas XI IPS 1 yang selalu memberikan dukungan
dan semangat kepada para siswanya;
5. Ibu/Bapak Guru SMA YAS Bandung yang telah dengan ikhlas membimbing dan memberikan
ilmu pengetahuan kepada penulis;
6. ( Nama Orang TUA ), selaku orangtua yang telah memberikan dukungan baik moril maupun
materil;
7. Iwan Nugraha,,, dan semua teman-teman yang senantiasa memberi semangat dan motivasi
sehingga penulis tidak merasa jenuh dalam proses penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini mengandung ilmu yang bermanfaat bagi penulis maupun pembaca
untuk dikemudian hari.
Penulis menyadari bahwa meskipun telah berusaha dengan baik, namun masih banyak
yang perlu diperbaiki dalam makalah ini. Karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun untuk memberbaiki isi makalah.
Bandung, 2013
Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI...........................

BAB I PENDAHULUAN.................................
1.1 Latar Belakang.................
1.2 Rumusan Masalah.....................
1.3 Tujuan Penelitian...............
1.4 Metode Penelitian.................
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian...............

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sejarah PG.Madukismo
2.2 Definisi Sampah dan Limbah
2.3 Jenis Limbah

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Jenis Limbah Industri yang Dihasilkan PG.Madukismo
3.2 Cara Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah di PG.Madukismo

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Daftar istilah
Foto foto
Riwayat Hidup

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu industri indusrtri baik industri rumahan maupun pabrik semakin
banyak di Indonesia. Kini sangat mudah ditemukan sebuah industri meskipun letaknya dekat
dengan pemukiman padat penduduk.
PG Madukismo adalah salah satu pabrik gula dan pabrik alkohol atau spirtus di Daerah Istimewa
Yogyakarta yang mengemban tugas untuk mengsukseskan program pengadaan pangan Nasional,
khususnya gula pasir. Sebagai Perusahaan padat karya banyak menampung tenaga kerja dari Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dibangun : Tahun 1955
Atas Prakarsa : Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Diresmikan : Tanggal 29 Mei 1958 Oleh Presiden RI Pertama Ir.Soekarno
Mulai Produksi : Pabrik Gula : Tahun 1958
PG Madukismo berlokasi diatas Bangunan Pabrik Gula Padokan (satu diantara 17 Pabrik Gula di DIY
yang di bangun pada pemerintahan Belanda tetapi dibumihanguskan pada masa pemerintahan Jepang)
yang terletak di desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berdasarkan data diatas, penulis tertarik untuk menyusun sebuah karya tulis yang berjudul
Pemanfaatan Limbah Di PG. Madukismo Yogyakarta. Dalam karya tulis ini penulis membahas
mengenai pemanfaatan limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan gula di PG.Madukismo
Yogyakarta.

1.2 Rumusan Masalah


Untuk memudahkan penyusunan karya tulis ini penulis merumuskan masalah kedalam beberapa
bentuk kalimat pertanyaan, sebagai berikut ini:
1. Apa saja jenis limbah yang dihasilkan oleh PG.Madukismo?
2. Bagaimana PG.Madukismo memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari proses produksi gula?
3. Apa saja produk hasil pemanfaatan limbah tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui jenis limbah yang dihasilkan oleh PG.Madukismo
2. Untuk mengetahui cara pemanfaatan limbah di PG.Madukismo
3. Untuk mengetahui produk hasil pemanfaatan limbah di PG.Madukismo
4. Untuk mengetahui manfaat pengolahan limbah
1.4 Metode dan Teknik Penelitian
1.4.1 Metode Penelitian
Penelitian ini disusun berdasarkanmetode deskriptif analitis, metode yang bertujuan mendapat
penjelasan mengenai fakta-fakta tertenu hasil temuan dari sumber pustaka atau di lapangan.
Dalam pengumpulan data, penyusun menggunakan teknik penelaahan seperti berikut ini
1.4.2 Teknik Penelitian
1. Teknik Studi Pustaka
Penyusun mempelajari bahan penelitian dari berbagai sumber yang keudian memadukannya
hingga menjadi kesatuan sumber yang terpercaya.
2. Teknik Observasi / Pengamatan
Penyusun melakukan kunjungan langsung ke PG.Madukismo dan melakukan pengamatan
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan limbah.
3. Teknik Wawancara
Penyusun melakukan wawancara dengan karyawan PG.Madukismo.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian


1.5.1 Lokasi
PG. Madukismo Bantul, Yogjakarta
1.5.2 Waktu
Hari, Tanggal. Maret 2012

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah PG. Madukismo


Pabrik Gula Madukismo adalah satu-satunya pabrik Gula dan Alkohol/Spirtus di Propinsi
DIY. Pabrik ini mengemban tugas untuk mensukseskan program pengadaan pangan Nasional,
khususnya gula pasir. Pabrik gula dan Alkohol/Spirtus Madukismo terletak di Kalurahan
Tirtonimolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perusahaan ini merupakan bentuk dari Perseroan Terbatas (PT), yang berdiri pada tanggal 14
Juni 1955, dan diberi nama PT. Madu Baru. Yang kemudian dibagi menjadi dua pabrik yaitu
Pabrik Gula (PG Madukismo) dan Pabrik Alkohol/Spiritus (PS Madukismo).
Apabila Anda berkunjung di Pabrik Gula Madukismo, Anda akan disambut dengan nuansa
era industri. Sebuah bangunan besar berusia tua dengan halaman luas, mesin-mesin kuno serta
rel-rel kereta yang menjadi jalan kereta pengangkut tebu akan menyapa dan menguatkan kesan
itu. Pengunjung bisa merasakan nuansa perjalanan dengan kereta seperti kembali pada masa
lampau ketika berada di dalam gerbong yang ditarik oleh lokomotif tua bermesin diesel
buatan Jerman. Kereta tersebut akan mengantar menuju areal pabrik melewati rel-rel tua dan
perkebunan yang ada di dekat pabrik.

Setelah turun dari kereta, Anda dapat langsung menuju lokasi Pabrik Gula Madukismo.
Pada bulan bulan tertentu, Pengunjung dapat langsung melihat produksi gula melewati tahap
pemerahan nira untuk mendapatkan sari gula, pemurnian nira dengan sulfitasi, penguapan
nira, kristalisasi, puteran gula, dan pengemasan. Sambil mencermati proses produksinya,
Pengunjung juga bisa melihat mesin-mesin tua yang menjadi alat produksi di pabrik ini.

Keluar dari lokasi produksi gula dapat ditemui Pabrik Spiritus Madukismo yang terletak di
sebelah barat pabrik gula. Di pabrik yang berdiri di pada tahun yang sama dengan pabrik
gula ini, pengunjung juga bisa melihat seluruh proses produksi spiritus yang meliputi tahap
pengenceran bahan baku, peragian atau fermentasi dan penyulingan. Spiritus dan produk
alkohol lainnya yang dihasilkan oleh pabrik ini diolah dari tetes tebu, hasil samping produksi
gula.

2.2 Definisi Limbah dan Sampah

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun
domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan
dihasilkan.

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia
maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Istilah Lingkungan untuk
Manajemen, Ecolink, 1996)
2.3 Jenis jenis Limbah

Berdasarkan karakteristiknya:
1) Limbah cair
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn.
2001). Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air dalam sistem
prosesnya. Di samping itu ada pula bahan baku mengandung air sehingga dalam proses
pengolahannya air harus dibuang.
Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang
berbahaya bagi lingkungan. Namun demikian, mengingat penting dan besarnya dampak yang
ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan, penting bagi sektor industri kehutanan untuk
memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.
2) Limbah padat
Limbah padat adalah hasil buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari
sisa proses pengolahan. Limbah ini dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu limbah padat /
sampah yang dapat didaur ulang, seperti plastik, tekstil, potongan logam. Untuk menanggulangi
pencemaran tanah akibat penumpukan sampah itu dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti
melalui program 3 R yaitu Reduce, Reuse, Recycle.
Kedua limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis, bagi limbah padat yang tidak punya
nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat,
diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar.
3) Limbah gas
Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh berberapa partikulat zat (limbah) yang
mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap
kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.
Udara adalah media pencemar untuk limbah gas. Limbah gas atau asap yang diproduksi pabrik
keluar bersamaan dengan udara. Secara alamiah udara mengandung unsur kimia seperti O2, N2,
NO2, CO2, H2 dan lain-lain. Penambahan gas ke dalam udara melampaui kandungan alami
akibat kegiatan manusia akan menurunkan kualitas udara.
4) Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun
yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau
mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia. Yang termasuk limbah
B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena
rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan
dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih
karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan
infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui
termasuk limbah B3.

2.4 Peran Pabrik Gula Madukismo dalam Meningkatkan Ekonomi Daerah


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kaya
akan barang tambang, palawija, dan masih banyak lainnya. Akan tetapi, kekayaan alam tersebut
tidak diimbangi dengan kekayaan sumber daya manusia. Ketidak seimbangan tersebut
mengakibatkan berbagai persoalan yang kompleks. Terhambatnya perekonomian Indonesia,
perkembangan infrastruktur yang lambat. Perekonomian Indonesia meliputi petumbuhan dan
pembangunan ekonomi nasional, dan perekonomi daerah.
Ekonomi nasional akan berpengaruh terhadap APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)
dan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). APBD sendiri mempengaruhi perekonomian
yang berada di daerah.
Saat ini, perekonomian daerah masih terpuruk. Keadaan tersebut disebabkan karena berbagai hal,
antara lain terjadinya bencana alam, banyak perusahaan yang gulung tikar, keamanan yang masih
minim juga menyebabkan ekonomi daerah terpuruk. Akibatnya banyak terjadi pengangguran,
kemiskinan, ketimpangan pendapatan.
Untuk membenahi perekonomian daerah, dibutuhkan suatu inovasi yang menjamin agar ekonomi
daerah dapat meningkat. Serta sekaligus untuk mengatasi masalah yang masih kompleks, seperti
tingkat pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan.
Agar pengangguran di masyarakat volumenya tidak semakin membesar, maka pemerintah daerah
dapat mendirikan suatu industri. Dimana industri tersebut menggunakan sumber daya dari
masyarakat daerah itu sendiri, sehingga pengangguran dapat terkurangi dengan adanya lapangan
pekerjaan pendirian pabrik industri. Industri yang paling tepat untuk meningkatkan ekonomi
daerah salah satunya yaitu dengan mendirikan pabrik gula.
Perekonomian daerah adalah kemampuan ekonomi setiap daerah, yang dapat diukur dari
pendapatan daeerah, rencana pengeluaran/anggaran belanja daerah dan tingkat pendapatan per
kapita daerah tersebut.
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat
mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah
dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang
perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin
Arsyad, 1999). Tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi selain menciptakan
pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus atau mengurangi tingkat
kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran. Kesempatan kerja bagi
penduduk atau masyarakat akan memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
(Todaro, 2000).
Seperti contohnya yaitu Pabrik Gula Madukismo. Pabrik gula tersebut berada di daerah Desa
Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.Pabrik gula Madukismo, adalah salah satu
pabrik gula tertua di tanah air. Pabrik itu berdiri sudah berdiri sejak tahun 1955. Pabrik gula
Madukismo ini dibangun setelah pabrik gula Padokan dibumihanguskan. Pendirian pabrik gula
Madukismo ini salah satu gagasan yan berasal dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Kebutuhan areal untuk komplek pembangunan pabrik gula Madukismo adalah 269.410 m2, yang
sebagian berasal dari tanah bekas pabrik gula Padokan yang mempunyai luas sebesar 90.650 m2
sedang sisanya 178.760 m2 yang diperoleh dengan membeli tanah sawah milik penduduk
sekitarnya.
Tujuan utama didirikannya pabrik gula Madukismo adalah untuk semula untuk menolong rakyat
yang banyak kehilangan pekerjaan karena dibumihanguskannya pabrik-pabrik gula waktu
itu.Perekonomian masyarakat yang terpuruk akibat dibumihanguskannya pabrik-pabrik gula
yang semula berdiri pada masa penjajahan Belanda, berpengaruh besar terhadap kehidupan
masyarakat. Masyarakat kehilangan mata pencaharian sebagai karyawan pabrik gula yang telah
dibumihanguskan, yang menyebabkan pengangguran tidak terkontrol jumlahnya. Untuk itu
dengan didirikannya pabrik gula Madukismo dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat
sekitar. Sehingga pengangguran dapat teratasi, dan perekonomian di daerah dapat meningkat
dengan adanya pabrik gula tersebut.
Pada waktu musim giling tiba, masyarakat yang bekerja sebagai pekerja musiman dapat ditarik
masuk ke pabrik gula Madukismo, jadi masyarakat tersebut tetap akan mendapatkan pendapatan
untuk kebutuhan hidupnya.
Selain menarik masyarakat yang belum mempunyai pekerjaan untuk bekerja, pabrik gula
Madukismo juga berperan membantu para petani tebu yang terlibat dalam proses penanaman.
Yang mana pada saat musim panen tebu tiba para petani tidak akan kesulitan untuk mengolah
tebu tersebut. Karena hasil panen tebu tersebut akan disalurkan ke pabrik, bahkan pabrik gula
Madukismo akan memberikan kontrak untuk jangka waktu tertentu, sehingga petani hanya
tinggal menyerahkan hasil panen tebu kepada pabrik gula.
Dengan berkurangnya tingkat pengangguran di daerah maka secara langsung perekonomian di
daerah akan meningkat. Karena masyarakat akan bekerja dan menghasilkan pendapatan yang tak
lain untuk pabrik gula Madukismo sebagai sentra industri yang berkembang pesat di daerah
Bantul, Yogyakarta.
Dengan berdirinya pabrik gula di daerah, sangat membantu keadaan ekonomi daerah dan dapat
meningkatkan perekonomian di daerah tersebut. Seperti pabrik gula yang berada di Bantul,
pabrik gula Madukismo. Ekonomi di daerah Kasian, Bantul, Yogyakarta terlihat jauh berbeda
keadaannya sebelum dan sesudah dibangunnya pabrik gula Madukismo.
Pendirian pabrik gula Madukismo memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, dan bagi
perekonomian daerah. Ekonomi daerah berkembang dengan pesat seiring berjalannya waktu.

BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat
PG Madukismo adalah salah satu pabrik gula dan pabrik alkohol atau spirtus di Daerah Istimewa
Yogyakarta yang mengemban tugas untuk mengsukseskan program pengadaan pangan Nasional,
khususnya gula pasir. Sebagai Perusahaan padat karya banyak menampung tenaga kerja dari
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dibangun : Tahun 1955
Atas Prakarsa : Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Diresmikan : Tanggal 29 Mei 1958
Oleh Presiden RI Pertama Ir.Soekarno
Mulai Produksi : Pabrik Gula : Tahun 1958
PG Madukismo berlokasi diatas Bangunan Pabrik Gula Padokan (satu diantara 17 Pabrik Gula
di DIY yang di bangun pada pemerintahan Belanda tetapi dibumihanguskan pada masa
pemerintahan Jepang) yang terletak di desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan
Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Krontaktor utama yang digunakan untuk proses pembuatan gula adalah Machine Fabriek
Sangerhausen yang berasal dari Jerman Timur.
Perusahaan ini didirikan dengan mempunyai visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
Mendirikan PT. Madubaru (PG/PS Madukismo) perusahaan Argo Industri yang unggul di
Indonesia dengan menjadikan petani sebagai mitra sejati.
Misi :
Menghasilkan gula dan ethanol yang berkualitas untuk memenuhi permintaan masyarakat
industri di Indonesia.
Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah lingkungan, dikelola
secara professional dan inovatif, memberikan pelayanan prima kepada pelanggan serta
mengutamakan kemitraan dengan petani
Mengembangkan produk atau baru yang mendukung bisnis inti
Menempatkan karyawan dan stake hoders lainnya sebagai bagian terpenting dalam proses
penciptaan keunggulan perusahaan dan pencapaiaan share holders values.
PG Madukismo adalah pabrik gula terbesar yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yang
terletak di desa Padokan, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hasil Kunjunan Industri


Kami sampai di PG Madukismo sekitar pukul 00.00 WIB langsung memasuki aula pertemuan.
Di aula pertemuan kami disambut oleh pemandu kunjungan industri yang termasuk salah satu
pegawai PG Madukismo. Dengan jelas dan lengkap mereka menerangkan kegiatan-kegiatan
yang biasa dilakukan di PG Madukismo. Dalam kegiatan ini kami diberi kesempatan untuk
bertanya, salah satu teman kami menanyakan tentang kualitas gula menurut warna yang biasa
ada di pasaran. Warna yang dihasilkan oleh gula yang ada di pasaran tersebut bisa disebabkan
oleh filtrasi atau proses penyaringan yang lebih banyak atau lebih sedikit misalnya gula tersebut
berwarna cokelat hal itu karena poses filtrasi yang sedikit dan sebaliknya, ujar pemandu PG
Madukismo.

Selanjutnya, kami diajak melihat proses pembuatan gula Madukismo secara langsung ke
pabriknya. Yang asyiknya perjalanan dari aula pertemuan ke pabrik gula Madukismo kami
diantar oleh kereta wisata yang memang biasanya digunakan untuk mengantar para pengunjung
yang ingin mengetahui cara membuat gula secara langung.

Kami pikir pabrik gula Madukismo tersebut rapi, bersih, dan steril (melihat dari aula pertemuan
tadi dan penjelasan lewat media visual) namun ketika kami mengunjunginya ternyata berbanding
terbalik dari yang kami fikirkan. Pabrik gula Madukismo terlihat kotor mulai dari jalan yang
berserakan batang-batang tebu yang berjatuhan, mesin-mesin yang terlihat sangat kotor dan tidak
steril, bau yang tercium ketika memasuki pabrik yang sangat menyengat.

Tidak hanya diajak ke pabrik proses pembuatan gula, kamipun diajak ke tempat packing gula dan
gudang penyimpanan gula. Gula-gula yang sudah diolah di packing ditempat ini dengan mesin-
mesin modern kemudian disimpan di gudang. Penyimpanan gula tidak menyentuh tanah yang
artinya penyimpanan gula disimpan dengan dialaskan kayu-kayu yang di jajar-jajarkan.

Proses Pembuatan Gula


Tebu dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal dan kadar gula
pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk mengetahui
faktor pemasakan, koefisien daya tahan, dll. Ini dilakukan kira-kira 1,5 bulan sebelum
penggilingan.

Setelah tebu dipanen dan diangkat ke pabrik selanjutnya dilakukan pengolahan gula putih.
Pengolahan tebu menjadi gula putih dilakukan di pabrik dengan menggunakan peralatan yang
sebagain besar bekerja secara otomatis.
Tahap-tahap dalam Pembuatan Gula
Pembuatan gula putih di pabrik gula mengalami beberapa tahapan pengolahan, yaitu pemerahan
nira, pemurian, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan pengeringan.

1. Pemerahan Nira (Ekstrasi)


Tebu setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas)
dengan cairannya yang mengandung gula (nira mentah). Alat penggiling tebu yang digunakan di
pabrik gula berupa suatu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja pendahuluan (Voorbewer
keras) yang dirangkaikan dengan alat giling dari logam. Alat pengerja pendahuluan terdiri dari
Unigator Mark IV dan Cane knife yang berfungsi sebagai pemotong dan pencacah tebu. Setelah
tebu mengalami pencacahan dilakukan pemerahan nira untuk memerah nira digunakan 5 buah
gilingan, masing-masing terdiri dari 3 rol dengan ukuran 36X64.

2. Pemurnian Nira
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk proses pemurnian gula yaitu cara defekasi, sulfitasi
dan karbonatasi. Pada umumnya pabrik gula di indonesia memakai cara sulfitasi. Cara sulfitasi
menghemat biaya produksi, bahkan pemurnian mudah di dapat dan gula yang dihasilkan adalah
gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Sumber).

Proses ini menggunakan tabung defekator, alat pengendap dan saringan Rotary Vacuum Filter
dan bahan pemurniannya adalah kapur tohor dan gas sulfit dari hasil pembakaran.

Mula-mula nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam defekator,
kemudian diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi, dipanaskan dan diendapkan dalam alat
pengendap. Nira kotor yang diendapkan kemudian disaring menggunakan Rotery Vaccum Filter.
Dari proses ini dihasilkan nira jernih dan endapan padat berupa blotong. Nira jernih yang
dihasilkan kemudian dikirim kestasiun penguapan.

3. Penguapan Nira (Evaporasi)


Nira jernih masih banyak mengandung uap air. Untuk menghilangkan kadar air dilakukan
penguapan (evaporasi).
Dipabrik gula penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator dengan sistem
multiple effect yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan bergantian.
Evaporator bisanya terdiri dari 4-5 bejana yang bekerja dari satu bejana sebagai uap pemanas
bejana berikutnya. Total luas bidang pemanas 5990m2 vo.

Dalam bejana Nomor 1 nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas secara
tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap dan nira yang diuapkan terdapat
dalam pipa-pipa nira dari tombol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan dengan
kondespot. dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan menggunakan uap
nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun dikeluarkan dengan
Michaelispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana nomor 2 diuapkan dengan
menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya, sampai pada bejana terakhir
merupakan nira kental yang berwarna gelap dengan kepekatan sekitar 60 brik. Nira kental ini
diberi gas SO2 sebagai belancing dan siap dikristalkan. Sedangkan uap yang dihasilkan dibuang
ke kondensor sentral dengan perantara pompa vakum.

4. Kristalisasi
Nira kental dari sari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam suatu pan vakum, yaitu tempat
dimana nira pekat hasil penguapan dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat
jenuh, sehingga timbul kristal gula.

Sistem yang dipakai yaitu ABD, dimana gula A dan B sebagai produk,dan gula D dipakai sebagai
bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak kembali. Pemanasan menggunakan uap
dengan tekanan dibawah atmosfir dengan vakum sebesar 65 cmHg, sehingga suhu didihnya 65 0c.
Jadi kadar gula (sakarosa) tidak rusak akibat terkena suhu yang tinggi. Hasil masakan merupakan
campuran kristal gula dan larutan (Stroop). Sebelum dipisahkan di putaran gula, lebih dulu
didinginkan pada palung pendinginan (kultrog).

5. Pemisahan Kristal Gula


Pemisahan kristal dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan gaya memutar
(sentrifungal). Alat ini bertugas memisahkan gula terdiri dari:
a. 3 buah broadbent 48 X 30untuk gula masakan A.
b. 4 buah bactch sangerhousen 48 X 28 untuk masakan B.
c. 2 buah western stated CCS untuk D awal.
d. 6 buah batch sangerhousen 48 X 28 untuk gula SHS.
e. 3 buah BNA 850 K untuk gula D.

Dalam tingkatan pengkristalan, pemisahan gula dari tetesnya terjadi pada tingkat B. Pada tingkat
ini terjadi poses separasi (pemisahan). Mekanismenya menggunakan gaya sentrifugal. Dengan
adanya sistem ini, tetes dan gula terpisah selanjutnya pada tingkat D dihasilkan gula melasse
(kristal gula) dan melasse (tetes gula).

6. Pengeringan Kristal Gula


Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira 20% . Gula yang
mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering, untuk menjaga agar tidak rusak
selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu. pengeringan dapat
dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira 80 0c. pengeringan gula
secara alami dilakukan dengan melewatkan SHS pada talang goyang yang panjang. Dengan
melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Proses pengeringan dengan cara ini
membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara pemanasan. Karena itu, pabrik-pabrik
gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja atas dasar prinsip aliran berlawanan dengan
aliran udara panas.

3.1 Jenis Limbah Industri yang Dihasilkan PG.Madukismo


3.1.1 Limbah Padat
a. Pasir/ lumpur
Berupa kotoran yang dibawa oleh nira mentah.
b. Abu ketel uap
Merupakan sisa pembakaran di stasiun ketel uap .
c. Debu/ longes dari ketel uap
Merupakan debu hitam yang keluar lewat cerobong asap.
d. Blothong
Merupakan endapan kotoran dari nira tebu yang terjadi di stasiun pemurnian nira.
3.1.2 Limbah Cair
a. Bocoran minyak pelumas
Berasal dari pelumas mesin mesin di stasiun gilingan dan pelumas yang terbawa pada air
cucian kendaraan garasi pabrik.
b. Limbah soda
Berasal dari cucian pan pan penguapan di pabrik gula yang kandungan COD dan BOD nya
cukup tinggi.
3.1.3 Limbah Gas
Berupa bau belerang dan bau busuk lain yang dihasilkan selama proses pembuatan gula.

3.2 Cara Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah di PG.Madukismo


3.2.1 Limbah Padat
a. Pasir/ lumpur
Pasir dipisahkan dengan dorrclone, kemudian dimanfaatkan untuk urug lahan atas permintaan
mmasyarakat.
b. Abu ketel uap
Abu ditampung dengan lori jading dan dimanfaatkan juga untuk urug lahan yang memerlukan.
Sekarang digunakan juga untuk bahan baku pupuk Mix Mardos.
c. Debu/ langes dari ketel uap
Debu yang keluar lewat cerobong asap , ditangkap dengan alat penangkap debu (dust collector)
dan ditampung dalam lori jading.
d. Blothong
Blothong dipisahkan dengan alat Rotary Vacum Filter. Limbah padat Blothong yang dihasilkan
oleh pabrik gula Madukismo mempunyai volume yang cukup besar tiap harinya sekitar 100
ton/hari. Pabrik membeli seluas lahan di sekitar pabrik untuk menempatkan limbah tersebut,
karena limbah blothong biasanya dibuang dengan cara penumpukan (open dumping). Oleh
masyarakat sekitar limbah yang dibuang terutama blotong (ampas tebu) diambil secara cuma-
cuma untuk pembuatan asbes, genteng, pupuk, kompos dan dijadikan bahan bakar industri batu
bata, karena blotong ini masih mengandung sejumlah belerang sehingga baik untuk dijadikan
sebagai bahan bakar. Pihak PG.Madukismo melakukan mengovenan blothong pada oven dengan
suhu 105 dalam kurun waktu 3 jam sebelum membuangnya. Tujuan blotong di oven untuk
mengurangi kadar air yang terdapat di blotong tersebut, sehingga tidak menimbulkan bau yang
sangat menyengat ketika dibuang. Saat ini, pihak PG. Madukismo memanfaatkan blothong
tersebut sebagai bahan baku dalam pembuatan pupuk kompos.
3.2.2 Limbah Cair
a. Bocoran Minyak Pelumas
Bocoran minyak ini dipisahkan dari air limbah didalam bak penangkap minyak, kemudian
ditampung dalam drum drum untuk dimanfaatkan lagi.
b. Limbah soda
Limbah yang jumlahnya relatif sedikit ini, pengolahannya diikutkan di UPLC yang ada.
3.2.3 Limbah Gas
Limbah yang berupa gas ini ditanggulangi oleh alat alat yang terkait (inhouse keeping). Untuk
mengatasi hal tersebut, pada ketel dilengkapi dengan dust collector dan cyclone yang dapat
memisahkan partikel dari gas dengan cara memasukan aliran gas menurut gerakan rotasi dan
membentuk vorteks sehingga menimbulkan gaya sentrifugal yang akan melempar partikel secara
radialke arah dinding cerobong.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
.
4.2 Saran
..
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah diunduh tanggal 22 januari 2013


http://id.wikipedia.org/wiki/Sampah diunduh tanggal 22 januari 2013
S, Alex. 2012. Sukses Mengolah Sampah Organik Menjadi Pupuk Organik. Sleman: Pustaka
Baru Press
http://www.sarjanaku.com/2012/06/jenis-jenis-limbah-dan-daur-ulang.html diunduh tanggal 25
februai 2013
http://www.ptkebonagung.com/index.php/informasi-kebon-agung/produksi/penanganan-limbah
diunduh tanggal 03 maret 2013
Anonim.2012.PT.MADUBARU.Yogyakarta:Padokan
http://www.jwaterfilter.com/2012/10/pengaruh-limbah-industri-terhadap_9419.html diunduh
tanggal 04 Maret 2013