Anda di halaman 1dari 2

Agis Maulana P.

260112150103 Pharmacist Workup of Drug Theraphy Simvastatin dan Telitromisin


Kasus
Ny. AS berumur 45 tahun menderita batuk berdahak terus menerus, sehingga tidak bisa tidur dalam 3 hari terakhir. Dia juga
mengalami kesulitan bernafas dan demam yang terus menerus, yang akan hilang sementara setelah mengkonsumsi
parasetamol 500 mg setiap 6 jam. Pasien bukan seorang perokok, minum alkohol hanya kadang, dan kegiatan fisiknya
cukup aktif. Sekitar 3 tahun sebelumnya pasien didiagnosa mengalami hiperkolesterolemia dan hasil laboratorium
menunjukan bahwa nilai LDL 120 mg/dL, dan trigliserida 190 mg/dL. Sekarang kolesterol nya dapat terkontrol dengan
pengobatan penurun kolesterol. Pasien dilaporkan tidak mengetahui alergi obat. Pengobatan yang sedang dikonsumsi pasien
simvastatin 40 mg/hari. Hasil pemeriksaan fisik pasien meliputi, tinggi 160 cm, berat badan 69 kg (BMI 26,9 kg/m 2). Detak
jantung pasien 77 bpm, hasil pengujian paru paru menyatakan tejadi perubahan suara pernafasan dan rales yang terbatasi.
Hasil X ray pada dada menunjukan adanya infiltrasi/perembesan dari bagian cuping kiri bawah. Setelah itu pasien
didiagnosa CAP (Community-Acquired Pneumonia). Setelah 3 hari pengobatan pasien mengeluhkan kram otot, kaku di
tangan dan kaki, otot merasa lemas, sering gemetar dan nyeri uluh hati.
Langkah PWDT
1. Menyiapkan Tanggung Jawab Apoteker
Apoteker bertanggungjawab mengidentifikasi masalah, memecahkan masalah dan menyelesaikan masalah terkait terapi
obat serta memberikan informasi obat kepada pasien maupun tenaga kesehatan terkait, agar tujuan terapi tercapai.
2. Mengumpulkan Data dan Identifikasi Masalah Terkait terapi Pasien
Analisis Drug Related Problem Metode SOAP
SUBJEKTIF
Nama Pasien Ny. AS
Umur 45 tahun
Keluhan Selama 3 hari batuk terus menerus sampai tidak bisa tidur, sulit bernafas, dan demam.
Riwayat Penyakit/alergi Hiperkolesterolemia (Masih dialami namun terkontrol)
Pengobatan Sedang Dijalani Simvastatin 40 mg/hari dan Parasetamol 500 mg/6 jam
Pengobatan Baru Telitromisin 800 mg/hari dan Guaifenisin Sirup
OBJEKTIF
Parameter Hasil Kadar Normal
Berat badan 69 kg
BMI = 26,9 kg/m2
Tinggi badan 160 cm
Tekanan darah 130/80 mmHg 120/80 mmhg
Nadi 77x/menit 60-120x/ menit
X Ray paru Infiltrasi bagian cuping bawah paru -
ASSESMENT
Sebelumnya pasien mengalami Hiperkolesterolemia namun sudah terkontrol, sedangkan berdasarkan keluhan pasien dan
data hasil laboratorium didiagnosa pasien mengalami Community-Acquired Pneumoniae (CAP).
Analisis Drug Related Problem
Indikasi tidak tertangani -
Pilihan obat kurang tepat -
Penggunaan obat tanpa indikasi -
Dosis terlalu kecil -
Dosis terlalu besar -
Reaksi obat tidak dikehendaki -
Interaksi obat Simvastatin Telitromisin
Kombinasi kedua obat ini akan meningkatkan kadar Simvastatin dalam darah, akibat
dari Telitromisin yang merupakan inhibitor sistem CYP4503A4, sedangkan
Simvastatin merupakan obat yang dimetabolisme oleh sistem tersebut.
Gagal menerima obat -
PLAN
Perlu dilakukan peninjauan efek samping dari masing - masing obat
Perlu dipelajari adanya interaksi obat yang dapat menhasilkan efek negative
Pemeriksaan kadar obat dalam darah
Peninjauan ulang obat yang diberikan pasien
3. Mengorganisasi Data Spesifik Pasien dan Membuat Daftar Masalah Terkait Obat
Agis Maulana P. 260112150103 Pharmacist Workup of Drug Theraphy Simvastatin dan Telitromisin
Munculnya efek samping berupa kram otot di tangan dan kaki, merasa lemas, tidak ada tenaga dari otot dan sering gemetar,
diduga adalah gejala Miopati, dan adanya nyeri uluh hati perlu pemeriksaan fungsi karena dikhawatirkan adanya efek
samping dari interaksi obat anatra simvastatin dan telitromisin.
4. Penilaian Terapi
Penggunaan simvastatin dan telitromisin secara bersamaan akan menimbulkan efek negatif berupa miopati dan
kerusakan hati, maka dari itu karena kadar kolesterol sudah dapat terkontrol sebaiknya penggunaan simvastatin
dihentikan sementara waktu sampai pengobatan CAP dengan telitromisin selesai.
Risk: Timbulnya gejala Miopati (Menurunnya fungsi serat-serat otot) dan kerusakan hati akibat dari interkasi
Simvatatin - Telitromisin merupakan jenis reaksi mayor yang menaikan level simvatatin serum sehingga efek samping
muncul.
Benefit: Penggunaan Telitromisin sebagai terapi CAP sangat efektif, karena pasien toleran terhadap obat tersebut dan
merupakan antibiotic spektrum luas. Selain itu Telitromisin merupakan antibiotik yang memiliki aktivitas terhadap
bakteri penyebab CAP yang belum resisten. Penghentian simvatatin sementara belum ada laporan efek yang berbahaya.
5. Merangking masalah Terapi Obat
1. Masalah utama pasien adalah CAP (Community-Acquired Pneumonia)
2. Timbulnya efek berupa gejala miopati dan kerusakan hati.
3. Pasien memiliki riwayat hiperkolesterolemia, namun terkontrol.
6. Hasil Terapi yang diinginkan
1. Terapi CAP (Community-Acquired Pneumonia) tercapai.
2. Mencegah kambuhnya hiperkolesterolemia.
3. Mengurangi gejala efek samping yang disebabkan oleh terapi obat.
7. Terapi Alternatif
1. Terapi CAP, selain pengobatan dengan telitromisin dan guaifenisin (untuk batuk) pasien direkomendasikan untuk
rehabilitasi pernafasan dengan olahraga dan latihan pernafasan yang sesuai.
2. Terapi Hiperkolesterolemia, dianjurkan untuk menjaga pola makan, olahraga yang sesuai.
8. Rekomendasi dan Individualisasi obat
Pasien direkomendasikan untuk tetap menjalani terapi CAP dengan telitromisin 800 mg/hari dan guaefenisin sirup
selama 10 hari sesuai resep dokter, untuk selanjutnya melakukan evaluasi menganai penyakit CAP. Sedangkan untuk
terapi hiperkolesterolemia direkomendasikan untuk dihentikan sementara waktu, karena jika dikonsumsi bersamaan
dapat menyebabkan efek miopati dan kerusakan hati..
9. Pemantauan
Setelah 10 hari terapi CAP dengan telitromisin perlu dilakukan pemeriksaan kembali ke dokter untuk melihat apakah
CAP masih ada atau tidak dengan X Ray Paru dan rangkaian pemeriksaan lainnya. Selain itu dilakukan pemantauan
hasil lab lain (kadar gula darah, HDL, LDL,kolesterol, trigliserida, tekanan darah, mineral tubuh) untuk melihat efek
dari penghentian obat simvastatin.
10. Evaluasi dan tindak lanjut
Evaluasi dapat dilihat dari hasil pemeriksaan untuk CAP, jika tanda tanda CAP sudah hilang maka pemberian
telitromisin dapat dihentikan. Pemeriksaan dilakukan pada kadar kolesterol pasien akibat dari penghentian sementara
simvastatin, jika terjadi peningkatan perlu diberikan simvatatin dapat digunakan namun dengan penyesuaian dosis dan
kontrol yang ketat atau diganti dengan obat yang tidak berinteraksi seperti fluvastatin atau pravastatin.
Pasien diinfokan agar selalu memberitahukan apoteker dan/atau dokter jika mengalami keluhan selama pengobatan.

Referensi
Glen, E. 2005. Drug Interactions Between Telithromycin Statin Drugs: Case Study. Advanced Studies in Pharmacy. 2(6):
238-240.
www.medscape.com, Diakses tanggal 17 desember 2015.
www.druds.com, Diakses tanggal 17 desember 2015.

Anda mungkin juga menyukai