Anda di halaman 1dari 32

Page 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi informasi, sarana komunikasi, dan transportasi dalam era

globalisasi saat ini memberikan pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap

pergaulan serta pengembangan kepribadian manusia. Kondisi tersebut memaksa seseorang

untuk mempertahankan keberadaannya, harus memiliki jati diri dan berkepribadian sesuai

dengan etiket dan etika yang baik serta selalu selalu memperbaiki kualitas dan kemampuan

diri.

Pengembangan kepribadian memberikan peran yang sangat besar dalam

meningkatkan kualitas diri pribadi, kualitas hubungan dengan orang lain, sehingga mampu

berhubungan dengan lingkungan, semangat untuk menaikkan kapasitas dan kualitas

kepribadian setiap harinya. Hal ini akan mendorong seseorang untuk mengembangkan

kepribadiannya ke arah yang lebih baik.

Pengembangan kepribadian memberikan maanfaat secara langsung maupun tidak

langsung terhadap perbaikan kehidupan manusia setiap hari. Setiap orang akan berusaha

menjadi yang tebaik dalam segala hal, baik bekerja maupun membantu dan melayani orang

secara baik.

Dengan mengetahui pekembangan kepribadian, setiap orang akan lebih memahami

dirinya secara utuh sehingga mampu mengambil sikap dalam kehidupan di lingkungan

keluarga, tempat kerja, maupun di masyarakat. Pengembangan kepribadian bertujuan

memperbaiaki kualitas kepribadian secara langsung maupun tidak langsung melalui

kegiatan yang berpola pikir positif setiap hari, sehingga setiap orang akan mencapai derajat

kehidupan yang lebih baik.


Page 2

Dalam menghadapi suatu bahaya (termasuk bila ia dalam keadaan stress) maka

manusia akan selalu memberi tanggapan (response). Anggapan yang diberikan itu

sebenarnya merupakan suatu mekanisme pembelaan. Tiap orang mempunyai pola

mekanisme yang berbeda. Mekanisme pembelaan yang dipakai oleh seseorang

tergantung pada banyak faktor yang antara lain tergantung pada kepribadian dan

lingkungan sosial tempat ia berada.

Maka dari itu dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan beberapa hal

tentang perkembangan kepribadian dan mekanisme mempertahankan ego.

1.2 Tujuan Pembahasan

Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki tujuan yang diharapkan

berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis sendiri. Dimana tujuannya

dibagi menjadi dua macam yang pertama secara umum makalah ini bertujuan

menambah wawasan mahasiswa/I fakultas kedokteran perkembangan kepribadian dan

mekanisme mempertahankan ego

Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah sebagai berikut :

Melengkapi tugas small group discussion skenario empat modul XXIV

tentang perkembangan kepribadian dan mekanisme mempertahankan ego

dalam modul perilaku dan jiwa.


Menambah ilmu pengetahuan para pembaca dan penulis.
Sebagai bahan referensi mahasiswa/I Fakultas Kedokteran UISU dalam

menghadapi ujian akhir modul.


Page 3

Itulah merupakan tujuan dalam penyusunan makalah ini, dan juga sangat diharapkan

dapat berguna bagi setiap orang yang membaca makalah ini. Semoga seluruh tujuan

tersebut dapat tercapai dengan baik.

1.3 Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki rumusan yang

diharapkan berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis sendiri ialah:

A. Mahasisiwa Mampu Mengetahui Perkembangan Kepribadian


B. Mahasisiwa Mampu mengetahui Mekanisme Mempertahankan Ego

1.4 Metode dan Teknik

Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang

sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana, dimana kami

menggunakan metode dan teknik secara deskriftif, yaitu tim penyusun mencari sumber

data dan sumber informasi yang akurat lainnya setelah itu dianalisis sehingga diperoleh

informasi tentang masalah yang akan dibahas setelah itu berbagai referensi yang

didapatkan dari berbagai sumber tersebut disimpulan sesuai dengan pembahasan yang

akan dilakukan dan sesuai dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah

ini.

Itulah sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan

makalah ini.
Page 4

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DISKUSI SKENARIO

SKENARIO 1

Sama Tapi Beda

Si A dan si B sebaya, ulang tahun mereka hanya bebrbeda hari. Saat ini usia

mereka sudah 18 tahun lebih 2 bulan. Sejak kecil selalu bersama sama. Tetapi

keduanya berbeda dalam berperilaku, orang orang yang dekat dengan mereka tidak

tahu apa sebabnya. Masalah sosio ekonomi keluarga mereka juga tidak jauh berbeda,

bahkan boleh dikatakan lebih kurang sama. Si A lebih santun, hormat dan lebih mampu

menyesuaikan diri sedangkan Si B justru kebalikannya. Setalah diselidiki ternyata

antara keduanya diasuh orangtua secara beebeda , dimana Si B diasuh secara permisif

oleh orangtuanya. Saat ini Si A dan Si B sama sama kuliah di perguruan tinggi Swasta.

Si B dikenal oleh temn temannya sebagai orang yang pandai berkilahdan hampir bisa

dianggap sebagai mahasiswa yang agak aneh. Beberapa kali mengikuti ujian lebih

banyak gagalnya tetapi dia selalu menanggapinya dengan cuek saja. Pada saat dia kalah

ujian sementara teman temannya banyak yang lulus. Apabila ditanyakan mengapa

sampai bisa gagal. Jawabannya Bagaimana tidak gagal kerena begitu dia mau belajar

untuk persiapan ujian tiba tiba listrik dimatikan PLN


Page 5

SKEMA

Si A: Santun,
hormat, mampu
menyesuaikan diri

Perbedaan dalam
perkembangan
kepribadian
Si B: Kebalikan
dari Si A dan
pandai berkilah Pola Lingkun Pendidik
asuh gann an

Mekanisme
Mempertahankan
Ego

Learning objektif

Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan dan Mengerti Materi sebagai berikut:

1. Definisi dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak


2. Klasifikasi dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
3. Etiologi dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
4. Patofisiologi dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
5. Gejala dan tanda Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
6. Pemeriksaan dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
7. Penatalaksanaan dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
8. Komplikasi dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak
9. Prognosis dari Penyakit Meningitis dan Tumor Otak

2.2 PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN


2.2.1 Definisi Kepribadian

Kepribadian merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan dan

berperilaku yang relatif stabil dan dapat diperkirakan (Dorland, 2002). Kepribadian juga

merupakan jumlah total kecenderungan bawaan atau herediter dengan berbagai pengaruh

dari lingkungan serta pendidikan, yang membentuk kondisi kejiwaan seseorang dan
Page 6

mempengaruhi sikapnya terhadap kehidupan (Weller, 2005). Berdasarkan pengertian

tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian meliputi segala corak perilaku dan sifat

yang khas dan dapat diperkirakan pada diri seseorang, yang digunakan untuk bereaksi dan

menyesuaikan diri terhadap rangsangan, sehingga corak tingkah lakunya itu merupakan satu

kesatuan fungsional yang khas bagi individu itu.

2.2.2 Faktor faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Menurut Purwanto (2006) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian

antara lain:

1. Faktor Biologis

Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau

seringkali pula disebut faktor fisiologis seperti keadaan genetik, pencernaan, pernafasaan,

peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf, tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Kita

mengetahui bahwa keadaan jasmani setiap orang sejak dilahirkan telah menunjukkan

adanya perbedaan-perbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir. Ini

menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang diperoleh dari

keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu masing-masing.

Keadaan fisik tersebut memainkan peranan yang penting pada kepribadian seseorang.

2. Faktor Sosial

Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat ; yakni manusia-manusia

lain disekitar individu yang bersangkutan. Termasuk juga kedalam faktor sosial adalah

tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya yang berlaku

dimasyarakat itu.

Sejak dilahirkan, anak telah mulai bergaul dengan orang-orang disekitarnya.

Dengan lingkungan yang pertama adalah keluarga. Dalam perkembangan anak, peranan
Page 7

keluarga sangat penting dan menentukan bagi pembentukan kepribadian selanjutnya.

Keadaan dan suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-

macam pula terhadap perkembangan kepribadian anak.

Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil adalah

sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya. Hal ini

disebabkan karena pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama, pengaruh yang

diterima anak masih terbatas jumlah dan luasnya, intensitas pengaruh itu sangat tinggi

karena berlangsung terus menerus, serta umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana

bernada emosional. Kemudian semakin besar seorang anak maka pengaruh yang diterima

dari lingkungan sosial makin besar dan meluas. Ini dapat diartikan bahwa faktor sosial

mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian.

3. Faktor Kebudayaan

Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing-masing orang tidak

dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa

aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan

kepribadian antara lain:

- Nilai-nilai (Values) \

Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh

manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai

anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan

kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.

- Adat dan Tradisi.


Page 8

Adat dan tradisi yang berlaku disuatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai

yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak

dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang.

- Pengetahuan dan Keterampilan.

Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu

masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin

tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara

kehidupannya.

- Bahasa

Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa

merupakan salah satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas dari suatu

kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki

bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat

menunukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul

dengan orang lain.

- Milik Kebendaan (material possessions)

Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern

pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat

mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu.

2.2.3 Tipe Kepribadian

Dalam dunia psikologi, terdapat 4 tipe kepribadian, yang diperkenalkan pertama

kali oleh Hippocrates (460-370 SM). Hal ini dipengaruhi oleh anggapan bahwa alam
Page 9

semesta beserta isinya tersusun dari empat unsur dasar yaitu: kering, basah, dingin, dan

panas. Dengan demikian dalam diri seseorang terdapat empat macam sifat yang didukung

oleh keadaan konstitusional berupa cairan-cairan yang ada di dalam tubuhnya, yaitu: sifat

kering terdapat dalam chole (empedu kuning), sifat basah terdapat dalam melanchole

(empedu hitam), sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir), dan sifat panas terdapat

dalam sanguis (darah). Keempat cairan tersebut terdapat di dalam tubuh dengan proporsi

tertentu. Jika proporsi cairan-cairan tersebut di dalam tubuh berada dalam keadaan normal,

maka individu akan normal atau sehat, namun apabila keselarasan proporsi tersebut

terganggu maka individu akan menyimpang dari keadaan normal atau sakit (Suryabrata,

2007).

Pendapat Hippocrates disempurnakan oleh Galenus (129-200 SM) yang mengatakan

bahwa di dalam tubuh manusia terdapat 4 macam cairan tersebut dalam proporsi tertentu.

Apabila suatu cairan terdapat di dalam tubuh melebihi proporsi yang seharusnya (dominan)

maka akan menimbulkan adanya sifat-sifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat kejiwaan yang

khas ada pada seseorang sebagai akibat dari dominannya salah satu cairan tersebut yang

oleh Galenus sehingga menggolongkan manusia menjadi empat tipe berdasarkan

temperamennya, yaitu Koleris, Melankolis, Phlegmatis, dan Sanguinis (Suryabrata, 2007).

Menurut Galenus, seorang koleris mempunyai sifat khas yaitu hidup, besar

semangat, daya juang besar, hatinya mudah terbakar, dan optimis. Sedangkan seorang

melankolis mempunyai sifat mudah kecewa, daya juang kecil, muram dan pesimistis. Sifat

khas phlegmatis tidak suka terburu-buru (calm, tenang), tak mudah dipengaruhi dan setia.

Seorang sanguinis mempunyai sifat khas hidup, mudah berganti haluan, ramah, lekas

bertindak tapi juga lekas berhenti (Sujanto, 2001)


Page 10

Selain itu, Florence littauer juga mengembangkan lagi tipe kepribadian yang telah

dijelaskan oleh Hipocrates dan Galenus. Dalam bukunya yang berjudul Personaliy Plus,

Littauer menjelaskan lebih rinci mengenai sifat masing-masing kepribadian. Seorang

sanguinis pada dasarnya mempunyai sifat ekstrovert, membicara dan optimis. Dari segi

emosi, ciri seorang sanguinis yaitu kepribadian yang menarik, suka bicara, menghidupkan

pesta, rasa humor yang hebat, ingatan kuat untuk warna, secara fisik memukau pendengar,

emosional dan demonstrative, antusias dan ekspresif, periang dan penuh semangat, penuh

rasa ingin tahu, baik dipanggung, lugu dan polos, hidup dimasa sekarang, mudah diubah,

berhati tulus, selalu kekanak-kanakan. Dari segi pekerjaan, sifat seorang sanguinis yaitu

sukarelawan untuk tugas, memikirkan kegiatan baru, tampak hebat dipermukaan, kreatif

dan inovatif, punya energi dan antusiasme, mulai dengan cara cemerlang, mengilhami orang

lain untuk ikut dan mempesona orang lain untuk bekerja.

Seorang sanguinis sebagai teman mempunyai sifat mudah berteman, mencintai

orang, suka dipuji, tampak menyenangkan, disukai anak-anak, bukan pendendam,

mencegah suasana membosankan, suka kegiatan spontan. Kelemahan dari sanguinis yaitu

terlalu banyak bicara, mementingkan diri sendiri, orang yang suka pamer, terlalu bersuara,

orang yang kurang disiplin, senang menceritakan kejadian berulang kali, lemah dalam

ingatan, tidak dewasa, tidak tetap pendirian (Litteaur, 1996).

Seorang melankolis pada dasarnya mempunyai sifat introvert, pemikir dan pesimis.

Dari segi emosi, ciri seorang melankolis yaitu mendalam dan penuh pemikiran, analitis,

serius dan tekun, cenderung jenius, berbakat dan kreatif, artistic atau musikal, filosofis dan

puitis, menghargai keindahan, perasa terhadap orang lain, suka berkorban, penuh kesadaran,

idealis. Dari segi pekerjaan, sifat seorang melankolis yaitu berorientasi jadwal, perfeksionis,

standar tinggi, sadar perincian, gigih dan cermat, tertib terorganisir, teratur dan rapi,
Page 11

ekonomis, melihat masalah, mendapat pemecahan kreatif, perlu menyelesaikan apa yang

dimulai, suka diagram, grafik, bagan dan daftar.

Dari segi pertemanan atau sosialisasi seorang melankolis mempunyai sifat hati-hati

dalam berteman, menetapkan standar tinggi, ingin segalanya dilakukan dengan benar,

mengorbankan keinginan sendiri untuk orang lain, menghindari perhatian, setia dan

berbakti, mau mendengarkan keluhan, bisa memecahkan masalah orang lain, sangat

memperhatikan orang lain, mencari teman hidup ideal. Kelemahan dari melankolis yaitu

mudah tertekan, punya citra diri rendah, mengajukan tuntutan yang tidak realistis kepada

orang lain, sulit memaafkan dan melupakan sakit hati, sering merasa sedih atau kurang

kepercayaan, suka mengasingkan diri, suka menunda-nunda sesuatu (Litteaur, 1996).

Seorang koleris pada dasarnya mempunyai sifat ekstrovert, pelaku dan optimis. Dari

segi emosi, ciri seorang koleris yaitu berbakat pemimpin, dinamis dan aktif, sangat

memerlukan perubahan, harus memperbaiki kesalahan, berkemauan kuat dan tegas,

memiliki motivasi berprestasi, tidak emosional bertindak, tidak mudah patah semangat,

bebas dan mandiri, memancarkan keyakinan, bisa menjalankan apa saja. Dari segi

pekerjaan, sifat seorang koleris yaitu berorientasi target, melihat seluruh gambaran,

terorganisasi dengan baik, mencari pemecahan praktis, bergerak cepat untuk bertindak,

mendelegasikan pekerjaan, menekankan pada hasil, membuat target, merangsang kegiatan,

berkembang karena saingan.

Dari segi pertemanan atau sosialisasi koleris mempunyai sifat tidak terlalu perlu

teman, mau memimpin dan mengorganisasi, biasanya selalu benar, unggul dalam keadaan

darurat, mau bekerja untuk kegiatan, memberikan kepemimpinan yang kuat, menetapkan

tujuan. Kelemahan dari koleris yaitu pekerja keras, suka memerintah, mendominasi, tidak

peka terhadap perasaan orang lain, tidak sabar, merasa selalu benar, merasa sulit secara lisan
Page 12

atau fisik memperlihatkan kasih sayang dengan terbuka, keras kepala, tampaknya tidak bisa

tahan atau menerima sikap, pandangan, atau cara orang lain (Litteaur, 1996).

Seorang phlegmatis pada dasarnya mempunyai sifat introvert, pengamat dan

pesimis. Dari segi emosi, ciri seorang phlegmatis yaitu kepribadian rendah hati, mudah

bergaul dan santai, diam, tenang, sabar, baik keseimbangannya, hidup konsisten, tenang

tetapi cerdas, simpatik dan baik hati, menyembunyikan emosi, bahagia menerima

kehidupan, serba guna. Dari segi pekerjaan, sifat seorang phlegmatis yaitu cakap dan

mantap, damai dan mudah sepakat, punya kemampuan administrative, menjadi penengah

masalah, menghindari konflik, baik di bawah tekanan, menemukan cara yang mudah.

Dari segi pertemanan/ sosialisasi plegmatis mempunyai sifat mudah diajak bergaul,

menyenangkan, tidak suka meninggung, pendengar yang baik, punya banyak teman, punya

belas kasihan dan perhatian, tidak tergesa-gesa, bisa mengambil hal baik dari yang buruk,

tidak mudah marah. Kelemahan dari phlegmatis yaitu cenderung tidak bergairah dalam

hidup, sering mengalami perasaan sangat khawatir, sedih atau gelisah, orang yang merasa

sulit membuat keputusan, tidak mempunyai keinginan untuk mendengarkan atau tertarik

pada perkumpulan, tampak malas, lambat dalam bergerak, mundur dari situasi sulit

(Litteaur, 1996).

Dalam bukunya, Florence Littauer juga mengatakan bahwa diantara 4 tipe

kepribadian diatas, manusia juga dapat mempunyai kemungkinan campuran diantara ke

empatnya. Tipe kepribadian campuran tersebut antara lain:

a. Campuran Alami yaitu antara kepribadian sanguinis dengan koleris serta

campuran antara kepribadian melankolis dan phlegmatic


b. Campuran pelengkap yaitu antara kepribadian koleris dan melankolis

serta campuran kepribadian sanguinis dan phlegmatic


Page 13

c. Campuran yang berlawanan yaitu antara kepribadian sanguinis dan

melankolis serta antara kepribadian koleris dan phlegmatis.


2.2.4 Tahap Tahap Perkembangan Kepribadian

Perkembangan kepribadian menurut Jean Jacques Rousseau dalam Dalyono, 2002

berlangsung dalam beberapa tahap yaitu:

1. Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir- 2 tahun)


Tahap ini didominasi oleh perasaan. Perasaan ini tidak tumbuh dengan

sendiri melainkan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi

terhadap stimulus lingkungan.


2. Tahap perkembangan masa kanak-kanak (umur 2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kepribadian dimulai dengan makin

berkembangnya fungsi indra anak dalam mengadakan pengamatan.


3. Tahap perkembangan pada masa preadolesen (umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat

dominan. Anak mulai kritis dalam menanggapi ide orang lain. anak juga mulai

belajar menentukan tujuan serta keinginan yang dapat membahagiakannya.


4. Tahap perkembangan masa adolesen (umur 15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas hidup manusia diwarnai oleh dorongan seksualitas

yang kuat, di samping itu mulai mengembangkan pengertian tentang kenyataan

hidup serta mulai memikirkan tingkah laku yang bernilai moral.


5. Tahap pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Mulai dapat

membedakan tujuan hidup pribadi, yakni pemuasan keinginan pribadi,

pemuasan keinginan kelompok, serta pemuasan keinginan masyarakat. Pada

masa ini terjadi pula transisi peran social, seperti dalam menindaklanjuti

hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan dalam keluarga, masyarakat

maupun Negara. Realisasi setiap keinginanm menggunakan fungsi penalaran,

sehingga dalam masa ini orang mulai mampu melakukan self direction dan

self control. Dengan kemampuan inilah manusia mulai tumbuh dan


Page 14

berkembang menuju kematangan pribadi untuk hidup mandiri dan bertanggung

jawab.
2.2.5 Konsistensi Kepribadian

Menurut teori trait, kepribadian dasar tertentu menentukan karakteristik seseorang

dalam berbagai situasi, dari hari ke hari, sampai tahap tertentu dalam hidupnya. Penelitian

longitudinal Block tentang individu menunjukkan konsistensi karakteristik kepribadian

yang cukup tinggi. Dari penelitian tersebut didapati adanya korelasi yang signifikan yang

menggambarkan adanya konsistensi kepribadian, khususnya pada karakteristik kepribadian

tertentu. Meskipun memang ditemukan juga adanya individu yang memperlihatkan

perubahan kepribadian yang cukup dramatis, perubahan tersebut didorong oleh kenyataan

bahwa hidup adalah perjuangan sehingga banyak orang berusaha mengembangkan potensi

dengan cara menjejaki peran dan perilaku yang baru (Atkinson, 2003).

Block menemukan adanya perbedaan tingkat konsistensi pada masing-masing

individu, beberapa individu mencapai kestabilan kepribadian pada awal kehidupannya.,

individu yang lain mengalami perubahan besar pada masa sekolah lanjutan sampai masa

dewasa tengah terutama remaja yang memiliki konflik dan ketegangan, baik dalam dirinya

sendiri maupun dalam hubungannya dengan orang lain sehingga belum memiliki kestabilan

kepribadian. Di samping itu, situasi pada saat penilaian kepribadian juga sangat

mempengaruhi konsistensi kepribadian (Atkinson, 2003).

2.2.6 Pengukuran Kepribadian

Sobur (2003) menyatakan bahwa terdapat beberapa cara untuk mengukur

kepribadian, diantaranya yaitu dengan cara sebagai berikut:

1. Observasi Direk
Page 15

Observasi direk merupakan observasi yang berbeda dengan observasi biasa.

Observasi ini mempunyai sasaran yang khusus, sedangkan observasi biasa mengamati

seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk dilakukan dengan memilih situasi tertentu,

yaitu pada saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang ingin diteliti,

dilakukan dalam situasi yang dikontrol, dapat diulang dan dapat dibuat replikasinya.

Observasi direk juga disebut dengan observasi quasi experimental. Ada tiga tipe metode

dalam observasi direk, yaitu:

a. Time Sampling Method


Setiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Periode tersebut bisa

berlangsung selama beberapa detik, beberapa menit, atau bahkan beberapa jam,

tergantung pada tipe tingkah laku atau indikator atau ciri-ciri yang ingin diteliti.
b. Incident Sampling Method
Dalam metode ini, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku. Laporan

observasinya berupa catatan-catatan yang mencakup intensitas, lama waktunya,

dan efek-efek setelah respon.


c. Metode Buku Harian Terkontrol
Dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah laku

khusus yang ingin diketahui oleh yang bersangkutan. Syarat penggunaan

metode ini yaitu peneliti adalah orang dewasa dan cukup inteligen, serta

dilakukan untuk pengabdian pada perkembangan ilmu pengetahuan.


2. Wawancara (Interview)
a. Stress Interview
Stress Interview digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang

untuk bertahan terhadap hal-hal yang mengganggu emosinya dan seberapa lama

seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan

ditiadakan.
b. Exhaustive Interview
Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat

lama, dan diselenggarakan secara nonstop. Tujuannya adalah membuat

interviewee lelah dan melepaskan sikap defensifnya dengan berbicara terus


Page 16

terang. Cara ini biasanya digunakan untuk meneliti para tersangka tindak

kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga. Selain itu juga digunakan dalam

memilih pegawai untuk jabatan penting.


3. Tes Proyektif

Metode ini dilakukan untuk mengetahui proyeksi pribadi seseorang melalui

gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes ini memberi peluang kepada testee

untuk bisa secara bebas memberikan makna atau arti terhadap hal yang disajikan,

dan tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah.

4. Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk

melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini

mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada setiap orang, dan jawabannya biasanya

diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai


2.3 Mekanisme Mempertahankan Ego

Dalam menghadapi suatu bahaya (termasuk bila ia dalam keadaan stress) maka

manusia akan selalu memberi tanggapan (response). Anggapan yang diberikan itu

sebenarnya merupakan suatu mekanisme pembelaan. Tiap orang mempunyai pola

mekanisme yang berbeda. Secara garis besar ada 4 macam mekanisme pembelaan:

1. Narsistik

2. Imatur (immature)

3. Nerotik

4. Matur (mature)

Mekanisme pembelaan yang dipakai oleh seseorang tergantung pada banyak

faktor yang antara lain tergantung pada kepribadian dan lingkungan sosial tempat ia

berada.
Page 17

Freud mengetahui keberadaan beberapa mekanisme pertahanan, tetapi

tulisannya ditujukan terutama pada represi, yang dianggapnya sebagai mekanisme

pertahanan yang utama, paling penting , dan paling sering digunakan. Penelitian

pertama dan menyeluruh tentang mekanisme pertahanan ditulis oleh Anna Freud dalam

bukunya The Ego and the Mechanisms of Defense, dimana ia menyatakan bahwa setiap

orang, normal atau neurotik, menggunakan mekanisme pertahanan yang karakteristik

dan berulang . la juga menekankan bahwa ego harus merupakan pusat terapi

psikoanalisis, disamping mengungkapkan derivat dorongan yang direpresi.

Pengamatannya bahwa "terdapat kedalaman pada permukaan " mencerminkan

pengertiannya tentang kompleksitas apek pertahanan dari ego.

Pada masing-masing fase perkembangan libido, komponen dorongan spesifik

membangkitkan pertahanan ego yang karakteristik . Sebagian contohnya, fase ana

adalah berhubungan dengan pembentukan reaksi, seperti yang dimanifestasikan oleh

perkembangan rasa malu dan muak dalam hubungan dengan impuls dan kenikmatan

anal.

Pertahanan dapat dikelompokkan secara hirarkis menurut derajat relatif

maturitas yang berhubungan dengan pertahanan . Pertahanan narsistik adalah yang

paling primitif dan digunakan oleh anak-anak dan orang yang mengalami gangguan

psikotik . Pertahanan imatur adalah terlihat pada remaj'a dan beberapa pasien obsesif-

kompulsif dan pasien histerikal dan pada orang dewasa dalam stres. Dan pertahanan

matur adalah mekanisme adaptasi yang normal dan sehat dari kehidupan dewasa.

Pengelompokan tersebut adalah tidak kaku dalam batas-batasnya, dan beberapa

tumpang tindih mekanisme dapat terjadi di antara kelompok yang berbeda .

2.3.1 Mekanisme Pembelaan Narsitik


Page 18

Suatu mekanisme pembelaan yang berorientasi pada pemuasan id. Mekanisme

pembelaan macam ini biasanya terdapat pada penderita skizofrenia. Contoh mekanisme

pembelaan narsistik adalah :

a. Denial (penyangkalan)

Suatu mekanisme pembelaan dengan cara menofak atau tidak mau menerfma

kenyataan (realita) yang dihadapinya. Penghindaran penyadaran aspek yang

menyakitkan dari kenyataan dengan menghilangkan data sensoris. Represi menahan

afek dan dorongan yang dihasilkannya, tetapi penyangkalan dapat digunakan pada

keadaan normal maupun patologis

b. Proyeksi

Suatu mekanisme pembelaan dengan cara melakukan proyeksi emosi, tingkah

laku atau kekurangannya pada obyek lain. Impuls internal yang tidak dapat diterima dan

yang dihasilkannya adalah dirasakan dan ditanggapi seakan- akan berasal dari luar diri.

Pada tingkat psikotik, hal ini mengambil bentuk waham yang jelas tenang kenyataan

eksternal, biasanya waham kejar.,dan termasuk persepsi perasaan diri sendiri dalam

orang lain dari tindakan selanjutnya terhadap persepsi (waham paranoid psikotik).

Impuls mungkin berasal dari id atau super ego (tuduhan halusinasi) tetapi dapat

mengalami transformasi dalam proses, jadi, menurut analisis Freud tentang proyeksi

paranoid, impuls libido homoseksual diubah menjadi rasa benci dan selanjutnya

diproyeksikan kepada sasaran impuls homoseksual yang tidak dapat diterima.

c. Distorsi
Page 19

Suatu mekanisme pembelaan dengan menggunakan sikap tingkah laku atau

pikiran yang aneh-aneh yang tidak sesuai dengan logika dan realita, sehingga timbul

faham dan halusinasi atau ilusi. Kenyataan eksternal ibentuk kembali secara kasar untuk

menyesuaikan dengan kebutuhan internal - termasuk keyakinan megalomanik yang

tidak realistik, halusinasi. Waham pemenuhan harapan - dan digunakan untuk

mempertahankan perasaan superior atau hak yang bersifat waham

d. Idealisasi primitif

Objek eksternal yang dipandang sebagai "baik" atau 'jahaf adalah diberkati

secara tidak realistik oleh kekuatan yang besar . Sangat sering , objek baik" dipandang

sebagai maha kuasa atau ideal "baik" dipandang sebagai mahakuasa atau ideal, dan

keburukan pada obyek "jahat" sangat dibesarkan

e. Identifikasi proyektif

Aspek yang tidk diinginkan dari diri diendapkan kepada orang lain sehingga

orang memproyeksikan merasa bersatu dengan obyek proyeksi. Aspek yang keluar

dimodifikasi oleh dan ditutupi dari resipien. Pertahanan memungkinkan seseorang

untuk menjauhi dan membuat dirinya sendiri mengerti dengan mengeluarkan tekanan

pada orang lain untuk mengalami perasaan yang serupa dengan perasaannya

f. Pembelaan

Objek eksternal dibagi menjadi "baik" dan "jahat" disertai oleh pergeseran suatu

objek yang tiba-tiba dari satu kategori ekstrim kepada kategori lainnya. Pembalikan

perasaan yang tiba-tiba dan lengkap dan konseptualisasi tentang seseorang mungkin
Page 20

terjadi. Osilasi faerulang yang ekstrim antara konsep diri yang bertentangan adalah

manifestasi lain dari mekanisme.

2.3.2 Mekanisme Pembelaan Immature

Suatu mekanisme pembelaan yang dilakukan dengan sikap kekanak-kanakan

(tidak dewasa). Mereka yang menggunakan mekanisme pembelaan ini sikapnya nampak

kekanak-kanakan , sikap dan tingkah lakunya seperti anak kecil. Ada beberapa macam

mekanisme pembelaan yang immature ini, antara lain :

a. Acting out

Orang mengungkapkan harapan atau impuls bawah sadar dengan

memerankannya untuk menghindari menjadi disadari dari afek yang menyertai.

Khayalan bawah sadar dihidupkan secara impulsif dalam perilaku , dengan demikian

memuaskan impuls, bukannya melarang impuls. Memerankan merupakan pengalahan

kronis kepada impuls untuk menghindari ketegangan yang akan terjadi dari penundaan

pengungkapan

b. Blocking

Mekanisme pembelaan dengan cara berdiam diri atau mematung . Inhibisi

sementara atau transien dari pikiran terjadi pada penghambatan (blocking). Afek dan

impuls mungkin juga terlibat. Penghambatan sangat menyerupai represi tetapi berbeda

di mana ketegangan timbul jika impuls, afek, atau pikiran dihalangi


Page 21

c. Hipokondriasis

Mekanisme pembelaan yang dilakukan dengan mengalihkan pada keluhan-

keluhan fisik (somasi). Umumnya keluhan fisik yang diungkapkan adalah untuk

menghindari tanggung jawab. Celaan yang timbul dari kehilangan, kesepian, atau

impuls agresif yang tidak dapat diterima kepada orang lain adalah diubah menjadi

celaan terhadap diri sendiri dan keluhan nyeri , penyakit somatik, dan neurastenia.

Semua penyakit mungkin juga diperberat atau ditekankan secara berlebihan untuk

mendapatkan penghindaran dan regresi. Pada hipokondriasis , tanggung jawab dapat

dihindari , rasa bersalah dapa dielakan, dan impuls instinktual ditangkis. Karena

Introyeksi hipokondriakal adalah bertentangan dengan ego, orang yang terkena

mengalami disforia dan penderitaan.

d. Introyeksi

Mekanisme pembelaan dengan cara menirukan atau memasukkan obyek yang

dicintai. Walaupun penting bagi stadium perkembangan seseorang, introyeksi juga

memiliki fungsi pertahanan yang khusus. Proses introyeksi melibatkan internalisasi

kualita obyek jika digunakan sebagai pertahanan, ia dapat menghalangi perbedaan

antara subjek dan objek. Melalui introyeksi suatu objek yang dicintai, kesadaran akan

perpisahan yang menyakitkan atau ancaman kehilangan akan dihindari introyeksi objek

yang ditakuti berperan untuk menghindari kecemasan jika karakteristik agresif dari

objek diinternalisasikan, jadi menempatkan agresi dalam pengendalian dirinya sendiri.

Contoh klasik adalah identifikasi dengan agresor. Suatu identifikasi dengan korban juga

dapat terjadi, dengan jalan mana kualitas menghukum diri sendiri dari objek diambil

dan ditegakkan dalam diri seseorang sebagai gejala atau sifat karakter.
Page 22

e. Pasif-Agresif

`Mekanisme pembelaan berupa sikap melakukan pemusuhan dengan cara diam-

diam atau secara pasif menyerang orang lain. Agresi kepada orang lain diekspresikan

secara tidak langsung melalui pasivitas , masokisme, dan berbalik menentang diri

sendiri. Manifestasi perilaku pasif-agresif adalah kegagalan , penundaan , dan penyakit

yang lebih mempengaruhi orang lain dibandingkan diri sendiri.

f. Regresi

Mekanisme pembelaan dengan cara bersikap kembali seperti pada waktu fase

anak-kanak, sehingga sikapnya tiak lagi sesuai dengan keadaannya sekarang. Melalui

regresi, orang berusaha untuk kembali ke fase fungsi libido yang lebih awal untuk

menghindari ketegangan dan konflik yang ditimbulkan pada tingkat perkembangan

sekarang. Ini mencerminkan kecenderungan dasar untuk mendapatkan pemuasan

instinktual pada periode yang kurang berkembang . Regresi juga merupakan fenomena

normal, karena sejumlah tertentu regresi adalah diperlukan untuk relaksasi, tidur, dan

orgasme dalah hubungan seksual. Regresi dianggap penyerta yang penting dari proses

kreatif

g. Fantasi Skizoid

Mekanisme pembelaan yan diperlihatkan dengan cara melamun. Melalui

khayalan, orang menuruti kemunduran autistik untuk memecahkan konflik dan

mendapatkan pemuasan . Keintiman interpersonal adalah dihindari, dan eksentrisitas

berperan untuk menolak orang lain. Orang tidak sepenuhnuya percaya pada khayalan

atau ingin memerankannya


Page 23

h. Somatisasi

Mekanisme pembelaan dengan cara mengalihkan situasi yang dihadapi pada

eluhan-keluhan fisik (seperti hipokondriasis) tetapi rasa sakit yang dikeluhkan meliputi

badan atau seluruh tubuh. Asal psikis diubah menjadi gejala tubuh dan orang cenderung

bereaksi dengan manifestasi somatik bukannya manifestasi psikis. Pada desomatisasi,

respon somatisasi infantil digantikan oleh pikiran dan afek pada resomatisasi, orang

beregresi kepada bentuk somatik yang febih awal saat berhadapan dengan konflik yang

terpecahkan.

i. Identifikasi

Identifikasi yang berperan penting dalam perkembangan ego, juga dapat

digunakan sebagai mekanisme pertahanan dalam keadaan tertentu. Identifikasi dengan

objek cinta dapat berperan sebagai pertahanan terhadap kecemasan atau rasa sakit yang

menyertai perpisahan dari atau kehilangan objek, baik nyata atau ancaman, jika

identifikasi terjadi karena rasa bersalah, orang beridentifikasi untuk menghukum dirinya

sendiri dengan kualitas atau gejala orang yang merupakan sumber perasaan bersalah.

Mekanisme identifikasi pada agresor, pertama kali dijelaskan oleh Anna Freud, dapat

juga dimasukkan sebagai mekanisme pertahanan

j. Proyeksi

Seseorang menempatkan perasaannya dan harapannya sendiri kepada orang lain

karena perasaan internal atau afek menyakitkan yang tidakdapat ditoleransi. Secara

karakteristik ditemukan pada keadaan psikotik, khususnya sindroma paranoid, proyeksi

juga banyak digunakan dalam kondisi normal.


Page 24

2.3.3 Mekanisme Pembelaan Neurotik

Suatu mekanisme pembelaan yang dilakukan dengan sikap dan tingkah laku

neurotik (dengan keluhan cemas, khawatir , was-was dan ketakutan ). Beberapa

mekanisme pembelaan neurotik, antara lain ialah :

a. Controlling

Mekanisme pembelaan yang ditunjukkan dengan tingkah laku suka mengawasi

mengontrol atau memantau orang lain dan lingkungan untuk kepentingan diri sendiri.

Tingkah laku yang diperlihatkan itu mengandung maksud untuk menutupi kekurangan

yang ada pda dirinya sendiri, disamping untuk mendapatkan kepuasan tersendiri bagi

dirinya. Terdapat usaha bertebihan untuk menangani atau mengatur peristiwa atau objek

dalam lingkungan untuk menekan kecemasan dan untuk memecahkan konflik dalam

diri.

b. Isolasi

Mekanisme pembelaan dengan cara mengasingkan diri. Orang yang memakai

mekanisme pembelaan suka menyendiri bila menghadapi bahaya atau sedang stres.

Isolasi adalah pembelaan atau pemisahan gagasan dari afek yang menyertainya tetapi

direpresi. Isolasi sosial adalah tidak adanya objek hubungan.

c. Displacement

Mekanisme pembelaan dengan cara memindahkan obyek emosi atau

kemarahannya pada orang lain. Suatu emosi atau dorongan katheksis dari gagasan atau

objek adlah dipindahkan kepada orang lain yang menyerupai aslinya dalam aspek atau

kualitasnya. Pengalihan memungkinkan perwakilan simbolik gagasan atau objek asli


Page 25

dengan cara yang kurang katheksis atau yang menimbulkan lebih sedikit ketegangan

dibandingkan aslinya

d. Intelektualisasi

Mekanisme pembelaan dengan cara memperhatikan intelektualitasnya. Mereka

yang memakai mekanisme ini akan banyak bicara untuk memperiihatkan

intelektualitasnya. Sangat mirip dengan rasionalisasi, intelektualisasi adalah pemakaian

berlebihan proses intelektual untuk menghindari ekspresi atau pengalaman afektif.

Tekanan yang tidak semestinya dipusatkan pada benda mati untuk menghindari

keintiman dengan orang. perhatian diberikan pada kenyataan eksternal utnuk

menghindari ekspresi perasaan internal, dan penekanan secara berlebihan diberikan

pada perincian yang tidak relevan untuk menghindari merasakan keseluruhan.

e. Represi

Mekanisme pembelaan dengan cara menghindari dari konflik yang dihadapi

tanpa disadari . Suatu saat konflik yang disimpan dalam bawah sadar ini akan dapat

muncul ke permukaan dan dapat mengganggu kehidupannya. Suatu gagasan atau

perasaan dapat dibuang atau ditahan dari kesadaran melalui represi. Represi primer

adalah mengekang gagasan dan perasaan sebelum mereka mencapai kesadaran ; represi

sekunder adalah mengeluarkan dari kesadaran apa yang pernah dialami pada tingkat

sadar. Hal yang direpresi tidak benar-benar dilupakan, sehingga perilaku simbolik dapat

ditemukan. Represi adalah berbeda dari supresi dengan mempengaruhi inhibisi impuls

yang disadari sampai titik yang hilang dan tidak hanya menunda penghargaan tujuan.

Persepsi instink dan perasaan yang disadari adalah dihalangi.


Page 26

f. Disosiasi

Modifikasi sementara tetapi drastik dari karakteri seseorang atau identitas

pribadi seseorang yang terjadi untuk menghindari ketegangan emosional. Keadaan fugu

dan reaksi konversi histerik adalah manifestasi yang sering dari disosiasi. Disosiasi juga

ditemukan pada perilaku fobik-balik (counterphobic), gangguan identitas disosiatif,

pemakaian perangsang farmakologis , dan kegembiraaan religius.

g. Eksternalisasi

Istilah umum yang lebih sering ibandingkan proyeksi, eksternalisasi

dimaksudkan sebagai kecenderungan untuk merasakan kepribadian sendiri, termasuk

impuls instintual, konflik , mood, sikap, dan gaya berpikir, pada dunia luar dan pada

elemen objek luar

h. Inhibisi

Dalam inhibisi, pembatasan atau penolakan fungsi ego terjadi secara disadari,

sendirian atau kombinasi, untuk menghilangkan kecemasan yang ditimbulkan konflik

dengan impuls instinktual, superego, atau kekuatan atau tokoh dalam lingkungan.

i. Rasionalisasi

Penjelasan rasionalisasi adalah ditawarkan oleh orang untuk membenarkan

sikap, keyakinan, atau perilaku yang tidakdapat diterima. Motif yang mendasari

biasanya ditentukan secara instinctual

j. Pembentukan reaksi
Page 27

Impuls yang tidak dapat diterima diubah menjadi kebalikannya. Pembentukan

reaksi adalah karakteristik dari neurosis obsesional, tetapi dapat terjadi pada bentuk

neurosis lainnya. Jika mekanisme sering digunakan pada stadium perkembangan ego

yang awal, ia dapat menjadi sifat karakter secara permanen, seperti pada karakter

obsesional.

k. Seksualisasi

Suatu objek atau fungsi ditempel dengan kepentingan seksual yang tidak

dimiliki sebelumnya atau yang dimilikinya dengan deraj'at lebih kecil untuk menangkas

kecemasan yang berhubungan dengan impuls atau turunannya yang dilarang

2.3.4 Mekanisme Pembelaan Mature

Ketika mekanisme pembelaan yang telah diuraikan di atas mekanisme

pembelaan yang tidak matang, oleh karena rtu sedapat mungkin harus dihindari. Ada

beberapa macam mekanisme pembelaan yang mature, antara lain :

a. Altruisme

Mekanisme pembelaan pada orang yang mampu mengorbankan diri sendiri

untuk kepentingan orang lain tetapi tanpa merugikan diri sendiri. Orang menjalani

pengalaman yang dilakukan untuk orang lain dengan cara yang konstruktif dan secara

instinktual memuaskan orang lain. Altruisme termasuk pembentukan reaksi yang ringan

dan konstruktif. Altruisme dibedakan dari penyerah altruistik (altruistic surender), di

mana penyerah dari pemuasan langsung atau dari kebutuhan instinktual terjadi untuk

memenuhi kebutuhan orang lain dengan merugikan diri sendiri dan dimana kepuasan

dapat dinikmati hanya melalui introyeksi yang dilakukan untuk orang lain.
Page 28

b. Antisipasi

Mekanisme pembelaan dengan cara melakukan antisipasi pada masa depan.

Mereka yang memakai mekanisme ini mampu menghadapi kecemasan dengan membuat

rencana yang positif. Kecemasan atau ketakutannya diantisipasi dengan cara membuat

program yang jelas dan positif. la mampu menggunakan waktu sebaik-baiknya.

Umumnya kecemasan yang dihadapinya adalah sesuatu yang belum terjadi. Antisipasi

realistik atau perencanaan untuk masa depan adanya ketidaknyamanan dalam diri berarti

perencanaan yang cermat atau antisipasi afektif yang mengkhawatirkan atau prematur

tetapi realistik adanya kejadian menakutkan dan kemungkinan hasil yang

mengecewakan.

c. Aseitisme

Mekanisme pembelaan pada mereka yang mampu mengendalikan diri bila

mendapatkan musibah atau kegembiraan. Orang yang memiliki mekanisme ini tidak

akan terlalu kecewa bila mendapatkan musibah dan tidak akan terialu gembira bila

mendapatkan kesenangan. Efek yang menyenangkan dari pengalaman dihilangkan.

Terdapat elemen moral dalam menentukan nilai kesenangan tertentu. Pemuasan

didapatkan dari penolakan , dan pertapaan diarahkan menentang semua kesenangan

dasar yang dirasakan secara sadar.

d. Humor

Mekanisme pembelaan yang ditunjukkan dengan cara membuat humor agar

orang lain tertawa. Humor yang dibuatkan selalu humor yang tanpa menyinggung dan

menyakiti hati orang lain. Humor memungkinkan ekspresi perasaan dan pikiran secara
Page 29

jelas tanpa ketidaknyamanan atau imobilisasi pribadi dan tidak menghasilkan efek yang

tidak menyenangkan bagi orang lain. Ini memungkinkan orang untuk mentoleransi

tetapi masih memuaskan pada apa yang terlalu menakutkan untuk dipikul ; humor

berbeda dari kejenakaan, yaitu suatu bentuk pengalihan yan gmengalihkan perhatian

dari masalah afektif.

e. Sublimasi

Mekanisme pembelaan yang ditunjukkan dengan kemampuan mengganti

dorongan instink yang tidak baik dengan kegiatan-kegiatn lain yang bermanfaat

(positif). Kecemasan atau kekecewaan yang dihadapi sudah terjadi, sehingga harus

dilakukan sublimasi. Pemuasan impuls dan penundaan tujuan adalah dicapai, tetapi

tujuan atau sasaran diubah dari yang mungkin ditolak secara sosial menjadi yang

diterima secara sosial. Sublimasi memungkinkan instink disalurkan, bukannya dihambat

atau dialihkan . Perasaan dikenali , dimodifikasi, dan diarahkan kepada sasaran atau

tujuan yang penting, dan terjadi pemuasan instinktual yang ringan

f. Supresi

Mekanisme pembelaan dengan cara melupakan kekecewaan atau kegagalan

yang dihadapi dengan penuh kesadaran . Di sini harus mampu menerima realita dengan

ikhlas untuk kemudian melepaskannya. Karena ikhlas dan penuh kesadaran maka orang

akan tetap berada dalam keadaan homeostasis, dan dengan demikian orang akan berada

dalam keadaan sehat bebas dari simtom-simtom gangguan menal atau bahkan gangguan

fisik. Keputusan yang disadari atau setengah disadari untuk menunda perhatian pada

terjadinya impuls atau konflik yang disadari. Masalah dapat semata-mata dihalangi,

tetapi tidak dihindari. Rasa tidak nyaman adalah dirasakan tetapi ditekan.
Page 30

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari hasil pemaparan tersebut, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:

Dengan mengetahui pekembangan kepribadian, setiap orang akan lebih memahami

dirinya secara utuh sehingga mampu mengambil sikap dalam kehidupan di lingkungan

keluarga, tempat kerja, maupun di masyarakat. Pengembangan kepribadian bertujuan

memperbaiaki kualitas kepribadian secara langsung maupun tidak langsung melalui

kegiatan yang berpola pikir positif setiap hari, sehingga setiap orang akan mencapai

derajat kehidupan yang lebih baik. Dalam menghadapi suatu bahaya (termasuk bila ia

dalam keadaan stress) maka manusia akan selalu memberi tanggapan (response).

Anggapan yang diberikan itu sebenarnya merupakan suatu mekanisme pembelaan. Tiap

orang mempunyai pola mekanisme yang berbeda. Mekanisme pembelaan yang dipakai

oleh seseorang tergantung pada banyak faktor yang antara lain tergantung pada

kepribadian dan lingkungan sosial tempat ia berada.

3.2 SARAN
Page 31

Dari pemaparan diatas, penulis memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan

maupun ilmu alam lainnya penting sekali memahami penyakit bagian neurologi yaitu

penyakit infeksi pada sistem saraf pusat. Hal ini sangat membutuh upaya pengendalian

agar dapat mamhami bentuk kepribadian. Dengan mengetahui beberapa penjelasan

tentang perkembangan kepribadian, kita mengharapkan para pembaca maupun teman-

teman yang lain dapat mengatasi hal yang serupa pada kehidupan nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C & John E. 1997. Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.

Jakarta: EGC

Sheerwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC

Mansjoer,A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua.

Jakarta : Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Dorland.1998.Kamus Saku Kedokteran. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia A. Dan Lorraine M. Wilson.1995.Patofisiologi.Jakarta:EGC.

Kaplan, Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri, Jilid II, edisi Ketujuh. Jakarta :

Binarupa Aksara

Kaplan, Haroid I. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta : Widya Medika

Maslim, R. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropika, edisi II,

Jakarta.

Maslim, R. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari

PPGDJ III, Jakarta


Page 32

Maramis WF. 1998. Catatan Kuliah Kedokteran Jiwa, Cetakan Ketujuh.

Surabaya: Penerbit Airlangga University Press,