Anda di halaman 1dari 46

LOMBA BEST PRACTICE KEPALA SEKOLAH

PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN


MELALUI PENDEKATAN KEMITRAAN

Oleh
MARNUNI, S.Pd., M.Si.
NIP.19630423 198310 2 002

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KONAWE


PROVINSI SULAWESI TENGGARA
TAHUN 2016
HALAMAN PERNYATAAK KEASLIAN NASKAH

1
2
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN NASKAH

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan best practice ini.

3
Laporan ini penulis susun berdasarkan pengalaman pribadi penulis dalam
menemukan solusi bagi permasalahan yang terjadi di SDN 2 Tawarotebota. Melalui
laporan best practice ini penulis ingin berbagi sedikit pengalaman penulis dalam mengatasi
permasalah internal dan eksternal yang penulis hadapi selama menjadi kepala sekolah di
SDN 2 Tawarotebota. Penulis memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada
semua pihak, baik para rekan kerja guru di sekolah maupun para orang tua siwa yang telah
menjadi bagian penting dari terlaksananya best practice ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu
penulis berharap saran dan masukan dari berbagai pihak agar dapat dijadikan sebagai
bahan penyempurnaan di masa yang akan datang.
Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan yang berarti bagi
peningkatan kualitas pendidikan.

Baruga, 15 Oktober 2016


Penulis,

MANUNI, S.Pd, M.Si.


NIP.19640423 198310 2 002

ABSTRAK

Dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah di SDN 2 Tawarotebota


Penulis mnemukan permasalahan pada minimnya kemampuan guru dalam

4
menyiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran sangat rendah. Motivasi guru
untuk belajar dan meningkatkan kemampuan profesionalnya yang sangat rendah,
hubungan komunikasi dan kerja sama antara kepala sekolah, guru dan masyarakat
sangat renggang dan kurang terjalin dengan baik, serta keterlibatan partisipatif dari
masyarakat khususnya orang tua siswa dalam pendidikan anak sangat rendah.
Untuk mengatasi hal ini penulis memilih pendekatan kemitraan untuk membuka
peluang tercipatanya komunikasi dua arah yang saling mengisi. Pendekatan ini
ditransformasikan ke dalam langkah operasional dalam bentuk langkah nyata. yang
terbagi dua yaitu langkah operasional bagi guru yang terdiri atas (1) Focus Group
Discussion (FGD), Mentoring, (3) Supervisi Akademik, dan langkah operasional
bagi orang tua siswa yang terdiri atas (1) Home Visit dan (2) School Visit. Dalam
pengaplikasiannya, semua langkah operasiona ini terbukti mampu meningkatkan
kompetensi guru dan peran partisipatif orang tua siswa dalam peningkatan
pendidikan anak di sekolah.

DAFTAR ISI

Halaman

5
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN NASKAH LOMBA........................ ii
HALAMAN LEMBAR PERSETUJUAN DARI ATASAN ............................... iii
KATA PENGANTAR............................................................................................. iv
ABSTRAK ............................................................................................................ v
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. viii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2. Permasalahan............................................................................................... 2
1.3. Tujuan ......................................................................................................... 2
1.4. Manfaat ....................................................................................................... 3
BAB II METODE PEMECAHAN MASALAH................................................... 4
2.1. Menganalisis Sumber Masalah.................................................................... 4
2.2. Menemukan Pendekatan untuk Pemecahan Masalah.................................. 5
2.3. Menyusun Langkah Operasional................................................................. 6
BAB III PELAKSANAAN DAN HASIL YANG DIPEROLEH........................... 22
3.1. Pelaksanaan Kegiatan.................................................................................. 11
3.2. Hasil Kegiatan.............................................................................................. 17
BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI....................................................... 19
4.1. Simpulan...................................................................................................... 19
4.2. Refleski........................................................................................................ 22
4.3. Rekomendasi................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 24
LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................... 25

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

6
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Metode Pemecahan Masalah...................................... 10
Gambar 3.1 Proses Supervisi Akademik................................................................. 14
Gambar 3.2 Proses Supervisi Akademik................................................................. 14
Gambar 3.3 Proses Supervisi Akademik................................................................. 15
Gambar 3.4 Kunjunga Rumah (Home Visit) ........................................................... 16

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

7
Tabel 3.1 Jadwal Supervisi Akademik.................................................................... 13
Tabel 3.2 Hasil FGD Guru SDN 2 Tawarotebota.................................................... 17
Tabel 3.3 Mentoring Progress SDN 2 Tawarotebota............................................... 18
Tabel 3.4 Hasil Supervisi Akademik........................................................................ 20
Tabel 3.5 Penilaian Komponen Pembelajaran......................................................... 20

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

8
Lampiran 1 biodata peserta ..................................................................................... 26
Lampiran 2 Surat Keterangan Aktif Melaksanakan Tugas...................................... 28
Lampiran 3 Pernyataan Tidak Sedang dalam Proses Alih Tugas/Mutasi................ 29
Lampiran 4 Pernyataan Tidak Pernah Menerima Hukuman atau
Sanksi Sedang atau Berat..................................................................... 30
Lampiran 5 Surat Keterangan Berbadan Sehat........................................................ 31
Lampiran 6 NUPTK................................................................................................. 32
Lampiran 7 SK Pembagian Tugas........................................................................... 33
Lampiran 8 Ijazah Strata 1....................................................................................... 35
Lampiran 9 Akta Mengajar...................................................................................... 36

BAB I
PENDAHULUAN

9
1.1. Latar Belakang
SDN 2 Tawarotebota terletak di desa Baruga Kecamatan Uepai Kabupaten
Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Sekolah dasar ini telah berdiri sejak tahun 1980.
Penulis diangkat menjadi Kepala Sekolah pada sekolah ini pada tahun 2012. Sebelum
menjadi Kepala Sekolah pada SDN 2 Tawarotebota, penulis sebelumnya telah menjalankan
tugas sebagai Kepala Sekolah selama lima tahun pada SDN 3 Lambuya, Kecamatan
Lambuya. Selama menjalankan tugas sebagai kepala sekolah pada sekolah tersebut, penulis
tidak banyak mendapatkan kendala yang berarti karena karakteristik masyarakat dan guru
di SDN Lambuya relatif cukup baik. Masyarakat pada umumnya atau orang tua murid pada
khususnya memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pendidikan anak, begitupun guru di
sekolah memiliki kemampuan mengajar dan kualifikasi akademik yang dapat dikatakan
memadai.
Saat penulis menjalankan tugas Kepala Sekolah pada SDN 2 Tawarotebota penulis
menemukan keadaan yang bertolak belakang dengan keadaan sekolah yang sebelumnya
penulis pimpin. Penulis menghadapi kendala serius yang muncul dari dalam sekolah
maupun di luar sekolah. Kendala internal datang dari keadaan sekolah yang kurang
mamadai dari segi sarana dan prasarana, kemampuan mengajar guru yang berada di bawah
rata-rata, movitasi guru dalam mengajar yang sangat rendah dan resistensi guru terhadap
perubahan. Permasalahan ini telah ada sejak lama, bahkan sebelum penulis ditunjuk untuk
memimpin sekolah ini. Melalui observasi, penulis menemukan bahwa hampir semua guru
yang melaksanakan proses pembelajaran tidak memiliki standar yang jelas, sehingga
proses belajar mengajar terkesan seadanya. Rencana pembelajaran disusun asal-asalan dan
sebatas konsep di atas kertas saja karena dalam aplikasinya rencana pembelajaran ini sama
sekali tidak digunakan. Keadaan ini semakin diperparah dengan sikap beberapa guru yang
cenderung menjaga jarak dengan kepala sekolah dalam interaksi sehari-hari sehingga
hubungan yang terjalin menjadi terlalu formal dan kaku.
Selain kendala internal, penulis juga menghadapi kendala eksternal yang datang
dari masyarakat sekitar khususnya orang tua siswa. Melalui interaksi langsung dengan
masyarakat sekitar dan observasi yang dilakukan dalam kurun waktu beberapa bulan
penulis menemukan bahwa kebanyakan orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya di
SDN 2 Tawarotebota memiliki pandangan yang keliru mengenai pendidikan anak mereka
di sekolah. Mereka beranggapan bahwa pendidikan anak mereka sudah sepenuhnya

2
menjadi tanggung jawab sekolah. Sehingga mereka menjadi berlepas diri terhadap
tanggung jawab mendidik anak. Hal ini berimbas pada tingkat pastisipasi orang tua
terhadap kemajuan pendidikan anak yang sangat rendah. Mereka sangat jarang hadir dalam
kegiatan pertemuan yang diadakan oleh pihak sekolah. Selain itu pada beberapa
kesempatan penulis sering berhadapan dengan orang tua siswa yang menyalahkan pihak
sekolah dan guru atas rendahnya nilai yang didapatkan oleh anaknya. Orang tua siswa
seolah apatis dan tidak mau tahu demgam kendala yang dihadapi oleh pihak sekolah.
Mereka juga kurang menyadari bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama
yang harus dijalankan secara kolaboratif untuk mencapai kualitas pendidikan yang lebih
baik.

1.2. Permasalahan
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang, maka penulis menarik beberapa
permasalahan pokok pada SDN 2 Tawarotebota yaitu:
1. Guru dan orang tua siswa memiliki kesadaran yang sangat rendah mengenai peran
mereka dalam peningkatan kualitas pendidikan.
2. Kemampuan guru dalam menyiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran
sangat rendah.
3. Motivasi guru untuk belajar dan meningkatkan kemampuan profesionalnya sangat
rendah
4. Hubungan komunikasi dan kerja sama antara kepala sekolah, guru dan masyarakat
sangat renggang dan kurang terjalin dengan baik.
5. Keterlibatan partisipatif dari masyarakat khususnya orang tua siswa dalam
pendidikan anak sangat rendah

1.3. Tujuan
Merujuk pada permasalahan yang telah dijabarkan di atas maka tujuan dari best
practice kepala sekolah ini adalah untuk:
1. Meningkatkan kesadaran guru dan orang tua siswa mengenai peran mereka dalam
peningkatan kualitas pendidikan.
2. Meningkatkan kemampuan guru dalam menyiapkan dan melaksanakan proses
pembelajaran.
3. Meningkatkan motivasi guru untuk belajar dan meningkatkan kemampuan
profesional mereka
4. Menciptakana pola hubungan kerja sama dan komunikasi yang baik antara kepala
sekolah, guru, dan masyarakat khususnya orang tua siswa.

3
5. Meningkatkan keterlibatan partisipatif dari masyarakat khususnya orang tua siswa
dalam pendidikan anak.

1.4. Manfaat
Melalui pelaksanaan best practice ini penulis berharap dapat memberikan manfaat
pedagogik dan praktis sebagai berikut:

1. Manfaat pedagogik, pelaksanaan best practice ini diharapkan dapat menjadi


rujukan bagi rekan-rekan kepala sekolah dalam menemukan solusi yang tepat
bagi permasalahan yang dihadapi oleh sekolah.
2. Manfaat praktis: pelaksanaan best practice ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi yang signifikan bagi pemecahan masalah peningkatan mutu
pendidikan di Indonesia khususnya mengenai peningkatan profesionalisme guru
dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak.

BAB II
METODE PEMECAHAN MASALAH

Setelah melakukan observasi dan menemukan permasalahan pokok yang terjadi di


SDN 2 Tawarotebota, penulis melakukan beberapa tahapan untuk merumuskan solusi yang

4
tepat bagi permasalahan tersebut. Tahap pertama adalah menganalisis sumber masalah,
tahap kedua adalah menemukan pendekatan yang tepat untuk menyelesaikan masalah
tersebut, dan tahap yang ketiga adalah menjabarkan dan merumuskan pendekatan tersebut
ke dalam langkah-langkah operasional yang konkret.

2.1. Menganalisis Sumber Masalah


Dalam tahapan ini penulis melakukan analisis sumber masalah untuk menemukan
penyebab utama dari permasalahan-permasalah yang timbul di SDN 2 Tawarotebota.
Melalui proses ini penulis memetakan sumber-sumber permasalahan menjadi beberapa
poin penting sebagai berikut:
A. Sumber permasalahan internal:
a. Kebanyakan guru memiliki pengetahuan yang sangat minim mengenai
penyusunan perangkat pembelajaran, metode-metode pengajaran yang inovatif
dan efektif, termasuk pemanfaatan sumber belajar dan media pembelajaran
sehingga mereka tidak mampu untuk mengembangkan metode pembelajaran
denan baik.
b. Seluruh guru pada SDN 2 Tawarotebota belum pernah mendapatkan observasi
atau penilaian dalam proses pembelajaran sehingga mereka tidak mengetahui
kelemahan dan kekurangan yang mereka miliki dalam melaksanakan
pembelajaran.
c. Motivasi yang rendah dari beberapa guru disebabkan oleh tidak adanya dorongan
positif dari masyarakt sekolah khususnya rekan guru dan kepala sekolah.
d. Sebagian guru menjaga jarak dengan kepala sekolah karena menghindari koreksi
atau kritikan yang mungkin diberikan oleh kepala sekolah sehubungan dengan
kinerja mereka di sekolah.
B. Sumber permasalahan eksternal
a. Karakter sosial ekonomi orang tua siswa yang rata-rata memiliki mata
pencaharian sebagai petani dan pedagang membuat mereka tidak memiliki waktu
untuk terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan anak sehingga membebankan
semua tanggung jawab tersebut kepada pihak sekolah.
b. Mindset atau pola pikir orang tua siswa yang memandang bahwa pendidikan anak
terbatas hanya di lingkungan sekolah saja menjadi penyebab utama kurangnya
keperdulian mereka terhadap pendidikan anak di luar sekolah khususnya di
rumah.

5
c. Komunikasi dan interaksi langsung antara pihak sekolah dan orang tua siswa yang
sangat kurang menjadikan hubungan kedua pihak menjadi renggang dan kurang
harmonis.

2.2. Menemukan Pendekatan untuk Pemecahan Masalah


Setelah mengetahui sumber permasalahan internal dan eksternal yang dihadapi oleh
SDN 2 Tawarotebota, penulis kemudian mencari pendekatan yang dapat secara efektif
memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut. Dari berbagai sumber masalah yang
telah penulis paparkan, penulis menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya permasalahan
yang ada di sekolah ini dapat diselesaikan jika terjalin komunikasi dan hubungan kerjasa
sama yang erat baik antara pihak guru dan kepala sekolah maupun antara pihak sekolah
dan masyarakat. Jika komunikasi dan hubungan interpersonal dapat terjalin dengan baik
maka kepercayaan (trust) dengan sendirinya akan muncul sehingga informasi atau pesan
yang ingin disampaikan oleh penulis dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik. Oleh
karena itu penulis memilih pendekatan kemitraan untuk membuka peluang tercipatanya
komunikasi dua arah yang saling mengisi.
Menurut Widodo (2002:441) secara etimologi kata kemitraan berasal dari kata
mitra yang artinya pasangan kerja, atau partner usaha. Kemitraan atau partnership pada
dasarnya dikenal dengan istilah perkongsian di mana dua pihak atau lebih membentuk
suatu ikatan kerjasama atas dasar kesepakatan dan rasa saling membutuhkan dalam rangka
meningkatkan kapasitas dan kapabilitas di suatu bidang tertentu dalam rangka memperoleh
hasil yang baik. Penulis menganggap bahwa pendekatan kemitraan dapat menghilangkan
dinding pemisah antara kepala sekolah dan guru begitupun juga antara pihak sekolah
dengan masyarakat atau orang tua siswa. Hal ini dapat terjadi karena konsep kemitraan
mengandung sebuah nilai kesetaraan dan persahabatan. Kemitraan dapat menghilangkan
kesenjangan karena semua pihak memiliki posisi dan peran yang sama dalam sebuah usaha
bersama.
Secara empiris pendekatan kemitraan ini penulis ambil berdasarkan pengalaman
pribadi penulis sebagai salah satu pembina Program Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Karena penulis sering berhadapan dengan masyarakat yang sangat sulit menerima
perubahan dan cenderung memiliki cara pandang yang sempit dalam menerima informasi
maka penulis mencoba pendekatan interpersonal dengan mengajak masyarakat berbincang
dari hati ke hati. Pendekatan ini ternyata sangat efektif karena mereka menjadi lebih

6
terbuka dan bersedia memberikan ruang untuk berdiskusi. Dalam proses diskusi tersebut
penulis berusaha menekankan pentingnya peran mereka di dalam program yang dijalankan
sehingga mereka merasa dihargai dan dibutuhkan. Rasa dibutuhkan inilah yang mendorong
mereka untuk terlibat secara aktif karena penulis memposisikan mereka sebagai mitra yang
sejajar dengan penulis dalam melaksanakan setiap program PKK.
Pengalaman empiris ini menjadi salah satu dasar penulis untuk menerapkan
pendekatan ini kepada para guru dan orang tua siswa. Penulis berkeyakinan bahwa dengan
pendekatan kemitraan akan tercipta sebuah sinergi yang harmonis yang mendorong
keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan khususnya guru dan orang tua siswa
sehingga tujuan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak dapat didukung
secara penuh dan berkelanjutan. Melalui pendekatan kemitraan ini pula penulis dapat
menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi dan interaksi yang selama ini terjadi.
Menurut Utari (2010) umumnya kegiatan kemitraan adalah upaya penyediaan sumber daya
dan sumber dana pendidikan, pendampingan pengerjaan tugas, dan dukungan langsung di
ruang kelas bersama guru. Dari definisi ini maka dapat dikatakan bahwa kemitraan antara
guru dan kepala sekolah dapat berbentuk pendampingan dan dukungan langsung yang
diberikan oleh kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi guru.
Sementara itu menurut Anderson (1998: 589) kemitraan antara sekolah dan orang
tua siswa dapat terjalin melalui interaksi dalam bentuk pertemuan langsung (tatap muka),
di sekolah, di rumah, atau bahkan di tempat kerja orangtua. Komunikasi yang dijalin juga
hendaknya disadari sebagai bagian penting dari pola pengasuhan, sehingga orangtua
berkomitmen dalam peningkatan pendidikan anak. Comer dan Haynes (1997)
mengatakan bahwa anak-anak belajar dengan lebih baik jika lingkungan
sekelilingnya mendukung, yakni orangtua, guru, dan anggota keluarga
lainnya serta kalangan masyarakat sekitar. Karena sekolah tidak dapat
memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan siswa,
sehingga diperlukan keterlibatan bermakna oleh orangtua dan anggota
masyarakat.

2.3. Menyusun Langkah Operasional


Pada tahapan ini penulis mentransformasikan pendekatan kemitraan yang telah
dijabarkan sebelumnya menjadi langkah operasional dalam bentuk action atau langkah
nyata. Langkah operasional ini terbagi dua yaitu langkah operasional bagi guru yang terdiri

7
atas (1) Focus Group Discussion (FGD), Mentoring, (3) Supervisi Akademik, dan langkah
operasional bagi orang tua siswa yang terdiri atas (1) Home Visit dan (2) School Visit
A. Langkah Operasional bagi Guru
a. Focus Group Discussion (FGD)
Henning dan Columbia (1990) menjelaskan bahwa Focus Group Discussion
(FGD) atau Diskusi Kelompok Terarah adalah wawancara dari sekelompok kecil
orang yang dipimpin seorang narasumber atau moderator yang mendorong peserta
untuk berbicara terbuka dan spontan tentang hal yang dianggap penting dan berkaitan
dengan topik saat itu. Penulis memilih FGD sebagai tahapan awal untuk membuka
komunikasi dan keterbukaan dengan semua guru karena sebelumnya model diskusi
seperti ini tidak pernah dilakukan di SDN 2 Tawarotebota. Hal ini juga bertujuan
untuk memberikan ruang bagi guru dalam menyampaikan permasalahan yang
mereka hadapi. Melalui proses ini penulis memberikan kesempatan seluas-luasnya
kepada anggota kelompok untuk menyatakan pendapat berdasarkan topik yang
diberikan, hal ini mengacu pada tujuan dari Diskusi Kelompok Terarah atau FGD
yaitu untuk memperoleh masukan atau informasi mengenai permasalahan yang
bersifat lokal dan spesifik (Prastowo, 2008).
b. Mentoring
Mentoring atau pendampingan dapat didefinisikan sebagai proses yang
dilakukan untuk mendukung dan mendorong seseorang untuk mengelola belajarnya
agar ia dapat mengembangkan potensinya secara maksimal, mengembangkan
keterampilan, meningkatkan kualitas kinerja, dan menjadi seperti yang ia inginkan
(Parsloe dan Leedham, 2009). Mentor atau pendamping adalah seseorang yang
membantu si terdamping menemukan arah yang benar dalam mencari pemecahan
masalah-masalah karirnya (Parsloe dan Leedham, 2009). Pendamping bersandar
pada kepemilikan pengalaman yang sama untuk mendapatkan empati dari
terdamping dan pemahaman tentang masalah mereka. Seorang pendamping memiliki
peran dalam membantu terdamping untuk menumbuhkan motivasi dan percaya
dirinya. Berdasarkan penjelasan mengenai mentoring atau pendampingan ini maka
dapat dilihat bahwa posisi kepala sekolah sebagai pendamping dan guru sebagai
terdamping adalah sejajar, dimana keduanya memiliki visi yang sama dan berbagai
pengetahuan (sharing knowledge) berdasarkan visi tersebut. Kepala sekolah

8
mendampingi guru sebagai rekan atau sahabat untuk memberikan masukan dan
dorongan motivasi dalam menjalankan tugas pengajaran di sekolah.
c. Supervisi Akademik
Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian
tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru
tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial, ekonomi
dan berkebutuhan khusus dalam mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan
pembelajaran.
Secara umum terdapat tiga tujuan penting dari supervisi akademik adalah
untuk:
1. Membantu guru mengembang kemampuan profesionalnya dalam memahami
akademik, kehidupan telah mengembangkan keterampilan mengajarnya dan
menggunakan kemampuannya melalui teknik-teknik tertentu.
2. Memonitor kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan memonitor ini
bisa dilakukan melalui kunjungan kepala sekolah ke kelas-kelas di saat guru
sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawat, maupun
sebagai peserta didik.
3. Mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas
mengajarnya, mendorong guru mengembangkan kemampuannya sendiri, serta
mendorong guru agar ia memiliki perhatian yang sungguh-sungguh (commitment)
terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

Langkah Supervisi Akademik dipilih oleh penulis sebagai acuan untuk


melihat keberhasilan dari pendekatan FGD dan mentoring yang telah penulis lakukan
sebelumnya. Melalui supervisi akademik ini penulis ingin melihat bagaimana para
guru mampu mentransformasikan proses FGD dan mentoring yang telah mereka
dapatkan sebelumnya ke dalam aplikasi nyata di dalam kelas.

B. Langkah Operasional bagi Orang Tua Siswa


a. Home Visit (Kunjungan Rumah)
Seperti telah dikemukakan pada bagian analisis sumber masalah bahwa
rata-rata orang tua siswa pada SDN 2 Tawarotebota tidak memiliki waktu untuk
terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan anak mereka. Mereka memiliki
mindset atau pola pikir yang cenderung sempit mengenai keterlibatan orang tua

9
dalam pendidikan anak sehingga membebankan semua tanggung pendidikan
kepada pihak sekolah. Selain itu, pihak sekolah juga menghadapi masalah
komunikasi dan interaksi dengan orang tua siswa yang secara langsung menjadi
penghalang bagi proses sinergi antara sekolah dan orang tua siswa dalam
meningkatkan pendidikan anak.
Memahami semua permasalahan tersebut maka penulis menggunakan
pendekatan interpersonal melalui kegiatan Kunjungan Rumah atau home visit.
Kegiatan ini merupakan sebuah aplikasi nyata dari pendekatan kemitraan yang coba
dilakukan oleh penulis dalam rangka menciptakan keterbukaan antara orang tua
siswa dan pihak sekolah. Penulis meyakini bahwa kunjugan rumah merupakan
solusi yang efektif untuk menjembatani komunikasi dan hubungan silaturrahmi
antara orang tua siswa dan pihak sekolah yang pada gilirannya dapat membangun
hubungan saling percaya (trust). Melalui hubungan saling percaya ini maka pihak
sekolah dapat dengan mudah menanamkan pemahaman sekaligus mendorong orang
tua siswa untuk terlibat aktif dalam memajukan pendidikan anak baik di dalam
maupun di luar sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Anderson (1998: 589)
yang menyatakan bahwa kemitraan antara sekolah dan orang tua siswa dapat
terjalin melalui interaksi dalam bentuk pertemuan langsung (tatap muka), di
sekolah, di rumah, atau bahkan di tempat kerja orangtua.
b. School Visit (Kunjungan Sekolah)
Kunjungan sekolah pada dasarnya merupakan kegiatan yang dirancang
sebagai kegiatan lanjutan dari kegiatan kunjungan rumah. Jika dalam kegiatan
kunjungan rumah pihak sekolah yang dituntut untuk terlibat secara aktif dalam
berkomunikasi dan memberikan pemahaman kepada orang tua siswa, maka dalam
kunjungan sekolah orang tua siswalah yang didorong untuk terlibat secara langsung
dan aktif untuk memberikan dukungan pada proses belajar anak di sekolah. Hal ini
sejalan dengan pendapat Comer dan Haynes (1997) yang menyatakan
bahwa anak-anak belajar dengan lebih baik jika lingkungan
sekelilingnya mendukung, yakni orangtua, guru, dan anggota
keluarga lainnya serta kalangan masyarakat sekitar.
Melalui kehadiran orang tua secara langsung di sekolah,
mereka dapat dengan leluasa melihat dan memahami proses
belajar mengajar yang dilaksanakan oleh pihak sekolah. Hal ini
sangat penting untuk membangun pemahaman mereka mengenai

10
tugas guru dalam mendidik anak yang dapat menumbuhkan rasa
simpati dan penghargaan bagi profesi guru. Selain itu kegiatan
kunjungan sekolah memiliki implikasi positif untuk membangun
inteaksi dan keterlibatan aktif dari orang tua siswa sehingga
mereka dapat merasa turut dilibatkan dalam proses pendidikan
anak di sekolah. Dalam kunjunga sekolah ini juga orang tua siswa
dapat secara langsung memberikan masukan kepada kepala
sekolah dan guru mengenai harapan-harapannya terkait dengan
pendidikan anak.

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pemecahan masalah seperti yang telah


dijabarkan di atas maka penulis dapat menggambarkan kerangka pemecahan masalah
sebagai berikut:

Internal: Eksternal:
Pengetahuan Sosio-ekonomi
Motivasi Mindset
Interaksi SUMBER MASALAH Interaksi
Komunikasi Komunikasi

SOLUSI

Membangun Pendekatan Kemitraan

AKSI:
GURU ORANG TUA SISWA

Focus Group DiscussionHome Visit



Mentoring dan CoachingSchool Visit

Supervisi Akademik

11
Gambar 2.1. Kerangka Pikir Metode Pemecahan Masalah

BAB III
PELAKSANAAN DAN HASIL YANG DIPEROLEH

3.1. Pelaksanaan Kegiatan


1. Focus Group Discussion (FGD)
Kegiatan FGD ini pertama kali penulis laksanakan pada tahun ajaran baru
2013/2014 setelah melakukan observasi tidak langsung pada keadaan sekolah dan kinerja
guru pada SDN 2 Tawarotebota selama beberapa bulan. Penulis memilih tahun ajaran baru
sebagai waktu pelaksanaan FGD dengan pertimbangan bahwa momen tersebut dapat
menjadi bahan refleksi menyeluruh bagi sekolah khususnya bagi para guru dalam
pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini terus penulis pertahankan hingga sekarang dan
menjadi salah satu agenda rutin di setiap tahun ajaran baru untuk merefleksi kinerja
sekolah dan guru setiap tahunnya.
Topik yang penulis angkat pada FGD ini adalah seputar kendala dalam proses
pembelajaran di sekolah. Diskusi kelompok terarah ini melibatkan semua guru yang
berjumlah 6 orang dan dilaksanakan di sekolah setelah proses penerimaan siwa baru selesai
dilaksanakan. Penulis mengemas proses diskusi ini dengan dalam suasana akrab
kekeluargaan diselingi dengan acara makan siang bersama dengan tujuan untuk
menghindari perasaan tertekan dari suasan formal yang mungkin timbul dan dapat menjadi
rintangan komunikasi antara sesama kelompok diskusi. Penulis meminta para guru untuk
secara terbuka menyatakan berbagai kekurangan dan permasalahan yang selama ini mereka
hadapi termasuk solusi yang dapat mereka tawarkan. Dalam diskusi ini penulis hanya
bertindak sebagai moderator atau fasilitator dan tidak melibatkan diri secara langsung
dalam proses diskusi. Hal ini penulis lakukan untuk menjaga keleluasaan para guru dalam
mengeluarkan gagasan atau pendapatnya selama proses diskusi.

2. Mentoring
Mentoring atau pendampingan merupakan follow up atau kelanjutan dari proses
FGD yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah penulis dan para guru secara bersama-
sama menemukan permasalahan yang selama ini dihadapi dalam proses pembelajaran,
maka selanjutnya penulis secara berkala melakukan proses pendampingan kepada setiap
guru untuk membantu mereka secara personal mengatasi permasalahan tersebut. Dalam hal

12
ini penulis tidak bertindak sebagai kepala sekolah yang mengawasi kinerja bawahannya
tetapi bertindak sebagai sahabat atau pendamping yang secara suka rela dan terbuka
bersedia berbagi pengalaman dan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Berbeda
dengan proses FGD yang dilakukan secara terstruktur dan terjadwal, kegiatan mentoring
dilaksanakan melalui proses on going learning di mana kepala sekolah sebagai mentor
mendampingi guru secara aktif dengan memperhatikan kebutuhan guru tersebut. Penulis
juga secara rutin memantau perkembangan para guru yang didampingi memastikan proses
mentoring ini berjalan secara berkesinambungan.

3. Supervisi Akademik
Setelah penulis melakukan pendampingan dan berusaha membangun percaya diri
serta motivasi para guru untuk menemukan solusi yang mereka hadapi dalam proses
pembelajaran, maka sebagai tahap akhirn penulis melaksanakan Supervisi Akademik
kepada setiap guru. Hal ini sangat penting untuk mengetahui kemajuan yang telah mereka
capai dari proses FGD dan mentoring yang telah mereka lalui sebelumnya.

A. Persiapan
Menyusun perencanaan supervisi akademik. Kegiatan yang dilakukan dalam
tahap ini adalah :
a. Sosialisasi supervisi akademik.
Pada tahap ini penulis memberikan sosialisasi mengenai perencanaan
supervisi akademik kepada guru yang akan disupervisi dan membuat kesepakatan
mengenai waktu pelaksanaan supervisi akademik.
b. Menyusun instrumen supervisi.
Instrumen yang perlu dipersiapkan dalam tahap ini adalah :
1. 9-a . Administrasi Perencanaan Pembelajaran.
2. 9-b. Istrumen Check List Rencana Pembelajaran
3. 9-c Lembar Observasi / Pengamatan Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas.
4. 9-d. Daftar Pertanyaan Setelah Observasi
5. 9-e. Lembar observasi Penilaian Hasil Pembelajaran
c. Menyusun jadwal supervisi.
Berdasarkan diskusi dengan guru-guru SDN 2 Tawarotebota disepakati
jadwal pelaksanaan supervisi akademik adalah sebagai berikut:
Hari : Senin Sabtu
Tanggal : 04 - 09 April 2016
Tempat : SDN 2 Tawarotebota

13
d. Menentukan guru yang akan disupervisi.
Pada tahap ini yang akan dilakukan adalah Penetapan guru yang akan
disupervisi dilakukan pada sosialisasi awal tentang rencana supervisi akademik
oleh Kepala Sekolah kepada guru yang akan disupervisi.

Tabel 3.1. Jadwal Supervisi Akademik SDN 2 Tawarotebota


Mata Ja
Hari/tangga Kelas/program Fokus
No Nama guru pelajaran m
l keahlian masalah
pokok ke -
Keterpadua
n RPP
Senin, 04 dengan
Jumarudin,
1 April IPS Guru kelas 1 Pelaksanaa
S.Pd
2016 n
Pembelajar
an
Keterpadua
n RPP
Selasa, 05 dengan
Todiman,
2 April Matematika Guru kelas 1 Pelaksanaa
S.Pd
2016 n
Pembelajar
a
Rabu , 06
Pemanfaatan
3 April Djainal Matematika Guru kelas 1
Media
2016
4 Kamis, 07 Pembelajar
April Hartina IPA Guru kelas 1 an tematik
2016 terpadu
5 Jumat , Pembelajar
08 April Darmawati IPA Guru kelas 1 an tematik
2016 terpadu
6 Sabtu , 09 Pembelajar
April Hayati IPS Guru kelas 1 an tematik
2016 terpadu

B. Pelaksanaan
a. Pra-observasi
Pra-observasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh peserta OJL (Kepala
Sekolah) sebelum melakukan observasi kelas. Pelaksanaan observasi diawali
dengan langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

14
1. Penyiapan instrumen 9-a, 9-b, 9-c, 9-d, dan 9-e
2. Kepala berkonsultasi dengan guru yang akan disupervisi.
3. Meminta perangkat pembelajaran 1 hari sebelum observasi.
4. Pengisian instrumen perencanaan kegiatan pembelajaran.

b. Observasi Kelas
Sekolah melakukan pra-observasi sebelumnya maka dilanjutkan dengan
melaksanakan observasi kelas pada guru kelas VI-I untuk mengetahui kompetensi
guru tersebut dalam menyajikan pembelajaran. Pelaksanaan observasi kelas
dilakukan terhadap semua guru kelas. Berikut disajikan beberapa dokumentasi
observasi kelas dalam supervisi akademik yang dilaksanakan oleh penulis:

Gambar 3.1 Proses Supervisi Akademik

15
Gambar 3.2. Proses Supervisi Akademik

Gambar 3.3. Prose Supervisi Akademik

5. Kunjunga Rumah (Home Visit)


Kunjungan rumah bertujuan untuk menjalin komunikasi dan silaturrahmi dengan
orang tua siswa dalam rangka meningkatkan peran partisipatif orang tua dalam mendukung
perkembangan pendidikan anak. Terdapat sebuah proses penting sebelum kunjungan
rumah dilaksanakan yaitu setiap guru kelas diwajibkan mengisi jurnal kelas yang berisi
tentang hasil observasi guru terhadap perkembangan setiap peserta didik pada kelas
mereka masing-masing. Penulis sebagai kepala sekolah mewajibkan setiap guru untuk
mempelajari atau mengobservasi perilaku siswa di dalam dan di luar kelas untuk kemudian
menuliskan perkembangan mereka di dalam sebuah jurnal. Hal ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kendala-kendala yang mungkin dihadapi siswa dalam baik di dalam
maupun di lingkungan sekolah. Sebagai contoh seorang siswa kelas 6 sering terlambat ke
sekolah dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Guru kelas menuliskan
kebiasaan siswa ini ke dalam jurnal yang kemudian dapat menjadi bahan diskusi dengan
orang tua ketika kunjungan rumah dilaksanakan

16
Alternatif semacam ini sengaja ditempuh oleh penulis karena siswa kadang takut
untuk terbuka kepada guru jika ditanyakan mengenai masalah yang mereka hadapi. Oleh
karena itu penulis mendorong guru untuk langsung mengkomunikasikan permasalahan ini
kepada orang tua siswa. Dengan demikian orang tua siswa dapat mengetahui
perkembangan dan permasalahan dimiliki oleh anak sekaligus berperan aktif untuk
mencarik solusi efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berikut ini adalah salah
satu ilustrasi dari kunjungan rumah yang dilakukan oleh penulis dan guru kelas.
.

Gambar 3.4. Kunjunga Rumah (Home Visit)

6. Kunjungan Sekolah (School Visit)


Kunjungan sekolah merupakan kebalikan dari kunjunga rumah, di mana dalam
kegiatan ini orang tua siswa diminta meluangkan waktu mereka untuk secara langsung
memantau proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh pihak sekolah. Dengan
kunjungan sekolah ini maka perserta didik akan belajar dengan lebih baik karena
merasakan dukungan lingkungan sekelilingnya terutama orangtua. Berbeda
dengan home visit yang dilaksanakan secara sistematis, kunjungan
sekolah dilaksanakan secara acak. Artinya bahwa orang tua siswa yang
datang ke sekolah untuk mengantar anaknya secara persuasif diajak
oleh pihak guru dan kepala sekolah untuk mengikuti dan memantau
proses belajar mengajar yang berlangsung di dalam kelas. Proses ini
dapat berlangsung minimal 1 jam pelajaran sehingga dengan sendirinya

17
mereka dapat menilai kemampuan guru dalam membimbing anak
termasuk melihat perkembangan anak di sekolah secara langsung.

3.2. Hasil Kegiatan


1. Focus Group Discussion
Para guru menunjukkan antusiasme yang tinggi selama proses diskusi dan secara
terbuka dapat mengkomunikasikan semua pendapat dan gagasan yang mereka miliki.
Bahkan selama diskusi setiap guru secara sadar mengoreksi kekurangan mereka dalam
proses pembelajaran di kelas termasuk kendala rasa percaya diri dan motivasi rendah yang
mereka miliki. Di luar dugaan ternyata forum diskusi kelompok ini telah mampu menjadi
media curhat bagi para guru dan mampu melunturkan semua tembok pemisah yang
selama ini ada di antara para guru dan kepala sekolah.
Berdasarkan FGD yang telah dilaksanakan tersebut penulis kemudian menarik
beberapa poin pokok hasil diskusi sebagai berikut:
Tabel 3.2. Hasil FGD Guru SDN 2 Tawarotebota
Rencana tindak
Permasalah Solusi
lanjut
Pengetahuan tentang Pengenalan dan praktek Melaksanakan praktek
metode pengajaran mengenai metode-metode secara langsung
sangat kurang pengajaran mengenai metode-
metode pengajaran
efektif
Motivasi rendah Dibutuhkan pendekatan Membangun
disebabkan masalah interpersonal untuk komunikasi dari hati
personal memahami permasalahan ke hati dengan guru
tersebut secara personal
Guru tidak tahu Pelatihan mengenai cara Memberikan pelatihan
menyusun perangkat penyusunan perangkat mengenai pedoman
pembelajaran yang baik pembelajaran yang baik penyusunan perangkat
dan benar dan benar pembelajaran yang
baik dan benar
Guru takut mendapatkan Meningkatkan Memberikan
koreksi juga takut pemahaman mengenai pemahaman mengenai
dianggap tidak mampu pentingnya koreksi demi pentingnya koreksi
mengajar kemajuan kompetensi demi kemajuan
guru kompetensi guru

2. Mentoring

18
Melalui proses mentoring ini penulis berhasil mengatasi hambatan komunikasi
yang selama ini terjadi antara guru dan kepala sekolah. Hal ini mampu memberikan
pengaruh positif bagi penyampaian pengetahuan antara kepala sekolah sebagai
pendamping dan guru sebagai terdamping. Sebagai salah satu contoh, pendampingan pada
Bapak Todiman, S.Pd., guru yang mengajar di kelas 5. Guru tersebut merupakan guru
senior yang telah menginjak masa pensiun sehingga motivasi mengajarnya sangat rendah.
Selain itu metode mengajar yang digunakan merupakan metode konvensional yaitu metode
diktasi atau meminta siswa untuk menyalin ulang materi tertentu dari buku paket yang
diberikan. Melalui pendekatan komunikasi interpersonal dengan guru yang bersangkutan,
penulis berhasil memberikan pemahaman dan motivasi untuk lebih serius lagi dalam
melaksanakan tugasnya. Bahkan penulis memperkenalkan metode-metode pengajaran lain
yang lebih efektif dan meminta guru tersebut untuk mengaplikasikannya di dalam kelas
sehingga secara berangsur-angsur guru tersebut dapt belajar dan termotivasi kembali untuk
mengajar.
Perkembangan mentoring guru SDN 2 Tawarotebota dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
Tabel 3.3. Mentoring Progress SDN 2 Tawarotebota
Perkembangan
Nama guru Permasalahan Proses Mentoring Guru selama
Mentoring
Jumarudin, a. Cenderung a. Memberikan a. Sudah mampu
S.Pd emosional dalam pengetahuan dan mengontrol
mengajar penjelasan tentang emosi dan nada
b. Kurang psikologi anak agar suara dalam
menguasai guru dapat menghadapi
metode menciptakan suasana siswa baik di luar
pengajaran belajar yang maupun di dalam
kondusif kelas
b. Memberikan b. Mulai dapat
masukan tentang menerapkan
metode-metode metode
pengajaran efektif pengajaran baru
di dalam kelas
Todiman, a. Motivasi a. Memberikan a. Motivasi
S.Pd mengajar sangat pendekatan mengajar telah
kurang interpersonal untuk dapat meningkat
b. Selalu mengajar memberikan b. Mulai
dengan metode dorongan motivasi mempraktekkan

19
pengajaran b. Memperkenalkan dan metode mengajar
konvensional mempraktekkan yang efektif
metode mengajar
yang efektif
Djainal a. Motivasi a. Memberikan a. Motivasi
mengajar sangat pendekatan mengajar sudah
kurang interpersonal untuk mulai meningkat
b. Sering memberikan b. Kebiasaan
memberikan tugas dorongan motivasi memberikan tugas
dan membiarkan b. Berusaha dan membiarkan
siswa belajar menumbuhkan siswa belajar
sendiri di dalam kesadaran guru untuk sendiri sudah
kelas terlibat aktif dalam mulai berkurang
pengajaran
Hartina a. Motivasi a. mendorong guru a. telah mampu
mengajar tinggi untuk terus belajar menguasai materi
namum kurang dan membantu guru karena motivasi
memahami materi memahami materi belajar menjadi
yang diajarkan yang akan diajarkan tinggi
b. kurang suka b. memberikan b. mampu
dengan siswa pemahaman memberikan
yang aktif mengenai psikologi pendekatan yang
bertanya anak termasuk cara baik bagi siswa
menghadapi siswa yang aktif
yang aktif
Darmawati a. kurang mampu a. mendorong guru a. Guru memiliki
memberikan mempraktekkan motivasi yang
penjelasan di cara-cara efektif tinggi untuk
depan kelas dalam berbicara dan mengaplikasikan
b. materi yang memberikan cara-cara yang
diajarkan penjelasan di depan diajarkan
cenderung kelas. b. Guru menjadi
monoton b. Mendorong guru rajin mecari tahu
untuk memperkaya materi yang
materi yang akan menarik bagi
diajarkan agar siswa siswa
tidak bosan
Hayati a. Guru tidak a. memberikan a. secara bertahap
mampu pemahaman mampu
menguasai siwa mengenai psikologi menghadapi
yang aktif anak termasuk cara siswa yang aktif
b. Guru tidak menghadapi siswa b. pengelolaan
mampu yang aktif kelas menjadi
mengelola kelas b. guru diberikan lebih baik dari
dengan baik pemahaman sebelumnya

20
mengenai cara
pengelolaan kelas
yang efektif

3. Supervisi Akademik
Berdasarkan pelaksanaan supervisi akademik penulis dapat menyajikan analisis
hasil supervisi akademin dalam bentuk tabel dibawah ini:

Tabel 3.4. Hasil Supervisi Akademik

Perangkat Skor Catatan


N Proses Penilaian
Nama pembelajar rata- hasil
o pembelajaran pembelajaran
an rata temuan
Agenda
harian dan
1. Jumarudin, S.Pd 79,16 69,55 74 74,24 pedoman
guru tidak
ada
Penguasaan
materi dan
2. Todiman, S.Pd 72,91 65,45 68 68,79 keterlibatan
siswa
kurang
Agenda
harian dan
3. Djainal 72,91 68,18 72 71,03 pedoman
guru tidak
ada
Siswa tidak
difokuskan
4. Hartina 79,17 65,45 72 72,21 untuk
menerima
pelajaran
Agenda
harian dan
Darmawati,
5. 72,91 65,45 72 70,12 pedoman
S.Pd
guru tidak
ada
6. Hayati, S.Pd 77,08 69,09 74 73,39 Agenda
harian,prota
dan
pedoman

21
guru tidak
ada

Tabel 3.5. Penilaian Komponen Pembelajaran

N Komponen Alternatif Pemecahan


Kelebihan Kelemahan
O Analisis Masalah
1. Perangkat 100% mendapat Agenda harian Pembuatan agenda
Pembelajaran nilai baik untuk kelas dan harian dan prota dibuat
semua item sudah pedoman guru semua guru, pedoman
dilaksanakan tidak ada guru diadakan oleh
semua, prota sekolah
masi ada yang
belum buat
2. Proses 50% nilai baik Pada kegiatan inti Bimbingan oleh Kepala
Pembelajaran 50% nilai guru kurang Sekolah agar
cukup untuk memanfaatkan memanfaatkan alat
semua item media pembelajaran peraga yang sudah ada.
sudah dan kurang KKG membahas teknis
dilaksanakan maksimal penggunaan alat peraga.
menggunakan alat
peraga
3. Penilaian 100 % mendapat Pembinaan cara
Pembelajaran nilai baik untuk penyusunan soal dan
semua item sudah pengolahan nilai
dilaksanakan

4. Kunjungan Rumah
Kunjugan Rumah memberikan hasil positif yaitu:
a. Terjalin komunikasi dan silaturrahmi yang baik antara guru dan orang tua siswa
b. Orang tua siswa berperan aktif dalam mengawasi proses belajar anak di rumah
c. Tercipta rasa saling percaya (trust) antara orang tua siswa dan guru
d. Orang tua dapat menjadi pendukung yang efektif dalam membantu guru
meningkatkan prestasi peserta didik

5. Kunjungan Sekolah
a. Orang tua siswa menjadi lebih dapat memahami dan menghargai tugas sekolah dan
guru dalam mendidik anak
b. Orang tua dapat secara langsung memantau proses belajar mengajar yang
dilaksanakan oleh sekolah
c. Orang tua siswa dapat secara langsung memberikan masukan bagi peningkatan
pendidikan anak

22
d. Menciptakan hubunga harmonis antara guru dan orang tua siswa di dalam maupun
di luar sekolah

BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1. Simpulan
Melalui kegiatan Focus Group Discussion pra guru menunjukkan antusiasme yang
tinggi selama proses diskusi dan secara terbuka dapat mengkomunikasikan semua pendapat
dan gagasan yang mereka miliki. Bahkan selama diskusi setiap guru secara sadar
mengoreksi kekurangan mereka dalam proses pembelajaran di kelas termasuk kendala rasa
percaya diri dan motivasi rendah yang mereka miliki. Melalui kegiatan mentoring ini
penulis berhasil mengatasi hambatan komunikasi yang selama ini terjadi antara guru dan
kepala sekolah. Hal ini mampu memberikan pengaruh positif bagi penyampaian
pengetahuan antara kepala sekolah sebagai pendamping dan guru sebagai terdamping.
Melalui supervisi akademik guru mampu meningkatkan kompetensi mereka dalam
melaksanakan proses pembelajaran.
Kegiatan kunjungan rumah memberikan hasil positif berupa terjalin komunikasi
dan silaturrahmi yang baik antara guru dan orang tua siswa, orang tua siswa berperan aktif
dalam mengawasi proses belajar anak di rumah, tercipta rasa saling percaya (trust) antara
orang tua siswa dan guru, dan orang tua dapat menjadi pendukung yang efektif dalam
membantu guru meningkatkan prestasi peserta didik. Kegiatan Kunjungan Sekolah
meningkattkan pemahaman dan penghargaan orang tua siswa terhadap tugas sekolah dan
guru dalam mendidik anak, orang tua dapat secara langsung memantau proses belajar
mengajar yang dilaksanakan oleh sekolah, orang tua siswa dapat secara langsung
memberikan masukan bagi peningkatan pendidikan anak, dan sekolah dapat menciptakan
hubunga harmonis antara guru dan orang tua siswa di dalam maupun di luar sekolah

23
4.2. Refleksi
Meskipun upaya pendekatan yang dilakukan oleh penulis dapat memberikan
peningkatan dan perbaikan masalah internal dan eksternal yang ada di SDN 2
Tawarotebota, namun upaya peningakatan kualitas pendidikan tidak hanya berhenti sampai
di situ. Penulis masih harus banyak belajar dan berusaha mencari pendekatan-pendekatan
baru yang mungkin dapat lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Selain itu penulis juga masih perlu untuk mendalami tugas dan fungsi manajerial kepala
sekolah khususnya pelatihan-pelatihan kompetensi kepala sekolah yang pada gilirannya
dapat menjadi faktor pendukung dalam menjalankan sekolah yang maju dan inovatif.

4.3. Rekomendasi
Melalui laporan ini penulis memberikan beberapa rekomendasi terkait dengan
pendekatan kemitraan yang penulis lakukan di SDN 2 Tawarotebota sebagai berikut:
a. Dalam melaksanakan pendekatan kemitraan diperlukan peran aktif semua
stakeholder untuk bersama-sama menjalin kerja sama dalam rangka peningkatan
kapabilitas sekolah bagi kualitas pendidikan yang maju dan berkelanjutan
b. Kepala sekolah memilki peran yang strategis sebagai morot penggerak sehingga
dalam pendekatan kemitraan kepala sekolah diharapkan dapat memberikan dedikasi
yang banyak dalam membangun jembatan komunikasi dan interaksi dengan
masyarakat khususnya orang tua siswa
c. Pendekatan kemitraan ini hanya salah satu pendekatan di antara banyak
pendekatan-pendekatan yang dapat dipilih oleh kepala sekolah. Oleh karena itu
dalam memilih pendekatan yang sesuai untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapai sekolah kepala sekolah diharapkan dapat mampu untuk mengidentifikasi
sumber masalah guna menemukan pendekatan yang efektif dan berkelanjutan.

24
DAFTAR PUSTAKA

Ambar Teguh Sulistiyani. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan. Gaya Media.


Yogyakarta. 2004. hal. 129.
Anderson, Gary L. 1998. Deconstructing Participatory Reforms In Education. American
Educational Research journal, winter 1998, Vol. 35 No. 4 (hal. 571-603).
Comer, James P. & Norris Haynes. 1997. The Home School Team. (Online).
(http://www.edutopia.org/home-school-team).
Frey, JH & Fontana, A. 1993. The Group Interview in Social Research. in Ed. DL Morgan:
Succesfull Focus Group
Irwanto, 2007. Focus Group Discussion: Sebuah Pengantar Praktis. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Knodel, J. 1993. The Design and Analysis of Focus Group Studies. in Ed. DL Morgan:
Successfull Focus Group.
Minter, David & Reid, Michael. 2007. Lightning Innovation Strategy. Jakarta: Serambi.
Prastowo, Andi. 2008. Menguasai Teknik-teknik Data Penelitian Kualitatif. Jogya: DIVA
Press.
Utari, Rahmania. 2010. Tantangan kemitraan orang tua, sekolah, dan masyarakat. Jurnal
manajemen pendidikan. No. 2 Vol. VI.

25
LAMPIRAN-LAMPIRAN

26
27
28
``

29
Pernyataan Tidak Sedang dalam Proses Alih Tugas/Mutasi

30
Pernyataan Tidak Pernah Menerima Hukuman atau Sanksi Sedang atau Berat

31
32
33
34
35
1
1
2

Anda mungkin juga menyukai