Anda di halaman 1dari 14

Bandara saat ini bukan sekedar tempat beroperasinya maskapai penerbangan.

Peran
bandara telah bergeser menjadi pintu gerbang perekonomian, penunjang kegiatan
pariwisata, perdagangan serta simpul dalam jaringan transportasi.

Beberapa bandara kelas dunia berhasil menjalankan peran tersebut dengan menerapkan
konsep Airport City, dimana bandara menjadi pusat kegiatan ekonomi terpadu dengan
kawasan pendukung di sekitarnya.

Pertanyaannya, kapan giliran bandara Indonesia menjelma sebagai Airport City?

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan populasi penduduk kurang lebih 270 juta saat
ini memiliki 233 bandara komersial. 25 bandara dari 233 bandara komersial tersebut dikelola
oleh Angkasa Pura I (Persero) dan Angkasa Pura II(Persero). 80% penumpang di Indonesia
melewati 25 bandara tersebut. Wajar jika bandara menjadi infrastruktur yang vital bagi
sistem transportasi dan perekonomian nasional.

Sesuai dengan Undang-Undang Aviasi terbaru No. 1 Tahun 2009 dan untuk
mengintegrasikan pembangunan bandara di Indonesia, maka PT. Angkasa Pura I (Persero)
dan PT. Angkasa Pura II (Persero) mempersembahkan Global Airports Indonesia 2012.

Seminar dan pameran industri bandara bertaraf internasional ini akan digelar pada 26 27
Juni 2012 di Ballroom Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta. Puluhan profesional ternama
internasional dan Indonesia yang bidang keahliannya terkait dengan topik akan hadir
sebagai pembicara seminar Global Airport Indonesia (GAI) 2012.

Beberapa di antaranya adalah: Dr. John Kasarda (Profesor Universitas North Carolina dan
penulis Aerotropolis), Mr. Lee CW (Presiden & CEO Incheon International Airport Korea),
Mr. Jeff Scheferman (CEO ADC Houston Airport System), Bpk. Ir. Ciputra (Legenda
Pengembang Real Estate Indonesia) dan Bpk. Emirsyah Satar (Presiden & CEO Garuda
Indonesia, Presiden INACA).

Acara yang diorganisir oleh PT Angkasa Pura Supports dan PT Angkasa Pura Property
bersama dengan US Commercial ini akan membahas implementasi Airport City di
Indonesia. Bagaimana mensinergikan semua pihak terkait mulai dari pihak regulator,
operator bandara, pemerintah daerah, supplier hingga kontraktor dalam mengembangkan
fungsi sebuah bandara untuk merealisasikan konsep Airport City.

GAI 2012 merupakan sarana yang tepat bagi semua pihak untuk membangun jaringan
bisnis. Inilah kesempatan bagi peserta dari Indonesia untuk bertemu langsung dengan
pemain global di industri bandara. Sementara bagi pejabat daerah, GAI 2012 memberikan
pengetahuan dan pandangan internasional tentang pengembangan bandara masa depan
dari berbagai aspek terkait konsep Airport City.

Bagi manajemen bandara, manajemen industri dan kargo, industri pariwisata serta yang
terkait dengan bandara juga tak boleh sampai melewatkan kesempatan bertemu dengan
otoritas bandara, regulator bandara dan pemain global lainnya dari industri terkait.

Sementara untuk peserta asing, ini adalah kesempatan unik untuk bertemu dengan
operator, regulator dan otoritas bandara Indonesia, sekaligus pemerintah daerah. Momen ini
sangat tepat untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan bandara Indonesia dari
sumber pertama, juga membuka kesempatan lebar-lebar untuk berinvestasi sesuai UU
Aviasi No. 1 Tahun 2009.

Aerotropolis merupakan suatu konsep pengembangan kota bandara atau Airport


City. Menurut John. D. Kasarda, University of North Carolina, pengembangan bandara
internasional dapat menjadi pemicu pengembangan bisnis serta kawasan urban di
sekitarnya. Fenomena ini terjadi sekarang, di abad 21 ini. Fenomena ini serupa dengan
yang terjadi pada abad-abad sebelumnya. Misalnya saat pengembangan jalan bebas
hambatan pada abad 20, pengembangan kereta api pada abad 19 dan pengembangan
pelabuhan laut pada abad 18 yang mempengaruhi kemajuan pada zamannya.
Aerotropolis ini merubah konsep bandara yang biasanya direncanakan secara terpisah
dengan pengembangan kota menjadi satu kesatuan dalam paket perencanaannya.
Pengembangan bandara serta kawasan di sekitarnya nantinya akan menjadi satu
perencanaan pengembangan kota bandara. Dengan pengembangan kawasan di sekitar
bandara ini nantinya diharapkan dapat memicu pertumbuhan klaster-klaster industri.
Aerotropolis sering juga disebut sebagai kawasan cepat tumbuh berbasis bandara atau
Airport-Centric Commercial Development. Kawasan ini diharapkan dapat menjadi
daya tarik masyarakat global dan juga lokal, sehingga harus dapat menyediakan hal-hal
di bawah ini secara mandiri:
1. lapangan pekerjaan
2. kawasan perbelanjaan/perdagangan
3. pertemuan bisnis
4. hiburan serta destinasi pariwisata lainnya
(sumber : aerotropolis.com)
John. D. Kasarda mengungkapkan bahwa ada beberapa triger yang mendorong pola
perubahan Bandara Kota (City Airport) menjadi Kota Bandara (Airport City), yang
disebut sebagai Airport City Driver.
1. untuk memberikan pelayanan yang lebih baik serta dapat bersaing,
bandara perlu menciptakan sumber daya dari kegiatan yang tidak
berkaitan dengan penerbangan
2. usaha-usaha komersial perlu mendapatkan kawasan yang aksesibel
3. bandara harus mampu meningkatkan jumlah penumpang dan barang
4. bandara dapat menjadi katalis dan magnet untuk pengembangan
kegiatan bisnis
Beberapa Aerotropolis yang saat ini sedang dikembangakn diantaranya Incheon
International Airport, Dubai International Airport serta Schipol. Indonesia sendiri saat ini
sedang merencanakan pengembangan aerotropolis di Kertajati, Majalengka, Jawa
Barat.

Bandara Kertajati
Bandara yang terletak di Kertajati, Majalengka ini nantinya diharapkan dapat
dikembangakan menjadi suatu kawasan aerotropolis. Menurut seorang staf ahli PU,
Taufik Widjoyono, Bandara Kertajati akan menjadi suatu katalis perekonomian baru di
Jawa Barat. Pengembangan bandara ini memiliki potensi yang tergolong besar karena
jumlah penduduk Jawa Barat yang sangat tinggi. Namun begitu, menurut Tri S. Sunoko,
Dirut PT Angkasa Pura II, untuk mendukung proyek ini Pemprov Jabar juga harus
mempercepat pembangunan akses infrastruktur yang menuju bandara. Proyek tol
Cileunyi-Sumedang-Dawuan diharapkan dapat rampung sebelum bandara ini resmi
beroperasi.
Perataan Tanah Proyek Bandara Kertajati

(sumber : skyscrapercity.com)
Walaupun PT Angkasa Pura II saat ini sedang berkonsentrasi dalam pengembangan
Bandara Kertajati, bukan berarti Bandara Husein Sastranegara di Bandung ditinggalkan
begitu saja. Menurut mereka keduanya memilik area tangkapan yang berbeda.
Sehingga keberadaan dua bandara ini dapat saling mendukung satu sama lain.
Bandara ini diharapkan dapat selesai pada tahun 2017 mendatang.

Kebutuhan pengembangan bandara berkonsep kota atau airport city sudah mendesak seiring
mayoritas sudah over capacity. Untuk itu, diperlukan kerjasama semua pihak, karena pemerintah
mengalami keterbatasan dana, bahkan regulator dinilai menjadi faktor penghambat
pengembangan lalu lintas udara.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan menyatakan ketertarikannya untuk membantu


pengembangan bandara di Indonesia, namun dengan cara menggandeng pengusaha-
pengusaha asal AS yang berpengalaman dibidang kebandarudaraan.

Pengusaha property kawakan Ciputra mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat
melakukan pembangunan airport city seiring kebutuhan yang tinggi.

"Soal airport city ini merupakan kesempatan besar bagi Angkasa Pura untuk melakukan
transformasi bandara menjadi kluster, pusat kegiatan masyarakat," kata Ciputra saat menjadi
pemateri dalam Seminar Global Airports Indonesia 2012, di Jakarta, Selasa (26/6/2012).

Dia menjelaskan untuk membangun bandara menjadi airport city ini yang terpenting adalah
pasar yang sudah ada, serta harus didukung pemerintah.
"Saya dahulu bangun kota tidak ada modal, sekarang saya sudah membangun 70 kota di
Indonesia termasuk membangun pusat rekreasi Ancol. Sekarang pengunjung Ancol sudah 50
juta orang, lalu kami kembangkan dengan membangun perumahan," kata Ciputra.

Menurutnya, tantangan bagi pengelola bandara untuk terus mengembangkan bandara sama
seperti upayanya mengembangkan kota termasuk super blok Ciputra World.

"Jadi saya melihat untuk bandara punya kesempatan besar untuk membangun kota dalam kota.
Harus punya perencanaan 50-100 tahun kedepan untuk memindahkan bandara ke lahan lain,
karena nantinya akan sangat mahal sekali," tutur Ciputra.

Libatkan swasta

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan jumlah penumpang pesawat


udara di Indonesia tumbuh 15% per tahun, sehingga 25 bandara utama yang dikelola PT
Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II mengalami over capacity (kelebihan penumpang).

"Over capacity di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura sudah lebih dari 100%. Ini
diatasi dengan menetapkan pembangunan bandara dalam Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)," kata Bambang.

Dia menjelaskan, dalam MP3EI periode 2010-2025, pemerintah mencatat kebutuhan untuk
pengembangan bandara-bandara di Tanah Air menelan dana Rp32 triliun, atau jauh lebih kecil
ketimbang membangun jalur kereta api yang mencapai Rp326 triliun dan pelabuhan Rp117
triliun.

"Untuk memenuhi kebutuhan dana pengembangan bandara ini, kami akan mengajak pihak
swasta turut membiayai," tuturnya. (sut)

Rembug Soloraya pada 21 Desember 2013 lalu yang diadakan oleh


HarianSolopos bekerja sama dengan Hotel Horison Gambir Anom, Ngemplak,
Boyolali, dengan tema Mengembangkan Airport City di Kawasan Bandara Adi
Soemarmo perlu ditindaklanjuti para pemangku kebijakan.

Kepala daerah dan DPRD se-Soloraya bersama PT Angkasa Pura dengan


difasilitasi Gubernur Jawa Tengah perlu duduk bersama untuk
membuatplatform pengembangan kawasan bandara tersebut. Konsep
termutakhir kawasan bandara tidak hanya berfungsi sekadar tempat
beroperasinya maskapai penerbangan.

Peran bandara telah bergeser menjadi pintu gerbang perekonomian,


penunjang kegiatan pariwisata, perdagangan, serta simpul dalam jaringan
transportasi. Model bisnis bandara telah bertransformasi dengan menerapkan
konsep airport cityyang memberikan berbagai macam pelayanan yang tidak
hanya terbatas untuk penerbangan, namun juga memberikan pelayanan
kegiatan bisnis.

Konsep airport city menjadi relevan untuk dikembangkan agar Bandara Adi
Soemarmo bisa menjadi pusat kegiatan perekonomian terpadu; di dalamnya
terdapat berbagai fasilitas yang terintegrasi untuk melayani kebutuhan warga
kota seperti pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, gedung pertemuan, tempat
hiburan, pusat rekreasi, dan sebagainya.

Akses menuju bandara juga harus dibangun karena kebutuhan infrastruktur


jalan yang memadai, dan terkoneksi dengan seluruh pusat keramaian se-
Soloraya. Jika itu terealisasi, akan terwujud kawasan bandara dan sekitarnya
sebagai kota satelit Kota Solo. Saya mengusulkan dengan nama Kota Solo
Barat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kota satelit adalah: (1) kota baru
yang dibangun di dekat atau di pinggir sebuah kota besar dalam rangka
peluasan kota; (2) kota yang terletak di pinggir atau berdekatan dengan kota
besar, yang secara ekonomis, sosial, administratif, dan politis tergantung pada
kota besar itu.

Dalam ensiklopedia terbuka Wikipedia, kota satelit adalah kota kecil di tepi
sebuah kota besar yang meskipun merupakan komunitas mandiri, tetapi
sebagian besar penduduknya tergantung dengan kehidupan di kota besar.
Biasanya penghuni kota satelit ini adalah komuter (orang yang pulang pergi
setiap hari untuk bekerja) dari kota besar tersebut. Misalnya, Depok adalah
sebuah kota satelit Jakarta.

Tiga Alasan

Mengapa Bandara Adi Soemarmo perlu dikembangkan menjadi airport city?


Setidak-tidaknya ada tiga alasan yang perlu disampaikan. Pertama,
Kecamatan Ngemplak, Boyolalidaerah di mana Bandara Adi Soemarmo
beradasecara alamiah akan tumbuh menjadi kawasan perkotaan dan
menjadi salah satu daerah perluasan Kota Solo.

Ditinjau dari sisi demografis, pertumbuhan penduduk Ngemplak termasuk


yang tertinggi jika dibandingkan dengan kecamatan lain di Boyolali. Bagi para
pekerja di Kota Solo, Ngemplak menjadi salah satu daerah alternatif yang
menarik untuk tempat tinggal: dekat dengan Solo, bebas banjir, dan
ketersediaan air yang cukup.

Kedua, daerah dekat bandara, yakni Desa Denggungan, Kecamatan


Banyudono, Boyolali direncanakan menjadi titik temu jalan tol Solo-Semarang,
Solo-Jogja, dan Solo-Ngawi. Artinya, daerah sekitar bandara akan menjadi
daerah yang menarik untuk investasi dan perumahan. Daerah-daerah sekitar
titik temu jalan tol dan bandara akan bergeliat dan tumbuh, yang meliputi
daerah perbatasan Solo, Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali.

Ketiga, Ngemplak memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daerah


industri wisata. Ngemplak punya waduk peninggalan penjajah Belanda, yakni
waduk Cengklik. Waduk Cengklik perlu direvitalisasi. Pengerukan sedimentasi
menjadi keharusan guna meningkatkan volume air yang kemudian dihitung
dan (bisa) dijual ke PDAM Solo, di samping untuk kepentingan irigasi
pertanian dan perikanan.

Waduk ini harus dikembangkan dengan desain sebagai industri wisata yang
tidak terpisahkan dengan airport city. Melihat tiga alasan tersebut,
mengembangkan kawasan Bandara Internasional Adi Soemarmo
menjadiairport city mempunyai dasar pijakan, meski tidak secara utuh
menjiplak konsep airport city seperti yang dikenalkan kali pertama oleh John
D. Kasarda.

Airport leaves the city, the city follows the airport, and the airport becomes a
city tidak berlaku untuk pengembangan Bandara Adi Soemarmo
menjadiairport ciy, karena konsep pengembangan ini tidak bermaksud
merelokasi bandara.
Egoisme Daerah

Yang dibutuhkan dari seluruh kepala daerah dan DPRD se-Soloraya adalah
komitmen mereka untuk mengembangkan Soloraya secara bersama-sama,
dengan menanggalkan egoisme daerah yang acap kali justru kontra produktif.

Tuntutan perubahan nama Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo


menjadi Bandara Adi Soemarmo Boyolali hanya karena alasan lokasi bandara
berada di wilayalah administratif Pemerintah Kabupaten Boyolali yang
mengemuka beberapa waktu lalu adalah salah satu tanda masih kentalnya
aroma egoisme itu.

Padahal, kalau pun bandara itu telah dinamakan dengan kata Boyolali, apa
nilai tambah yang diperoleh Boyolali secara ekonomi? Dipastikan tidak ada.
Sebaliknya, pemerintah daerah se-Soloraya justru perlu mengeksploitasi
nama Solo untuk kepentingan dan keuntungan bisnis.

Nama Solo itu lebih menjual secara ekonomi. Pencitraan dan pelabelab
suatu daerah dengan meminjam nama Solo akan menjanjikan keuntungan
bisnis. Keberadaan Solo Baru, meski secara wilayah yuridis ada di Kabupaten
Sukoharjo, namun de facto itu menjadi bagian dari Kota Solo secara bisnis,
sehingga Solo Baru berkembang menjadi sentra ekonomi.

Kalau saja pengembangan sentra bisnis tersebut tidak menggunakan nama


Solo, dipastikan daerah tersebut tidak sukses tumbuh seperti saat ini.
Pengembangan kota satelit Soloraya di daerah Bandara Adi Soemarmo dan
sekitarnya dengan ikon airport city tentu harus dengan nama Solo, sehingga
rasa memiliki itu juga dirasakan seluruh warga Soloraya.

Seperti yang dikatakan pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah


Surakarta, Anton A. Setyawan, sinergi untuk mewujudkan mimpi Kota Solo
Barat di kawasan Bandara Adi Soemarmo tersebut gampang diomongkan,
namun sukar diwujudkan. Egoisme sektoral dan visi pemimpin politik lokal
menjadi salah satu kendalanya.

Ketika Bupati Boyolali mengotot merencanakan merelokasi kantor


pemerintah kabupaten, saya pun mengotot menolaknya. Ketika itu saya
beralasan dana ratusan miliar rupiah itu lebih baik digunakan untuk memenuhi
kebutuhan rakyat, termasuk di dalamnya pembangunan infrastruktur jalan.

Jika saja usulan saya tersebut diterima dan dana ratusan miliar rupiah
tersebut untuk stimulasi pembenahan infrastruktur jalan di kawasan Bandara
Adi Soemarno maka mimpi Boyolali mempunyai Kota Solo Barat itu sudah
ada di depan mata.

Angkasa Pura I semakin mengembangkan konsep airport city sebagai senjata utama
mereka dalam meluaskan sayap bisnis. Saat ini Angkasa Pura I mengelola 13
bandara yang tersebar pada kawasan Indonesia bagian tengah dan timur.
Konsep airport city dari Angkasa Pura I ini pertama kali diterapkan pada bandara I
Gusti Ngurah Rai di Bali.

Saat ini, adalah waktunya untuk menerapkan konsep airport city yang tidak
hanya menjadikan bandara sebagai tempat naik turun penumpang semata, tapi juga
pusat dari kegiatan bisnis dari beragam sektor, seperti logistik, properti, dan lainnya.
Tidak mustahil dengan adanya konsep airport city ini dapat meningkatkan angka
penumpang. Hal ini sudah dibuktikan oleh Angkasa Pura I, kata Marketing &
Business Development Director Robert Daniel Waloni dalam acara BUMN
Marketeers Club ke-32 di kantor Angkasa Pura I, Jakarta (9/12/2014).

Melalui beragam tranformasi yang dilakukan terjadi peningkatan jumlah penumpang


dalam lima tahun belakang ini. Pada tahun 2009, angka penumpang domestik
berjumlah 8,8 juta penumpang dan hingga kuartal III tahun 2014, Angkasa Pura I
berhasil menyedot 15,6 juta penumpang. Tidak hanya itu, angka kunjungan
penumpang mancanegara pun ikut meningkat. Tercatat pada 2009 terdapat 2,2 juta
penumpang, sementara hingga kuartal III tahun 2014 Angkasa Pura I berhasil
mencatat 3,5 juta penumpang. Terbukti dengan konsep yang sudah dicanangkan ini
Angkasa Pura I berhasil meningkatkan angka kunjungan.

Konsep airport city ini bukanlah konsep yang mudah, karena membutuhkan
kolaborasi dari berbagai pihak tidak hanya Angkasa Pura I saja sebagai pengelola
bandara. Konsep airport city harus dapat mengkolaborasikan sektor bisnis dan
pemerintah, industri, logistik, dan turisme dan menempatkan bandara sebagai
pusatnya. Terlebih, konsep airport city harus juga mempertimbangkan
konsepintegrated. Konsep integrated airport ini sangatlah penting, tidak hanya
memikirkan airport-nya saja, tetapi juga bagaimana akses dari dan menuju airport,
ujar Robert.

Konsep integrated ini sudah berhasil diterapkan pada bandara I Gusti Ngurah Rai.
Bandara terbesar di Pulau Bali ini, dapat menghubungkan lokasi-lokasi bisnis,
kawasan turisme, dan pelabuhan di Benoa. Dalam mengembangkan konsep airport
city, Angkasa Pura I juga mengembangkan bisnis-bisnis dari anak perusahaan. Anak
perusahaan Angkasa Pura I meliputi ritel,logistik, supports, hotel, dan
properti. Terlalu bertumpu pada sektor aeronautika saja tidak sehat bagi sebuah
bandara, makanya kami mengembangkan juga sektor non aeronautika, tambah
Robert.

Baginya kepuasaan utama penumpang adalah pada pelayanan. Maka wajib bagi
sebuah bandara dalam memberikan pelayanan yang maksimal dan memahami
kebutuhan para penumpang. Penumpang hanya akan mengeluarkan uang mereka
di bandara apabila penumpang itu terpuaskan dengan pelayanan yang ada di
Bandara. Nantinya, masih ada beberapa bandara yang akan menerapkan
konsep airport city, tutup Robert.

Infrastruktur dan bandara di Indonesia akan dikembangkan


secara terpadu dengan kawasan sekitarnya serta ada
peningkatan standar pelayanan.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Scot Marciel, pada Selasa
(26/6/2012) mengatakan, Amerika Serikat dan Indonesia akan melakukan
pembenahan infrastruktur seperti pengembangan bandar udara (bandara)
di Indonesia melalui program kemitraan komprehensif antara dua negara.

Kami akan fokus membawa perusahaan-perusahaan terbaik dalam


industri penerbangan di Amerika Serikat untuk datang ke Indonesia, tidak
hanya untuk menciptakan peluang-peluang bisnis baru tetapi juga
membantu Indonesia mencapai tujuan, dengan cepat melanjutkan
pembangunan infrastruktur penerbangan, ujar Marciel saat membuka
lokakarya Global Airports Indonesia 2012.

Berlangsung selama dua hari, lokakarya yang diadakan oleh PT. Angkasa
Pura I dan II serta Kedutaan Besar AS, itu dihadiri oleh para ahli dan
pengusaha-pengusaha berpengalaman dalam industri penerbangan global.
Kegiatan ini bertujuan membangun jaringan untuk pengembangan
infrastruktur dan bandara di Indonesia dengan konsep Airport City, yaitu
konsep terpadu dengan pengembangan kawasan di sekitarnya dan
peningkatan standar pelayanan.
Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Soesantono, mengatakan bahwa
mengacu pada kerangka Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI), pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp 32
triliun untuk membenahi bandara selama periode 2010-2025.

Tidak semua daerah harus punya bandara karena sekali lagi membangun
bandara berarti tidak hanya fisik bandaranya saja, tetapi kita juga harus
membangun aksesnya, misalnya keterkaitannya dengan daerah sekitarnya.
Daerah di belakangnya itu penting. Jangan sampai kita bangun bandara
tetapi yang terjadi demand-nya kurang, ujar Bambang.

Menurutnya, pembenahan bandara di Indonesia tidak akan mengabaikan


masalah keamanan. Saat ini hampir semua dari 25 bandara yang ditangani
oleh Angkasa Pura telah mengalami perubahan wajah.

Kita mengembangkan lima bandara utama nasional yakni di Medan,


Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar dan tambah satu lagi mungkin di
Balikpapan, kata Bambang.

Direktur Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengatakan konsep pengelolaan


bandar udara telah mengalami perkembangan dan perubahan baik dari
segi bentuk maupun dari segi fungsinya.

Saat ini bandara telah memiliki fasilitas yang lengkap dari sebuah kota dan
menjadi tempat terpadu dari pusat perbelanjaan mewah, tempat konferensi
dan pameran, hotel dan penginapan, kawasan bisnis, pengiriman barang,
kawasan industri, pusat hiburan dan lain sebagainya.

Konsep Airport City telah efektif diadopsi oleh banyak bandara terbaik di
dunia dan terbukti menjadi instrumen jitu yang dapat meningkatkan
pelayanan kepada pelanggan. Konsep ini pada dasarnya merupakan konsep
pengembangan bandara yang terpadu dengan pengembangan kawasan di
sekitarnya dan meningkatkan standar pelayanan yang dapat meningkatkan
pendapatan operator bandara, ujar Tommy.

Indonesia memiliki 233 bandara, 25 diantaranya dikelola BUMN, 13


bandara di bawah Angkasa Pura I dan 12 bandara dibawah Angkasa Pura
II, 1 bandara dikelola oleh Freeport Indonesia sementara sisanya dikelola di
bawah pengawasan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan
RI.

SEJAK diberlakukan UU No 1/2009 tentang Penerbangan, lingkungan usaha kebandarudaraan


telah mengalami perubahan paradigma mendasar. Pendapatan aeronautical tidak lagi menjadi
sumber pemasukan utama.
PT Angkasa Pura tak lagi mengelola sumber pendapatan di bidang navigasi penerbangan atau
aeronautical revenue. Pengelolaan diserahkan kepada Perum Penyelenggara Pelayanan Navigasi
Penerbangan Indonesia (PPNPI).
Ya, peran bandara terus berubah seiring dengan peningkatan tuntutan masyarakat pengguna
jasa serta pergerakan pesawat. Pengembangan PT Angkasa Pura ke depan pun akan didasari
oleh Airport City Concept, wujud perubahan paradigma bisnis bandara.
Perubahan itulah yang menjadikan PT Angkasa Pura melakukan reformasi bisnis.
PT Angkasa Pura adalah perusahan jasa yang bergerak dalam bidang bandara yang meliputi
pelayanan darat (land side) dan pelayanan udara (air side).
Sumber pendapatan BUMN tersebut berasal dari dua sumber, yakni, aeronautical revenues atau
pendapatan yang diperoleh dari dari usaha yang terkait langsung dengan aktivitas
penerbangan, serta non aeronautical revenues, yaitu pendapatan yang diperoleh dari usaha
yang tidak berkaitan dengan aktivitas penerbangan.
Struktur pendapatan yang terlalu didominasi oleh aeronautical revenues tidak sehat, karena
pertumbuhan pendapatan bukan karena bisnis yang diciptakan oleh perusahaan.
Perusahaan hanya menampung, melayani, dan mendapatkan bayaran dari pertumbuhan trafik
yang terjadi. Fluktuasi produksi atau trafik penumpang, kargo, dan pesawat terjadi di luar
kontrol manajemen.
Begitu pula struktur dan golongan tarif, ditetapkan oleh pihak regulator.
Terus mengandalkan pada pendapatan aeronautical berarti menempatkan perusahaan pada
posisi yang bergantung kepada pihak lain.
Karena itu, bandara terkemuka di dunia terus-menerus meningkatkan non aeronautical
revenues untuk mengganti dominasi aeronautical revenues dalam upaya menyehatkan struktur
pendapatan atau bisnis.
Pendapatan non aeronautical itulah yang sekarang dibidik oleh PT Angkasa Pura I sebagai
pengelola Bandara Internasional A Yani agar menjadi sumber pendapatan dominan.
Bandara di Ibu Kota Jateng itu mulai mengincar peluang usaha yang berpotensi; salah satunya
melalui rencana menggandeng beberapa BUMN untuk mendirikan unit bisnis di lingkungan
bandara.
General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional A Yani, Priyo Jatmiko, berharap
reformasi bisnis dapat dilakukan bersamaan dengan penyelesaian perluasan bandara yang
ditargetkan pada 2013.
Tahap Pengurukan
Rencananya, terminal penumpang baru dibangun seluas 75.000 meter persegi. Saat ini,
pembangunan masuk tahap pengurukan tanah apron.
Kehadiran terminal baru dengan investasi sekitar Rp 1 triliun itu sudah digadang-gadang PT
Angkasa Pura I untuk mengembangkan sayap bisnis, yaitu di bidang transportasi darat dan
stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Semua direncanakan menggandeng BUMN, antara lain DAMRI untuk angkutan bus dari bandara,
dan Pertamina untuk SPBU. Selain itu, ada rencana membuka rute perjalanan internasional
baru Semarang-Jeddah.
Dalam waktu dekat, kami akan melengkapi sistem telekomunikasi di bandara dengan fasilitas
wi-fi. Selama ini, fasilitas itu dan internet hanya ada di lounge, belum pada area publik, jelas
Priyo.
Dibandingkan dengan 2011, pertumbuhan Bandara Internasional A Yani mencapai 19,74%. Meski
begitu, saat ini masih merugi. Pada 2011, kerugian yang ditanggung Rp 6 miliar.
Alasan merugi karena jumlah penumpang yang datang dan berangkat setiap hari masih sekitar
2.500 orang. Jumlah pendapatan dari penumpang melalui pembayaran airport tax atau
pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) hanya menyumbang 10% pendapatan
bandara. Adapun pendapatan non aeronautical menyumbang 75%.
Melalui reformasi bisnis, pada 2013 PT Angkasa Pura ingin meningkatkan pendapatan non
aeronoutical sebesar 25% dari total pendapatan, dan 60% pada 2020.
Salah satunya dengan cara mendirikan empat anak perusahaan, yakni Angkasa Pura Hotels,
Angkasa Pura Property, Angkasa Pura Logistic, dan Angkasa Pura Supports.
Kita tunggu saja, bagaimana Bandara Internasional A Yani menyiapkan diri menuju kelas dunia
lewat pengembangan dengan menyediakan beberapa fasilitas lengkap serupa kawasan sentra
bisnis dalam suatu kota.

Salah satu sarana yang paling banyak dipakai dalam menjalankan aktivitas
pepindahan penduduk dan barang antar negara adalah bandar udara. Tingginya
penggunaan bandara oleh masyarakat ini menjadikan pengelolaan bandara
membutuhkan perhatian khusus dari pengelolaannya.Bagi pengelola bandar udara,
semakin banyaknya aktivitas dan kebutuhan customerdi bandar udara dapat
dijadikan sebagai peluang sekaligus tantangan. Hal ini disebabkan peningkatan
aktivitas di bandar udara, yang dapat membuat bandara mengalami overcapacity.
Jikaovercapacity ini tidak ditangani dengan tepat maka dapat mengakibatkan
berkurangnya kepuasan konsumen pada layanan bandara, hilangnya customer
bandara, maupun munculnya konsekuensi biaya penanggulangan resiko. Namun,
apabila dapat disikapi dengan bijak oleh pegelola bandara melalui perkembangan
bisnis dapat menciptakan peluang bisnis baru dengan pasar yang potensial.

Sebagai suatu bentuk industri, jasa pengelolaan bandara merupakan strategi


dalam menyeimbangkan supply dan demand. Supply pada pelayanan jasa
kebandarudaraan berasal dari sumber daya dan kemampuan perusahaan pengelola
bandara dalam memenuhi kebutuhancustomer. Semakin tinggi supply yang
diberikan, pengelola bandara menuntut timbal balik berupa pembayaran tarif yang
tinggi pula. Sedangkan, demand pada pelayanan jasa kebandarudaraan terbentuk
oleh kebutuhan customer akan fasilitas pendukung transportasi maupun gaya hidup
yang berkualitas dengan biaya yang rendah.
Mengingat akan keseimbangan pasar yang ingin dicapai, pengelola bandara
perlu mengatur startegi dalam memberikan layanannya. Salah satu startegi yang
sedang berkembang saat ini adalah perubahan paradigma City
Airport menjadi Airport City seperti yang telah banyak digunakan oleh bandara-
bandara internasional dunia seperti Changi Airport Singapur dan Inchon Airport
Korea Selatan.
Konsep Airport City muncul sebagai jawaban atas tuntutan global terhadap
kebutuhan transportasi dan gaya hidup customer sekaligus pencapaian profit
perusahaan pengelola bandara. Dengan demikian, bandar udara tidak hanya
menjalankan fungsi konvensionalnya sebagai fasilitator antara maskapai
penerbangan dan penumpang pesawat, tetapi juga menjalankan fungsi bisnis secara
menyeluruh. Hal ini dapat diartikan bahwa bandar udara berorientasi pada
pencapaian profit dengan pemanfaatan seluruh sumber daya yang dimiliki dengan
menjalankan unit- unit bisnis lain. Adapun unit- unit bisnis yang dapat dijalankan oleh
bandar udara dengan konsep Airport Citymeliputi: pusat perbelanjaan, tempat
eksibisi dan konferensi, hotel, jasa pengiriman kargo, serta pusat hiburan.
Dalam kaitannya dengan bisnis kebandaraudaraan, konsep Airport
City memiliki peranan penting dalam pencapaian customer satisfaction, economic
contribution, dan environment conservation. Hal ini dikarenakan proses bisnis yang
dijalankan sudah terintegrasi, sehingga interaksi antar stakeholder (customer,
pengelola bandara, pengusaha) bisa berjalan selaras dan saling menguntungkan.
Dari segi customer satisfaction, konsep Airport City akan membuatcustomer merasa
lebih puas karena bandara telah dilengkapi berbagai fasilitas yang mereka butuhkan.
Dari sisi environment conservation, konsep Airport City memberikan peluang bagi
tumbuhnya kawasan bisnis di sekitar bandara, sehingga aktivitas ekonomi
masyarakat semakin mudah dan berkembang lebih pesat. Sementara itu, dari
sisi economic contribution, pengelola bandara dapat memperoleh keuntungan dari
dua aspek. Aspek pertama yaitu peningkatan pendapatan yang berasal dari Airport
Service Charge yang berkorelasi dengan peningkatan kepuasancustomer.
Sedangkan, aspek yang kedua adalah pendapatan yang berasal dari kerja sama
usaha seperti konsesi dan sewa tempat di wilayah bandara. Aspek kedua inilah yang
akan menjadi sasaran kontribusi pendapatan terbesar pengelola bandara dalam
konsep Airport City