Anda di halaman 1dari 32

JENIS-JENIS METODE DALAM BAHASA INDONESIA

1) Metode Audiolingual
Metode audiolingual sangat mengutamakan drill (pengulangan). Metode itu muncul
karena terlalu lamanya waktu yang ditempuh dalam belajar bahasa target. Padahal untuk
kepentingan tertentu, perlu penguasaan bahasa dengan cepat. Dalam audiolingual yang
berdasarkan pendekatan struktural itu, bahasa yang diajarkan dicurahkan pada lafal kata,
dan pelatihan pola-pola kalimat berkali-kali secara intensif. Guru meminta siswa untuk
mengulang-ulang sampai tidak ada kesalahan.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan adalah (a) penyajian dialog atau teks
pendek yang dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks
yang dibaca, (b) peniruan dan penghafalan teks itu setiap kalimat secara serentak dan
siswa menghafalkannya, (c) penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan, (d)
dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan
kelas, dan (e) pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan.
2) Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa.
Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan
ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini
dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau
disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula
sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga merupakan produk yang dapat dilihat dan
diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas
yang berhasil.
Contohnya menyampaikan pesan kepada orang lain yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Tujuan itu dapat dipecah menjadi (a) memahami pesan, (b) mengajukan
pertanyaan untuk menghilangkan keraguan, (c) mengajukan pertanyaan untuk
memperoleh lebih banyak informasi, (d) membuat catatan, (e) menyusun catatan secara
logis, dan (f) menyampaikan pesan secara lisan.
Dengan begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi
dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif.
3) Metode Produktif
Metode produktif diarahkan pada berbicara dan menulis. Siswa harus banyak
berbicara atau menuangkan gagasannya. Dengan menggunakan metode produktif
diharapkan siswa dapat menuangkan gagasan yang terdapat dalam pikirannya ke dalam
keterampilan berbicara dan menulis secara runtun. Semua gagasan yang disampaikan
dengan menggunakan bahasa yang komunikatif.
Yang dimaksud dengan komunikatif di sini adalah adanya respon dari lawan bicara.
Bila kita berbicara lawan bicara kita adalah pendengar, bila kita menulis lawan bicara kita
adalah pembaca.
4) Metode Langsung
Metode langsung berasumsi bahwa belajar bahasa yang baik adalah belajar yang
langsung menggunakan bahasa secara intensif dalam komunikasi. Tujuan metode
langsung adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara
alamiah seperti penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat.
Siswa diberi latihan-latihan untuk mengasosiasikan kalimat dengan artinya melalui
demonstrasi, peragaan, gerakan, serta mimik secara langsung.
5) Metode Partisipatori
Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara
penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai
subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru
hanya bersifat sebagai pemandu atau
fasilitator.
Dalam metode partisipatori siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun,
bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa
dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu
yang penuh dengan motivasi,
pandai berperan sebagai moderator dan kreatif. Konteks siswa menjadi
tumpuan utama.
6) Metode Membaca
Metode membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks
bacaan yang diperlukan dalam belajar siswa.
Berikut langkah-langkah metode membaca:
(1) pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal ini
diberikan dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat
(2) Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca dengan diam selama 10-15 menit
(untuk mempercepat waktu, bacaan dapat diberikan sehari sebelumnya)
(3) Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab
(4) Pembicaraan tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika
dipandang perlu oleh guru
(5) Pembicaraan kosakata yang relevan
(6) Pemberian tugas seperti mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat
denah, skema, diagram, ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan dengan isi
bacaan.
7) Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke
dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa
tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, konkret,
dan konseptual.
Tema yang telah ditentukan haruslah diolah dengan perkembangan lingkungan siswa
yang terjadi saat ini. Begitu pula isi tema disajikan secara kontemporer sehingga siswa
senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan
terdiskusikan di kelas. Tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara
konkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang
dipunyainya. Konsep-konsep dasar tidak terlepas. Siswa berangkat dari konsep ke analisis
atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
8) Metode Kuantum
Quantum Learning (QL) merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari
metode Freire dan Lozanov. QL mengutamakan kecepatan belajar dengan cara
partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya
belajar mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL bahwa
proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu dapat berarti
setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, serta sejauh mana guru mengubah lingkungan,
presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah proses belajar berlangsung.
Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk
belajar. Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat
peta pikiran dengan cepat.
9) Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group Work)
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kecil merupakan metode yang banyak
dianjurkan oleh para pendidik. Metode ini dapat dilakukan untuk mengajarkan materi-
materi khusus. Kerja kelompok kecil merupakan metode pembelajaran yang berpusat
kepada siswa. Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahunan sendiri melalui bekerja
secara bersama-sama. Tugas guru hanyalah memonitor apa yang dikerjakan siswa. Yang
ingin diperolah melalui kerja kelompok adalah kemampuan interaksi sosial, atau
kemampuan akademik atau mungkin juga keduanya.
10) Metode Alamiah
Metode ini banyak memiliki nama, yaitu metode murni, metode natural atau
customary method. Metode ini memiliki prinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti
bahasa kedua) harus sesuai dengan kebiasaan belajar berbahasa yang sesungguhnya
sebagaimana yang dilalui oleh anak-anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses alamiah
inilah yang harus dijadikan landasan dalam setiap langkah yang harus ditempuh dalam
pengajaran bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia.
Seperti Anda ketahui proses belajar bahasa anak-anak dimulai dengan mendengar,
kemudian berbicara, kemudian membaca dan akhirnya menulis atau mengarang. Jadi
pada awal pelajaran, gurulah yang banyak berbicara/bercerita dalam rangka
memperkenalkan bunyi-bunyi, kosa kata dan struktur kalimat sederhana. Setelah mereka
dapat menyimak dengan baik, kemudian anak-anak diajak berbicara dan selanjutnya
mulai diperkenalkan dengan membaca dan menulis.
11) Metode Terjemahan
Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan
untuk pengajaran bahasa asing, termasuk dalam hal ini Bahasa Indonesia yang pada
umumnya merupakan bahasa kedua setelah penggunaan bahasa ibu yakni bahasa daerah.
Prinsip utama pembelajarannya adalah bahwa penguasaan bahasa asing dapat dicapai
dengan cara latihan terjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu murid atau ke
dalam bahasa yang dikuasainya. Misal: latihan terjemahan dari Bahasa Indonesia ke
dalam bahasa daerah atau dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Kelebihan
metode ini dalam hal kepraktisan dalam pelaksanaannya dan dalam hal penguasaan
kosakata dan tatabahasa dari bahasa yang baru dipelajari siswa.
12) Metode Pembatasan Bahasa
Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur
bahasa yang akan diajarkan. Pembatasan itu dalam hal kekerapan atau penggunaan
kosakata dan urutan penyajiannya. Kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya
di masyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa. Pola-pola
kalimat, perbendaharaan kata, dan latihan lisan maupun tulisan dikontrol dengan baik
oleh guru.

Metode membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan yang
diperlukan dalam belajar siswa.
Berikut langkah-langkah metode membaca:
a) pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal ini diberikan
dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat
b) Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca dengan diam selama 10-15 menit (untuk mempercepat
waktu, bacaan dapat diberikan sehari sebelumnya)
c) Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab
d) Pembicaraan tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika dipandang perlu oleh
guru
e) Pembicaraan kosakata yang relevan
f) Pemberian tugas seperti mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat denah, skema,
diagram, ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan dengan isi bacaan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Membaca


Metode Membaca ini lahir dari pemikiran para ahli pengajaran bahasa
asing pada awal abad 20. Teori ini dipelopori oleh beberapa pendidik Inggris
dan Amerika. (West 1926), yang mengajar bahasa Inggris di India,
berpendapat bahwa belajar membaca secara lancar jauh lebih penting bagi
orang India yang belajar bahasa Inggris dibanding berbicara. West
menganjurkan suatu penekanan pada membaca bukan hanya karena dia
menganggap hal itu sebagai ketrampilan yang paling bermanfaat yang harus
diperoleh dalam bahasa asing tetapi juga karena hal itulah yang paling
mudah, ketrampilan dengan nilai tambah yang paling besar pada siswa pada
tahap-tahap awal pembelajaran bahasa.1[2]
Metode membaca ini memang mendapat banyak kritik-kritik, baik pada
metode waktu itu dianjurkan di Amerika. Begitu pula selama perang dunia II
tatkala kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa merupakan prioritas
nasional di Amerika Serikat. Akan tetapi, sejak perang itu terdapat suatu
pembaharuan minat dalam pengajaran bahasa-bahasa untuk tujuan-tujuan
tertentu seperti membaca sastra dan pustaka ilmiah. Di luar Amerika Serikat
pada tahun 1929-an metode membaca ini mulai digunakan.
Membaca merupakan kemampuan mengenali dan memahami isi sesuatu
yang tertulis (lambang-lambang tertulis) dengan melafalkan atau
mencernanya di dalam hati. Membaca hakekatnya adalah suatu proses
komunikasi antara pembaca dan penulis melalui teks yang ditulisnya, maka
secara langsung di dalamnya ada hubungan kognitif antara bahasa lisan dan
bahasa tulisan. Tarigan (1994/III:7) melihat bahwa membaca adalah proses
yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan
yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa
tulis.
Metode membaca adalah menyajikan materi pelajaran dengan cara lebih
dahulu mengutamakan membaca, yakni guru pertama membacakan topik
bacaan, dan diikuti oleh peserta didik, tapi kadang-kadang guru dapat

1
menunjuk langsung anak didik untuk membacakan pelajaran tertentu
terlebih dahulu, dan yang lain memperhatikan dan mengikutinya.2[3]
Membaca melibatkan tiga unsur, yaitu: makna sebagai unsur isi bacaan,
kata sebagai unsur yang membawakan makna, dan simbol tertulis sebagai
unsur visual. Perpindahan simbol tertulis ke dalam bahasa ujaran itulah,
menurut Ibrahim (1962:57), disebut membaca.3[4]

B. Karakteristik Metode Membaca


1. Tujuan utamanya adalah kemahiran membaca.
2. Materi pelajaran berupa buku bacaan utama dengan suplemen daftar kosa
kata dan pertanyaan-pertanyaan isi bacaan, buku bacaan penunjang untuk
perluasan (extensif reading / ) , buku latihan mengarang
terbimbing dan percakapan.
3. Basis kegiatan pembelajaran adalah memahami isi bacaan. Pemahaman isi
bacaan melalui proses analisis, tidak dengan penerjemahan harfiah,
meskipun bahasa ibu boleh digunakan dalam mendiskusikan isi teks.
4. Membaca diam lebih diutamakan dari pada membaca keras.
5. Kaidah bahasa diterangkan seperlunya tidak boleh berkepanjangan. 4[5]

C. Ciri-ciri Metode Membaca


1. Biasanya metode ini memulai dengan memberi latihan sebentar kepada
siswa tentang ketrampilan bertutur kemudian mendengarkan beberapa
kalimat sederhana dan mengucapkan kata-kata serta kalimat hingga siswa
mampu menyusun kalimat. Berangkat dari inilah bahwa bentuk yang disusun
oleh siswa tentang aturan tutur bahasa akan memberi andil dalam
mengembangkan ketrampilan berkomunikasi.
2. Setelah siswa berlatih mengucapkan beberapa kalimat kemudian mereka
membacanya dalam teks. Guru bertugas mengembangkan sebagian
ketrampilan membaca dalam hati bagi murid-murid.

4
3. Setelah itu para siswa membaca teks dengan Qiraah jahriyah (membaca
dengan keras) yang diikuti dengan beberapa pertanyaan seputar teks untuk
menguatkan pemahaman.
4. Membaca terbagi menjadi dua macam yaitu membaca intensif dan
membaca lepas, masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Membaca
intensif bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar
membaca dan ketrampilan ini membutuhkan perbendaharaan kata serta
pengetahuan kaidah-kaidah tata bahasa. Ketrampilan membaca ini
mengembangkan ketrampilan pemahaman bagi siswa di bawah bimbingan
guru kelas.
5. Adapun Qiraah lepas maka bisa dilaksanakan di luar kelas. Dibenarkan guru
memberikan tugas kepada siswa untuk membaca dan membatasi apa yang
harus dibaca serta mendiskusikannya.
6. Membaca lepas memberikan andil dalam pencapaian siswa pada khazanah
arab, membaca kitab-kitab dan semi arab. Dan dari sini akan memberikan
tambahan pemahaman mengenai kebudayaan arab.5[6]

D. Macam-macam Metode Membaca


1. Membaca nyaring (al-Qiraah al-Jahriyyah)
Membaca Nyaring adalah membaca dengan melafalkan atau
menyuarakan simbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang
dibaca. Metode membaca ini lebih cocok diberikan kepada pelajar tingkat
pemula. Tujuan utamanya adalah agar para pelajar mampu melafalkan
bacaan dengan baik sesuai dengan bunyi dalam bahasa Arab.
2. Membaca diam / membaca dalam hati (al-Qiraah al-Shamitah)
Membaca diam atau bisa di sebut membaca dalam hati adalah membaca
dengan tidak melafalkan simbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau
kalimat yang dibaca, melainkan hanya mengandalkan kecermatan eksplorasi
visual. Atau bisa dikatakan membaca tanpa mengeluarkan ujaran, tetapi
cukup di dalam hati.
Tujuan membaca dalam hati adalah penguasaan isi bacaan, atau
memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan dalam waktu

5
yang cepat. Membaca dalam hati lebih efektif dalam memahami isi bacaan
jika dibandingkan dengan membaca nyaring.6[7]

3. Membaca pemahaman
Membaca yang dilakukan agar tercipta suatu pemahaman terhadap isi
yang terkandung dalam bacaan. Dalam membaca pemahaman, seseorang
siswa harus mampu menangkap pokok-pokok pikiran yang lebih tajam
sehingga setelah selesai membaca, ia benar-benar memahami makna dan
tujuan bacaan.
4. Membaca kritis
Kegiatan membaca yang menuntut pembaca mampu mengerti,
memahami, kemudian mengemukakan suatu pertanyaan apa dan
bagaimana pokok pikiran yang terkandung dalam suatu bacaan. Membaca
kritis penuh dengan penilaian dan kesimpulan.
5. Membaca ide
Membaca ide merupakan kegiatan membaca yang bertujuan mencari,
mendapatkan, dan memanfaatkan ide-ide yang terkandung di dalam
bacaan.7[8]

E. Langkah-Langkah Pembelajaran Metode Membaca dan Contoh


Materi
Adapun prosedur dan teknik pengajaran Bahasa Arab dengan
menggunakan metode membaca (thariqah al-qiroah), berikut langkah-
langkah penyajiannya:8[9]
1. Guru memulai pembelajaran dengan memberikan kata-kata dan ungkapan
yang dianggap sulit yang akan ditemui oleh siswa di dalam teks,
menjelaskan makna kata-kata dan ungkapan tersebut dengan definisi,
konteks dan contoh dalam kalimat lengkap.

8
2. Setelah itu siswa diminta untuk membaca dalam hati teks bacaan yang
sudah diprogramkan selama kurang lebih 25 menit.
3. Kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan diskusi mengenai kandungan /
isi bacaan yang bisa berupa tanya-jawab dengan menggunakan bahasa ibu
siswa.
4. Setelah menguasai isi bacaan, guru membimbing siswa menyimpulkan
suatu aturan tata bahasa dalam bahan bacaan. Dan jika dirasa perlu, guru
akan memberikan penjelasan tentang tata bahasa tersebut secara singkat.
5. Kalau masih ada kosakata yang belum dipahami oleh siswa, maka
pembelajaran akan dilanjutkan dengan pembahasan kosakata yang belum
dipahami atau belum dibahas sebelumnya.
6. Berikutnya, para siswa akan mengerjakan tugas-tugas yang ada
dalambuku suplemen, yaitu menjawab pertanyaan tentang isi bacaan latihan
menulis terbimbing, dsb.
7. Setelah selesai mengerjakan latihan, bahan bacaan perluasan diberikan
untuk dipelajari di rumah dan hasilnya dilaporkan pada pertemuan
berikutnya (efendi, 2005:42)
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, kegiatan membaca adalah
kemampuan mengenali dan memahami isi sesuatu yang tertulis dengan
melafalkan atau mencernanya di dalam hati. Oleh karena itu, membaca
memerlukan sebuah konsentrsi tingkat tinggi. Membaca dapat dikatakan
berhasil jika pembaca memahami sesuatu yang dibaca. Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam kegiatan membaca adalah sebagai berikut:9[10]
a. Lingkungan yang tenang dan nyaman sangat mendukung terhadap
konsentrasi dalam kegiatan membaca. Sebaliknya, lingkungan yang gaduh
dan kondisi udara yang panas akan mengganggu konsentrasi, dantujuan
membaca akan gagal.
b. Tingkatkan pengetahuan pembaca yang sesuai dengan tingkatan bacaan
akan mempengaruhi keberhasilan membaca. Bacaan yang tidak sesuai

9
dengn tingkat pengetahuan pembaca akan menyulitkan dalam pemahaman
isi bacaan.
c. Bacaan yang cocok dan diminati oleh pembaca akan mudah dicerna dan
dipahami.
d. Dalam membaca nyaring, diperlukan intonasi bacaan yang tepat.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Membaca


Di antara kelebihan metode membaca adalah sebagai berikut :
1. Para siswa mampu membaca dengan baik terhadap pembelajaran bahasa
asing, baik membaca nyaring, membaca dalam hati, ataupun membaca
pemahaman.
2. Para siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan dengan baik.
3. Para siswa mampu menguasai mufradat dengan baik.
4. Para siswa memahami dengan baik tentang penggunaan nahwu dan sharaf.
Kekurangan metode membaca adalah sebagai berikut :
1. Meskipun para siswa kuat dalam membaca, tetapi bukan membaca nyaring,
mereka lemah dalam pelafalan.
2. Para siswa lemah dalam ketrampilan menyimak, berbicara, dan siswa juga
lemah dalam kemampuan tabir tahriri (menulis karangan).
3. Karena kosa kata yang dikenalkan hanya yang berkaitan dengan bacaan,
maka para siswa lemah dalam memahami teks yang berbeda

Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa.
Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan
ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini
dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau
disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula
sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga merupakan produk yang dapat dilihat dan
diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas
yang berhasil.
Contohnya menyampaikan pesan kepada orang lain yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Tujuan itu dapat dipecah menjadi (a) memahami pesan, (b) mengajukan
pertanyaan untuk menghilangkan keraguan, (c) mengajukan pertanyaan untuk
memperoleh lebih banyak informasi, (d) membuat catatan, (e) menyusun catatan secara
logis, dan (f) menyampaikan pesan secara lisan.
Dengan begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi
dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Metode pembelajaran merupakan suatu cara bagaimana seorang guru menjalankan suatu
prosedur dan pelaksanaan pembelajaran. Metode tersebut ada karena sebuah signifikansi dari
sebuah pembelajaran agar siswa dan guru dapat berinteraksi dengan baik. Pemilihan metode
pembelajaran yang baik adalah metode yang menyesuaikan pada pelajaran yang akan
disampaikan guru. Tujuan dari metode pembelajaran yakni cara mengarahkan guru dalam
menyampaikan pelajaran secara baik agar dapat diterima oleh murid-murid secara jelas.
Penulis disini akan menggunakan metode komunikatif dalam proses pembelajaran.
Menurut penulis metode tersebut sangat cocok bagi pembelajaran bahasa. Dalam metode ini
dituntut komunikasi dua arah bagi guru dan si murid (two-ways) . Pada komunikasi itu sendiri
mempunyai salah satu tujuan yang penulis anggap penting yakni behavior change (perubahan
kebiasaan). Melalui behavior change, pemerolehan bahasa target akan cepat diterima oleh murid.
Komunikasi juga salah satu alat bagi seseorang yang ingin mempercepat mengembangkan
bahasanya secara tepat dan cepat.

B. Rumusan Masalah
1) Apa pengertian metode komunikatif?
2) Ada berapa aktifitas yang mungkin dilakukan dalam metode komuniktif?
3) Dimanakah metode komunikatif diterapkan?
4) Apa saja langkah-langkah penyajian metode kounikatif?
5) Apakah ada kekunggulan dan kelemahan dalam metode komunikatif?
C. Tujuan dan Manfaat
Makalah ini kami buat agar mahasiswa bisa memahami dan memprktekkan metode
komunikatif dalam kegiatan belajar mengajar pada anak didiknya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Komuikatif


Metode komuikatif adalah sebuah metode yang lebih mengandalkan kreativitas para
palajar dalam melakukan latihan. Pada tahap ini keterklibatan guru secara langsung mulai
dikurangi untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk mngembangkan kemampuan sendiri.
Para pelajar pada tahap ini ditekankan untuk lebih banyak berbicara dari pada guru. Secara
pikologis setiap kelas mmiliki keendrungan, pandangan dan kemampuan kolektif yang tidak
sama, oleh bab itu guru harus pandi memanfaatkan kondisi ini agar setiap embelajaran yang
dilakukan setidaknya memberikan kegairahan kepada mereka.

B. Hakikat Metode Komunikatif


Metode ini merupakan modifikasi dari metode Gramatika-Terjemah yang menekankan
unsur penjelasan dan pemahaman secara komunikatif. Metode komunikatif didasarkan atas
asumsi bahwa setiap manisia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan alat
pemerolehan bahasa. Oleh karena itu kemampuan berbahasa bersifat kreatif dan lebih
ditentukan oleh faktor internal. Oleh karena itu relevansi dan efektifitas kegiatan pembiasaan
dengan metode latihan stimulus-respense-inforcement dipersoalkan.
Richards dan Rodgers (1986) mendeksripsikan Pengajaran Bahasa Komunikatif (CLT)
sebagai suatu pendekatan ketimbang suatu metode, karena ia didefinisikan dalam istilah-istilah
yang luas dan medan mewakili suatu filosofi pengajaran yang didasarkan pada penggunaan
bahasa yang komunikatif.
Asumsi yang lain ialah bahwa belajar bahasa kedua dan bahasa asing sama seperti belajar
bahasa pertama, yaitu berangkat dari kebutuhan dan minat pelajar. Oleh karena itu analisis
kebutuhan pelajar merupakan landasan dalam pengembangan materi pelajaran. Prinsip
pendekatan komunikatif yakni pemerolehan bahasa pada siswa secara verbal (informasi verbal).
Siswa telah belajar informasi verbal apabila ia mengingat kembali informasi itu. Indikator yang
biasanya dipakai untuk kapabilitas ini berupa : menyebutkan atau menuliskan informasi seperti
nama, kalimat, alasan, argumen, proporsi, atau seperangkat proposisi yang terkait.

C. Karakteristik Metode Komunikatif


Kelahiran pendekatan komunikatif (PK) merupakan hasil dari sejumlah kajian tentang
pemerolehan bahasa (iktisab al-lugah) dan berbagai penelitian mengenai metode pengajaran
bahasa di Eropa dan Amerika pada tahun 70-an.
Beberapa karakteristik dalam metode komunikatif :
1) Tujuan pengajarannya ialah mengembangkan kompetensi pelajar berkomunikasi dengan bahasa
target dalam konteks komunikatif yang sesungguhnya atau dalam situasi hidup yang nyata.
Tujuan PK tidak ditekankan pada penguasaan gramatika atau kemampuan membuat kalimat
gramatikal, melainkan pada kemampuan memproduk ujaran yang sesuai konteks.
2) Salah satu konsep yang mendasar dari PK adalah kebermaknaan dari setiap bentuk bahasa yang
dipelajari dan keterkaitan bentuk , ragam, dan makna bahasa dengan situsi dan konteks
berbahasa itu.
3) Dalam proses belajar-mengajar, siswa bertindak sebagai komunikator yang berperan aktif dalam
aktifitas komunikatif yang sesungguhnya. Sedangkan pengajar memprakarsai dan merancang
berbagai pola interaksi antar siswa, dan berperan sebagai fasilitator.
4) Aktifitas dalam kelas diwarnai secara nyata dan dominan oleh kegiatan-kegiatan komunikatif,
bukan dril-dril manipulatif dan peniruan-peniruan tanpa makna (Tadrib babgha :iy).
5) Penggunaan bahasa ibu dalam kelas tidak dilarang tetapi diminimalkan.
6) Dalam PK,kesilapan siswa ditoleransi untuk mendororng keberanian siswa berkomunikasi.
7) Evaluasi dalam PK ditekankan pada kemampuan menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata,
bukan penguasaan struktur bahasa gramatika.
8) Urutan materi pelajaran ditentukan oleh isi, fungsi, dan atau makna yang akan memelihara minat
siswa.

D. Kompetensi Komunikatif (KK)


1. Pengertian KK
Kompetensi komunikatif adalah suatu penekanan pada kefasihan dan penggunaan bahasa
yang berterima, merupakan tujuan pembelajaran. Akurasi (ketepatan) tidak diukur secara abstrak,
tetapi dalam konteks. Secara ringkas Hymes (1972), menyebut empat faktor yang membangun
dan menjadi ciri penanda PK, yaitu kegramatikalan, keberterimaan, keterlaksanaan. Brown
(1987) memaknai kompetensi komunikatif sebagai kompetensi yang memungkinkan seseorang
untuk meneruskan pesan, menafsirkannya, dan memberinya makna dalam interaksi antar
individu dalam konteks yang spesifik. Dengan kata lain, seseorang dapat dikatakan memiliki
kompetensi komunikatif hanya apabila ia dapat menggunakan bahasa dengan ragam yang tepat
menurut situasi dan hubungan pembicara dan pendengar.

2. Karakteristik KK
Savignon (1983) menyebutkan 5 karakteristik KK, yang diringkaskan sebagai berikut :
1) KK bersifat dinamis, tergantung kepada negosiasi makna antara dua penutur atau lebih yang
sama-sama mengenal pemakaian bahasa. KK dengan demikian lebih bersifat interpersonal
daripada intrapersonal.
2) KK berlaku untuk bahasa lisan, bahasa tulis, dan berbagai sistem simbol lainnya.
3) KK bersifat kontekstual. Karena komunikasiterjadi pada berbagai situasi, maka pemakai bahasa
harus memilih ragam dan gaya bahasa yang sesuai dengan situasi dan lawan bicara yang
dihadapinya.
4) Berkaitan dengan teori yang membedakan antara kompetensi dan performansi, kompetensi
adalah apa yang diketahui sedangkan performansi adalah apa yang dilakukan. Dengan demikian,
hanya performansi yang bisa diamati, dikembangkan, dipertahankan, dan dievaluasi.
5) KK bersifatrelatif, tidak absolut, dan tergantung pada kerjasama di antara partisipan yang
terlibat.
Penulis melihat bahwasannya kompetensi strategis sangat mempengaruhi daripada
metode komunikatif. Kompetensi strategis adalah kemampuan menguasai strategi komunikasi
verbal dan non-verbal, untuk keperluan :
1) Mengatasi kemacetan komunikasi yang terjadi karena kondisi tertentu, misalnya keterbatasan
kosakata atau gramatika.
2) Meningkatkan efektivitas komunikasi.
Strategi para frase, misalnya dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan mengenai
kterbatasan kosa kata. Strategi memperlambat atau memperlunak ujaran bisa digunakan untuk
memberikan efek retoris.
E. Prinsip-prinsip Metode Komunikatif
Ricard dan Rodgers (1986) menyatakan bahwa walaupun Pengajaran Bahasa
Komunikatif (CLT) tidak menuntut suatu teori khusus dari pembelajaran bahasa sebagai
dasarnya, terdapat berbagai premis toritis yang dapat di deduksi mengenai pendekatan ini:
1) Prinsip Komunikasi : aktivitas yang mencakup komunikasi dapat meningkatkan pembelajaran
bahasa.
2) Prinsip Tugas : aktivitas yang mencakup pelaksanaan tugas-tugas dunia nyata dapat
meningkatkan pembelajaran bahasa.
3) Prinsip Penuh Makna : siswa harus disibukkan dalam penggunaan bahasa penuh makna dan
autentik.

F. Aplikasi Metode Komunikatif


Aplikasi metode komunikatif yang akan penulis sajikan berupa penerapan metode
komunikatif dalam silabus, langkah-langkah penyajian.
1. Penerapan metode komunikatif dalam silabus
Di dalam KTSP bahasa Arab MTS terdapat rumusan Standar Kompetensi(SK) dan (KD)
untuk keempat keterampilan bahasa. Dalam satu tahun ada dua tema, oleh karena itu rumusan
SK dan KD dibuat per semester. Pada Kompetensi belajar mengajar ditekankan pada aktif
berkomunikasi dan diskusi.
2. Langkah-langkah penyajian
Salah satu prosedur proses belajar mengajar dalam PK dilukiskan oleh Finochiaro dan
Brumfit sebagai berikut :
1) Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam
dialog itu dan situasi di mana dialog itu mungkin terjadi.
2) Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok secara perorangan, kelompok atau klasikal.
3) Pertanyaan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertanyaan serupa tetapi
langsung mengenai situasi masing-masing pelajar. Di sini kegiatan komunikatif yang sebenarnya
telah dimulai.
4) Siswa membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dalam dialog
5) Siswa diharapkan menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam
dialog. Guru memfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpulan.
6) Pelajar melakukan kegiatan menafsirkan dan menyatakan suatu maksud dari latihan komunikasi
yang lebih bebas dan tidak sepenuhnya berstruktur.
7) Pengajar melakukan evaluasi dengan mengambil sampel dari penampilan pelajar dalam kegiatan
komunikasi bebas.

G. Langkah-langkah Penyajian Metode Komunikatif


Salah satu prosedur proses belajar belajar mengajar dalam MK dilukiskan oleh finochiaro
dn brumfit (dlam huda, 1990) sebagi berikut:
1) Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam
dialog itu dan situasi diman dialog itu mungkin terjadi.
2) Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok scara perorangan, kelompok atau klasikal.
3) Pertanyan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertnyaan serupa tetapi
langsung mengeni situasi masing-masing pelajar. Disini kegiatan komunikatif yang sebenarnya
dimulai.
4) Kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dalam dialog.
5) Siswa diharapkan menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam
dialog. Guru menfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpulan.
6) Pelajar melakukan kegiatan menafsirkan dan menyatakan suatu maksud sebagai bagian dari
latihan komuniki yang lebih bebas tidak sepenuhnayberstruktur
7) Pengajar melakukan evaluasi dngan mengambil sample dari penampilan pelajar dalam kgitan
komunikasi bebas.

H. Keunggulan dan Kelemahan Metode Komunikatif


1. Keunggulan
1) Pelajar termotivasi dalam belajar karena pada hari pertama pelajaran, langsung dapat
berkomunikasi dengan BT (dalam batas fungi nosi, kegiatan berbahasa, dan keterampilan
tertentu).
2) Pelajar lancar berkomunikasi, dalam arti menguasai kompetensi, gramatikal, sosiolinguistik,
wacana, dan strategis.
3) Susana kelas hidup dngan aktivitas komunikasi antar pelajar dengan berbagai model intraksi dan
tingkat pembahasan yang cukup tinggi, sehingga tidak membosankan.
2. Kelemahan
1) Memerlukan guru yang menguasai keterampilan komunikatif secara memadai dalam BT.
2) Kemampuan membaca, dalam keterampilan tinggkat ambang, tidak mendapatkan porsi yang
cukup.
3) Kontak langsung keaktivitas komunikatif bisa menyulitkan siswa pada tingkat permulaan.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dari pemaparan makalh diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Metode komuikatif adalah sebuah metode yang lebih mengandalkan kreativitas para palajar
dalam melakukan latihan
2. Langkah-langkah penyajian:
1) Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam
dialog itu dan situasi diman dialog itu mugkin terjadi.
2) Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok scara perorangan, kelompok atau klasikal.
3) Pertanyan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertnyaan serupa tetapi
langsung mengeni situasi
masing-masing pelajar.
Kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dlam dialog.
Siswa diharapkan menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam
dialog
Pelajar melakukan kegiatan menafsirkan dan menyatakan suatu maksud sebagai bagian dari
latihan komuniki yang lebih bebas tidak sepenuhnya berstruktur.
Pengajar melakukan evaluasi dngan mengambil sample dari penampilan pelajar dalam kgitan
komunikasi bebas.
3. Keunggulan:
1) Pelajar termotivasi dalam belajar karena pada hari pertama pelajaran, langsung dapat
berkomunikasi dengan BT (dalam batas fungi nosi, kegiatan berbahasa, dan keterampilan
tertentu)
2) Pelajar lancar berkomunikasi, dalam arti menguasai kompetensi, gramatikal, sosiolinguistik,
wacana, dan strategis.
3) Susana kelas hidup dngan aktivitas komunikasi antar pelajar dengan berbagai model intraksi dan
tingkat pembahasan yang cukup tinggi, sehingga tidak membosankan.
4. Kelemahan:
1) Memerlukan guru yang menguasai keterampilan komunikatif secara memadai dalam BT.
2) Kemampuan membaca, dalam keterampilan tinggkat ambang, tidak mendapatkan porsi yang
cukup.

B. Kritik dan Saran


Dalam pembuatan makalah diatas, mungkin masih terdapat banyak kesalahan atau
kekurangan. Karena keterbatasan kemampuan kami oleh karena itu, kami mohon kepada teman-
teman dan khususnya bapak pengampuh dalam bidang ini untuk membimbing kami dalam
membuat makalah yang lebih sempurna.
Metode Alamiah
Metode ini banyak memiliki nama, yaitu metode murni, metode natural atau customary method.
Metode ini memiliki prinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuai
dengan kebiasaan belajar berbahasa yang sesungguhnya sebagaimana yang dilalui oleh anak-
anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses alamiah inilah yang harus dijadikan landasan dalam
setiap langkah yang harus ditempuh dalam pengajaran bahasa kedua, seperti bahasa Indonesia.
Seperti Anda ketahui proses belajar bahasa anak-anak dimulai dengan mendengar,
kemudian berbicara, kemudian membaca dan akhirnya menulis atau mengarang. Jadi
pada awal pelajaran, gurulah yang banyak berbicara/bercerita dalam rangka
memperkenalkan bunyi-bunyi, kosa kata dan struktur kalimat sederhana. Setelah mereka
dapat menyimak dengan baik, kemudian anak-anak diajak berbicara dan selanjutnya
mulai diperkenalkan dengan membaca dan menulis.

Metode Alamiah

Metode alamiah pertama kali diungkapkan oleh Tracy D. Terrel dengan


nama Natural Approach dirintis pada tahun 1977 dengan menerapkan
prinsip-prinsip "Naturalistik " pada ilmu pemerolehan bahasa kedua. Tujuan
awal metode ini adalah untuk pengembangan pembelajaran bahasa
perancis. Selanjutnya metode ini dikembangkan dan digunakan untuk
pembelajaran bahasa lain diseluruh dunia.
Istilah alamiah "Natural" dalam metode ini berdasarkan pada suatu
pandangan bahwa penguasaan suatu bahasa lebih banyak bertumpu pada
pemerolehan bahasa ( ) dalam konteks yang alamiah dibandingkan
dengan pembelajaran aturan-aturan yang secara sadar dipelajari satu per
satu () . Focus dari metode ini adalah makna dari komunikasi-
komunikasi sejati dibandingkan pada ketepatan bentuk ucapan.10[1]

10
1. Pendekatan Metode Alamiah
a. Hakikat bahasa
Para pencetus metode ini menjelaskan hakikat bahasa dan
menekankan pada keunggulan makna. Peran kosakata merupakan hal yang
penting dan sangat ditekankan, selanjutnya mereka menjelaskan bahwa
bahasa adalah kumpulan kosakata yang secara tidak konsekuen. Tata bahasa
lah yang selanjutnya menekankan bagaimana kata tersebut dieksploitasi
untuk menghasilkan pesan-pesan yang dapat dimengerti oleh manusia.11[2]
Landasan dasar teori dari metode alamiah adalah bahasa sebagai alat
untuk berkomunikasi, menyampaikan maksud, makna dan pesan. Dari sini
bisa dilihat bahwa komunikasi berperan sebagai fungsi utama bahasa.
Karena pendekatan ini mempunyai focus pada pengajaran kemampuan
berkomunikasi. Maka metode alamiah ini kurang lebih sama dengan metode-
metode komunikatif lainnya.
b. Hakikat pembelajaran bahasa
Asumsi yang diyakini oleh para pendukung metode ini yang
berhubungan tentang pembelajaran bahasa dapat dijelaskan melalui lima
sumsi dasar sebagai berikut:
1) Hipotesis pemerolehan dan pembelajaran
Hipotesis ini menjelaskan bahwa proses penguasaan bahasa pada
orang dewasa terjadi melalui dua proses berbeda, yaitu pemerolehan dan
pembelajaran. Pemerolehan adalah formula dari aturanm-aturan gramatika
yang dilakukan dibawah sadar, sedangkan pembelajaran adalah studi
mengenai aturan-aturan gramatika yang dilakukan secara sadar.
Proses alamiah yang dilakukan oleh anak-anak dalam penguasaan
bahasa ibu adalah pemerolehan, sedangkan proses penguasaan bahasa
kedua adalah pembelajran. Karena pemerolehan yang dilakukan secara
bawah sadar, maka pengetahuan kebahasaan yang dimiliki melalui proses ini
selalu bersifat implisit. Sebaliknya, proses pembelajaran yang dilakukan

11
secara sadar menghasilkan pengetahuan kebahasaan yang bersifat
eksplisit.12[3]
2) Hipotesis urutan Alamiah
Hipotesis ini menjalaskan bahwa terdapat urutan-urutan alamiah
dalam pemerolehan bahasa. Dari segi tata bahasa misalnya, pola-pola
struktur gramatika diperoleh menurut urutan yang dapat diperkirakan. 13[4]
Kesalahan dalam berbahasa dianggap sebagai suatu perkembangan yang
alami. Lebih jauh lagi hipotesis ini menyatakan bahwa secara umum struktur
tertentu lebih cepat diperoleh daripada yang lain.
3) Hipotesis Monitor
Menyatakan bahwa hasil belajar secara sadar hanya dapat digunakan
untuk memonitor. Proses pembelajaran klasikal hanya mempunyai kegunaan
yang terbatas atau sekunder. Lebih jauh lagi jika seseorang menggunakan
bahasa kedua untuk berkomunikasi, maka ujaran-ujaran itu dihasilkan oleh
system yang diperoleh. Pengetahuan sadar hamper tidak berguna bagi
penggunaan bahasa kedua untuk berkomunikasi.
4) Hipotesis masukan
Menurut hipotesis ini, pemerolehan kemampuan berbicara dan
menulis terjadi setelah pemerolehan pemahaman lisan dan tulis.
Pemahaman lisan dan tulis merupakan hal yang harus didahulukan. Hipotesis
ini juga menekankan bahwa kemajuan pembelajar dari satu tingkat ke
tingkat yang lain dalam pemahaman harus didasarkan pada masukan yang
mengandung bahan yang satu tingkat lebih sulit daripada bahan yang telah
dikuasainya.
5) Hipotesis Saringan Sikap
Variable sikap siswa sangat penting dalam pemerolehan bahasa baru.
Jika sikap itu digambarkan sebagai saringan afektif, sikap negative akan
membuat siswatidak cukup terbuka untuk menerima masukan dari

12

13
lingkungannya dan sebaliknya. Sikap yang baik bisa dilaksanakan apabila
guru dapat menciptakan atmosfir kelas yang bebas dari perasaan cemas dan
menegangkan, diantaranya dengan cara: siswa tidak diharuskan untuk
berbicara sampai ia benar-benar siap; siswa boleh menjawab dengan
bahasanya sendiri; dan siswa tidak dikoreksi kecuali apabila kesalahan itu
dapat mengganggu proses komunikasi.14[5]
2. Tehnik Metode Almiah
Kegiatan aplikatif dari penerapan metode alamiah ini dapat dilakukan
dengan berbagai tehnik yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
berkomunikasi dalam bahasa sasaran. Selanjutnya, kegiatan pembelajaran
bahasa kedua dibagi dalam tiga tingkatan15[6], yaitu:
a. Tingkat Pemahaman
Pada tingkatan ini, kegiatan pembelajaran bahasa yang dilaksanakan
harus meliputi pelatihan-pelatihan intensif dalam pemahaman menyimak,
dengan syarat tidak menuntut pembelajar berbicara bahasa kedua. Hal ini
dapat dilakukan dengan:
1) Respon gerak total, guru melakukan beberapa perbuatan dengan menyebut
namanya dan pembelajar diminta untuk menirukannya dan
mempraktekkannya.
2) Tehnik demonstrative, guru menunjuk benda-benda yang berada dalam
kelas dengan menyebutkan nama-namanya dalam bahasa sasaran sampai
pembelajar memahaminya. Kemudian guru menyebutkan nama suatu benda
tersebut dan meminta pembelajar untuk menunjuk ulang.
3) Mempergunakan media visual.
b. Tingkat produksi permulaan
Tingkatan ini dapat dimulai pada waktu pembelajar sudah memiliki
sekitar lima ratus kosa kata dan sejumlah struktur yang diperlukan.

14

15
Pembelajra juga didorong untuk berbicara bahasa kedua dalam bentuk yang
paling sederhana dan paling mudah.
c. Tingkat produksi lanjut
Merupakan lanjutan dari tingkat produksi permulaan, dan mulai
dilakukan berbagai kegiatan permainan-permainan bahasa dan kegiatan
social, seperti kunjungan ke tempat-tempat tertentu yang mempergunakan
bahasa kedua sebagai alat komunikasi. Pembelajar pada tingkat ini tidak
diperbolehkan melakukan penerjemahan.16[7]
3. Kekurangan dan Kelebihan Metode Alamiah
a. Kekurangan
Kelemahan yang Nampak dalam metode ini adalah kurangnya
konsentrasi dalam peningkatan kecakapan para pembelajar karena jelas
metode ini membatasi tujuan kecakapan sampai pada taraf performansi
yang agak rendah. Selain itu metode ini tidak memberikan umpan korektif
pada para pembelajar yang sangat mereka butuhkan untuk meningkatkan
kecakapan mereka. Alokasi waktu yang digunakan untuk focus pada tata
bahasa juga sangat sedikit sehingga menimbulkan kebiasaan melakukan
kesalahan. Guru juga ditintut untuk lebih kreatif dalam penerapan metode ini
untuk memberikan pemahaman kepada siswa.
b. Kelebihan
Seperti halnya teori dan pendekatan yang lain dalam pengajaran
bahasa, metode alamiah memiliki keunggulan-keunggulan disamping juga
kelemahan. Keunggulan utama dari metode ini adalah tujuan komunikasi
yang diembannya. Pembelajar akan belajar komunikasi dasar interpersonal
sejak dini. Metode ini juga sangan efektif diterapkan pada tingkat dasar
dimana "silent period" akan berfungsi. Dalam artian, siswa tidak perlu bicara
kalau mereka belum siap untuk itu. Suasana santai juga akan terlihat saat
menerapkan metode ini karena tidak ada paksaan untuk berbicara bahasa
sasaran

16
DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, Asep. 2011. Metode Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Efendi, Ahmad Fuad. 2005. Metode Pengajaran. Malang: Misykat

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN METODE


DISKUSI

Oleh
Sumigiyati
(Mahasiswa PGSD FKIP UNTAN)
Abstrak: Metode diskusi merupakan salah satu metode untuk menyampaikan pembelajaran.
Penggunaan metode diskusi sebenarnya bukan saja sebagai salah satu penyampaian materi
pelajaran kepada siswa yang bersifat problematis, tetapi juga melatih anak dalam kehidupan
sehari-hari untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan membentuk kompetensi-
kompetensi sosial yang dibutuhkan. Dalam metode diskusi ini, siswa diharapkan lebih aktif dan
mampu memecahkan masalah. Tidak hanya itu, tetapi dengan menggunakan metode diskusi ini
juga dapat melatih siswa berbicara di
depan banyak orang, menghargai pendapat orang lain, serta mengeluarkan pendapat.
Kata Kunci: pembelajaran, metode diskusi, bahasa Indonesia

Pendahuluan
Metode diskusi diartikan sebagai cara penyampaian bahan pengajaran yang
melibataktifkan siswa untuk berbicara dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik
bahasan yang bersifat problematis. Guru, peserta dan atau kelompok siswa memiliki
perhatian yang sama terhadap topik yang dibicarakan dalam diskusi.
Metode diskusi dapat mendorong siswa untuk berdialog dan bertukar pendapat
baik dengan guru maupun teman-temannya sehingga mereka dapat berpartisipasi secara
optimal tanpa ada aturan-aturan yang berlaku keras namun tetap mengikuti etika yang
disepakati bersama. Menurut Suparlan (2007) diskusi dapat dilaksanakan dalam dua
bentuk yakni diskusi kelompok kecil dan diskusi kelas. Dalam pembelajaran bahasa
Indonesia, diskusi dapat membantu terjadinya komunikasi dua arah.
Selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, pembe-lajaran bahasa
indonesia juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar untuk
memperluas wawasan dan mempertajam kepekaan perasaan siswa. Oleh karena itu,
tujuan penerapan metode diskusi lebih ditekankan pada aspek keterampilan berbicara.
Dengan demikian, pembelajaran bahasa tidak hanya sekedar mendengarkan guru
menerangkan saja, tetapi diperlukan keaktifan siswa di dalam proses belajar mengajar,
sehingga terjalin interaksi baik antara siswa dengan siswa maupun dengan guru.
Sesuai dengan uraian di atas, maka yang menjadi masalah dalam artikel ini
adalah Bagaimana pembelajaran bahasa indonesia dengan menggunakan metode
diskusi?. Berdasarkan masalah umum diatas penulis merumuskan menjadi beberapa
masalah sub-sub masalah, yaitu:
1. Bagaimana proses pembe-lajaran bahasa indonesia dengan menggunakan metode
diskusi?
2. Bagaimana langkah-langkah pembelajaran dengan meng-gunakan metode diskusi?
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, tujuan umum penulisan artikel ini
adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran ba-hasa indonesia dengan menggunakan
metode diskusi. Berdasarkan tujuan umum tersebut, penulis menjabarkan menjadi
beberapa tujuan khusus, yaitu:
1. Untuk mendeskripsikan pro-ses pembelajaran bahasa Indonesia dengan meng-gunakan
metode diskusi
2. Untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembela-jaran melalui metode diskusi.

Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Metode Diskusi


Dalam KBBI (1980) metode mengandung arti cara yang teratur dan terpikir
untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan), cara bekerja konsisten untuk me-
mudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. T.Raka
Joni (1993) mengartikan metode sebagai cara kerja yang bersifat relative umum yang
sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga metode dapat diartikan sebagai cara
atau jalan untuk menyajikan atau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Metode adalah a way in achieving something (Wina Senjaya, 2008). Jadi,
metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk meng-
implementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang
dapat digunakan untuk mengimplementasi-kan strategi pembelajaran, diantara-nya:
ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, tanya jawab, pemberian tugas, kerja kelompok,
karya wisata dan penemuan.
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi,
memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.
Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk menginisiasi,
memfasilitasi,dan me-ningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan
erat dengan jenis hakikat, dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Pembelajaran
harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran.
Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosial-kultural dalam lingkungan
masyarakat.
Istilah pembelajaran me-rupakan istilah baru yang digunakan untuk
menunjukkan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya, kita menggunakan istilah proses
belajar-mengajar. Menurut Gagne, Briggs, dan Wager (1992), pembelajaran adalah
serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar
pada siswa. Istilah pembelajaran mengacu pada segala kegiatan yang berpengaruh
langsung terhadap proses belajar siswa. Kalau kita menggunakan kata pengajaran,
kita membatasi diri hanya pada konteks tatap muka guru-siswa di dalam kelas.
Sedangkan dalam istilah pembelajaran, interaksi siswa tidak dibatasi oleh kehadiran
guru secara fisik. Siswa dapat belajar melalui bahan ajar cetak, program radio, program
televisi, atau media lainnya. Tentu saja, guru tetap memainkan peranan penting dalam
merancang setiap kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pengajaran merupakan
salah satu bentuk kegiatan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran mengacu pada kemampauan atau kompetensi yang
diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu. Kegiatan
pembelajaran mengacu pada penggunaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik dan
media dalam rangka membangun proses belajar, antara lain membahas materi dan
melakukan pengalaman belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
optimal.
Umumnya situasi belajar kreatif lebih banyak menuntut siswa untuk aktif untuk
melakukan kegiatan fisik dan diskusi. Sebagai pengajar di kelas, kita tidak dapat
menuntut siswa untuk duduk rapi dan diam ditempatnya masing-masing. Guru harus
lebih toleran dan menyadari akan kesibukan siswanya. Namun, guru juga harus dapat
membedakan antara kesibukan yang aktif dan diskusi yang produktif dengan kesibukan
dan diskusi yang hanya sekedar mengobrol. Peran guru harus terbuka, mendorong
siswa untuk aktif belajar dapat menerima gagasan siswa, memupuk siswa untuk
memberikan kritik mem-bangun dan mampu memberikan penilaian terhadap diri
sendiri, menghindari hukuman atau celaan terhadap ide yang tidak biasa, dan menerima
perbedaan waktu dan kecepatan setiap siswa dalam menuangkan ide-ide barunya.
Pertanyaan yang me-rangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan divergen
(terbuka). Pertanyaan seperti ini dapat merangsang diskusi karena memiliki banyak
kemungkinan jawaban. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan
keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai
informasi mereka. Agar tampak manfaatnya, pertanyaan terbuka harus mencakup bahan
yang cukup dikenal siswa. Oleh karena itu, guru pun disarankan untuk tetap berada
dalam jalur tujuan instruksional dari suatu pokok bahasan.
Melalui diskusi kelompok, anak memperoleh pengalaman dan latihan
mengungkapkan diri secara lisan dan berkomunikasi dengan orang lain. Diskusi
memungkinkan pengembanmgan penalaran, pe-mikiran kritis, dan kreatif, serta
kemampuan memberikan per-timbangan dan penilaian. Di lain pihak peran guru juga
sangat penting karena ia harus menjadi fasilitator yang dapat mengenalkan masalah dan
memberikan informasi yang diperlukan siswa untuk membahas masalah. Selain itu guru
juga harus tahu pada saat kapan peran sertanya diperlukan, misalnya diskusi menjadi
menyimpang dari materi yang harus dibahas umtuk menghindari kesalahan-kesalahan
tersembunyi. Meskipun peran aktif dari siswa diperlukan, namun siswa juga tetap
memerlukan bimbingan dan pengarahan sesuai bakat dan kemampuannya.
Pertanyaan-pertanyaan, seperti apa akibatnya ...,seandainya ..., umumnya
pertanyaan yang dapat merangsang imajinasi siswa untuk menampilkan gagasan baru,
khususnya penemuan baru. Guru yang mendorong proses pemikiran yang tidak hanya
mengenai data yang sudah ada akan menghasilkan anak yang bukan hanya pelaksana,
tetapi juga pemikir, penemu maupun pencipta.
Tujuan digunakannya dis-kusi kelompok ini adalah melatih siswa untu
mengeluarkan pendapat, dan mau menerima kritikan kalau pendapatnya memang
kurang benar. Melalui diskusi kelompok ini siswa dapat menguji kebenaran pen-
dapatnya mengenai sesuatu hal.
Adakalanya dalam diskusi kelompok ini didominasi oleh siswa-siswa tertentu
saja. Untuk menghindari hal ini perlu adanya moderator yang dapat mengatur lalu lintas
pembicaraan di dalam diskusi kelompok tersebut.
Keunggulan diskusi ke-lompok sebagai suatu teknik dalam proses
pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain berikut ini.
1. Kadar CBSA-nya tinggi.
2. Memberi peluang kepada siswa untuk saling mengemukakan pendapat.
3. Mendorong terciptanya rasa kesatuan.
4. Dapat memperluas pandangan siswa.
5. Melatih mengembangkan ke-pemimpinan bagi siswa yang ditunjuk sebagai moderator.
Disamping keunggulannya, diskusi kelompok ini mempunyai kekurangan
sebagai berikut.
1. Tidak dapat digunakan secara efektif untuk kelompok yang besar.
2. Kalau tidak terkendali dapat menyimpang dari dari tujuan.
3. Membutuhkan moderator yang terampil.
4. Adakalanya hanya didominasi oleh siswa-siswa yang suka dan berani bicara.
Disamping itu, metode diskusi dapat melatih siswa menghargai pendapat orang
lain. Diskusi sebagai metode mengajar lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan kemampuannya, berpikir
kritis, menilai perannya dalam diskusi, memandang masalah dari pengalaman sendiri
dan pelajaran yang diperoleh di sekolah, me-motivasi dan mengkaji lebih lanjut.
Melalui diskusi dapat dikembangkan keterampilan mengklarifikasi, meng-klasifikasi,
menyusun hipotesis, menginterpretasi, menarik kesimpul-an, mengaplikasikan teori, dan
mengkomunikasikan pendapat. Melatih keberanian untuk meng-utarakan pendapat,
mempertahankan pendapat, dan memberi rasional sehubungan dengan pendapat yang
dikemukakannya.
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Itulah sebabnya
sejak diberlakukan kurikulum 1984 dalam pembelajaran bahasa digunakan pendekatan
komunikatif. Dengan pendekatan komunikatif ini siswa harus diberi kesempatan
sebanyak-banyaknya untuk melakukan komunikasi baik secara lisan maupun tulis.
Supaya siswa mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik
benar maka siswa perlu dilatih sebanyak-banyaknya atau diberi kesempatan sebanyak-
banyaknya untuk melakukan kegiatan ber-komunikasi. Itulah sebabnya, dalam
pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif, yang ditekankan adalah
mengembangkan kompetensi komunikasi siswa untuk mendukung performasi
komunikasi siswa.
Itulah sebabnya, mengapa metode diskusi sangat diperlukan dalam
pembelajaran bahasa Indonesia, karena metode diskusi menjadikan siswa untuk berpikir
secara rasional dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Metode diskusi juga
memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapat, dan memberikan
solusi terhadap masalah yang dibahas. Dengan demikian akan melibatkan siswa secara
aktif dalam proses pembelajaran yang sedang ber-langsung.

Langkah-Langkah Pembelajaran Menggunakan Metode Diskusi


Langkah-langkah diskusi sangat bergantung pada jenis diskusi yang digunakan.
Hal ini dikarenakan tiap-tiap jenis memiliki karakternya masing-masing. Oleh karena
itu, langkah dan atau prosedur pelaksanaannya berbeda satu dengan yang lainnya.
Meskipun demikian, secara umum untuk keperluan pembelajaran di kelas, langkah-
langkah diskusi kelas dapat dilaksanakan dengan prosedur yang lebih sederhana.
Moedjiono, dkk (1996) menyebutkan langkah-langkah umum pelaksanaan diskusi
sebagai berikut.
a. Merumuskan masalah secara jelas.
b. Dengan bimbingan guru, siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi, memilih
pimpinan diskusi (ketua, sekertaris, pelapor), mengatur tempat duduk, ruangan, sarana,
dan sebagainya sesuai dengan tujuan diskusi.
c. Melaksanakan diskusi. Setiap anggota diskusi hendaknya tahu persis apa yang akan
didiskusikan dan bagaimana cara berdiskusi. Diskusi harus berjalan dalam suasana
bebas, setiap anggota tahu bahwa mereka mempunyai hak bicara yang sama.
d. Melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil tersebut ditanggapi oleh semua siswa,
terutama dari kelompok lain. Guru memberi alasan atau penjelasan dari laporan
tersebut.
e. Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, dan guru me-ngumpulkan laporan hasil diskusi
dari setiap kelompok.
Budiardjo, dkk (1994: 20-23) membuat langkah penggunaan metode diskusi
sebagai berikut.
1. Tahap persiapan
a. Merumuskan tujuan pem-belajaran.
b. Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c. Mempertimbangkan karakteristik siswa dengan benar.
d. Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan merumuskan aspek-
aspek masalah, (2) menentukan alokasi waktu, (3) menentukan format su-sunan tempat,
(4) me-nentukan aturan main jalannya diskusi.
e. Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi, (2)
menentukan dan mengatur tempat, (3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
2. Tahap pelaksanaan
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Menyampaikan pokok-pokok yang akan di-diskusikan.
c. Menjelaskan prosedur diskusi.
d. Mengatur kelompok-kelompok diskusi.
e. Melaksanakan diskusi.
3. Tahap penutup
a. Memberi kesempatan kelompok untuk me-laporkan hasil diskusi.
b. Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c. Memberi umpan balik.
d. Menyimpulkan hasil diskusi.

Penutup
Simpulan yang dapat diambil berdasarkan uraian di atas adalah sebagai
berikut.
1. Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang atau lebih
untuk saling bertukar pen-dapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pe-
mecahan masalah sehingga didapat ke-sepakatan diantara mereka.
2. Metode diskusi men-jadikan siswa untuk berpikir secara rasional dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Metode diskusi juga memberikan kebebasan kepada siswa
untuk mengeluarkan pendapat, dan memberikan solusi terhadap masalah yang dibahas.
Saran yang dapat diberikan untuk mengefektifkan proses pembelajaran bahasa
Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Sebelum memulai pembelajaran, seorang guru harus membuat perencanaan
pembelajaran, memilih media yang dipakai, dan metode yang digunakan, sehingga
pembelajaran menjadi lebih menarik bagi anak, salah satunya yaitu metode diskusi yang
merupakan metode yang sangat efektif untuk dapat mengemukakan pendapat anak.
2. Untuk kelancaran dan efektivitas diskusi, guru harus dapat mengatur jalannya diskusi.
Oleh karena itu, guru harus mengetahui langkah-langkah diskusi sebagai pedoman
dalam mengelola pembelajaran.

Daftar Pustaka

Santosa, Puji, dkk. (2009). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Solehan, T. W. , dkk. (2008). Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winataputra, Udin S, dkk. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.