Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu unsur pembangun daya tubuh yang mengutamakan
kesehatan secara holistic.

Bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan


dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana dimaksud
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Salah satu dasar berpijak untuk mencapai Indonesia sehat 2010 adalah paradigma
sehat, yaitu pembangunan kesehatan jangka panjang yang mendorong masyarakat untuk
bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran yang lebih
tinggi pada upaya promotif dan preventif. Dalam melaksanakan upaya kegiatan yang
bersifat promotif dan prventif ini, pengaruh lingkungan perlu mendapat perhatian lebih
seksama oleh semua pihak, baik pleh tenaga kesehatan maupun masyarakat secara
keseluruhan ( Aditama, 2001 ).

Dalam dunia kesehatan kecelakaan merupakan salah satu penyebab peningkatan


angka kematian yang sulit untuk diatasi, kecelakaan dapat mengakibatkan berbagai trauma
atau cedera pada bagian tubuh bahkan dapat mengakibatkan kematian. Keadaan cedera
pada suatu bagian sistem muskuloskeletal biasanya menyebabkan cedera atau disfungsi
struktur di sekitarnya dan struktur yang dilindungi atau disangganya. Bila tulang patah, otot
tidak bisa berfungsi; bila saraf tak dapat menghantarkan impuls ke otot, seperti pada
paralisis, tulang tidak dapat bergerak; bila permukaan sendi tak dapat berartikulasi dengan
normal, baik tulang maupun otot tak dapat berfungsi dengan baik. Jadi, meskipun fraktur
secara primer hanya mengenai tulang, namun juga mengakibatkan cedera pada otot,
pembuluh darah, dan saraf disekitar daerah fraktur.
1
2

Penanganan cedera sistem muskuloskeletal meliputi pemberian dukungan pada bagian

yang cedera sampai penyembuhan selasai. Dukungan dapat diperoleh secara eksternal

dengan pemberian balutan, plester, bidai, atau gips. Selain itu, dukungan dapat langsung

dapat dipasang ke tulang dalam bentuk pin atau plat. Kadang, traksi harus diberikan untuk

mengoreksi deformitas atau pemendekan. Tapi bila trauma sudah berat Amputasi dapat

dianggap sebagai jenis pembedahan rekonstruksi drastis.

Amputasi adalah pemisahan anggota badan atau bagian tubuh lainnya dengan

pembedahan. (Ramali, 2003). . Penentuan reaksi emosional pasien terhadap amputasi

sangat penting untuk asuhan keperawatan. Respon berduka terhadap perubahan permanen

citra tubuh adalah normal. Meskipun bila amputasi ditunjukan untuk mengurangi nyeri dan

meningkatkan fungsi, penyesuaian psikologis masih diperlukan. Sistem pendukung yang

memadai dan bantuan profesional dapat membantu pasien untuk menghadapi keadaan akhir

setelah pembedahan amputasi.

Maka dengan itu, hal tersebut merupakan sebuah beban dan kerja keras bagi tim

kesehatan dimana dituntut untuk meminimalisirkan dampak yang dapat ditimbulkan setelah

amputasi.

1.2. Tujuan Penelitian


1.2.1. Tujuan Umum

Diharapkan mahasiswa mampu melakukan Asuhan Keperawatan Pada Pasien


Dengan post op amputasi secara baik dan benar.
3

1.2.2. Tujuan Khusus

1. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan post


op amputasi

2. Diharapkan mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien


dengan post op amputasi

3. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan intervensi keperawatan pada pasien


dengan post op amputasi

4. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada


pasien dengan post op amputasi

5. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien


dengan post op amputasi
4

BAB II
TEORITIS AMPUTASI

A. Konsep Penyakit
1. Definisi
Amputasi adalah pemisahan anggota badan atau bagian tubuh lainnya dengan

pembedahan. (Ramali, 2003)

Amputasi adalah pengangkatan melalui bedah/tromatik pada tungkai (Doengoes,

2002).

2. Etiologi

Amputasi pada ekstremitas bawah sering diperlukan sebagai akibat penyakit

vaskuler perifer progresif (sering sebagai gejala sisa bdiabetes mellitus). Gangren, trauma

(cedera remuk, luka bakar, luka bakar dingin, luka bakar listrik), deformitas kongenital,

atau tumor ganas.

Alasan utama amputasi ekstremitas adalah trauma berat (cedera akut, luka bakar

listrik, luka bakar dingin). Tumor ganas, infeksi (gas ganggren pulminal, osteomielitis

kronis) dan malformasi kongenital. Amputasi dapat dianggap sebagai jenis pembedahan

rekonstruksi drastis.

3. Tujuan

1. Menghilangkan gejala
5

2. Memperbaiki fungsi

3. Menyelamatkan atau memperbaiki kualitas hidup pasien

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi amputasi


4 :

a. Umur

b. Dukungan fisikologi

c. Rehabilitasi jangka panjang

d. Penyesuaian gaya hidup

4. Komplikasi

1. Perdarahan

2. Infeksi

3. Kerusakan kulit
6

5. Fatofolow

Faktor Etiologi
(Penyakit vaskular perifer progresif, DM, Gangren, trauma, Luka Bakar,
Deformitas Koongenital, Tumor ganas, Osteomielibitis)

Amputasi

Tindakan pembedahan

Terputusnya kontinuitas Kehilangan aggota Kerusakan << Informasi tentang


jaringan tubuh Mobilitas prosedur tindakan
Fisik infasif
Gangguan Citra
Tubuh Kesalahan interprestasi
informasi

Menstimulasi Media
Kurang Pengetahuan
Neuro transmiter berkembangnya
BPH kuman

Penurunan darah Pengeluaran Port de entry


aliran darah vena Neuro transmiter kuman
BPH
Resti Infeksi
Edema jaringan Medulla Spinalis

Pembentukan Korteks
hematoma serebri

Resti Perubahan SSP


Perfusi Jaringan
Persepsi Nyeri

Nyeri
7

6. Pemeriksaan Diagnostik

1. Rontgen : mengidentifikasi annormalitas tulang

2. CT Scan : mengidentifikasi lesi mio plastik

3. Angiografi

4. Biopsi

5. Hitung darah lengkap

6. LED : Peningian mengidentifikasi respon inflamasi

7. Penatalaksanaan

Tingkat amputasi pada ekstrimitas bawah :

Telapak pergelangan kaki

Bawah lutut (ABL)

Disartikulasi dan atas lutut Disartikulasi dan atas lutut

Disartikulasi lutut-panggul

Hemipelvektomi dan amputasi translumbar

Terdapat dua tipe amputasi

Terbuka (provisional) yang memerlukan tehnik aseptik ketat dan revisi lanjut.

Tertutup atau flap


8

BAB III
TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

1. Pengkajian

Sebelum pembedahan, status neurovaskuler dan fungsional ekstremitas harus

dievaluasi melalui riwayat dan pengkajian fisik (misalnya warna, suhu, denyut nadi,

penyebaran rambut, keadaan kulit, respon terhadap pengubahan posisi, sensasi, nyeri,

fungsi) sebuah dopler (alat ultrasonic yang dapat dibawa-bawa) dapat digunakan untuk

mengevaluasi aliran darah arteri. Keterbatasan rentang gerak dan adanya kontraktur fleksi

pinggul dan lutut harus segera diketahui, karena dapat mempengaruhi fungsi dan

kesesuaian prostesis. Bila pasien mengalami amputasi traumatik, fungsi dan kondisi sisa

tungkai harus dikaji.

Status peredaran darah dan fungsi ekstremitas yang sehat juga harus dikaji. Bila

infeksi atau ganggren telah terjadi, pasien mungkin mengalami pembesaran kelenjar limfa,

demam, dan pus. Dilakukan biakan untuk menentukan terapi antibiotika yang sesuai. Status

nutrisi pasien dievaluasi dan bila perlu dibuat rencana perawatan nutrisi. Sering kali, lansia

menunjukan nutrisi buruk, obes, atau sedang menjalani diet khusus karena juga menderita

masalah kesehatan lain untuk penyembuhan, diet yang seimbang dengan vitamin dan

protein yang memadai sangat penting. Setiap masalah kesehatan yang ada (dehidrasi,

anemia,insufiensi jantung, masalah respirasi kronik, diabetes mellitus) harus segera

teridentifikasi dan ditangani sehingga pasien berada dalam keadaan sebaik mungkin untuk

8
9

menghadapi trauma pembedahan. Penggunaan kortikosteroid, anti koogulan,

vasokontriktor, atau vasolidator dapat mempengaruhi pelaksanaan dan penyembuhan luka.

Status psikologis pasien dikaji. Penentuan reaksi emosional pasien terhadap

amputasi sangat penting untuk asuhan keperawatan. Respon berduka terhadap perubahan

permanen citra tubuh adalah normal. Meskipun bila amputasi ditunjukan untuk mengurangi

nyeri dan meningkatkan fungsi, penyesuaian psikologis masih diperlukan. Sistem

pendukung yang memadai dan bantuan profesional dapat membantu pasien untuk

menghadapi keadaan akhir setelah pembedahan amputasi.

2. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan harga diri/citra diri, penampilan peran, perubahan b/d factor biopsikal
kehilangan bagian tubuh

INTERVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Kaji atau pertimbangkan persiapan pasien Pasien yang memandang amputasi sebagai
dan pandangan terhadap amputasi pemotongan hidup atau rekontruksi akan
menerima diri yang baru lebih cepat

Dorong ekspesi ketajutan, perasaan negatif, Ekspresi emosi membantu pasien mulai
dan kehilangan bagian tubuh menerima kenyataan dan realitas hidup
tanpa tungkai

Beri penguatan informasi pasca operasi Memberikan kesempatan untuk


termasuk tipe/lokasi amputasi, tipe prostese menanyakan dan mengasimililasi informasi
bila tepat ( segera, lambat ), harapan dan mulai menerima perubahan gambaran
tindakan pasca operasi, termasuk kontrol diri dan fungsi, dan dapat membantu
nyeri dan rehabilitasi penyembuhan

Kaji derajat dukungan yang ada untuk Dukungan yang cukup dari orang terdekat
pasien dan teman dapat membantu proses
rehabilitasi
10

Diskusikan persepsi pasien tentang diri dan Membantu mangartikan maslah


hubungannya dengan perubahan dan sehubungan dengan pola hidup sbelumnya
bagaimana pasien melihat dirinya dalam dan membantu pemecahan masalah
pola/ peran fungsi yang biasanya
Dorong partisipasi dalam aktivitas sehari Meningkatkan kemandirian dan
hari meningkatkan perasaan harga diri

Dorong/ berikan kunjungan oleh orang Teman senasib yang telah melalui
yang telah diamputasi, khususnya pngalaman yang sama bertidak sebagai
seseorang yang berhasil dalam rehabilitasi model peran dan dapat memberikan
keabsahan pernyataaan juga harapan untuk
pemulihan dan masa depan normal

Berikan lingkungan yang terbuka pada Mnngkatkan pernyataan keyakinan/nilai


pasien untuk mendiskusikan masalah tentang subjek positif dan mengidentifikasi
tentang seksualitas kesalahan konsep/mitos yang dapat
mempengaruhi penilaian situasi

Perhatikan perilaku menarik diri, Mengidentifikasi tahap berduka/kebutuhan


membicarakan tentang hal negatif, untuk intervensi
penggunaan penyangkalan atua terus
menerus mlihat perubahan nyata/yang
diterima

Kolaborasi

Diskusikan tersedianya berbagia sumber, Dibutuhkan pada masalah ini untuk


contoh konseling psikiatrik/seksual,terapi membantu adaptasi lanjut yang optimal dan
kejuruan rehabilitasi

2. Nyeri b/d cedera fisik / jaringan dan trauma saraf, dampak psikologis terhadap
kehilangan bagian tubuh

INTERVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Catat lokasi dan intensitas nyeri (skala 0- Membatu dalam evaluasi kebutuhan dan
10), selidiki perubahan karakteristik nyeri keefektipan intervnsi
contoh kebas, kesemutan

Tinggikan bagian yang sakit dengan Mengurangi terbentuknya edema dengan


meninggikan kaki temoat tidur atau peningkatan aliran balik vena, menurunkan
11

menggunaakna batal/guling untuk amputasi kelelahan otot dan tekanan kulit/jaringan


tungkai atas

Terima kenyatana sesnsasi fantom tungkai Mengetahui tentang sensasi ini


ynag biasanya hilang dengan sendirinya memungkinkan pasien memahami
dan banyak alat akan dicobakan untuk fenomena normal ini yang dapat terjadi
menghilangkan nyeri segera atau beberapa minggu pasca operasi

Berikan tindakan kenyamanan (contoh Memfokuskan kembali perahatian,


ubah posisi sering, pijatan punggung )dan meningkatkan relaksasi, dapat meningkatka
aktivitas terapeutik. kemampuan koping dan menurunkan
terjadinya nyeri fantom tungkai

Berikan pijatan lembut pada puntung sesuai Meningkatkan sirkulasi, menurunkan


toleransi bila balutan telah dilepas tegangan otot

Selidiki keluhan nyeri local / kemajuan Dapat mengingindikasikan terjadinya


yang tak hilang dengan analgetik sindrom komparteman, khususnya cidera
traumatik

Kolaborasi

Berikan obat sesuai indikasi contog Menurunakan nyeri / spasme otot


analgetik, relaksan otot. Instruksi pada
ADP

Peertahankan alat TENS bila menggunakan Memberikan ragsangan saraf terus


menerus, blok transmisi sensasi nyeri

Berikan pemanasan local sesuai indikasi


Mungkian digunakan untuk meningkatkan
relaksasi otot, meningkatkan sirkulasi, dn
membantu perbaikan edema

3. Perpusi jaringan, perubahan : perifer, resiko tinggi terhadap penurunan aliran darah
vena / aterial;edema jaringan pembentukan jaringan
12

Mandiri
Awasi TTV Indicator umum status indikasi dan
keadekuatan perfusi

Lakukan pengkajian neurovaskuler Edema jaringan pasca operasi,


periodic, contoh sensasi, gerakan, nadi, pembentukan hematoma atau balutan
warna kulit, suhu terlalu ketat dapat menganggu sirkulasi
pada puntung, \

Insfeksi alat balutan / drainase, perhatikan Kehilangan darah terus menerus


jumlah dan karakteristik balutan mengindikasikan kebutuhan untuk
tambahan penggantian cairan dan evaluasi
untuk gangguan koagulasi atau intervensi
bedah untuk ligasi perdarahan

Berikan tekanan langsung pada sisi Tekanan langsung pada perdarahan dapat
perdarahan, bila terjadi perdarahan ditruskan dengan penggunaan balutan serat
pengaman dengan balutan elastis bila
perdarahan terkontrol

Evaluasi tungkai bawah yang tak dioperasi Peningkatan insiden pembentukan


untuk adanya inflamasi,tanda hormon thrombus pada pasien dengan penyakit
positif vaskuler perifer sebelumnya / perubahan
diabetik

Kolaborasi

Mempertahankan volume sirkulasi untuk


Berikan ciaran IV/produk darah sesuai
memaksimalkan perfusi jaringan
indikasi
Dapat meningkatkan aliran balik vena
Gunakan kaos kaki anti embolitik /
menurunakn pengumpulan vena dan resiko
pengurut untuk kaki yang tak dioperasi
tromboflebitis

Mungkin berguna dalam mencegah


Berikan antinkoagulan dosisi rendah sesuai
pembentukan trombus tanpa peningkatan
indikasi
resiko perdarahan pasca operasi atau
pembentukan hematoma

Awasi pemeriksaan laboratorium contoh :


Indicator hipovolemia/dehidrasi yang dapat
Hb/Ht
menganggu perfusi jaringan
13

4. Infeksi, resiko tinggi terhadap ketidak adekuatan pertahanan parifer (kulit robek,
jaringan traumatic

INTERVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Pertahankan teknik antiseptik bila Meminimalkan kesempatan introduksi
mengganti balutan /merawat luka bakteri

Infeksi balutan dan luka, perhatikan Deteksi dini terjadinya infeksi memberikan
karakteristik drainase kesempatan untuk intervensi tepat waktu
dan mencegah komplikasi lebih serius
(contoh osteomielitis)

Pertahankan patensi dan pengosongan alat Hemovak, drain Jackson pratt membantu
drainase secara rutin membuang drainase, menngkatkan
penyembuhan luka dan menurunkan resiko
infeksi

Tutup balutan dengan plastik bila Mencegah kontaminasi pada amputasi


menggunakan pispot atau bila tungakai bawah
inkontinensia

Awasi TTV Peningkatan suhu takikardia dapat


menunjukan terjadinya sepsis

Kolaborasi

Mengidentifikasi adanya infeksi /


Ambil kultur luka/drainase dengan tepat
organisme khusus

Anti biotic spectrum luas dapat digunakan


Berikan antibiotik sesuai indikasi
secara profilaktif, atau terapi antibiotik
mungkin disesuaikan terhadapa organisme
khusus
14

5. Mobillitas fisik, kerusakan b/d kehilangan tungkai ( terutama ekstremitas bawah );


nyeri/ketidak nyamanan ; gangguan perspektual ( perubahan rasa keseimbangan )

INTERVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Berikan perawatan puntung secara teratur memberikan kesempatan untuk
mengevaluasi penyembuhan dan
komplikasi ( kecuali ditutup dengan
prestese cepat )

Bantu latihan rentang gerak khusus untuk Mencegah kontrkatur, perubahan bentuk,
daerah yang sakit dan yang tak sakit mulai yang dapat terjadi dengan cepat dan dapat
secara dini pada tahap pasca operasi memperlambat penggunaan prestese

Dorong latihan aktif / isometric untuk paha Meningkatkan kekuatan otot untuk
atas dan lengan atas membantu pemindahan / ambulasi

Berikan gulungan untuk paha sesuai Mencegah rotasi eksternal puntung tungkai
indikasi bawah

Bantu dengan ambulasi Menurunkan potensial untuk cidera

Kolaborasi
Memberikan bentuk latihan atau program
Rujuk ketim rehabilitasi, contoh terapi fisik
aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan
dan kejuruan
kekuatan individu, dan mengidentifikasi
mobilitas fungsional membantu
meningkatkan kemandirian
15

6. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) tentang kondisi, prognosis, dan


kebutuhan pengobatan b/d salah menginterprestasikan informasi

INTRVENSI RASIONALISASI
Mandiri
Kaji ulang proses penyakit/prosedur bedah Membrikan dasar pengetahuan dimana
dan harapan yang akan datang pasien dapat membuta pilihan berdasarkan
evaluasi

Intruksikan perawatan balutan/luka, Meningkatkan perawatan diri kompeten:


inspeksi puntung menggunakan cermin membantu penyembuhan dan pemasangan
untuk melihat semua area, pijat kulit dan prostese dan menurunkan potensial untuk
tutup puntung dengan tepat komplikasi

Dorong kesinambungan program latihan Meningkatkan sirkulasi / penyembuhan dan


pasca operasi fungsi bagian yang sakit, membantu
adpatasi terhadap alat prostese

Tekankan pentingnya diet seimbang dan Memenuhi kebutuhan nutrien untuk


pemasukan cairan adekuat regenerasi jaringan / penyembuhan,
membantu dalam mempertahankan volume
sirkulasi dan fungsi organ normal, dan
mempertahankan berat tepat ( berat badan
mengubah pengaruh pemasangan prostese )
16

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY E
DENGAN AMPUTASI DI KAMAR LEMATANG 2 RUANG BEDAH
RSUD Dr. H. M. RABAIN MUARA ENIM

Tanggal MRS : 11 Februari 2009 pukul : 22.30 WIB


Tanggal Operasi : 13 Februari 2009 pukul : 10.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 13 Februari 2009 pukul : 16.00 WIB

Identitas
Pasien Penanggung Jawab
Nama : Ny E Nama : Tn S
Umur : 34 tahun Umur : 45 tahun
Pendidikan : SD Pendidikan : SMP
Pekerjaan : ibu rumah tangga Pekerjaan : Petani
Status pernikahan : Kawin
Alamat : Ds. Harapan Raya RT 06/02 Muara Enim
Dx. Medik : Amputasi Femur 1/3 Distal Dextra
Pengkajian
Alasan utama datang ke RS Klien datang ke RS tanggal 11 Februari
2009 pukul 22.30 WIB diantar oleh keluarga
dengan keluhan luka sudah ada gangren dan
mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Riwayat penyakit saat ini 1 bulan yang lalu, klien mengalami patah
tulang di paha dextra dan dibawa ke RSUD
Dr.H.M Rabbain dan di rujuk ke RSMH
untuk dilakukan amputasi tetapi klien tidak
mau dan takut, akhirnya klien berobat ke

16
17

dukun kampung dan diberi ramuan obat-


obatan berupa daun-daunan. Kemudian di
bawa ke puskesmas dan dirujuk kembali ke
RSUD Dr.H.M.Rabbain Muara Enim ( 11
Februari 2009 ). Keadaan luka klien sudah
busuk berwarna hitam karena nekrosis dan
nyeri hebta dengan skala 10 (skala numerik
derajat berat ) sudah terjadi infeksi dan
peningkatan suhu tubuh ( 40o C ). Pada
tanggal 13 Februari 2009 pukul 10.00 WIB
dilakukan operasi. 2 jam setelah operasi
klien mengeluh nyeri hebat pada kaki kanan
yang di amputasi, dengan skala nyeri 8
(skala numerik derajat berat), klien belum
bisa menerima dengan keadaan tubuhnya
yang sekarang.

Keluhan utama saat pengkajian Klien mengeluh kaki kanan terasa nyeri
terutama pada saat luka post operasi
dipegang, dengan skala nyeri 8 (skala
numerik derajat berat).
Riwayat kesehatan lalu Klien mengalami kecelakaan 1 bulan yang
lalu sehingga terjadi fraktur femur 1/3 distal
dextra terbuka dan klien menyangkal ada
riwayat penyakit degeneratif seperti :
hipertensi, diabetes mellitus.
Riwayat kesehatan keluarga Klien menyangkal di keluarga ada riwayat
hipertensi, dan diabetes mellitus.
Riwayat pengobatan dan alergi Klien tidak ada riwayat alergi terhadap obat
apapun
18

Pengkajian Fisik
1. Keadaan umum
Sakit/ Nyeri : sakit di daerah luka operasi dengan skala nyeri 8 (skala
numerik derajat berat ) terutama kalau lukanya di pegang/
ganti perban.
Sikap : menangis, gelisah menahan sakit
Kesadaran : compos mentis
TTV : TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/m
RR : 20 x/m
T : 37o C
Personal hygiene : - Mandi : 2 x/hr di lap-lap saja
- Kuku : Cukup Bersih
- Rambut : Cukup Bersih
- Kulit : ada luka operasi cukup bersih
Masalah keperawatan : Nyeri

2. Data Sistemik
a. Sistem Persepsi Sensorik
Pendegaran : klien dapat mendengar suara
Penglihatan : klien dapat melihat benda, orang
Pengecap, penghidu : klien dapat merasakan makanan
Peraba : klien dapat merasakan rabaan/ rangsangan
Masalah keperawatan : tidak ada
b. Sistem Penglihatan
Nyeri tekan : tidak ada
Virus : klien mampu membaca dengan jarak 30 cm
Lapang pandang : normal
Bentuk : simetris
Alis : pertumbuhan rambut : sempurna
19

Konjungtiva : palpebra : anemis terpasang transfusi darah 1 kolf


Sclera : warna : putih OD/OS
Reflek : ada OD/OS
Pupil : isokor diameter normal ( 3 mm)
Respon cahaya : (+) pada OD/OS
Masalah keperawatan : tidak ada

c. Sistem Pernafasan
Frekuensi : 20 x/menit
Infeksi :
Bentuk dada simetris kanan dan kiri, tidak ada sumbatan pada jalan
nafas, statis, dinamis
Palpasi :
Tidak teraba massa, tidak ada nyeri tekan
Perkusi :
Sonor di paru kanan mulai ICS II kebawah redup hati di ICS V ke
bawah, sonor di paru kiri mulai ICS II kebawah dan redup jantung di
ICS IV ke bawah.
Auskultasi :
Suara nafas vesikuler di paru kanan dan kiri
Masalah keperawatan : tidak ada

d. Sistem Kardiovaskuler
Tekanan darah : 120/80 mmHg Akral : 370C
Denyut nadi : 84 x/menit
Inpeksi :
Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi :
Ictus cordis teraba
20

Perkusi :
Batas atas : ICS II
Batas kanan : LPS dekstra
Batas kiri : 4,7,10 cm ke arah kiri dari garis midsternal pada
ICS IV, V, dan VIII.
Auskultasi :
Irama jantung teratur, tidak ada bunyi jantung tambahan
Masalah keperawatan : tidak ada

e. I. Sistem Saraf Pusat


Kesadaran : compos mentis
GCS : E : 4 M : 6 V : 5 = 15
Masalah keperawatan : Tidak ada

f. Sistem GastroIntestinal
Nafsu makan : Tidak ada perubahan, napsu makan ada
Diet : TKTP dan cara pemberian : makan biasa
Porsi makan : klien menghabiskan porsi makan yang
diberikan
Keluhan : Tidak ada
Bibir : mukosa bibir lembab
Kemampuan mengunyah : klien dapat mengunyah makanan tanpa
keluhan
Mulut dan tenggorokan : tidak ada gangguan
Kemmpuan menelan : mampu menelan
BAK : sejak post op klien belum BAB
Masalah keperawatan : tidak ada masalah
21

g. Sistem Muskulo skelektal


Rentang gerak terbatas, ekstremitas dekstra bawah
klien di amputasi, klien tidak bisa
berjalan.
Kemampuan memenuhi aktivitas dibantu keluarga aktivitas sehari-hari
seperti makan, minum, mandi, BAK,
BAB
Genggaman tangan : sebelah kiri kuat, kanan kuat
Otot kaki : sebelah kiri lemah, kanan (-)
Akral : 370C
Masalah keperawatan : - Kerusakan mobilitas fisik

h. Sistem Integumen
Warna kulit : kemerahan di sekitar luka
Turgor : elastis
Luka : - post operasi pada tungkai dextra
- keadaan luka tertutup perban
- panjang : 17 cm lebar : 2 cm
- Heating : 7 buah
Memar : tidak ada
- Klien mengatakan nyeri pada daerah yang dipotong
- Klien tampak meringis menahan nyeri sambil memegang paha kanannya
skala nyeri 8 ( berat ), nyeri bertambah saat bagian sekitar luka tersentuh
dengan skala nyeri 10 ( berat ).
Masalah keperawatan : - Nyeri
- Resti infeksi
- Kerusakan integritas kulit
22

i. Sistem Eliminasi
Urine : 1200 cc / 24 jam
Warna : kekuning-kuningan
Frek. BAK : 2x / hr
Masalah Keperawatan : tidak ada

3. Data penunjang
- Laboratorium tgl 12 februari 2009 : Hasilnya
No. Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
1. Ureum 18 mg/dl 10-50 mg/dl
2. Creatinin 0,5 mg/dl Po 0,6-1,1mg/dl
3. Hb 7,4 gr/dl P 12-16gr/dl
4. Ht 22 vol/% P 37-42 vol/%
5. Leukosit 8.900 / mm3 5000-10000/mm3
6. LED 96 mm/jam P < 15 mm/jam
7. Trombosit 16.8000 /mm3 150.000-400.000/mm3
8. Waktu perdarahan 4 menit 1-7 menit
9. Waktu pembekuan 10 menit 5-15 menit

4. Terapi yang diberikan (13-02-2009)


No Terapi Indikasi / Golongan Dosis Keterangan ( Tgl )
1. IVFD RL gtt 20 x/menit
2. Tramadol Analgetik 2 ampul drip Rl
3. Cefotaxime Antibiotik 2x1 gram
4. Perawatan luka Hygiene 1x1 hari
5. Transfusi Darah 1 kolf Tgl 13 Februari
2009 pukul 12.00
wib selesai pukul
16.25 wib

PENGKAJIAN MASALAH PSIKO, SOSIO, BUDAYA DAN SPIRITUAL


Psikologis
23

- Klien mengatakan tidak percaya dengan keadaannya sekarang, klien


mengatakan malu bila kakinya yang dipotong dilihat orang jadi klien selalu
menyembunyikannya dengan cara diselimuti.
- Klien mengatakan dirinya tidak berguna lagi karena tidak bisa membantu
pekerjaan rumah tangga yang biasa dia lakukan
- Klien mengatakan dirinya sekarang pasti akan merepoti keluarganya
- Klien juga menanyakan alat yang cocok untuk dipakai setelah pulang dari
RS nanti.
Masalah Keperawatan : Gangguan harga diri / citra diri

Sosial
Aktivitas dan peran klien dimasyarakat cukup baik, dan sekarang klien merasa
cemas akan keadaannya yang sekarang.

Budaya
Klien masih percaya dengan pengobatan tradisional ( dukun ).

Spiritual
Klien beragama islam dan keluarga klien berdoa untuk kesembuhan klien agar
cepat sembuh.

2. Analisis Data

No Data Etiologi Masalah


24

.
1. DS : Faktor Etiologi Nyeri
- Klien mengatakan nyeri trauma
pada daerah yang
Tindakan pembedahan ( Amputasi )
dipotong
Terputusnya kontiunitas jaringan
DO :
-Klien tampak Kerusakan integritas kulit
meringis menahan
Menstimulasi neurotransmiter BPH
nyeri sambil
memegang paha Pengeluaran neuro transmiter BPH

kanannya skala nyeri Medula spinalis


8, nyeri bertambah
Korteks serebri
saat bagian sekitar
luka tersentuh. SSP

- klien tampak gelisah Nyeri


menahan sakit
- TD : 120/80
mmHg
- N :84 x/m
- RR : 20 x/m
- T : 37 oC
- GCS E: 4 V:5
M: 6
25

2. DS: Gangguan citra


Faktor Etiologi tubuh
- Klien mengatakan tidak trauma

percaya dengan Tindakan pembedahan ( Amputasi )


keadaannya sekarang,
Kehilangan angota tubuh
- klien mengatakan malu
bila kakinya yang Gangguan citra tubuh

dipotong dilihat orang


jadi klien selalu
disembunyikan dengan
cara diselimuti.
- Klien mengatakan dirinya
tidak berguna lagi karena
tidak bisa membantu
pekerjaan rumah tangga
yang biasa dia lakukan
- Klien mengatakan dirinya
sekarang pasti akan
merepoti keluarganya
- Klien juga menanyakan
alat yang cocok untuk
dipakai setelah pulang
dari RS nanti.
DO :
- klien tampak
kurang kooperatif
- klien tampak
mudah emosional
26

3. DS : Resti Infeksi /
- klien mengatakan Faktor Etiologi Kerusakan
trauma Integritas Kulit
sakit di daerah luka
operasi Tindakan pembedahan ( Amputasi )

Terputusnya kontiunitas jaringan


DO :
- terdapat luka Kerusakan integritas kulit
operasi
Media berkembang biaknya kuman
- luka tampak
kemerahan Port de entry kuman
- luka tampak Resti Infeksi
basah
- TD : 120/80
mmHg
- N :84 x/m
- RR : 20 x/m
- T : 37 oC

4. DS :
- klien mengatakan Faktor Etiologi Kerusakan
trauma Mobilitas Fisik
tidak mau beraktifitas
karena sakit di daerah Tindakan pembedahan ( Amputasi )
luka operasi Kehilangan angota tubuh

DO : Kelemahan Otot
- terdapat luka
Kerusakan Mobilitas Fisik
operasi
- rentang gerak
terbatas
- kemampuan
memenuhi aktivitas
sehari-hari dibantu
keluarga seperti
makan, minum, mandi,
BAK, BAB
27

Prioritas Masalah :

1. Nyeri
2. Gangguan Citra Diri
3. Resti Infeksi
4. Kerusakan Mobilitas Fisik

Diagnosa Keperawatan :
1. Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan kulit
2. Gangguan Citra Diri b/d aspek biopsikal, kehilangan bagian tubuhnya
3. Resti Infeksi b/d terputusnya kontinuitas jaringan kulit
4. Kerusakan Mobilitas Fisik b/d kehilangan bagian tubuhnya, nyeri
3. Intervensi Keperawatan

No. Tgl Diagnosa keperawatan Tujuan Intervensi Rasionalisasi


1. Nyeri b/d terputusnya Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor TTV 1. Mengetahui keadaan
umum pasien
kontinuitas jaringan kulit keperawatan diharapkan dalam
waktu 1 X 6 jam diharapkan nyeri 2. Monitor karakteristik nyeri 2. Untuk mengetahui
DS : hilang atau terkontrol dengan
( skala, frekuansi, durasi ) tingkatan nyeri dan
- Klien mengatakan nyeri pada mengintervensi selanjutnya
kriteria hasil :
daerah yang dipotong 3. Letakkan kepala dengan posisi 3. Menurunkan tekanan
- Kesadaran compos mentis
DO : agak ditinggikan dalam posisi arteri dengan meningkatkan
- GCS 15 anatomis / semifowler drainase dan meningkatkan
- Klien tampak meringis sirkulasi serebral
- TD : 120/80 mmHg
menahan nyeri sambil
- N: 60-80/mnt 4. Lakukan teknik manajemen nyeri 4. Memfokuskan
memegang paha seperti teknik relaksasi, distraksi kembali perhatian,
- RR 16-24/ mnt
kanannya skala nyeri 8, meningkatkan relaksasi dapat
- T: 360C meningkatkan mekanisme
nyeri bertambah saat koping, mengurangi rasa
- Klien tampak tenang
bagian sekitar luka nyeri.
- Klien tidak menangis lagi 5. Kolaborasi dengan dokter dalam
tersentuh. pemberian analgetik 5. Menurunkan rasa
- Klien tidak nyeri lagi
- klien tampak gelisah menahan nyeri
dengan skala nyeri : 0-1
sakit
( ringan )
- TD : 120/80 mmHg
- N :84 x/m
- RR : 20 x/m
- T : 37 oC
- GCS E: 4 V:5 M: 6
2. Gangguan Citra Diri b/d Setelah dilakukan tindakan 1. Dorong ekspesi ketakutan, 1. Ekspresi emosi
perasaan negatif, dan kehilangan
aspek biopsikal, kehilangan keperawatan diharapkan dalam bagian tubuh membantu pasien mulai
menerima kenyataan dan
bagian tubuhnya. waktu 1x6 jam diharapkan
realitas hidup tanpa
gangguan citra diri klien tidak tungkai
2. Jelaskan kepada pasien dan
DS: terjadi dengan kriteria hasil :
keluarga bahwa klien dapat 2. Memberikan kesempatan
- Klien mengatakan tidak - KU baik beraktivitas dengan menggunakan untuk menanyakan dan
percaya dengan keadaannya alat bantu seperti tongkat mengasimililasi
- Klien bisa menerima
informasi dan mulai
sekarang, keadaan dirinya menerima perubahan
- klien mengatakan malu bila - Klien bisa bersosialisasi gambaran diri dan fungsi,
dan dapat membantu
kakinya yang dipotong dengan keluarga, teman penyembuhan
dilihat orang jadi klien selalu 3. Libatkan keluarga dalam
- Klien mempunyai rasa
memberikan dukungan emosional 3. Dukungan yang cukup
disembunyikan dengan cara percaya diri dari orang terdekat dan
diselimuti. - Klien merasa keadaannya teman dapat membantu
proses rehabilitasi
- Klien mengatakan dirinya tidak akan merepotkan
4. Bantu klien dalam melakukan
tidak berguna lagi karena keluarganya
aktivitas sehari-hari seperti duduk, 4. Meningkatkan
- Klien mengerti alat yang makan, minum kemandirian dan
tidak bisa membantu
meningkatkan perasaan
pekerjaan rumah tangga yang bisa dia pakai untuk harga diri
biasa dia lakukan sehingga beraktivitas 5. Minta kepada keluarga agar
tidak menjauhi klien 5. Dukungan yang cukup
akan merepotkan keluarganya dari orang terdekat dan
teman dapat membantu
- - Klien juga menanyakan alat
proses rehabilitasi dan
yang cocok untuk dipakai klien merasa
kehadirannya dapat
setelah pulang dari RS nanti. diterima

DO : 6. Berkolaborasi dengan ahli


- klien tampak kurang rehabilitasi medik 6. Membantu adaptasi
kooperatif selanjutnya dan
rehabilitasi
- klien tampak mudah
7. berkolaborasi dengan
emosional psikologi 7. Membantu adaptasi
selanjutnya dan
rehabilitasi mental klien
3. Resti Infeksi b/d terputusnya Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV 1. Untuk mengetahui
kontinuitas jaringan kulit. keperawatan diharapkan dalam keadaan umum pasien
waktu 1 X 6 jam infeksi tidak
DS : terjadi dengan kriteria hasil : 2. Kaji tanda tanda infeksi 2. mengetahui keadaan
- klien mengatakan - Klien mengatakan tidak seperti color, colour, dolor, rubor dan luka
sakit di daerah luka tumor
sakit di daerah luka
operasi
operasi - Luka tampak kering 3. Mencuci tangan sebelum dan 3. mencegah terjadinya
- Tidak ada pus sesudah melakukan tindakkan infeksi
- TD : 120/80 mmHg
DO :
- terdapat luka operasi - N : 60 - 100 x/m 4. lakukan Perawatan luka 4. mempercepat proses
- luka tampak - RR : 16 - 24 x/m dengan tehnik septik dan aseptik penyembuhan luka

kemerahan - T : 37 oC 5. Ciptakan lingukungan yang 5. mencegah terjadinya


- luka tampak basah - Tidak terjadi tanda-tanda nyaman seperti batasi pengunjung kontaminasi silang

- TD : 120/80 mmHg infeksi : 6. Berkolaborasi dengan dokter 6. mencegah terjadinya


- N :84 x/m rubor dalam pemberian obat antibiotik infeksi

- RR : 20 x/m dolor
- T : 37 oC calor
tomor
fungsiolaesa

4 Kerusakan mobilitas fisik b/d Setelah dilakukan tindakan 1. Bantu pasien dalam melakukan 1. meningkatkan kemandirian
kehilangan bagian tubuh keperawatan diharapkan dalam aktifitas dari tidur keduduk pasien dalam melakukan
waktu 1 X 6 jam klien dapat aktifitas
DS : melakukan mobilitasfisik dengan 2. Libatkan anggota keluarga dalam
- klien mengatakan kriteria hasil : memenuhi kebuthan klien 2. menghindari kecelakaan
- Klien mau melakukan yang tidak diinginkan
tidak mau beraktifitas
aktifitas secara mandiri
karena sakit di daerah - Luka tanpak kering 3. Jelaskan dan beri dukungan kepada
- Rentang gerak aktif klien bahwa klien mampu untuk 3. meningkatkan kemandirian
luka operasi beraktivitas secara mandiri walaupun klien dalam memenuhi
- Mampu melakukan
DO : aktifitas sehari-hari klien kehilangan bagian tubuhnya. aktivitas
- terdapat luka operasi seperti makan, minum,
mandi, bab, bak, duduk, 4. Berkolaborasi dengan tim fisioterapi
- rentang gerak berdiri
terbatas
4. Meningkatkan kemampuan
- kemampuan klien dalam beraktivitas
memenuhi aktivitas
sehari-hari dibantu
keluarga seperti makan,
minum, mandi, BAK,

4. Implementasi Keperawatan
No Diagnosa Tgl/waktu Implementasi Respon Paraf
1 Nyeri b/d terputusnya 13/02/2009 pukul 16.15 wib 1. Mengukur TTV saat ganti perban N : 90 x/m , RR : 24 x/m, T :
37oC
kontinuitas jaringan
pukul 16.20 wib 2. Mengukur skala nyeri, durasi, frekuensi
kulit. * Skala nyeri 10 ( berat ) dengan
* Durasi : nyeri selama
dilakukan ganti
perban
pukul 16.30 wib 3. Memberikan bantal pada tempat tidur pasien * Frekuensi : 2x/hr

4. Mengajarkan klien tarik nafas dalam, dan mengajak klien


untuk bercerita tentang keluarganya
pukul 16.45 wib
5. Memberikan injeksi tramadol Klien kooperatif

Pukul 16.55

2 amp di drip dengan larutan RL


gtt 20 x/m
2 Gangguan Citra Diri 13/02/2009 pukul 16.15 wib 1. Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaannya Klien merasa malu dan takut
mengenai keadaannya sekarang untuk beraktivitas / bersosialisasi
b/d aspek biopsikal,
kehilangan bagian 2. Memberikan penjelasan kepada keluarga dan klien bahwa
pukul 16.20 wib klien bisa menggunakan tongkat untuk beraktivitas Klien dan keluarga menerima
tubuhnya.
penjelasan dari perawat
3. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan
emosional
pukul 16.30 wib Suami memberikan dukungan
kepada klien dengan setia
menunggui klien di RS
4. Membantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
pukul 16.45 wib seperti duduk, makan, minum
5. Meminta kepada keluarga agar tidak menjauhi klien Klien hanya bedrest di tempat
Pukul 16.55 tidur
Suami tidak meninggalkan klien
dan setia menunggui di RS

3 Resti Infeksi b/d 13/02/2009 pukul 16.15 wib 1. Mengukur TTV TD : 120/80 mmHg, N : 86 x/m
terputusnya kontinuitas RR : 22 x/ m , T : 36,8 oC
jaringan kulit.

pukul 16.20 wib 2. Melihat tanda tanda infeksi pada luka Luka tampak kering, warna
kemerahan, tidak ada pus, tidak
panas, dan tidak berbau

pukul 16.30 wib 3. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakkan Perawat sudah menerapkan
teknik streril dan bersih

4. Melakukan perawatan luka dengan tehnik septik dan aseptik


pukul 16.45 wib Perawat sudah menerapkan
teknik septik dan aseptik, telah
memakai handscone,
membersihkan luka dengan
cairan betadine, dan membalut
5. Menciptakan lingukungan yang nyaman seperti batasi luka dengan elastis perban
pengunjung
Pukul 16.15 WIB Yang menemani pasien hanya
6. Memberikan obat cefotaxime suami

Pukul 21.30 WIB 1 gr di oplos dengan 4 cc


aquadest

4 Kerusakan mobilitas 13/02/2009 pukul 16.15 wib 1. Membantu pasien dalam melakukan aktifitas dari tidur Klien hanya bisa tidur di tempat
fisik b/d kehilangan keduduk tidur belum berani untuk
bagian tubuh beraktifitas karena terasa nyeri

pukul 16.20 wib


2. Melibatkan anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhan
klien
pukul 16.30 wib

3. Jelaskan dan beri dukungan kepada klien bahwa klien


mampu untuk beraktivitas secara mandiri walaupun klien
kehilangan bagian tubuhnya.
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Klien : Ny E Diagnosa Medis : Amputasi


Jenis Kelamin : Perempuan No. Med. Rec :
No. Kamar/Bed : Lematang 1 / 1 Hari/Tanggal : Jumat / 13 Februari 2009

Catatan Nama Catatan Nama Catatan Nama


N Diagnosa
Jam Perkembangan & Paraf Jam Perkembangan & Paraf Jam Perkembangan & Paraf
o Keperawatan
Shift Pagi Perawat Shift Sore Perawat Shift malam Perawat
1 Nyeri b/d terputusnya S : Klien mengatakan S : Klien mengatakan
. kontinuitas jaringan nyeri pada daerah masih nyeri pada kaki
kulit yang dipotong yang dipotong
DS : O: O:
- Klien mengatakan nyeri - Klien tampak - Klien tampak
pada daerah yang meringis meringis
dipotong menahan nyeri menahan nyeri
DO : sambil sambil
memegang paha memegang paha
- Klien tampak kanannya kanannya
meringis menahan - skala nyeri 8, - skala nyeri 10,
nyeri sambil nyeri bertambah nyeri bertambah
memegang paha saat bagian saat bagian
kanannya skala sekitar luka sekitar luka
nyeri 8, nyeri tersentuh. tersentuh.
bertambah saat - klien tampak gelisah - klien tampak gelisah
bagian sekitar menahan sakit menahan sakit
luka tersentuh. - TD : 120/80 - TD : 130/90
- klien tampak gelisah mmHg mmHg
menahan sakit - N :84 x/m - N :90 x/m
- TD : 120/80 - RR : 20 x/m - RR : 22 x/m
mmHg - T : 37 oC - T : 37 oC
- N :84 x/m GCS E: 4 V:5 M: 6 GCS E: 4 V:5 M: 6
- RR : 20 x/m
- T : 37 oC A : Masalah belum A : Masalah belum
GCS E: 4 V:5 M: 6 teratasi teratasi

P : Intervensi P : Intervensi
dilanjutkan dilanjutkan

I: I:
Mengukur Mengukur
TTV TTV Mengukur skala
Mengukur nyeri, durasi,
skala nyeri, durasi, frekuensi
frekuensi Memberikan
Memberikan bantal pada tempat
bantal pada tempat tidur pasien
tidur pasien Mengajarkan
Mengajarkan klien tarik nafas
klien tarik nafas dalam, dan mengajak
dalam, dan mengajak klien untuk bercerita
klien untuk bercerita tentang keluarganya
tentang keluarganya Memberikan
Memberikan injeksi tramadol
injeksi tramadol
E:
E: Klien
Klien mengatakan masih
mengatakan masih nyeri di daerah kaki
nyeri di daerah kaki Klien tampak
Klien tampak meringis kesakitan
meringis kesakitan TD : 130/90
TD : 130/90 mmHg
mmHg N :86 x/m
N :90 x/m RR : 22 x/m
RR : 22 x/m T : 37 oC
T : 37 oC GCS E: 4 V:5
GCS E: 4 V:5 M:6
M: 6 =15
=15
S:
2 Gangguan Citra Diri S: Klien mengatakan
b/d aspek biopsikal, Klien mengatakan tidak percaya dengan
kehilangan bagian tidak percaya dengan keadaannya sekarang,
tubuhnya. keadaannya sekarang, - klien mengatakan bila
- klien mengatakan kakinya dipotong
DS: malu kakinya dilihat orang jadi
- Klien mengatakan dipotong dilihat klien selalu
tidak percaya dengan orang jadi klien selalu disembunyikan
keadaannya sekarang, disembunyikan dengan cara
- klien mengatakan malu dengan cara diselimuti.
bila kakinya yang diselimuti. - Klien mengatakan
dipotong dilihat orang - Klien mengatakan dirinya tidak berguna
jadi klien selalu dirinya tidak berguna lagi karena tidak bisa
disembunyikan dengan lagi karena tidak bisa membantu pekerjaan
cara diselimuti. membantu pekerjaan rumah tangga yang
- Klien mengatakan rumah tangga yang biasa dia lakukan
dirinya tidak berguna biasa dia lakukan sehingga akan
lagi karena tidak bisa sehingga akan merepotkan
membantu pekerjaan merepotkan keluarganya
rumah tangga yang keluarganya - Klien juga
biasa dia lakukan - Klien juga menanyakan alat
sehingga akan menanyakan alat yang cocok untuk
merepotkan yang cocok untuk dipakai setelah
keluarganya dipakai setelah pulang dari RS nanti
- Klien juga pulang dari RS nanti
menanyakan alat yang O:
cocok untuk dipakai O: - klien tampak
setelah pulang dari RS - klien tampak kurang kooperatif
nanti kurang kooperatif - klien tampak
- klien tampak mudah emosional
mudah emosional
DO : A : masalah belum
- klien tampak A : masalah belum teratasi
teratasi
kurang kooperatif P : intervensi
- klien tampak P : intervensi diteruskan
diteruskan
mudah emosional I:
I: - Mendorong
- Mendorong klien untuk
klien untuk mengungkapkan
mengungkapkan perasaannya
perasaannya mengenai
mengenai keadaannya
keadaannya sekarang
sekarang
- Memberikan
- Memberikan penjelasan kepada
penjelasan kepada keluarga dan klien
keluarga dan klien bahwa klien bisa
bahwa klien bisa menggunakan
menggunakan tongkat untuk
tongkat untuk beraktivitas
beraktivitas
- Melibatkan
- Melibatkan keluarga dalam
keluarga dalam memberikan
memberikan dukungan emosional
dukungan
emosional - Membantu
klien dalam
- Membantu melakukan aktivitas
klien dalam sehari-hari seperti
melakukan aktivitas duduk, makan,
sehari-hari seperti minum
duduk, makan, - Meminta
minum kepada keluarga
- Meminta agar tidak menjauhi
kepada keluarga klien
agar tidak menjauhi
klien

E: E:

- Klien - Klien
mengatakan mengatakan masih
masih terasa malu terasa malu untuk
untuk bersosialisasi
bersosialisasi - Suami tetap
- Suami tetap memberikan
memberikan dukungan kepada
dukungan kepada klien
klien - Klien masih
- Klien masih tidak kooperatif
tidak kooperatif dan masih terlihat
dan masih terlihat emosional
emosional

E:
- Keluarga
klien mengatakan
klien tidak bisa
menelan sehingga
makanan yang
dimasukkan kedalam
tubuh dimuntahkan
kembali
- sudut mulut
masih tertinggal ke
kanan
- gangguan
menelan positif

Resti Infeksi b/d


terputusnya kontinuitas
3 jaringan kulit.
.
DS :
- klien S:
- klien S:
mengatakan sakit di
- klien
mengatakan sakit
daerah luka operasi
mengatakan sakit
di daerah luka
di daerah luka
DO : operasi
- terdapat luka operasi
operasi O:
- terdapat luka O:
- luka tampak
- terdapat luka
operasi
kemerahan
operasi
- luka tampak
- luka tampak
- luka tampak
kemerahan
basah
kemerahan
- luka tampak
- TD : 120/80
- luka tampak
basah
mmHg
basah
- TD : 120/80
- N :84 x/m
- TD : 120/80
mmHg
- RR : 20 x/m
mmHg
- N :84 x/m
- T : 37 oC - RR : 20 x/m - N :84 x/m
- T : 37 oC - RR : 20 x/m
A : masalah belum - T : 37 oC
teratasi
A : masalah belum
teratasi
P : intervensi
dilanjutkan
P : intervensi
dilanjutkan
I:
I:
7. Mengukur TTV
1. Mengukur TTV
8. Melihat tanda
tanda infeksi pada
2. Melihat tanda
luka
tanda infeksi pada
luka
9. Mencuci tangan
sebelum dan
3. Mencuci tangan
sesudah
sebelum dan
melakukan
sesudah melakukan
tindakkan
tindakkan
10. Menciptakan
4. Menciptakan
lingukungan yang
lingukungan yang
nyaman seperti
nyaman seperti
batasi pengunjung
batasi pengunjung
11. Memberikan obat
5. Memberikan obat
cefotaxime
cefotaxime
E:
E:
Di sekitar luka tidak
Di sekitar luka tidak
tampak tanda-tanda tampak tanda-tanda
infeksi infeksi

4 Kerusakan mobilitas - S: S:
fisik b/d kehilangan - klien - klien
bagian tubuh
mengatakan tidak mengatakan tidak
mau beraktifitas mau beraktifitas
karena sakit di karena sakit di
daerah luka daerah luka operasi
operasi O:
- terdapat luka
O:
- terdapat luka operasi
operasi - rentang gerak
- rentang gerak terbatas
terbatas kemampuan
kemampuan memenuhi aktivitas
memenuhi sehari-hari dibantu
aktivitas sehari- keluarga seperti
hari dibantu makan, minum,
keluarga seperti mandi, BAK,
makan, minum, A : masalah belum
teratasi
mandi, BAK,
A : masalah belum P : intervensi
teratasi dilanjutkan

P : intervensi
I
dilanjutkan
7. Membantu pasien
dalam melakukan
I
aktifitas dari tidur
4. Membantu pasien keduduk
dalam melakukan
aktifitas dari tidur 8. Melibatkan
keduduk anggota keluarga
dalam memenuhi
5. Melibatkan kebutuhan klien
anggota keluarga
dalam memenuhi 9. Jelaskan dan beri
kebutuhan klien dukungan kepada
klien bahwa klien
6. Jelaskan dan beri mampu untuk
dukungan kepada beraktivitas secara
klien bahwa klien mandiri walaupun
mampu untuk klien kehilangan
beraktivitas secara bagian tubuhnya.
mandiri walaupun
klien kehilangan E
bagian tubuhnya. - Aktivitas tampak di
bantu keluarga
E
- Rentang gerak masih
- Aktivitas tampak di
terbatas
bantu keluarga
- Rentang gerak masih
terbatas
4 Kerusakan mobilitas - S: S:
fisik b/d kehilangan - klien - klien
bagian tubuh
mengatakan tidak mengatakan tidak
mau beraktifitas mau beraktifitas
karena sakit di karena sakit di
daerah luka daerah luka operasi
operasi O:
- terdapat luka
O:
- terdapat luka operasi
operasi - rentang gerak
- rentang gerak terbatas
terbatas kemampuan
kemampuan memenuhi aktivitas
memenuhi sehari-hari dibantu
aktivitas sehari- keluarga seperti
hari dibantu makan, minum,
keluarga seperti mandi, BAK,
makan, minum, A : masalah belum
teratasi
mandi, BAK,
A : masalah belum P : intervensi
teratasi dilanjutkan
P : intervensi
I
dilanjutkan
13. Membantu pasien
dalam melakukan
I
aktifitas dari tidur
10. Membantu pasien keduduk
dalam melakukan
aktifitas dari tidur 14. Melibatkan
keduduk anggota keluarga
dalam memenuhi
11. Melibatkan kebutuhan klien
anggota keluarga
dalam memenuhi 15. Jelaskan dan beri
kebutuhan klien dukungan kepada
klien bahwa klien
12. Jelaskan dan beri mampu untuk
dukungan kepada beraktivitas secara
klien bahwa klien mandiri walaupun
mampu untuk klien kehilangan
beraktivitas secara bagian tubuhnya.
mandiri walaupun
klien kehilangan E
bagian tubuhnya.
- Aktivitas tampak di
E bantu keluarga
- Aktivitas tampak di - Rentang gerak masih
bantu keluarga terbatas
- Rentang gerak masih
terbatas