Anda di halaman 1dari 11

Thursday, February 14, 2008

Sosialisasi profesi

Ditulis dengan penuh keprihatinan oleh: Wastu Adi Mulyono

Tahukah Anda seberapa populer kata perawat di internet?


Berdasarkan hasil searching saya dengan menggunakan www.twingine.com pada tanggal 14
Pebruari 2008 pukul 19:54 adalah 328.000 di google.com dan 392,000 di yahoo.com.

Siapa yang paling atas?


http://www.inna-ppni.or.id/ di google dan http://www.perawat.blogspot.com/ di yahoo.

Bagaimana dengan kata ners?


Di yahoo ada 4,090,000 tetapi tidak ada yang berkaitan dengan keperawatan di halaman pertama.
Di google terdapat 1.680.000 syurkurlah PPNI dan fk umy ada di halaman pertama.

Survey sederhana tersebut saya lakukan terdorong oleh komentar salah salah seorang pejabat di
tempat saya bekerja bahwa organisasi perawat itu sendirilah yang harus mensosialisasikan Ners
pada pihak yang berwenang. Selain itu saya juga terilhami oleh kata-kata Anne Ahira bahwa satu
kata di internet adalah satu market. Komentar tersebut merupakan bentuk tanggapan terhadap
keluhan dan protes dosen-dosen perawat yang mempertanyakan perbedaan pengakuan gelar
profesi yang mereka miliki dibandingkan dengan gelar profesi yang lain. Setelah merenung, saya
jadi berpikir bahwa pernyataan beliau tersebut ada benarnya juga. Bahkan menurut saya, bukan
hanya organisasi profesi yang mensosialisasikan, tetapi kita sebagai perawat juga harus selalu
mensosialisasikan profesi ini.

Saya jadi teringat ketika baru lulus sarjana keperawatan 9 tahun yang lalu. Setiap kali berkenalan
atau ketemu orang di bis atau di situasi apapun saya selalu memperkenalkan gelar sarjana
keperawatana tersebut. Hal ini bukan suatu bentuk kesombongan, tetapi terpaksa, karena setiap
saya menyebutkan lulusan S1 Keperawatan mereka langsung berkata, Lho ada tho... Jadi tidak
ada jalan lain saya selalu menjelaskan pada orang belum tahu saya.

Hal ini ternyata cukup sukses. Buktinya, di wilayah barlingmascakeb (Banjarnegara,


Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen) sekarang sudah terdapat 5 Pendidikan S1
Keperawatan dengan jumlah mahasiswa yang cukup ideal, kurang lebih 40 per angkatan. Hebat ,
bukan?

Sosialisasi profesi memang sangat dibutuhkan. Sosialisasi yang menurut saya paling tepat adalah
membuka praktik keperawatan. Saya sebagai perawat, merasakan sendiri, lebih mudah praktik
sebagai pengobat tradisional daripada perawat yang sesungguhnya. Praktik keperawatan
memerlukan persyaratan yang sangat memberatkan (menurut saya). Barangkali, karena ingin
melindungi pasien, peraturannya sangat ketat. Bahkan untuk mendapatkan Surat Ijin Perawat
saja, harus menjalani ujian praktik. Belum lagi, keluarnya surat lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
sekali. Saya bukan penentang ujian untuk SIP ini, tetapi saya berpikir logis saja. Mengapa harus
ujian praktik ketrampilan? Mengapa tidak seperti ujian tulis tetapi materinya problem solving.
Kalau perlu buat e-exam. Bukankah mereka semua (perawat-perawat itu) sudah lulus sekolah
yang sudah diakreditasi, sudah ujian nasional? Yang menguji juga penguji ujian SIP itu sendiri.
Bukankah hal ini seoalah-olah kita meragukan kualifikasi kita sebagai penguji ujian praktik akhir
itu sendiri???

Jadi bukakanlah pintu kesempatan untuk praktik keperawatan selebar-lebarnya. Seperti yang
dilakukan oleh dirjen pajak itu lho, pendaftaran pajak dipermudah untuk menjaring wajib pajak
sebanyak-banyaknya. Tidak akan mungkin orang membuka praktik kalau tidak mendapatkan
untung bukan? Nah jika praktiknya saja belum jelas mau apa, terus mau dapat untung dari mana?
Nah setelah semua rame-rame buka praktik dan punya banyak uang, mulailah dibuat suatu
pelayanan keperawatan yang spesial, sampai-sampai pasien merasa kalau tidak diberi pelayanan
keperawatan dia tidak akan merasakan datang ke klinik tersebut. Jika sudah seperti ini, kita
sudah masuk pada tahap lanjut. Pasien yang seperti ini ibarat junkies yang sedang sakau.
Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan pelayanan ini. Situasi yang seperti inilah yang akan
membuat kita dibutuhkan dan dihargai dengan tinggi. Kita buka praktik perawatan saja pun pasti
orang akan datang mencari.

Selain praktik keperawatan, aktivitas sosial, politik dan olah raga harus kita jalani. Masak ada
mahasiswa yang mengeluh, Pak, kuliah di keperawatan ini kebanyakan tugas, saya jadi tidak
bisa ikut UKM. Saya jawab, Ah itu kamunya saja yang malas dan tidak dapat mengorganisir
waktu. Tetapi setelah saya renungkan kembali, saya jadi tertegun juga. Bayangkan saja,
mahasiwa harus mengumpulkan makalah per semester kurang lebih enam mata kuliah. Karena
kuliah dilakukan dengan tim dan metodenya Student centered learning, mereka harus mencari
materi sendiri. Selain itu setiap tim ada sekitar 4 dosen. Jadi 24 makalah per semester. Wah hebat
sekali. Dosen saja untuk membuat satu proposal penelitian dosen muda perlu waktu 1 semester.
Itu belum seberapa, seteleh makalah dikumpulkan, rewardnya hanya C (Oh ..Teganya). Belum
cukup. Mahasiswa yang tidak masuk kuliah karena ada kegiatan kemahasiswaan (demonstrasi
anti BHP misalnya), harus mendapatkan tugas tambahan. Jadilah, mahasiswa tersebut kurang
pergaulan. Terdiam bagaikan katak dalam tempurung. Bagaimana bisa bersaing di rimba
kehidupan?
Sosialisasi profesi bukan hanya melalui wujud profesinya itu sendiri, tetapi juga personal yang
ada di baliknya. Dulu perawat identik dengan baju putih ber kap atau sanggul dan bekerja di
rumah sakit. Sekarang, teman saya yang jadi tukan pijat refleksi pun pakai baju putih, baby sitter
tetangga saya juga. Demikian juga pendidikan. Perawat jaman dulu dididik di asrama dengan
kedisiplinan dan kepatuhan pada senior yang tinggi. Sekarang semua itu tidak ada. Perat tidak
lagi berbaju putih, pendidikannya juga bervariasi, pola pendidikannya pun juga sudah liberal.
Identitas perawat dengan simbol-simbol itu sudah tidak ada sekarang. Semua berubah seiring
jaman. Wujud perawat itu sendiri juga tidak tampak secara fisik. Jadi apanya yang mau
diperlihatkan, penampakan? tidak tertangkap kamera juga.

Ini emergency kawan. Sosialisasi profesi sangat esensial. Jika setiap orang sudah tersosialisasi,
sudah tahu, pasar sudah tercipta dengan sendirinya. Dengan demikian perawat sudah
menemukan jati dirinya. Bukankah kata kata Maslow kalau kita belum terpenuhi kebutuhan
fisiologis tentu tidak akan dapat mencapai aktualisasi diri? (hmm salah enggak ya)
Nah, bagaimana Ners, siap menerima tantangan ini!!!

Diposting oleh Wastu Adi Mulyono di 8:54 PM


Label: Sosialisasi Profesi

PERAN ORGANISASI PROFESI PPNI

DALAM PENGEMBANGAN

Kualitas Sumber Daya Tenaga Keperawatan

I. PENDAHULUAN

Perhimpunan/organisasi profesi keperawatan merupakan fihak yang seharusnya paling


bertanggung jawab, secara aktif turut dalam pengembangan keperawatan sebagai profesi.
Organisasi profesi (PPNI) seyogyanya berada pada baris terdepan dalam proses inovasi
keperawatan di Indonesia, bahkan harus memegang kendali utama dalam proses perubahan.

Untuk mewujudkan keperawatan sebagai profesi, berbagai langkah nyata telah dilaksanakan,
mencakup : pengembangan pelayanan/asuhan keperawatan, pendidikan tinggi keperawatan
maupun kehidupan organisasi profesi. Langkah ini dilaksanakan secara terarah, berencana dan
terkendalikan sebagai gerakan profesionalisasi keperawatan. Didasarkan pada keinginan para
perawat agar keperawatan mendapat pengakuan sebagai profesi dan lebih dari itu yaitu agar
keperawatan sebagai profesi dapat berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Keperawatan sebagai profesi berupaya memenuhi hak masyarakat untuk mendapat
pelayanan/asuhan keperawatan professional yang benar dan baik.

Langkah yang terlihat nyata adalah terbentuknya Sistem Pendidikan Tinggi Keperawatan,
diharapkan dengan lulusan perawat dari pendidikan tinggi keperawatan maupun memberikan
pelayanan/asuhan keperawatan professional.

Pengembangan pada sistem pelayanan/asuhan keperawatan belum dirasakan optimal, karena


memerlukan upaya upaya perubahan yang mendasar yaitu membentuk model praktek
professional baik di RS maupun unit pelayanan kesehatan masyarakat.

II. ORGANISASI PROFESI

Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi adalah : organisasi dari praktisi yang
menilai/mempertimbangkan seseorang atau yang lain mempunyai kompetensi professional dan
mempunyai ikatan bersama untuk menyelenggarakan fungsi sosial yang mana tidak dapat
dilaksanakan secara terpisah sebagai individu
Organisasi profesi mempunyai 2 perhatian utama : (1) Kebutuhan hukum untuk melindungi
masyarakat dari perawat yang tidak dipersiapkan dengan baik dan (2) kurangnya standar dalam
keperawatan.

Organisasi profesi menyediakan kendaraan untuk perawat dalam menghadapi tantangan yang ada
saat ini dan akan datang serta bekerja kearah positif terhadap perubahan-perubahan profesi sesuai
dengan perubahan sosial.

Ciri-ciri organisasi profesi adalah :

1. Hanya ada satu organisasi untuk setiap profesi

2. Ikatan utama para anggota adalah kebanggan dan kehormatan

3. Tujuan utama adalah menjaga martabat dan kehormatan profesi.

4. Kedudukan dan hubungan antar anggota bersifat persaudaraan

5. Memiliki sifat kepemimpinan kolektif

6. Mekanisme pengambilan keputusan atas dasar kesepakatan

Dalam pengembangan keperawatan, organisasi profesi PPNI berfungsi :

1. Secara aktif turut dalam merumuskan dan menetapkan standar profesi untuk pendidikan
tinggi keperawatan dan untuk pelayanan/asuhan keperawatan, mencakup ukuran
keberhasilan pelaksanaan pelayanan /asuhan keperwatan dan kompetensi lulusan
pendidikan tinggi keperawatan

2. Turut mengidentifikasi berbagai jenis ketenagaan keperawatan dengan berbagai jenjang


kemampuan yang diperlukan dalam pengembangan keperawatan dimasa depan.

3. Ikut menyususn kriteria dan mekanisme penapisan serta penerapan teknologi


keperawatan maju serta penerapan teknologi keperawatan maju secara tepat guna dan
demi kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan.

4. Bertanggung jawab dalam pengendalian dan pemanfaatan lulusan pendidikan tinggi


keperawatan khususnya dalam hal legislasi keperawatan professional.

Setelah memahami pengertian-pengertian tersebut diatas tentunya kita sepakat bahwa Organisasi
Profesi Keperawatan : PPNI mempunyai tanggung jawab besar terhadap pengembangan profesi,
terutama saat ini dalam menghadapi persaingan ketat untuk dapat merebut kesempatan
memperoleh pasar jasa pelayanan keperawatan.

Kunci utamanya adalah Pengelolaan sumber daya tenaga keperawatan yang handal dalam
bidangnya.
Bagaimana peran organisasi profesi, akan diuraikan berikut ini.

III. PERAN PPNI

A. Menganjurkan suatu kegiatan Sosialisasi Profesional

Sosialiasasi professional sejak dini dimulai pada saat pendidikan dilanjutkan setelah lulus
masuk pada lingkungan kerja

Sosialisasi professional adalah : suatu proses dimana peserta didik pendidikan tinggi
keperawatan mendapat pengalaman melaksanakan praktek keperawatan professional,
menumbuhkan dan membina sikap, tingkah laku dan keterampilan professional yang
diperlukan untuk siap melaksanakan praktek keperawatan ilmiah.

Suatu proses transformasi perilaku dari peserta didik pendidikan tinggi keperawatan menjadi
seorang perawat profesional

Sosialisasi praktek keperawatan profesional adalah proses dimana nilai-nilai dan norma-
norma dari profesi keperawatan diinternalisasi kedalam perilaku perawat itu sendiri dan
konsep-konsep dirinya. Sehingga perawat belajar dari menerima pengetahuan
keterampilan dan sikap sebagai karakteristik profesi.

Hinshaws mengemukakan tahap-tahap sosialisasi professional mencakup : awal belum


merasakan, keganjilan, identifikasi, simulasi peran, kebimbangan dan akhirnya
internalisasi yaitu : menerima dan nyaman dengan peran perawat.

Sosialisasi professional menjadi bagian penting untuk membentuk perawat professional.

B. Mengusulkan Pola Jenjang Karir tenaga perawat sebagai

sistem pengembangan karir

Perawat professional adalah : seseorang yang mempunyai alasan-alasan rasional, dapat


mengakomodasi realita, menerima dirinya, diminati oleh orang lain, belajar dari pengalaman
serta percaya diri. Agar perawat professional ini tetap terus berkembang menigkatkan kinerjanya,
diperlukan suatu sistem pengembangan karir yang jelas. Dimana saat ini belum mendapat
perhatian yang baik. Akibatnya perawat perawat merasa resah, lelah dan jenuh dalam
pekerjaannya, kualitas asuhan keperawatan menurun dan sistem imbalan jasa tidak jelas. Jika
sistem pengembangan karir telah diterima maka masalah-masalah tersebut diatas dapat diatasi
dan masyarakat akan memperoleh haknya terhadap pelayanan keperawatan berkualitas.

1. 1. Prinsip-Prinsip dalam Sistem Pengembangan Karir

1. Kualifikasi tenaga keperawatan dimulai dari D III keperawatan atau S1 Keperawatan


2. Jenjang mempunyai makan kompetensi yang dimiliki untuk melaksanakan asuhan
keperawatan sesuai lingkupnya dan bertingkat sifatnya sesuai dengan kompleksitas
masalah klien.

3. Fungsi utama yang menjadi pegangan adalah fungsi memberikan asuhan keperawatan

4. Setiap perawat pelaksana mempunyai kesempatan sama untuk meningkatkan karirnya


sampai pada jenjang paling atas

5. Jenjang karir mempunyai dampak terhadap tanggung jawab dan akontabel terhadap tugas
serta sistem penghargaan

6. Pimpinan organisasi RS mempunyai komitmen yang tinggi terhadap sistem


pengembangan karir tenaga perawat pelaksana sehingga dapat dijamin kepuasan pasien
terhadap pelayanan keperawatan.

7. Lingkup jenjang pengembangan karir mencakup : keperawatan medikal bedah,


maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat.

2. Bentuk, Jenjang Pengembangan Karir

Perawat Klinik I

a. Pengalaman dan Pendidikan

1) D III Keperawatan + pengalaman 1 tahun

2) S1 Keperawatan + penagalaman 0 bulan

1. Deskripsi

1) Memiliki kompetensi : memberikan keperawatan dasar

2) Diperlukan supervisi dalam memberikan asuhan keperawatan

3) Berperan sebagai perawat pelaksana dan pendidik bagi klien dan keluarganya

Perawat Klinik II

a. Pengalaman dan pendidikan

1) D III keperawatan dengan pengalaman 3 tahun

2) S1 Keperawatan + pengalaman 1 tahun

b. Deskripsi
1) Memiliki kompetensi memberikan keperawatan dasar dalam lingkup medikal bedah,
maternitas, pediatrik, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2) Diperlukan supervisi terbatas

3) Berperan sebagai perawat pelaksana pendidik bagi pasien dan keluarga serta pengelola
dalam asuhan keperawatan

Perawat Klinik III

1. Pengalaman dan pendidikan

1) D III Keperawatan + pengalaman 6 tahun

2) S1 Keperawatan + pengalaman 4 tahun

3) Spesialisasi sesuai bidang + pengalaman 0

b. Deskripsi

1) Memiliki kompetensi memberikan keperawatan lanjut dalam lingkup medical bedah,


maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2) Sepenuhnya dapat melakukan asuhan

keperawatan dengan keputusan sendiri

3) Berperan sebagai perawat pelaksana, pendidik

bagi pasien, keluarga dan sesama teman,

pengelola dalam asuhan keperawatan serta

mampu mengidentifikasi hal-hal yang perlu

diteliti

Perawat Klinik IV

a. Pengalaman dan Pendidikan

1) D III Keperawatan + pengalaman 9 tahun

2) S1 Keperawatan + pengalaman 7 tahun

3) Spesialisasi sesuai bidang + 1 tahun


b. Deskripsi

1) Memiliki kompetensi memberikan keperawatan super spesialisasi dalam lingkup medikal


bedah, maternitas, pediatri, jiwa, komunitas dan gawat darurat

2) Sepenuhnya dapat melakukan asuhan keperawatan dengan keputusan sendiri dan


supervisor bagi perawat pada jenjang I, II dan III

3) Berperan sebagai :

- Perawat pelaksana secara mandiri

- Pendidik bagi pasien, keluarga, sesama

teman dan peserta didik pendidik

keperawatan

- Pengelola asuhan keperawatan, supervisor

- Konsultan dan konselor dalam lingkup

bidangnya

- Peneliti dibidang keperawatan

C. Agar sistem pengembangan karir dapat terlaksana PPNI

bertanggung jawab terhadap terlaksananya Program Pendidikan

Berkelanjutan bagi perawat (PBP/CNE)

Pendidikan Berkelanjutan bagi Perawat/PBP adalah : proses yang meliputi berbagai


pengalaman/pelatihan setelah pendidikan formal dasar keperawatan, yang dapat meningkatkan
kemampuan keprofesian.

Dalam program PBP ini akan ditentukan : kurikulum pelatihan, modul bentuk penghargaan,
criteria pelatih dan institusi yang boleh melaksanakan pelatihan. Diharapkan bentuk-bentuk
pelatihan dapat dilaksanakan dengan professional memberikan dampak terhadap peningkatan
kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

D. Menciptakan komunitas professional yaitu komunitas perawat yang ada

diinstitusi pelayanan kesehatan dan pendidikan dan melaksanakan

pelayanan/asuhan keperawatan professional. Mempunyai sistem nilai


dan tanggung jawab sama. Merupakan bagian dari masyarakat

keperawatan profesional.

Komunitas keperawatan diperlukan karena :

1. Adanya pengembangan sistem pemikiran asuhan keperawatan di institusi pelayanan


kesehatan

2. Dalam rangka menetapkan standard asuhan keperawatan

3. Untuk mengelola ketenagaan keperwatan

4. Mengelola pelaksanaan praktek keperawatan

5. Bertanggung jawab terhadap hasil/dampak asuhan keperawatan pada klien dan sistem.

Komunitas keperawatan merupakan agents of formal knowledge dalam keperawatan yaitu


orang-orang yang menciptakan, transmisi dan menerapkan pengetahuan formal (eliot freidson,
1986)

Berada pada baris terdepan dalam proses profesionalisasi keperawatan, membangun citra
keperawatan sebagai profesi serta merupakan kekuatan dalam proses membudayakan
keperawatan.

Upaya membangun komunitas professional keperawatan

1. Membangun dan membina pelayanan/asuhan keperawatan rumah sakit dan masyarakat


sebagai bagian integral dari dari pelayanan rumah sakit/masyarakat sehingga diterima
sebagai pelayanan professional.

2. Mengidentifikasi dan membina perawat professional yang diakui dan diberi kewenangan
serta tanggung jawab melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan professional.

Langkahnya adalah merumuskan criteria kualifikasi perawat professional, mendaftar para


perawat yang memenuhi kualifikasi, mengakui dan memberi kewenangan serta tanggung jawab.

Membangun komisi etika keperawatan yang memberikan tuntutan dalam pelaksanaan praktek
keperawatan

1. Membina para perawat professional seabgai komunitas dengan tradisi/budaya


keperawatan sebagai komunitas professional yang sarat dengan perannya sebagai
model.
E. Untuk menjamin kualitas pelayanan
keperawatan yang
diterima masyarakat maka PPNI telah menetapkan sistem legislasi

keperawatan diawali dengan adanya Kepmenkes No. 647

tentang Registrasi dan Praktek Keperawatan

Legislasi keperawatan adalah : proses pemberlakuan Undang-undang

atau perangkat hukum yang sudah disempurnakan yang mempengaruhi

pengembangan ilmu dan kiat dalam praktek keperawatan.

Tujuan Legislasi keperawatan meliputi :

1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang


diberikan

2. Menginformasikan kepada masyarakat tentang pelayanan keperawatan yang diberikan


dan tanggung jawab para praktisi profesional

3. Memelihara kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan

4. Memberi kejelasan batas kewenangan setiap kategori tenaga keperawatan

5. Menjamin adanya perlindungan hukum bagi perawat

6. Memotivasi pengembangan profesi

7. Meningkatkan profesionalisme tenaga keperawatan

Dengan adanya ini maka, pengelolaan sumber daya tenaga keperawatan harus dibenahi secara
professional sesuai dengan perkembangan profesi.

IV. PENUTUP

Organisasi profesi PPNI bertanggung jawab dan mempunyai peran utama dalam pengembangan
keperawatan sebagai profesi.

Sudah saatnya PPNI mulai melaksanakan peran-perannya secara aktif, sehingga terlihat kegiatan
nyata dalam berjuang memenuhi hak masyarakat memperoleh pelayanan keperawatan
professional. Sumber daya tenaga keperawatan merupakan kunci utama untuk keberhasilan
keperawatan, sehingga pengelolaannya perlu mendapat perhatian.
Dengan demikian diharapkan tenaga keperawatan mempunyai kemampuan yang handal dalam
memberikan pelayanan/asuhan keperawatan serta mampu merebut pasar jasa pelayanan
keperawatan.

Kepustakaan

Chitty RT (1997), Profesional Nursing : Concept and Challenges. WB Sounders Company


Philadelphia

Husin Marifin (1999), Pendidikan Tinggi Keperawatan dan Rumah Sakit Pendidikan

Marqius Bessi L & Huston JC (2000), Lead