Anda di halaman 1dari 8

BAB I

GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN

Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan


Pra Dokter merupakan salah satu wujud pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi
yaitu pengabdian kepada masyarakat. Salah satu program inti dan menjadi ciri khas
dari Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Pra
Dokter Universitas Udayana (KKN PPM-PPD UNUD) adalah pendampingan
keluarga kurang sejahtera atau keluarga pra sejahtera. Sebuah keluarga dikatakan
prasejahtera bila seluruh anggota keluarga tidak bisa makan 2 kali sehari, anggota
keluarga tidak memiliki pakaian yang berbeda, bagian lantai rumah terluas dari tanah.
Program ini bertujuan untuk menggali potensi yang dimiliki keluarga untuk
meningkatkan kesejahteraan dengan melihat dan menganalisa permasalahan yang
dihadapi serta menyelesaikan permasalahannya. Di sini mahasiswa akan berperan
sebagai anak asuh yang akan mengidentifikasi masalah dan memecahkan atau
mencari jalan keluar dan masalah yang telah dihadapi oleh keluarga dampingan.
Keluarga yang di dampingi mahasiswa adalah keluarga yang termasuk dalam kriteria
keluarga prasejahtera atau keluarga kurang sejahtera, sehingga dengan adanya
mahasiswa dapat meningkatkan kesejahteraan, baik dari segi materi atau spiritualnya
untuk menuju hidup yang lebih baik. Dan tentunya dapat memberdayakan keluarga di
KK Dampingan
Keluarga KK Dampingan dilaksanakan di beberapa keluarga yang terdapat di
setiap lingkungan di Desa Mengani Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Desa
Mengani memiliki 1 Banjar yaitu Banjar Mengani, dimana pendampingan keluarga
dibagi secara merata kepada 20 mahasiswa KKN-PPM-PPD. Di Desa Mengani
terdapat 56 KK Miskin, dimana, 1 KK Miskin didampingi oleh 1 mahasiswa yang
dijadikan KK Dampingan. Pada KKN-PPM-PPD 2012 ini penulis mendampingi 1
KK Dampingan yang telah ditetapkan oleh koordinator desa.

1.1 Profil Keluarga Dampingan

1
Tabel 1. Data Demografi Keluarga Binaan

Umur
No. Nama Status Pendidikan Pekerjaan Ket.
(tahun)
1. Kepala
Nyoman Arimawan Menikah 35 Tamat SMP Petani
keluarga

2. Wayan Surni Menikah 32 Tamat SD Petani Istri

3. Gede Krisna Belum Siswa Anak


9 SD Kelas 3
Wibawa Menikah Pertama
4. Kadek Adi Guna Belum - Anak
3 -
Arta Menikah Kedua

Bapak Nyoman Arimawan merupakan pria kelahiran Desa mengani yang saat
ini berusia 35 tahun. Pekerjaan Bapak Nyoman Arimawan adalah sebagai petani.
Istri bapak Nyoman Arimawan bernama Wayan Surni berusia 32 tahun yang juga
bekerja sebagai petani.. Bapak Nyoman Arimawan memiliki 2 orang anak, dimana
keduanya adalah anak laki-laki. Anak yang pertama bernama Gede Krisna Wibawa
yang berusia 9 tahun. Anak yang kedua bernama Kadek Adi Guna Arta yang berusia
3 tahun. Anak pertama Bapak Nyoman Arimawan saat ini masih bersekolah di
tingkat SD, sedangkan anak kedua masih balita.

1.2 Ekonomi Keluarga Dampingan


1.2.1 Pendapatan Keluarga
Pekerjaan keluarga dampingan adalah petani. Sehari-hari KK, istri, dan ayahnya
menggarap tanah sendiri yang ditanami kopi. Keluarga dampingan juga memiliki
lahan sawah yang saat ini sedang memasuki masa bercocok tanam padi. Hasil panen
kopi per tahun mampu mencapai Rp. 15.000.000,00. Selain itu juga penghasilan
tambahan diperoleh dari beternak sapi yang dimiliki keluarga Bapak Arimawan.

1.2.2 Pengeluaran Keluarga

2
Pengeluaran keluarga dampingan kurang lebih Rp 1.000.000,00 per bulan untuk
memenuhi kebutuhan sehari hari seperti makan, biaya listrik, mengelola lahan, dan
lain sebagainya. Pengeluaran untuk upacara dan biaya kesehatan merupakan
pengeluaran tidak terduga yang belum disebutkan. Sehingga Pengeluaran mungkin
dapat lebih besar dari Rp. 1.000.000,00.

Analisis
Penghasilan keluarga dampingan termasuk cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari. Kebutuhan yang dipenuhi adalah biaya makan, sisanya untuk biaya listrik,
maupun pengeluaran untuk mengelola lahan.

BAB II

3
IDENTIFIKSI DAN PRIORITAS MASALAH

2.1 Permasalahan keluarga


Keluarga dampingan tinggal di rumah berdinding batu batako, dengan tembok tanpa
cat dan lantai dari plester semen. Sebuah dapur dengan dinding batako dan lantai
tanah merupakan tempat masak keluarga dampingan. Rumah terkesan bersih dan
ventilasi cukup. Keluarga ini juga memiliki sebuah tempat sembahyang. Keluarga ini
tidak memiliki jamban, namun biasanya mandi di sungai yang berada tidak jauh dari
rumah. Begitu pula pengadaan air bersih diambil dari sungai tersebut. Sampah
biasanya dibakar maupun dibuang ke dekat sungai.
Kondisi Kesehatan Keluarga Dampingan
Pada keluarga dampingan, anak pertama keluarga dampingan biasanya hanya sakit
pilek dan bersin-bersin. Jika keluhan muncul berhari-hari biasanya dibawa berobat ke
Pustu Batu Kaang. Tidak ada anggota keluarga lain yang sakit dalam 6 bulan
terakhir.
Kondisi Pendidikan Keluarga Dampingan
Pada keluarga dampingan, kesadaran mengenai pendidikan perlu ditingkatkan,
dimana anak-anak dari keluarga binaan perlu di dukung untuk melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, jangan sampai berhenti hanya di tingkat pendidikan SD
atau SMP.
Kondisi Ekonomi Keluarga Dampingan
Penghasilan keluarga dampingan termasuk cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari. Namun, apabila terdapat pengeluaran tidak terduga dan adanya upacara-upacara
keagamaan maka pengeluaran akan lebih besar dari pendapatan. Hal ini juga sering
merisaukan keluarga dampingan.
2.2 Masalah Prioritas
Kondisi ekonomi keluarga mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dari segi kesehatan,
keluarga dampingan memiliki kebiasaan membuang sampah dekat sungai serta
mengambil air bersih dan mandi di sungai. Anak pertama keluarga dampingan sering
mengeluh pilek dan bersin-bersin dengan upaya pengobatan yang telah dilakukan

4
adalah berobat ke pustu atau puskesmas kintamani III. Namun upaya pengobatan ini
dilakukan bila keluhan muncul berhari-hari. Selain itu, masalah pendidikan juga perlu
menjadi prioritas pada keluarga dampingan ini, sebab tingkat pendidikan juga
nantinya akan berimbas pada pekerjaan dan kesejahteraan keluarga.
Analisis
Pada keluarga dampingan ditemukan kurangnya upaya perilaku hidup bersih yang
baik. Hal ini terutama terkait dengan kurangnya pemahaman mengenai pentingnya
hidup bersih dan sehat serta perlunya kesadaran mengenai hidup bersih.
Pemahaman tentang pentingnya pendidikan pun perlu di tingkatkan agar
Bapak Nyoman Arimawan dan istrinya memberikan dukungan penuh kepada kedua
anaknya untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi.

2.3 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Pengetahuan dan Kebiasaan hidup
Keluarga dampingan memiliki kebiasaan sikat gigi tiap hari, namun dilakukan
biasanya 2 kali sehari, namun kadang dilakukan 1 kali. mandi 1 kali tiap sore hari.
Cuci tangan sebelum makan tanpa menggunakan sabun, namun biasanya
menggunakan air saja. Buang air besar dilakukan di kebun belakang rumah maupun
di sungai. Makanan biasanya nasi dan sayuran dengan lauk tahu atau tempe.
Analisis
Perilaku membersihkan diri dapat dikatakan kurang.Gosok gigi terkadang kurang
teratur dilakukan namun mandi hanya dilakukan satu kali sehari. Cuci tangan
sebelum makan hanya menggunakan air tanpa sabun maupun pembersih lainnya.
Buang air dilakukan di kebun maupun di sungai karena keluarga dampingan tidak
memiliki jamban. Kebiasaan makan sudah cukup baik, rata-rata keluarga dampingan
selalu makan nasi dan sayuran..

5
BAB III
USULAN PENSOLUSIAN MASALAH
3.1 Program
Kegiatan-kegiatan survei telah dilakukan saat mengunjungi keluarga dampingan.
Kunjungan pertama dilakukan untuk berkenalan dan mengakrabkan diri dengan
keluarga dampingan serta telah dilakukan selama beberapa hari minggu pertama.
Pada hari-hari berikutnya, mahasiswa mulai meneliti permasalahan-permasalahan
yang dihadapi disana. Baik dengan cara bercengkrama maupun basa-basi dengan
keluarga dampingan. Dengan demikian, dapat diketahui permasalahan yang dihadapi
serta dilakukan juga dengan meneliti keadaan rumah secara langsung dengan
meminta izin ke keluarga terlebih dahulu.
Berbagai permasalahan ditemukan dengan survei yang dilakukan. Namun,
terdapat dua masalah prioritas yang dapat diselesaikan oleh mahasiswa. Permasalahan
tersebut meliputi permasalahan kesehatan, dan juga masalah dalam bidang
pendidikan. Adanya permasalahan tersebut membuat pendamping mencoba membuat
program untuk menyelasikan masalah-masalah yang dihadapi Bapak Nyoman
Arimawan. Penyelesaian masalah menurut pendamping adalah sebagai berikut:

1) Penyelesaian Masalah Kesehatan

Penulis memberikan Pemahaman kepada keluarga dampingan mengenai


pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, bagaimana dampak baik dan
buruknya bagi kesehatan keluarga dan lingkungan sekitar sehingga keluarga
dampingan menyadari, memahami dan melaksanakan perilaku hidup bersih
dan sehat bagi keluarganya sendiri dan lingkungannya.

Memberikan pengetahuan bagaimana untuk membiasakan perilaku hidup


bersih demi meningkatkan kesehatan keluarga, karena hidup yang tidak sehat
akan berdampak buruk tidak hanya ke diri sendiri saja, namun kepada seluruh
anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungan sekitar.

6
Mahasiswa juga memberikan pengetahuan mengenai memilih makanan yang
sehat. Makanan apa saja yang dianjurkan untuk dikonsumsi, dan sebaiknya
dihindari untuk dikonsumsi, agar keluarga dampingan dapat mengatur pola
makan yang sehat.

2) Penyelesaian Masalah Pendidikan

Penulis menyarankan agar anak-anak keluarga bapak Nyoman Arimawan,


bisa terus melanjutkan pendidikannya sampai memperoleh ijasah SMP
maupun SMA. Terlebih lagi dengan adanya dana BOS Sehingga hal ini
memungkinkan bagi anak-anak Bapak Nyoman Arimawan untuk melanjutkan
pendidikannya tanpa memikirkan biaya pendidikan. Selain itu apa bila
memungkinkan sebaiknya dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi
dengan cara mengajukan bea siswa ke instansi instansi terkait. Sebab
dengan adanya ijasah, kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih
baik sangat besar

3) Penyelesaian Masalah Ekonomi

Alternatif pemecahan masalah dalam pekerjaan merupakan hal yang penting.


Penulis memberikan saran untuk membiasakan keluarga membuat laporan
keuangan yang sederhana setiap hari untuk mengetahui arus kas laba/rugi dan
menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. Kemudian
menyarankan agar istri Bapak Nyoman Arimawan, untuk memprioritaskan
kebutuhan-kebutuhan yang paling penting (kebutuhan pokok) untuk
dikonsumsi, dan jika terdapat uang, lebih baru membeli kebutuhan lainnya.

Selain itu, penulis juga menyarankan agar uang yang didapat juga ditabung
untuk kebutuhan masa depan maupun kebutuhan yang tidak terduga. Selain
uang utuk memenuhi kebutuhan sehari hari menjadi lebih besar, hal ini juga
dapat memberikan dampak yang baik bagi kesehatan keluarga dampingan.

7
3.2 Jadwal Kegiatan

Program Jadwal Kegiatan


Memperkenalkan dan mengakrabkan diri Minggu, 22 Juli 2012
serta identifikasi masalah pada keluarga Senin, 23 Juli 2012
dampingan Selasa, 24 Juli 2012
Kamis, 26 Juli 2012
Ikut dalam kegiatan harian keluarga Jumat, 27 Juli 2012
dampingan, memprioritaskan masalah Sabtu, 28 Juli 2012
keluarga dampingan, dan memberikan Senin, 30 Juli 2012
pengetahuan mengenai kesehatan dan Selasa, 31 Juli 2012
pendidikan Rabu, 1 Agustus 2012
Memberikan pengetahuan dan Kamis, 2 Agustus 2012
meningkatkan kesadaran mengenai Jumat, 3 Agustus 2012
pentingnya kesehatan dan pendidikan Sabtu, 4 Agustus 2012
Memberikan pengetahuan dan motivasi Senin, 6 Agustus 2012
untuk meningkatkan taraf hidup keluarga Selasa, 7 Agustus 2012
dampingan Rabu, 8 Agustus 2012

Anda mungkin juga menyukai