Anda di halaman 1dari 31

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Manajemen Stockpile Batubara

Manajemen stockpile adalah proses pengaturan atau prosedur yang terdiri

dari pengaturan kualitas dan prosedur penimbunan batubara di stockpile.

Manajemen stockpile merupakan suatu upaya agar batubara yang diproduksi dapat

dikendalikan, dari kualitasnya maupun kuantitasnya. Selain itu, manajemen

stockpile juga dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang mungkin timbul dari

proses handling atau penanganan batubara yang kurang tepat. Seperti misalnya

terjadi penyusutan kuantitas batubara baik yang diakibatkan oleh erosi pada musim

hujan, debu pada musim kering, atau terbuang yang disebabkan oleh terbakarnya

batubara di stockpile.

Di samping itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen

timbunan stockpile yaitu sebagai berikut :

1. Pengendalian temperatur dan swabakar;


2. Pengendalian terhadap kontaminasi dan housekeeping;
3. Pengendalian terhadap aspek kualitas batubara;
4. Pengendalian terhadap aspek lingkungan.

Manajemen stockpile secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian

pekerjaan yaitu :

1. Storage atau stocking management;


2. Quality dan quantity management.

Ke dua bagian pekerjaan tersebut di atas merupakan satu kesatuan yang

harus dikerjakan secara bersama sama.

Prosedur manajemen stockpile berbeda dari suatu tempat dengan tempat

lainnya tergantung pada situasi dan kondisi masing masing tempat dan keperluan.

21
22

Misalnya manajemen stockpile yang dilakukan stockpile supplier batubara atau di

perusahaan tambang batubara lebih ditujukan bagaimana memasok batubara agar

kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan permintaan pasar. Lebih jauh lagi, sistem

blending yang dijalankan lebih bertujuan untuk menyediakan batubara dengan

kualitas yang bervariasi sehingga dapat memasok batubara mengikuti permintaan

konsumen sehingga range penjualan semakin besar.

Lain halnya manajemen stockpile yang dilakukan di end-user seperti power

plant, manajemen stockpile lebih ditujukan pada bagaimana maintenance kualitas

batubara di stockpile agar dapat bertahan lebih lama tanpa ada risiko terbakar di

stockpile. Hal ini disebabkan biasanya batubara di power plant harus terjaga

kuantitas minimumnya agar tidak terjadi pengurangan batubara yang akan

mengakibatkan kerugian yang lebih besar karena apabila batubara di stockpile

habis, kemungkinannya mengganti bahan bakar dengan minyak atau gas.

Selain itu, sistem blending yang dilakukan lebih bertujuan bagaimana

mengatur kualitas batubara yang diumpankan ke boiler sesuai dengan desain

kualitas batubara dan bentuk boiler yang bersangkutan. Sistem blending di end-

user seperti di power plant sangat penting, karena biasanya untuk menjaga

keamanan suplai batubara, perusahaan seperti power plant tidak mengambil

batubara dari satu pemasok saja melainkan biasanya diambil dari beberapa

pemasok. Risikonya adalah bahwa kualitas batubara dari satu pemasok yang satu

dengan lainnya kadang kadang berbeda dan bervariasi. Apalagi kualitas yang

menjadi target bagi suatu power plant tidak hanya sebatas kalori melainkan juga

karakteristik abu yang sangat penting untuk diketahui, karena biasanya masalah

yang timbul dari satu boiler akibat dari sifat-sifat abu yang kurang baik, seperti

misalnya terjadinya slagging. Oleh karena itu blending manajemen stokpile di suatu

power plant sangat penting untuk dijaga kontiniutas operasional boiler .


23

Namun walaupun demikian secara umum tujuan dari target yang ingin dicapai

dari suatu manajemen stockpile baik di pemasok batubara atau di end-user pada

prinsipnya sama yaitu pengendalian kualitas dan kuantitas batubara di stockpile.

3.2 Storage Management

Pengaturan penyimpanan batubara sangat penting karena hal ini terkait

dengan masalah pemeliharaan kuantitas dan kualitas batubara yang ditimbun di

stockpile. Manajemen penimbunan dimulai dari pembuatan desain stockpile yang

sesuai yang berorientasi pada pemeliharan kuantitas dan kualitas serta pada

lingkungan. Berorientasi pada pemeliharaan kuantitas karena suatu storage

mangement harus mempertimbangkan faktor kapasitas stockpile yang dapat

semaksimal mungkin pada area yang tersedia tetapi tetap memperhatikan faktor

kualitas dan lingkungan. Sedangkan berorientasi pada pemeliharaan kualitas

karena desain suatu stockpile harus mempertimbangkan kualitas yang efisien

sehingga keperluan untuk pengaturan kualitas seperti blending, penimbunan yang

didasarkan pada kualitas produk dan lain-lain, sehingga berorientasi pada

lingkungan karena desain stockpile harus benar-benar memiliki fasilitas pengolahan

atau pengelolaan limbah yang berasal dari stockpile.

Kemungkinan limbah yang dihasilkan dari stockpile di antaranya adalah:

1. Fine coal yang mungkin terbawa oleh air, baik yang berasal dari air hujan atau

dari proses penyemprotan stockpile;


2. Terjadinya leaching terhadap batubara atau material bedding stockpile yang

mungkin melarutkan zat-zat yang dapat menyebabkan penyakit atau

membahayakan kesehatan apabila air tersebut dikonsumsi baik oleh hewan,

tumbuh-tumbuhan maupun manusia;


24

3. Debu yang berasal dari proses operasional stockpile, seperti proses crushing,

penyetokan dan proses pemuatan batubara ke atas truck, conveyor, tongkang

atau kapal.

3.2.1 Desain Stockpile

Desain suatu stockpile akan ditentukan atau bergantung pada:

1. Kapasitas dan volume batubara yang akan dikelola;


2. Jumlah pengelompokan kualitas yang akan dijadikan main product;
3. Sistem blending yang akan diterapkan;
4. Sistem penimbunan stacking system yang digunakan.

Namun demikian, prinsip-prinsip pembuatan stockpile yang berorientasi pada

pemeliharaan kuantitas, pemeliharaan kualitas serta berwawasan lingkungan pada

dasarnya sama, baik itu stockpile berkapasitas kecil maupun berkapasitas besar.

Pada desain stockpile ini ada beberapa bagian yang perlu diperhatikan antara lain

sebagai berikut :

a. Desain permukaan dasar stockpile

Permukaan dasar dari suatu stockpile harus dibuat stabil dan dibuat bedding

coal (batubara kotor) dengan menggunakan material yang cukup kuat untuk

menopang berat timbunan batubara. Selain itu permukaan dasar stockpile harus

dibuat agak cembung agar drainage stockpile lancar. Hal ini dimaksudkan agar tidak

terjadi genangan air yang terjebak di tengah stockpile pada saat hujan. Pada

penimbunan batubara yang menyerupai kerucut, titik berat akan berada di sekitar

pusat lingkaran. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan dasar stockpile.

Apabila terjadi penurunan dasar stockpile maka akan menyebabkan air

terjebak dalam cekungan tersebut yang mengakibatkan terjadinya perbedaan

elevasi dalam timbunan batubara tersebut yang dalam jangka panjang akan

memicu terjadinya self heating atau menjadi akselerator pada saat batubara bagian

atas mengalami kenaikan temperatur. Selain itu cekungan tersebut semakin lama
25

akan semakin dalam dengan kegiatan operasional di stockpile yang pada akhirnya

akan menimbun sebagian batubara ke dalam tanah. Pada saat pengambilan

batubara atau reclaiming, yang dijadikan dasar permukaan adalah level di sekitar

pinggiran stockpile yang belum turun. Sehingga pada saat pengambilan batubara di

bagian tengah timbunan, batubara dalam cekungan yang akan diakibatkan dari

batubara tersebut akan tertinggal dan semakin lama semakin banyak. Dengan

membuat dasar stockpile yang kuat serta relatif cembung, maka diharapkan

penurunan pada dasar permukaan stockpile dapat dihindarkan.

b. Kapasitas Timbunan

Untuk membuat rencana penimbunan batubara maka terlebih dahulu harus

mengetahui luasan dari area stockpile sehingga dapat mengestimasi volume

batubara yang akan ditimbun. Adapun rumus yang digunakan dalam menghitung

kapasitas timbunan batubara adalah rumus matematika prisma trapesium seperti

dibawah ini:

( P 1 x L1 ) +( P 2 x L 2)
V= xt
2

Keterangan :

V = Volume

P = Panjang

L = Lebar

t = Tinggi

c. Pembuatan saluran (paritan) di sekeliling stockpile

Untuk mengalirkan air yang berada di timbunan batubara, baik yang berasal

dari air hujan, maupun yang berasal dari penyemprotan air, di sekeliling area
26

stockpile tersebut harus dibuat paritan atau saluran air yang akhirnya akan dialirkan

ke settling pond atau kolam pengendapan. Air yang melewati timbunan batubara

akan melarutkan batubara halus dari timbunan batubara, sehingga partikel batubara

yang halus akan terbawa oleh aliran air. Oleh karena itu, sebelum air tersebut

dialirkan ke sungai, perlu ada pengolahan air stockpile tersebut, atau paling tidak

dibuatkan kolam pengendap. Dengan demikian partikel batubara yang terbawa oleh

air dari stockpile tersebut tidak mencemari lingkungan khususnya tidak mencemari

sungai.

Selain kolam pengendapan apabila terbukti dari pengukuran air yang berasal

dari stockpile tersebut bersifat asam, maka perlu dilakukan netralisasi. Netralisasi

air asam dari batubara dapat menggunakan kapur. Proses netralisasi dilakukan

setelah air tersebut melewati kolam pengendapan, atau dilakukan sebelum air

dibuang ke sungai atau laut.

d. Tanggul Pengaman (Safety Berm)

Perawatan pada tanggul harus selalu dilakukan dan bilamana diperlukan

harus membuat tanggul baru pada daerah yang dianggap rawan terutama bagian

tikungan jalan dan jalan yang berbatasan dengan jurang.

Standar Tanggul :

Tinggi minimal adalah setinggi setengah ban kendaraan terbesar yang

beroperasi.

Pada beberapa tempat terutama di tikungan tajam, dan di sampingnya jurang

bisa dipasangi patok ( cat beruas-ruas hitam dan putih ) setiap 5 meter.

Lebar dasar tanggul minimal 50 cm.

Tanggul ditempatkan 1,5 m dari badan jalan atau dibatas luar bahu jalan.

Tanggul dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menghambat material lapisan

atas terbawa aliran air.


27

Tujuan dibuatnya tanggul pengaman adalah untuk menghindari tergulingnya

kendaraan pada tepi jalan dan juga untuk menghindari segala bahaya yang dapat

mengancam keselamatan pekerja dan peralatan. Dengan demikian secara tidak

langsung tanggul tersebut dapat mengembalikan posisi kendaraan pada badan

jalan dan menjauhkan dari tepi-tepi jalan yang berbahaya.

Tanggul yang umum digunakan adalah tanggul berbentuk triangular. Untuk

tanggul tersebut, pedoman untuk rancangannya adalah paling tidak tingginya harus

sama atau lebih besar dari nilai Static Rolling Radius (SRR) roda kendaraan

menurut buku Pemindahan Tanah mekanis. Persamaan untuk menghitung besarnya

nilai Static Rolling Radius dapat digunakan persamaan sebagai berikut :

TH
2,1
SRR=

Keterangan :

SRR = Static Rolling Radius (m)

TH = Tinggi roda kendaraan (m)

e. Lebar jalan akses alat mekanis

Lebar jalan minimum pada jalan lurus dengan lajur ganda atau lebih, menurut

The American Association of State Highway and Transportation Officials

(AASHTO) Manual Rural High Way Design 1973, harus ditambah dengan

setengah lebar alat angkut pada bagian tepi kiri dan kanan jalan seperti pada

(Gambar 3.1). Dari ketentuan tersebut dapat digunakan cara sederhana untuk

menentukan lebar jalan angkut minimum, yaitu menggunakan rule of thumb

atau angka perkiraan, dengan pengertian bahwa lebar alat angkut sama

dengan lebar lajur.

Tabel 3.1
Lebar Jalan Angkut Minimum
Jumlah Lajur Truck Perhitungan Lebar Jalan Angkut Minimum (M)
28

1 1 + (2 x ) 2,00
2 2 + (3 x ) 3,50
3 3 + (4 x ) 5,00
4 4 + (5 x ) 6,50
Sumber: (AASHTO) Manual Rural High Way Design, 1973

Dari kolom perhitungan pada Tabel 3.1 dapat ditetapkan rumus lebar jalan

angkut minimum pada jalan lurus. Seandainya lebar kendaraan dan jumlah lajur

yang direncanakan masing-masing adalah Wt dan n, maka lebar jalan angkut pada

jalan lurus dapat dirumuskan sebagai berikut :

Sumber: (AASHTO) Manual Rural High Way Design, 1973


Gambar 3.1
Penentuan lebar jalan pada jalan lurus

L min = n.Wt + (n + 1) (.Wt)

Keterangan :

L min = Lebar jalan angkut minimum (m)

n = Jumlah lajur

Wt = Lebar alat angkut (m)

f. Pembuatan penangkal angin atau wind shield

Angin yang bertiup ke dan dari stockpile dapat mengakibatkan kerusakan

pada batubara dan berakibat buruk bagi lingkungan. Angin yang bertiup ke arah
29

timbunan batubara akan mempercepat terjadinya oksidasi batubara, yang akan

berlanjut pada terjadinya pemanasan atau self heating pada timbunan batubara

tersebut. Apabila hal ini tidak dapat dikendalikan maka akan berakhir dengan

terjadinya pembakaran spontan. Tentunya hal ini akan merugikan, baik akibat

hilangnya kuantitas batubara maupun biaya untuk merelokasi batubara yang

terbakar. Selain itu angin yang bertiup dari arah stockpile ke luar akan

mengakibatkan debu di udara dan dapat berpengaruh pada lingkungan. Masalah

debu ini akan semakin besar pengaruhnya apabila lokasi stockpile berada dekat

pemukiman penduduk. Untuk mencegah hal tersebut di atas dibuat semacam

greenbelt di sekitar stockpile, atau paling tidak di daerah di mana biasanya angin

berhembus.

Greenbelt tersebut biasanya dapat dibuat dengan membuat jaring pepohonan

di sekitar stockpile, sehingga pada saat angin berhembus ke arah stockpile dapat

dipecah atau dihalangi dengan oleh pepohonan tersebut.

g. Sistem penimbunan batubara

Karena swabakar dari suatu jenis batubara di tempat timbunan atau

penyimpanan umumnya disebabkan oleh dua faktor yaitu udara dan panas, maka

pencegahan terjadinya swabakar hanya dapat dilakukan apabila salah satu dari

kedua faktor ini dihilangkan atau ditiadakan melalui tindakan pemadatan dalam

memperkecil terjadinya kontak antara partikel batubara dengan oksigen dari udara.

Hal ini perlu dilakukan, terutama untuk penimbunan atau penyimpanan jangka

panjang (reserve storage or long term consolidated stockpile (untuk jangka waktu

penimbunan lebih dari 3 bulan) untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas

batubara di samping untuk mengurangi bahaya swabakar yang menyebabkan

kebakaran. Pemadatan timbunan batubara harus dilakukan secara sistematis yaitu

dilakukan secara lapis demi lapis di mana setiap lapis yang disebarkan merata
30

setebal katakanlah 0,5 sampai 1,0 m dan langsung dipadatkan dengan rubber-tired

heavy mobile equipment, seperti loader dari pada dengan bulldozer yang umumnya

memakai track, untuk mencegah kehancuran partikel batubara lebih lanjut.

Permukaan datar dan kemiringan di sisi samping timbunan batubara harus

dikompakkan. Perataan permukaan seharusnya dilaksanakan untuk mempermudah

pengeringan air dan penyemprotan air. Permukaan kemiringan bagian sisi timbunan

batubara sebaiknya dilapisi dengan bahan yang tidak mudah terbakar untuk

mencegah masuknya aliran udara ke dalam timbunan batubara tersebut. Dalam hal

ini, terutama untuk tempat timbunan batubara yang dikompakkan berjangka panjang

(reserve storage or long term consolidated stockpile), sudut sisi miring sampai ke

puncak timbunan harus kurang dari sudut alami yang terbentuk oleh batubara yang

ditimbunkan (angle of repose) sekitar 450. Biasanya sudut ini dibuat selandai

mungkin sekitar 150 dan 300 atau rata-rata 200 dari bidang datar tanah supaya alat

pengompakan bisa bekerja aman.


Menurut informasi pustaka lama, tinggi maksimum timbunan yang dianjurkan

adalah kira-kira 2 3 m untuk tempat timbunan batubara baik yang berasal dari

tambang (ROM - coal) maupun yang bersih dari washplant (clean or saleable coal)

yang tidak dikompakkan dengan waktu penimbunan berjangka pendek (live storage

or short term live unconsolidated stockpile). Dengan sistem penimbunan batubara

yang dikompakkan (reserve storage), tinggi timbunan batubaranya bisa mencapai

kira-kira 11 12 m, terutama untuk penimbunan batubara bersih.

Sistem penimbunan batubara harus diatur sedemikian rupa agar pemisahan

stock berdasarkan perbedaan kualitas dapat dilakukan dengan baik, juga timbunan

tersebut dapat meminimalkan risiko terjadinya swabakar di stockpile. Hal ini dapat

dilakukan dengan cara menumpuk batubara memanjang searah dengan arah angin

agar permukaan timbunan batubara yang menghadap ke arah datangnya angin


31

menjadi kecil. Selain penimbunan dibuat sejajar dengan arah angin, untuk

penyimpanan batubara yang relatif lama, bagian permukaan yang menghadap ke

arah angin harus dipadatkan dan sudut slope nya diperkecil.

Pemadatan terhadap seluruh permukaan dapat dilakukan apabila batubara

tersebut akan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Namun demikian hal

tersebut dapat dilakukan tergantung pada desain penimbunan batubara di stockpile

tersebut.

3.2.2 Syarat Teknis Penimbunan

Dalam pelaksanaan penimbunan dan pembongkaran yang dilakukan harus

dapat dilakukan pengaturan penimbunan atau pembongkaran yang baik. Hal ini

untuk menghindari terjadinya penimbunan yang melebihi kapasitas penimbunan.

Dalam proses penimbunan yang perlu diperhatikan secara teknis meliputi:

1. Kondisi Batubara

Kondisi batubara yang berpengaruh terhadap syarat teknis penimbunan

sebagai berikut:

a. Kualitas batubara
Untuk menghindari terbakarnya batubara kelas tinggi maka untuk setiap satu

lokasi penimbunan dilakukan penimbunan batubara yang sejenis (kualitas dan

kelas yang sama). Hal tersebut dikarenakan batubara kualitas rendah

gampang mudah dan cepat untuk terbakar dengan sendirinya. Karena panas

yang dihasilkan oleh batubara kelas rendah terakumulasi dan mempengaruhi

batubara kelas tinggi untuk terbakar.


b. Ukuran butir batubara
Ukuran butiran memiliki pengaruh terhadap timbulnya swabakar, karena besar

butiran yang bervariasi akan menimbulkan rongga-rongga yang cukup banyak


32

pada timbunan dan memudahkan terjadinya aliran udara. Sehingga hal ini

dapat memicu terjadinya swabakar.


2. Keadaan tempat penimbunan

Keadaan tempat timbunan yang berpengaruh terhadap syarat teknis

penimbunan adalah sebagai berikut:

a. Persiapan lantai stockpile

Lantai tempat penimbunan batubara harus dibuat stabil dan dibuat bedding

coal (alas batubara) dengan menggunakan material yang cukup kuat untuk

menopang berat timbunan batubara. Material yang digunakan untuk lantai

penimbunan adalah batubara sisa proses cleaning batubara dan parting. Selain itu

lantai dasar stockpile harus cukup padat dan mempunyai kemiringan yang cukup

untuk mengalirkan air.

Gambar 3.2
Bedding Coal

b. Area penimbunan yang bersih


Area penimbunan batubara harus bebas dari segala material yang mudah

terbakar seperti kayu dan sampah. Selain itu juga harus bebas dari potongan -

potongan logam.
c. Sumber air bertekanan tinggi
Sumber air bertekanan tinggi sangat dibutuhkan apabila terjadi kebakaran

pada daerah sekeliling timbunan, misalnya hydran. Sumber air bertekanan


33

tinggi dibutuhkan apabila terjadi kebakaran di sekitar timbunan, apabila tidak

segera dipadamkan maka akan mempengaruhi naiknya suhu timbunan dan

mempercepat proses pembakaran pada timbunan.

3.2.3 Pola Penimbunan

Penimbunan yang umum dilakukan di dalam kegiatan penambangan adalah:

dengan metode penimbunan terbuka (open stockpile). Open stockpile adalah

penimbunan material di atas permukaan tanah secara terbuka dengan ukuran

sesuai tujuan dan proses yang digunakan. Pola penimbunan antara lain sebagai

berikut:

a. Cone ply merupakan pola dengan bentuk kerucut pada salah satu ujungnya

sampai tercapai ketinggian yang dikehendaki dan dilanjutkan menurut panjang

stockpile. Pola ini menggunakan alat curah, seperti stacker reclaimer.

1,2,3,4 = Urutan Penimbunan.


Sumber: Sanwani (1998)
Gambar 3.3
Pola Penimbunan Cone Ply

b. Chevron merupakan pola dengan menempatkan timbunan satu baris material,

sepanjang stockpile dan timbunan dengan cara bolak-balik sehingga

mencapai ketinggian yang diinginkan. Pola ini baik untuk alat curah seperti

belt conveyor atau stacker reclaimer.

1,2,3,4 = Urutan Penimbunan.


34

Sumber: Sanwani (1998)


Gambar 3.4
Pola Penimbunan Chevron

c. Windrow merupakan pola dengan timbunan dalam baris sejajar sepanjang

lebar stockpile dan diteruskan sampai ketinggian yang dikehendaki tercapai.

Umumnya alat yang digunakan adalah backhoe, bulldozer, dan loader.

1,2,3,4. = Urutan Penimbunan.


Sumber: Sanwani (1998)
Gambar 3.5
Pola Penimbunan Windrow

3.3 Quality dan Quantity Management

Quality dan Quantity Management adalah proses yang paling penting dalam

suatu stockpile management. Karena Quality dan Quantity Management bersifat

terus-menerus dan berjalan seiring dengan jalannya perusahaan. Quality & Quantity

Management melibatkan hampir semua bagian di suatu perusahaan tambang

batubara. Sedangkan di end-user biasanya Quality dan Quantity Management

dipegang oleh Departemen Fuel Handling.

3.3.1 Quality dan Quantity Management Di Perusahaan Tambang


QQM di perusahaan tambang batubara melibatkan sebagian besar

departemen yaitu mulai dari Geology, Mine Planning, Tambang, Coal Processing,

Quality Control, dan Shipping. Masing-masing berperan dan bertanggung jawab di


35

bagian masing-masing dalam menciptakan sistem kontrol kualitas dan kuantitas

yang baik sebagai berikut:


1. Departemen Geology adalah bagian yang pertama-tama memberikan data

mengenai jumlah cadangan, dan kualitas batubara yang berpotensi untuk

dieksploitasi. Departemen Geology juga bertugas secara terus-menerus

mencari sumber cadangan batubara dengan melakukan eksplorasi. Data yang

diberikan oleh departemen Geology merupakan titik acuan awal mengenai

jumlah cadangan batubara dan kualitas batubara.


2. Departemen Mine Planning bertugas meneruskan pengolahan data dari

geology, dengan membuat rencana tambang yang di dalamnya dilengkapi

dengan data mineable reserve, mine design, perhitungan alat, scheduling, dan

lain-lain. Mine Planning juga bertugas melakukan kajian dan evaluasi setiap

perkembangan kualitas dari mulai data geology, data reserve, data produksi,

sampai data dari pengapalan.


3. Departemen Mining Bertugas melakukan penambangan yang sudah didesain

oleh mine planning. Departemen Mining harus menjaga agar dalam eksekusi

penambangan betul-betul mengikuti mine plan yang sudah ditetapkan, baik

mengenai batasan-batasan penambangan maupun dalam scheduling

penambangan.
4. Coal processing atau bagian handling, bertugas melakukan proses dari mulai

penumpukan batubara di stockpile, Crushing, maintenance stockpile, sampai

dengan pemuatan batubara. Coal processing biasanya erat sekali hubungan

kerjanya dengan Quality Control atau Quality Assurance. Karena pada

pelaksanaannya Quality Control dan Coal processing bekerja bersama-sama

di stockpile baik dalam hal sistem penumpukan batubara di stockpile,

pengaturan pemuatan batubara, sampai blending batubara.


5. Quality Control memiliki tugas sebagai berikut:
a. Tugas dari Quality Control adalah memonitor kualitas mulai dari data

forecast tambang sampai kualitas Pengapalan.


36

b. Quality Control melakukan kontrol terhadap batubara produksi dengan

melakukan sampling pada saat batubara telah di crushing.


c. Quality Control juga bertugas membuat rencana setiap pemuatan batubara

dan mengatur agar kualitas batubara yang dikirim sesuai dengan

spesifikasi buyer.
d. Quality Control membuat evaluasi perkembangan kualitas mulai dari

tambang sampai pengapalan.


e. Quality Control juga bertugas mengevaluasi atau mengontrol proses

operasional yang dapat mempengaruhi kualitas batubara, sehingga dapat

menyimpang dari planning.

3.3.2 Proses Operasional yang Dapat Mempengaruhi Kualitas Batubara

1. Pada lokasi penambangan


a. Pada saat penambangan, sering terjadi bahwa kondisi di lapangan berbeda

dengan kondisi seperti yang digariskan dalam mine plan. Misalnya adanya

sisipan atau cleat pada seam batubara yang sedang ditambang. Pengotor ini

sulit dipisahkan dengan selective mining. Akibatnya kandungan abu batubara

tersebut akan lebih tinggi dari data mine plan atau data geology.
b. Pada penambangan dip seam atau seam yang miring, sering terjadi

kontaminasi seam batubara yang sedang ditambang oleh bagian floor yang

longsor atau jatuh ke atas seam batubara tersebut.


2. Pada lokasi stockpile
a. Pada saat penumpukan batubara di stockpile, terjadi pencampuran antar

batubara yang memiliki kualitas yang berbeda.


b. Pada saat pengambilan batubara dari stockpile, sering terkontaminasi dengan

bedding (fine coal), atau bahkan material bedding selain batubara seperti batu

dan kerikil.
c. Batubara yang sudah lama di stockpile mengalami penurunan kualitas.

3.4 Swabakar Batubara

Swabakar atau Spontaneous combustion atau disebut juga self combustion

adalah salah satu fenomena yang terjadi pada batubara pada waktu batubara
37

tersebut disimpan atau di storage / stockpile dalam jangka waktu tertentu. Swabakar

pada stockpile merupakan hal yang sering terjadi dan perlu mendapatkan perhatian

khususnya pada timbunan batubara dalam jumlah besar. Batubara akan teroksidasi

saat tersingkap dipermukaan sewaktu penambangan, demikian pada saat batubara

ditimbun proses oksidasi ini terus berlanjut.

Bila reaksi oksidasi berlangsung terus-menerus, maka panas yang dihasilkan

juga akan meningkat, sehingga dalam timbunan batubara juga akan mengalami

peningkatan. Peningkatan suhu ini juga disebabkan oleh sirkulasi udara dan panas

dalam timbunan tidak lancar, sehingga suhu dalam timbunan akan terakumulasi dan

naik sampai mencapai suhu titik pembakaran, yang akhirnya dapat menyebabkan

terjadinya proses swabakar pada timbunan tersebut.

Sebelum mengalami swabakar batubara akan mengalami proses oksidasi

yang merupakan proses inisiasi dari swabakar apabila proses oksidasi ini diikuti

dengan meningkatnya temperatur terus-menerus yang akhirnya mengakibatkan

terjadinya pembakaran spontan. Batubara akan bereaksi dengan oksigen di udara

segera setelah batubara tersebut tersingkap selama penambangan. Kecepatan

reaksi ini lebih besar terutama pada batubara golongan rendah seperti lignit dan

sub-bituminus, sedangkan pada golongan batubara bituminus ke atas oksidasi ini

baru akan tampak apabila batubara tersebut sudah tersingkap dalam jangka waktu

yang cukup lama. Apabila temperatur batubara terus meningkat yang disebabkan

oleh self heating, maka perlu ditangani dengan serius karena akan berpengaruh

terhadap nilai komersial batubara tersebut, selain itu akan mengakibatkan

pembakaran spontan batubara yang sangat tidak diinginkan karena akan

merugikan.

Api adalah suatu reaksi berantai yang berjalan sangat cepat, seimbang, dan

kontinyu antara tiga bahan pembentuk api, yaitu Bahan Bakar, Energi Panas, dan
38

Oksigen. Api dan tiga elemen pembentuknya itu sering digambarkan berupa

Segitiga Api ( Fire Triangle ). Fire Triangle adalah suatu Segitiga Sama Sisi, di

mana sisi-sisinya diberi nama masing-masing elemen pembentuk api: Bahan Bakar

( Fuel ), Energi Panas ( Heat ), dan Oksigen ( Oxygen ). Reaksi antara ke tiga

elemen tersebut hanya akan menghasilkan suatu nyala api apabila kadar elemen-

elemennya seimbang. Bila salah satu elemen kadarnya berkurang, maka nyala api

akan padam dengan sendirinya.

Menurut Sukandarrumidi (2008), proses spontaneous combustionmengalami

proses bertahap yang dijelaskan pada Gambar 3.6 berikut :

a. Mula-mula batubara akan menyerap oksigen dari udara

secara perlahan- lahan dan kemudian temperatur udara akan naik.

b. Akibat temperatur naik kecepatan batubara menyerap oksigen dan udara

bertambah dan temperatur kemudian akan mencapai 100oC 140oC.

c. Setelah mencapai temperatur 140oC, uap dan CO2 akan terbentuk sampai

temperatur 230oC, isolasi CO2 akan berlanjut. Bila temperatur telah berada di

atas 350oC, ini berarti batubara telah mencapai titik sulutnya dan akan cepat

terbakar.

a b

c d
39

Sumber: Sukandarrumidi, (1995)


Gambar 3.6
a. Segitiga api (fire triangle)
b. Batubara menyerap oksigen
c. Temperatur batubara naik
d. Swabakar pada batubara

Perkembangan panas batubara yang disebabkan oleh proses oksidasi yang

dapat mengakibatkan proses swabakar dapat diringkas sebagai berikut:

Batubara dalam timbunan mulai teroksidasi secara perlahan-lahan sampai

suhu timbunan 50C;

Proses oksidasi akan meningkat sesuai kecepatan kenaikan suhu batubara

hingga suhu 100C - 140C;

Karbon dioksida dan uap air akan terurai pada suhu 140C;

Karbondioksida akan terurai dengan cepat sampai dicapai suhu 230C di

mana hal ini untuk tahap swabakar terjadi;

Suhu di atas 350C, batubara akan menyala dan terjadi proses swabakar

batubara.

Suhu kritis batubara untuk rank rendah di tempat penimbunan/penyimpanan

berkisar 50C.

3.5 Penanganan Timbunan Batubara


40

Untuk mengurangi penyebab terjadinya swabakar pada timbunan batubara

diperlukan teknik penanganan timbunan batubara. Hal-hal yang perlu dilakukan

dalam penanganan timbunan batubara di antaranya yaitu:

1. Pemadatan pada timbunan sangat perlu dilakukan untuk mengurangi rongga-

rongga yang terdapat di dalam timbunan. Untuk itu, bentuk timbunan perlu

diperhatikan dengan baik karena tanpa adanya pemadatan dapat

mengakibatkan terjadinya swabakar. Oleh karena itu perlu diperhatikan

beberapa hal yaitu:


a. Pemadatan pada sisi miring timbunan harus dijaga pada saat

penimbunan atau pembongkaran timbunan batubara. Untuk timbunan

yang akan disimpan lama > 3 bulan maka harus dilakukan pemadatan

dengan baik.
b. Setelah batubara ditimbun, kemudian batubara disebarkan merata ke

seluruh area penimbunan dengan ketebalan 30 cm kemudian

dipadatkan. Apabila dilakukan penimbunan baru, di mana pemadatan

terbatas hanya pada bagian active pile.


2. Memonitor temperatur batubara di stockpile secara reguler dimaksudkan agar

setiap kenaikan temperatur batubara di stockpile cepat terdeteksi agar dapat

dilakukan tindakan penanggulangan untuk mencegah terjadinya pembakaran

spontan. Apabila hasil pengukuran suhu mencapai titik puncak, maka

timbunan batubara harus segera dibongkar atau dipadatkan.

3.6 Pembongkaran Batubara

Pembongkaran merupakan kegiatan untuk mengambil atau membongkar

batubara yang ditimbun di tempat penimbunan. Pembongkaran timbunan memiliki

beberapa sistem antara lain yaitu:

1. Sistem FIFO (First In First Out) yaitu di mana batubara yang pertama kali

ditimbun pertama kali diambil. Manajemen FIFO di setiap stockpile baik di


41

perusahaan tambang batubara maupun di end-user harus diusahakan

terlaksana karena akan mencegah risiko terjadinya pembakaran spontan di

stockpile. Hal ini karena semakin lama batubara terekspose di udara semakin

besar kemungkinannya batubara tersebut mengalami oksidasi yang berarti

pula semakin besar kemungkinan terjadinya self heating sampai terjadinya

pembakaran spontan. Biasanya manajemen FIFO ini terkendala dengan

masalah kualitas. Ada kalanya batubara yang sudah ditimbun pertama kali di

stockpile tidak dapat dimuat atau diambil karena alasan kualitas yang tidak

memenuhi. Namun demikian setiap kesempatan manajemen FIFO ini tetap

harus diprioritaskan dilakukan pada saat tidak ada alasan kualitas karena di

antara langkah pencegahan yang lain, manajemen FIFO adalah yang paling

murah dan aman.


Disamping itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti Gambar 3.7

dalam manajemen stockpile yaitu sebagai berikut :


a. Kontrol Terhadap Aspek Kualitas Batubara
b. Kontrol Terhadap Kontaminasi dan Housekeeping
c. Kontrol Temperatur dan Swabakar
d. Kontrol Terhadap Aspek Lingkungan

Sumber: Wikipedia
Gambar 3.7
Sistem FIFO (First In First Out)
42

2. Sistem LIFO (Last In First Out) yaitu di mana batubara yang terakhir kali

ditimbun paling awal diambil. Pada sistem ini kegiatan penimbunan dilakukan

sesuai dengan jadwal akan tetapi kegiatan pembongkaran timbunan dilakukan

pada batubara yang terakhir ditimbun, sehingga pola ini memungkinkan

batubara tertimbun lebih lama.

3.7 Penanganan Kebakaran Timbunan Batubara

Apabila terjadi kebakaran pada timbunan batubara jangan langsung

melakukan penyemprotan area timbunan dengan air, hal ini akan memperburuk

kondisi timbunan tersebut. Untuk menangani kebakaran timbunan batubara atau

batubara yang panas dapat dilakukan upaya dengan urutan sebagai berikut:

1. Gali dan pisahkan batubara yang terbakar atau yang terkena panas pada

timbunan agar panas yang terkandung tidak terakumulasi terus-menerus yang

dapat mengakibatkan terbakarnya batubara dalam jumlah besar.


2. Selanjutnya pindahkan batubara panas atau terbakar jauh-jauh dari area

penimbunan, agar batubara panas atau terbakar tidak mempengaruhi

batubara lain.
3. Setelah itu sebarkan batubara yang terkena panas pada area yang aman,

sehingga panas yang ada dapat keluar.


4. Semprotkan air bertekanan tinggi (hydrant) pada batubara yang panas atau

terbakar sampai dingin.

3.8 Safety Stock Batubara


Safety stock (juga disebut buffer stock) adalah istilah yang digunakan oleh

logistik untuk menggambarkan tingkat stok ekstra yang dipertahankan untuk

mengurangi risiko stockout (kekurangan bahan baku) karena ketidakpastian

pasokan dan permintaan. Rumus yang digunakan dalam menghitung safety stock

(Sukamdiyo, 2004) adalah:

Safety Stock = Safety factor x Standar deviasi


43

Safety stock ditetapkan bukanlah untuk menghilangkan seluruh stock out, tapi

hanya yang mayoritas saja. Contoh bila kita tetapkan service level 90% artinya 90%

order dapat dipenuhi sedangkan 10% tidak dapat dipenuhi (stockout). Jumlah safety

stock akan berbanding lurus dengan service level. Dengan menggunakan rumus

kita dapat menentukan safety stock yang tetap sesuai dengan customer service

level. Untuk mendapatkan angka safety factor kita perlu menggunakan rumus

statistik probabilitas (kemungkinan) dari angka service level contoh 90%.


Lalu untuk mendapatkan angka safety stock perlu kita lihat data historis aktual

rata-rata. Data tersebut kemudian kita cari standar deviasinya kemudian dikalikan

dengan safety factor untuk mendapatkan safety stock.

3.9 Kualitas Batubara

Proses pembakaran batubara merupakan proses yang kompleks, oleh karena

itu dibutuhkan perlakuan khusus untuk mempermudah penentuan kualitas yang

terkait dengan nilai thermal dan perkiraan adanya komponen yang akan

memberikan nilai negatif baik pada efisiensi pembakaran maupun pada lingkungan.

Analisis untuk mengukur kualitas batubara adalah analisis proksimat dan ultimat.

Ada tiga metode standar pengujian parameter kualitas batubara di dunia yang

umum digunakan yaitu, American Society for Testing and Materials (ASTM), British

Standards (BS) dan International Organisation for Standardisation (ISO). Walaupun

metode individual untuk masing-masing standar umumnya hampir sama, namun

ada perbedaan dalam prosedur yang akan membawa pada ketidaksamaan yang

cukup penting apabila ketiga standar (ASTM, BS dan ISO) dibandingkan. Standar

pengujian parameter analisis yang digunakan di Indonesia mengacu pada ASTM D

3172.
44

3.9.1 Basis Pelaporan Hasil Analisis

Cara melaporkan hasil analisis bisa menimbulkan kebingungan dan

kesalahan, karena data hasil analisis yang sama bisa dihitung dan dilaporkan

dengan tetap memperhitungkan adanya kadar lengas, mineral, atau kadar abu.

Metode standar analisis batubara dan kokas biasanya berdasarkan pada basis air

dried basis (adb). Akan tetapi kadangkala hasil analisis diinginkan dengan basis

yang lain. Basis (dasar) pelaporan yang umumnya dipakai adalah sebagai berikut

1. Air Dried basis (AD)

Secara teknis uji analisis dilakukan menggunakan contoh yang telah kering

pada udara terbuka, yaitu sampel ditebar tipis pada suhu ruangan sehingga

kesetimbangan dengan lingkungan ruangan laboratorium sebelum akhirnya diuji

dan dianalisis. Nilai analisis dalam basis ini dapat mengalami fluktuasi sesuai

kelembaban ruangan laboratorium yang dipengaruhi musim dan faktor cuaca lain.

Akan tetapi, secara jangka panjang seperti satu tahun, misalnya, kestabilan nilai

tertentu dapat dicapai. Disamping itu, basis uji ini sangat praktis karena perlakuan

prapengujian terhadap sampel hanya berupa pengeringan alami sesuai temperatur

ruangan sehingga standar ADB ini banyak dipakai seluruh dunia.

2. As Received basis (AR)

Analisis pada basis ini juga mengikut sertakan air yang menempel di batubara

yang diakibatkan oleh hujan, proses pencucian batubara, atau penyemprotan ketika

di stockpile dan pada saat loading. Yang dimaksud dengan as received bukanlah

penerimaan batubara di stockpile pembeli, tapi disesuaikan dengan kontrak

pembelian. Pada kontrak FOB (Free On Board), penilaian kualitas pada basis ARB

adalah saat berpindahnya hak kepemilikan batubara di kapal atau tongkang. Pada

kondisi ini, kadang ARB juga disebut as loaded basis.

3. Dry basis (D)


45

Tampilan Dry Basis menunjukkan bahwa hasil uji dan analisis menggunakan

sampel uji yang telah dikeringkan di udara terbuka.

4. Dry Ash Free basis (DAF)


Dry Ash Free basis merupakan kondisi asumsi uji dengan batubara sama

sekali tidak mengandung air dan abu. Adanya tampilan DAF menunjukkan bahwa

hasil analisis dan uji terhadap sampel yang telah dipanaskan (air habis) serta tanpa

abu.
5. Dry Mineral Matter Free basis (DMMF)
DMMF dapat diartikan sebagai pure coal basis yang berarti batubara

diasumsikan dalam keadaan murni dan tidak mengandung air, abu, serta zat

mineral lain.
Adapun tabel basis pelaporan analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 3.2

berikut.
Tabel 3.2
Basis Pelaporan Analisis Batubara

AR

AD

Sumber: American Society for Testing and Material (ASTM D 3172).


3.9.2 Analisis Kualitas Batubara

1. Analisis Proksimat
Analisis proksimat adalah pengujian yang paling mendasar dalam penentuan

kualitas batubara, yaitu untuk mengetahui jumlah relatif air lembab, zat terbang, abu

dan karbon tertambat yang terkandung di dalam batubara. Pada penentuan


46

peringkat batubara, hubungan zat terbang dan karbon tertambat menjadi dasar

penilaian, oleh karena itu perbandingan kandungan karbon tertambat dan zat

terbang digambarkan sebagai nilai fuel ratio pada International and National

Classifications.

a. Zat terbang (Volatile Matter)

Zat yang terkandung dalam zat terbang ini biasanya gas hidrokarbon terutama

gas methane. Zat terbang ini berasal dari pemecahan struktur molekul batubara

pada rantai alifatik pada temperature tertentu. Di laboratorium sendiri penentuannya

dengan cara memanaskan sejumlah batubara pada temperature 900 derajat Celsius

dengan tanpa udara, zat terbang keluar seperti jelaga karena tidak ada oksigen

yang membakarnya.

Zat terbang merupakan salah satu indikasi dari rank batubara. Dalam

klasifikasi batubara ASTM, Zat terbang digunakan sebagai parameter penentu rank

untuk batubara high rank coal. Zat terbang juga memiliki korelasi yang jelas dengan

salah satu maceral yaitu vitrinite. Apabila zat terbang dalam basis DMMF diplot

dengan reflectance dari vitrinite, maka akan diperoleh suatu garis yang relatif lurus

yang korelatif dengan rank batubara. Selain itu pada saat penentuan di

laboratorium, juga dapat digunakan sebagai prediksi awal apakah batubara tersebut

memiliki sifat aglomerasi atau tidak.

Sifat dalam coal combustion, zat terbang memegang peranan penting karena

ikut menentukan sifat-sifat pembakaran seperti efisiensi pembakaran karbon atau

carbon loss on ignition. zat terbang yang tinggi menyebabkan batubara mudah

sekali terbakar pada saat injection ke dalam suatu boiler. Low rank coal biasanya

mengandung zat terbang yang tinggi sehingga memiliki efisiensi yang sangat tinggi

pada saat pembakaran di power station.


47

Zat terbang juga digunakan sebagai parameter dalam memprediksi keamanan

batubara pada tambang-tambang bawah tanah. Tingginya nilai zat terbang semakin

besar pula risiko dalam penyimpananya terutama dari bahaya ledakan.

b. Kadar abu (Ash Content)

Abu merupakan komponen non-combustible anorganik yang tersisa pada saat

batubara dibakar. Residu tersebut mewakili jumlah komponen mineral di dalam

batubara, setelah komponen zat terbang seperti CO2 dari karbonat, SO2 dari

belerang atau pirit dan H2O dari tanah pengotor (clay) telah menguap.

c. Kandungan air (Total Moisture)

Kandungan air total merupakan dasar penilaian yang sangat penting terutama

untuk nilai kelayakan pembukaan tambang baru. Secara umum tinggi rendahnya

kandungan air berpengaruh pada beberapa aspek teknologi penggunaan batubara

terutama dalam perdagangan batubara untuk tenaga uap. Dalam penggerusan,

kelebihan kandungan air akan berakibat pada komponen mesin penggerus karena

abrasi. Sedangkan kandungan air total akan berpengaruh pada kecepatan

pengangkutan selama proses penanganan pada pembangkit listrik. Parameter lain

yang terpengaruh oleh kandungan air baik as-recived moisture (Mar) maupun air-

dried moisture (Mad) adalah nilai kalori. Mad akan berpengaruh pada nilai kalori

kalau persentasinya lebih kecil 5-10% dari Mar.

d. Karbon tertambat (Fixed Carbon)

Karbon tertambat batubara adalah jumlah karbon dalam persentase berat

yang tertinggal setelah seluruh komponen zat terbang menguap. Komponen

tersebut mewakili komponen batubara organik dan masih mengandung sedikit

nitrogen, belerang, hidrogen dan oksigen. Karbon tertambat diperoleh dari hasil

koreksi pengurangan kadar air, zat terbang dan abu dalam persen (%). Karbon
48

tertambat merupakan salah satu parameter yang dapat mengindikasikan peringkat

batubara.

e. Nilai kalori (Calorie value)

Energi yang diperoleh pada proses pembakaran batubara diakibatkan oleh

terjadinya reaksi eksotermis dari senyawa hidrokarbon dengan oksigen. Material

lain yang akan mengalami proses perubahan kimia pada proses pembakaran

adalah nitrogen, sulfur dan mineral yang terkandung dalam batubara. Namun reaksi

kimia dari komponen-komponen tersebut bersifat endotermis sehingga akan

mengurangi jumlah total energi yang tersedia.

2. Analisis Ultimat

Komponen organik dari batubara terdiri dari senyawa kimia yang terbentuk

dari hasil ikatan antara karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), oksigen (O2), sulfur

(S). Analisa ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari

masing-masing senyawa tersebut di atas.

Kecuali nitrogen (N), senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada

komponen mineral seperti pada karbonat, sulfida, sulfat dan hydrous clay minerals.

Hidrogen (H) dan oksigen (O2) juga merupakan komponen yang penting dalam

analisis penentuan kandungan air total dan air bawaan pada batubara.

a. Karbon dan Hidrogen (Carbon and Hydrogen)

Karbon dan hidrogen dalam batubara merupakan senyawa kompleks

hidrokarbon yang dalam proses pembakaran akan membentuk CO 2 dan H2O. Selain

dari karbon, mineral karbonat juga akan membebaskan CO2 selama proses

pembakaran batubara berlangsung sedangkan H2O diperoleh dari air yang terikat

pada tanah liat dan hydrous minerals lainnya.


49

b. Nitrogen (Nitrogen)

Nitrogen dalam batubara terikat pada senyawa organik dan dalam pori-pori

yang umumnya terdapat pada batubara lignit. Pada proses pembakaran, beberapa

nitrogen bereaksi membentuk senyawa ammonium sedangkan lainnya membentuk

NOx sebagai gas polutan yang teremisikan ke atmosfir pada saat gas panas

terlepas ke udara. Sehingga batubara dengan kadar nitrogen rendah akan lebih

disukai.

c. Oksigen (Oxygen)

Unsur oksigen dapat dijumpai hampir pada semua senyawa organik dalam

batubara. Selain itu juga dapat ditemui pada air lembab dalam komponen mineral

seperti tanah liat (clay) dan karbonat. Dalam batubara kering unsur oksigen akan

ditemukan pada besi oksida, hidroksida dan beberapa mineral sulfat. Oksigen juga

sebagai indikator dalam menentukan peringkat batubara. Oksigen juga sangat

penting dalam proses gasifikasi dan pencairan batubara karena dapat menyerap

banyak hidrogen yang merupakan unsur penting dalam proses gasifikasi dan

pencairan.

d. Sulfur (Sulphur)

Kandungan sulfur batubara Indonesia umumnya di bawah 1% ,batubara akan

membentuk oksida yang kemudian terlepas ke atmosfir sebagai emisi. Dalam

perdagangan batubara internasional, standar kandungan sulfur 1%.

Ada tiga jenis sulfur yang terikat dalam batubara yaitu:

Sulfur organik, dimana satu sama lain terikat kedalam senyawa hidrokarbon

sebagai subtansi dari batubara.


Mineral sulfida, seperti pirit fraksi anorganik (pyritic sulphur).
Mineral sulfat, seperti kalsium sulfat atau hidrous iron.

Dalam analisa ultimat, total sulfur adalah kandungan sulfur yang mewakili dari

ketiga material tersebut di atas. Kelebihan dari batubara Indonesia pada umumnya
50

mempunyai kandungan sulfur yang rendah. Untuk sementara ini teknologi

desulfurisasi di Indonesia belum dianggap penting mengingat rendahnya kandungan

sulfur.

3.9.3 Analisis Fisik Batubara

1. Nilai Ketergerusan (Hardgrove grindability index)

HGI adalah salah satu sifat fisik dari batubara yang menyatakan kemudahan

batubara untuk dipulverise sampai ukuran 200 mesh. HGI sangat penting bagi

pengguna batubara di power plant yang menggunakan pulverized coal. HGI tidak

dapat dijadikan indikasi atau simulasi performance dari suatu pulverizer atau milling

secara langsung, karena performance milling masih dipengaruhi oleh kondisi

operasional milling itu sendiri, seperti mill tention, temperature primary air, setting

classifier dan lain-lain. Namun demikian, HGI dapat dijadikan pembanding untuk

batubara yang satu dengan lainnya mengenai kemudahannya untuk di-milling.

2. Temperatur Lebur Abu

Perilaku abu batubara pada kondisi suhu tinggi merupakan hal yang penting

diperhatikan dalam pemilihan batubara sebagai bahan bakar. Pada umumnya

tungku pembakaran didesain untuk menangani pembuangan abu sebagai partikel

padatan halus. Dengan demikian batubara dengan nilai high ash fusion temperature

tidak diinginkan. Sehingga untuk batubara jenis tersebut tungku yang digunakan

harus didisain khusus agar cairan kental dari abu yang mencair dapat dibuang.

Perilaku abu batubara pada temperatur tinggi berhubungan dengan komposisi kimia

dari abu batubara.

3 Indeks Abrasi

Partikel kasar dari komponen mineral seperti kwarsa dapat menyebabkan

terjadinya abrasi pada permukaan mesin penggerus sebagai rangkaian awal pada

industri pengguna batubara.


51

3.10Pencampuran Batubara (Blending)

Blending adalah suatu tahapan yang masih masuk dalam proses pengolahan

batubara, pengertian blending yaitu suatu proses pencampuran beberapa batubara

yang memiliki kualitas rendah atau kualitas yang berbeda sehingga membentuk

satu batubara dengan kualitas tertentu yang diinginkan. Target kualitas yang ingin

dicapai dalam blending berbeda-beda. Ada yang menjadikan Ash sebagai target

pencapaian ada juga yang menjadikan kalori sebagai acuan target yang ingin

dicapai.

Proses perhitungan blending yang perlu diperhatikan dalam menghitung dan

mengkalkulasi hasil blending. Rumus blending batubara (Muchjidin, 2006) yang

digunakan adalah sebagai berikut:

` Qb = Q1 .w1 + Q2.w2 + Q3.w3 +..... Qn.wn


w1 + w2 + w3 + ..... wn
Keterangan :

Qb = Kualitas hasil Blending ( ash (%), nilai kalori (kcal/kg))

Q1,2,3 = Kualitas batubara ( ash (%), nilai kalori (kcal/kg))

W1,2,3 = Berat batubara (ton)

Dalam suatu sistem pencampuran atau blending merupakan yang terpenting

adalah blending harus dilakukan dengan unit pencampuran yang terkecil untuk

mendapatkan batubara hasil blending yang homogen. Hasil suatu blending yang

homogen sangat diperlukan terutama bagi end-user. Ketidakhomogenan dalam

suatu blending akibatnya akan terasa langsung oleh end-user pada saat batubara

tersebut digunakan. Kesempurnaan dari suatu blending adalah ketepatan dalam

pencapaian target kualitas hasil blending dan homogenitas hasil dari blending

batubara.

Anda mungkin juga menyukai