Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

PINDAH PANAS

PENGENALAN ALAT UKUR TERMAL

Disusun Oleh:
Saefulloh Maslul
NIM A1C015034

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN


TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Termal dapat dirunut dari bahasa Yunani therm yang berarti

kalor, serta dari bahasa Latin temper yang berarti campuran

(Sihana, 2010). Dalam ilmu termal dikenal pula istilah

perpindahan panas. Perpindahan panas adalah salah satu dari

disiplin ilmu teknik termal yang mempelajari cara menghasilkan

panas, menggunakan panas, mengubah panas, dan menukarkan

panas di antara sistem fisik. Perpindahan panas diklasifikasikan

menjadi konduktivitas termal, konveksi termal, dan radiasi

termal.

Konduksi termal merupakan proses perpindahan kalor tanpa

diikuti perpindahan partikel. Konveksi merupakan proses

perpindahan kalor dari satu bagian fluida ke bagian fluida lain

oleh pergerakan fluida itu sendiri. Sedangkan radiasi merupakan

perpindahan energi kalor dalam bentuk gelombang

elektromagnetik (tanpa perantara).

Untuk mengetahui besarnya energi termal dalam suatu

sistem, maka diperlukan sebuah alat ukur termal, yang mana

alat ukur itu sendiri memiliki nama, fungsi dan cara kerja masing-

masing sesuai unsur termal yang akan dihitung besarnya. Karena


begitu pentingnya pengetahuan akan alat ukur termal, untuk

itulah dilakukannya praktikum ini.

B. Tujuan
1. Mengetahui jenis-jenis alat ukur suhu
2. Mengetahui cara kerja jenis-jenis alat ukur suhu
3. Mengetahui hasil pengukuran menggunakan alat ukur suhu.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Termal dapat dirunut dari bahasa Yunani therm yang berarti

kalor, serta dari bahasa Latin temper yang berarti campuran

(Sihana, 2010). Termal secara bahasa merupakan segala sesuatu

yang berkenaan dengan panas (Gabriel, 1996:99). Dalam ilmu

termal terdapat disiplin ilmu termodinamika dan pindah panas.

Peran perpindahan panas adalah untuk melengkapi analisis

termodinamika, yang hanya mempertimbangkan sistem dalam

kesetimbangan, dengan hukum tambahan yang memungkinkan

prediksi tingkat saat transfer energi. Hukum-hukum tambahan

didasarkan pada tiga mode dasar perpindahan panas, yaitu

konduksi, konveksi, dan radiasi (Pitts, 1997:1).

Isnaini (2012:121) menjelaskan bahwa perpindahan panas

menurut sifat hantarannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Perpindahan panas secara konduksi


Perpindahan panas secara konduksi adalah perpindahan

panas melalui zat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel

zat tersebut. Proses ini dapat dilihat pada percobaan sebuah

batang logam yang salah satu ujungnya diletakkan pada

nyala api, dan salah satu ujung lainnya dipasang sensor suhu.

Setelah beberapa waktu, pada sensor suhu akan mengalami

peningkatan nilai suhu. Maka dapat diambil kesimpulan


bahwa adanya aliran panas secara konduksi dari ujung logam

yang terkena nyala api ke arah ujung logam yang terdapat

sensor suhunya. Namun dalam proses aliran panas ini,

partikel bahan penyusun dari logam tersebut tidak

mengalami perpindahan.
2. Perpindahan panas secara konveksi
Perpindahan panas secara konveksi adalah perpindahan

panas melalui zat di mana proses ini disertai dengan

perpindahan partikel dari zat tersebut. Perpindahan partikel

zat ini diakibatkan oleh perbedaan massa jenis zat karena

adanya perbedaan suhu di antara partikel-partikel dalam

sistem ini. Contoh dari proses ini adalah pada percobaan

pemanasan air dan pemanasan udara pada ruangan.


3. Perpindahan panas secara radiasi
Perpindahan panas secara radiasi adalah perpindahan

panas tanpa zat perantara (medium). Proses ini merupakan

pancaran energi secara terus menerus dari permukaan suatu

benda yang merupakan sumber panas. Contohnya adalah

pancaran panas dari Matahari sampai ke permukaan Bumi.

Panas yang di pancarkan dari Matahari bergerak melalui

ruang hampa dan kemudian masuk ke dalam atmosfer

(udara) Bumi. Pada saat melewati atmosfer Bumi panas ini

akan diserap oleh udara dan energinya makin mengecil

sampai ke permukaan Bumi.


Guna mengetahui besaran pindah panas yang terjadi,

diperlukan alat ukur termal, antara lain:


1. Termometer
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur

suhu suatu benda (Suryatin, 2006:1). Suhu adalah ukuran

panas atau dinginnya suatu benda. Satuan yang digunakan

untuk mengukur suhu adalah derajat Celsius (Herlanti et al.,

2007:39). Macam-macam termometer yaitu termometer zat

cair, termometer logam (pirometer), termometer udara,

termometer listrik, dan termometer elektronik (Suryatin,

2006:1).
2. Piranometer
Piranometer adalah alat yang digunakan untuk mencatat

radiasi dari langit yang diukur oleh alat bernama termopile.

Piranometer itu sendiri dilengkapi dengan penutup yang

dapat menghalangi radiasi matahari secara langsung (Daton

et al., 2010:12).
3. Termokopel
Termokopel adalah alat ukur suhu yang didasarkan pada

efek termoelektrik. Jika dua logam yang berbeda, misalnya

besi dan tembaga disambungkan maka gaya gerak listrik

akan dihasilkan saat kedua sambungan tersebut ditempatkan

pada daerah yang suhunya berbeda. Termokopel dapat

digunakan pada rentang suhu yang besar dan dapat

ditempatkan dalam aliran fluida, dalam tungku, atau dalam

tubuh manusia (Umar, 2008:222). Termokopel bekerja


berdasarkan prinsip apabila dua buah metal dari Jenis yang

berbeda di lekatkan, maka dalam rangkaian akan dihasilkan

gaya gerak listrik yang besarnya bergantung terhadap

temperatur (Moran dan Shapiro, 2000).


III. METODOLOGI
A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara

lain:

1. Termometer alkohol
2. Termometer raksa
3. Termokopel
4. Hybrid Recorder
5. Piranometer
6. Multimeter
7. Air, kompor, dan panci
8. Stopwatch
9. Alat tulis.
B. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum acara ini

adalah:

1. Alat dan bahan disiapkan.


2. Cara kerja termometer, piranometer, termokopel, dan hybrid

recorder dipelajari.
3. Suhu air dan suhu lingkungan diukur dengan termometer tiap

3 menit sekali selama 15 menit.


4. Hasil pengukuran suhu dicatat.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Tabel 1. Data Kelompok 1 dan 2


Suhu () Termometer A Suhu () Termometer B
No. Waktu (menit)
(Air) (Lingkungan)
1 0 30 26
2 3 84 26
3 6 98 26
4 9 97 26
5 12 96 26
6 15 96 26

Tabel 2. Data Kelompok 3 dan 4


Suhu () Termometer A Suhu () Termometer B
No. Waktu (menit)
(Air) (Lingkungan)
1 0 30 28
2 3 60 27,5
3 6 80 27
4 9 90 26,5
5 12 94 26,5
6 15 97 26
Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan
120
100
80

Suhu 60
40
20
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu (menit)

Air Lingkungan
Ga

mbar 1. Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan Kelompok 1 dan 2

Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan


120
100
80

Suhu 60
40
20
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu (menit)

Air Lingkungan
Ga

mbar 2. Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan Kelompok 3

dan 4
Gambar 3. Termometer

Fungsi termometer adalah untuk mengukur suhu.

Cara kerja:

1. Tempelkan pentolan termometer ke objek yang akan diamati


2. Panas dari objek akan merambat ke cairan di dalam

termometer, kemudian cairan memuai sesuai dengan skala

ukur
3. Hasil pengukuran dapat dilihat di skala.

Gambar 4. Termometer lingkungan


Fungsi termometer lingkungan adalah untuk mengukur suhu

lingkungan.

Cara kerja:

1. Letakkan termometer di suatu tempat


2. Suhu udara sekitar akan merambat ke cairan dalam

termometer
3. Hasil pengukuran dapat dilihat di skala termometer.

Gambar 5. Termometer inframerah

Fungsi termometer inframerah adalah untuk mengukur suhu.

Cara kerja:

1. Arahkan termometer inframerah ke objek yang akan diukur

suhunya
2. Tekan tombol inframerah
3. Baca hasil pengukuran suhu pada display.
Gambar 6. Piranometer

Fungsi piranometer adalah untuk mengukur radiasi matahari.

Cara kerja:

1. Letakkan piranometer di bawah terik matahari


2. Posisi piranometer tidak boleh miring agar keakuratan data

lebih baik
3. Hasil pengukuran dapat dibaca pada multimeter.

Gambar 7. Multimeter

Fungsi multimeter adalah untuk menampilkan hasil pengukuran

piranometer.
Cara kerja:

1. Pasang kabel dari piranometer ke multimeter


2. Lihat hasil pengukuran pada display multimeter.

Gambar 8. Termokopel dan hybrid recorder

Fungsi termokopel adalah untuk mengukur suhu objek yang

diteliti atau diamati.

Fungsi hybrid recorder adalah untuk menampilkan hasil

pengukuran termokopel.

Cara kerja:

1. Hidupkan hybrid recorder


2. Tempelkan termokopel ke objek yang diamati untuk

mengetahui besar suhunya


3. Hasil pengukuran tersebut kemudian ditampilkan di layar

hybrid recorder
4. Hasil pengukuran dapat disimpan di hybrid recorder maupun

di-print out.
B. Pembahasan
Mengetahui panas dinginnya suatu zat dengan

mempergunakan indra peraba merupakan penilaian yang

subjektif serta tidak ilmiah. Pengamatan tersebut merupakan

pengamatan yang kualitatif yang justru dapat menyesatkan.

Untuk menghindari penilaian yang subjektif perlu ada penilaian

yang kuantitatif. Untuk itu perlu adanya alat ukur serta satuan

dasar (Gabriel, 1996:99) Alat ukur termal adalah alat yang

digunakan untuk mengukur tingkat atau derajat panas dinginnya

suatu benda (Prasodjo et al., 2008:68). Pada umumnya alat yang

digunakan untuk mengukur panas adalah termometer

(Setyaningtyas. 2009:53).

Pada praktikum pengenalan alat ukur termal, terdapat

beberapa alat ukur termal yang digunakan, antara lain:

1. Termometer Alkohol
Termometer alkohol merupakan termometer yang berisi

cairan alkohol di dalam pipa kapiler. Fungsi dari termometer

alkohol adalah untuk mengukur perubahan suhu objek yang

diamati. Alkohol digunakan sebagai cairan dalam pipa kapiler

karena alkohol memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suhu

lingkungan dengan rentang -114,9 sampai 78.

Termometer alkohol sangat baik digunakan untuk mengukur

suhu di bawah 100. Prasodjo et al. (2008:69) menjelaskan

bahwa terdapat kelebihan dan kekurangan alkohol sebagai


zat termometrik. Kelebihan alkohol sebagai zat termometrik

antara lain:
a. Pemuaiannya teratur,
b. Memiliki koefisien muai yang besar, dan
c. Memiliki titik beku yang rendah, yaitu -115 sehingga

dapat digunakan untuk mengukur suhu yang rendah.

Sedangkan kelemahan alkohol sebagai zat termometrik

antara lain:

a. Membasahi dinding kaca,


b. Memiliki titik didih rendah, yaitu 80 sehingga tidak

dapat digunakan untuk mengukur suhu tinggi, dan


c. Kalor jenisnya tinggi sehingga membutuhkan energi yang

besar untuk menaikkan suhu.

Termometer alkohol memiliki prinsip kerja yaitu

memanfaatkan pemuaian volume zat pengisi termometer

saat mendapat suhu yang lebih panas. Sedangkan cara kerja

termometer alkohol adalah sebagai berikut:

a. Tempelkan pentolan termometer ke objek yang akan

diamati
b. Panas dari objek akan merambat ke cairan di dalam

termometer, kemudian cairan memuai sesuai dengan

skala ukur
c. Hasil pengukuran dapat dilihat di skala.
2. Termometer Air Raksa
Termometer air raksa ialah termometer yang

menggunakan air raksa atau merkuri sebagai pengisinya.

Termometer air raksa memiliki fungsi yang sama dengan


termometer alkohol, yaitu mengukur perubahan suhu objek.

Termometer air raksa optimal jika digunakan pada suhu

sekitar -39 hingga 357. Prasodjo et al. (2008:69)

menjelaskan bahwa terdapat kelebihan dan kekurangan air

raksa sebagai zat termometrik. Kelebihan air raksa sebagai

zat termometrik adalah:


a. Warnanya mengkilap sehingga mudah dilihat,
b. Tidak membasahi Dinding Kaca,
c. Pemuaiannya teratur,
d. Mudah menyesuaikan dengan suhu sekitarnya, dan
e. Titik didihnya tinggi, yaitu 357 sehingga dapat

digunakan untuk mengukur suhu yang tinggi.

Sedangkan kelemahan raksa sebagai zat termometrik adalah:

a. Raksa sangat mahal,


b. Raksa tidak dapat digunakan untuk mengukur suhu

dengan sangat rendah (misalnya suhu kutub utara atau

kutub selatan) karena titik bekunya tinggi, dan


c. Raksa termasuk zat beracun sehingga termometer raksa

berbahaya jika tabungnya pecah.

Termometer air raksa memiliki prinsip kerja yaitu

memanfaatkan pemuaian volume zat pengisi termometer

saat mendapat suhu yang lebih panas. Sedangkan cara kerja

termometer air raksa adalah sebagai berikut:

a. Tempelkan pentolan termometer ke objek yang akan

diamati
b. Panas dari objek akan merambat ke cairan di dalam

termometer, kemudian cairan memuai sesuai dengan

skala ukur
c. Hasil pengukuran dapat dilihat di skala.
3. Termokopel
Dasar termokopel dalam pengukuran suhu dipengaruhi

oleh suatu gaya gerak listrik yang timbul pada hubungan dua

logam yang berbeda fenomena ini terjadi oleh karena ada

dua efek yang timbul secara independen. Yaitu efek primer

dan efek sekunder. Efek primer dikemukakan oleh Peltier

yaitu adanya gaya gerak listrik oleh karena hubungan dua

buah logam yang berbeda dan perbedaan temperatur antara

dua buah sambungan. Gaya gerak listrik Peltier berbanding

lurus dengan perbedaan temperatur antara dua buah

sambungan. Sedangkan efek sekunder dicetuskan oleh

Thomson yaitu gaya gerak listrik timbul karena adanya

gradien temperatur sepanjang setiap konduktor. Dari uraian

di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa rangkaian antara

dua buah logam yang berbeda akan timbul gaya gerak listrik.

Dengan mengukur GGL ini dapat dikonversikan ke dalam

skala suhu (Gabriel, 1996:101).


Termokopel merupakan salah satu alat ukur termal yang

berfungsi untuk mengukur suhu pada objek yang susah

diamati menggunakan termometer biasa. Prinsip kerja

termokopel yaitu mengukur suhu di tempat yang tidak


terkena tangan. Cara kerja termokopel adalah sebagai

berikut:
a. Hidupkan hybrid recorder
b. Tempelkan termokopel ke objek yang diamati untuk

mengetahui besar suhunya


c. Hasil pengukuran tersebut kemudian ditampilkan di layar

hybrid recorder
d. Hasil pengukuran dapat disimpan di hybrid recorder

maupun di-print out.


4. Termometer Inframerah
Termometer inframerah adalah termometer yang

menggunakan sinar inframerah sebagai pengukur suhu.

Termometer jenis ini seperti termometer pada umumnya

berfungsi mengukur suhu objek, tetapi berbeda secara

prinsip dan cara penggunaannya. Prinsip termometer

inframerah adalah mengukur suhu menggunakan inframerah

tanpa menyentuh benda yang diukur. Sedangkan cara kerja

termometer inframerah yaitu:


a. Arahkan termometer inframerah ke objek yang akan

diukur suhunya
b. Tekan tombol inframerah
c. Baca hasil pengukuran suhu pada display.
5. Termometer Lingkungan
Termometer lingkungan berfungsi untuk mengukur suhu

lingkungan pengamatan. Termometer lingkungan memiliki

prinsip kerja seperti termometer umumnya, yaitu mengukur

perubahan suhu di lingkungan dengan memanfaatkan

pemuaian volume zat pengisi termometer saat mendapat


suhu yang lebih panas. Sedangkan cara kerja termometer

lingkungan adalah sebagai berikut:


a. Letakkan termometer di suatu tempat
b. Suhu udara sekitar akan merambat ke cairan dalam

termometer
c. Hasil pengukuran dapat dilihat di skala termometer.
6. Piranometer
Piranometer adalah alat yang digunakan untuk

mengukur radiasi matahari. Piranometer tidak memerlukan

sumber listrik untuk beroperasi dan sering digunakan dalam

meteorologi, klimatologi, studi energi surya dan fisika

bangunan. Prinsip kerja dari alat ini adalah melalui sinar

matahari atau radiasi yang menembus glass dome. Radiasi

dengan panjang gelombang sampai dengan 3.0 mikron akan

diteruskan ke lempeng logam hitam dan putih. Lempeng

logam hitam akan mengabsorbi panas radiasi sementara

lempeng putih akan memantulkan radiasi sehingga terjadi

perbedaan temperatur di antara kedua jenis lempeng logam

ini. Perbedaan temperatur dari kedua lempeng ini

dihubungkan ke circuit thermo junctions yang mengubah

besaran panas menjadi perbedaan tegangan potensial di

antara kedua ujung lempeng.


Cara kerja piranometer adalah sebagai berikut:
a. Letakkan piranometer di bawah terik matahari
b. Posisi piranometer tidak boleh miring agar keakuratan

data lebih baik


c. Hasil pengukuran dapat dibaca pada multimeter.
Dalam melakukan pengukuran suhu air maupun lingkungan,

terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengukuran suhu

air dan lingkungan, faktor-faktor itu antara lain:

1. Besar Api Kompor


Besar kecilnya api kompor mempengaruhi pengukuran

suhu dan durasi yang terjadi. Dalam praktikum ini, terdapat

perbedaan pengukuran suhu selama waktu yang telah

disepakati. Hal itu terjadi karena besar kecilnya kompor

antara percobaan 1 dengan percobaan 2 tidak sama. Kompor

dengan nyala api besar, dengan kompor dengan nyala api

kecil ketika keduanya melakukan pengukuran pada waktu

yang telah disepakati, maka kompor dengan nyala api yang

besar akan cepat mengalami perubahan suhu dibandingkan

dengan kompor dengan nyala api kecil.


2. Ketelitian Pengamat
Ketelitian pengamat menentukan seberapa akurat

pengukuran suhu yang terjadi. Hal ini ditemukan dalam

praktikum ini ketika melakukan pengukuran suhu lingkungan

maupun suhu air, terjadi perbedaan pembacaan suhu pada

skala termometer.
3. Kelembapan Udara
Kelembaban udara mempengaruhi pengukuran suhu,

semakin besar kelembapan udara sekitar pengamatan maka

semakin rendah suhu sekitar pengamatan tersebut,


sebaliknya semakin kecil kelembapan udara sekitar maka

semakin besar suhu udara sekitar.


4. Penyinaran Matahari
Banyaknya penyinaran matahari di tempat pengamatan

mempengaruhi besar kecilnya pengukuran suhu. Hal ini

ditemui ketika percobaan dilakukan pada jam 16.45-17.00

ketika banyaknya sinar matahari mulai menurun, memiliki

tingkat penurunan suhu yang cukup tajam yaitu 28 ke 26

dibandingkan ketika dilakukan pengukuran pada jam 17.00-

17.15 di saat sinar matahari mulai menghilang, suhu udara

lingkungan konstan sebesar 26.


5. Kuantitas Pengamat
Kuantitas pengamat menentukan besar kecilnya suhu

pengamatan, ketika dilakukan pengukuran suhu air, terlalu

banyak pengamat yang berada di sekitar objek pengamatan

yang mana hal itu akan mempengaruhi suhu sekitar menjadi

lebih panas, sehingga pengukuran suhu air mengalami

pengaruh dari naiknya suhu lingkungan pengamatan.

Di bidang teknik pertanian, alat ukur termal memiliki banyak

manfaat. Kebermanfaatan tersebut antara lain yaitu:

1. Mengetahui besarnya suhu suatu sistem.


2. Mengetahui besarnya suhu akan membantu dalam

melakukan pengeringan suatu bahan.


3. Mengetahui kapasitas kerja suatu mesin, karena ada

beberapa mesin yang tidak tahan terhadap panas yang


berlebihan dan akan lebih optimal ketika berada pada

rentang suhu yang telah diperhitungkan.


4. Membuat rencana atau rancangan iklim berdasarkan data

siklus yang diperoleh sehingga dapat merumuskan apakah

suatu tanaman dapat ditanam pada kondisi tertentu dan

mengetahui keadaan optimal dalam penanaman, apakah

lebih optimal menggunakan alat tradisional atau

menggunakan alat mekanis.


5. Memanfaatkan beberapa energi terbarukan yang diperoleh

dari proses termal.

Pada praktikum ini, dijelaskan berbagai alat termal yang

biasa digunakan. Alat tersebut bermacam-macam fungsi, cara

kerja, dan prinsip kerjanya. Setiap alat dapat digunakan untuk

keperluan tertentu yang mana pengukuran akan lebih optimal

jika menggunakan peralatan tersebut. Alat yang penulis maksud

adalah termometer air raksa, termometer alkohol, termometer

inframerah, termokopel, hybrid recorder, piranometer, dan

multimeter.

Termometer air raksa akan lebih optimal untuk pengukuran

suhu tinggi di bawah 357. Termometer alkohol akan lebih

optimal untuk mengukur suhu rendah di bawah 100.

Termometer inframerah baik digunakan terhadap benda yang

ketika dilakukan pengukuran suhu benda tersebut tidak boleh

tersentuh. Piranometer baik digunakan untuk mengukur radiasi


matahari, dan hasil pengukuran tersebut ditampilkan ke

multimeter. Sedangkan termokopel baik digunakan untuk

mengukur suhu suatu sistem yang tertutup bahkan terisolasi,

karena termokopel dapat masuk ke dalam sistem tersebut dan

hasil pengukuran dapat dilihat melalui hybrid recorder yang

berada di luar sistem.

Adapun pengukuran pada praktikum ini diperoleh data

sebagai berikut:

Tabel 3. Data Kelompok 1 dan 2


Suhu () Termometer A Suhu () Termometer B
No. Waktu (menit)
(Air) (Lingkungan)
1 0 30 26
2 3 84 26
3 6 98 26
4 9 97 26
5 12 96 26
6 15 96 26

Tabel 4. Data Kelompok 3 dan 4


Suhu () Termometer A Suhu () Termometer B
No. Waktu (menit)
(Air) (Lingkungan)
1 0 30 28
2 3 60 27,5
3 6 80 27
4 9 90 26,5
5 12 94 26,5
6 15 97 26

Berdasarkan Tabel 3 dan Tabel 4, diperoleh suhu percobaan yang

berbeda pada rentang waktu yang sama. Pada pengukuran suhu


air, perbedaan ini disebabkan oleh besarnya api kompor yang

berbeda dan ketelitian pengamat. Sedangkan perbedaan

pengukuran suhu lingkungan disebabkan oleh perbedaan

besarnya penyinaran matahari di tempat pengamatan.

Besar api kompor yang berbeda dalam percobaan tersebut,

akan mempengaruhi kecepatan suhu air untuk meningkat,

sehingga pada menit ke-3 percobaan di atas terjadi dua

perbedaan suhu yang signifikan dikarenakan besar api yang

berbeda. Kemudian ketelitian pengamat yang kurang didapatkan

pada percobaan yang dilakukan oleh kelompok 1 dan kelompok 2

pada menit ke-9 menuju menit ke-15. Secara teoretis, air ketika

dipanaskan akan bertambah suhunya, dan sangat kecil

kemungkinan ketika air dipanaskan akan mengalami penurunan

suhu, sehingga ketelitian pada percobaan yang dilakukan oleh

kelompok 1 dan kelompok 2 dipertanyakan.

Pengukuran suhu lingkungan dilakukan pada sore hari,

sehingga pengukuran suhu akan mengalami penurunan sejalan

dengan bertambahnya waktu, menuju suhu yang konstan ketika

faktor yang mempengaruhinya (sinar matahari) menghilang.

Percobaan yang dilakukan oleh kelompok 3 dan kelompok 4

terdapat faktor yang mempengaruhi besarnya suhu, yaitu sinar

matahari. Sedangkan percobaan yang dilakukan oleh kelompok 1


dan kelompok 2 faktor besarnya penyinaran matahari telah

menghilang karena hari semakin gelap.

Secara grafik, data hasil pengamatan dapat digambarkan

pada Gambar 9 dan Gambar 10.

Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan


120
100
80

Suhu 60
40
20
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu (menit)

Air Lingkungan
Ga

mbar 9. Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan Kelompok 1

dan 2
Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan
120
100
80

Suhu 60
40
20
0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu (menit)

Air Lingkungan
Ga

mbar 10. Grafik Pengamatan Suhu Air dan Lingkungan Kelompok

3 dan 4

Pada Gambar 9, percobaan yang dilakukan oleh kelompok 1 dan

kelompok 2 didapatkan data suhu lingkungan yang konstan,

sedangkan pengukuran suhunya mengalami kenaikan dari menit

ke-0 hingga menit ke-9, dan mengalami penurunan suhu pada

menit ke-9 hingga menit ke-15. Berbeda dengan percobaan yang

dilakukan kelompok 3 dan kelompok 4. Grafik pengukuran suhu

lingkungan mengalami penurunan, sedangkan grafik pengukuran

suhu lingkungan mengalami kenaikan.

Kendala yang terjadi pada praktikum pengenalan alat ukur

termal yaitu terjadinya perbedaan pengukuran antara praktikan

satu dengan praktikan lain dan kurangnya keakuratan


pengukuran. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pembagian

tugas praktikan dalam kelompok, dan menempatkan praktikan

yang ahli dalam pengukuran sebagai pengukur data, sehingga

keakuratan pengukuran lebih baik lagi.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum pengenalan alat ukur termal,

praktikan dapat menyimpulkan beberapa hal:

1. Terdapat beberapa alat ukur termal yang biasa digunakan

yaitu termometer air raksa, termometer alkohol, termometer

lingkungan, termometer inframerah, piranometer,

multimeter, termokopel, dan hybrid recorder.


2. Cara kerja termometer adalah tempelkan pentolan

termometer ke objek yang akan diamati, panas dari objek

akan merambat ke cairan di dalam termometer, kemudian

cairan memuai sesuai dengan skala ukur, hasil pengukuran

dapat dilihat di skala.


3. Cara kerja termometer lingkungan adalah letakkan

termometer di suatu tempat, suhu udara sekitar akan

merambat ke cairan dalam termometer, hasil pengukuran

dapat dilihat di skala termometer.


4. Cara kerja termometer inframerah adalah arahkan

termometer inframerah ke objek yang akan diukur suhunya,

Tekan tombol inframerah, Baca hasil pengukuran suhu pada

display.
5. Cara kerja piranometer adalah letakkan piranometer di

bawah terik matahari, Posisi piranometer tidak boleh miring

agar keakuratan data lebih baik, Hasil pengukuran dapat

dibaca pada multimeter.


6. Cara kerja multimeter adalah Pasang kabel dari piranometer

ke multimeter, Lihat hasil pengukuran pada display

multimeter.
7. Cara kerja termokopel dan hybrid recorder adalah hidupkan

hybrid recorder, Tempelkan termokopel ke objek yang diamati

untuk mengetahui besar suhunya, Hasil pengukuran tersebut

kemudian ditampilkan di layar hybrid recorder, Hasil

pengukuran dapat disimpan di hybrid recorder maupun di-

print out.

B. Saran

Saran penulis untuk praktikum selanjutnya yaitu diharapkan

untuk praktikan dapat datang tepat waktu, sehingga praktikan

yang lain tidak terbuang waktunya untuk menunggu sekelompok

kecil praktikan yang datang terlambat.


DAFTAR PUSTAKA

Daton, Goris Seran, Stephanus Legiyo, C. Cosma Elsih Lestari,


dan Yohanes Bambang Suparmono. 2010. Fisika untuk
SMA/MA Kelas X. Jakarta: Grasindo.

Gabriel, J. F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC.

Herlanti, Yanti, Tutut M. Lestari, dan Donny H. F. 2007. Ilmu


Pengetahuan Alam IPA. Jakarta: Quadra.

Isnaini, Ahmad. 2012. Pembuatan Alat Ukur Konduktivitas Panas


Bahan Padat untuk Media Praktik Pembelajaran Keilmuan
Fisika. E-journal IAIN Jambi. 3/1: 117-128.

Moran, Michael J. Dan Howard N. Shapiro. 2000. Termodinamika


Teknik. Terjemahan oleh Yulianto Sulistyo Nugroho. Jakarta:
Erlangga.

Pitts, Donald R. 1997. Schaums Outline of Theory and Problem of


Heat Transfer. New York: McGraw-Hill.

Prasodjo, Budi, Naryoko, Pathul Djannah, Eka Damayanti, dan


Romulus Tampubolon. 2008. Physics 1 for Junior Hight
School Year VII. Yogyakarta: Yudhistira.

Setyaningtyas, Yualind. 2009. Cerdas Sains Kelas 4-6 SD.


Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Sihana. 2010. Analysis of Thermal System.


http://sihana.staff.ugm.ac.id/s1/than/than-ch01.htm. Diakses
pada tanggal 3 November 2016. Pukul 16.55 WIB.

Suryatin, Budi. 2006. Sukses Sains Fisika 2. Jakarta: Grasindo.

Umar, Efrizon. 2008. Buku Pintar Fisika. Jakarta: Media Pusindo.