Anda di halaman 1dari 17

Neural Sense

Otitis Media Akut Stadium Supuratif


Gabriella Franly Theodorus
102013120/C4
Alamat: Jl. Arjuna Utara No.6, RT.5/RW.2, Duri Kepa, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, DKI
Jakarta 11510
Email: bella_gft@yahoo.com

Pendahuluan

Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut telinga tengah. Penyakit ini masih
merupakan masalah kesehatan khususnya pada anak-anak. Diperkirakan 70% anak mengalami
satu atau lebih episode otitis media menjelang usia 3 tahun. Penyakit ini terjadi terutama pada
anak dari baru lahir sampai umur sekitar 7 tahun, dan setelah itu insidennya mulai berkurang.1

Faktor-faktor risiko terjadinya OMA adalah bayi yang lahir prematur dan berat badan
lahir rendah, umur (sering pada anak-anak), anak yang dititipkan ke penitipan anak, variasi
musim dimana OMA lebih sering terjadi pada musim gugur dan musim dingin, predisposisi
genetik, kurangnya asupan air susu ibu, imunodefisiensi, gangguan anatomi seperti celah
palatum dan anomali kraniofasial lain, alergi, lingkungan padat, sosial ekonomi rendah, dan
posisi tidur tengkurap.1

Abstrak

Otitis media akut pada anak merupakan keadaan yang sering terjadi pada anak. Sumbatan
tuba eustachius dan infeksi saluran nafas atas (ISPA) diketahui sebagai penyebab yang paling
utama. Bentuk dari tuba Eustachius pada anak yang pendek dan horizontal dianggap sebagai
kunci yang mendasari perkembangan otitis media akut. Diagnosis tersebut dapat ditegakkan
lewat anamnesis, pemeriksaan fisik dengan otoskopi dan radiologi. Penatalaksanaan adalah
dengan terapi konservatif dan juga operatif serta menghilangkan factor resiko penyebabnya.
Diagnosis dan tatalaksana yang tepat dan ditangani sedini mungkin dapat mengurangi morbiditas
dan mencegah terjadinya komplikasi.

1
Kata kunci: otitis media akut, anak

Abstract

Acute otitis media in children is a condition that often occurs in children. Eustachian
tube blockage and upper respiratory tract infection (URTI) is known as the most important
cause. The shape of the Eustachian tube in children are short and horizontal regarded as a key
underlying development of acute otitis media. The diagnosis can be confirmed through
anamnesis, physical examination and radiological otoskopi. Management is conservative and
operative treatment as well as eliminating the risk factors cause. Diagnosis and management of
appropriate and treated as early as possible to reduce morbidity and prevent complications.

Keywords: acute otitis media, children

Skenario

Seorang anak berusia 3 tahun dibawa ibunya ke klinik anda dengan keluhan anak tiba-tiba
menangis menjerit di tengah malam.

Rumusan masalah

Seorang anak berusia 3 tahun menangis menjerit di tengah malam

Hipotesis

Seorang anak berusia 3 tahun menangis menjerit di tengah malam diduga menderita penyakit
otitis media akut stadium supuratif

Anamnesis

Diperlukannya anamnesis yang tepat dalam mendiagnosis suatu penyakit, oleh karena itu
pertanyaan yang perlu ditanyakan pada pasien:

2
a. Adakah nyeri? Letak, onset dan frequesi
b. Tanyakan apabila mengalami demamm di atas 39 derajat C atau otalgia sedang atau berat
c. Apakah penderita susah tidur
d. Keluhan penyerta
e. RPK, RPD, RPSos, RPO

Hasil dari anamnesis didapatkan:

a. Batuk (+)
b. Pilek (+)
c. Demam (+)

Pemeriksaan

1. Fisik

Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada anak tersebut berupa:

a. Melihat Keadaan Umum (KU) serta kesadaran


b. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital: nadi, nafas, suhu (demam), tensi
c. Lakukan inspeksi, palpasi
d. Melakukan pemeriksaan dengan otoskopi untuk melihat membran timpani:
i. Pada stadium oklusi tuba Eustachius terdapat gambaran retraksi membran timpani,
warna membran timpani suram dengan reflex cahaya tidak terlihat.
ii. Pada stadium hiperemis membran timpani tampak hiperemis serta edema.
iii. Pada stadium supurasi membran timpani menonjol ke arah luar (bulging) berwarna
kekuningan.
iv. Pada stadium perforasi terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir
dari telinga tengah ke liang telinga luar.
v. Pada stadium resolusi bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan
normal kembali.Bila telah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan
mengering.
e. Pada pemeriksaan penala yang dilakukan pada anak yang lebih besar dapat ditemukan
tuli konduktif

Hasil yang didapat berupa:

a. Inspeksi: Telinga kanan membrane timpani hiperemis


b. Palpasi: Bulging (+) pada

2. Penunjang: pada kasus ini tidak ada pemeriksaan penunjang untuk menegakan diagnosis.

3
Diagnosis Kerja

Berikut ini pembahasan lebih lengkap mengenai diagnosis yang terkait:

1. Anatomi
Telinga terdiri dari bagian luar, tengah dan dalam. Telinga bagian luar terdiri dari
aurikula, meatus acusticus externus dan dan membran timpani bagian luar. Telinga tengah
terdiri dari membran timpani bagian dalam, cavitas timpani yang berisi ossicula auditiva,
muskulus, cellulae mastoid; aditus ad antrum dan tuba auditiva. Telinga dalam terdiri dari
labirintus osseus dan labirintus membranaceus. Labirintus osseus yaitu koklea dan
labirintus membranacea terbagi menjadi labirintus vestibularis (sakulus, utrikilus, canalis
semisirkularis), duktus koklearis (skala vestibule, skala media, skala timpani), sakus
duktus endolimpatikus.
1) Telinga luar1
Terdiri dari daun telinga, liang telinga sampai membrane timpani:
a. Aurikula
a) Helix dan anti heliks.
b) Tragus dan anti tragus.
c) Krus Heliks dan krus antiheliks.
d) Konka
b. Bagian yang tidak bertulang rawan:
Terdapat Meatus Akustikus Externa pada lobules, yang membentuk lubang terdiri
dari 2 bagian:
a) Bagian lateral adalah pars kartilagenea: merupakan lanjutan dari aurikulum,
mempunyai rambut, kelenjar sebacea dan kelenjar seruminalis.
b) Bagian medial pars osseus: merupakan bagian dari os temporal, tidak
berambut terdapat penyempitan, yaitu isthmus, tidak mobile dengan
sekitarnya.
c. Membran timpani bagian luar
a) Disebut gendang telinga adalah selaput atau membrane tipis yang
memisahkan telinga luar dan telinga dalam.
b) Membrane timpani berbentuk oval yang cenderung condong ke anterior.
c) Tinggi sekitar 9-10 mm, lebar 8-9 mm.
d) Posisi, membentuk sudut 45% dengan bidang horizontal dan sagital, tepi
bawah terletak 6 mm lebih medial dari tepi atas.
e) Warna putih mengkilap seperti mutiara.

4
Dibagi mejadi 4 kuadran yaitu kuadran anteroposterior, anteroinferior,
posterosuperior, dan kuadran posteroinferior. Selain itu, terdiri dari 2 bagian:
i. Pars tensa, terdiri dari 3 lapisan : lapisan luar merupakan kulit tipis dan
merupakan lanjutan dari MAE, lapisan medial merupakan mukosa lanujutan
dari kavum timpani, lapisan tengah merupakan lapisan fibrous yang terdiri dari
2 jenis serabut yang membentuk seperti sarang laba-laba, yaitu serabut sirkuler
dan serabut radier.
ii. Pars flaksida, terdiri dari 2 lapisan, memiliki lapisan fibrous dan epitel mukosa.

2) Telinga tengah1
Telinga tengah terdiri dari membrane timpani bagian dalam, cavitas timpani yang
berisi ossikula auditiva, muskulus, celulae mastoid (aditus ad antrum dan tuba
auditiva), telinga tengah berbentuk kubus, dengan;
a. Batas luar: Membran timpani.
b. Batas Depan: Tuba eustachius
c. Batas bawah : Vena jugularis
d. Batas belakang: Aditus ad antrum
e. Batas atas: Tegmen tympani (meningen/otak).
f. Batas dalam: berturut-turut dari atas kebawah ( kanalis semisirkularis horizontal,
kanalis fasialis, oval window dan antrum promontorium.

Cavitas tympani berisi osikula auditiva, muskulus, celulae mastoid (aditus ad antrum
dan tuba auditiva).
a. Osikula auditiva.
Berfungsi untuk menghantarkan suara dari udara ke koklea. Terdiri dari
maleus, incus dan stapes.
b. Muskulus.
Terdiri dari m. tensor tympani dan m. stapedius, diinervasi oleh N. facialis dan
N. trigeminus dimana berfungsi untuk membatasi gerak dari tulang auditiva.
Perlekatan dari m. tensor tympani dan pars ossea tuba auditiva menuju kolum
mallei, berfungsi untuk mengatur keseimbangan tekanan udara antara cavum
tympani dengan dunia luar.
Perlekatan dari m.stapedius dari piramida menuju ke collom stapedius,
berfungsi untuk meredam suara yang keras, frekwensi rendah dan amplitude
yang tinggi.
c. Celulae mastoid.
a) Aditus ad antrum.

5
Merupakan muara atau lubang yang menghubungkan cavum tympani
dengan antrum mastoid.
b) Tuba auditiva
Tuba auditiva adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah
dengan nasofaring. Tuba auditiva memiliki arti klinis karena nasofaring
memiliki banyak flora normal, sehingga jika tekanan cavum tympani lebih
rendah maka udara akan masuk dari nasofaring ke cavum tympani sehingga
flora normal akan ikut masuk, hail ini dapat memicu infeksi diauris media.
Tuba auditiva dibagi menjadi 2 bagian:
i. 1/3 bagian superior, tersusun oleh tulang.
ii. 2/3 bagian inferior, tersusun oleh kartilago yang berbentuk huruf U.
Fungsi dari Tuba auditiva.
a. Drainase, berdasarkan gerakan membuka tuba dan gerakan silia di mukosa
tuba dimana gerakan silia seperti lecutan cambuk yang bergerak dari arah
cavum tympani ke nasofaring sehingga menghambat pergerakan kuman yang
akan masuk ke auris media. Juga untuk mengeluarkan produk atau kotoran
dari auris media.
b. Proteksi, dilakukan oleh jaringan limpoid dan sel goblet dari mukosa tuba,
sel goblet menghasilkan lisosom yang bersifat bakterisid.
c. Aerasi, yaitu menjaga keseimbangan tekanan udara dalam telinga terhadap
dunia luar melalui proses membuka-menutup tuba, sebagai contoh saat
menelan tuba akan membuka.

3) Telinga dalam1
Telinga dalam terdiri dari:
a. Labirin osseus: koklea atau rumah siput, yang berupa setengah lingkaran.
b. Labirin membranaseus, terdiri dari:
a) Labirin Vestibuler, yang terdiri dari saculus, utrikulus dan 3 buah kanalis
semisirkularis.
b) Duktus koklearis, yang terdiri dari skala vestibule (berisi perilimfe), skala
media (berisi endolimpe dan terdapat bagian yang berbentuk lidah yang
disebut membrane tektoria, dan pada membrane basal melekat sel rambut
yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis korti, yang
membentuk organ korti)dan sekala tympani (berisi perilimfe)
c) Saccus dan ductus endolimfaticus

6
Peradangan pada telinga tengah dapat dilihat dari membran timpani. Membran
timpani merupakan sebuah kerucut yang tidak teratur, puncaknya dibentuk oleh
umbo. Membran timpani orang dewasa berdiameter sekitar 9 mm dan membentuk
sudut lancip yang berhubungan dengan dinding inferior liang telinga luar. Anulus
fibrosus dari membran timpani mengaitkannya pada sulkus timpanikus. Selain itu,
membran timpani melekat erat pada maleus yaitu pada prosesus lateral dan umbo.
Membran timpani dipisahkan menjadi bagian atas pars flaksid (membran Shrapnell)
dan bagian bawah pars tensa (membran propria). Membran timpani merupakan
struktur trilaminar. Permukaan lateralnya dibentuk oleh epitel skuamosa, sedangkan
lapisan medial merupakan kelanjutan dari epitel mukosa dari telinga tengah. Di antara
lapisan ini terdapat lapisan jaringan ikat, yang dikenal sebagai pars propria. Pars
propria di umbo ini berguna untuk melindungi ujung distal manubrium. Bayangan
penonjolan bagian bawah maleus pada memban timpani disebut sebagai umbo. Dari
umbo bermula suatu reflek cahaya ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran
timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan.
Membran timpani dibagi menjadi 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan
prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga
didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah-depan serta bawah- belakang,
untuk menyatakan letak perforasi membran timpani. Di dalam telinga tengah terdapat
tulang-tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes. Sumbatan pada tuba
Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya OMA. Tuba eustachius
meluas sekitar 35 mm dari sisi anterior rongga timpani ke sisi posterior nasofaring
dan berfungsi untuk ventilasi, membersihkan dan melindungi telinga tengah. Lapisan
mukosa tuba dipenuhi oleh sel mukosiliar, penting untuk fungsi pembersihannya.
Bagian dua pertiga antromedial dari tuba Eustachius berisi fibrokartilaginosa,
sedangkan sisanya adalah tulang. Dalam keadaan istirahat, tuba tertutup. Pembukaan
tuba dilakukan oleh otot tensor veli palatini, dipersarafi oleh saraf trigeminal. Pada
anak, tuba lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dari tuba orang dewasa.
Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah 9 bulan adalah 17,5
mm.1

2. Pembagian

7
Tanda dan gejala pada OMA bergantung pada stadium penyakit pasien, dimana pada
umumnya OMA memiliki lima stadium, antara lain:2
a. Stadium oklusi tuba Eustachius Stadium ini ditandai dengan adanya gambaran
retraksi membran timpani akibat adanya tekanan negatif didalam telinga tengah yang
terjadi karena absorpsi udara. Membran timpani kadang tampak normal atau
berwarna keruh pucat.
b. Stadium hiperemis (stadium pre-supurasi)
Pada stadium ini dapat dilihat adanya pelebaran pembuluh darah pada membran
timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis disertai edema.

Gambar 1. Membran timpani pada stadium hiperemis.4


c. Stadium supuratif
Terjadinya edema yang hebat pada mukosa telinga tengah, hancurnya sel epitel
superfisial, dan telah terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani sehingga
menyebabkan penonjolan (bulging) membran timpani ke arah liang telinga luar
merupakan tanda yang dapat ditemukan pada stadium supuratif ini. Pada keadaan ini
pasien tampak sangat sakit, terjadi peningkatan suhu dan nadi, serta adanya nyeri
telinga yang dirasakan bertambah berat.

Gambar 2. Membran timpani pada stadium supurasi.4

8
d. Stadium perforasi
Pada stadium ini terjadi ruptur membran timpani sehingga nanah yang berada di
dalam kavum timpani mengalir ke liang telinga luar. Pasien tampak lebih tenang dari
sebelumnya dan terjadi penurunan suhu.

Gambar 3. Membran timpani pada stadium perforasi.4


e. Stadium resolusi
Pada stadium ini membran timpani yang perforasi dapat kembali normal secara
perlahan-lahan tanpa pengobatan jika daya tahan tubuh pasien baik atau virulensi
kuman rendah.

Gambar 4. Membran timpani pada stadium resolusi.4

Diagnosis Banding5

9
Pada kasus yang diatas pasien menderita otitis media akut stadium supuratif, tapi tidak
menutup kemungkinan bahwa pasien juga dapat menderita penyakit meringitis bulosa, yang
dijadikan diagnosis banding.

Meringitis bulosa ialah terjadi inflamasi pada membrane timpani disebabkan otitis media
akut atau otitis eksterna. Suatu keadaan nyeri akut pada telinga yang disebabkan oleh
pembentukan bula pada membrane timpani. Umumnya penyakit ini menyerang bayi (biasanya 1
tahun kehidupan pertama), akan tetapi juga dapat menyerang segala usia. Hal lain juga dapat
disebabkan oleh kelainan anatomi berbeda dengan anatomi dewasa, biasanya karena bentuknya
yang lebih lebar dan penderk, serta posisinya lebih horizontal yang memudahkan terjadinya
inflamasi dari nasofaring ke telinga.

Epidemiologi6

Di amerika serikat dilaporkan kasus otitis media sering terjadi pada anak-anakperiode
neonatal sampai sekitar umur 7 tahun, dengan hamper 70% dari anak-anak tersebut mengalami 1
atau lebih dari periode itu.

Tidak ada perbedaan jenis kelamin yang rentan terhadap komplikasi ini. Keseluruhan
insidens dari semua komplikasi pada kasus ini telah menurun sejak dilakukan pengobatan efektif
dengan antibiotic. Sebagai contoh, pada saat era preantibiotik, insiden mastoidotis mengharuskan
penatalaksana bedah sebesar 25-50%. Pada tahun 1980an, insidens menurun 0,02%. Pada tahun
1955, dilakukannya penelitian terhadap 24.321 pasien dengan otitis media. Dari hasil
penelitiannya menunjukkan komplikasi intrkranial rata-rata 0,36%.

Pada saat era preantibiotik, angka mortalitas dari komplikasi intracranial otitis media
dilaporkan sekitar diatas76,4%. Penelitian terbaru melaporkan dari 24.321 psaien yang menderita
komplikasi intrkranial akibat otitis media menunjukkan angka mortalitas sekitar 18,4%.

Etiologi

10
Bakteri piogenik seperti Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus dan Pnemokokus
merupakan penyebab utama terjadinya OMA. Mikroorganisme lain yang juga dapat
menyebabkan OMA antara lain Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus
anhemolitikus, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas aurugenosa.1 Pada anak balita penyebab
utama terjadinya OMA adalah Hemofilus influenza. Hal ini berhubungan dengan infeksi pada
saluran pernapasan atas (ISPA) pada anak.2,3

Manifestasi klinis

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang telah dilakukan maka
diagnosis kerjanya ialah otitis media akut stadium supuratif. Dalam menegakkan diagnosis OMA
terdapat tiga hal yang harus terpenuhi, antara lain:7,8

1. Penyakit muncul secara mendadak (akut).


2. Ditemukan tanda efusi pada telinga tengah. Efusi dapat dibuktikan dengan melihat
adanya salah satu diantara tanda berikut: menggembungnya membran timpani (bulging) ,
terbatas atau tidak adanya gerakan membran timpani, adanya bayangan cairan di
belakang membran timpani, dan adanya cairan yang keluar dari telinga.
3. Terdapat tanda atau gejala peradangan pada telinga tengah. Hal ini dapat dibuktikan
dengan melihat adanya salah satu diantara tanda berikut: kemerahan pada membran
timpani, adanya nyeri telinga yang dapat mengganggu tidur dan aktivitas normal.

Diagnosis dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
cermat. Gejala yang timbul dapat bervariasi tergantung pada stadium dan usia pasien. Pada
umunya anak-anak dengan OMA mengeluhkan rasa nyeri pada telinga dan disertai adanya
demam. Biasanya terdapat riwayat infeksi saluran napas atas sebelumnya. Keluhan yang
dirasakan oleh orang dewasa dapat berupa nyeri telinga, gangguan pendengaran dan terasa penuh
pada telinga. Gejala sulit tidur, diare, demam tinggi, gelisah, dan sering memegang telinga adalah
gejala khas yang dapat ditemukan pada bayi dengan OMA.1

Otitis media akut dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik. Beberapa teknik pemeriksaan
yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan otoskop, otoskop pneumatik, timpanometri,
dan timpanosintesis. Dengan menggunakan otoskop dapat dilihat adanya perubahan warna pada

11
membran timpani, penonjolan (bulging) membran timpani dan sekret yang berada di liang
telinga. Apabila diperlukan konfirmasi dari hasil pemeriksaan otoskop, maka dilakukan
pemeriksaan dengan otoskop pneumatik. Otoskop pneumatik dapat digunakan untuk menilai
gerakan membran timpani. Selain dengan menggunakan otoskop pneumatik, timpanometri juga
dapat digunakan untuk menilai secara objektif pergerakan membran timpani.1

Patofisiologi

Otitis media akut terjadi karena terganggunya faktor pertahanan tubuh. Sumbatan pada tuba
Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya penyakit ini. Dengan terganggunya
fungsi tuba Eustachius, terganggu pula pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah
sehingga kuman masuk dan terjadi peradangan.1 Gangguan fungsi tuba Eustachius ini
menyebabkan terjadinya tekanan negatif di telingah tengah, yang menyebabkan transudasi cairan
hingga supurasi. Pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Makin
sering anak-anak terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi dan
anak terjadinya OMA dipermudah karena:1

1. Morfologi tuba eustachius yang pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal
2. System kekebalan tubuh masih dalam perkembangan
3. Adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa dan sering terinfeksi
sehingga infeksi dapat menyebar ke telinga tengah.

Beberapa faktor lain mungkin juga berhubungan dengan terjadinya penyakit telinga tengah,
seperti alergi, disfungsi siliar, penyakit hidung dan/atau sinus, dan kelainan sistem imun.

Tatalaksana

Tujuan penatalaksanaan OMA adalah mengurangi gejala dan kekambuhan. Pengobatan


OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pada stadium oklusi diberikan tetes hidung HCl
efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk anak dengan usia kurang dari 12 tahun atau HCl
efedrin 1% untuk anak berusia lebih dari 12 tahun. Hal ini bertujuan untuk membuka kembali
tuba Eustachius sehingga tekanan negatif yang berada pada telinga tengah hilang. Selain obat
tetes hidung, diberikan juga antibiotik untuk mengobati sumber infeksi.

12
Pada stadium presupurasi pengobatan yang diberikan berupa antibiotik golongan
penisilin atau ampisilin yang diberikan secara intramuskular pada tahap awal. Pemberian
antibiotik dianjurkan minimal 7 hari dan apabila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan
eritromisin. Selain pemberian antibiotik, pengobatan juga dilakukan dengan pemberian obat tetes
hidung dan analgetik.

Terapi yang dapat diberikan pada stadium supurasi adalah antibiotik dan obat-obat
simptomatik. Pada stadium supurasi sudah terbentuk eksudat yang purulen sehingga mendorong
membran timpani ke arah liang telinga luar. Apabila tidak dilakukan miringotomi atau insisi pada
membran timpani dapat terjadi ruptur membran timpani. Pada keadaan perforasi yang
diakibatkan oleh karena ruptur, membran timpani tidak akan mudah menutup kembali.

Terlambatnya pemberian antibiotik atau virulensi kuman yang tinggi dapat menyebabkan
membran timpani yang sudah terdorong ke liang telinga luar menjadi ruptur sehingga
terbentuklah perforasi. Pada stadium perforasi ini, sering terlihat banyak sekret yang mengalir ke
liang telinga luar, oleh karena itu pengobatan ditujukan untuk membersihkan liang telinga
dengan pemberian obat tetes telinga H2O2 3% selama 3-5 hari selain itu juga diberikan
antibiotik yang adekuat. Pada keadaan daya tahan tubuh pasien baik dan faktor virulensi kuman
rendah, penutupan perforasi dapat terjadi secara perlahan biasanya 7-10 hari. Pada stadium ini
sekret sudah tidak ada lagi. Jika penutupan perforasi pada membran timpani tidak terjadi akibat
berlanjutnya proses peradangan pada telinga tengah, antibiotik diberikan sampai 3 minggu.1

Dalam membahas penatalaksanaan OMA, terdapat perdebatan dalam penerapan terapi yang
diberikan pada pasien OMA. Hal yang menjadi perdebatan adalah penggunaan antibiotik dalam
pengobatan awal OMA dimana terjadi masalah resistensi.9,10

Pada bula Februari 2013, American Academy of Pediatrics and the American Academy of
Family Practice telah mempublikasikan pedoman penatalaksanaan medis OMA yang terbaru.
Terdapat beberapa hal direkomendasikan, antara lain:10

1. Penatalaksanaan OMA harus mencakup evaluasi nyeri dan pengobatannya.


2. Antibiotik diberikan pada anak usia minimal 6 bulan yang menderita OMA bilateral atau
unilateral dengan tanda-tanda atau gejala yang berat seperti nyeri telinga sedang atau
berat, nyeri telinga selama 48 jam atau lebih, atau demam dengan suhu 39oC atau lebih
serta keadaan yang ringan pada anak dengan OMA bilateral berusia 6 23 bulan.

13
Usia Diagnosis pasti Diagnosis sementara
< 6 bulan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat;
obeservasi jika gejala ringan
6 bulan - 23 bulan Antibiotik Observasi
2 tahun Antibiotik jika gejala berat; Observasi
obeservasi jika gejala ringan

3. Pada anak usia 6-23 bulan atau lebih yang menderita OMA unilateral dengan gejala
ringan dapat dikelola dengan baik menggunakan antibiotik atau dengan observasi tanpa
pemberian antibiotik, kecuali pada anak yang kondisinya memburuk atau tidak membaik
dalam waktu 48-72 jam.
4. Amoxicillin merupakan obat pilihan namun pada beberapa kasus dokter harus
memberikan antibiotik dengan -lactamase tambahan. Kondisi tersebut terjadi pada anak
yang telah mendapatkan terapi amoxicillin dalam waktu 30 hari atau alergi terhadap
penisilin.
5. Dokter harus melakukan evaluasi terhadap anak yang kondisi kesehatannya memburuk
atau tidak respon terhadap terapi awal dengan antibiotik dalam waktu 48-72 jam.
6. Tympanostomy tubes dapat dilakukan pada anak dengan OMA berulang. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi episode OMA.
7. Dokter harus merekomendasikan vaksin konjugasi pneumokokus dan vaksin influenza
tahunan pada semua anak.
8. Dokter juga harus mendorong masyarakat untuk melakukan ASI eksklusif.

Rekomendasi penatalaksanaan OMA didasari oleh beberapa prinsip seperti meminimalkan


risiko terjadinya komplikasi OMA (mastoiditis, meningitis, sepsis bakteri, abses intrakranial),
menghindari terjadinya resistensi patogen terhadap antibiotik, dan dampak dari pemberian
antibiotik.11

Pemberian analgetik sangat penting perannya dalam waktu tidur pada anak-anak karena
kesulitan tidur merupakan gejala yang paling umum mendorong orang tua untuk mencari
pengobatan bagi anak. Analgetik yang lebih baik digunakan adalah ibuprofen dibandingkan
dengan acetaminopen karena toksisitasnya lebih rendah. Selain itu ibuprofen juga memiliki efek
anti- inflamasi.11

14
Komplikasi1

Komplikasi dari OMA dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu melalui erosi
tulang, invasi langsung dan tromboflebitis. Komplikasi ini dibagi menjadi komplikasi
intratemporal dan intrakranial. Komplikasi intratemporal terdiri dari: mastoiditis akut, petrositis,
labirintitis, perforasi pars tensa, atelektasis telinga tengah, paresis fasialis, dan gangguan
pendengaran. Komplikasi intrakranial yang dapat terjadi antara lain yaitu meningitis, encefalitis,
hidrosefalus otikus, abses otak, abses epidural, empiema subdural, dan trombosis sinus lateralis.

Komplikasi tersebut umumnya sering ditemukan sewaktu belum adanya antibiotik, tetapi
pada era antibiotik semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari otitis
media supuratif kronik (OMSK). Penatalaksanaan OMA dengan komplikasi ini yaitu dengan
menggunakan antibiotik spektrum luas, dan pembedahan seperti mastoidektomi.

Prognosis

Dubia et bonam (prognosis baik), apabila penderita dapat ditangani dengan cepat, apabila
tidak penyakit OMA dapat berlanjut ke komplikasi.

Pencegahan1

Pada kasus ini pencegahan yang dapat dilakukan ialah dengan pemberian vaksin
pneumokokus konjugat dapat diberikan untuk mencegah anak menderita OMA.

Edukasi1

1. Berikan terapi simtomatis terutama untuk penanganan nyeri telinga.


2. Berikan antihistamin, dekongestan dan kortikosteroid sebagai terapi tambahan apabila
belum ada bukti yang meyakinkan bila penderita mengalami OMA

15
3. Tatalaksana pada kasus OMA meliputi observasi (terutama pada anak usia 6 bulan yang
kasus penyakitnya tidak berat atau diagnosisnya tidak pasti), terapi simtomatis, antibiotik,
timpanosintesis, miringotomi, dan pencegahan dengan vaksin pneumokokus konjugat.
4. Memberitahu keluarga bahwa pengobatan harus adekuat agar membran timpani dapat
kembali normal.
5. Memberitahu keluarga untuk mencegah infeksi saluran napas atas (ISPA) pada bayi dan
anak-anak, menangani ISPA denganpengobatan adekuat.
6. Memberitahu keluarga untuk menganjurkan pemberian ASI minimal enam bulan sampai
dengan 2 tahun.
7. Menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok dan lain-lain.
8. Miringotomi hanya dilakukan pada kasus-kasus terpilih dan dilakukan oleh ahlinya.

Kesimpulan

Kasus pada anak berusia 3 tahun menderita penyakit otitis media akut stadium supuratif,
diagnosis serta tatalaksana yang tepat dan ditangani sedini mungkin dapat mengurangi
morbiditas dan mencegah terjadinya komplikasi.

16
Daftar Pustaka

1. Munilson J, Edward Y, Yolazenia. Penatalaksanaan Otitis Media Akut.


http://repository.unand.ac.id/18807/1/Penatalaksanaan%20otitis%20media
%20akut_repositori.pdf.diunduh: 20/03/2017
2. Djafar ZA.Kelainan Telinga Tengah. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Ed.6.Jakarta:FKUI;2007.h.54-68.
3. Ballenger JJ. Peradangan Akut Telinga Tengah. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok,
Kepala dan Leher. Edisi 13. Jakarta: Binarupa aksara;1997.p.384-90
4. Onerci TM. Diagnosis In Otorhinolaryngology. Faculty of Medicine Dept.
Otorhinolaryngology of Haccetepe University, Turkey; 2009;p.8-13
5. Refrat meringitis bulosa. Upload:15/10/2015
https://issuu.com/homeworkping/docs/247345809-referat-miringitis-bulosa .diunduh:
20/03/2017
6. Ghanie A. Penatalaksanaan otitis media akut pada anak. Tinjauan pustaka. Palembang:
Departemen THT-KL FK Unsri/RSUP M.Hoesin;2010.
http://eprints.unsri.ac.id/858/1/Penatlaksanaan_OMA_pada_anak.pdf.
diunduh:20/03/2017
7. Marcy SM. New guidelines on acute otitis media: An overview of their key principles for
practice. Cleveland Clicic Journal of Medicine. 2004; 71 Suppl 4:S3-9
8. Forgie S, Zhanel G, Robinson J. Management of Acute Otitis Media.Pediatrics Child
Health. 2009 September,14(7);457-60
9. Donaldson JD. Acute Otitis Media Treatment & Management. Medscape. October 5th
2016. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/859316-
treatment#showall .Download: March 20th 2017
10. Waseem M. Otitis Media Treatment & Management. Medscape. Update: March 15th
2016. Available from http://emedicine.medscape.com/article/994656-
treatment#showall .Download: march 20th 2017
11. Diagnosis and Management of acute Otitis Media. PEDIATRICS. 2004;113(5);1451-65

17