Anda di halaman 1dari 4

Latar Belakang Masalah

Perang terhadap korupsi merupakan fokus yang sangat signifikan dalamsuatu negara
berdasarkan hukum, bahkan merupakan tolak ukur keberhasilansuatu pemerintahan. Salah
satu unsur yang sangat penting dari penegakan hukumdalam suatu negara adalah perang
terhadap korupsi, karena korupsi
merupakan penyakit kanker yang imun, meluas, permanen dan merusak semua sendikehidupa
n berbangsa dan bernegara termasuk perekonomian serta penataan ruangwilayah.Di Indonesia
korupsi dikenal dengan istilah KKN singkatan dari korupsi,kolusi dan nepotisme. Korupsi
sudah menjadi wabah penyakit yang menular disetiap aparat negara dari tingkat yang paling
rendah hingga tingkatan yang palingtinggi. Berdasakan laporan tahunan dari lembaga
internasional ternama, Politicaland Economic Risk Consultancy (PERC) yang bermarkas di
Hongkong, Indonesiaadalah negara yang terkorup nomor tiga di dunia dalam hasil surveinya
tahun2001 bersama dengan Uganda. Indonesia juga terkorup nomor 4 pada tahun 2002
bersama dengan Kenya. Sedangkan Pada tahun 2005 PERC mengemukakan bahwa
Indonesia masih menjadi negara terkorup di dunia.Korupsi di Indonesia bukanlah hal yang
baru dan menjadi endemik yangsangat lama semenjak pemerintahan Suharto dari tahun 1965
hingga tahun 1997. Penyebab utamanya karena gaji pegawai negeri dibawah standar hidup
sehari-haridan sistem pengawasan yang lemah. Secara sistematik telah diciptakan
suatukondisi, baik disadari atau tidak dimana gaji satu bulan hanya cukup untuk satuatau dua
minggu. Disamping lemahnya sistem pengawasan yang ada memberikesempatan untuk
melakukan korupsi. Sehingga hal ini mendorong para pegawainegeri untuk mencari
tambahan dengan memanfaatkan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi walau dengan
cara melawan hukum.Selain itu, sistem peradilan pidana Indonesia tidak berjalan efektif
untuk memerangi korupsi. Sehingga pelaku korupsi terbebas dari jeratan hukum.

Menurut Bank Dunia bahwa korupsi di Indonesia terjadi dimana-mana di berbagailevel


golongan pegawai negeri sipil, tentara, polisi dan politisi bahkan sudahmelanda beberapa
kelembagaan seperti Kepolisian, Kejaksaan, Peradilan, DewanPerwakilan Rakyat (DPR)
yang seharusnya bertugas untuk memberantas korupsi.Kejadian tersebut di atas menyebabkan
protes dan penolakan darimasyarakat luas terhadap pemerintahan Suharto maupun para
penggantinya.Adanya korupsi dimana-mana dan timbulnya perasaan jengkel karena
keadilanyang dinantikan masyarakat tak kunjung tiba, ditambah lagi keadaan ekonomirakyat
kian parah. Indonesia Corruption Watch mengemukakan bahwa haltersebut di atas
menghasilkan krisis ekonomi di Indonesia yang berujung dengankejatuhan rezim Suharto.
Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa yang menyebabkan terjadinya korupsi?\


2. Apa saja akibat-akibat yang ditimbulkan dari korupsi?
3. Bagaimana strategi yang tepat untuk pemberantasan korupsi di Indonesia?

Pendekatan Yuridis

Korupsi berasal dari bahasa latin Cooruptio yang artinya suatu perbuatanyang busuk, buruk,
bejat, tidak jujur, dapat disuap, tidak bermoral menyimpangdari kesucian, kata-kata atau
ucapan yang menghina atau memfitnah. Menurut UU No. 31/1999 jo UU No.
20/2001, pelaku korupsi (koruptor) didefinisikan sebagaisetiap orang yang secara sadar
melawan hukum melakukan perbuatanmemperkaya diri sendiri/orang lain/suatu korporasi
yang dapat merugikankeuangan negara atau perekonomian Negara.

Tindakan korupsi hadir dalam bentuk yang beragam. Mulai darimenyalahgunakan sarana
yang ada padanya karena jabatan/ kedudukan,menggelapkan uang, sampai menerima hadiah
atau janji karena kewenangan/kekuasaan jabatannya. Pelakunya pun tak hanya penyelenggara
negara, bisa juga orang per orang, pegawai negeri kelas teri, ahli bangunan, hakim, dan lain
-lain.Peraturan Perundang-undangan pemberantasan tindak pidana korupsi diIndonesia telah
muncul sejak 53 tahun silam melalui Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang
Pusat No.PRT/ Peperpu/ 013/ 1958. Berbagai
tim bentukan Pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi pun terus bermetamorfosa
mulai dari Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi(2000-2001), Komisi
Pemberantasan Korupsi (2002-2003) hingga Tim KoordinasiPemberantasan Tipikor (2005),
Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum(2009). Namun hingga saat ini, korupsi masih
tumbuh subur di Negeri ini.Korupsi merupakan permasalahan universal yang dihadapi oleh
seluruhnegara dan masalah yang pelik yang sulit untuk diberantas. Hal ini tidak lainkarena
masalah korupsi bukan hanya berkaitan dengan permasalahan ekonomi semata melainkan
juga terkait dengan permasalahan politik, kekuasaan, dan penegakan hukum. Dilihat dari
sudut pandang sejarah, korupsi telah dilakukan sejak dulu hingga kini. Korupsi dilakukan
oleh seluruh tingkat usia (kecuali anak-anak). Bila dilihat dari sudut manajemen maka
korupsi terjadi mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap pengawasan kegiatan. Korupsi bila bersinggungan
dengan penegakan hukum maka akan sulit untuk diberantas karena secara otomatis akan
bersinggungan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan dan uang. Pada dasarnya
pelaku korupsi merupakan orang-orang yang berpendidikan dan yang memiliki jabatan.
Dengan demikian dengan mudah pelaku korupsi dapat mengerahkan massa, membentuk
opini, dan menyuap penegak hukum melaluikekuasaan dan uang.
organisasi perlu diminyaki dengan uang, tanpa pelumas itu roda birokrasitidak akan
berputar.Menurut Andi Hamzah (2005:249), strategi pemberantasan korupsi bisa
disusundalam tigas tindakan terprogram, yaitu:

1. Prevention ialah pencerahan untuk pencegahan.


2. Publik Education yaitu pendidikan masyarakat untuk menjauhi korupsi.
3. Punishment adalah pemidanaan atas pelanggaran tindak pidana korupsi.

1) Strategi Preventif
Strategi Preventif diarahkan untuk mencegah terjadinya korupsi dengancara menghilangkan
atau meminimalkan faktor-faktor penyebab
atau peluang terjadinya korupsi. Konvensi PBB Anti Korupsi, Uneted NationsConvention
Against Corruption (UNCAC), menyepakati langkah-langkahuntuk mencegah terjadinya
korupsi. Masing-masing negara setuju untuk: ...mengembangkan dan menjalankan
kebijaksanaan anti korupsi terkoordinasi dengan mempromosikan partisipasi masyarakat
dan menunjukkan prinsip-prinsip supremasi hukum, manajemen urusan publik dan properti
publik dengan baik, integritas, transparan, dan akuntable, ...saling bekerjasama untuk
mengembangkan langkah-langkah yang efektif untuk pemberantasan korupsi

2) Public Education
Public Education atau pendidikan anti korupsi untuk rakyat perludigalakkan untuk
membangun mental anti-korupsi. Pendidikan anti-korupsi ini bisa dilakukan melalui berbagai
pendekatan, seperti pendekatan agama, budaya, sosioal, ekonomi, etika, dsb.Adapun sasaran
pendidikan anti-korupsi secara garis besar bisadikelompokkan menjadi dua:

a) Pendidikan anti korupsi bagi aparatur pemerintah dan calon aparatur pemerintah.
b) Public education anti korupsi bagi masyarakat luas melalui lembaga-lembaga
keagamaan, dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua itu dilakukanuntuk meningkatkan
moral anti korupsi. Publik perlu mendapatsosialisasi konsep-konsep seperti kantor
publik dan pelayanan publik berikut dengan konsekuensi-konsekuensi tentang biaya-
biaya sosial,ekonomi, politik, moral, dan agama yang diakibatkan korupsi.

3) Strategi Punishment

Strategi Punishment adalah tindakan memberi hukuman terhadap pelakutindak pidana korupsi.
Dibandingkan negara-negara lain, Indonesiamemiliki dasar hukum pemberantasan korupsi
paling banyak, mulai dari peraturan perundang-
undangan yang lahir sebelum era eformasi sampaidengan produk hukum era reformasi, tetapi
pelaksanaannya kurangkonsisten sehingga korupsi tetap subur di negeri ini.Dari sekian
banyak peraturan perundang-undangan anti-korupsi yang ada,salah satu yang paling populer
barangkali UU Nomor 30/2002 tentangKPK. KPK adalah lembaga negara yang bersifat
independen yang dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya bebas dari kekuasaan
manapun.Tugas-tugas KPK adalah sebagai berikut:
a. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasantindak pidana
korupsi,
b. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasantindak pidana
korupsi,
c. Melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi,
d. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, danmelakukan
monitor terhadap penyelengaraan pemerintahan negara.

Kesimpulan dan Saran

Uraian mengenai fenomena korupsi dan berbagai dampak yang ditimbulkannya telah
menegaskan bahwa korupsi merupakan tindakan buruk yangdilakukan oleh aparatur birokrasi
serta orang-orang yang berkompeten dengan birokrasi. Korupsi dapat bersumber dari
kelemahan-kelemahan yang terdapat padasistem politik dan sistem administrasi negara
dengan birokrasi sebagai prangkat pokoknya.Keburukan hukum merupakan penyebab lain
meluasnya korupsi. Sepertihalnya delik-delik hukum yang lain, delik hukum yang
menyangkut korupsi diIndonesia masih begitu rentan terhadap upaya pejabat-pejabat tertentu
untuk membelokkan hukum menurut kepentingannya. Dalam realita di lapangan,
banyak kasus untuk menangani tindak pidana korupsi yang sudah diperkarakan
bahkanterdakwapun sudah divonis oleh hakim, tetapi selalu bebas dari hukuman.
Itulahsebabnya kalau hukuman yang diterapkan tidak drastis, upaya pemberantasan korupsi
dapat dipastikan gagal.Meski demikian, pemberantasan korupsi jangan menjadi jalan tak ada
ujung, melainkan jalan itu harus lebih dekat ke ujung tujuan. Upaya-upaya untuk
mengatasi persoalan korupsi dapat ditinjau dari struktur atau sistem sosial,dari segi yuridis,
maupun segi etika atau akhlak manusia.