Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-
Nya pada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul
Demam Berdarah Dengue. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi tugas penilaian kegiatan kepaniteraan
klinik stase Pediatri tahun 2016. Dan juga untuk memperdalam pemahaman tinjauan
pustaka yang telah dipelajari sebelumnya.
Terimakasih penulis ucapkan kepada pembimbing dalam pembuatan laporan
kasus ini dr. Arief Sudjati Gazali, SpA yang telah membimbing dalam penyusunan
laporan kasus. Terima kasih juga pada semua pihak yang telah membantu dalam
tahap pengumpulan referensi, analisis materi dan penyusunan laporan kasus ini.

Penulis menyadari ketidaksempurnaan laporan kasus ini. Semoga laporan kasus


ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi instansi kepaniteraan klinik
FKK UMJ dan RSUD Cianjur.

Cianjur, 2016

Penulis

1
BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 Identitas
Data didapatkan dari Alloanamnesis dari orang tua pasien
Nama : An. A
Tanggal lahir : 10 juli 2010
Usia : 5 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Sukamulya Rt 03/02 Kec. Cikalong Cianjur
Tanggal masuk rumah sakit : 12 Maret 2016
No. Rekam medis : 735197

1.2 Anamnesis
Keluhan Utama : Demam sejak 7 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang :

7 hari SMRS os mengeluh demam naik turun

dan pegal-pegal di seluruh badan. Os mengeluh

saat demam terasa menggigil.

Batuk, pilek tidak ada, namun 3 hari SMRS os

mengeluh adanya, pusing dan lemas.

Pasien belum BAB sejak 1 hari SMRS.

2
Tidak Terdapat bintik-bintik merah pada kulit.

BAK normal (warna, frekuensi, tidak ada darah

dan tidak nyeri).

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien belum pernah menderita sakit seperti ini

sebelumnya, , tidak mempunyai riwayat

penyakit kelainan pembekuan darah. Dan tidak

ada riwayat penyakit atopi.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak terdapat penyakit seperti ini pada

keluarga.

Riwayat Pengobatan :

Tidak sedang menjalani pengobatan jangka

panjang dan tidak sedang mengkonsumsi

obat-obatan untuk penyakit kronik.

Riwayat Kehamilan :
Selama hamil, ibu rutin ANC di bidan,

selama hamil tidak pernah terkena infeksi /

sakit selama hamil.

Riwayat Kelahiran : rw kelahiran: spontan, prematur 7 bulan

3
Riwayat Imunisasi : Riw imunisasi : lengkap sesuai usia
(Kesan imunisasi dasar Lengkap)
Riwayat Tumbuh Kembang : Normal
(Kesan tumbuh kembang normal sesuai usia)
Riwayat Pemberian ASI : Orang tua Lupa
Riwayat Alergi : tidak ada
Riwayat Psikososial :
Di sekolah tidak ada yang mempunyai

keluhan yang sama, kondisi di lingkungan

sekolah tidak tahu, tetapi kondisi di rumah

baik, sarana penampungan air sering

dibersihkan.

1.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Tanda Vital
- Suhu : 37,7oC
- Nadi : 88x/menit
- Pernapasan : 28x/menit
- Tekanan darah :-

Antropometri

- BB sebelum sakit : - kg (os. Tidak tahu)


- BB ketika sakit : 14,5 kg
- TB : 100 cm
- LK : 50 cm
- LILA : - cm

Status Gizi

- Bb/u : 14,5/18x100%= 80 %
- Tb/u : 102/109x100%= 93 %

4
- Bb/tb : 14,5/16 x100% = 91 %
- (Kesan : Gizi Baik)

Status Generalis

- Wajah : Simetris dextra dan sinistra, tidak terdapat tanda-tanda


peradangan, tidak terdapat tanda trauma, tidak

terdapat adanya
petekie, purpura, edema, sianosis dan pucat.
- Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut (tidak

rontok).
- Kepala : Normocephal, tidak mikrosefalus maupun

hidrosefalus, bentuk
bulat, ubun-ubun sudah tertutup dan tidak cekung,

tidak
terdapat nyeri saat ditekan, tidak terdapat tanda-tanda
peradangan.
- Mata : Edema palpebra (-/-), Konjungtiva anemis (-/-), Sklera

ikterik
(-/-), refleks cahaya direk dan indirek (+/+), pupil

isokor.
- Hidung : Pernapasan cuping hidung (-/-), darah (-/-), sekret

(-/-),
septum deviasi (-), tidak terdapat luka bekas trauma.
- Telinga :Normotia, serumen (-/-), tidak terdapat tanda-tanda

peradangan.
- Mulut : Bibir pucat (+), bibir kering (+), sianosis (-), lidah

kotor dan tremor (-), stomatitis (-).


- Tenggorokan : Faring hiperemis (-/-), tonsil membesar (-/-).
- Leher : Pembesaran KGB (-/-), pembesaran kelenjar tiroid

(-/-).

5
- Thorax
Pulmo :

Inspeksi : Terlihat pengembangan dinding thorax yang simetris

dextra sinistra, tidak terdapat retraksi dinding thorax,

tidak terdapat bagian dinding thorax yang tertinggal

saat inspirasi, tidak terdapat tanda-tanda peradangan.

Palpasi : Teraba pengembangan dinding thorax yang simetri

dextra sinistra, Vocal fremitus simetris.

Perkusi : Terdengar suara sonor pada seluruh lapang paru.

Auskultasi : Terdengar suara vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),

wheezing ( -/- )

Cor :

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi : Ictus cordis teraba.

Perkusi : Batas kiri linea midclavicularis sinistra

Batas kanan linea parasternalis dextra

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni regular, murmur (-),

gallop (-)

- Abdomen

6
Inspeksi : Terlihat datar (supel), tidak terdapat tanda-tanda

peradangan atau tanda perembesan plasma seperti petekie,

purpura dan ekimosis.

Auskultasi : Bising usus (+) 7-8 x/m.

Palpasi : Tidak terdapat adanya nyeri tekan pada seluruh

kuadran abdomen,tidak teraba pembesaran hepar dan spleen,

turgor kulit elastis.

Perkusi : Terdengar suara timpani pada seluruh lapang

abdomen.

- Ekstremitas superior
Akral : Hangat (+/+)
Edema : (-/-)
Sianosis : (-/-)
RCT : <2 detik
- Ekstremitas inferior
Akral : Hangat (+/+)
Edema : (-/-)
Sianosis : (-/-)
RCT : <2 detik
- Kelenjar limfe : Tidak terdapat adanya pembesaran kelenjar.
- Anus dan rectum : Tidak diperiksa.
- Genitalia : tidak diperiksa.
- Kulit : Tidak pucat, tidak sianosis, turgor elastis kembali

dengan cepat, terdapat adanya tanda perembesan

plasma seperti petekie, purpura/ekimosis.


- Uji Tourniquet (+)

1.4 Pemeriksaan Penunjang

7
12 Maret 2016 pukul 13.25 WIB
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
Hemoglobin 13,3 g/dL 12.8 16.8
Leukosit 8,5 103 g/dl 4.50 13.00
Hematokrit 42,9 % 32 42
Trombosit 104 103 /l 156 408
Eritrosit 5,83 103 /l 4.40 5.90
MCV/VER 73,6 fL 80 100
MCH/HER 22,8 Pg 26 34
MCHC/KHER 31 g/dL 32 36

1.5 Resume

7 hari SMRS os mengeluh demam naik turun dan pegal-pegal di

seluruh badan. Os mengeluh saat demam terasa menggigil. Batuk, pilek tidak

ada, namun 3 hari SMRS os mengeluh adanya, pusing dan lemas. Pasien

belum BAB sejak 1 hari SMRS. Tidak Terdapat bintik-bintik merah pada

kulit. BAK normal (warna, frekuensi, tidak ada darah dan tidak nyeri)

Pemeriksaan fisik didapatkan Suhu: 37,7oC suhu Axilla, Nadi: 88

x/mnt, Pernapasan : 28 x/mnt, bibir kering, paru dan jantung DBN. BU (+) 7-

8 x/menit.

8
Pemeriksaan penunjang : trombosit = 104 103/l , Ht = 42,9%

1.6 Assesment
Diagnosis Klinis : Demam Berdarah Dengue (DBD)

Derajat I
Diagnosis Gizi : Gizi Baik
Diagnosis imunisasi : Lengkap Sesuai Usia
Diagnosis Tumbuh kembang : Baik

1.7 Prognosis
Quo ad Vitam : ad Bonam
Quo ad Functionam : ad Bonam

1.8 Rencana Pemeriksaan Penunjang


- IgG & IgM Dengue
- NS1
1.9 Penatalaksanaan

Planning :

a. Infus : RL 1225ml : 60 = 20 TPM Mikro =5 TPM Makro


b. Oral : PCT 250mg 3 x 1
c. Pantau TTV/12 jam
d. Cek HHTL/12jam

1.10 Follow UP

Hari/ tanggal S O A P

12/03/2016 Demam (-), Suhu: 37,0oC DBD Lanjutkan terapi


(13.25) sakit kepala sebelumnya
RR: 22x/m
(+), Lemas (+),
Mual (-), HR: 90x/m
muntah (-), CRT <2 detik
Diare (-),

9
Belum BAB, Nyeri tekan
Sakit perut (-), abdomen (-)
Badan pegal- Trombosit : 104
pegal (+),
Nyeri menelan
(-), mimisan
(-), BAK
lancar
(normal),
lemas (+)
12/03/2016 Demam (-), Suhu: 36,6oC DBD derajat Lanjutkan terapi
(22.25) sakit kepala 120/70 1 sebelumnya
TD:
(+), Lemas (+), mmHg
Mual (-),
muntah (-), RR: 22x/m
Diare (-), HR: 80x/m
Belum BAB 2
CRT <2 detik
hari, Sakit
perut (-), BU (+) normal
Badan pegal- NT abdomen (-)
pegal (+),
Nyeri menelan Trombosit : dari
(-), mimisan 104 86
(-), BAK
lancar
(normal),
lemas (+)

Pemeriksaan darah rutin

10
Tanggal Jam Hb Ht Trombosit Leukosit

12 Maret 2016 13.25 13.3 g/dL 42.9 % 104.000 /l 9.5 /l


12 Maret 2016 22.25 12.2 g/dL 37.9 % 86.000/l 11.1 /l
14 Maret 2016 09.56 11.9 g/dL 37.7 % 108.000/l 6.6 /l

BAB II

11
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Etiologi


Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever

(DHF) merupakan penyakit demam akut, yang disebabkan oleh virus genus

Flavivirus, family Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotype yaitu DEN-1,

DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau

Aedes albopictus. Dari empat serotipe dengue yang terdapat di Indonesia,

DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan banyak berhubungan dengan

kasus berat, diikuti dengan serotipe DEN-2.(1) Infeksi salah satu serotipe akan

menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe yang bersangkutan

tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe yang lain.

2.2 Epidemiologi dan Klasifikasi


Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic

Fever (DHF) masih tetap tinggi, rata-rata 10-25 per 100.000 penduduk,

namun angka kematian telah menurun secara bermakna menjadi <2%. Yang

paling banyak terkena infeksi dengue adalah kelompok umur 4-10 tahun,

walaupun makin banyak dijumpai pada kelompok umur yang lebih tua.

Spektrum klinis infeksi dengue dapat dibagi menjadi : (1)


a. Gejala klinis paling ringan tanpa gejala (silent dengue infection).
b. Demam dengue (DD).
c. Demam Berdarah Dengue (DBD).
d. Demam Berdarah Dengue disertai syok (Sindrom Syok Dengue).
2.3 Derajat Penyakit

12
Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat (pada setiap

derajat sudah ditemukan trombositopenia dan hemokonsentrasi), yaitu: (2),(3)


a. Derajat 1 : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya

manifestasi perdarahan adalah uji bending tourniquet.


b. Derajat 2 : Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau
perdarahan lain.
c. Derajat 3 : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat,

tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di

sekitar mulut, kulit dingin dan lembap dan anak tampak gelisah.
d. Derajat 4 : Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan

tekanan darah tidak terukur.


2.4 Patogenesis dan Patofisiologi
Patogenesis DD/DBD belum diketahui dengan pasti. Namun, ada

beberapa teori yang diperkirakan berperan dalam munculnya tanda dan gejala

pada penyakit ini. Terdapat 3 sistem organ yang diperkirakan berperan penting

dalam patogenesis DD/DBD, yaitu sistem imun, hati, dan sel endotel

pembuluh darah. Selain itu, respon imun pejamu yang diturunkan (faktor

genetik) juga berperan dalam manifestasi klinis yang ditimbulkan. Virus

dengue diinjeksikan oleh nyamun Aedes ke aliran darah. Virus ini secara tidak

langsung juga mengenai sel epidermis dan dermis sehingga menyebabkan sel

Langerhans dan keratinosit terinfeksi. Sel-sel yang terinfeksi ini bermigrasi ke

nodus limfe, dimana makrofag dan monosit kemudian direkrut dan menjadi

target infeksi berikutnya. Selanjutnya, terjadi amplifikasi infeksi dan virus

tersebar melalui darah (viremia primer). Viremia primer ini menginfeksi

makrofag jaringan berupa organ seperti limpa, sel hati, sel stromal, sel

13
endotel, dan sumsum tulang. Infeksi makrofag, hepatosit, dan sel endotel

mempengaruhi hemostasis dan respon imun pejamu terhadap virus dengue.(4)


Sel-sel yang terinfeksi kebanyakan mati melalui apoptosis dan hanya

sedikit yang melalui nekrosis. Nekrosis mengakibatkan pelepasan produk

toksik yang mengaktivasi sistem fibrinolitik dan koagulasi. Bergantung

kepada luasnya infeksi pada sumsum tulang dan kadar IL-6, IL-8, IL-10, dan

IL-18, hemopoiesis ditekan sehingga menyebabkan penurunan

trombogenisitas darah. Produk toksik juga menyebabkan peningkatan

koagulasi dan konsumsi trombosit sehingga terjadi trombositopenia.

Trombositopenia juga terjadi akibat supresi sumsum tulang, destruksi dan

pemendekan masa hidup trombosit akibat pengikatan fragmen C3g,

terdapatnya antibody, dan sekuestrasi di perifer. (4)


Trombosit mempunyai interaksi yang dekat dengan sel endotel.

Sejumlah trombosit fungsional diperlukan untuk mempertahankan stabilitas

vaskular. Gangguan fungsi trombosit menjadi mekanisme gangguan pelepasan

ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin, dan PF4 (trombosit factor 4).

Koagulopati terjadi karena interaksi virus dengan endotel yang memicu

disfungsi endotel. Namun sel endotel memiliki tropisme tersendiri terhadap

virus dengue bersamaan dengan tingginya kadar virus dalam darah,

trombositopenia, serta disfungsi trombosit, keempat faktor ini menyebabkan

peningkatan kerapuhan kapiler yang bermanifestasi sebagai petekie, memar,

dan perdarahan mukosa saluran cerna. (4)

14
Infeksi sekunder oleh serotype yang berbeda memicu peningkatan aktivitas

antibodi spesifik terhadap infeksi pertama. Antibody ini memediasi serotype

virus dengue lain untuk berikatan dengan reseptor Fc-gamma pada makrofag

sehingga saat virus berada dalam makrofag tidak dapat dicerna dengan baik.

Akibatnya, virus semakin bereplikasi dan infeksi berlanjut. Infeksi makrofag

dalam ini mengkativasi sel Th dan Tc untuk memproduksi limfokin dan

interferon gamma. Interferon gamma kemudian mengaktivasi monosit

sehingga mediator inflamasi tersekresi seperti TNF-, IL-1, PAF, IL-6, dan

histamine. Akibatnya terjadi disfungsi sel endotel dan kebocoran plasma yang

diperberat dengan peningkatan C3a dan C5a oleh aktivitas kompleks virus-

antibodi. (4)
Gambar 2.1 Patogenesis DBD
2.5 Manifestasi Klinis

Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokan menjadi 4 tingkat (1997) :

a. Derajat 1 : Demam diikuti gejala spesifik, satu-satunya manifestasi

pendarahan
adalah test Tourniquet yang positif.
b. Derajat 2 : Gejala yang ada pada tingkat 1 ditambah dengan pendarahan

spontan,
pendarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat lain.

15
c. Derajat 3 : Kegagalan sirkulasi ditandai dengan denyut nadi yang cepat

dan

lemah, hipotensi, suhu tubuh rendah, kulit lembab, dan

penderita

gelisah.

d. Derajat 4 : Shock berat dengan nadi yang tidak teraba, dan tekanan darah

tidak
Dapat di periksa, fase kritis pada penyakit ini terjadi pada

akhir masa
demam.

Setelah demam 2-7 hari, penurunan suhu biasanya disertai dengan

tanda-tanda gangguan sirkulasi darah, penderita berkeringat, gelisah, tangan

dan kakinya dingin dan mengalami perubahan tekanan darah dan denyut nadi.

Pada kasus yang tidak terlalu berat gejala-gejala ini hampir tidak terlihat,

menandakan kebocoran plasma yang ringan.

Demam pada DBD mempunyai siklus demam yang khas disebut

Siklus Pelana Kuda.

16
Gambar 2.2 Demam Pelana Kuda

a.
Demam Dengue (2)

1. Demam tinggi mendadak

2. Ditambah gejala penyerta 2/lebih :

a) Nyeri kepala

b) Nyeri retro orbita

c) Nyeri otot dan tulang

d) Ruam kulit

e) Meski jarang dapat disertai manifestasi perdarahan

f) Leukopenia

17
g) Uji HI >1280 atau IgM/IgG positif

3. Tidak ditemukan tanda kebocoran plasma (hemokonsentrasi,

efusi pleura, asites, hipoproteinemia).

b.
Demam Berdarah Dengue (2)

Klinis

1. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus

menerus selama 2-7 hari

2. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :

a) Uji bending positif

b) Petekie, ekimosis, purpura

c) Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi

d) Hematemesis dan atau melena

3. Pembesaran hati

4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba,

penyempitan tekanan nadi (20 mmHg), hipotensi sampai tidak

18
terukur, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, Capillary refill time

memanjang (>2 detik) dan pasien tampak gelisah

Laboratorium

1. Trombositopenia (<100.000/l atau kurang)

2. Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas

kapiler, dengan manifestasi sebagai berikut :

a) Peningkatan hematokrit 20% dari nilai standar

b) Penurunan hematokrit 20% setelah mendapat terapi cairan

c) Efusi pleura/pericardial, asites, hipoproteinemia

Dua kriteria klinis pertama ditambah satu dari kriteria

laboratorium (atau hanya peningkatan hematokrit) cukup untuk

menegakkan diagnosis kerja DBD.

Pemeriksaan antibodi IgG dan IgM yang spesifik berguna

dalam diagnosis infeksi virus dengue. Kedua antibodi ini muncul 5-7

hari setelah infeksi. Hasil negatif bisa saja muncul mungkin karena

pemeriksaan dilakukan pada awal terjadinya infeksi. IgM akan tidak

terdeteksi 30-90 hari setelah infeksi, sedangkan IgG dapat tetap

terdeteksi seumur hidup. IgM yang positif memiliki nilai diagnostik

19
bila disertai dengan gejala yang mendukung terjadinya demam

berdarah. Pemeriksaan IgG dan IgM ini juga bisa digunakan untuk

membedakan infeksi dengue primer atau sekunder.

2.6 Penatalaksanaan

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam berdarah dengue,

prinsip utama adalah terapi suportif. Dengan terapi suportif yang

adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 1%.

Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling

penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus

tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak

mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan melalui

intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara

bermakna.

Seorang yang tersangka menderita DBD diruang Gawat Darurat

dilakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan

trombosit, bila: (5)

a. Hb, Ht, dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-

150.000, pasien dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau

berobat jalan ke Poliklinik dalam waktu 24 jam

20
b. berikutnya (dilakukan pemeriksaan Hb, Ht, trombosit tiap 24 jam)

atau bila keadaan penderita memburuk segera kembali ke IGD.

c. Hb, Ht, normal tetapi trombosit <100.000 dianjurkan untuk

dirawat.

d. Hb, Ht, dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan untuk

dirawat.

21
Tatalaksana Tersangka DBD ( Rawat Inap ) atau Demam Dengue (5)

22
23
24
Tatalaksana DBD Derajat I dan II (5)

25
26
27
2.7 Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan langkah 3M plus:

1. Menguras bak air dan tempat tempat penampungan air

2. Menutup tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat berkembang biak

nyamuk

3. Mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air.

Di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan insektisida

yang membunuh larva nyamuk seperti abate. Hal ini bisa mencegah

perkembangbiakan nyamuk selama beberapa minggu, tapi pemberiannya

harus diulang setiap beberapa waktu tertentu. Di tempat yang sudah terjangkit

DHF dilakukan penyemprotan insektisida secara fogging, tapi efeknya hanya

bersifat sesaat dan sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai. Di

samping itu partikel obat ini tidak dapat masuk ke dalam rumah tempat

ditemukannya nyamuk dewasa. Untuk perlindungan yang lebih intensif,

orang-orang yang tidur di siang hari sebaiknya menggunakan kelambu,

memasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, menggunakan semprotan

nyamuk di dalam rumah dan obat-obat nyamuk yang dioleskan.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO. Infeksi Virus Dengue. Page: 162-166. Pelayana Kesehatan Anak

WHO. 2009.
3. Garna, Herry, Heda Melinda. Ilmu Kesehatan Anak Pedoman Diagnosis dan

Terapi. Edisi 3. Bandung : 2005.


4. Tjokronegoro, Arjatmo, Hendra Utama. Demam Berdarah Dengue. Fakultas

Kesehatan Universitas Indonesia. Jakarta: 2005.


5. UI. Pedoman pelayanan medis IDAI. Jilid 1. 2010.
6. Alvin Kliegman Behrman. Ilmu Kesehatan Anak NELSON. Edisi 15 Vol 2.

EGC.

29