Anda di halaman 1dari 4

Karakteristik lahan merupakan gabungan dari sifat-sifat lahan dan

lingkungannya yang diperoleh dari data pada legenda peta tanah dan uraiannya,
peta/data iklim dan peta topografi/elevasi (tufaila dan lam, 2014). Karakteristik
lahan diuraikan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dari peta tanah meliputi:
kemiringan lahan/lereng, drainase tanah, kedalaman tanah, tekstur tanah, ph tanah,
KTK, salinitas, permeabilitas tanah, drainase tanah dan singkapan permukaan
(singkapan batuan di permukaan tanah).
1. Kemiringan lahan/lereng
Ukuran kemiringan lahan relative terhadap bidang datar yang secara
umum dinyatakan dalam persen atau derajat. Kecuraman lereng,panjang
lereng dan bentuk lereng semuanaya akan mempengaruhi besarnya erosi dan
aliran permukaan.
2. Drainase tanah
Pembuangan massa air secara alami atau buatan dari permukaan atau
bawah permukaan dari suatu tempat. Pembuangan ini dapat dilakukan dengan
mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air.
3. Kedalaman tanah
Menyatakan dalamnya lapisan tanah dalam cm yang dapat dipakai untuk
perkembangan perakaran dari tanaman yang dievaluasi.
4. Tekstur tanah
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanahyang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang
terkandung pada tanah
5. pH tanah
Nilai ph tanah di lapangan pada lahan kering dinyatakan dengan data
laboratorium atau pengukuran lapangan, sedang pada tanah basah diukur di
lapangan
6. KTK (Kapasitas Tukar Kation)
Kemampuan tanah untuk menjerap dan menukar atau melepaskan kembali
ke dalam larutan tanah. Komponen tanah yang mempunyai muatan
adalah lempung dan bahan organik tanah (senyawa organik). Muatan negatif
lempung / bahan organik biasanya mengikat kation (ion bermuatan positif)
yang ada disekitarnya (dalam larutan tanah) sehingga terjadi
reaksi elektronetralitas yang menghasilkan keseimbangan kimia.
7. Salinitas
Salinitas tanah adalah kandungan garam garam yang berada di tanah.
Proses peningkatan kadar garam disebut dengan salinisasi. Garam adalah
senyawa alami yang berada di tanah dan air. Salinisasi dapat disebabkan oleh
proses alami seperti pencucian mineral atau penarikan deposit garam dari
lautan.
8. Permeabilitas tanah
Kecepatan air merembes ke dalam tanah ke arah horizontal dan vertikal
melalui pori-pori tanah atau pula dapat diartikan dengan kecepatan tanah
meresapkan atau meloloskan air dalam keadaan jenuh.
9. Drainase tanah
Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau
keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Kelas
drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman, terutama tanaman
tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. Drainase tanah kelas 1
dan 2 serta kelas 5, 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas
1 dan 2 sangat mudah meloloskan air, sedangkan kelas 5, 6 dan 7 sering jenuh
air dan kekurangan oksigen.
10. Batuan permukaan tanah
Volume batuan (dalam %) yang ada di permukaan tanah/lapisan olah.
11. Singkapan batuan
Volume batuan (dalam %) yang ada dalam solum tanah.

Kesesuaian lahan aktual merupakan kesesuaian lahan


berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum
lahan tersebut diberikan masukan-masukan yang diperlukan untuk
mengatasi kendala (Waas dan Sirappa, 2009). Data biofisik tersebut
berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan
persyaratan penggunaan sebuah lahan tersebut, misalkan untuk
permukiman maka karakteristik tanah seperti apa yang cocok untuk
membangun sebuah permukiman. Sedangkan kesesuaian lahan
potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai apabila
dilakukan usaha-usaha perbaikan. Lahan yang dievaluasi dapat berupa
hutan konversi, lahan terlantar atau tidak produktif, atau lahan
pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan tetapi masih
memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila komoditasnya diganti
dengan tanaman yang sesuai. Sub kelas kesesuaian lahan
menggambatkan jenis faktor pembatas. Menurut Maryenti dan angela
(2014) sub kelas ditunjukkan oleh huruf jenis pembatas yang
ditempatkan sesudah simbol S2, S3, atau N sedangkan S1 tidak
mempunyai sub kelas karena tidak mempunyai faktor pembatas.
Beberapa jenis pembatas yang menentukan sub kelas kesesuaian
lahan, yaitu : pembatas iklim (c), pembatas topografi (t), pembatas
kebasahan, pembatas faktor fisik tanah (s), pembatas faktor kesuburan
tanah (f), pembatas salinitas dan alkalinitas (n).

Evaluasi lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk
tujuan tertentu dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah
teruji. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan
penggunaan lahan sesuai dengan keperluan. Menurut Safuan dkk (2013)
kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan
tertentu. Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian
lahan aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial).
Berbagai sistem evaluasi lahan dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang
berbeda seperti sistem perkalian parameter, sistem penjumlahan parameter dan
sistem pencocokan (matching) antara kualitas lahan dan karakteristik lahan.
DAFTAR PUSTAKA

Maryenti, S., dan Y.P. angela. 2014. Kesesuian Lahan untuk Tanaman Tebu
Dipolitani. Nasional Ecopedon, 2(2): 24-28.
Safuan, L.O., A.M. Kandari, dan M. Natsir. 2013. Evaluasi Kesesuaian Lahan
Tanaman Kakao (Theobroma Cacaol.) berdasarkan Analisis Data Iklim
Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografi. Agroteknos, 3(2): 80-
85.
Tufaila, M. dan S. Alam. 2014. Karakteristik Tanah dan Evaluasi Lahan
untuk Pengembangan Tanaman Padi Sawah di Kecamatan
Oheo Kabupaten Konawe Utara. Agriplus, 24(2): 184-194.

Waas, E.D., dan M.P. Sirappa. 2009. Potensi Lahan untuk Pengembangan
Kacang Tanah di Lahan Kering Pulau Selaru Kabupaten Maluku Tengara
Barat. Budidaya Pertanian, 5(2): 105-110.