Anda di halaman 1dari 4

BAB 2.

PEMBAHASAN

Actinomycetes termasuk dalam divisi Schyzophyta. Tumbuh sebagai


filamen sel yang bercabang panjang atau pendek. Organisme ini membelah
dengan pembelahan biner, dan mungkin menghasilkan spora eksternal atau tidak.
Begitu jauh, mayoritas organisme ini adalah saprofit tanah dan air (organisme
yang hidup dari benda organik yang membusuk dan sangat penting karena
perannya dalam daur alam, seperti pembusukan bahan organik dan penambatan
nitrogen). Bangsa Actinomycetes terdiri dari tiga suku yaitu suku
Mycobacteriaceae, suku Actinomycetaceae, dan suku Streptomycetaceae.
Actinomycetes merupakan mikroorganisme tanah yang umum dijumpai
pada berbagai jenis tanah. Populasinya berada pada urutan kedua setelah bakteri,
bahkan kadang-kadang hampir sama Actinomycetes hidup sebagai saprofit dan
aktif mendekomposisi bahan organik, sehingga dapat meningkatkan kesuburan
tanah (Adriani dkk., 2013). Actinomycetes merupakan salah satu mikroorganisme
yang mampu mendegradasi selulosa di samping bakteri, kapang, dan khamir. Jenis
Actinomycetes tergantung pada tipe tanah, karakteristrik fisik, kadar bahan
organik, dan pH lingkungan. Jumlah Actinomycetes meningkat dengan adanya
bahan organik yang mengalami dekomposisi. Pada umumnya Actinomycetes tidak
toleran terhadap asam dan jumlahnya menurun pada keadaan lingkungan dengan
pH di bawah 5,0. Rentang pH yang paling cocok untuk perkembangbiakan
Actinomycetes adalah antara 6,5-8,0. Tanah yang tergenang air tidak cocok untuk
pertumbuhan Actinomycetes, sedangkan tanah gurun yang kering atau setengah
kering dapat mempertahankan populasi dalam jumlah cukup besar, karena adanya
spora. Temperatur yang cocok untuk pertumbuhan Actinomycetes adalah 25-30 oC,
tetapi pada suhu 55-65oC Actinomycetes masih dapat tumbuh dalam jumlah cukup
besar, khususnya genus Thermoactinomyces dan Streptomyces.
Actinomycetes kelihatan dari luar seperti jamur dan dalam banyak buku
dibicarakan bersama dengan fungi eukariot. Akan tetapi, organisme ini adalah
bakteri benar sesuai dengan semua kriteria untuk sel prokariot. Dinding selnya
mengandung asam muramat, tidak mempunyai mitrokondrion, mengandung
ribosom 70 S (sel eukariot mempunyai ribosom 8 0S dalam sitoplasmanya), tidak
mempunyai pembungkus nukleus, garis tengah selnya berkisar dari 0,5 samapi 2,0
m, dan dapat dimatikan atau dihambat oleh banyak antibiotika bakteri.
Actinomycetes tumbuh seperti filamen-filamen yang tipis seperti kapang
dari pada sel tunggal sehingga Actinomycetes dianggap sebagai fungi atau
cendawan. Meskipun ada persamaan dalam hal pola pertumbuhannya, fungi itu
eukariota sedangkan Actinomycetes adalah prokariota. Pada lempeng agar
Actinomycetes dapat dibedakan dengan mudah dari bakteri yang sebenarnya tidak
seperti koloni bakteri yang jelas berlendir dan tumbuh dengan cepat. Koloni
Actinomycetes muncul perlahan, menunjukkan konsistensi berbubuk dan melekat
erat pada permukaan agar.
Actinomycetes adalah bakteri yang tidak tahan asam, memiliki filament
diawal pertumbuhannya. Actinomycetes dapat bersifat anaerob fakulatif (mampu
tumbuh baik jika terdapat O2 bebas atau tidak ada O2) dapat mampu
memfermentasikan karbohidrat (Ambarwati dkk., 2012).
Actinomycetes mempunyai fungsi:
1. Mendekomposisi bahan organik
2. Menghasilkan antibiotik yang dapat menghambat bahkan mematikan mikroba
lainnya, khususnya yang pathogen
3. Mengikat struktur tanah liat sehingga dapat memperbaiki sifat fisik tanah
4. Dapat menghilangkan bau, dengan zat-zat metabolik yang dikeluarkannya.
Actinomycetes, yang strukturnya merupakan bentuk antara dari jamur dan
bakteri, menghasilkan zat-zat anti mikroba dan asam amino yang dikeluarkan oleh
bakteri fotosintetik dan bahan organik.
1. Suku mycobakteriaceae, sel-sel tidak membentuk miselium atau hanya
miselium yang rudimentar, contohnya adalah :
Mycobacterium tuberculosis, penyebab penyakit tubrkulosis
Mycobacterium leprae, penyebab penyakit kusta.
2. Suku Actinomycetaceae, membentuk miselium, spora terbentuk dalam
fragmen-fragmen miselium. Contoh :
Actinomyces bovis, patogen penyebab penyakit mulut pada ternak.
3. Suku Streptomycetaceae, membentuk miselium, miselium vegetative tidak
terbagi-bagi. Contoh :
Streptomyces aureofaciens, menghasilkan aureomisin
Streptomyces griseus, menghasilkan streptomision
Streptomyces fradiae, menghasilkan neomisin dan fradisin
Streptomyces rimosus, menghasilkan teramisin
Streptomyces venezuelae, menghasilkan kloromisetin
Streptomyces merupakan salah satu genus dari kelas Actinomycetes yang
biasanya terdapat di tanah. Streptomyces adalah prokariot yang menghasilkan
substansi penting untuk kesehatan seperti antibiotik, enzim, dan
immunomodulator dan salah satu organisme tanah yang memiliki sifat-sifat umum
yang dimiliki oleh bakteri dan jamur tetapi juga memiliki ciri khas yang cukup
berbeda yang membatasinya menjadi satu kelompok yang jelas berbeda. Banyak
anggota dari Streptomyces menghasilkan antibiotik di mana lebih dari
setengahnya merupakan antibiotik yang efektif melawan bakteri, misalnya
streptomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.
Isolasi Streptomyces menghasilkan koloni-koloni kecil (berdiameter 1-10
mm), terpisah-pisah seperti liken, dan seperti kulit atau butirus (mempunyai
konsistensi seperti mentega), mula-mula permukaannya relatif licin tetapi
kemudian membentuk semacam tenunan miselium udara yang dapat
menampakkan granularnya, seperti bubuk, seperti beludru, atau flokos,
menghasilkan berbagai macam pigmen yang menimbulkan warna pada miselium
vegetatif, miselium udara, dan substrat.
Streptomyces mempunyai misel yang baunya sangat kuat, berkembang dan
mengandung hifa udara (sporofor), dari bentuk ini terjadi konstruksi lurus,
bergelombang, mirip spiral, dapat mengurai selulosa, khitin dan zat-zat lain sukar
dipecah. Streptomyces umumnya memproduksi antibiotik yang dipakai manusia
dalam bidang kedokteran dan pertanian, juga sebagai agen antiparasit, herbisida,
metabolisme aktif, farmakologi, dan beberapa enzim penting dalam makanan dan
industri lain.
DAFTAR PUSTAKA

Adriani., dan Y.F. Tulak. 2013. Isolasi dan Karakterisasi Actinomycetes Sebagai
Penghasil Antibiotik Dari Sampel Tanah Pada Peternakan Sapi di
Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Ilmiah Biologi, 1(2): 97-100.

Ambarwati, T. Azizah., L. Sembiring., dan S. Wahyuono. 2012. Uji Aktivitas


Antifungi Isolat Actinomycetes yang Berasosiasi dengan Rizosfer Padi
(Oriza Sativa). Jurnal Kesehatan, 5(2): 139-148.