Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN TUNA DAKSA EKSTREMITAS

BAWAH

oleh
Kelompok 6

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
ASUHAN KEPERAWATAN TUNA DAKSA EKSTREMITAS
BAWAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Perawatan Pasien Dengan Kebutuhan Khusus

oeh :
Rica Novi Pamungkas NIM 122310101008
Putri Mareta Hertika NIM 122310101014
Ananta Erfrandau NIM 122310101015
Ria Novitasari NIM 122310101022
Alifia Rizki DP NIM 122310101025
Yulfa Intan Luckita NIM 122310101034
Made Enstini SP NIM 122310101035
Rini Novitasari NIM 122310101042
Afiq Zulfikar Zulmi NIM 122310101049
Fakhrun Nisa F NIM 122310101062
Agustin Dian NIM 122310101063
Indra Sarosa NIM 122310101073

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala penyertaan dan
pertolonganNya, sehingga makalah dapat kami selesaikan. Dalam kesempatan
ini, kami selaku penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-ihak yang
telah mendukung dalam penyelesaian laporan ini yakni :

1. Ns. Latifa Aini S., M.Kep., Sp.Kom. Selaku penanggungjawab mata


kuliah Perawatan Pasien Dengan Kebutuhan Khusus;
2. Teman-teman angkatan 2012 Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Jember.

Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat


kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca sebagai penyempurnaan bahan penulisan selanjutnya.
Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan tambahan ilmu pengetahuan
bagi kita semua. Sekian, terimakasih

Jember, September 2015

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL........................................................................................
KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1 Latar Belakang ...............................................................................
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................
1.3 Tujuan Umum dan Khusus ............................................................
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................
2.1 Pengkajian........................................................................................
2.2 Diagnosa...........................................................................................
2.3 Intervensi..........................................................................................
2.4 Implementasi....................................................................................
2.5 Evaluasi............................................................................................
BAB III PENUTUP.............................................................................................
3.1 Kesimpulan......................................................................................
3.2 Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................
Lampiran
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia pada umumnya berharap dilahirkan dalam keadaan fisik yang
normal dan sempurna, akan tetapi tidak semua manusia mendapatkan
kesempurnaan yang diinginkan karena adanya keterbatasan fisik yang tidak dapat
dihindari seperti kecacatan atau kelainan pada fisiknya yang disebut tunadaksa.

Dalam kamus bahasa Indonesia tunadaksa merupakan cacat pada anggota


tubuhnya (Marhijanto, 1993). Penyabab terjadinya tunadaksa menurut Riadi dkk.
(2006) ada tiga faktor yaitu faktor karena kelahiran, faktor kecelakaan, faktor
virus. Faktor kalahiran dikarenakan pada proses kelahiran yang terlalu lama
karenatulang pinggang ibu kecil sehingga bayi mengalami kekurangan
oksigen,kekurangan oksigen menyebabkan terganggunya sistem metabolisme
dalam otak bayi, akibatnya jaringa syaraf pusat mengalami kerusakan.

Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran yang mengalami
kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf pada otak bayi. Pemakaian
anestesi yang melebihi ketentuan ibu yang melahirkan karena operasi dan
menggunakan anestesi yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem
persyarafan otak bayi, sehingga otak mengalami kelaianan struktur
ataupun fungsinya. Faktor kecelakaan, dimana seseorang mengalami kecelakaan
dalam kerja seperti cleaning service yang terjatuh saat membersihkan kaca jendela
tempat ia bekerja sehingga ia harus diamputasi. Faktor virus disebabkan tubuh
terserang penyakit seperti polio. Tunadaksa tidak hanya bagi mereka bagi mereka
yang kehilangan anggota tubuhnya saja tapi kelebihan anggota tubuh dapat juga
dikatakan sebagai tunadaksa, seperti memeiliki jari yang lebih dari lima buah.

Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan yang cukup kepada keluarga
dan petugas kesehatan bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien dengan
tunadaksa ekstremitas bawah. Maka dalam makalah ini akan dijelaskan lebih
detail mengenai bagaimana Asuhan Keperawatan klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimanakah Pengkajian Keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah?
1.2.2 Apa sajakah Diagnosa Keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah?
1.2.3 Apa sajakah Intervensi Keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah?
1.2.4 Bagaimana Implementasi Keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah?
1.2.5 Bagaimana Evaluasi Keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini yaitu agar
mahasiswa dapat mengetahui tentang Asuhan Keperawatan pada klien
dengan Tunadaksa Ekstremitas Bawah.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui Pengkajian pada klien dengan tunadaksa ekstremitas


bawah..
2. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah..
3. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah..
4. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada klien dengan
tunadaksa ekstremitas bawah..
5. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada klien dengan tunadaksa
ekstremitas bawah.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 PENGKAJIAN PADA KLIEN TUNADAKSA (BAYI)

Tujuan :
1. Memperoleh data dasar tentang otot, tulang dan persendian
2. Mengetahui adanya mobilitas, adanya gangguan pada bagian-bagian
tertentu
3. Untuk mengetahui adanya gangguan muskuloskeletal pada ekstremitas
bayi

Persiapan alat :

1. Meteran/Mistar
2. Hammer
3. Pulpen
4. Kertas

Persiapan pasien :

1. Jelaskan tujuan dan prosedur pada orang tua klien


2. Minta persetujuan orang tua klien

Persiapan perawat :

1. Persiapkan alat yang akan digunakan


2. Menguasai keterampilan yang akan dilakukan

Prosedur pelaksanaan :

a. Otot
1. Inspeksi ukuran otot (massa otot) bandingkan satu sisi dengan sisi yang
lain dan amati adanya atrofi atau hipertrofi. Suruh klien untuk membuka
baju sehingga kitaa bisa mengamati bentuk ototnya. Pasien dengan tuna
daksa ekstermitas bawah mengalami kelaianan bentuk pada otot
2. Jika didapatkan adanya perbedaan antara kedua sisi, ukur keduanya
dengan menggunakan meteran.
3. Amati adanya otot dan tendon untuk mengetahui kemungkinan kontraktur
yang ditunjukkan oleh malposisi suatu bagian tubuh.
4. Lakukan palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat otot bergerak secara
aktif dan pasif untuk mengetahui adanya kelemahan (flasiditas), kontraksi
tiba-tiba secara involunter (spastisitas).
5. Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau mendorong
tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot ektremitas kanan dengan
ekstremitas kiri. Pasien tuna daksa ekstremitas bawah biasanya memiliki
skala 0 hingga 5

Dengan skala 0-5

1) 0 : jika tidak ada tahanan sama sekali


2) 1 : jika ada tahanan tapi lemah
3) 2 : jika ada tahanan tapi tidak mampu melawan gravitasi
4) 3 : jika mampu melawan gaya gravitasi
5) 4 : jika mampu melawan gravitasi dan menahan kekuatan pemeriksaan
tapi bukak kekuatan penuh
6) 5 : jika kekuatan kontraksinya penuh
6. Amati kekuatan suatu bagian tubuh dengan cara memberi penahanan
secara resisten
7. Perhatian dan palpasi adanya bengkak pada bagian tubuh untuk
mengetahui apa ada proses infeksi yang terjadi atau ada kelainan
metabolik dalam tubuh.
8. Periksa refleks dari pasien :
a. Refleks biseps
b. Refleks triseps
c. Refleks babinski
d. Refleks abdomen
e. Refleks achiles
f. Refleks patella
g. Refleks medial hamstring
h. Refleks cresmaster (pada bayi laki-laki)
i. Graps refleks bayi berkurang setelah 3 bulan

Refleks mempunyai skala nilai 0-4

1) 0 : tidak ada refleks


2) 1 : ada sedikit refleks
3) 2 : normal
4) 3 : refleks yang melebihi normal
5) 4 : hiperaktif

Tulang

1. Amati kenormalan dan kesejajaran susunan tulang


Suruh klien berjalan, duduk. Amati bentuk tulang dan kesejajaran tulang
saat berjalan. Selain itu perhatikan ada tanda fraktur yang berpengaruh
pada bentuk tulang. Perhatikan pada anak kelainan kongenital yaitu genu
varum dan genu valgum. Pasien tuna daksa ekstremitas bawah mengalami
ketidaknormalan dan susunan tulang kurang sejajar.

2. Kaji ada atau tidak adanya pemendekan ekstremitas

Pemendekan atau ketidakseimbangan ekstremitas bisa dilihat ketika pasien


disuruh untuk berdiri dan berjalan. Jadi pemeriksa bisa melihat dengan
jelas kalau terjadi deformitas tulang. Pemendekan tulang dari gaya berjalan
klien. Pasien tunadaksa estremitas bagian bawah mengalami hambatan
mobilisasi dikarenakan pemendekan ektremitas bagian bawah.

3. Kaji adanya deformitas


4. Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan
5. Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan
6. Pada bayi bisa dilakukan tonic neck asimetris refleks, neck-righting
refleks, otolith-righting refleks
7. Selain itu mengukur atau mengetahui adanya kelainan punggung atau
punggung atau pelvis pada bisa digunakan tes-tes yaitu :
1) Tes ortolani
2) Manuver barlow
3) Tanda allis atau galezzi

Persendian

1. Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian


2. Palpasi persendian untuk mengetahui adanya nyeri tekan, gerakan,
bengkak, nodul, dan lain-lain.
3. Kaji adanya benjolan disekitar sendi. Jaringan sekitar sendi diperiksa
adanya benjolan. Rheumatoid arthritis, gout, dan osteoarthritis
menimbulkan benjolan yang khas. Benjolan dibawah kulit pada
rhemathoid arthritis lunak dan terdapat didalam dan sepanjang tendon
yang memberikan fungsi ekstensi pada sendi biasanya, keterlibatan
sendi mempunyai pola yang simetris. Benjolan pada gout keras dan
terletak dalam dan tepat disebelah kapsul sendi itu sendiri. Kadang
mengalami rupture, mengeluarkan kristal asam urat putih kepermukaan
kulit. Benjolan osteoartritis keras dan tidak nyeri dan merupakan
pertumbuhan tulang baru akibat destruksi permukaan kartilago dan
tulang didalam kapsul sendi (biasanya ditemukan pada lansia)
4. Kaji adanya bunyi krepitus (arthritis) atau gemelutuk (ligamen
tergelincir)
5. Kaji tentang gerak persendian untuk memeriksa luas gerakan dan
stabilitas sendi Suruh klien untuk menggerakkan sendinya dengan
maksimal. Klien tunadaksa ekstremitas bagian bawah biasanya tidak
dapat menggerakkan sendinya dengan maksimal. Kemudian periksa
sendi lutut. Suruh klien untuk melakukan gerakan fleksi, ekstensi dan
rotasi pada persendian lutut.Periksa sendi metafalang (pergelangan
kaki). Suruh klien untuk melakukan gerakan fleksi, ekstensi, dan rotasi.
6. Kaji adanya deformitas sendi misalnya pemendekan struktur sendi,
dislokasi, subluksasi dan disrupsi struktur sekitar sendi

Suruh klien berjalan atau menggerakkan sendi, apabila ada daerah yang
sakit atau antara sendi yang satu berbeda maka curigai ada reaksi
inflamasi disebabkan karena dislokasi dan sebagainya.

7. Catat hasil pemeriksaan

2.2 Diagnosa

1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan rentang gerak


2. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan sikap
negatif/pengurangan pada diri sendiri
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur atau fungsi
tubuh
4. Resiko injury/cidera berhubungan dengan kerusakan mobilitas (fisik)
5. Distress spiritual berhubungan dengan gangguan sistem keyakinan,
perasaan marah pada Tuhan
6. Ketidakefektifan koping individu berhubungan dengan ketidakmampuan
memenuhi harapan peran, tingkat percaya diri tidak adekuat.
2.3 Intervensi

No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi


Keperawatan (NOC) Keperawatan (NIC)
1. Gangguan mobilitas Setelah dilakukan tindakan Latihan Kekuatan
fisik berhubungan keperawatan selama ... x 1. Ajarkan dan
dengan keterbatasan 24 jam klien dapat: berikan dorongan
rentang gerak. 1. Mampu mandiri total pada klien untuk
2. Membutuhkan alat
melakukan
bantu
program latihan
3. Membutuhkan bantuan
secara rutin
orang lain
4. Membutuhkan bantuan Latihan untuk
orang lain dan alat ambulasi
5. Penampilan posisi
1. Ajarkan teknik
tubuh yang benar
Ambulasi &
6. Pergerakan sendi dan
perpindahan yang
otot
7. Melakukan aman kepada
perpindahan/ ambulasi: klien dan
miring kanan-kiri, keluarga.
2. Sediakan alat
berjalan, kursi roda.
bantu untuk klien
Dengan kriteria hasil:
seperti kruk, kursi
1. Ambulation
roda, dan walker
2. Ambulation:
3. Beri penguatan
wheelchair
positif untuk
3. mobility
berlatih mandiri
dalam batasan
yang aman.
4. Latihan mobilisasi
dengan kursi roda
5. Ajarkan pada
klien &
keluarga tentang c
ara pemakaian
kursi roda dan
cara berpindah
dari kursi roda ke
tempat tidur atau
sebaliknya.
6. Dorong klien
melakukan latihan
untuk
memperkuat
anggota tubuh
7. Ajarkan pada
klien/ keluarga
tentang cara
penggunaan kursi
roda
Latihan
Keseimbangan

1. Ajarkan pada
klien dan
keluarga untuk
dapat mengatur
posisi secara
mandiri
dan menjaga
keseimbangan
selama latihan
ataupun dalam
aktivitas sehari
hari.
Perbaikan Posisi
Tubuh yang Benar

1. Ajarkan pada
klien/ keluarga
untuk
memperhatikan
postur tubuh yg
benar untuk
menghindari
kelelahan, keram
& cedera.
2. Kolaborasi ke ahli
terapi fisik untuk
program latihan.
2. Harga diri rendah Setelah dilakukan tindakan Body image
situasional keperawatan selama ... x enhancement
berhubungan 24 jam klien dapat: 1. Tentukan
dengan sikap 1. Mengidentifikasi ekspekstasi
negatif/pengurangan kemampuan positif gambaran tubuh
pada diri sendiri. yang dimiliki klien berdasarkan
2. Menialai kemampuan tahap
yang dimiliki perkembangan
3. Melakukan kegiatan 2. Monitor apakah
sesuai kondisi yang klien mampu
dialami melihat bagian
4. Memanfaatkan sistem tubuhnya
pendukung yang ada 3. Identifikasi
Dengan kriteria hasil: strategi kekuatan
1. Adaptation to physical koping yang
disability digunakan orang
2. Body image tua dalam
3. Coping merespon kondisi
4. Self awareness klien
Self esteem
enhancement
1. Monitor statement
yang
diungkapakan
oleh pasien
2. Tentukan
keyakinan klien
akan pernyataan
yang diungkapkan
3. Dorong klien
untuk menemukan
sumber
kekuatannya
4. Bantu klien
mengidentifikasi
respon positif dari
sekitarnya
5. Buat statement
positif tentang
kondisi klien

3 Gangguan citra Setelah dilakukan tindakan Body image


tubuh berhubungan keperawatan selama ... x enhancement
dengan perubahan 24 jam klien dapat: 1. Kaji secara verbal
struktur atau fungsi 1. Body image positif dan nonverbal
tubuh 2. Mampu respon klien
mengidentifikasi terhadap tubuhnya
kekuatan personal 2. Dorong klien
3. Mempertahankan untuk
interaksi sosial mengungkapkan
perasaannya
Dengan kriteria hasil: 3. Jelaskan tentang
1. Body Image pengobatan,
2. Self Esteem perawatan,
kemajuan dan
prognosis
penyakit
4. Fasilitasi kontak
dengan individu
lain dalam
kelompok kecil

4 Resiko injury/cidera Setelah dilakukan tindakan Environment


berhubungan keperawatan selama ... x Management
dengan kerusakan 24 jam klien dapat: (Manajemen
mobiltas (fisik) 1. Klien terbebas dari Lingkungan)
cidera 1. Sediakan
2. Klien mampu lingkungan yang
memodifikasi gaya aman untuk klien
hidup untuk mencegah 2. Hindarkan
injury lingkungan yang
3. Klien mampu berbahaya
menggunakan fasilitas 3. Sediakan tempat
kesehatan yang ada tidur yang
Dengan kriteria hasil: nyaman dan
1. Risk Control bersih
2. Safety Behavior 4. Kontrol
lingkungan dari
kebisingan
5. Anjurkan
keluarga untuk
menemani klien
6. Berikan
penjelasan pada
klien dan keluarga
atau pengunjung
adanya perubahan
status kesehatan
dan penyebab
penyakit

5 Distress spiritual Setelah dilakukan tindakan 1. Amati klien untuk


berhubungan keperawatan selama ... x harga diri, harga
dengan gangguan 24 jam klien dapat: diri, perasaan sia-
sistem keyakinan, 1. Menyatakan konflik sia, atau putus asa
atau gangguan yang 2. Jelaskan
perasaan marah
berkaitan dengan
pentingnya
pada Tuhan praktek sistem
kepercayaan kebutuhan
2. Mendiskusikan
Spiritual
keyakinan tentang
3. Kaji sistem
masalah spiritual
3. Menyatakan perasaan pendukung klien
kepercayaan diri, 4. Sediakan waktu
Tuhan, atau sistem
tenang untuk
kepercayaan lainnya
4. Melanjutkan praktek meditasi, doa, dan
spiritual tidak
relaksasi.
merugikan kesehatan
5. Bantuan klien
5. Mendiskusikan
perasaan tentang mengembangkan
kematian dan mencapai
6. Menampilkan mood
tujuan jangka
sesuai dengan situasi
pendek dan tugas.
Dengan kriteria hasil: 6. Bantu klien
1. Dignified Dying menemukan
2. Hope
alasan untuk
3. Spiritual Well- hidup.
Being 7. Berikan
kesempatan
individu untuk
berdoa dengan
orang lain

6 Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji pemahaman


koping individu keperawatan selama ... x pasien tentang
berhubungan 24 jam klien dapat: kondisi yang di
dengan 1. Mengungkapkan alami dan konsep
ketidakmampuan perasaan yang diri
2. Gunakan
memenuhi harapan berhubungan
pendekatan yang
peran, tingkat dengan kondisi
tenang
percaya diri tidak emosional
3. Kaji kemampuan
adekuat. 2. Mengidentifikasi
untuk
pola koping
menghubungkan
personal dan
fakta yang ada
konsekuensi dari 4. Kaji kondisi
perilaku tersebut verbal dan
3. Mengidentifikasi nonverbal klien
5. Bantu pasien
kekuatan personal
untuk
dan menerima
mengidentifikasi
dukungan melalui
strategi positif
hubungan
untuk mengatasi
keperawatan
4. Menggunakan keterbatasan dan
strategi penurunan mengelola gaya
stress hidup dan
5. Menggunakan perubahan peran
6. Bantu klien
support social
beradaptasi dan
Dengan kriteria hasil:
mengantisipasi
1. Koping
perubahan klien
2. Harga diri
7. Bantu klien
3. Keterampilan
mengidentifikasi
interaksional
kemungkinan
yang dapt terjadi
8. Diskusikan
dengan klien
tentang teknik
yang bisa
menurunkan
stress (teknik
relaksasi)
2.4 Catatan Perkembangan

Diagnosa Keperawatan Waktu Implementasi Paraf Evaluasi


Gangguan mobilitas Sabtu, 26 1. Mengajarkan dan Ns. A Jam 10.00 WIB
fisik berhubungan September memberikan dorongan pada S:
dengan keterbatasan 2015 klien untuk melakukan Klien
rentang gerak program latihan secara rutin mau untuk mengikuti
Hasil : program latihan rutin
klien mau untuk melakukan Klien
program rutin merasa senang saat diajak
2. Mengajarkan teknik berkeliling Rumah Sakit
Ambulasi & perpindahan dengan menggunkan kursi
yang aman kepada klien dan roda
keluarga Klien
Hasil : merasa termotivasi untuk
klien mulai belajar perlahan latihan dan
cara berpindah posisi memaksimalkan untuk
dengan didampingi perawat anggota tubuh yang lain
dan keluarga O:
RR : 28x/menit Klien
Nadi : 78x/menit mulai belajar secara
3. Menyediakan alat bantu perlahan cara berpindah
untuk klien seperti kruk, Klien
kursi roda, dan walker dan keluarga
Hasil : memanfaatkan kursi roda
Klien dan keluarga untuk mobilisasi
memanfaatkan alat tersebut RR :
untuk perpindahan 28x/menit
4. Melatih mobilisasi dengan Nadi :
kursi roda 78x/menit
Hasil : A : masalah gangguan
Klien merasa senang dan mobilitas fisik teratasi
lebih nyaman dengan diajak sebagian
berkeliling menggunakan P : lanjutkan intervensi
kursi roda nomor 2, 4 dan 5
5. Mendorong klien melakukan
latihan untuk memperkuat
anggota tubuh
Hasil :
Klien merasa termotivasi
untuk melakukan latihan
pada anggota tubuh yang
lainnya
Harga diri rendah Sabtu, 26 1. Memonitor apakah klien Ns. A Jam 11.00 WIB
situasional berhubungan September mampu melihat bagian S:
dengan sikap 2015 tubuhnya Klien
negatif/pengurangan Hasil : merasa malu dan tidak
pada diri sendiri. Klien merasa malu dan tidak mau anggota tubuhnya
mau anggota tubuhnya serta serta menganggap dirinya
menganggap dirinya tidak tidak sama dengan orang
sama dengan orang lainnya lainnya
2. Memonitor statement yang Klien menganggap dirinya
diungkapakan oleh pasien berbeda dengan orang lain
Hasil : dengan keadaan yang ia
Klien menganggap dirinya alami
berbeda dengan orang lain Klien
dengan keadaan yang ia merasa terharu dengan
alami orang-orang yang masih
3. Mendorong klien untuk peduli dan tetap berada di
menemukan sumber sampingnya saat
kekuatannya kondisinya tidak sama
Hasil : dengan yang lainnya
Klien mampu mengetahui O:
sumber kekuatan dari Klien
masalah yang dihadapi mampu mengetahui
4. Membantu klien sumber kekuatan dari
mengidentifikasi respon masalah yang dihadapi
positif dari sekitarnya A : masalah harga diri rendah
Hasil : teratasi sebagian
Klien merasa malu dan tidak P : lanjutkan intervensi
mau bertemu dengan orang- nomor 3,4 dan 5
orang di sekitarnya
5. Membuat statement positif
tentang kondisi klien
Hasil :
Klien merasa terharu dengan
orang-orang yang masih
peduli dan tetap berada di
sampingnya saat kondisinya
tidak sama dengan yang
lainnya
Gangguan citra tubuh Sabtu, 26 1. Mengkaji secara verbal dan Ns. A Jam 12.00 WIB
berhubungan dengan September nonverbal respon klien S:
perubahan struktur atau 2015 terhadap tubuhnya Klien mengatakan malu
fungsi tubuh Hasil : dengan kondisinya saat ini
Klien mengatakan malu Klien merasa tidak percaya
dengan kondisinya saat ini diri dengan keadaan yang
2. Mendorong klien untuk berbeda dengan orang lain
mengungkapkan Klien
perasaannya merasa dapat bertukar
Hasil : pengalaman dan
Klien merasa tidak percaya mendapatkan motivasi dari
diri dengan keadaan yang kelompok kecil tersebut
berbeda dengan orang lain O:
3. Menjelaskan tentang Klien memahami
pengobatan, perawatan, penjelasan tentang
kemajuan dan prognosis penyakit yang ia alami
penyakit A : masalah gangguan citra
Hasil : tubuh teratasi sebagian
Klien memahami penjelasan P : lanjutkan intervensi
tentang penyakit nomor 2, 3 dan 4
4. Memfasilitasi kontak
dengan individu lain dalam
kelompok kecil
Hasil :
Klien merasa dapat bertukar
pengalaman dan
mendapatkan motivasi dari
kelompok kecil tersebut
Resiko injury/cidera Minggu, 27 1. Menyediakan tempat tidur Ns. W Jam 11.00 WIB
berhubungan dengan September yang nyaman dan bersih S:
kerusakan mobiltas 2015 Hasil : Klien mengatakan dapat
(fisik) Klien merasa nyaman istirahat dengan nyenyak
dengan tempat tidurnya dan tidak terganggu
RR : 28x/menit tidurnya
TD : 120/90 mmHg Klien merasa nyaman dan
Nadi : 80/menit aman saat ada anggota
2. Mengontrol lingkungan dari keluarganya yang
kebisingan menemani
Hasil : Keluar
Klien mengatakan dapat ga memahami penjelasan
istirahat dengan nyenyak dan perubahan status
dan tidak terganggu tidurnya kesehatan klien
3. Menganjurkan keluarga O:
untuk menemani klien RR : 28x/menit
Hasil : TD : 120/90 mmHg
Klien merasa nyaman dan Nadi : 80/menit
aman saat ada anggota
keluarganya yang menemani A : masalah resiko injury
4. Memberikan penjelasan teratasi sebagian
pada klien dan keluarga P : lanjutkan intervensi
atau pengunjung adanya nomor 1,2 dan 3
perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit
Hasil :
Keluarga memahami
penjelasan dan perubahan
status kesehatan klien
Distress spiritual Minggu, 27 1. Mengamati klien untuk Ns. W Jam 12.00 WIB
berhubungan dengan September harga diri, harga diri, S:
gangguan sistem 2015 perasaan sia-sia, atau putus Klien
keyakinan, perasaan asa mengatakan hal ini
marah pada Tuhan Hasil : merupakan ketidakadilan
Klien mengatakan hal ini dari Tuhan
merupakan ketidakadilan Klien
dari Tuhan mengatakan tidak ada
2. Menyediakan waktu tenang gunanya lagi hidup dengan
untuk meditasi, doa, dan keadaan yang seperti ini
relaksasi Klien
Hasil : mengatakan tidak bisa
Klien mengatakan tidak bisa berubah keadaan yang
berubah keadaan yang seperti ia alami saat ini
seperti ia alami saat ini O:
Klien tampak terpukul Klien
dengan kondisinya saat ini tampak terpukul dengan
3. Membantu klien kondisinya saat ini
menemukan alasan untuk Klien
hidup terlihat lebih banyak
Hasil : murung daripada berbicara
Klien mengatakan tidak ada A : masalah distress spiritual
gunanya lagi hidup dengan teratasi sebagian
keadaan yang seperti ini P : lanjutkan intervensi
nomor 2 dan 3
Ketidakefektifan koping Sabtu, 26 1. Mengkaji kemampuan Ns. W Jam 13.00 WIB
individu berhubungan September untuk menghubungkan S:
dengan 2015 fakta yang ada Klien
ketidakmampuan Hasil : masih menyesali mengapa
memenuhi harapan Klien masih menyesali kondisi seperti ini terjadi
peran, tingkat percaya mengapa kondisi seperti ini pada dirinya
diri tidak adekuat terjadi pada dirinya Klien mengatakan perlu
2. Mengkaji kondisi verbal adaptasi dengan
dan nonverbal klien lingkungan dan itu
Hasil : membutuhkan waktu yang
Klien terlihat murung dan lama
lebih banyak berdiam diri O:
karena penyesalan yang ia Klien
rasakan terlihat murung dan
3. Membantu pasien untuk berdiam diri
mengidentifikasi strategi Klien
positif untuk mengatasi dapat mempraktikkan
keterbatasan dan mengelola teknik relaksasi yang
gaya hidup dan perubahan diajarkan
peran A : masalah koping individu
Hasil : tidak efektif teratasi
Klien mengatakan perlu sebagian
adaptasi dengan lingkungan P : lanjutkan intervensi
dan itu membutuhkan nomor 3 dan 4
waktu yang lama
4. Mendiskusikan dengan
klien tentang teknik yang
bisa menurunkan stress
(teknik relaksasi)
Hasil :
Klien dapat mempraktikkan
teknik relaksasi yang
diajarkan
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam mengidentifikasi anak dengan tunadaksa ektremitas bawah dilakukan


pengkajian terlebih dahulu untuk mengetahui riwayat yang menyebabkan anak
mengalami tunadaksa. Anak tunadaksa ektremitas bawah ini hanya bagian bawah
saja yang tidak nomal dan bagian tubuh yang lain terlihat normal. Sehingga anak
dengan tunadaksa ektremitas bawah akan kehilangan fungsi sebagian tubuhnya
untuk melaksanakan fungsinya secara normal seperti akibat luka, penyakit, atau
pertumbuhan yang tidak sempurna sehingga untuk kepentingan pembelajarannya
perlu layanan secara khusus. Seperti juga kondisi ketuntasan yang lain, kondisi
kelainan pada fungsi anggota tubuh atau tunadaksa dapat terjadi pada saat
sebelum anak lahir (prenatal), saat lahir (neonatal), dan setelah anak lahir
(postnatal). Insiden kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang
terjadi sebelum bayi lahir atua ketika dalam kandungan, diantaranya dikarenakan
faktor genetik dan kerusakan pada system saraf pusat. Sehingga anak yang
mengalami kecacatan ini akan mengalami berbagai hambatan dalam kegiatan
sehari-hari, sehingga anak tersebut akan bergantung kepada orang lain. Dalam
berkomunikasi dengan orang lain anak dengan tunadaksa akan merasa takut dan
tidak percaya diri karena keterbatasan anggota sebagian tubunya.

3.2 Saran

Seorang mahasiswa keperawatan harus memahami anak dengan tunadaksa


ekstremitas bawah. Dalam melakukan asuhan keperawatan kepada anak tersebut
harus benar dan tepat dimulai dari melakukan pengkajian sampai evaluasi.
Sehingga mahasiswa harus mampu menerapkan komuniasi yang baik dengan
anak tunadaksa ektremitas bawah.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Butcher, dkk. (2013). Nursing Intervention Classification(NIC).


Missouri: Elsevier Mosby.
Moorhead, Johnson, dkk. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC).
Missouri: Elsevier Mosby.
Muttaqin, Arif S.Kep,Ns. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gangguan
Sistem Muskuloskleletal. EGC : Jakarta