Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Laring adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan


trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.
Laring juga melinduni jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kontak suara yang terdiri atas:
1; Epiglotis daun katup kartilago yang menutupi ostium kearah laring selama
menelan.
2; Glotis Ostium antara pita suara dalam laring.
3; Kartilago tiroid Kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini
membentuk jakun (adams apple).
4; Kartilago krikoid Satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam faring
(terletak dibawah kartilago tiroid).
5; Kartilago aritenoid Digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago
tiroid.
6; Pita suara Ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan
bunyi suara, pita suara melekat pada lumen laring. (Broker, 2008)
BAB II
KONSEP MEDIS

A; Pengertian

Laringitis adalah peradangan kotak suara (laring) karena terlalu banyak


digunakan, iritasi atau infeksi. Di dalam kotak suara terdapat pita suara - dua
lipatan selaput lendir yang membungkus otot dan tulang rawan. (Hermani, 2003)
B; Etiologi

Inflamasi laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak menggunakan


suara, pemanjaan terhadap debu, bahan kimiawi, asap rokok, dan polutan
lainnya, atau sebagai bagian dari infeksi saluran nafas atas.
Penyebab inflamasi ini hamper selalu karena virus. Invasi bakteri mungkin
sekunder. Laringitis biasanya berkaitan dengan ringitis atau nasofaring. Awitan
infeksi mungkin berkaitan dengan pemanjaan terhadap perubahan suhu
mendadak, defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada imunitas.
(Hermani B,Kartosudiro S & Abdurrahman B, 2003,190 200)

1; Laringitis Akut
Pada laringitis akut biasanya penyebabnya oleh infeksi virus. Infeksi bakteri
seperti difteri juga dapat menjadi penyebabnya, tapi hal ini jarang terjadi.
Laringitis akut dapat juga terjadi saat anda menderita suatu penyakit atau
setelah anda sembuh dari suatu penyakit, seperti selesma, flu atau radang
paru-paru (pneumonia).
a; Laringitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas
seperti influenza atau common cold. infeksi virus influenza (tipe A dan
B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain
adalah Haemofilus influenzae, Branhamella catarrhalis, Streptococcus
pyogenes, Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae.
b; Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim/cuaca
c; Pemakaian suara yang berlebihan
d; Trauma
e; Bahan kimia
f; Merokok dan minum-minum alcohol
g; Alergi
2
2
2
2; Laringitis Kronik
Kasus yang sering terjadi pada laringitis kronis termasuk juga iritasi
yang terus menerus terjadi karena penggunaan alkohol yang berlebihan,
banyak merokok atau asam dari perut yang mengalir kembali ke dalam
kerongkongan dan tenggorokan, suatu kondisi yang disebut gastroesophageal
reflux disease (GERD).
Laringitis kronis adalah inflamasi dari membran mukosa laring yang
berlokasi di saluran nafas atas, bila terjadi kurang dari 3 minggu dinamakan
akut dan disebut kronis bila terjadi lebih dari 3 minggu.
Beberapa pasien mungkin telah mengalami serangan laringitis akut
berulang, terpapar debu atau asap iritatif atau menggunakan suara tidak tepat
dalam konteks neuromuskular. Merokok dapat menyebabkan edema dan
eritema laring.

Tabel. 1
Perbedaan Laringitis Akut dan Kronik

Laringitis akut Laringitis kronis

Rhinovirus Infeksi bakteri


Parainfluenza virus Infeksi tuberculosis
Adenovirus Sifilis
Virus mumps Leprae
Varisella zooster virus Virus
Penggunaan asma inhaler Jamur
Penggunaan suara berlebih dalam Actinomycosis
pekerjaan : Menyanyi, Berbicara Penggunaan suara berlebih
Alergi
dimuka umum Mengajar
Faktor lingkungan seperti asap,
Alergi
Streptococcus grup A debu
Moraxella catarrhalis Penyakit sistemik : wegener
Gastroesophageal refluks granulomatosis, amyloidosis
Alkohol
Gatroesophageal refluks

C; Patofisiologi
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri mungkin
sekunder. Laringitis biasanyan disertai rinitis atau nasofaring. Awitan infeksi

3
3
3
mungkin berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan suhu mendadak,
defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada immunitas. Laringitis umum terjadi pada
musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi seiring Dengan menurunnya daya
tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laringitis ini
biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya.
Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang
kelenjar mucus untuk memproduksi mucus secara berlebihan sehingga
menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk
hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya
inflamasi pada laring tersebut.

Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran mediator kimia


darah yang jika berlebihan akan merangsang peningkatan suhu tubuh.

D; Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala laringitis akut termasuk suara serak atau tidak dapat
mengeluarkan suara sama sekali dan batuk berat. Laringitis kronis ditandai oleh
suara serak yang persisten. Laringitis mungkin sebagai komplikasi sinusitis kronis
dan bronkhitis kronis.
1; Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien sebagai suara
yang kasar atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih
rendah dari suara yang biasa / normal dimana terjadi gangguan getaran serta
ketegangan dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan sehingga
menimbulkan suara menjadi parau bahkan sampai tidak bersuara sama sekali
(afoni).
2; Sesak nafas dan stridor
3; Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menalan atau berbicara.
4; Gejala radang umum seperti demam, malaise
5; Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental
6; Gejala commmon cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit
menelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan
demam dengan temperatur yang tidak mengalami peningkatan dari 38 derajat
celsius.

4
4
4
7; Gejala influenza seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit menelan,
sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk, peningkatan suhu
yang sangat berarti yakni lebih dari 38 derajat celsius, dan adanya rasa lemah,
lemas yang disertai dengan nyeri diseluruh tubuh .
8; Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis,
membengkak terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga
didapatkan tanda radang akut dihidung atau sinus paranasal atau paru
9; Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang
terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa
anak menjadi gelisah, air hunger, sesak semakin bertambah berat,
pemeriksaan fisik akan ditemukan retraksi suprasternal dan epigastrium yang
dapat menyebabkan keadaan darurat medik yang dapat mengancam jiwa
anak.

E; Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan laringitis akut termasuk mengistirahatkan suara,
menghindari merokok, istirahat di tempat tidur, dan menghirup uap dingin atau
aerosol. Jika laringitis merupakan bagian dari infeksi pernafasan yang lebih luas
akibat organisme bakteri atau jika lebih parah, terapi antibiotik yang tepat perlu
diberikan. Sebagian besar pasien dapat sembuh dengan pengobatan konservatif,
namun laringitis cenderung lebih parah pada pasien lansia dan dapat diperburuk
oleh pneumonia.
Untuk laringitis kronis, pengobatannya termasuk mengistirahatkan suara,
menghilangkan setiap infeksi traktus respiratorius primer yang mungkin ada, dan
membatasi merokok.
Penggunaan kortikosteroid topikal, seperti inhalsi beklometason
dipropinate ( Vanceril), dapa juga digunakan. Preparat ini tidak mempunyai efek
sistemik atau kerja lama dan dapat mengurangi reaksi inflamsi lokal.

F; Intervensi Keperawatan/ Pendidikan pasien

Pasien diinstruksikan untuk mengistirahatkan suara dan mempertahankan


kelembaban lingkungan. Jika terjadi sekresi larinngeal selam periode akut,

5
5
5
disarankan penggunaan ekspektoran sejalan dengan pemasukan cairan harian 3 L
untuk mengencerkan sekresi.

6
6
6
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

A; Pengkajian

Riwayat pasien yang lengkap yang menunjukkan kemungkinan tanda dan


gejala sakit kepala, sakit tenggorokan, dan nyeri sekitar mata dan pada kedua
sisi hidung, kesulitan menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat,
dan rasa tidak nyaman umum dan keletihan. Menetapkan kapan gejala mulai
timbul, apa yang menjadi pencetusnya, apa jika ada yang dapat menghilangkan
atau meringankan gejala tersebut dan apa yang memperburuk gejala tersebut
adalah bagian dari pengkajian, jika mengidentifikasi riwayat alergi atau adnya
penyakit yang timbul bersamaan.
Inspeksi menunjukkan pembengkakan, lesi, atau asimetris hidung juga
perdarahan atau rabas. Mukosa hidung diinspeksi terhadap temuan abnormal
seperti warna kemerahan, pembengkakan, atau eksudat, dan polip hidung yang
mungkin terjadi dalan ritinitis kronis.
Sinus frontal dan maksilaris dipalpasi terhadap nyeri tekan, yang
menunjukkan inflamasi. Tenggorokan diamati dengan meminta pasienmembuka
mulutnya lebar-lebar dan nafas dalam. Tonsil dan faring diinspeksi terhadap
temuan abnormal seperti warna kemerahan, asimetris, atau adanya drainase,
ulserasi, atau perbesaran Trakea di palpasi terhadap posisi garis tengah dalam
leher juga dipalpasi terhadap pembesaran dan nyeri tekan yang berkaitan.
PenyimpanganKDMVirusInflamasi Kurangnya informasi Banyak Bahan kimia
Asap dan DebuMenggunakan pita suara defesit pengaruh mengenai Sakit
tenggorokan & Batuk Nyeri Sekitar mata dan Pencegahan infeksi pernapasan
suara serak dan batuk kedua sisi hidung Atas, rigamen prosedur khusus,
Sekresi Berlebihan tersumbat Atau perawatan pasca operatif Keletihan
Kerusakan komunikasi verbal Kesulitan menelan Demam Kehilangan volume
cairan

7
7
7
B; Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama pasien dapat


mencakup berikut ini :
1; Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi
berlebihan sekunder akibat proses inflamasi.
Intervensi :
Pembersihan jalan nafas.

Penumpukan sekresi dapat menghambat jalan nafas pada pasien


dengan jalan atas. Perubahan pola nafas, dan upaya bernafas yang
dibutuhkan untuk dapat melewati sumbatan menjadi meningkat. Terdapat
beberapa tindakan yang dapat digunakan untuk mengencerkan sekresi yang
kental atau untuk menjaga sekresi basah sehingga dapat dikeluarkan dengan
mudah. Meningkatkan masukan cairan dapat membantu mengencerkan
lendir. Melembabkan lingkungan dengan vaporizer ruangan atau menghirup
uap juga dapat mengencerkan sekresi yang mengurangi inflamasi membran
mukosa. Pasien diinstruksi tentang posisi yang baik untuk meningkatkan
drainase dari sinus, yang tergantung di mana letak infeksi. Sebagai contoh
drainase dari sinusitis atau ritinitis dicapai dengan posisi tegak. Pada
beberapa kondisi, medikasi sistemik atau topikal bila di resepkan membantu
untuk menghilangkan kongesti nasal atau tenggorokan.

2; Nyeri berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas sekunder akibat infeksi.
Intervensi Keperawatan
Tindakan Meningkatkan Kenyamanan

Infeksi traktus respiratorius atau biasanya menghasilkan rasa tidak


nyaman setempat. Pada sinusitis, nyeri terjadi dalam area sinus atau dapat
menyebabkan sakit kepala umum.
Pada faringitis, laringitis atau tonsilitis, terjadi sakit tenggorokan.
Perawat mendorong pasien untuk menggunakan analgesik, seperti
asetaminofin (Tylenol) dengan kodein, sesuai yang diresepkan, yang akan
membantu menghilangkan rasa tidak nyaman ini. Tindakan lain yang sangat

8
8
8
membantu termasuk anastesi topikal untuk penghilangan simptomatik lepuh
herpeks simpleks dan sakit tenggorokan; kantung panas untk menghilangkan
kengesti sinusitis dan meningkatkan drainase dan kumur air hangat atau
irigasi untuk menghilangkan nyeri sakit tenggorokan.
Menyarankan pasien untuk istirahat akan membantu menghilangkan
rasa tidak nyaman umum atau demam yang menyertai gangguan jalan nafas
atas. Perawat mengintruksikan pasien tentang teknik higiene umum pada
mulut dan hidung untuk membantu menghilangkan rasa tidak nyaman
setempat dan untuk mencegah penyebaran infeksi. Perawatan pascaoperatif
setelah tonsilektomi dan adenoidektomi, pemasangan Callar es dapat
mengurangi pembengkakan dan menurunkan perdarahan..

3; Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan iritasi jalan nafas atas


sekunder akibat infeksi dan pembengkakan.
Intervensi :
Peningkatan komunikasi

Infeksi jalan nafas atas dapat mengakibatkan suara serak atau


kehilangan suara. Pasien di instruksikan untuk tidak mencoba berbicara,
untuk menghindari berbicara sedapat mungkin, dan untuk merekomendasikan
dengan cara menuliskan bila memungkinkan. Regangan dengan pita suara
lebih lanjut dapat menghambat pulihnya suara dengan sempurna.

4; Defisit cairan volume yang berhubungan dengan peningkatan kehilangan


cairan sekunder akibat diaforesis yang berkaitan demam.
Intervensi
Memperbanyak masukan cairan .

Pada ISPA upaya bernafas dan frekuensi pernafasan meningkat


karena terjadinya inflamasi dan pembentukan sekresi. Hal ini selanjutnya,
dapat meningkatkan kehilangan cairan tidak kasat mata. Demam yang timbul
meningkatkan laju metabolik, yang mengakibatkan diaforesis dan
peningkatan kehilangan cairan. Sakit tenggorokan malise dan demam dapat
mengganggu keinginan pasien untuk makan. Pasien dianjurkan untuk minum
2-3L sehari selama infeksi jalan nafas tahap akut, kecuali ada kontraindikasi
9
9
9
untuk mengencerkan sekresi dan meningkatkan drainase. Cairan dingin atau
hangat dapat melegakan, tergantung pada penyakitnya

5; Defisit pengetahuan mengenai pencegahan infeksi pernafasan atas, regimen


pengobatan, prosedur khusus, atau perwatan pascaoperatif.
Intervensi :
Penyuluhan Pasien

Penyuluhan pasien penting dalam mencegah infeksi dan penyebaran


ke orang lain dan meminimalkan komplikasi. Pencegahan diri hampir semua
infeksi jalan nafas atas adalah sulit karena banyak potensial penyebab.
Perawat menginstruksikan kepada pasien tentang pentingnya tindakan
kesehatan yang baik. Diet yang bergizi, olah raga yang sesuai dan istirahat
serta tidur yang cukup penting untuk mendukung daya tahan tubuh dan
mengurangi kerentanan tehadap infeksi pernafasan.
Instruksi tentang cara mencegah infeksi silang pada anggota keluarga
yang lain juga penting. Mencuci tangan masih tetap cara terpenting untuk
mencegah penyebaran infeksi . Pembuangan tisu basah dengan baik
menutup mulut saat batuk juga harus ditekankan. Hal-hal penting yang harus
ditekankan dalam program penyuluhan untuk mencegah infeksi pernapasan.

C; Masalah Kolaboratif / Potensial Komplikasi


1; Sepsis
2; Abses peritonsilar
3; Otitis media
4; Sinusitis

D; Perencanaan dan Implementasi

Tujuan utama pasien dapat mencakup pemeliharaan potensi jalan nafas,


menghilangkan nyeri, pemeliharaan cara efektif komunikasi, tidak terjadi defisit
volume cairan, dan pengetahun tentang pencegahan infeksi jalan nafas atas,
tidak terdapat komplikasi.

10
10
10
E; Pemantauan Penanganan Komplikasi Potensial.

Jika pasien mencari perawatn tambahan karena gejala menjadi lebih


memburuk, perawat akan memeriksa tanda-tanda vital dan mengamati lonjakan
suhu tubuh, juga peningkatan frekuensi nadi untuk mendeteksi sepsis,
otitismedia atau sinusitis. Kesulitan menelan dan sakit tenggorokan yang berat
dapat menjadi tanda penting abses peritonsilar. Pasien diinstruksikan untuk
mengukur suhu tubuh pagi dan sore hari sampai penyembuhan terjadi.
Pasien dijelaskan juga tentang tanda dan gejala komplikasi dan
pentingnya untuk menghubungi pemberi perawatan kesehatan primer jika terjadi
indikasi dini komplikasi.

F; Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1; Mempertahankan jalan nafas tetap paten dengan mengatasi sekresi.
a; Melaporkan penurunan kongesti
b; Mengambil posisi terbaik untuk memudahkan drainase sekresi.
2; Melaporkan perasaan lebih nyaman.
a; Mengikuti tindakan untuk kenyamanan-analgesik kantung panas, kumur,
istirahat.
b; Memperagakan higiene mulut yang adekuat.
3; Menunjukkan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan,
dan tingkat kenyamanan.
4; Mempertahankan masukan cairan yang tidak adekuat
5; Mengidentifikasi strategi untuk mencegah jalan nafas atas reaksi alergi.
6; Menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup dan melakukan perawatan
secara adekuat.

11
11
11
BAB IV
KASUS

KASUS

Seorang pasien bernama Nn.M berusia 35 tahun mengeluh


suaranya hilang Nn.M ini sehari-hari bekerja sebagai penyanyi di klub. Awalnya
Nn.M merasa tenggorokannya kering, nyeri ketika menelan dan berbicara serta
batuk kering yang lama-kelamaan batuknya berdahak kental, disertai demam yang
sudah berlangsung sekitar 3 minggu. Nn.M mengeluh tidak nafsu makan karena
sakit ketika menelan, dan Nn.M susah tidur karena rasa gatal ditenggorokan disertai
batuk

A; Pengkajian

Nama : Nn. M

Usia : 35 th

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Penyanyi

Riwayat Penyakit sekarang


Pasienmengeluh tenggorokannya kering, nyeri ketika menelan dan berbicara
serta batuk kering yang lama-kelamaan batuknya berdahak kental serta
pasienmengeluh suaranya hilang disertai demam.
Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit ini sebelumnya
Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laringoskopi menunjukkan pita suara yang meradang
merah dan bengkak.Dari pemeriksaan ini plika vokalis berwarna merah dan
tampak edema terutama dibagian atas dan bawah glotis

12
12
12
Keadaan umum : tampak sakit berat

Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Frekuensi Nadi : 84x/menit

Frekuensi nafas : 35 x/menit

Suhu : 38 C

Berat badan : 45 kg

Pengkajian 11 fungsional Gordon


1; Pola persepsi dan Manajemen kesehatan
Pasienmerasa mungkin penyakitnya disebabkan karena menyanyi berjam-
jam setiap malam, dan didukung kebiasaannya merokok.pasienhanya tahu
suaranya hilang karena batuk dan tidak terlalu paham akan penyebab
lebih rinci.
2; Pola nutrisi dan metabolic
Pasienmengeluh nafsu makannya berkurang karena sakit saat
menelan,sebelum sakit pasienmakan normal 3x sehari, saat sakit
pasienmakan 3x namun dengan porsi kecil,dan tidak habis. Pasientetap
berusaha banyak minum walau sulit menelan. Minum pasienkira-kira 6-7
gelas perhari. Pasienmengalami penurunan berat badan dari 47 kg- 45 kg.
3; Pola eliminasi
Pasien tidak mengalami gangguan dalam pola miksi dan defekasi.
Pasientidak menggunakan alat bantu. Volume urin pasienperhari sekitar
1000 ml .Volume urin normal per hari adalah 900 1200 ml, volume
tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika
(teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi.
4; Pola aktivitas-latihan
Pasien nyeri pada tenggorokan dan kehilangan suaranya, aktivitas
menyanyi terhenti,dan aktivitas sehari-hari di rumah terbatas.
5; Pola istirahat dan tidur
Pasien mengalami kesulitan dalam tidur, karena batuk dan nyeri yang
dirasakan pada tenggorokan yang menyebabkan ketidak nyamana pasien
saat tidur. Pasien tidur 5jam saat malam hari, dan tidak dapat tidur pada
siang hari.
6; Pola konsep diri dan persepsi diri
13
13
13
Pasien mengalami kesulitan dalam berbicara karena gangguan suara
yang dialami, mulai dari suara serak hingga hilangnya suara.
7; Pola kognitif- perseptual
Pasien mengalami kegelisahan karena sakit tengggorokan yang
dirasakan, yang terkadang membuat hilangnya suara pasien, keadaan
umum pasien lemah.
8; Pola peran dan hubungan
Pasien mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, karena gangguan pita
suara yang dialaminya, yang dalam kebanyakan kasus menyebabkan
kehilangan suara sepenuhnya.
Komunikasi pasien dengan keluarga terhambat.
9; Pola reproduksi- seksual
Pasien belum menikah dan tidak mengalami gangguan lainnya.
10; Pola pertahanan diri dan toleransi stress
Pasien mengalami stres karena tidak dapat melakukan aktivitas dan tidak
dapat berkomunikasiseperti biasanya.
11; Pola keyakinan dan nilai
Aktivitas ibadah pasienterganggu dan tidak ada pantangan agama dalam
pengobatan klien.

B; Diagnosa keperawatan yang dapat muncul:


1; Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sekresi
berlebihan sekunder akibat proses inflamasi
2; Nyeri berhubungan dengan iritasi laring sekunder akibat infeksi.

C; Intervensi Keperawatan

NANDA NOC NIC


Diagnosa NOC : Bersihan jalan nafas; Airway management
1; Keidakefektifan bersihantidak efektif (p. 493) (Pengaturan jalan
jalan nafas berhubungan denganDefenisi: Ketidakmampuan napas) (p.95)

14
14
14
sekresi berlebihan sekunderuntuk sekresi jelas atauAktivitas :
akibat proses inflamasi (p. 308) penghalang dari saluran Buka jalan napas;
Defenisi :Ketidakmampuan
pernafasan untuk dengan teknik chin lift
untuk sekresi jelas atau
mempertahankan jalan napas atau jaw trust
penghalang dari saluran Posisikan pasien pada
yang jelas
pernafasan untuk
posisi ventilasi yang
mempertahankan jalan napas
Hasil yang disarankan: maksimal
yang jelas mengidentifikasi
Status pernapasan:Jalan
pasien yang
napas paten
membutuhkan
Batasan karakteristik:
Indikator : aktual/penyisipan
1. Sputum berlebih
; Batuk tidak muncul potensi jalan nafas
2. Tidak adanya batuk
; Mengeluarkan sputum tunjukkan terapi fisik
3. Kesulitan bersuara
dari jalan napas dada yang cepat
4. Kelebihan dahak keluarkan secret
5. Batuk yang tidak efektif dengan mendorong
batuk atau suctioning
dorongan pelan,
pernapasan dalam,
pemutaran, dan batuk
instruksikan
bagaimana batuk yang
efektif
dengarkan suara
pernapasan

2; Gangguan rasa nyaman nyeriKontrol nyeri p. 326 ; Pain management


berhubungan dengan iritasiIndikator: (Manajemen nyeri) p.
laring sekunder akibat infeksi. Mengenali faktor yang 412
Defenisi: merasakan kurang,
berhubungan
bantuan, dan kelebihan fisik, Aktivitas:
Gunakan langkah
psikospiritual, lingkungan dan Lakukan pengkajian
prefentif
dimensi social. Gunakan langkah nyeri secara
bantuan nonanalgesik komprehensif
Batasan karakteristik:
termasuk lokasi
15
15
15
Gejala penyakit yang Kenali tanda gejala nyeri karakteristik, durasi,

berhubungan frekuensi, kualitas,


Gangguan pola tidur dan factor presipitasi
Melaporkan ketidaknyamanan Observasi reaksi non
Melaporkan gelisah verbal dari
ketidaknyamanan
Gunakan teknik
komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri
pasien
Kaji budaya yang
mempengaruhi
respion nyeri
Determinasi akibat
nyeri terhadap kualitas
hidup
Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan dukungan
Control ruangan yang
dapat mempengaruhi
nyeri
Kurangi factor
presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
Ajarkan pasien untuk
memonitor nyeri
Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan intervensi
Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
Evaluasi keefektifan

16
16
16
control nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil.
Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri

BAB V

KESIMPULAN

Laringitis akut merupakan kelainan pada laring yakni peradangan akut pada
laring yang biasanya kelanjutan dari penyakit rhinofaringitis atau common cold.
Penyakit ini pada orang dewasa merupakan penyakit yang ringan saja namun tidak
bagi penderita anak kurang dari 3 tahun. Hal ini dikarenakan pada anak dapat
menimbulkan udem laring dan subglotis sehingga obstruksi jalan nafas yang sangat
berbahaya dalam waktu beberapa jam saja penderita akan mengalami obstruksi
total jalan nafas sementara itu pada orang dewasa tidak terjadi secepat pada anak.

Laringitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas seperti
influenza atau common cold. infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe
17
17
17
1,2,3), rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah Haemofilus influenzae,
Branhamella catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus dan
Streptococcus pneumoniae. Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim /
cuaca, pemakaian suara yang berlebihan, trauma, bahan kimia, merokok dan
minum-minum alkohol dan alergi. Adapun gejala klinis yang sering kita temukan
pada laringitis akut ini adalah suara parau bahkan sampai hilangnya suara atau
afoni, sesak nafas bahkan stridor, nyeri tenggorokan, nyeri menelan dan berbicara,
gejala common cold dan inflenza, dan pada pemeriksaan fisik kita akan menemukan
mukasa laring yang hiperemis, membengkak terutama dibagian atas dan bawah pita
suara dan juga didapatkan tanda radang akut dihidung atau sinus paranasal atau
paru. Obstruksi jalan nafas akan ditemukan apabila ada udem laring diikuti udem
subglotis yang terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak
berupa anak menjadi gelisah, air hunger, sesak semakin bertambah berat, dan pada
pemeriksaan fisik akan ditemukan retraksi suprasternal dan epigastrium yang dapat
menyebabkan keadaan darurat medik yang dapat mengancam jiwa anak. Untuk
penatalaksaan dari laringitis akut ini adalah pemberian antibiotik yang adekuat dan
kortikosteroid.

Umumnya penderita laringitis akut tidak perlu dirawat dirumah sakit namun
ada indikasi dirawat di rumah sakit apabila penderitanya berumur kurang dari
setahun, tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau axhausted, diagnosis penderita
masih belum jelas dan perawatan dirumah kurang memadai. Prognosis untuk
penderita laringitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama satu minggu.
Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat menyebabkan
udem laring dan udem subglotis sehingga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas
dan bila hal ini terjadi dapat dilakukan pemasangan endotrakeal atau trakeostomi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman MH, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Edisi ke2,


Jakarta:FKUI,2003,931& Obat, Bandung:Mizan Media Utama,2006,13-20

Becker W, Nauman HH & Pfalt CR, Acute laryngitis in Ear nose and Throath
Desease, New york, Thieme medical publisher:1994:414-15

Brooker, Chris. (2008). Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta :EGC

Corwin, Elizabeth J. (2000). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta:EGC

18
18
18
Hermani B,Kartosudiro S & Abdurrahman B, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher, edisi ke 5, Jakarta:FKUI,2003,190 - 200

Jhon SD & Maves MD Surgical Anatomyof vthe Head and Neck. In Byron-Head and
Neck surgery Otolaryngology.ed3.Vol I,USA.Wilkins Publisher,2001:9

Nurarif A & Hardi Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & Nanda NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction

19
19
19