Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia penyakit radang tenggorokan atau faringitis ini sangat
mudah dikenal oleh semua lapisan masyarakat, yaitu anak-anak maupun
dewasa karena disini karena anak-anak balita sangat berpengaruh pada
makanan yang cepat saji, yang tampilan luarnya sangat enak, dan pada orang
dewasa faringitis ini juga mudah ditemui, karena zaman sangat berpengaruh
terhadap apa yang kita makan yang dihidangkan sangat enak dan menggiurkan,
dan sebenarnya dibalik itu banyak penyakit yang tertimbun di makanan tersebut,
biasanya makanan yang kita makan sekarang sangat banyak menggunakan
makanan yang diawetkan , dan bahkan memakai bahan pengawet yaitu boraks.
Faringitis kadang juga disebut sebagai radang tenggorok. Faringitis-Viral
(Faringitis karena Virus) adalah peradangan pharynx (bagian tenggorokan
antara amandel dan pangkal tenggorokan) yang disebabkan oleh virus. Selain
virus, bakteri juga dapat menyebabkan perdadangan. Namun yang paling umum
penyebab peradangan adalah virus. Ketika di tenggorokan tidak ditemukan
bakteri penyebab gejala, kemungkinan besar faringitis disebabkan virus.
Peradangan ini mengkibatkan sakit tenggorokan. Faringitis dapat terjadi sebagai
bagian dari infeksi virus yang juga melibatkan sistem organ lain, seperti paru-
paru atau usus.
Di Amerika, per tahun lebih dari 10 juta pasien yang terdiagnosa sebagai
faringitis akut. Faringitis lebih sering terjadi pada anak- anak. Insidensi puncak
faringitis adlah pada usia sekolah antara umur 4-7 tahun. Faringitis, terutama
infeksi Group A -Hemolyticus Steptococcus (GABHS), jarang pada anak kurang
dari 3 tahun (Bailey, 2006). Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak
dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang paling tinggi terjadi pada anak-
anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia di bawah 1 tahun. Insidensinya
meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap berlanjut
sepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian yang
diakibatkan faringitis jarang terjadi, tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari
komplikasi penyakit ini.

B. TUJUAN PENULISAN
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1. Menjelaskan pengertian dan konsep dasar faringitis pada anak-anak
2. Mengetahui penanganan, pentalaksanaan faringitis yang terjadi pada anak-anak
3. Sebagai sumber informasi untuk mahasiswa;
4. Mengetahui bagaimana cara melakukan asuhan keperawatan yang baik.

C. MANFAAT PENULISAN
Diharapkan dengan adanya makalah ini bisa menambah pengetahuan kita terhadap
faringitis ini khususnya bagi kita yang terjun langsung sebagai tenaga kesehatan
sehingga menjadi perawat profesional pun bisa kita capai dengan bertambahnya lagi
pengetahuan tentang faringitis ini.

D. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan dalam makalah ini yaitu terdiri dari:
BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari: Latar Belakang Masalah, Tujuan
Penulisan, Manfaat Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA yang terdiri dari: Konsep Medik & Konsep
Keperawatan.
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN.
BAB IV PENUTUP yaitu Kesimpulan & Saran.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP MEDIK
A. Definisi

2
Faringitis akut merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan semua
infeksi akut pada faring, termasuk tonsilitis (tonsilofaringitis) yang berlangsung hingga
14 hari dan merupakan peradangan akut membran mukosa faring dan struktur lain
disekitarnya. Karena letaknya yang sangat dekat dengan hidung dan tonsil, jarang
terjadi hanya pada tonsilitis namun juga mencakup nasofaringitis, dan tonsilofaringitis
dan ditandai dengan keluhan nyeri tenggorok. Faringitis streptokokus beta hemolitikus
group A (SBHGA) adalah infeksi akut orofaring dan/atau nasofaring oleh SBHGA.
(Rahajoe, 2012)

B. Etiologi

Bakteri dan virus merupakan penyebab dari faringitis dan virus merupakan
menjadi penyebab terbanyak seperti:

Virus Epstein Barr (Epstein Barr Virus, EBV) disertai dengan gejala infeksi
mononukleus seperti splenomegali dan limfadenopati generalisita.
Infeksi Virus Campak.
Cytomegalovirus.
Virus Rubella.
Virus penyebab penyakit respiratori seperti Adenovirus, Rhinovirus, dan
Parainfluinza. (Amin Huda, 2015)

C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala faringitis:
1. Awitan akut disertai mual muntah
2. Faring hiperemesis
3. Tonsil bengkak dengan eksudasi
4. Kelenjar getah bening leher anterior bengkak dan nyeri
5. Uvula bengkak dan merah
6. Ekskoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder
7. Ruam skarlatina
8. Petekie palatinum mole
9. Nyeri tenggorok, nyeri telan, sulit menelan, mulut berbau
10. Demam, tonsil hyperemia, Otalgia (sakit di telinga)

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Leukosit : terjadi peningkatan
2. Hemoglobin : terjadi penurunan
3. Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensifitas obat

E. Penatalaksanaan
1. Tata laksana umum
Istirahat cukup dan pemberian nutrisi dan cairan yang cukup.

3
Pemberian obat kumur dan obat hisap pada anak yang lebih besar untuk
mengurangi nyeri tenggorokan.
Pemberian antipiretik, dianjurkan parasetamol dan ibuprofen.
2. Terapi antibiotik
Pemberian antibiotik harus berdasarkan gejala klinis dugaan faringitis streptokokus
dan diharapakan didukung hasil Rapid antigen detection test dan/atau kultur positif
dari usap tenggorokan. Antibiotik empiris dapat diberikan pada anak dengan klinis
mengarah ke faringitis streptokokus, tampak toksik dan tidak ada fasilitas
pemeriksaan laboratorium. Golongan penisilin (pilihan untuk faringitis streptokokus)
yaitu penisilin V oral 15-30 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis selama 10 hari atau
Amoksisilin 50mg/kgBB/hari dibagi 2 selama 6 hari. Bila alergi penisilin dapat
diberikan
Eritromisin estolat 20-40 mg/kgBB/hari dengan pemberian 2,3 atau 4 kali
perhari selama 10 hari.
Eirtromisin etil suksinat 40 mg /kgBB/hari.
Makrolid baru misalnya azitromisin dosis tunggal 10mg/kgBB/hari selama 3
hari.

Penanganan faringitis streptokokus persisten antara lain:

Klindamisin oral 20-30 mg/kgBB/hari (10 hari) atau


Amoksisilin clavulanat 40 mg/kgBB/hari terbagi 3 dosis selama 10 hari
atau
Injeksi benzathine penisilin G intramuskular, dosis tunggal 600.000 IU
(BB <30 kg).

F. Masalah yang Lazim Muncul


1. Hipertermia b.d proses inflamasi pada faring
2. Nyeri akut b.d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
3. Hambatan komunikasi verbal b.d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
atau pembengkakan
4. Intoleransi aktivitas
5. Gangguan menelan b.d abnormalitas orofaring, gangguan neuro muskuler
(hilangnya reflek muntah)

G. Discharge Planning
1. Menghindari makanan dan minuman yang bersifat dingin.
2. Menghindari makanan yang memakai perasa dan bahan pengawet.
3. Memakai masker di kawasan yang berdebu dan berpolusi.
4. Minum suplemen dan olahraga secara teratur untuk menjaga daya tahan tubuh.
4
5. Berkumur-kumur dengan air garam minimal 3-4 kali sehari.
6. Mengkompres dengan air hangat pada leher.
7. Istirahat dan tidur yang cukup.

H. Patofisiologi
Menurut Arif Mansjoer (2007) pathofisiologi dari faringitis akut adalah
penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila
epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat
hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula
serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat
pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi
lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu abu terdapat
folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel dan bercak bercak pada
dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan
membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok atau faringitis.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2008) patogenesis dari faringitis akut
yaitu bakteri maupun virus dapat secara langsung menginfasi mukosa faring yang
kemudian menyebabkan respon peradangan lokal. Rhinovirus menyebabkan iritasi
mukosa faring sekunder akibat sekresi nasal. Sebagian besar peradangan
melibatkan nasofaring uvula, dan palatum mole. Perjalanan penyakitnya ialah
terjadi inokulasi dari agen infeksius di faring yang menyebabkan peradangan local,
sehingga menyebabkan eritema faring, tonsil, atau keduanya. Infeksi streptokokus
ditandai dengan invasi local serta penglepasan toksin ekstraseluler dan protease.
Transmisi dari virus yang khusus dan SBHGA terutama terjadi akibat kontak tangan
dengan secret hidung di bandingkan dengan kontak oral. Gejala akan tampak
setelah masa inkubasi yang pendek, yaitu 24-72 jam.

II. KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat Kesehatan
a. Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya: batuk, pilek,
demam.
b. Riwayat alergi dalam keluarga
c. Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi
d. Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan
e. Ada/tidak riwayat merokok
5
2. Pemeriksaan Fisik
a. Pernapasan
Pernapasan dangkal, dipneu, takipneu, tanda bunyi napas ronchi halus dan
melemah, wajah pucat atau sianosis bibir atau kulit
b. Aktivitas atau Istirahat
Kelelahan, malaise, insomnia, penurunan toleransi aktivitas, sirkulasi
takikardi, dan pucat
c. Makanan dan cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, disfagia, mual dan muntah.
Tanda : Hiperaktivitas bunyi usus, distensi abdomen, turgor kulit buruk.
d. Observasi
1) Adanya retraksi atau pernapasan cuping hidung
2) Adanya kepucatan atau sianosis warna kulit
3) Adanya suara serak, stridor, dan batuk
4) Perilaku: gelisah, takut
5) Adanya sakit tenggorok, adanya pembesaran tiroid, pengeluaran sekret,
kesulitan menelan.
6) Tanda-tanda: nyeri dada, nyeri abdomen, dyspnea

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan produksi sekret
2. Hipertermia b.d proses inflamasi pada faring
3. Nyeri akut b.d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
untuk menelan

C. RENCANA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan produksi sekret ditandai
dengan:
DO: adanya sputum yang berlebihan, peningkatan frekuensi pernapasan
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
klien dapat bernapas dengan lancer/efektif.
Kriteria hasil:
a. Klien dapat mengeluarkan sputum
b. Frekuensi pernapasan dalam batas normal (16-20 x/menit)
c. Klien mengatakan dapat bernapas dengan lancer
Intervensi:

6
1) Identifikasi kualitas atau kedalaman nafas pasien. Rasional: Untuk
mengetahui keadaan napas pasien.
2) Anjurkan untuk minum air hangat. Rasional: Untuk mencairkan sputum agar
mudah dikeluarkan.
3) Ajari pasien untuk batuk efektif . Rasional: agar pasien dapat secara mandiri
megeluarkan sputum.
4) Lakukan pengisapan sekret, bila perlu. Rasional: untuk mengelurkan sekret.
5) Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran. Rasional: untuk mengencerkan
dahak.

2. Hipertermia b.d proses inflamasi pada faring


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
suhu tubuh klien dalam batas normal.
Criteria Hasil:
a. Suhu tubuh: 36,5-37,5C
Intervensi:
1) Monitor suhu minimal 2 jam sekali, sesuai dengan kebutuhan . Rasional:
mengevaluasi efektivitas intervensi dan menjamin keakuratan data.
2) Sesuaikan suhu lingkungan. Rasional: untuk kenyamanan pasien.
3) Anjurkan asupan cairan oral. Rasional: membantu menurunkan suhu tubuh.
Mencegah dehidrasi.
4) Gunakan tindakan nonfarmakologi seperti: kenakan baju tipis, membuka
selimut, kompres hangat. Jelaskan hal-hal tersebut pada pasien dan
keluarga. Rasional: dapat mengurangi demam dan memberikan rasa
nyaman. Pasien dan keluarga akan lebih kooperatif.
5) Kolaborasi dengan tim medis : pemberian antipiretik. Rasional: Untuk
emngurangi demam dengan aksi sentralnya di hipotalamus

3. Nyeri akut b.d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi ditandai dengan:
DO: klien tampak meringis, suhu tubuh, nadi dan RR meningkat.
DS: klien mengeluh nyeri tenggorokan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
nyeri berkurang sampai hilang diitandai dengan:
Kriteria Hasil:
a. Klien tidak tampak meringis
b. Klien mengungkapkan nyeri berkurang
c. Pasien mampu menggunakan metode non farmakologi untuk mengurangi
nyeri.
d. TTV dalam batas normal. nadi: 60-100 x/menit; RR: 16-20 x/menit
Intervensi:
7
1) Kaji nyeri menggunakan PQRST. Rasional: mengetahui tingkat nyeri dan
sebagi data dasar dalam menentukan tindakan.
2) Observasi tanda vital. Rasional: mengetahui keadaan umum pasien
3) Ajarkan teknik relaksasi. Rasional: memberikan rasa nyaman dan
mengurangi rasa sakit.
4) Berikan informsi tentang nyeri, seperti sebab nyeri, berapa lam akan
berlangsung. Raional:menambah pengetahuan keluarga. Keluarga lebih
kooperatif.
5) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik Rasional: analgesik dapat
mengurangi nyeri.

4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan


untuk menelan ditandai dengan:
DO: klien tampak lemas; porsi makan tidak dihabiskan.
DS: nafsu makan berkurang karena sakit saat menelan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan
kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
a. Masa tubuh dan berat badan dalam batas normal
b. Nafsu makan klien meningkat

Intervensi:
1) Kaji status nutrisi pasien. Rasional: informasi dasar status nutrisi.
2) Kaji kemampuan menelan. Rasional: mengetahui kemampuan menelan.
Menetukan tindakan lebih lanjut.
3) Beriakan makanan yang lunak. Rasional: Memudahkan dalam menelan.
4) Berikan nutrisi melalui IVFD. Rasional: memenuhi kebutuhan nutrisi yang tak
bisa terpunuhi lewat oral.
5) Anjurkan keluarga untuk menyuapi klien, bila perlu. Rasional: agar keluarga
lebih kooperatif.
6) Kolaborasi berikan diet tinggi protein tinggi kalori. Rasional: Pemenuhan
kebutuhan nutrisi.

8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. Y DENGAN
GANGGUAN SISTEM RESPIRASI FARINGITIS
DI RUANG CAMAR RSAU dr. DODY SARJOTO
MAKASSAR

RUANG RAWAT : CAMAR

TANGGAL MASUK RS : 02 Januari 2017

NO. MEDRECT : 010101

TANGGAL PENGKAJIAN : 02 Januari 2017

1. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS KLIEN
Nama Klien : An. Y
Jenis Kelamin :P
Umur : 8 tahun
9
Agama : Kristen
Pekerjaan : Bawah umur
Pendidikan : SD
Alamat : Maros
Diagnosa Medis : Faringitis

B. RIWAYAT KEPERAWATAN
1) Riwayat kesehatan sekarang
a. Keluhan Utama : Klien mengeluh demam
b. Riwayat keluhan utama
Klien datang ke UGD RSAU dr. DODY SARJOTO pada tanggal 02 Januari
2017 dengan keluhan demam, sakit tenggorokan dan filek. Keluhan
dirasakan sejak 3 hari yang lalu, sebelumnya klien di bawa berobat ke
puskesmas, namun karena keadaan klien tidak kunjung membaik akhirnya
klien di bawa ke RSAU dr. DODY SARJOTO dan harus dirawat di ruang
Camar kelas 2 dengan diagnosa faringitis.
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 02 januari 2017 pukul 16.00 WIB,
keadaan klien tampak lemah, klien mengeluh masih demam, sakit
tenggorokan, dan pilek. Adapun hasil dari pemeriksaan fisik adalah sebagai
berikut:
Suhu : 39 C
Berat badan : 24 Kg.
Nadi : 92 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
2) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien mengatakan sebelumnya klien belum pernah dirawat di rumah sakit
dengan penyakit yang sama seperti sekarang, klien tidak pernah menderita
penyakit lain, klien juga tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan
maupun obat.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut klien, dikeluarganya tidak ada yang menderita penyakit yang sama
dengan klien, dan klien pun tidak memiliki riwayat penyakit kronis.
4) Riwayat psikososial dan spiritual
keluarga klien mengatakan sosialisasi klien dengan keluarga dan orang lain
sangat baik, klien terlihat cemas dengan keadaan yang di alaminya sekarang.
Keluarga selalu berharap dan berdoa agar klien cepat sembuh.
5) Pola Kebiasaan Sehari-Hari
No Jenis aktivitas Saat sehat / di rumah Saat sakit / di RS

10
1. Nutrisi
Makan
a. Frekuensi 3x sehari 3x sehari
b. Jenis makanan
Nasi,lauk pauk,makanan Bubur +lauk pauk
ringan,
c. Porsi makan
d. Nafsu makan 1 porsi habis Tidak habis
e. Kesulitan/ Baik Kurang Baik
gangguan Tidak ada Kesulitan menelan
Minum
a. Jenis air minum
b. Jumlah
c. Kesulitan/
Susu, Es, air putih Air putih
gangguan
4 gelas/hari 4-5 gelas/ hari

Eliminasi - Kesulitan menelan

a. Eliminasi fecal
1) Frekuensi
2) Warna
2. 3) Konsistansi
4) Kesulitan/
gangguan 1-2x/hari 1x/hari
b. Eliminasi urine
1) Frekuensi Kuning khas Tidak terkaji
2) Warna, bau urine Lembek Tidak terkaji
3) Apakah terpasang
Tidak ada Tidak ada
kateter

Personal hygiene
3-4x/hari 1x
a. Mandi
b. Oral hygiene Kuning jernih, khas Kuning, khas
c. Cuci rambut Tidak Tidak
d. Potong kuku

Istirahat / tidur
3.
a. Waktu tidur
b. Durasi tidur 2x sehari Di seka
c. Bangun malam hari 1-2x sehari 1x/hari
d. Gangguan dalam
2x sehari 1x/hari
tidur
1x dalam seminggu 1x/minggu

11
4.
Malam hari Malam hari
8 jam 6 jam
Tidak Ya
Tidak ada Panas

A. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran : Compos mentis
2. Tanda-tanda vital
Suhu : 39 C
Berat badan : 24 Kg.
Nadi : 92 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
3. Sistem penglihatan
Posisi mata simetris, kelopak mata normal, konjungtiva anemis, seklere ikhterik,
pupil isokor, kornea normal, otot-otot mata baik, lapang pandang baik, fungsi
penglihatan baik (klien bisa melihat dan membaca papan nama perawat)
4. Sistem pendengaran
Posisi telinga normal, aurikel baik tidak nyeri tekan, kondisi telingan terdapat
serumen, fungsi pendengaran baik dengan klien selalu menjawab pertanyaan
yang di berikan perawat.
5. Sistem pernafasan
Frekuensi: 22 x/menit, posisi hidung simetris, pernafasan normal, terdapat
sumbatan sekret, ada batuk, suara nafas tidak baik (ronchi (+), wheezing -/-),
fungsi penciuman baik klien bisa mencium bau dari aroma kayu putih.
6. Sistem kardiovaskuler
Irama jantung reguler, tidak terdapat bunyi jantung tambahan, temperatur kulit
hangat.
7. Sistem pencernaan
Gigi lengkap, keadaan sedikit kotor, nafas sedikit berbau, nafsu makan baik, bab
1x/hari, bising usus 8x/menit, abdomen tidak kembung, flatus baik, tidak ada
gejala susah BAB.
12
8. Sistem genetalia
Klien tidak bersedia untuk di periksa pada daerah genitaliany
9. Sistem saraf pusat
Tingkat kesadaran : compos mentis
GCS
Respon membuka mata : 4 (membuka secara spontan)
Respon verbal : 5 (orientasi baik)
Respon motorik : 6 (melakukan perintah baik)
4 + 5 + 6 = 15 compos mentis
NI(olfaktorius) : klien dapat mencium bau kayu putih
NII(optikus) : klien dapat membaca papan nama perawat
NIII(okulomotorius) : reflek pupil bereaksi terhadap cahaya
NIV(troclearis) : otot otot mata klien dapat mengikuti pergerakan yg
di perintahkan perawat.
NV(trigeminus) : klien mampu menggigit
NVI(abducen) : mata klien dapat bergerak
NVII(facial) : fungsi pengacap klien baik
NVIII(auditorius) : fungsi pendengaran klien baik(klien menjawab
pertanyaan)
NIX(glosofaringeus) : klien dapat berbicara
NX(vagus) : klien tidak menelan dengan baik
NX1(asesorius) : klien dapat menggerakan bahu dengan baik
NXII(hipoglosus) : klien mampu menggerakan lidah.
10. Sistem Muskuloskletal
Terpasang infus di tangan kanan
11. Sistem integumen
Turgor kulit baik, warna kulit coklat gelap.

B. DATA PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
Jenispemeriksaan Hasil Rujukan
I. HEMATOLOGI
DARAH RUTIN
- Hemoglobin 12,2 gr% W 12-16 gr%
- Leukosit 12 ribu / mm 4.0-10.0 ribu / mm
- Erytrosit 5,16 juta / mm W 4-4,5 juta/mm
- Haematokrit 36 % W 37-43 %
- Trombosit 160 ribu / mm 150-390 ribu / mm
II. SEROLOGI
13
WIDAL
- S.TY.H + 1 / 160
- S.PA.H -- / NEG
- S.PB.H + 1 / 160
- S.PC.H -- / NEG
- S.TY.O + 1 / 160
- S.PA.O + 1 / 160
- S.PB.O + 1 / 160
- S.PC.O + 1 / 160

C. PENATALAKSANAAN / THERAPY
o IVFD RL 20 tts/ menit
o Cefotaxim 2x 1/ 600 mg
o Antrain 2x1 250 mg

2. ANALISA DATA
No Tanda Etiologi Masalah
1. DS: Peningkatan produksi Bersihan jalan napas
Klien mengatakan saluran sekret tidak efektif
hidung tersumbat karena
adanya secret
DO:
Terdengar suara ronchi
DS: klien mengeluh nyeri peradangan pada faring Hipertermia
tenggorokan

DO :
klien tampak rewel
Skala nyeri 3 (0-5)
S = 39 C
N = 92 x/menit
R = 22 x/menit
DS : peradangan pada faring Nyeri akut
Klien mengeluh badannya
panas
14
DO:
Klien tampak lemah
S = 39 C
N = 92 x/menit
R : 22 x/menit
4. DS : Ketidak mampuan Ketidak seimbangan

Klien tidak mau makan untuk menelan nutrisi kurang dari

karena sakit saat menelan kebutuhan tubuh

DO :
Klien tampak lemas
porsi makan tidak habis

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan Peningkatan produksi
sekret
b. Hipertermia berhubungan dengan Inflamasi pada faring
c. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada faring
d. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
Ketidak mampuan untuk menelan

4. RENCANA KEPERAWATAN
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan produksi sekret ditandai
dengan:
DS: Klien mengatakan saluran hidung tersumbat karena adanya secret
DO:Terdengar suara ronchi
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
klien dapat bernapas dengan lancer/efektif.
Kriteria hasil:
1. Klien dapat mengeluarkan sputum
2. Frekuensi pernapasan dalam batas normal (16-20 x/menit)
3. Klien mengatakan dapat bernapas dengan lancer
Intervensi:
a) Identifikasi kualitas atau kedalaman nafas pasien. Rasional: Untuk
mengetahui keadaan napas pasien.
b) Anjurkan untuk minum air hangat. Rasional: Untuk mencairkan sputum agar
mudah dikeluarkan.

15
c) Ajari pasien untuk batuk efektif . Rasional: agar pasien dapat secara mandiri
megeluarkan sputum.
d) Lakukan pengisapan sekret, bila perlu. Rasional: untuk mengelurkan sekret.
e) Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran. Rasional: untuk mengencerkan
dahak.

b. Hipertermia berhubungan dengan inflamasi pada faring, ditandai dengan


DS : Klien mengeluh badannya panas
DO:
Klien tampak lemah
S = 39 C
N = 92 x/menit
R : 22 x/menit
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
suhu tubuh klien dalam batas normal.
Criteria Hasil:
Suhu tubuh: 36,5-37,5C
Intervensi:
a) Monitor suhu minimal 2 jam sekali, sesuai dengan kebutuhan . Rasional:
mengevaluasi efektivitas intervensi dan menjamin keakuratan data.
b) Sesuaikan suhu lingkungan. Rasional: untuk kenyamanan pasien.
c) Anjurkan asupan cairan oral. Rasional: membantu menurunkan suhu tubuh.
Mencegah dehidrasi.
d) Gunakan tindakan nonfarmakologi seperti: kenakan baju tipis, membuka
selimut, kompres hangat. Jelaskan hal-hal tersebut pada pasien dan
keluarga. Rasional: dapat mengurangi demam dan memberikan rasa
nyaman. Pasien dan keluarga akan lebih kooperatif.
e) Kolaborasi dengan tim medis : pemberian antipiretik. Rasional: Untuk
mengurangi demam dengan aksi sentralnya di hipotalamus

c. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada faring ditandai dengan:


DO: klien tampak meringis, suhu tubuh, nadi dan RR meningkat.I
DS: klien mengeluh nyeri tenggorokan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
nyeri berkurang sampai hilang diitandai dengan:
Kriteria Hasil:
Klien tidak tampak meringis
Klien mengungkapkan nyeri berkurang

16
Pasien mampu menggunakan metode non farmakologi untuk mengurangi
nyeri.
TTV dalam batas normal. nadi: 60-100 x/menit; RR: 16-20 x/menit
Intervensi:
a) Kaji nyeri menggunakan PQRST. Rasional: mengetahui tingkat nyeri dan
sebagi data dasar dalam menentukan tindakan.
b) Observasi tanda vital. Rasional: mengetahui keadaan umum pasien
c) Ajarkan teknik relaksasi. Rasional: memberikan rasa nyaman dan
mengurangi rasa sakit.
d) Berikan informsi tentang nyeri, seperti sebab nyeri, berapa lam akan
berlangsung. Raional:menambah pengetahuan keluarga. Keluarga lebih
kooperatif.
e) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik Rasional: analgesik dapat
mengurangi nyeri.

d. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakmampuan untuk menelan ditandai dengan:
DO: Klien tampak lemas; porsi makan tidak dihabiskan.
DS: Nafsu makan berkurang karena sakit saat menelan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan
kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
Masa tubuh dan berat badan dalam batas normal
Nafsu makan klien meningkat
Intervensi:
a) Kaji status nutrisi pasien. Rasional: informasi dasar status nutrisi.
b) Kaji kemampuan menelan. Rasional: mengetahui kemampuan menelan.
Menetukan tindakan lebih lanjut.
c) Beriakan makanan yang lunak. Rasional: Memudahkan dalam menelan.
d) Berikan nutrisi melalui IVFD. Rasional: memenuhi kebutuhan nutrisi yang tak
bisa terpunuhi lewat oral.
e) Anjurkan keluarga untuk menyuapi klien, bila perlu. Rasional: agar keluarga
lebih kooperatif.
f) Kolaborasi berikan diet tinggi protein tinggi kalori. Rasional: Pemenuhan
kebutuhan nutrisi

17
18
D. IMPLEMENTASI

E. G. Tang H. No. J. L. N.
F. N I. Dx. K. Implementasi M. Respon O. Tt
gal
o Ke d
p
P. 1 Q. 02-01- R. I Mengidentifikasi kualitas atau kedalaman Klien kooperatif saat dilakukan T.
. 2017 nafas klien. identifikasi kedalaman nafas
Menganjurkan untuk minum air hangat. Klien bersedia dan mau minum air
S.
hangat
Mengajarkan klien untuk batuk efektif.
Klien mengerti cara batuk efektif

U. 2 V. W. II Mengukur tanda-tanda vital Klien bersedia dengan hasil s: 37.7 AH.


X.
C N: 94x/menit R: 20x/menit
Memonitor temperature tubuh secara
Klien bersedia dan mau di periksa
teratur
dalam jangka waktu
Y.
AC. Malam : 37,0C
Z. AD. Pagi : 37,6 C
AA. AE. Sore : 37,0 C
AB. Klien bersedia saat dilakukan
Kolaborasi pemberian antibiotik, antipiretik pemberian terapi injeksi Cefotaxim
2x600mg, antrain 2 x 250 mg
AF.
AG.
AI. 3 AJ. AK. III Mengkaji ulang tingkat nyeri Klien mengatakan masih terasa sakit AV.

AL. tenggorokan bila klien makan atau


AM. berbicara
Klien kooperatif dengan hasil
Mengkaji TTV AR. S: 37,7 C
AS. N: 94x/menit
AN. AT. R: 20x/menit
AO. Klien mengerti dan mencoba untuk
Mengajarkan teknik relaksasi melakukan tehnik relaksasi( tarik
AP. nafas dalam, mengatur posisi menjadi
AQ. semi powler)
Klien bersedia untuk di injeksi
Berkolaborasi dalam pemberian analgetik
(thorasix) dengan terapi : antrain 2x
250mg
AU.
AW.4 AX. AY. IV Mengkaji intake makanan klien\ Klien terlihat makan tiga kali sehari BA.
AZ.
dengan menu bubur, sayur dan buah.
Menganjurkan keluarga klien untuk
Keluarga klien mengerti dan
memberimakanan yang tinggi kalori dan
melakukannya.
serat kepada klien
BB. EVALUASI
BC. BG.
BF. D
BD. N BE. Tgl, BH. Evaluasi
X
o
BI. 1 BJ. 02-01- BK. I BL. S : Klien mengatakan saluran hidung
. 2017 tersumbat karena adanya secret
BM.O : Terdengar suara ronchi
BN. A : Masalah belum teratasi
BO.P : Lanjutkan intervensi
BP. 2 BQ. 02-01- BR. II BS. S : Klien mengatakan badannya
. 2017 sudah tidak panas
BT. O : Keadaan klien sedang
BU. S : 36,6 C
BV. A : Masalah teratasi
BW. P : Pertahankan intervensi
BX. 3 BY. 02-01- BZ. III CA. S : Klien mengeluh masih nyeri
. 2017 tenggorokan
CB. O : Klien tampak rewel
CC. A : Masalah belum teratasi
CD. P : Lanjutkan intervensi
CE. 4 CF. 02-01- CG.IV CH. S : Klien mengatakan masih sakit
. 2017 pada saat menelan makanan
CI. O :
Nafsu makan menurun
Klien tampak lemas
CJ. A : Masalah belum teratasi
CK. P : Lanjutkan intervensi
CL.
CM.
CN.
CO.
CP.
CQ.
CR.
CS. BAB IV
CT. PENUTUP
CU.
CV.
A. KESIMPULAN
CW. Faringitis akut merupakan istilah yang digunakan untuk
menunjukkan semua infeksi akut pada faring, termasuk tonsilitis (tonsilofaringitis)
yang berlangsung hingga 14 hari dan merupakan peradangan akut membran
mukosa faring dan struktur lain disekitarnya. Karena letaknya yang sangat dekat
dengan hidung dan tonsil, jarang terjadi hanya pada tonsilitis namun juga
mencakup nasofaringitis, dan tonsilofaringitis dan ditandai dengan keluhan nyeri
tenggorok.
CX. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah sebagai
berikut:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan produksi sekret
2. Hipertermia b.d proses inflamasi pada faring
3. Nyeri akut b.d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan untuk menelan
CY.
B. SARAN
1. Makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun.
2. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya
mahasiswa/i Fakultas Kesehatan Prodi S1 Keperawatan
CZ.
DA.
DB.
DC.
DD.
DE.
DF.
DG.
DH.
DI.
DJ.
DK. DAFTAR PUSTAKA

DL.

DM. Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Jakarta: EGC.

DN. Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk


Perencanaan
DO. dan Pendokumentasian Perawatan Pasien: Ed. 3.-Jakarta : EGC,
1999.
DP.
DQ. Efiaty Arsyad S,Dr,Sp.THT, 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga,
Hidung,
DR. Tenggorokan, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
DS.
DT. Ikatan Dokter Indonesia. 2008. Respirologi Anak Edisi Pertama.
Jakarta : EGC

DU. Kapita Selekta Kedokteran Jakarta : Media Aesculapius FKUI Buku


saku Diagnosis
DV. Keperawatan.
DW.
DX. Mandal, Bibhat K., Wilkins, Edmund G.L., Dunbar, Edward M., Mayon-
White,
DY. Richard T. Lecture Notes: Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga.
2008.
DZ.
EA. Masjoer, Arif, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius.

EB. Nurarif A & Hardi Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan
EC. Diagnosa Medis & Nanda NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction
ED.
EE. Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6.
Jakarta : EGC

EF.