Anda di halaman 1dari 18

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan-peubahan akan terjadi pada tubuh setiap orang seiring dengan
bertambahnya usia kita. Perubahan terjadi dari awal kehidupan dan hingga pada
usia lanjut pada semua organ dan jaringan di dalam tubuh. Keadaan tersebut juga
terjadi pada sistem muskuluskeletal dan jaringan lainnya yang memungkinkan
timbulnya beberapa golongan penyakit reumatik. Salah satu gangguan
muskuluskeletal adalah Rheumatoid Artitis (Fitriani, 2009). Kejadian penyakit
tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia seseorang.
Rheumatoid Artitis merupakan penyakit autoimun dan jaringan ikat
terutama synovial dan kausanya multifaktor (Sjamsuhidayat, 1997). Penyakit ini
ditemukan pada semua sendi, tetapi paling sering di tangan. Selain menyerang
sendi tangan dapat pula menyerang sendi siku, kaki, pergelangan kaki dan lutut.
Penyakit reumatik yang biasa disebut artitis (radang sendi) dan dianggap sebagai
satu keadaan yang terdiri dari 100 tipe kelainan yang berbeda. Rheumatoid Artitis
lebih sering dialami oleh lansia, untuk itu perlu perawatan dan perhatian khusus
terutama dalam keluarga.
Perawat berperan sebagai pemberi asuhan keperawatan kepada klien dan
anggota keluarga, sebagai pendidik kesehatan dan sebagai fasilitator agar
pelayanan kesehatan mudh dijangkau dan perawat dengan mudah menampung
permasalahan yang dihadapi oleh klien serta membantu mencari jalan
pemecahannya, misalnya dengan mengajarkan kepada klien untuk mencegah
terjadinya Rheumatoid Artitis.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan Rheumatoid Artitis ?
1.2.2 Bagaimana etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik dan komplikasi
pada Rhematoid Artitis ?
1.2.3 Bagaimana penatalaksanaan pada Rheumatoid Artitis ?
1.2.4 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Rheumatoid
Artitis ?

1.3 Tujuan penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui pengertian, penyebab, manifestasi klinik, dan
penatalaksanaan pada pasien dengan Rheumatoid Artitis
1.3.2 Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien

1
dengan Rheumatoid Artitis
1.3.3 Sebagai bekal bagi kami kelak untuk menjadi perawat yang
professional

1.4 Implikasi dalam Keperawatan

Pengetahuan tentang berbagai bentuk gangguan sistem musculoskeletal


dan integumen dapat memberikan banyak manfaat yang didapat yang nantinya
untuk menjadi bekal bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan terhadap
klien dengan Rheumatoid Artitis . Berikut implikasi dalam keperawatan dari
gangguan pencernaan Atresia Ani :

1. Perawat dapat melakukan pengkajian dengan tepat terhadap klien dengan


Rheumatoid Artitis sehingga mampu mengidentifikasi dengan tepat
terhadap kebutuhan kebutuhan klien dengan Rheumatoid Artitis.
2. Perawat dapat melakukan penelitian dengan tepat tentang asuhan
keperawatan yang tepat dan efektif kepada klien dengan Rheumatoid
Artitis.
3. Perawat dapat melakukan perawatan secara tepat dan benar setelah klien
menjalani penatalaksanaan medis.

BAB II. TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Kata Artitis berasal dari bahasa yunani, yaitu arthon yang berarti sendi dan
Itis berarti peradangan. Secara umum, artitis berarti radang sendi. Sedangkan
Rheumatoid Artitis merupakan suatu penyakit autoimun dimana persendian

2
( biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian
dalam sendi (Gordon et al., 2002). Menurut American College of Rheumatology
(2012), rheumatoid artitis adalah penyakit kronis (jangka panjang) yang
menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan serta keterbatasan gerak dan fungsi
banyak sendi.
Rheumatoid artitis (RA) adalah penyakit inflamasi non bacterial yang
bersifat sistemik, progresif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan
sendi yang terlibat pada rheumatoid artitis. RA banyak terjadi pada wanita, pada
usia 25-35 tahun. Insiden puncak adalah antara usia 40 hingga 60 tahun. Dengan
perbandinga wanita dan pria 3 : 1. Penyakit ini menyerang sendi-sendi kecil pada
tangan, pergelangan kaki dan sendi-sendi besar di lutut, panggul serta pergelangan
tangan. Rheumatoid Artitis merupakan penyakit inflamasi kronik yang
menyebabkan degenerasi jaringan penyambung. Jaringan penyambung yang
biasanya mengalami kerusakan pertama kali adalah membran synovial, yang
melapisi sendi. Pada Rheumatoid Artitis, inflamasi tidak berkurang dan menyebar
keseluruh sendi disekitarnya, termasuk kartilago artikular dan kapsul sendi
fibrosa. Akhirnya ligament dan tendon mengalami inflamasi ditandai dengan
akumulasi sel darah putih, aktivasi komplemen dan pembentukan jaringan parut.

2.2 Epidemiologi

Rheumatoid Artitis mempengaruhi lebih dari 1,3 juta orang di Amerika.


Dari jumlah tersebut sekitar 75 % adalah perempuan. Bahkan 1-3 % wanita
mengalami rheumatoid artitis. Di Indonesia sendiri kejadian ini lebih rendah
dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika. Prevalensi kasus rheumatoid
artitis di Indonesia berkisar 0,1 % sampai dengan 0,3 % sementara di Amerika
mencapai 3 % (Nainggolan, 2009). Angka kejadian pada penyakit ini di Indonesia
pada penduduk dewasa (diatas 18 tahun) berkisar 0,1 % hingga 0,3 %. Pada anak
dan remaja satu per 100.000 orang. Diperkirakan jumlah penderita di Indonesia
360.00 orang lebih (Tunggal, 2012).

2.3 Etiologi

3
Penyebab dari artritis rhematoid belum dapat ditentukan secara pasti,
diperkirakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan hormonal dan faktor
sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti
bakteri, mikoplasma dan virus. Menurut Smith dan Haynes (2002), ada beberapa
faktor resiko penyebab Rheumatoid Artitis yaitu :

1. Faktor genetic, 80 % orang kulit putih yang menderita rheumatoid artitis


mengekpresikan HLA-DR1 atau HLA-DR4 pada MHC yang terdapat di
permukaan seL T.
2. Usia dan jenis kelamin
insidensi penyakit ini lebih banyak dialami oleh wanita daripada laki-
laki dengan rasio 2:1 hingga 3:1. Hal ini dikarenakan seorang wanita
memiliki hormon esterogen sehingga dapat memicu sistem imun.
3. Infeksi, dapat memicu pada host yang mudah terinfeksi secara genetik,
Virus merupakan agen yang potnsial memicu rheumatoid artitis seperti
parvovirus, rubella, EBV dan borellia burgdorferi.
4. Lingkungan, faktor lingkungan dan gaya hidup juga dapat memicu
Rheumatoid Artitis seperti merokok.

2.4 Tanda dan Gejala


1. Tanda dan gejala setempat
Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning
stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari
30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari.
Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya
tidak berlangsung lama.
Lambat laun membengkak, panas merah, lemah
Poli artritis simetris sendi perifer Semua sendi bisa terserang,
panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling
sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan,
meskipun sendi yang lebih besar seringkali terkena juga
Artritis erosif sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi yang
kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat
pada penyinaran sinar X

4
Deformitas pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi
metakarpofalangea, deformitas boutonniere dan leher angsa. Sendi
yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan
kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami
ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total
Rematoid nodul merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3
pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa
olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah,
bentuknya oval atau bulat dan padat.
Kronik Ciri khas rematoid artritis

1. Tanda dan gejala sistemik


Lemah, demam tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia Bila
ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:
a. Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat
istirahat maupun saat bergerak, bengkak, dan kekakuan.
b. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial
terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi
tendon. Selain tanda dan gejala tersebut diatasterjadi pula perubahan
bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan-neck.
c. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. Perubahan pada
sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus,
ankilosis fibrosa, dan terakhir ankilosis tulang

2.5 Patofisiologi

Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,


kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago
dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang
menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi

5
menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer.
Kartilago menjadi nekrosis.

Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.


Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan
sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago
dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan
subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa
menyebkan osteoporosis setempat.

Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan


masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang
sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain.
terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid)
gangguan akan menjadi kronis yang progresif.

2.5 Komplikasi
secara umum rheumatoid artitis bersifat progresif dan tidak dapat
disembuhkan, tetapi pada sebagian pasien secara bertahap menjadi kurang agresif
dan gejala bahkan membaik. Tetapi, bisa terjadi kerusakan tulang dan ligament
serta terjadi perubahan bentuk dan efeknya akan permanen. Sendi yang terkena
bisa menjadi cacat.rheumatoid artitis adalah penyakit sistemik yang dapat
mempengaruhi bagian lain dari tubuh selain sendi, efek ini meliputi :
a. Anemia
b. Infeksi
c. Masalah gastrointestinal
d. osteoporosis

2.7 Prognosis

Diagnosis dan pengobatan yang terlambat dapat membahayakan pasien,


sekitar 40 % pasien Rheumatoid Artitis menjadi cacat setelah 10 tahun. Prognosis
yang buruk dapat terlihat dari hasil tes yang menunjukkan adanya cedera tulang
pada tes radiologi awal, adanya anemia persisten yang kronis. Rheumatoid artitis
yang aktif secara terus menerus selama lebih dari satu tahun cebderung
menyebabkan deformitas sendi serta kecacatan.

6
2.8 Pengobatan

2.8.1 Pemeriksaan diagnostik

a. Tes serologi
Sedimentasi eritrosit meningkat
Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
b. Pemerikasaan radiologi
Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
c. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan
dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.

2.8.2 Penatalaksanaan

Tujuan utama terapi adalah:

1. Meringankan rasa nyeri dan peradangan


2. memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal
penderita.
3. Mencegah atau memperbaiki deformitas
Program terapi dasar terdiri dari lima komponen, dibawah ini yang
merupakan sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:

1. Istirahat
2. Latihan fisik
3. Panas
4. Pengobatan
a. Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar
salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
b. Natrium kolin dan asetamenofen meningkatkan toleransi
saluran cerna terhadap terapi obat

7
c. Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 600
mg/hari mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing
sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.
d. Garam emas
e. Kortikosteroid
5. Nutrisi diet untuk penurunan berat badan yang berlebih

Bila Rhematoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi,


pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi.
Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
1. Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk
mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali
inflamasi.
2. Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
3. Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.
4. Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada
persendian.

BAB III. PATHWAY

Faktor metabolik dan infeksi


kecenderungan virus

nyeri Reaksi Kekakuan


peradangan sendi

8
Kurang informasi tentang Sinovial menebal
proses penyakit
Gangguan
mobilitas
Pannus Nodul fisik
Kurang pengetahuan Deformitas sendi

Terbatasnya
gerakan sendi
Gangguan body
image Infiltrasi ke dalam os.
subcondria Defisit self
care

Kerusakan kartilago dan Hambatan nutrisi pada


tulang kartilago artikularis

Ligamen dan Kartilago nekrosis


tendon melmah
Erosi kartilago

Hilangnya Mudah Adhesi pada Ankilosis fibrosa


kekuatan luksasi dan permukaan sendi ankilosis tulang
otot subluksasi

Resiko
cidera

BAB IV. ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
4.1.1 identitas pasien
identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, alamat, agama, bahasa
yang digunakan, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, golong
darah, no. register, tanggal MRS, serta diagnosa medis dari pasien.
4.1.2 keluhan utama

9
pada pasien dengan rheumatoid artitis mengeluh nyeri sendi dan nyeri
tekan disertai dengan kemerahan dan bengkak pada jaringan lunak
sekitar sendi.
4.1.3 riwayat penyakit sekarang
P : Provokatif (sebab masalah), apakah yang menyebabkan pasien
merasa nyeri pada sendi yang disertai dengan kemerahan dan
bengkak pada jaringan lunak.
Q : Quality (kualitas dan kuantitas masalah), kaji tingkat nyeri yang
dirasakan oleh pasien. Apakah yang dirasakan :
Ringan : 0-3
Sedang : 3-7
Berat : 7-10
Dan selama aktifitas dapat melakukan kegiatan sehari-hari.
R : Reagent (tempat, area yang dirasakan), tanyakan pada pasien
tempat atau letak lokasi yang dirasakan.
S : Sifikti dan skill (usaha yang dilakukan ), menanyakan usaha
apakah yang sudah dilakukan oleh pasien untuk mengatasi nyeri.
T : Time (waktu)
Berapa lama rasa nyeri yang dialami pasien biasanya, (Obat dapat
menuntaskan penyakitnya / rasa nyeri hanya dalam jangka waktu
sementara)
4.1.4 riwayat penyakit dahulu
Tanyakan kepada pasien, apakah mempunyai riwayat penyakit infeksi
lain atau gangguan sistem normonal yang berhubungan dengan faktor
genetika / keturunan.
4.1.5 riwayat penyakit keluarga
Tanyakan pada pasien, apakah ada keluarga yang menderita penyakit
AR atau penyakit turunan lainnya misalnya DM, HT, atau Riwayat
penyakit keluarga lain yang berhubungan dengan penggunaan makanan,
vitamin, riwayat perikarditis lesi katup dan penyakit lainnya.
4.1.6 riwayat psikososial
Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup
tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi
karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan
merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat
melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek
body image dan harga diri klien.
4.2 Diagnosa

10
1. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh,
sendi, bengkok, deformitas.
2. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh rheumatoid artitis.
3. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot dan sendi
4. Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan sendi.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
4.3 Intervensi

N DIAGNOSA KRITERIA HASIL INTERVENSI


O
1. Gangguan body Tujuan : setelah 1. Dorong klien untuk
image berhubungan dilakukan perawatan mengungkapkan rasa
dengan perubahan dua kali pertemuan takut dan cemasnya
penampilan tubuh, klien dapat memahami mengahadapi proses
sendi, bengkok, perubahan-perubahan penyakit.
2. Berikan support yang
deformitas. tubuhnya akibat proses
sesuai.
penyakit
3. Dorong klien untuk
Kriteria Hasil :
1. Pasien mampu mandiri.
4. Memodifikasi
menyadari keadaan
lingkungan sesuai
dirinya
2. Pasien mampu dengan kondisi klien
meningkatkan upaya
menerima dirinya
3. Pasien mampu
meningkatkan harga
diri
2. Nyeri berhubungan Tujuan : setelah 1. Kaji keluhan dan
dengan perubahan dilakukan tindakan skala nyeri
patologis oleh 3x24 jam Kebutuhan 2. Pertahankan
rheumatoid artitis rasa nyaman klien posisi fisiologis
terpenuhi atau klien dengan benar atau
terhindar dari rasa nyeri body alignment yang
Kriteria Hasil :
baik.
1. Mengurangi
3. Rencanakan klien
tegangan otot dan
menggunakan splint

11
meningkatkan atau brace.
relaksasi 4. Hindari gerakan
2. Mencegah
yang cepat dan tiba-
deformitas lebih
tiba.
lanjut
5. Lakukan
3. Nyeri berkurang
4. Meningkatkan aliran perawatan dengan
darah dan relaksasi hati-hati khususnya
otot pada anggota-
anggota tubuh yang
sakit.
6. Gunakan terapi
panas misal kompres
hangat pada
area/bagian tubuh
yang sakit.
7. Lakukan
perawatan kulit dan
masase perlahan.
8. Memberikan
analgetik, antipiretik,
anti inflamasi.
3. Risiko cedera Tujuan : Setelah 1. Gunakan sepatu yang
berhubungan dengan perawatan 2x24 jam menyokong,
hilangnya kekuatan Klien terhindar dari hindarkan lantai yang
otot dan sendi cedera licin, menggunakan
Kriteria hasil :
pegangan dikamar
Mobilitas dan kekuatan
mandi.
otot meningkat 2. Lakukan latihan
ROM
3. Monitor atau
observasi efek
penggunaan obat-
obatan
4. Gangguan aktifitas Tujuan : setelah 1. Ajarkan aktifitas

12
sehari-hari (defisit dialkukan perawatan sehari-hari
2. Pertahankan aktifitas
self care) dua kali pertemuan
dan kontrol terhadap
berhubungan dengan klien akan mandiri
nyeri dan program
terbatasnya gerakan. sesuai kemampuan
latihan
dalam memenuhi
3. Bantu klien untuk
aktifitas sehari-hari
makan, berpakaian,
Kriteria hasil : Klien
dan kebutuhan lain
mampu makan dan
4. Konsultasi dengan
berpakaian sendiri
ahli terapi okupasi
5. Gangguan mobilitas Tujan : setelah 1. Bantu klien untuk
fisik berhubungan perawatan 2 x 24 jam melakukan ROM
2. Rencanakan program
dengan kelemahan Mobilitas persendian
latihan
sendi klien dapat meningkat
3. Merubah posisi
Kriteia hasil : Fungsi
pasien setiap dua jam
sendi dan otot
4. Lakukan observasi
meningkat
untuk setiap kali
latihan
5. Berikan lingkungan
yang aman
6. Kurang pengetahuan Tujuan : 1. Tekankan
Klien dan keluarga
berhubungan dengan kembali tentang
dapat memahami cara
kurangnya pentingnya latihan
perawatan dirumah
informasi. atau aktivitas yang
Kriteria hasil :
dianjurkan,.
Mengerti dan paham
2. Diskusi
tentang penyakit yang
tentang diet, dan
diderita
hindarkan
peningkatan berat
badan
3. Berikan
jadwal obat-obatan.
4. Jelaskan
bahwa klien harus
menghindari

13
terjadinya konstipasi
5. Jelaskan,
kapan klien harus
periksa ulang

4.4 Implementasi

NO WAKTU IMPLEMENTASI PARAF PERAWAT


1 07.00 Melakukan pemeriksaan tanda-tanda Ns. Della
vital
07.15
Mendorong klien untuk
mengungkapkan rasa takut dan cemas
10.00
terhadap penyakitnya
Mengobservasi perilaku pasien
10.30 terhadap kemungkinan menarik diri
Memberikan dorongan dan motivasi
kepada pasien untuk mandiri
12.00
Memodifikasi lingkungan yang sesuai
dengan kondisi pasien
2 07.30 Melakukan pemeriksaan tanda-tanda Ns. Iqbal
vital
07.45
Mengkaji keluhan dan skala nyeri
Melakukan kompres hangat pada
12.00
bagian tubuh yang sakit
12.45 Melakukan masase pada pasien
14.00 Kolaborasi pemberian analgetik
3 07.00 Melakukan latihan ROM Ns. Laely
10.00 Menganjurkan supaya pasien berdiri,
duduk dan tidur dengan perlahan
Melakukan pemeriksaan tanda-tanda
13.00
vital
16.00 Memonitor efek penggunaan obat
4 08.00 Mengajarkan aktifitas sehari-hari Ns. Della
Mempertahankan aktifitas dan kontrol
08.50
nyeri pada pasien
Membantu klien untuk makan
12.00
Mengkolaborasikan terapi pada pasien
14.00
dengan ahli terapi okupasi
5 07.30 Membantu pasien untuk malakukan Ns. Iqbal

14
latihan ROM
08.00 Melakukan perencanaan program
latihan dengan pasien
12.00
Merubah posisi pasien
12.30
Mengobservasi latihan pasien
14.00
Berkolaborasi pemberian analgesik
6 07.00 Melakukan pemeriksaan tanda-tanda Ns. Laely
vital
07.15
Mendiskusikan tentang diet dan
menghindari peningkatan berat badan
12.10 Memberikan jadwal obat
12.30 Menjelaskan pasien harus
menghindari terjadinya konstipasi
Menjelaskan kapan pasien harus
14.00
periksa ulang

4.5 Evaluasi

N DIAGNOSA EVALUASI
O
1. Gangguan body image S : Pasien mengatakan kurang
berhubungan dengan perubahan percaya diri dengan tubuhnya
penampilan tubuh, sendi, bengkok, sekarang
O : RR pasien 18x/menit
deformitas
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
2. Nyeri berhubungan dengan S : Nyeri saya sekarang sudah
perubahan patologis oleh berkurang
O : Pasien dapat mengontrol nyeri
rheumatoid artitis
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
3. Risiko cedera berhubungan dengan S : Keluarga mengatakan mampu
hilangnya kekuatan otot dan sendi mencegah terjadinya resiko
cedera
O : Pasien terbebas dari resiko
cedera
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
4. Gangguan aktifitas sehari-hari S : Pasien mengatakan sulit untuk
berhubungan dengan terbatasnya makan
O : ROM aktif diawasi
gerakan

15
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
5. Gangguan mobilitas fisik S : Pasien mengatakan kekuatan
berhubungan dengan kelemahan tubuhnya mulai meningkat
O : Pasien mampu melakukan
sendi
gerakan perubahan secara
mandiri
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi dan
kolaborasi dengan ahli terapi
6. Kurang pengetahuan berhubungan S : Keluarga mengatakan pasien
dengan kurangnya informasi tidak meminum obatnya
O : RR 18x/menit
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Rheumatoid artitis (RA) adalah penyakit inflamasi non bacterial yang


bersifat sistemik, progresif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan
sendi yang terlibat pada rheumatoid artitis. RA banyak terjadi pada wanita, pada
usia 25-35 tahun. Penyebab dari artritis rhematoid belum dapat ditentukan secara
pasti, diperkirakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan hormonal dan faktor
sistem reproduksi. secara umum rheumatoid artitis bersifat progresif dan tidak
dapat disembuhkan, tetapi pada sebagian pasien secara bertahap menjadi kurang
agresif dan gejala bahkan membaik.

16
Tujuan utama terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan dan
memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal penderita.
Serta mencegah atau memperbaiki deformitas. Bila Rhematoid artritis progresif
dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan dilakukan untuk mengurangi
rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya,

5.2 Saran

Sebagai perawat kita harus selalu cepat dan tanggap dalam menangani
penyakit kelainan sistem musculoskeletal dan integumen, khususnya pada pasien
dengan gangguan Rheumatoid artitis karena akan menjadi fatal jika kita terlambat
untuk menanganinya. Selain itu perawat juga harus memberikan pendidikan
kesehatan kepada klien dan keluarga klien agar mereka paham dengan penyakit
yang diderita, bagaimana cara mencegah dan pengobatan apa yang aman untuk
dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidayat, R dan Wim de Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. & Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC.

Lukman dan Ningsih, Nurma. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Muskuloskletal. Jakarta: Salemba Medika.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Revisi 3. Jakarta: EGC.

http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?
mod=download&sub=DownloadFile&act=view&typ=html&id=73390

17
&ftyp=potongan&potongan=S1-2014-296570-chapter1.pdf Diakses
pada tanggal 05 Maret 2016 pukul 15.10 WIB.

http://digilib.unila.ac.id/2424/9/2.%20Bab%202.pdf Diakses pada tanggal 05


Maret 2016 pukul 17.30 WIB.

http://www.reumatologi.or.id/var/rekomendasi/Panduan_Diagnosis_dan_Penatala
ksanaan_Reumatoid_Artritis.pdf Diakses pada tanggal 07 Maret 2016
pukul 13.10 WIB.

18