Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Terkait dengan hakekatnya, stem cell kini telah menjadi topik utama
pembicaraan banyak ilmuwan, ahli medis, bahkan orang awam diseluruh penjuru
dunia. Betapa tidak? Sejumlah keunikan yang dimiliki stem cell membuatnya
berbeda dari sel-sel jenis lain yang menyusun organisme. Karakteristik yang
dimiliki stem sel ini telah memberikan secercah harapan akan tersedianya terapi
medis jenis baru bagi penderita penyakit degeneratif yaitu penyakit-penyakit yang
mengiringi proses penuaan seperti stroke, parkinson, Alzheimer, dan sebagainya.

Peningkatan usia harapan hidup merupakan suatu indikator penting


kualitas kesehatan penduduk suatu negara. Bila pada era sebelumnya angka
kematian banyak disebabkan oleh penyakit infeksi, secara perlahan namun pasti
saat ini penyakit degeneratif mulai menunjukan dominasinya sebagai penyebab
kematian utama.

Sebagai salah satu tema sentral riset biomedis yang akan mengubah
konsep pengobatan dunia kedokteran masa depan, stem cell adalah sesuatu yang
perlu diketahui dan dipahami oleh seluruh tenaga profesi kesehatan, baik yang
berhubungan dengan riset ataupun pengobatan.

Makalah ini dibuat sebagai referensi pengenalan dasar stem cell dan
prinsip aplikasinya dalam berbagai masalah pengobatan. Akhir kata penyusun
menyambut gembira setiap apresiasi dan kritik konstruktif demi perbaikan yang
akan terus dilangsungkan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
beberapa masalah yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut :

1.2.1. Apakah yang dimaksud dengan Stemcell/ Sel punca?


1.2.2. Apa saja jenis jenis dari Stemcell/ Sel punca?
1.2.3. Bagaimana mekanisme penggunaan Stemcell?
1.2.4. Bagaimana potensi Stemcell dalam dunia kesehatan?
1.2.5. Bagaimana Stemcell menurut Undang-undang?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang disebutkan di atas, maka tujuan


dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.3.1. Untuk mengetahui lebih mendetail tentang apa yang dimaksud


dengan Stemcell/Sel punca.
1.3.2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari Stemcell/ Sel punca.
1.3.3. Untuk mengetahui mekanisme penggunaan Stemcell.
1.3.4. Untuk mengetahui potensi Stemcell dalam dunia kesehatan.
1.3.5. Untuk mengetahui pandangan tentang Stemcell dari segi UU yang
berlaku di Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan

Dengan adanya makalah ini, diharapkan mampu memberikan


pengetahuan lebih luas kepada para pembaca, secara mendetail mengenai
Stemcell/ Sel punca. Diharapkan juga dengan adanya makalah ini pula dapat
menambah wawasan lebih mendalam tentang Stemcell kepada Guru Pengajar
Biologi dan juga kepada masyarakat sekitar sebagai pengembangan ilmu
pengetahuan untuk kita semua.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 PENGENALAN STEMCELL

2.1.1 Pengertian Stemcell


Mungkin sebagian dari kita masih merasa asing dengan istilah stem cell.
Kata stem cell mulai populer di dunia kedokteran sejak tahun 1950-an, yaitu sejak
ditemukannya sel penyusun sumsum tulang belakang yang mampu membentuk
seluruh jenis sel darah dalam tubuh manusia.

Apakah stem cell itu? Stem cell adalah sel primitif yang memiliki
kemampuan memperbaru dan potensi untuk berdiferensiasi, merupakan sel yang
bersumber dari tubuh, dalam keadaan tertentu dapat berdiferensiasi menjadi
berbagai fungsi jaringan sel maupun organ, dalam dunia medis disebut sebagai
sel multi-fungsi. Stem cell juga merupakan awal mula dari pertumbuhan sel lain
yang menyusun keseluruhan tubuh organisme, termasuk manusia.

Stem cell dalam bahasa mandarin berasal dari kata pohon, batang dan
sumber, artinya stem sel sama seperti batang pohon yang dapat tumbuh cabang,
daun, berbunga dan berbuah. Oleh karena itu, ilmuan menamakannya sebagai
stem cell. Dalam bahasa indonesia kata stem cell akhir-akhir ini diartikan sebagai
sel punca. Kata punca berarti awal mula

Makna sebagai sel awal mula ini semakin diteguhkan pada penemuan
keberadaan stem cell pada awal kehidupan manusia, yaitu pada masa embrio. Hal
ini tentu menegaskan bahwa stem cell adalah sel yang menjadi awal mula
terbentuknya 200 jenis sel yang menyusun tubuh manusia.

2.1.2 Karakteristik Stemcell

Setiap sel memiliki karakteristik masing-masing, begitu juga stem cell.


Karateristik yang dimiliki stem cell adalah :

1. Belum berdiferensiasi ( undifferentiated)

Gambar 2.1 keistimewaan stem cell dalam


berdiferensiasi menjadi > 1 jenis sel
Stem cell merupakan
sel yang belum memiliki
bentuk dan fungsi spesifik
layaknya sel lainnya pada
organ tubuh. Misalnya
fungsi berdenyut (sel
jantung), menghasilkan
hormon, menghantarkan
impuls (sel syaraf) ataupun
fungsi lainnya. Bukti
ilmiah bahkan menunjukan bahwa populasi stem cell belum aktif
(inaktive) dan fungsinya baru terlihat pada waktu dan kondisi tertentu.

Kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi lebih dari 1 jenis sel lain


(differentiate) yang membuat stem cell mampu berkembang menjadi
berbagai jenis sel matang, misalnya sel saraf, sel otot jantung, sel otot
rangka, sel pankreas, dan lain-lain inilah yang membuat stem cell
dipercaya akan menjadi jalan keluar bagi penyakit degeneratif seperti
stroke, Alzheimer, diabetes melitus, dan lain-lain.Kemampuan stem cell
sebagai sel yang belum berdiferensiasi ternyata dimaksudkan untuk
menjaga kontinuitas regenerasi populasi sel yang menyusun jaringan dan
organ tubuh. Selain itu, kemampuan stem cell untuk berdiferensiasi juga
dianggap lebih istimewa dari sel-sel lain, karena stem cell mampu
berdiferensiasi menjadi lebih dari 1 jenis sel tubuh. Hal ini berarti stem
cell bersifat multipoten dan pluripoten bergantung pada jenis sel itu
sendiri.

Multipoten bila stem cell hanya mampu berdiferensiasi menjadi


beberapa jenis sel yang biasanya berada dalam suatu golongan serupa,
seperti sel-sel sistem hematopoietik ataupun sistem syaraf. Sedangkan
pluripoten bila stem cell mampu berdiferensiasi menjadi sel tubuh
apapun. Proses diferensiasi stem cell diduga dipengaruhi faktor internal
dan faktor eksternal sel. Faktor internal mencakup faktor genetik,
sedangkan faktor eksternal mencakup kondisi lingkungan sel, faktor
pertumbuhan serta kondisi kebutuhan jaringan atau organ tubuh itu sendiri.
Hingga saat ini faktor-faktor yang mempengaruhi tujuan diferensiasi stem
cell secara pasti masih di terus teliti.

2. Memperbanyak diri sendiri (self renewall)

Kemampuan untuk memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri


(self-regenerate/self-renew). Dalam hal ini stem cell dapat membuat
salinan sel yang hampir sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.
Kemampuan meregenerasi diri sendiri ini tidak dimiliki sel-sel tubuh
lainnya seperti sel jantung, sel syaraf, sel otak dan lain-lain.itulah
sebabnya apabila terjadi kerusakan pada sel jantung, sel otak, maupun sel
pankreas maka pada umumnya kerusakan tersebut bersifat ireversebel.
Karena kemampuannya memperbanyak diri ini jugalah populasi stem cell
dalam tubuh terjaga.
Kemampuan stem cell untuk memperbanyak diri ini diduga dapat
dilakukan berulang kali dan tidak terbatas, serta dapat dipertahankan
dalam waktu yang relatif lama.

2.2 JENIS-JENIS STEM SEL

Keberadaan stem cell dalam berbagai tahap pertumbuhan dan organ tubuh,
telah membuat stem cell terbagi lagi menjadi beberapa jenis. Asal-usul stem cell
menentukan penamaan dan karakteristik dari setiap jenis stem cell. Jenis stem cell
yang akan dibahas pada bab ini meliputi stem cell embrionik dan stem cell dewasa
Berdasarkan tingkat maturasi tubuh yang menjadi sumber keberadaanya,
secara singkat stem cell dibagi menjadi dua jenis yaitu stem cell embrionik
(embryonic stem cell) dan stem cell dewasa ( adult stem cell).

1. Stem cell embrionik (embryonic stem cell)

Stem cell embrionik adalah stem cell yang didapatkan pada saat tubuh
masih berada dalam masa embriogenesis. Lebih tepatnya disebut juga
sebagai massa sel dalam (inner cell mass) yang terdapat dalam blastosis.
Stem ccll embrionik merupakan awal dari seluruh jenis sel dalam tubuh
manusia. Tergolong sebagai stem cell yang bersifat pluripoten. Dengan
sifatnya yang pluripoten ini, secara logika tidak ada satupun penyakit
degeratif yang tidak dapat disembuhkan oleh stem cell jenis ini.

Selain sifat pluripoten ini, stem cell jenis ini memiliki daya polimerasi
yang tinggi, talomer yang panjang dan aktifitas hormon telomerase yang
tinggi. Karena hal ini juga lah terapi menggunakan stem cell embrionik ini
memiliki resiko yang tinggi akan terjadinya polimerase sel yang
berlebih,sehingga berpotensi terjadinya tumorigenesis (pembentukan tumor
yang tidak diinginkan).

Selain itu kontroversi lain dari penggunaan stem cell embrionik ini
berasal dari nilai etis penggunaan embrio sebagai sumber didapatkan nya
stem cell ini. Hal ini lah yang menyebabkan riset seputar stem cell ini
umumnya menggunakan stem cell yang berasal dari embrio hewan, yang
tentunya tidak dapat disamakan dengan manusia

Setiap kehidupan manusia berasal dari proses fertilisasi, yaitu hasil


pertemuan antara sperma dan ovum.Dari fertilisasi maka dihasilkan zigot,
oleh karena zigot terbentuk oleh penyatuan sperma dan ovum maka materi
genetik yang berada di dalamnya merupakan kesatuan dari sperma dan
ovum. Setelah terbentuk maka zigot akan membelah menghasilkan
blastomer yang setiap hari berlipat ganda (2,4 dan seterusnya). Dengan
demikian saat hari keempat pasca fertilisasi, blastomer yang terbentuk akan
berjumlah 8 sel.
Blastomer yang terdapat dalam tahapan 2 sampai dengan inilah yang
masih bersifat totipotensi. Bila dipisahkan dan diisolasi maka blastomer-
blastomer tersebut akan mampu melakukan proses embriogenesis masing-
masing dan membentuk individu baru. Potensi ini tidak ditemukan pada

blastomer di atas tahapan 8. Sesuai dengan literatur ilmiah bahwa


potensi diferensiasi sel akan terus menurun seiiring dengan ertambahnya
usia sel-sel tersebut.

Riset dan penerapan terapi menggunakan stem sel embrionik ini


memang banyak ditentang karena dianggap melanggar etika. Betapa tidak,
embrio yang seharusnya merupakan awal mula dari kehidupan manusia
dianggap tidak layak dijadikan bahan riset dan penelitian. Oleh karena itu
para peneliti terus mencari dan mengkaji beberapa metode produksi embrio
yang sekiranya tidak melanggar etika yang ada.

Metode isolasi stem cell embrionik

Setelah stem cell embrionik berhasil diproduksi maka langkah


selanjutnya adalah proses isolasi. Terdapat beberapa macam metode isolasi
stem cell embrionik, antara lain metode enzimatis, metode bedah imun,
metode bedah mikro atau mekanik, dan metode penyayatan laser.
Gambar 3.1 berbagai teknik produksi stem cell embrionik :
fertilisasi, kloning dan partenogenesis

2. Stem cell dewasa ( adult stem cell)


Stem cell dewasa adalah stem cell yang ditemukan ditengah sel-sel
lain yang telah berdiferensiasi dalam suatu jaringan yang telah mengalami
maturasi. Dengan kata lain stem cell jenis ini adalah sekelompok sel yang
belum berdiferensiasi atau bahkan masih dalam keadaan tidak aktif, yang
terdapat pada suatu jaringan dalam tubuh yang telah memiliki fungsi
spesifik.
Bukti ilmiah yang telah ada menunjukan bahwa stem cell dewasa
memiliki sifat yang multipoten, dengan demikian stem cell jenis ini
memiliki kemampuan berdiferensiasi yang lebih rendah bila dibandingkan
dengan stem cell embrionik.Namun yang menjadi kekurangan stem cell
dewasa adalah konsentrasinya yang tergolong jauh lebih rendah bila
dibandingkan dengan sel sel lain yang telah berdiferensiasi dalam suatu
Jenis stem cell Diferensiasi multipoten yang dihasilkan
Mesenkimal Osteosit, tenosit, adiposit, kondrosit, sel stroma
sumsum tulang

Hematopoietik Progenitor sel darah yang akan menjadi seluruh


jenis sel darah matur yang fungsional

Epidermis Keratinosit, fibrobas, folikel rambut


Neural Neuron, oligodendrosit, astrosit
Sel oval hati Hepatosit, sel pankreas
Testis dan ovarium Sel gonad pria dan wanita, sel sertoli, sel leydig

Tabel 3.1 Menjelaskan contoh stem cell dewasa dan jalur multipotennya
masing-masing syaraf, stem cell kulit, stem cell mesenkimal, stem cell
jantung dan sebagainya.

jaringan dewasa. Hal ini mengakibatkan tahap isolasi yang jauh lebih sulit
dari tahap isolasi stem sel embrionik. Selain itu maturitasi sel yang jauh
lebih tua dibandingkan dengan stem cell embrionik, diperkirakan
berdampak pada kemampuan sel jenis ini memperbanyak diri.

Keberadaan stem cell jenis ini diperkirakan untuk mejaga homeostatis


jaringan tempatnya berada. Saat ini hampir semua jaringan dalam tubuh
terbukti mengandung stem cell dewasa di segala usia, sekalipun manusia
yang bersangkutan telah lanjut usianya. Oleh karena itu penggolongan
stem cell dewasa dilakukan berdasarkan organ dan golongan sel yang akan
menjadi alur diferensiasinya.. Seperti stem cell hematopoetik, stem cell
Metode i

Isolasi stem cell dewasa

Manusia sebagai makhluk multiselular, terdiri dari berbagai macam


sel yang menjalankan fungsinya secara spesifik dalam organ/jaringan
tubuh. Seringkali, walaupun peneliti melakukan pengamatan yang cermat
dengan mikroskop, karakteristik sel yang satu dengan yang lainnya tidak
dapat dibedakan.

Dalam jaringan / organ yang telah matang, stem cell dewaa bahkan
seringkali tampak tidak aktif. Stem cell ini baru teraktivasi jika jaringan/
organ tersebut mengalami kerusakan. Baik dalam keadaan aktif maupun
inaktif, secara kasat mata stem cell tampak serupa dengan sel lainnya yang
juga menyusun organ/jaringan tersebut. Untuk mendapatkan isolasi murni
stem cell organ yang bersangkutan, maka peneliti dan praktisi medis
mengginakan modal pengetahuan yang ada menyangkut karakteristik stem
cell masing-masing organ.Dua metode identifikasi dan isolasi stem cell
dewasa yang paling sering digunakan yaitu pemisahan sel mononuklear
yang mengandung stem cell, pada darah tepi, darah tali pusat, dan sumsum
tulang; serta identifikasi dan isolasi stem cell yang terkandung dalam
polpulasi multiselular, dengan menggunakan fluorescene activated cell
storing (FACS)/flowcytometry.

Tabel 3.2 kesamaan potensi stem cell embrionik dan stem cell dewasa

Berada dalam kondisi yang belum berdiferensiasi

Dapat melakukan poliferasi yang menghasilkan sel-sel dengan sifat


yang sama dengan sifat yang dimiliki sel induknya
Dapat berdiferensiasi menjadi lebih dari satu jenis sel yang spesifik

Tabel 3.3 perbedaan antara stem cell embrionik dan stem cell dewasa

Perihal Stem cell embrionik Stem cell dewasa


Sumber Inner cell mass Populasi sel somatis
Potensi diferensiasi Pluripoten Multipoten
Potensi poliferasi ++ +
Isolasi Lebih mudah karena Lebih susah karna
seluruh sel yang konsentrasi
terdapat pada inner perbandinan
cell mass adalah stem jumlahnya dengan sel
cell embrionik dewasa dalam
jaringan sangat kecil
Kulturisasi in vitro Lebih mudah karna Lebih sulit karena
ditunjan dengan kemampuan poliferasi
kemampuan poliferasi yang lebih rendah dan
yang lebih tinggi dan prosedur yang masih
prosedur yang lebih terus di optimalkan
baku

2. 3 MEKANISME PENGGUNAAN STEM CELL

Gambar 4.1 prosedur penanganan stem cell di laboratorium untuk aplikasi klinis
Sebagai sel yang diharapkan mampu memperbaiki fungsi jaringan/organ
tubuh yang telah rusak, stem cell yang sebelumnya telah diisolasi dan mengalami
sejumlah perlakuan di laobatorium, akan kembali ditransplantasikan dalam tubuh
pasien yang membutuhkannya. Hingga saat ini, para peneliti di berbagai pusat
riset stem cell masih berupaya menemukan metode dan jalur administrasi stem
cell ke dalam tubuh yang paling optimal.

Secara garis besar, terdapat dua metode transplantasi stem cell ke dalam
tubuh pasien yang membutuhkannya. Metode pertama adalah secara langsung
mengimplantasikan stem cell tersebut ke dalam jaringan/organ tubuh pasien yang
telah rusak. Metode kedua adalah mengimplantasikan stem cell melalui pembuluh
darah, baik yang berada dekat dengan lokasi jaringanorgan yang telah rusak atau
pembuluh darah manapun yang terdapat pada tubuh pasien. Karena kemudahan
aplikasinya dikemudian hari, maka metode inilah yang paling banyak digunakan
dan diuji efektifitasnya.

Distribusi stem cell ke jaringan tau organ yang pelu diperbaiki merupakan
langkah pertama yang harus dicapai demi keberhasilan upaya untuk memperbaiki
fungsi jaringan/organ yang bersangkutan. Oleh karena itu sudah seharusnya kita
semua mengerti konsep optimalisasi distribusi stem cell ke jaringan/organ tubuh
yang telah rusak. Sekarang, konsep ini dikenal dengan istilah homing.

2.3.1 Homing

Jika saat ini adalah saat pertama anda mengetahui istilah homing, mungkin
yang pertama kali muncul dalam pikiran anda adalah kata rumah. Ya, pemikiran
ini bukanlah pemikiran yang salah. Homing dalam teknologi stem cell memang
dibentuk dari asal kata home yang berarti rumah. Sekalipun bukan berasal dari
kata kerja, namun penambahan akhiran ing dalam homing, memang dilakukan
untuk mendefinisikan homing sebagai aktifitas stem cell untuk kembali ke
rumahnya, yaitu jaringan/organ tubuh yang telah rusak dan hendak diperbaiki.

Istilah homing pertama kali dipergunakan untuk mendeskripsikan proses


yang terjadi dalam transplantasi sel dari sumsum tulang. Stem cell hematopoietik
yang disuntikkan kedalam pembuluh darah, secara otomatis segera menuju ke
bagian sumsum tulang yang mengalami kerusakan. Dalam uji laboratorium pada
hewan, stem cell yang telah diadministrasikan sebelumnya telah diberi penanda
untuk melacak keberadaannya setelah masuk ke dalam pembuluh darah. Melalui
percobaan tersebut, stem cell yang terbukti segera menuju jaringan tubuh hewan
yang rusak. Pada penyelidikan selanjutnya aktifitas stem cell seperti ini diduga
dipengaruhi oleh adanya protein spesifik yang dilepaskan oleh sel-sel tubuh yang
rusak sebagai bentuk komunikasi selular. Protein ini bersifat kemoatraktif,
sehingga mampu menarik stem cell yang berada di peredaran darah, untuk menuju
ke arah keberadaan proteinnya.

Dalam kaitannya dengan konsep homing, kemampuan stem cell dalam


merespons sinyal selular sel-sel yang mengalami kerusakan dapat dimanfaatkan
untuk mengoptimalkan aplikasi klinis terapi stem cell, saat ini bukti yang telah
ada juga menjelaskan bahwa efisiensi homing stem cell pada transplantai
dipengaruhi oleh usia individu resipien. Semakin tua usia seorang individu
resipien, maka tingkat efisiensinya juga relatif akan menurun. Riset yang
dilakukan menggunakan mencit muda berusia 6- minggu dibandingkan dengan
mencit tua berusia 22-25 minggu menunjukan bahwa efisiensi homing stem cell
hematopoeitik pada mencit yang muda tiga kali lipat lebih baik daripada mencit
tua. Mengingat sistem peredaran darah manusia menghubungkan satu pembuluh
darah dengan pembuluh darah lainnya yang tersebar diseluruh tubuh, maka stem
cell yang ditransplantasikan untuk jaringan/organ tubuh tertentu yang telah rusak
juga dapat tersebar ke jaringan dan organ lain yang bukan merupakan target stem
cell. Oleh karena itu riset yang lebih mendalam masih dibutuhkan untuk
meningkatkan efisiensinya.

2.3.2 Mekanisme Regenerasi Jaringan Oleh Stemcell

Setelah stem cell diadministrasikan secara sistemik atau secara langsung


sampai pada jaringan yang dituju, maka mekanisme regenerasi jaringan yang
rusak pun segera dimulai. Mekanisme perbaikan jaringan yang rusak dengan
menggunakan stem cell terdiri dari dua jenis, yaitu diferensiasi stem cell dan
produks faktor pertumbuhan (growth factor) stem cell.

Diferensiasi stem cell

Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumya, salah satu keistimewaan
stem cell adalah kemampuan berdiferensiasi menjadi berbagai jeis sel somatik.
Dengan kemampuan ini, maka stem cell yang telah sampai pada lokasi kerusakan
sel dalam jaringan tubuh, akan mampu berdiferensiasi menjadi bentuk sel somatik
jaringan tubuh tersebut, sehingga mampu menggantikan sel-sel yang telah rusak.

Untuk mencapai efektifitas yang optimal, jenis stem cell yang dipakai
disesuaikan dengan jalur diferensiasi yang dikehendaki. Namun, bukan tidak
mungkin diferensiasi stem cell dewasa untuk dipakai menjadi sel diluar jalur
diferensiasinya. Fenomena ini disebut transdiferensiasi.
Dengan ditemukannya fenomena transdiferensiasi, pemikiran yang
sebelumnya menyatakan hanya stem cell embrionik yang bersifat pluripoten
nampaknya harus di tinjau ulang. Meskipun demikian keraguan akan ada tidaknya
fenomena transdiferensiasi ini juga masih ada. Kepastian kemurnian stem cell
dewasa yang digunakan dalam uji laboratorium tanpa adanya kontaminasi stem
cell jenis lain adalah salah satu hal yang masih dipertanyakan.

Stem cell jenis lain yang juga dimanfaatkan potensi diferensiasinya adalah
stem cell embrionik. Saat diuji, baik dalam cawan kultur (in vitro) maupun hewan
percobaan ( in vivo), stem cell embrionik tidak diragukan lagi kemampuannya
dalam membentuk seluruh jenis sel dari ketiga lapisan embrional manusia.
Sayangnya kelebihan potensi ini justru menimbulkan resiko teratoma bila
langsung diterapkan pada manusia yang membutuhkannya. Untuk meminimalisir
resiko ini, salah satu solusi yang saat ini paling banyak digunakan adalah dengan
melakukan induksi diferensiasi stem cell embrionik terlebih dahulu dalam
laboratorium sebelum ditransplantasikan ke dalam tubuh manusia.Seluruh fakta
ilmiah yang didapatkan melaalui uji laboratorium , telah berhasil membuktikan
kemampuan stem cell untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel tubuh.
Walaupun demikian, potensi stem cell untuk berdiferensiasi saat dicangkokkan ke
dalam tubuh, masih terus diteliti. Sejumlah ahlipun meragukan keberlangsungan
kemampuan ini secara in vivo dalam tubuh pasien, mengingat potensi stem cell
lain dalam meregenerasi sel tubuh yang rudak juga dapat menjadi kunci
keberhasilan terapi transplantasi stem cell pada pasien penyakit degeneratif.

Produksi faktor pertumbuhan (growth factor) stem cell

Sebagian peneliti juga berpendapat bahwa stem cell yang ditransplantasikan


ke dalam tubuh secara sistematik (melalui jalur pembuluh darag) dapat
menginduksi stem celllain yang berada di berbagai organ tubuh pasien sendiri
untuk berpoliferasi dan bergerak menuju organ/jaringan yang mengalami
kerusakan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa stem cell yang berasal dari luar
tubuh mampu merangsang stem cell dari dalam tubuh individu itu melakukan tgas
regenerasi sel yang telah rusak. Salah satu hal yang diduga menyebabkan hal ini
adalah sejumlah faktor yang diproduksi stem cell yang dicangkokkan ke dalam
tubuh, mampu merangsang pengeluaran stem cell dari berbagai organ tubuh
pasien. Faktor-faktor ini adalah faktor sitokin dan faktor pertumbuhan (growth
factor).

2.3.3 Penggunaan Stemcell dalam Terapi Gen

Selain stem cell, rekayasa genetika merupakan bidan ilmu kedokteran


lainnya yang juga banyak megundang perhatian para peneliti dan praktisi medis di
abad ke -21 ini. Penyakit-penyakit kongenital yang berawal dari kelainan genetik
penderitanya dipercaya dapat ditolong dengan merekayasa susunan genetik pasien
yang bersangkutan. Dalam penerapannya, rekayasa genetika memiliki prinsip
memperbaiki dan menutupi ekspresi susunan DNA yang rusak, atau
menambahkan DNA yang dapat membawa nilai positif bagi sel (pasien) yang
bersangkutan.Berdasarkan sel yang menjadi vektornya, terapi gen dibagi menjadi
dua jenis, yaitu terapi gen yang menggunakan vektor sel gamet dan terapi gen
yang menggunakan vektor gen somatis.

Terapi gen yang menggunakan vektor sel gamet

Spermatozoa dan ovum merupakan sel-sel yang potensial untuk digunakan


dalam rekayasa genetika. Bila keduan jenis sel ini disisipi susunan DNA yang
hendak dimasukkan dalam tubuh pasien, maka susunan DNA inipun akan terus
diturunkan kepada keturunan pasien.

Terapi gen yang menggunakan vektor sel somatis

Secara teoritis, penyisipan susunan DNA untuk terapi gen sebenarnya dapat
dilakukan pada sel somatis manapun. Sayangnya, mengingat sel somatis
merupakan sel dewasa yang tidak lagi memiliki kemampuan poliferasi yang
tinggi, maka sifat dari gen yang disisipkan hanya mampu bertahan untuk
sementara waktu. Hal ini disebabkan karena setelah sel somatis dimasukkan ke
dalam tubuh pasien mengalami kerusakan (apoptosis), maka efek yang dibawanya
pun akan hilang.

Melalui sejumlah riset yang dilakukan untuk mencapai kesempurnaan dalam


penerapan terapi gen, para peneliti mulai menyadari potensi stem cell sebagai
vektor yang efektif. Hal inilogis mengingat stem cell memiliki sejumlah
keistimewaan yang tidak dimiliki sel somatis ataupun sel gamet, yaitu

untuk memperbanyak disei dan berdiferensiasi menjadi sel-sel yang


fungsional. Selain itu stem cell juga mampu bertahan hidup dalam kondisi
nonaktif dan dalam jangka waktu yang sangat lama.dengan kelebihannya itu,
apabila stem cell digunakan sebagai vektor dalam terapi gen maka pasien tidak
harus mendapatkan terapi yang sama berulang-ulang dalam jangka waktu yang
lama.

Beberapa jenis penyakit menjadi fokus terapi gen antara lain fibrosis kistik,
hemofilia, distorfi otot kongenital dan kanker.

2.4 POTENSI STEM CELL DALAM DUNIA KESEHATAN

Gambar 5.1 Potensi stem sel dalam berbagai pengobatan penyakit

Stem cell mempunyai kemampuan untuk


berdiferensiasi
secara terus menerus dan dalam
keadaan tertentu mampu
berdiferensiasi menjadi
berbagai tipe sel jaringan,
seperti otot polos,
kardiomiosit,
neuron, sel beta
pankreas,

khondrosit,

dsb. Karena sifat ini maka stem cell ini dapat dipakai untuk mengobati berbagai
penyakit degeneratif yang sekarang termasuk dalam bidang kedokteran. Dalam
beberapa tahun lagi stem cell manusia ini dapat dipakai untuk transplantasi
berbagai organ yang rusak, seperti ginjal, hati, jantung, tulang dsb.

Penggunaan sel stem embrionik masih dibayangi oleh berbagai masalah etik
dan masih dilarang di beberapa negara seperti di AS, Jerman, Perancis dsb.
sehingga menghambat kemajuan penelitian. Tetapi di berbagai negara lain seperti,
UK, Singapura, Korea, India, China dsb, penggunaan sel stem embrionik manusia
untuk kedokteran diperbolehkan sehingga penelitian di negara-negara tersebut
telah mengalami banyak kemajuan.
Untuk mencegah kontroversi ini, maka alternatif lain adalah menggunakan
human Umbilical Cord Blood (hUBC) yang mengandung banyak stem cell dewasa
yang mempunyai kemampuan diferensiasi lebih baik daripada sel stem sumsum
tulang (hBM=human Bone Marrow). Di Indonesia belum memiliki aturan yang
jelas tentang penggunaan stem cell dalam dunia medis.

Sel stem embrionik maupun sel stem dewasa sangat besar potensinya untuk
mengobati berbagai penyakit degeneratif, seperti infark jantung, stroke, penyakit
Parkinson, diabetes, berbagai macam kanker terutama kanker darah, osteoarthritis
dan sebagainya.

Gambar 5.2 Degenerasi (penuaan) jaringan tubuh membuat perbedaan nyata


antara kesehatan orang tua dengan orang yang berusia muda

Stem cell dalam berbagai penyakit degeneratif (penyakit yang mengiringi


proses penuaan)

Stroke iskemik
Pada tikus maupun domba dapat disembuhkan dengan pemberian hUCB.
Percobaan pada binatang telah dapat menimbulkan perbaikan fungsional dengan
terbentuknya angiogenesis dan neurogenesis. Berdasarkan hasil percobaan
binatang yang sangat prospektif maka beberapa pusat penelitian sedang
merencanakan untuk melakukan uji klinis pada manusia.

Penyakit Parkinson
Penyakit yang banyak menghinggapi orang tua juga mempunyai prospek baik
untuk dapat disembuhkan oleh stem cell. Patogenesis penyakit Parkinson adalah
karena degenerasi sel neuron dopaminergik di substansia nigra. Berbagai
percobaan telah berhasil untuk mengubah sel stem menjadi neuron dopaminergik
dan jika sel ini disuntikkan ke otak dapat menimbulkan perbaikan.
Tetapi sayang sampai sekarang belum ada laporan percobaan klinik yang baik
sehingga masih belum dapat diambil kesimpulan yang objektif.

Spinal cord injury


disertai demielinasi menyebabkan hilangnya fungsi neuron. Remielinasi dengan
sel stem dapat mengembalikan fungsi yang hilang. Percobaan pendahuluan
dengan ES tikus dapat menghasilkan oligodendrosit yang kemudian dapat
menyebabkan remielinisasi akson yang rusak.

Diabetes tipe I
Pada diabetes tipe I sel pankreas beta yang mensekresi insulin mengalami
kerusakan oleh faktor genetik, lingkungan dan imunologik. Akibatnya terjadi
defisiensi insulin dan menyebabkan hiperglikemi. Transplantasi seluruh organ
pankreas kadaver dapat menyembuhkan penderita. Tetapi jumlah kadaver sangat
sedikit dan obat imunosupresi yang dibutuhkan untuk mencegah reaksi
imunologik menimbulkan banyak efek samping. Transplantasi sel stem
merupakan alternatif baik dan telah menunjukkan hasil positif pada mencit. Tetapi
masih banyak kendala yang harus diatasi supaya penggunaan sel stem untuk
menyembuhkan pasien diabetes tipe I dapat terlaksana.

Infark jantung
Gambar 5.3 berbagai jalur administrasi stem cell dalam terapi infark jantung

Pada infark miokard akut, sel stem sumsum tulang (bone marrow) yang beredar
dalam darah perifer dan sel stem yang sudah berada di jantung akan menuju ke
daerah infark, tetapi jumlahnya tidak cukup untuk dapat mengatasi dan
menyembuhkan daerah infark tersebut. Sel stem akan membentuk sel kardiomiosit
dan juga mengadakan neovaskularisasi. Karena jumlah sel stem endogen kurang
banyak maka logis untuk mecarikan bantuan sel stem dari luar yang bisa berasal
dari sumsum tulang atau sumber lain seperti UCB. Hal ini telah dilakukan dengan
hasil yang cukup menggembirakan.

Bartinek juga telah melakukan intracoronary infusion BM stem cell otolog pada
22 pasien dengan AMI dan melaporkan hasil yang sangat baik. Sekarang dalam
literatur sudah banyak dilaporkan hasil positif pemberian sel stem BM
intrakoroner pada AMI.
Osteoarthritis
Osteoarthritis merupakan penyakit degeneratif yang banyak sekali menghinggapi
orang tua maupun para atlet. Lutut, bahu, dan berbagai sendi mengalami
degenerasi tulang rawan dan menyebabkan rasa nyeri pada pergerakan.
Sel stem dapat membentuk khondroblast dan osteoblast dan melalui tissue
engineering sel stem dapat diarahkan sedemikian rupa sehingga dapat membentuk
jaringan tulang rawan, yang dapat dimasukkan ke dalam sendi sehingga dapat
berfungsi sebagai pengganti tulang rawan yang rusak. Jika kerusakan tulang
rawan masih ringan maka sel stem dapat langsung dimasukkan ke dalam sendi; sel
stem akan berubah menjadi chondroblast dan membentuk lapisan tulang rawan
baru. Berbagai percobaan sudah membuktikan manfaat yang sangat besar sel stem
untuk osteoarthritis.

Sel stem hematopoetik pada kanker

Salah satu sebab mengapa sel stem hematopoetik (sel stem sumsum tulang) dapat
dipakai untuk pengobatan kanker adalah karena dalam keadaaan tertentu harus
diberi kemoterapi atau radiasi dosis tinggi sehingga membunuh semua sel yang
berkembang biak cepat (termasuk sel kanker, tetapi juga sel stem sumsum tulang,
endotel usus dan sel rambut, sehingga pada radiasi atau kemoterapi dosis tinggi
selain membunuh sel kanker, pasien akan menderita diare dan rambutnya rontok).
Karena sel stem hematopoetik di dalam sumsum tulang yang membentuk leukosit
untuk memerangi infeksi, eritrosit untuk membawa oksigen dan trombosit untuk
pembekuan darah, bilamana diradiasi atau diberi obat kemoterapi akan mati
semua, maka seseorang sebelum diradiasi/diberi obat kemoterapi dosis tinggi,
sumsum tulangnya dipanen dulu. Setelah radiasi, dimasukkan lagi dalam darah
dan sel stem hematopoetik akan kembali masuk sumsum tulang dan akan
berkembang biak lagi. Penggunaan sel stem hematopoetik untuk kanker sudah
dipakai sejak beberapa puluh tahun lamanya.

Selain sel stem sumsum tulang, juga dapat dipakai sel stem UCB dan darah perifer
yang juga mengandung sel stem. Jika diambil dari darah perifer maka pasien
diberi CGSF (Colony Growth Stimulating Factor) yang akan merangsang sumsum
tulang untuk memproduksi dan melepaskan banyak sel stem ke sirkulasi dan
kemudian dengan alat apheresis, sel stem dipisah dan darah dikembalikan ke
dalam sirkulasi.
Jika sel stem diambil dari pasien yang sama maka disebut transplantasi otolog.
Jika sel stem diambil dari saudara kembar maka disebut transplantasi syngeneik,
sedangkan kalau sel stem diambil dari saudara maka disebut transplantasi
alogeneik.

Rejuvenasi

Belakangan diketahui bahwa kerusakan jaringan tubuh akan diperbaiki oleh sel
stem yang mengalir di darah perifer dan berasal dari sumsum tulang beserta sel
stem yang memang selalu berada di setiap organ. Cara kerja sel stem mungkin
melalui 3 mekanisme : menciptakan lingkungan mikro yang kondusif untuk
regenerasi sel endogen jaringan, transdiferensiasi (sel stem dewasa akan berubah
menjadi sel jaringan pengganti yang rusak) dan mungkin melalui fusi sel.

Memang sampai sekarang pertanyaan yang timbul adalah bagaimana tubuh kita
dapat memperbaiki jaringan yang rusak? Pada tanaman dan organisme sederhana
seperti hydra, planaria, atau salamander dan newt, jika cabang pohon dipotong
atau kaki salamander dipotong maka secara otomatis akan tumbuh kembali. Telah
terbukti pada organisme sederhana ini sel stem sangat besar peranannya.
Dengan penemuan bahwa sel stem embrionik dan dewasa dapat berkembang biak
secara tidak terbatas dan dapat mengalami transdiferensiasi, maka sekarang sudah
jelas bahwa perbaikan kerusakan jaringan tubuh dapat diperbaiki oleh sel stem
dewasa yang beredar dalam darah dan sel stem yang terdapat dalam setiap organ.
Dengan penemuan ini maka teoretis setiap kerusakan dapat diperbaiki dengan
melakukan infus sel stem eksogen karena sel stem endogen tidak cukup banyak
untuk dapat melakukan regenerasi. Sumber sel stem endogen yang paling mudah
didapatkan adalah sel stem sumsum tulang dan sel stem UCB, jika kita
menghendaki sel stem otolog. Karena itu pengambilan dan penyimpanan sel stem
UCB akan sangat bermanfaat, tidak hanya untuk pengobatan kanker pasca radiasi
atau pemberian
kemoterapi dosis tinggi, tetapi juga untuk memperbaiki kerusakan jaringan dan
organ tubuh. Sel stem ini dapat dipergunakan untuk melakukan rejuvenasi dan
regenerasi jaringan dan organ tubuh yang rusak.

Gambar 5.4 praktek transplantasi pada abad ke-3

Tabel 5.1 perbedaan prinsip transplantasi organ dan transplantasi sel


Transplantasi organ Transplantasi sel
Pada umumnya dilakukan dengan cara Pada umumnya dilakukan dengan cara
allotransplantasi autotransplantasi
Seringkali terjadi reaksi imunologis atau tidak menimbulkan reaksi rejeksi karena
terjadinya rejeksi organ oleh tubuh donor berasal dari individu yang sama
resipien
Jumlah donor jauh lebih sedikir Jumlah sel dapat dimodifikasi atau
dibandingkan resipien yang diperbanyak dilaboratorium melalui kultur
membutuhkan organ sel
Transplantasi baru dapat dilakukaan saat Terapi dapat dimulai sejak dini yaitu sejak
kondisi organ telah membahayakan terjadinya kerusakan sel
Autotransplantasi
Autotransplantasi adalah jenis transplantasi organ dimana proses eksplantasi dan
implantasi dilakukan pada orang yang sama. Jenis transplantasi ini hanya terbatas
pada beberapa organ tertentu seperti kulit, tulang dan pembuluh darah sebagai
contoh pada banyak kasus luka bakar dokter melakukan autotransplantasi kulit
yang sehat dari bagian tubuh yang tidak terbakar ditransplantasikan pada bagian
tubuh yang telah kehilangan kulit akibat luka bakar.

Allotransplantasi
Merupakan sistem transplantasi yang dilakukan oleh donor pada resipien yang
berbeda tetapi merupakan spesies yang sama. Allotransplantasi termasuk
transplantasi yang sering dilakukan. Sayangnya jumlah kebutuhan resipien akan
organ yang dibutuhkan tidak pernah seimbang, dimana jumlah resipien jauh lebih
besar daripada jumlah donor

Xenotransplantasi
Merupakan jenis transplantasi yang dilakukan oleh donor kepada resipien yan
berbeda spesies. Transplantasi ini banyak dilakukan pada era kedokteran
terdahulu, yaitu sebelum perbedaan mengenai status imunologis yang
menyebabkan rejeksi organ berkembang. Hal ini memungkinkan karena beberapa
organ tubuh hewan tertentu mirip dengan organ manusia baik secara fisiologis dan
morfologis. Pada saat ini xenotransplantasi telah jarang digunakan karna sudah
tentu perbedaan spesies menyebabkan organ donor dikenali sebagai benda asing
pada tubuh resipien.

2.5 STEMCELL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG

1) Undang-Undang Kesehatan NO. 23/1992 Tentang Kesehatan


Pasal 69: Litbangkes dilaksanakan untuk memilih dan menetapkan ilmu
pengetahuan dan teknologi tepat guna yang diperlukan dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan, Litbang pada manusia dilaksanakan
dengan memperhatikan etika penelitian dan norma hukum, agama,
kesusilaan dan kesopanan dalam masyarakat serta
dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan ybs
Pasal 70: litbang pada bedah mayat adalah untuk penyelidikan sebab
penyakit atau kematian serta pendidikan na-kes dilakukan oleh tenaga
ahli dan berwenang dengan memperhatikan norma yang berlaku pada
masyarakat
Sangsi terhadap penyimpangan UU NO.23/1992

Barang siapa dengan sengaja menyelenggarakan penelitian dan atau


pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan pada
manusia tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan ybs serta
norma yang berlaku dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara
paling lama 7 th dan atau pidana denda paling banyak 140 jt
Barang siapa dengan sengaja melakukan bedah mayat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 70: dipidana dengan pidana penjara paling lama
5 th dan pidana denda paling banyak 100 jt
2) PP NO. 39/1995 Tentang Penelitian & Pengembangan Kesehatan
Pasal 4: Litbangkes dilaksanakan berdasarkan standar profesi penelitian
kesehatan
Pasal 5: Litbangkes dapat dilakukan terhadap manusia, mayat manusia,
keluarga, masyarakat, hewan, tumbuh-tumbuhan, jasad renik atau
lingkungan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam
masyarakat serta upaya pelestarian lingkungan
Pasal 8: Persetujuan tertulis dapat dilakukan oleh orang tua atau ahli
waris bila subjek peneliti tidak mampu atau jasadnya akan dipergunakan
utk penelitian.
Pasal 10: Calon subjek penelitian berhak mendapat informasi tentang
tujuan, penggunaan hasil peneliti, jaminan kerahasiaan, metode, risiko
Pasal 13: Penelitian pada anak-anak hanya dapat dilakukan dalam
rangka peningkatan kesehatan anak-anak, pada wanita hamil dan
menyusui dalam rangka pembenahan masalah kehamilan, persalinan dan
peningkatan derajat kesehatan, pada penyakit jiwa dalam rangka
mengetahui etiologi, pengobatan dan rehabilitasi sosial
Pasal 15: Penerapan hasil litmangkes pada tubuh manusia hanya dapat
dilakukan setelah sebelumnya diterapkan pada hewan.
3) KEPMENKES 1031 th 2005: tentang pedoman nasional penelitian kesehatan
Yang dimaksud dengan penelitian kesehatan adalah sama
dengan biomedical research menurut who yang meliputi penelitan tentang
farmasetik, peralatan kesehatan, radiasi medik dan imaging, prosedur bedah,
cataatan medik, sampel biologik, penelitian epidemiologi, ilmu sosial dan
psikologi
Pedoman nasional etik penelitian kesehatan 2005
- Deklarasi helsinki :
Suplemen I: etik pemanfaatan bahan biologi tersimpan (bbt)
suplemen II: etik penggunaan hewan coba
suplemen (dalam persiapan): tentang penelitian genetik: DNA. RNA, BBT
GERM CELL
4) KEPMENKES NO. 1333/2002 Tentang Penelitian Kesehatan Pada Manusia
5) KEPMENKES NO. 1334/2002
- Tentang Pembentukan PNEPK (Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan)
- Standar bagi semua lembaga yang melakukan penelitian kesehatan.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Stem sel adalah sel primitif yang memiliki kemampuan memperbaru dan
potensi untuk berdiferensiasi, merupakan sel yang bersumber dari tubuh,
dalam keadaan tertentu dapat berdiferensiasi menjadi berbagai fungsi
jaringan sel maupun organ, dalam dunia medis disebut sebagai sel multi-
fungsi

2. Stem cell adalah sel induk( sel yang tidak/belum terspesialisasi )yang
mempunyai 2 sifat:
1. Kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate).
Dalam hal ini stem cell mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel
matang, misalnya sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka, sel pankreas,
dan lain-lain.
2. Kemampuan untuk memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri
(self-regenerate/self-renew). Dalam hal ini stem cell dapat membuat
salinan sel yang hampir sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.

3. Teknologi stem sel termasuk teknologi regeneratif kedokteran, yang


paling bernilai adalah melalui pemisahan atau pengkloningan,
pemeliharaan dan diferensiasi induksi di luar tubuh, dapat menciptakan
jaringan,sel dan organ yang baru, muda, dan normal. Melalui teknologi
transplantasi khusus, memasukkannya ke dalam tubuh untuk
menggantikan sel yang rusak maupun yang tidak normal, membawa
perubahan dan harapan kepada penderita penyakit kronis yang susah
diobati.

3.2 SARAN

Berdasarkan atas simpulan yang telah dikemukakan, maka saran


yang diberikan penulis untuk siswa, masyarakat dan pemerintah adalah

3.2.1. Bagi siswa, diharapkan untuk terus menggali informasi


mengenai Stemcell dan mempelajari lebih mendetail secara teoritis
mengenai Stemcell beserta kegunaannya bagi kehidupan nyata
3.2.2. Bagi masyarakat, diharapakan untuk tetap menambah
pengetahuan mengenai Stemcell dan menyebarluaskan informasi
tersebut ke masyarakat luas
3.2.3. Bagi pemerintah, diharapkan untuk terus mendukung segala
sesuatu mengenai hal yang berhubungan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan mengenai Stemcell di negeri ini dan menetapkan
UU sesuai dengan kebijakan publik beserta pendapat para ahli
medis.

\
DAFTAR PUSTAKA

http://dianalmira.blogspot.com/2012/12/stem-cell.html, diunduh pada tanggal 19


Desember 2012

http://www.scribd.com/doc/133994561/ Biologi-Stem-Sel

http://wdesmalinda.blogspot.com/2014/02/ makalah-stem-cell.html, diunduh pada


2 Februari 2014-09-27

http://www.multibisnis.com/stemcell/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_punca

http://www.stemcells.nih.gov/info, diunduh pada tanggal 6 Desember 2013