Anda di halaman 1dari 62

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia berimplikasi

terhadap jumlah kepemilikan kendaraan, khususnya mobil. Tetapi peningkatan

tersebut tidak diimbangi dengan pemahaman masyarakat tentang perlunya

perawatan terhadap sistem pendinginan mesin. Pemahan terhadap perawatan

sistem pendingin mesin yang baik akan membuat sistem tersebut bekerja secara

efisien, ramah lingkungan, memiliki umur pemakaian yang lama, dan terhindar

dari kerusakan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan

menggunakan cairan pendingin radiator standar yang telah direkomendasikan

oleh perusahaan. Pemakain cairan pendingin radiator standar semestinya akan

mempermudah mereka untuk mendapatkan kondisi mesin yang dapat bekerja

secara maksimal dan tahan terhadap panas lebih lama.

Kenyataan saat ini pemakain cairan radiator jauh dari kondisi yang

diharapkan. Pemahan terhadap perlunya pemakain cairan pendingin standar di

masyarakat masih rendah. Mereka lebih memilih menggunakan air biasa atau

cairan pendingin pabrikan lain yang belum tentu efesien dalam menjaga

temperatur kerja mesin.

Untuk itu peneliti melakukan wawancara di beberapa bengkel otomotif di

Kota Padang untuk mengetahui kondisi saat ini pemakain cairan pendingin oleh

pemilik mobil. Ternyata masih banyak permintaan konsumen kepada mekanik

untuk mengganti air radiatornya dengan air biasa dan cairan pendingin yang

tidak sesuai rekomendasi perusahaan, dengan alasan lebih murah dan praktis
1
2

dibandingkan menggunakan cairan pendingin standar. Sebagian besar

konsumen tidak memahami secara detail dampak dari penggunaan media

pendingin pada sistem pendinginan mobil. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini

data penggunaan cairan pendingin di beberapa bengkel di Kota Padang.

Tabel 1. Penggunaan cairan pendingin di PT.Andalas Berlian Motors Jl. By-


pass.KM.11.Kota Padang
Jenis Jenis Cairan
No Seharusnya Alasan
Mobil Pendingin
Mitsubishi Mitsubishi Motor
1 Air biasa
Galant Genuine Coolant
Tidak mengetahui
efek cairan
Mitsubishi Mitsubishi Motor
2 Air biasa pendingin
Colt T Genuine Coolant
tehadap kondisi
mesin
Mitsubishi Mitsubishi Motor Kurang tahu efek
3 Air biasa
Colt T Genuine Coolant terhadap mesin
Mitsubishi Motor
4 Pajero Top 1
Genuine Coolant
Mitsubishi Motor Belum pernah
5 Pajero
Genuine Coolant diganti
Mitsubishi Mitsubishi Motor Kurang tahu efek
6 Top 1
Lancer Genuine Coolant terhadap mesin
Mitsubishi Mitsubishi Motor Lebih praktis dan
7 Air biasa
Colt T Genuine Coolant biaya lebih murah
Mitsubishi Mitsubishi Motor Cairan pendingin
8 Air biasa
Colt T Genuine Coolant apapun sama
Mitsubishi Mitsubishi Motor
9
Mirage Genuine Coolant
Mitsubishi Mitsubishi Motor Kurang tahu efek
10 Air biasa
L180 Genuine Coolant terhadap mesin

Tabel 2.Penggunaan cairan pendingin di bengkel Frist Motor, Jln.Aru No.29,


Kota Padang
Jenis Jenis Cairan
No Seharusnya Alasan
Mobil Pendingin
1 Toyota Top 1 Super Long Life Tidak tahu efek
3

Avanza G Coolant terhadap mesin


Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
2 Air biasa
Avanza G Coolant terhadap mesin
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
3 Air biasa
Avanza G Coolant terhadap mesin
Daihatsu Super Long Life Tidak tahu efek
4 Air biasa
Xenia Coolant terhadap mesin
Super Long Life Tidak tahu efek
5 Feroza Air biasa
Coolant terhadap mesin
Toyota Superfull Super Long Life Tidak tahu efek
6
Rush Coolant Coolant terhadap mesin
Super Long Life
7 Fortuner
Coolant
Toyota Megacool Super Long Life Tidak tahu efek
8
Avanza Coolant Coolant terhadap mesin
Daihatsu Super Long Life Tidak tahu efek
9 Air biasa
Xenia Coolant terhadap mesin
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
10
Avanza Coolant terhadap mesin

Tabel 3.Penggunaan cairan pendingin di bengkel Auto 2000, Jln By-


Pass,KM.12 Kota Padang
Jenis Jenis Cairan
No Seharusnya Alasan
Mobil Pendingin
Toyota Super Long Life Belum Pernah
1
Avanza Coolant diganti
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
2
Avanza Coolant terhadap mesin
Toyota Super Long Life
3
Yaris Coolant
Toyota Super Long Life
4 Air biasa Menghemat biaya
Hilux Coolant
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
5
Avanza Coolant itu sama
Jenis Jenis Cairan
No Seharusnya Alasan
Mobil Pendingin
Toyota Superfull Belum pernah
6
Yaris Coolant diganti
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
7 Air biasa
Avanza Coolant terhadap mesin
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
8 Top 1
Avanza Coolant terhadap mesin
4

Toyota Super Long Life Belum pernah


9
Fortuner Coolant diganti

Tabel 4.Penggunaan cairan pendingin di bengkel Abang Motor, Jl.DR.Sutomo,


No.98, Kota Padang
Jenis Jenis Cairan
No Seharusnya Alasan
Mobil Pendingin
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
1 Air biasa
Kijang Coolant apapun sama
Toyota Megacool Super Long Life Lebih praktis dan
2
Avanza Coolan Coolant biaya lebih murah
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
3
Innova Coolant terhadap mesin
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
4 Air biasa
Avanza Coolant apapun sama
Toyota Super Long Life
5
Avanza Coolant
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
6 Top 1
Avanza Coolant terhadap mesin
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
7 Wurt Coolant
Avanza Coolant apapun sama
Toyota Super Longlife
8
Rush Coolant
Mitsubishi Mitsubishi Motor Lebih praktis dan
9 Air Biasa
Lancer Genuine Coolant biaya lebih murah
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
10 Top 1
Vios Coolant apapun sama
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
11 Megacool
Avanza Coolant apapun sama
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
12 Air biasa
Kijang Coolant apapun sama
Tabel 5.Penggunaan cairan pendingin di bengkel Utama Service Station,
Jl.S.Parman, No.156-164, Kota Padang
Jenis Jenis Cairan
No Seharusnya Alasan
Mobil Pendingin
Daihatsu Super Long Life Cairan pendingin
1 Top 1
Xenia Coolant apapun sama
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
2 Top 1
Avanza Coolant apapun sama
3 Toyota Super Long Life
5

Avanza Coolant
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
4 Air biasa
Avanza Coolant terhadap mesin
Toyota Megacool Super Long Life Cairan pendingin
5
Innova Coolant Coolant apapun sama
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
6 Top 1
Avanza Coolant apapun sama
Toyota Super Long Life Cairan pendingin
7 Top 1
Rush Coolant apapun sama
Super Long Life Tidak tahu efek
8 Terios Top 1
Coolant terhadap mesin
Toyota Megacool Super Long Life Cairan pendingin
9
Avanza Coolant Coolant apapun sama
Super Long Life Lebih praktis dan
10 Starlet Air biasa
Coolant biaya lebih murah
Toyota Super Long Life Tidak tahu efek
11 Air biasa
Avanza Coolant terhadap mesin

Dari beberapa data penggunaan cairan pendingin diatas, dapat disimpulkan

bahwa penggunaan cairan pendingin standar di masyarakat pengguna mobil

masih tergolong rendah. Air biasa lebih cendrung menjadi alternatif cairan

pendingin pada radiator.

Beberapa kemungkinan penyebab kurangnya pemakain cairan radiator

standar sehingga berakibat kerusakan pada sistem pendingin adalah

penggunaan air biasa tidak memerlukan biaya lebih, air biasa juga sangat

praktis dan mudah didapatkan, mahalnya harga water coolant, kurangnya

pengetahuan masyarakat tentang penggunaan jenis cairan pendingin, dan

kurang pahamnya masyarakat terhadap bahaya yang bisa ditimbulkan jika

memakai cairan pendingin tidak sesuai rekomendasi pabrikan.

Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap

kondisi mesin kendaraan. Bahaya yang dapat ditimbulkan seperti : mudah


6

berkaratnya komponen - komponen sistem pendingin, beban panas yang

berlebihan pada suhu mesin, dan berkurangnya performa mobil. Sebagaimana

kita ketahui bahwa kemampuaan air biasa dalam mendinginkan mesin belum

begitu efisien dalam penerapannya, dikarenakan titik didih air hanya mencapai

1000C dan air juga sangat cepat menguap sehingga tidak maksimal untuk

menjaga suhu mesin agar tetap stabil pada temperatur antara 80o 90o C.

Salah satu alternatif pemecahan masalah diatas yang mungkin dilakukan

adalah menggunakan cairan pendingin standar yang telah direkomendasikan,

karena efisiensi dan efektifitas kinerja mesin kendaraan bermotor dalam

industri otomotif sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem pendinginan yang

baik. Jadi sistem pendinginan diperlukan untuk mengurangi panas yang diserap

oleh bagian-bagian motor sehingga tidak mengakibatkan kerusakan pada

motor (Drs. Hariyanto,2000).

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diidentifikasikan beberapa

permasalahan berikut ini :

1. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kualitas cairan pendingin yang

baik untuk sistem pendingin mobil.


7

2. Kerusakan pada komponen mesin yang dapat ditimbulkan jika tidak

menggunakan cairan pendingin standar.

3. Banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan cairan pendingin radiator

sesuai spesifikasi pabrik.

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terfokus, maka permasalahan yang akan dibahas dan

dibatasi, yaitu : membandingkan penggunaan beberapa jenis cairan pendingin

radiator terhadap temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas maka yang menjadi rumusan masalah

adalah bagaimana temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T

untuk beberapa jenis cairan pendingin radiator yang berbeda ?

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui temperatur kerja mesin dari beberapa jenis cairan pendingin

radiator.
2. Membandingkan temperatur kerja mesin dari beberapa jenis cairan

pendingin radiator.

F. Asumsi
Berdasarkan dari tujuan penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka

beberapa asumsi yang perlu peneliti kemukakan dalam penelitian ini :


1. Kecepatan aliran udara dan temperatur udara lingkungan setiap pengukuran

cairan pendingin dianggap sama.


8

2. Kondisi mobil saat pengukuran dianggap telah mewakili keadaan

sebenarnya dilapangan.

G. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Bahan masukan bagi masyarakat agar dapat menggunakan cairan pendingin

radiator menurut standar yang ditentukan.

2. Untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang penggunaan cairan

pendingin radiator.

3. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memilih jenis cairan

pendingin radiator.

4. Sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Strata Satu (S1)

pada jurusan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.


9

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Sistem Pendinginan Mesin

Fathun Muharto, Mahdi (2008:15), mengatakan bahwa Panas yang

dihasilkan oleh proses pembakaran di dalam motor diubah menjadi tenaga

gerak. Namun, kenyataannya hanya sebagian dari panas tersebut yang

dimanfaatkan secara efektif. Untuk itu, pada motor dilengkapi dengan sistem

pendingin yang berfungsi untuk mencegah panas yang berlebihan. pada

motor bensin, kira-kira hanya 25% energi panas dari hasil pembakaran
10

bahan bakar dalam silinder yang dimanfaatkan secara efektif sebagai tenaga.

Sisanya terbuang dalam beberapa bentuk seperti terlihat pada gambar di

bawah ini.

Gambar 1: Keseimbangan Panas


Sumber: Fathun Muharto dan Mahdi, (2008: 15)

Pada gambar di atas tampak bahwa dari total energi yang dihasilkan

oleh proses pembakaran hanya 25% yang dimanfaatkan menjadi kerja

efektif. Panas yang hilang bersama gas buang kira-kira 34%, panas yang

terbuang akibat proses pendinginan 32%, akibat pemompaaan 3%, dan

akibat gesekan 6%.


Untuk itu fungsi sistem pendingin pada motor sebagai berikut:
a. Menjaga efisiensi panas yang dihasilkan dari proses pembakaran,

sehingga panas yang dihasilkan dapat diubah menjadi tenaga dengan

maksimal.
b. Untuk mengurangi panas motor. Panas yang dihasilkan oleh pembakaran

campuran udara dan bahan bakar dapat mencapai sekitar 2.5000C. panas

yang cukup tinggi ini dapat melelehkan logam dan komponen lain yang

digunakan pada motor, sehingga apabila motor tidak dilengkapi sistem

pendingin dapat merusak komponen motor tersebut.


11

c. Untuk mempertahankan agar temperatur motor selalu pada temperatur

kerja yang paling pada berbagai kondisi.

1) Sistem Pendingin Udara

Sistem pendinginan udara menggunakan hembusan udara pada sirip

- sirip pendingin mesin yang dibuat pada bagian silinder dan kepala

silinder, panas yang timbul pada mesin tersebut akan dirambatkan pada

bagian sirip dan kemudian dibuang bersama udara yang sedang mengalir

pada disela-sela sirip pendingin.

2) Sistem Pendingin Air

Dalam buku Toyota Astra Step 1 (1996:29) dijelaskan bahwa :

Sistem pendinginan air menggunakan fluida pendingin untuk


membantu proses pendinginan pada mesin. Fluida tersebut dialirkan
melalui mantel jacket yang terdapat pada blok silinder mesin. Fluida
menyerap panas kemudian dialirkan ke radiator untuk didinginkan
dengan kipas. Sistem pendingin air biasanya dilengkapi dengan
pengontrol suhu dan tekanan agar suhu mesin selalu stab il sesuai
dengan suhu kerja mesin.

Sedangkan Ching (2013 : 1) mengatakan :

Air cooling sistem is a sistem that uses air as a cooling agent. It is


commonly used in single cylinder engines such as motorcycles;
while liquid cooling sistem is known as the radiator sistem, a sistem
that uses liquid as a cooling agent and is used in a multi-cylinder
12

engine, such as cars and trucks. Radiator is the crucial components


in the car cooling sistem.

Pernyataan diatas dapat diartikan bahwa sistem pendingin air

dikenal sebagai sistem radiator, sistem yang menggunakan cairan

sebagai alat pendingin dan digunakan dalam mesin multi - silinder,

seperti mobil dan truk. Radiator adalah komponen penting dalam sistem

pendingin mobil.

Daryanto (1999 : 27) dalam bukunya menyatakan :

Mesin berpendingin zat cair menggunakan air sebagai media dengan


anti beku dan anti korosi ditambahkan zat tertentu untuk
membentuk suatu water coolant. Pemindahan panas dari komponen
- komponen kepada udara dilakukan oleh water coolant. Water
coolant beredar karena cairan yang panas naik dan cairan yang
dingin turun.

Sedangkan B.S. Anwir (1980:1) dalam bukunya menyatakan :

sistem pendingin air adalah sistem yang memompakan air sekeliling

motor dan mendinginkan air itu dalam sebuah radiator terpisah dengan

menggunakan kipas.

Gambar 2. Sistem pendingin air


Sumber :
13

a) Cara kerja sistem pendingin air saat mesin dalam keadaan dingin
Adapun cara kerja sistem pendingin air saat mesin dalam

keadaan dingin yaitu cairan pendingin diberi tekanan oleh pompa air

yang bersirkulasi. Pada saat ini termostat masih tertutup, cairan

bersirkulasi melalui selang by pass dan kembali ke pompa air


b) Cara kerja sistem pendingin air saat mesin dalam keadaan panas
Dan pada saat mesin dalam keadaan panas yaitu setelah mesin

panas termostat terbuka dan katup by pass tertutup dalam by pass

sirkuit. Cairan pendingin setelah menjadi panas didalam water jacket,

kemudian disalurkan ke radiator untuk didinginkan dengan kipas

pendingin.

Dari beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa sistem

pendingin air adalah suatu sistem dalam mesin yang berwujud air yang

berfungsi sebagai media pendingin mesin,supaya mesin dapat bekerja

berdasarkan temperatur kerja mesin.

2. Jenis Jenis Media Pendingin Air

Gupta (2006: 444) dalam bukunya mengatakan

In liquid-cooled system, water is generally used as a cooling


medium. however, other liquid or a mixture of water and other
liquids may also be used in the system to prevent freezing of the
coolant at lower temperatures

Dari kutipan diatas dapat diartikan bahwa, dalam sistem cairan

pendingin, air umumnya digunakan sebagai media pendingin. Namun, cairan

lain atau campuran air lainnya juga dapat digunakan dalam sistem untuk

mencegah pembekuan pendingin pada suhu yang lebih rendah. Media pada
14

sistem pendingin merupakan suatu zat fluida yang mengalir dan memiliki

fungsi untuk menjaga temperatur kerja mesin pada saat beroperasi.

a. Air

Nuijten (2007 : 3) dalam bukunya menyatakan :

Air disebut Pelarut universal (sedunia) karena air melarutkan lebih


banyak zat daripada cairan apapun. Ini berarti bahwa di mana air
mengalir, baik melalui tanah maupun melalui badan kita, air itu
membawa serta zat-zat berharga seperti zat kimia, zat mineral
(tambang) dan bahan gizi. Air mempunyai indeks panas khusus yang
tinggi. Ini berarti bahwa air dapat menyerap banyak panas, sebelum
air itu mulai menjadi panas. Inilah sebabnya air sangat berharga
untuk industri dan dalam radiator mobil sebagai pendingin. Indeks
panas khusus yang tinggi dari air juga membantu mengatur angka di
mana suhu udara berganti.

Dalam sistem pendingin, air berfungsi bebagai media pembawa panas

dari dalam mantel air ke radiator.

Daryanto (1997 : 50) dalam bukunya menyatakan :


air yang telah panas dalam mantel dialirkan ke radiator untuk
didinginkan, pendingin air ini dilakukan oleh udara yang mengalir
melalui kisi kisi radiator, sedangkan tarikan udara dilakukan oleh
kipas yang digerakkan oleh mesin.

Penggunaan air sebagai media pendingin radiator sangat tidak

dianjurkan oleh produsen otomotif, karena banyak kerugian yang dapat

ditimbulkan. Adanya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) didalam air

akan menyebabkan sifat kesadahan terhadap air tersebut. Kesadahan air

adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion

kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air

yang memiliki tingkat kesadahan yang terlalu tinggi dan dapat


15

menyebabkan kerugian. Salah satunya dapat menimbulkan karat atau

korosi pada alat-alat yang terbuat dari besi.

Berdasarkan tingkat kesadahannya, air dapat dibedakan atas beberapa

macam yaitu air lunak, air agak sadah, air sadah dan air sangat sadah.
Berikut table derajat kesadahan air berdasarkan kandungan kalsium

karbonat.
Tabel 6. Derajat Kesadahan Air
Kelas 1 2 3 4
Kesadahan,
0-55 56-100 101-200 201- 500
mg/lt
Derajat Sedikit Moderat Sangat
Lunak
kesadahan sadah sadah sadah
Sumber : Buku Pelestarian Sumber Daya Air 2002

b. Radiator Coolant

Made Ricki Murti /Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Cakram Vol.3 No.2.

Oktober 2009 mengatakan bahwa :

Radiator coolant merupakan zat additive untuk fluida radiator.


Fungsinya adalah untuk memperbesar koefisien perpindahan panas
konveksi pada fluida kerja radiator sehingga laju pembuangan panas
meningkat (Penyerapan panas oleh fluida di water jacket lebih
besar).

Disamping itu untuk memperbesar laju perpindahan panas konveksi

dari fluida ke permukaan dalam radiator, yang diikuti oleh konduksi

kepermukaan luar radiator, kemudian meningkatnya konveksi ke udara

luar sehingga panas yang terbuang menjadi lebih besar, water coolant

umumnya berupa air atau oli. Antifreeze yang dicampurkan dalam


16

coolant bertujuan untuk menurunkan titik beku. Sehingga coolant

terkadang diartikan sebagai antifreeze, karena pada titik didih 100OC air

dianggap mudah menguap. Sebaliknya pada titik beku 0OC, air mudah

membeku selain itu air membuat logam berkarat, dan meninggalkan

bekas mineral yang mengurangi kemampuan pendinginannya. Untuk

itulah beberapa bahan kimia ditambahkan pada coolant.


Dari beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa radiator

coolant merupakan bahan tambah air pada radiator dengan beberapa

fungsi. Fungsi radiator coolant antara lain untuk mencegah karat,

membantu proses pendinginan agar suhu mesin selalu dalam keadaan

stabil (suhu kerja).


Berikut beberapa spesifikasi merk radiator coolant yang beredar

dipasaran :
1) Super Long Life Coolant (SLLC)
Super Long Life Coolant (SLLC) merupakan cairan pendingin

yang sudah dicampur (50 % pendingin dan 50% air deionisasi),

sehingga tidak perlu lagi menambahkan air saat mengganti ataupun

menambah SLLC pada kendaraan. Jarak penggantian yang berlaku

untuk SLLC adalah setiap 80.000 km atau 48 bulan pemakaian.

Tabel 9. Spesifikasi Super Longlife Coolant


Physical Data
Product Super Long Life Coolant
Boiling Point 1080C
Melting Point (Freezing Point) less than 00C
Vapor Pressure Estimated 0.05 mmHgt at 200C
Chemical Family Ethylene Glycol (45-50%)
Density 1.08
Vapor Density (AIR = 1) Not determine
pH (Original) 7.6
Solubility in Water Infinite miscibility
Appearance and Color Pink dyed liquid
17

Usage 80.000 km 48 month


Sumber : Manufacturing IL Corporation

Dari tabel spesifikasi diatas, dapat dijelaskan bahwa radiator

coolant dengan merk Super Long Life Coolant (SLLC) memiliki titik

didih mencapai 108OC, titik beku kurang dari 0OC, tekanan uap

perkiraan 0,05 mmHgt pada 20OC, densitas (20OC) 1.08, densitas Uap

(AIR = 1) Tidak ditentukan. Coolant ini memiliki nilai pH sebesar 7.6,

kelarutan dalam air tidak terbatas.

2) Pertamina Coolant
Salah satu produk keluaran PT. Pertamina Lubricant mempunyai

kualitas dan kinerja yang sangat baik. Produk tersebut adalah

Pertamina Coolant yang ber-tagline Extrem Cool. Pertamina Coolant

mempunyai titik didih hingga 165 derajat celcius. Tingginya titik didih

yang dicapai ini memberikan kemampuan mendinginkan yang sangat

optimal, meskipun kinerja mesin sangat berat. Kemampuan

mendinginkan Pertamina Coolant jelas sangat istimewa. Tingginya titik

didih tak bisa dilepaskan dari racikan formula yang ditawarkan

Pertamina Coolant. Komposisinya terdiri dari 30% ethylene glycol dan

additive, sedangkan 70% adalah destillated water. Kandungan 30%

ethylene glycol dan additive membuat titik didihnya meningkat hingga

165 Celcius.
Tabel 8. Spesifikasi Pertamina Coolant
Physical Data
Product Pertamina Coolant
18

Boiling Point 1650C


Melting Point -36,60C
Vapor Pressure Not determined
Chemical Family Ethylene glycol (30%)
Evaporation rate: Not determined
Vapor Density 1.129 g/cm3
pH 7.9
Water content 4.2%
Appearance and odor Green liquid
Sumber : Pertamina Special Produck

Berdasarkan tabel spesifikasi diatas, dapat dijelaskan bahwa

radiator coolant merk Pertamina coolant memiliki nilai pH 7.9,

memiliki titik didih mencapai 1650C dan memiliki titik beku -360C.

3) Megacool Coolant
Megacool Coolant Radiator diproduksi oleh PT.Prima Jireh Jakarta

(Indonesia). Produsen menggunakan cairan pendingin yang mampu

dipergunakan untuk perlindungan terhadap karat, dapat ditambah air

biasa ( maksimal 50 % ) , FTHL ( Fast Transfer Heat Liquid) , tidak

mengandung Ethylene Glycol, cocok untuk segala merek mobil, dan

tidak merusak bahan metal termasuk aluminium.

Tabel 7. Spesifikasi Megacool Coolant


Physical Data
Product Megacool coolant
Boiling Point >1000C
Melting Point less than 00C
Vapor Pressure Not determined
Chemical Family 0%EG
Evaporation rate: Not determined
Vapor Density Not determined
pH 7
Solubility in Water Not determined
Appearance and odor Green liquid
Sumber : Megacools Easy Maintenance
19

Berdasarkan tabel spesifikasi diatas, dapat dijelaskan bahwa

radiator coolant merk Megacool coolant memiliki nilai pH 7, memiliki

titik didih mencapai lebih 1000C dan memiliki titik beku dibawah 00C.

4) Prestone Coolant
Prestone Coolant diproduksi oleh 55 Federal Road (Australia).

Tabel 10. Spesifikasi Prestone Coolant


Physical Data
Product Prestone coolant
Boiling Point 1680C
Melting Point -230C
Vapor Pressure Less than 0.1
Chemical Family Ethylene Glycol (80-96%)
Evaporation rate: Less than 1
Physical Data
Vapor Density 2.1
pH Not determined
Solubility in Water 100 %
Appearance and odor Green liquid
Sumber : Prestone Products Corporation

Berdasarkan tabel spesifikasi diatas, dapat dijelaskan bahwa

radiator coolant merk Prestone memiliki nilai pH yang belum

ditentukan, terdiri dari 80 % sampai 90% ethylene glycol, memiliki

titik didih mencapai 168OC dan titik bekunya hingga -23OC.

c. Kandungan Pada Radiator Coolant


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2013:43) dalam bukunya

menyatakan bahwa :
Selain ketinggian dan tekanan, hal yang dapat mempengaruhi titik
didih air adalah jumlah dan jenis antifreeze, disamping antifreeze juga
menurunkan titik beku air. Titik didih coolant akan naik jika
konsentrasi ethylene glycol semakin banyak, tetapi ethylene glycol
yang berlebihan akan menghambat perpindahan panas pada sistem
pendingin.

Sedangkan menurut purwadi (2009:2) menjelaskan bahwa Radiator

Coolant dibuat dengan mencampurkan cairan etilen glikol atau 1,2-


20

etanadiol dengan aquadestilata (air murni) dengan perbandingan tertentu

tergantung pada kebutuhan dan situasi/iklim dimana kendaraan bermotor

atau mesin tersebut digunakan.

Dari beberapa kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

radiator coolant dicampurkan dengan sebuah zat kimia yang disebut

dengan etilen glikol, sehingga dapat mempengaruhi temperatur mesin.

a. Etilen glikol

Etilen glikol (glikol) merupakan senyawa yang dapat digolongkan

sebagai polialkohol, berupa zat cair yang tidak berwarna, kental dan

berasa manis. Etilen glikol memiliki titik didih yang relatif tinggi 198 oC

dan titik bekunya -11,5oC, mudah larut dalam air. Cairan pendingin

berbasis Ethylene Glycol memberi dua keuntungan. Pertama

meningkatkan titik didih dan kedua menurunkan titik beku. Bahan

pencegah karat merupakan bahan yang ditambahkan untuk

perlindungan terhadap sistem.

Harold dalam Purwadi (2009:5) menjelaskan bahwa :

Etilen glikol seperti halnya air dapat membentuk ikatan hidrogen,


maka etilen glikol dapat bercampur dengan air pada segala
perbandingan, campuran etilen glikol dalam air banyak
digunakan sebagai cairan anti beku pada kendaraan bermotor
yang digunakan didaerah beriklim dingin atau panas.

Berikut ini dapat kita lihat pencampuran ethylene glycol dengan air :
21

Tabel 11.Titik didih untuk campuran air dan ethylene glycol

Sumber:Direktorat Pembinaan SMK 2013

Tabel 12. Titik beku untuk campuran air dan ethylene glycol

Sumber: http://www.engineeringtoolbox.com
Dari beberapa tabel diatas dapat kita lihat bahwa pencampuran air

dengan ethylene glycol yang benar akan dapat meningkatkan titik didih

air dan titik beku akan menjadi menurun, sehingga pencampuran air dan

ethylene glycol dapat mempengaruhi temperatur mesin. Tetapi

pencampuran ethylene glycol yang terlalu berlebihan juga tidak bagus

bagi mesin karena alasan viscositas.

3. Temperature Kerja Mesin

Giancoli (1998 : 446) dalam bukunya menjelaskan bahwa temperatur

merupakan ukuran mengenai panas atau dinginya benda. Dipihak lain,

Daryanto (1997 :143) dalam bukunya mengatakan Temperatur adalah suatu


22

penunjukan nilai panas atau nilai dingin yang dapat diperoleh/diketahui

dengan menggunakan suatu alat yang dinamakan termometer.

Jalius Jama (2008: 393) dalam bukunya menjelaskan :

Apabila temperatur mesin terlalu dingin, maka akan terjadi gangguan


salah satunya yaitu bahan bakar agak sukar menguap dan campuran
bahan bakar dengan udara menjadi gemuk. Hal ini menyebabkan
pembakaran menjadi tidak sempurna, untuk mengatasi gangguan
tersebut digunakanlah thermostat yang dirancang untuk
mempertahankan temperatur cairan pendingin dalam batas yang
diinginkan.
Sedangkan Hugh D Young (2002:457) dalam bukunya mengatakan :

Konsep suhu (temperature) berakar dari ide kualitatif panas dan


dingin yang berdasarkan pada indera sentuhan kita. Suatu benda yang
terasa panas umumnya mimiliki suhu yang lebih tinggi daripada benda
serupa yang dingin. Hal ini tidak cukup jelas, dan indera dapat
dikelabui. Tetapi banyak sifat benda yang dapat diukur tergantung pada
suhu. Panjang batang logam, tekanan uap dalam boiler, kemampuan
suatu kawat mengalirkan arus listrik, dan warna suatu benda panas yang
berpendar, semua tergantung suhu.

a. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Temperatur Kerja Mesin


Menurut V ganesan (2004:476) dalam bukunya mengatakan :

It may be noted that the engine heat transfer depends upon many
parameters. Unless the effect of these parameters is known, the
design of a proper cooling system will be difficult. In this section,
the effect of various parameters on engine heat transfer is briefly
discussed : Fuel- Air ratio, compression ratio, spark advance,
preignition and knocking, engine output, cylinder wall temperatur.
Dari pernyataan diatas dapat diartikan bahwa perpindahan panas

mesin tergantung pada banyak faktor. Faktor - faktor tersebut diantaranya:

rasio fuel - air, rasio kompresi, spark advance, preignition dan mengetuk,

output mesin, temperatur dinding silinder.


23

Sedangkan Willard W.Pulkrabek (2004:327) dalam bukunya menyatakan

mengatakan :

Perpindahan panas dalam mesin tergantung pada banyak variabel


yang berbeda sehingga sulit untuk mengkorelasikan satu mesin
dengan yang lainnya. Variabel - variabel tersebut meliputi rasio
udara-bahan bakar, ukuran mesin, kecepatan mesin, beban, waktu
pengapian, rasio kesetaraan bahan bakar, injeksi air cooling-
evaporasi, suhu udara masuk, suhu pendingin, bahan mesin, rasio
kompresi, knocking, swirl dan squish.
Dari beberapa pernyataan diatas dapat diuraikan beberapa faktor

yang mempengaruhi temperatur kerja mesin, diantaranya :

1) Ukuran Mesin

Willard W. Pulkrabek (2004:327) dalam bukunya mengatakan :

If two geometrically similar engines of different size


(displacement) are run at the same speed, and all other variables
(temperature, AF,fuel,etc.) are kept as close to the same as
possible, the larger engine will have a greater absolute heat loss
but will be more thermally efficient. If the temperature and
materials of both engine are the same,heat loss fluxes to the
surroundings per unit area will be about the same, but the
absolute heat loss of the larger engine will be greater due to its
larger surface areas.

Dari pernyataan diatas dijelaskan, jika ada dua mesin geometris

yang sama/mirip dengan ukuran yang berbeda (perpindahan)

dijalankan pada kecepatan yang sama, dan semua variabel lain (suhu,

bahan bakar, dll) disamakan, maka mesin yang lebih besar akan

memiliki kehilangan panas mutlak yang lebih besar tapi akan lebih

efisien secara termal. Jika suhu dan bahan dari kedua mesin itu adalah
24

sama, maka fluk-fluk kehilangan panas ke lingkungan per satuan luas

akan hampir sama, tetapi kehilangan panas absolut pada mesin yang

lebih besar akan lebih besar/hebat karena luas permukaannya yang

lebih besar.

2) Kecepatan Mesin

Willard W. Pulkrabek (2004:328) dalam bukunya mengatakan :

As engine speed is increased, gas flow velocity into and out of the
engine goes up, with a resulting rise in turbulence and convection
heat transfer coeffecients. This increases heat transfer occuring
during the intake and exhaust strokes and even during the early
part of the compression stroke.
Pernyataan diatas dapat diartikan bahwa selama kecepatan mesin

ditingkatkan, kecepatan aliran gas didalam dan diluar mesin akan

meningkat. Sehingga mengakibatkan kenaikan turbulensi dan

koefesien perpindahan panas konveksi. Peningkatan perpindahan panas

ini terjadi selama langkah intake dan exhaust dan bahkan selama

bagian awal dari langkah kompresi. Berikut ini dapat kita lihat

pengaruh kecepatan mesin terhadap temperatur kerja mesin :


25

Gambar 3. Pengaruh kecepatan mesin terhadap temperature


Sumber : Willard W. Pulkrabek (2004:328)

3) Beban
Willard W. Pulkrabek (2004:329) dalam bukunya mengatakan :
As the load on an engine is increased (going uphill, pulling a
trailer), the throtel must be opened further to keep the engine
speed constant. This cause less pressure drop across the throttle
and higher pressure and density in the intake system. Mass flow
rate of air and fuel, therefore, goes up with load at a given
engine speed.
Dari pernyataan diatas dijelaskan bahwa, selama beban pada

mesin meningkat (ketika menanjak, menarik sebuah trailer), throtel

harus dibuka lebih besar untuk menjaga kecepatan konstan mesin. Ini

menyebabkan penurunan tekanan jatuh (pressure drop) pada throttle

dan tekanan serta kepadatan yang lebih tinggi dalam sistem intake.

sehingga tingkat aliran massa udara dan bahan bakar naik dengan

beban pada kecepatan mesin yang diberikan.

4) Waktu Pengapian

Menurut V Ganesan (2004:477) dalam bukunya mengatakan :

A spark advance more than the optimum as well as less than the
optimum will result in increased heat rejection to the cooling
system. This is mainly due to the fact that the spark timing other
than MBT value (Minimum spark advance for Best Torque) will
reduce the power output and thereby more heat is rejected.
26

Dari kutipan diatas dapat diartikan bahwa pemajuan saat

pengapian melebihi dari optimal serta kurang optimal akan

mengakibatkan peningkatan penolakan panas ke sistem pendingin. Hal

ini disebabkan terutama oleh fakta bahwa waktu pengapian yang

berbeda dengan nilai MBT (kenaikan saat pengapian minimum untuk

Torsi Terbaik) akan mengurangi output daya, dan dengan demikian

lebih banyak panas yg ditolak.

Sedangkan Willard W. Pulkrabek (2004 : 330) mengatakan :

With spark timing set either too early or too late, combustion
effeciency and average temperaturs will be lower. these lower
temperatures will give less peak heat loss, but the heat losses will
last over a longer lenght of time and the overall energy loss will
be greater. higher power output is thus gained with correct
ignition timing. late ignition timing extends the combustion
process longer into the expansion stroke, resulting in higher
exhaust temperature and hotter exhaust valves and ports.
Pernyataan diatas menjelaskan bahwa dengan pengaturan waktu

percikan busi yang terlalu dini atau terlalu lambat, efisiensi

pembakaran dan temperaturs rata-rata akan menjadi lebih rendah.

Temperatur yang lebih rendah ini akan mengakibatkan pengurangan

panas yang lebih sedikit, tetapi kehilangan panas akan berlangsung

selama panjang waktu yang lebih lama dan keseluruhan energi yang

hilang akan lebih besar. Dengan demikian output daya yang lebih

tinggi diperoleh pada waktu pengapian yang tepat. waktu pengapian

yang terlambat memperpanjang proses pembakaran yang lebih lama


27

sampai langkah ekspansi, mengakibatkan suhu exhaust yang lebih

tinggi dan lebih panasnya katup serta port pada exhaust.

5) Rasio Kesetaraan Bahan Bakar

Willard W. Pulkrabek (2004:330) mengatakan :

In an SI engine, maksimum power is obtained with an


equivalence ratio of about =1.1. This is also when the greatest
heat losses will occur, with lower losses when the engine runs
either leaner or richer.

Dari pernyataan diatas dijelaskan bahwa dalam sebuah mesin SI,

daya maksimum diperoleh dengan rasio kesetaraan =1.1. Hal ini juga

terjadi ketika kerugian panas terbesar akan terjadi, dengan kerugian

yang lebih rendah saat mesin beroperasi pada keadaan yang lebih kurus

(lean) atau lebih kaya (rich).

6) Evaporasi Pendinginan

Willard W. Pulkrabek (2004:330) dalam bukunya mengatakan :

As fuel is vaporized during intake and start of compression,


evaporative cooling lowers the intake temperature and raises
intake density. This increases the volumetric efficiency of the
engine. Fuels with high latent heats, like alcohols, have greater
evaporative cooling and generally make for cooler running
engines. If an engine is operated fuel rich, evaporation of the
excess fuel will lower cycle temperatures.
Dari pernyataan diatas dapat dijelaskan bahwa Sebagian bahan

bakar menguap selama asupan dan mulai kompresi, pendinginan

evaporatif menurunkan suhu intake dan meningkatkan kepadatan


28

asupan. Hal ini meningkatkan efisiensi volumetrik mesin. Bahan Bakar

dengan memanaskan laten yang tinggi, seperti alkohol, memiliki

pendingin menguapkan lebih besar dan umumnya membuat mesin

berjalan lebih dingin. Jika mesin dioperasikan bahan bakar yang kaya,

penguapan bahan bakar berlebih akan menurunkan suhu siklus.

7) Suhu Udara Masuk

Willard W. Pulkrabek (2004:331) dalam bukunya mengatakan :

Increasing inlet air temperature to an engine results in a


temperature increase over the entire cycle, with a resulting
increase in heat losses. A 100C increase in inlet temperature
will give a 10-15% increase in heat losses. Increasing cycle
temperatures also increases the chance of knock. Turbocharged
or supercharged engines generally have higher inlet air
temperatures due to compressive heating. Many systems have
aftercooling to reduce air temperature before it enters the engine
cylinders.

Dari pernyataan diatas dapat dijelaskan bahwa Peningkatan suhu

udara masuk ke hasil mesin dalam kenaikan suhu di seluruh siklus,

dengan peningkatan mengakibatkan kerugian panas. Peningkatan

100C suhu inlet akan memberikan peningkatan 10-15% kerugian

panas. Peningkatan suhu siklus juga meningkatkan kemungkinan

ketukan. Mesin turbocharged atau supercharged umumnya memiliki

suhu udara masuk yang lebih tinggi akibat pemanasan tekan. Banyak

sistem telah aftercooling untuk mengurangi suhu udara sebelum

memasuki mesin silinder.


29

8) Temperatur Air Pendingin

Menurut Willard W. Pulkrabek (2004:333) dalam bukunya :

Increasing the coolant temperature of an engine (hotter


thermostat) results in higher temperatures of all cooled parts.
There is little change in the temperatures of the spark plugs and
exhaust valves. Knock is a greater problem in hotter engines.
Dari pernyataan diatas dapat dijelaskan bahwa Dari pernyataan

diatas dapat diartikan bahwa, peningkatan suhu pendingin dari mesin

(panas thermostat) menghasilkan temperatur yang lebih tinggi pada

semua komponen yang didinginkan. Ada sedikit perubahan pada suhu

busi dan katup buang.Tetapi terdapat sebuah potensi/ kemungkinan

masalah knock (ketukan) yang lebih besar pada mesin yang panas.

9) Bahan Mesin
Willard W. Pulkrabek (2004:333) dalam bukunya mengatakan :
Different materials used in the manufacture of cylinder and
piston component result in different operating temperature.
Aluminium pistons, with their higher thermal conductivity,
generally operate about 30o 80oC cooler than equivalent cast-
iron pistons. Ceramic-faced piston have poor thermal
conductivity, resulting in very high temperatur.

Dapat dijelaskan bahwa, penggunaan bahan berbeda dalam

pembuatan silinder dan komponen piston menghasilkan suhu operasi

yang berbeda pula. Piston aluminium, dengan konduktivitas termal

tingginya, umumnya beroperasi sekitar 30 80C lebih dingin

daripada piston besi tuang. Piston berdinding keramik memiliki

konduktivitas termal yang sedikit, sehingga memiliki temperatur yang

sangat tinggi.

10) Rasio Kompresi


30

Willard W. Pulkrabek (2004:333) dalam bukunya mengatakan :

Changing the compression ratio of an engine changes the heat


transfer to the coolant very little. Increasing the compression
ratio decreases heat transfer slightly up to about rc = 10.
Increasing the compression ratio above this value increases heat
transfer slightly. There is about a 10% decrease in heat transfer
as the compression ratio is raised from 7 to 10. These changes in
heat transfer occur mainly because of the combustion
characteristics that change as the compression ratio is raised
(e.g., flame speed, gas motion, etc.). the higher the compression
ratio, the more expansion cooling will occur during the power
stroke, resulting in cooler exhaust.

Dari pernyataan diatas dapat dijelaskan bahwa perubahan rasio

kompresi mesin dapat merubah perpindahan panas ke pendingin

(coolant) dengan sangat sedikit. peningkatan rasio kompresi dapat

menurunkan sedikit perpindahan panas sampai sekitar rc = 10.

Meningkatkan rasio kompresi di atas nilai ini dapat meningkatkan

sedikit perpindahan panas. Ada sekitar 10% penurunan dalam

perpindahan panas selama rasio kompresi dinaikkan dari 7 sampai 10.

Perubahan-perubahan dalam transfer panas ini terjadi terutama karena

karakteristik pembakaran yang berubah selama rasio kompresi

dinaikkan (misalnya, kecepatan nyala, gerak gas, dll). semakin tinggi

rasio kompresi, semakin banyak/ besar ekspansi pendinginan yang

akan terjadi selama langkah daya,sehingga mengakibatkan exhaust

mendingin.

11) Ketukan

Willard W. Pulkrabek (2004:333) dalam bukunya mengatakan :


31

When knock occur, the temperature and pressure are raised in


very localized spots within the combustion chamber. This rise in
local temperatur can be very severe and, in extreme cases, can
cause surface damage to pistons and valves.

Dapat dijelaskan dari pernyataan diatas bahwa Ketika ketukan

terjadi, suhu dan tekanan meningkat di titik-titik tertentu (lokal) pada

ruang pembakaran. Kenaikan temperatur lokal bisa sangat parah dan,

dalam kasus yang ekstrim, dapat menyebabkan kerusakan permukaan

piston dan katup.

Sedangkan menurut V Ganesan (2004:477) dalam bukunya

mengatakan :

Effect of preignition is the same as advancing the ignition


timing. Large spark advance might lead to erratic running and
knocking. Though knocking causes large changes in local heat
transfer conditions, the over-all effect on heat transfer due to
knocking appears to be negligible.

Dari pernyataan diatas dapat diartikan bahwa efek preignition

sama dengan efek pemajuan timing pengapian. Peningkatan pengapian

yang besar dapat mengakibatkan perpindahan (running) yang tidak

menentu dan knocking. Meskipun knocking menyebabkan perubahan

besar dalam kondisi perpindahan panas, efek keseluruhan pada

perpindahan panas karena munculnya knocking akan diabaikan.

4. Perpindahan Panas

Menurut Purwanto (2013 : 19) dalam bukunya dinyatakan :


32

Perpindahan panas ialah proses berpindahnya energi dari suatu tempat


ke tempat yang lain dikarenakan adanya perbedaan suhu ditempat-
tempat tersebut. Pada dasarnya terdapat tiga macam proses
perpindahan energi panas. Proses tersebut adalah perpindahan energi
secara konduksi, konveksi, dan radiasi.
Sedangkan menurut Wikipedia yang diakses pada tanggal 07 Juli 2015

menyatakan bahwa :

Perpindahan panas adalah salah satu dari disiplin ilmu teknik termal
yang mempelajari cara menghasilkan panas, menggunakan panas,
mengubah panas, dan menukarkan panas di antara sistem fisik.
Perpindahan panas diklasifikasikan menjadi konduktivitas termal,
konveksi termal, radiasi termal, dan perpindahan panas melalui
perubahan fasa.
Dari beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa perpindahan

panas adalah Perpindahan kalor (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan

perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara

benda atau material. Dan perpindahan panas dikelompokkan atas

perpindahan panas secara konduksi, konveksi, dan radiasi.

a. Perpindahan Panas Konduksi

Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor

dimana kalor mengalir dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah

yang bertemperatur rendah dalam suatu medium (padat, cair atau gas) atau

antara medium-medium yang berlainan yang bersinggungan secara

langsung sehingga terjadi pertukaran energi dan momentum.

Perpindahan panas yang terjadi pada perpindahan panas konduksi

adalah berbanding dengan gradien suhu normal sesuai dengan persamaan

berikut :
33

dT
q=kA
dX

Keterangan :

q = Laju Perpindahan Panas (kj / det,W)

k = Konduktifitas Termal (W/m.C)

A = Luas Penampang (m)

dT = Perbedaan Temperatur ( C, F )

dX = Perbedaan Jarak (m / det)

T = Perubahan Suhu ( C, F )

b. Perpindahan Panas Secara Konveksi

Konveksi adalah perpindahan panas karena adanya gerakan/aliran/

pencampuran dari bagian panas ke bagian yang dingin. Contohnya adalah

kehilangan panas dari radiator mobil. Menurut cara menggerakkan

alirannya, perpindahan panas konveksi diklasifikasikan menjadi dua,

yakni konveksi bebas (free convection) dan konveksi paksa (forced

convection). Bila gerakan fluida disebabkan karena adanya perbedaan

kerapatan karena perbedaan suhu, maka perpindahan panasnya disebut

sebagai konveksi bebas (free / natural convection). Bila gerakan fluida

disebabkan oleh gaya pemaksa / eksitasi dari luar, misalkan dengan

pompa atau kipas yang menggerakkan fluida sehingga fluida mengalir di

atas permukaan, maka perpindahan panasnya disebut sebagai konveksi

paksa (forced convection). (Jurnal Teknik Mesin Fakultas Teknik.

Universitas Pandanaran : 2)
34

Laju perpindahan kalor dipengaruhi oleh luas permukaan perpindahan

kalor (A) dan beda menyeluruh antara permukaan bidang dengan fluida

yang dapat dirumuskan sebagai berikut (Holman, 1999 : 5) :

q = h. A ( Tw Tx )

Dimana :

h = Koefisien perpindahan panas konveksi [ kkal/m C]

A = Luas penampang [m]

Tw = Suhu Plat [C]

Tx = Suhu Fluida [C]

c. Perpindahan Panas secara radiasi


Perpindahan panas radiasi adalah proses di mana panas mengalir dari

benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda-benda

itu terpisah di dalam ruang, bahkan jika terdapat ruang hampa di antara

benda - benda tersebut.


d. Perpindahan Panas dalam Ruang Pembakaran dan Sistem Pembuang
Pulkrabek (2004:313) menyatakan :
Selama suhu gas puncak pembakaran disekitar 3000 K terjadi dalam
silinder, dan perpindahan panas yang efektif diperlukan untuk
menjaga dinding silinder dari overheating. Konveksi dan konduksi
adalah cara perpindahan panas utama menghilangkan energi dari
ruang pembakaran dan menjaga dinding silinder dari mencair.

Sedangkan Heywood (1988 : 682) dalam bukunya menyatakan bahwa

perpindahan panas konvektif di intake dan di exhaust sistem yang

didorong oleh kecepatan aliran jauh lebih tinggi dari pada perpindahan

panas ke silinder.

Kerugian panas dari sistem pembuangan mempengaruhi emisi dan

turbocharging. Beberapa mesin besar memiliki katup buang berongga


35

batang yang mengandung natrium. Ini bertindak sebagai pipa panas dan

sangat efektif dalam menghilangkan panas dari daerah permukaan

katup. Sedangkan katup yang solid batang menghilangkan panas dengan

konduksi saja, pipa panas menggunakan siklus perubahan fasa untuk

menghilangkan jumlah yang jauh lebih besar dari energi.

natrium cair menguap pada akhir panas dari batang katup berongga dan

kemudian dikondensasi kembali menjadi cair pada akhir dingin. Karena

transfer besar energi selama perubahan fasa, konduksi panas yang efektif

di batang akan lebih besar dari konduksi murni.

B. Penelitian yang relevan


Penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh :
1. Eko Priyanda (2014), Perbandingan Suhu Kerja Mesin Untuk Beberapa Merk

Minyak Pelumas Pada Sepeda Motor Matic Yamaha Mio. Berdasarkan hasil

penelitian didapatkan rata rata dari masing masing pelumas diantaranya untuk

pelumas merk top 1 saat dibandingkan dengan pelumas asli yamaha yamalube

pada putaran mesin 1800 rata ratanya 1,43 (tidak signifikan) sedangkan untu

putaran 3000 dan 2500 rata ratanya 4,24 dan 5,89 (signifikan), sedangkan

untuk pelumas merk enduro rata ratanya pada putaran 1800, 3000 dan 2500

(6,89, 6,28 dan 8,25) maka didaptkan hasil keseluruhan yang signifikan dan

pelumas dengan merk Castrol pada saat putaran mesin 1800, 3000 dan 2500

didapatkan rata ratanya (4,78, 1,80 (tidak signikan) dan 9,13).


2. Dwi Randa Ariga (2015), Perbandingan Penggunaan Aditif pada Sistem

Pendingin Air Terhadap Tingkat Panas Mesin Mobil Toyota Avanza 1.3 G

M/T. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan masing - masing merek air


36

pendingin (Air biasa, SLLC, DexCool, dan Top 1) yang digunakan memiliki

kenaikan temperatur yang berbeda pada setiap putaran mesinnya.


Adapun perbedaan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian

diatas terdapat pada cairan pendingin yang digunakan, jenis mobil, dan hasil

data yang diperoleh.

C. Kerangka Berpikir
Pada penelitian ini akan dicari Perbandingan penggunaan antara

beberapa cairan pendingin terhadap temperatur kerja mesin pada mobil

Toyota Avanza 1,5 S M/T.

Pengujian Mobil Toyota


Avanza 1.5 S M/T

Memasukan beberapa cairan


radiator

Coolant Coolant Tipe Coolant Tipe Coolant Tipe D

Tipe A B C

0% Ethylene 30% Ethylene 50% Ethylene 80% - 96%

Glycol Glycol Glycol Ethylene Glycol


37

Megacool Pertamina Super Long Prestone

Coolant Coolant Life Coolant Coolant

Uji
Temperatur Kerja Mesin

Olah Data

Hasil
Gambar 2 : Proses Pengujian pada Cairan radiator

D. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kerangka teoritis dan kerangka berpikir diatas, maka dapat

diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut:


1. Berapa temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T

menggunakan cairan Super Long Life Coolant?


2. Berapa temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T

menggunakan cairan Pertamina Coolant?


3. Berapa temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T

menggunakan cairan Megacool Coolant?


4. Berapa temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T

menggunakan cairan Prestone Coolant?


5. Bagaimana perbandingan temperatur kerja mesin mobil Toyota Avanza 1.5

S M/T untuk semua jenis cairan pendingin radiator??


38

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen. Lufri (2005:60)

mendefinisikan penelitian eksperimen adalah penelitian yang mengadakan

perlakuan (manipulasi) terhadap variabel penelitian (variable bebas).

Kemudian,mengamati konsekuensi perlakuan tersebut terhadap objek

penelitian (variable terikat). Penelitian ini menggunakan model eksperimen

The Posttest Only Control Design, dimana penelitian ini hanya diberi perlakuan

dan diobservasi perubahan yang ada akibat perlakuan tersebut.


Penelitian ini dimaksud untuk mengetahui Perbandingan cairan pendingin

radiator terhadap temperatur kerja mesin pada mobil Toyota Avanza 1,5 S M/T.

Jadi penelitian ini dilakukan dengan empat tahap, yaitu menggunakan empat

jenis cairan pendingin yang berbeda pada satu jenis mobil.

B. Definisi Operasional dan Variabel Penelitian


39

1. Definisi Operasional

Beberapa definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini

diantaranya :

a. Coolant Tipe A
36 radiator yang tidak mengandung
Coolant Tipe A adalah cairan pendingin

ethylene glycol (Megacool coolant) yang akan digunakan pada sistem

pendingin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T.


b. Coolant Tipe B
Coolant Tipe B adalah cairan pendingin radiator yang mengandung 30%

ethylene glycol (Pertamina Coolant) yang akan digunakan pada sistem

pendingin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T.


c. Coolant Tipe C
Coolant Tipe C adalah cairan pendingin radiator yang mengandung 50%

ethylene glycol (Super Long Life Coolant) yang akan digunakan pada

sistem pendingin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T.


d. Coolant Tipe D
Coolant Tipe D adalah cairan pendingin radiator yang mengandung 80% -

96% ethylene glycol (Prestone Coolant) yang akan digunakan pada sistem

pendingin mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T.


e. Temperatur Kerja mesin
Temperatur yang dimaksud adalah tempertur kerja mesin mobil Toyota

Avanza 1,5 S M/T yang diukur secara berkala selama 180 sekon dengan

variasi putaran 750 RPM, 1500 RPM, dan 3000 RPM.


2. Variabel Penelitian
40

Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:
a. Variabel Bebas

Variable bebas dalam penelitian ini adalah cairan pendingin Tipe A

(Megacool Coolant), Tipe B (Pertamina Coolant), Tipe C (Super Long

Life Coolant) dan Tipe D (Prestone Coolant).

b. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah

temperatur kerja mesin.

c. Variabel Kontrol

Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah putaran mesin 750

rpm, 1500 rpm, dan 3000 rpm, temperatur lingkungan, kecepatan aliran

udara dan kondisi mobil yang sama saat penelitian dilakukan, dan waktu

pengujian 180 sekon.

C. Objek Penelitian

Adapun yang menjadi objek penelitian ini adalah temperatur kerja mesin pada

masing - masing cairan pendingin ketika mesin dinyalakan.

D. Jenis dan Sumber Data


1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data

primer adalah data yang diperoleh secara langsung pada saat pengujian

dilakukan berupa temperatur panas pada engine kendaraan. Sedangkan data


41

sekunder adalah data yang mempunyai hubungan dengan topik penelitian

yang diperoleh dari sejumlah referensi sebagai data penguat penelitian.

2. Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini diperoleh dari hasil pengujian

temperatur mesin mobil Toyota Avanza 1,5 S M/T yang dilaksanakan di

Workshop Teknik Otomotif Universitas Negeri Padang.


E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Alat Penelitian
a) Scan Tool, digunakan untuk mengetahui seberapa besar temperatur kerja

mesin pada saat beroperasi.


b) RPM Tester, yang digunakan untuk melihat kecepatan RPM pada saat

pengujian.
c) Stopwatch, digunakan untuk menghitung lamanya waktu pengujian
2. Bahan Penelitian
Adapun yang menjadi bahan penelitian adalah sebuah mobil Toyota

Avanza 1,5 S M/T dengan spesifikasi sebagai berikut :

Tabel 13. Spesifikasi mobil Toyota Avanza 1,5 S M/T


N
Spesifikasi Keterangan
o
1 Tipe Mesin IL,4 Cyl,16V, DOHC,VVT-i
2 Isi Silinder 1,495 cc
3 Daya Maksimum 109/6,000
4 Torsi Maksimum 14,94/4,400
5 Kapasitas Tangki 45 Liter
6 Panjang 4,120 meter
7 Lebar 1,630 meter
N
Spesifikasi Keterangan
o
8 Tinggi 1,695 meter
9 Jarak Poros Roda 2,655 meter
10 Jarak Pijak Depan 1,415 meter
42

11 Jarak Pijak belakang 1,425 meter


12 Berat Kosong 1,070 Kg
13 Tipe 5 speed M/T
14 Sistem kemudi With (Electric Power Steering)
Macpherson Strut with coil
15 Suspensi Depan
spring
4 Link w / lateral rod with coil
16 Suspensi Belakang
spring
17 Rem Depan Disc
18 Rem Belakang Drum
Sumber : www.toyota.co.id

F. Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian yang dilakukan sebagai berikut :
1. Mempersiapkan alat dan bahan.
a. Sebelum pengujian dilakukan,mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T yang

digunakan dibukak thermostat dan fannya.


b. ScanTool, RPM Tester, dan stopwatch dalam kondisi telah terkalibrasi.
c. Ember, dan beberapa jenis cairan pendingin yang akan digunakan.
2. Langkah pengujian.
a. Keluarkan terlebih dahulu cairan pendingin yang sedang berada dalam

radiator.
b. Isi kembali radiator dengan cairan pendingin Megacool coolant.
c. Panaskan mesin hingga suhu kerja, yaitu sekitar 85C.
d. Lakukan pengujian pada saat putaran 750 rpm, 1500 rpm, dan 3000

rpm, masing masing selama 180 sekon.


e. Kemudian hitung temperatur masing-masing putaran dan lakukan

sebanyak 2 kali.
3. Lakukan juga langkah seperti No.2 terhadap cairan pendingin Pertamina

Coolant, Preston Coolant, dan Super Long Life Coolant.


4. Lakukan analisis data.

G. Teknik dan Alat Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data adalah dengan pengambilan langsung pada

mobil yang sedang diuji dengan menggunakan alat pengukur suhu dan

RPM tester untuk menentukan putaran mesin, sedangkan alat pengumpul


43

data berupa tabel - tabel, sehingga menghasilkan grafik temperatur kerja

mesin pada mobil yang diuji.


Tabel 14: Pengambilan data.
Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Megacool 750 180
Coolant 1500 180
3000 180
Pertamina 750 180
Coolant 1500 180
3000 180
Super Long 750 180
Life 1500 180
Coolant 3000 180
Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm)
Prestone 750 180
Coolant 1500 180
3000 180

H. Teknik Analisis Data


Untuk menganalisa keseluruhan data yang diperoleh dan mengungkapkan

hasil pengukuran pada masing-masing cairan pendingin terhadap temperatur

kerja mesin maka dilakukan analisa sebagai berikut :


1 Data temperatur kerja mesin yang diperoleh dari Scantool.
2 Kemudian data hasil pengujian dibandingkan antara pengujian pertama

dengan pengujian kedua, dengan rumus :

M=
x
n (Anas Sudijo,2003 : 75)

Keterangan :
M = Mean (rata-rata)
x = Jumlah Data
n = banyak Spesimen
3 Membandingkan nilai rata-rata dari masing-masing pengujian statistik

berkorelasi, adapun rumus yang digunakan adalah rumus persentase.


44

n
P= x 100
N

Keterangan :
P = Angka persentase yang ingin didapatkan.
N = Temperatur kerja mesin menggunakan cairan standar.
n = Selisih temperature kerja mesin cairan x dengan cairan y

4 Kemudian untuk melihat hasil perbandingan temperatur kerja mesin

pada masing-masing cairan pendingin dapat menggunakan grafik

hubungan perputaran mesin dengan tingkat temperatur kerja mesin.


45

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Workshop Jurusan

Otomotif, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang maka di dapatkan hasil

yang dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

1. Data hasil pengujian temperature kerja mesin

Tabel 15: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator SLLC.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Super Long 750 180 88 87 87.5
Life 1500 180 96 95 95.5
Coolant 3000 180 102 101 101.5

Tabel 16: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator Pertamina.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Pertamina 750 180 88 89 88.5
Coolant 1500 180 96 96 96
3000 180 104 105 104.5

Tabel 17: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator Megacool.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Megacool 750 180 92 92 92
46

Coolant 1500 180 101 101 101


3000 180 111 112 111.5

Tabel 18: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator Prestone.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
43
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Prestone 750 180 90 92 91
Coolant 1500 180 96 98 97
3000 180 108 108 108

Berdasarkan tabel 15 data hasil pengujian diatas dapat dilihat bahwa

masing - masing cairan pendingin mempunyai temperatur yang berbeda - beda

yaitu untuk Super Long Life Coolant pada putaran 750 temperaturnya 87.5C,

dan untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 95.5C, sedangkan pada putaran

3000 temperaturnya 101.5C.

Berdasarkan tabel 16 data hasil pengujian diatas dapat dilihat bahwa

masing - masing cairan pendingin mempunyai temperatur yang berbeda - beda

yaitu untuk Pertamina coolant pada putaran 750 temperaturnya 88.5C, dan

untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 96C, sedangkan pada putaran 3000

temperaturnya 104C.

Berdasarkan tabel 17 data hasil pengujian diatas dapat dilihat bahwa

masing - masing cairan pendingin mempunyai temperatur yang berbeda - beda

yaitu untuk Megacool Coolant pada putaran 750 temperaturnya 92C, dan

untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 101C, sedangkan pada putaran 3000

temperaturnya 111.5C.
47

Berdasarkan tabel 18 data hasil pengujian diatas dapat dilihat bahwa

masing - masing cairan pendingin mempunyai temperatur yang berbeda - beda

yaitu untuk Prestone pada putaran 750 temperaturnya 91C, dan untuk putaran

mesin 1500 temperaturnya 97C, sedangkan pada putaran 3000 temperaturnya

108C.

Grafik Pengujian Suhu Kerja Mesin

115
113
111
109
107
105 104.5
103
101 101.5
SLLC
99
Pertamina
97 96
95 95.5

93
91
88.5
89
87 87.5
85
750 1500 3000

Gambar 3. Grafik Perbandingan temperatur kerja mesin SLLC dengan


Pertamina Coolant selama 180 sekon.

Berdasarkan gambar 3 diatas dapat dilihat perbandingan temperatur

kerja mesin antara cairan pendingin Super Long Life Coolant dengan

Pertamina Coolant selama 180 sekon pada setiap putaran. Temperatur kerja

mesin menggunakan cairan pendingin Pertamina Coolant lebih tinggi

dibandingkan dengan cairan pendingin Super Long Life Coolant, yakni


48

menggunakan cairan pendingin radiator Super Long Life Coolant pada putaran

750 temperaturnya 87.5C, dan untuk putaran mesin 1500 temperaturnya

95.5C, sedangkan pada putaran 3000 temperaturnya 101.5C, sedangkan

menggunakan Pertamina coolant pada putaran 750 temperaturnya 88.5C, dan

untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 96C, sedangkan pada putaran 3000

temperaturnya 104.5C.

115
113
111 111.5

109
107
105
103 101
101 101.5
SLLC
99
Megacool
97
95 95.5

93 92
91
89
87 87.5

85
750 1500 3000

Gambar 4. Grafik Perbandingan temperatur kerja mesin SLLC dengan


Megacool Coolant 180 sekon.

Berdasarkan gambar 4 diatas dapat dilihat perbandingan temperatur kerja


mesin antara cairan pendingin Super Long Life Coolant dengan Megacool
Coolant selama 180 sekon pada setiap putaran. Temperatur kerja mesin
menggunakan cairan pendingin Megacool Coolant lebih tinggi dibandingkan
dengan cairan pendingin Super Long Life Coolant, yakni menggunakan cairan
pendingin radiator Super Long Life Coolant pada putaran 750 temperaturnya
49

87.5C, dan untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 95.5C, sedangkan pada
putaran 3000 temperaturnya 101.5C, sedangkan menggunakan Megacool
Coolant pada putaran 750 temperaturnya 92C, dan untuk putaran mesin 1500
temperaturnya 101C, sedangkan pada putaran 3000 temperaturnya 111.5C.

115
113
111
109
108
107
105
103
101 101.5
SLLC
99
Prestone
97 97
95 95.5

93 91
91
89
87 87.5

85
750 1500 3000

Gambar 5. Grafik perbandingan temperatur kerja mesin SLLC dengan


Prestone Coolant selama 180 sekon.

Berdasarkan gambar 5 diatas dapat dilihat perbandingan temperatur kerja


mesin antara cairan pendingin Super Long Life Coolant dengan Prestone
Coolant selama 180 sekon pada setiap putaran. Temperatur kerja mesin
menggunakan cairan pendingin Prestone Coolant lebih tinggi dibandingkan
dengan cairan pendingin Super Long Life Coolant, yakni menggunakan cairan
pendingin radiator Super Long Life Coolant pada putaran 750 temperaturnya
87.5C, dan untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 95.5C, sedangkan pada
putaran 3000 temperaturnya 101.5C, sedangkan menggunakan Prestone
50

Coolant pada putaran 750 temperaturnya 91C, dan untuk putaran mesin 1500
temperaturnya 97C, sedangkan pada putaran 3000 temperaturnya 108C.

115
111.5

110
108

105 104.5
101 101.5
SLLC
100 Pertamina
Megacool
95.5
97
96 Prestone
95
92
91
90
87.5
88.5

85
750 1500 3000

Gambar 6. Grafik Perbandingan temperatur kerja mesin dari seluruh cairan


pendingin radiator selama 180 sekon.

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat temperatur kerja mesin dari

keempat tipe cairan pendingin radiator selama 180 sekon adalah berbeda

beda pada setiap putarannya. Dan cairan pendingin radiator yang paling baik

digunakan untuk menjaga temperatur kerja mesin adalah Super Long Life

Coolant.
51

B. Analisis Data
Berdasarkan tabel dan grafik diatas terdapat adanya perbedaaan

temperatur kerja mesin dari beberapa jenis cairan pendingin radiator. Tapi

untuk lebih detailnya dapat dilakukan analisis data sebagai berikut :


1. Persentase Perbandingan Temperatur Kerja Mesin Menggunakan Cairan

Pendingin SLLC (Standar) dengan Pertamina Coolant.

Tabel 19: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator SLLC.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Super Long 750 180 88 87 87.5
Life 1500 180 96 95 95.5
Coolant 3000 180 102 101 101.5

Tabel 20: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator Pertamina.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Pertamina 750 180 88 89 88.5
Coolant 1500 180 96 96 96
3000 180 104 105 104.5

a. Putaran 750 RPM


n= 87,588,5 n=1 C

n
P= 100
N
1
P= 100
87,5
P=1,143

b. Putaran 1500 RPM


n= 95,596 n=0,5 C
52

n
P= 100
N
0,5
P= 100
95,5
P=0,52

c. Putaran 3000 RPM


n=101,5104,5 n=3 C

n
P= 100
N
3
P= 100
101,5
P=2,95

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus persentase antara

cairan pendingin SLLC dengan Pertamina Coolant pada putaran 750 RPM

didapatkan perbedaan sebesar 1,143 %, pada putaran 1500 perbedaan

sebesar 0,52%, dan pada putaran 3000 RPM didapatkan perbedaan sebesar

2,95%.

2. Persentase Perbandingan Temperatur Kerja Mesin Menggunakan Cairan

Pendingin SLLC (Standar) dengan Megacool Coolant.

Tabel 21: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator SLLC.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Super Long 750 180 88 87 87.5
Life 1500 180 96 95 95.5
Coolant 3000 180 102 101 101.5

Tabel 22: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator Megacool.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
53

Megacool 750 180 92 92 92


Coolant 1500 180 101 101 101
3000 180 111 112 111.5

a. Putaran 750 RPM


n= 87,592 n=4,5 C

n
P= 100
N
4,5
P= 100
87,5

P=5,14

b. Putaran 1500 RPM


n= 95,5101 n=5,5 C

n
P= 100
N
5,5
P= 100
95,5
P=5,75

c. Putaran 3000 RPM


n=101,5111,5 n=10 C

n
P= 100
N
10
P= 100
101,5
P=9,85

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus persentase antara

cairan pendingin SLLC dengan Megacool Coolant pada putaran 750 RPM

didapatkan perbedaan sebesar 5,14%, pada putaran 1500 perbedaan

sebesar 5,75%, dan pada putaran 3000 RPM didapatkan perbedaan sebesar

9,85%.
54

3. Persentase Perbandingan Temperatur Kerja Mesin Menggunakan Cairan

Pendingin SLLC (Standar) dengan Prestone Coolant.

Tabel 23: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator SLLC.


Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Super Long 750 180 88 87 87.5
Life 1500 180 96 95 95.5
Coolant 3000 180 102 101 101.5
Tabel 24: Pengujian menggunakan cairan pendingin radiator Prestone.
Cairan Putaran Waktu Hasil pengujian Rata-
Pendingin Mesin (detik) temperature (C) Rata
(Rpm) I II
Prestone 750 180 90 92 91
Coolant 1500 180 96 98 97
3000 180 108 108 108

a. Putaran 750 RPM


n= 87,591 n=3,5 C

n
P= 100
N
3,5
P= 100
87,5

P=4

b. Putaran 1500 RPM


n= 95,597 n=1,5 C

n
P= 100
N
1,5
P= 100
95,5
P=1,57

c. Putaran 3000 RPM


n=101,5108 n=6,5 C
55

n
P= 100
N
6,5
P= 100
101,5
P=6,4

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus persentase antara

cairan pendingin SLLC dengan Prestone Coolant pada putaran 750 RPM

didapatkan perbedaan sebesar 4%, pada putaran 1500 perbedaan sebesar

1,57%, dan pada putaran 3000 RPM didapatkan perbedaan sebesar 6,4%.

C. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis dari perbandingan temperatur kerja mesin

SLLC dengan Pertamina Coolant, SLLC dengan Megacool Coolant, dan

SLLC dengan Prestone Coolant dapat kita lihat pada table 25 dibawah

sebagai berikut :
Tabel 25.Perbandingan Persentase Temperatur Kerja Mesin SLLC dengan
Semua Jenis Coolant

Persentase (%) Perbedaan Temperatur Kerja Mesin


Cairan Pendingin
750 RPM 1500 RPM 3000 RPM

Pertamina Coolant 1,143% 0,52% 2,95%

Megacool Coolant 5,14% 5,75% 9,85%

Prestone Coolant 4% 1,57% 6,4%

Perbandingan temperatur kerja mesin SLLC dengan semua jenis cairan

pendingin pada putaran 750 RPM didapatkan perbandingan temperatur kerja

mesin paling besar didapatkan antara SLLC dengan Megacool, yaitu sebesar
56

5,14%, dan perbandingan temperatur kerja mesin terkecil antara SLLC

dengan Pertamina coolant, yaitu sebesar 1,143%.

Perbandingan temperatur kerja mesin SLLC dengan semua jenis cairan

pendingin pada putaran 1500 RPM didapatkan perbandingan temperatur kerja

mesin paling besar didapatkan antara SLLC dengan Megacool, yaitu sebesar

5,75%, dan perbandingan temperatur kerja mesin terkecil antara SLLC

dengan Pertamina coolant, yaitu sebesar 0,52%.

Perbandingan temperatur kerja mesin SLLC dengan semua jenis cairan

pendingin pada putaran 3000 RPM didapatkan perbandingan temperatur kerja

mesin paling besar didapatkan antara SLLC dengan Megacool, yaitu sebesar

9,85%, dan perbandingan temperatur kerja mesin terkecil antara SLLC

dengan Pertamina coolant, yaitu sebesar 2,95%.

Berdasarkan data pengujian dari semua jenis cairan perbedaan

temperatur dari masing - masing air pendingin juga dapat diuraikan kedalam

tabel dan sebagai berikut :


Tabel 26. Perbedaan Temperatur dari masing- masing air pendingin
Temparatur Kerja Mesin (OC)
Putaran
No
Mesin
(RPM) SLLC Pertamina Megacool Prestone

1 750 87,5 88,5 92 91


2 1500 95,5 96 101 97
3 3000 101,5 104,5 111,5 108
Rata-rata 94,8 96,3 101,5 98,6
Berdasarkan tabel 26 dapat kita lihat bahwa cairan pendingin radiator yang paling

baik dalam menjaga temperatur kerja mesin dari semua putaran adalah SLLC
57

dengan rata-rata 94,8OC, Pertamina Coolant dengan rata-rata 96,3OC, Prestone

Coolant 98,6OC, dan temperatur kerja mesin paling tinggi diperoleh Megacool

Coolant, dengan rata-rata 101,5OC.

Berdasarkan seluruh pembahasan menggunakan dapat dilihat bahwa

terdapat perbedaan temperatur kerja mesin dari beberapa cairan pendingin

radiator yang di uji. Dapat kita lihat juga bahwa cairan pendingin radiator

yang mengandung sedikit ethylene glycol yakni Megacool memiliki

temperatur kerja lebih tinggi dibandingkan dengan cairan pendingin yang

lain, dan cairan pendingin radiator yang mengandung banyak cairan

ethylene glycol yakni Prestone juga tidak baik dalam menjaga temperatur

kerja mesin. Oleh sebab itu, Super Long Life Coolant masih menjadi cairan

pendingin radiator yang bagus dalam menjaga temperatur mesin, karena

mengandung campuran yang sangat pas untuk menjaga temperatur mesin

mobil Toyota Avanza 1.5 S M/T.

Dari seluruh hasil penelitian maka dapat disimpulkan Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan (2013:43) dalam bukunya menyatakan

bahwa :
Selain ketinggian dan tekanan, hal yang dapat mempengaruhi titik
didih air adalah jumlah dan jenis antifreeze, disamping antifreeze juga
menurunkan titik beku air. Titik didih coolant akan naik jika
konsentrasi ethylene glycol semakin banyak, tetapi ethylene glycol
yang berlebihan akan menghambat perpindahan panas pada sistem
pendingin.

Setelah penelitian dilakukan didapatkanlah bahwa cairan pendingin

dengan merk Super Long Life Coolant, atau sekaligus cairan standar

untuk pabrikan Toyota lebih mampu melindungi dan menjaga temperatur


58

kerja mesin dari panas yang berlebihan, baik pada putaran rendah,

maupun putaran tinggi.


59

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang telah dibahas pada bagian

muka, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, terdapat perbedaan

temperatur kerja mesin dari semua jenis cairan pendingin yang di uji.

Cairan radiator yang sangat baik dalam menjaga temperatur kerja mesin

supaya tidak cepat panas dapat kita lihat terdapat pada cairan pendingin

Super Long Life Coolant, yaitu pada putaran 750 temperaturnya 87.5C,

dan untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 95.5C, sedangkan pada

putaran 3000 temperaturnya 101.5C. Sedangkan temperature kerja mesin

paling tinggi terdapat pada cairan Megacool, yaitu pada putaran 750

temperaturnya 92C, dan untuk putaran mesin 1500 temperaturnya 101C,

sedangkan pada putaran 3000 temperaturnya 111.5C.


2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan didapatkan perbedaan

temperatur kerja mesin antara Super Long Life Coolant dengan Pertamina

Coolant pada putaran 750 RPM yaitu sebesar 1,143%, pada putaran 1500

RPM yaitu sebesar 0,52%, dan pada putaran 3000 RPM sebesar 2,95%.

Dan untuk perbandingan temperatur kerja mesin antara Super Long Life

Coolant dengan Megacool Coolant pada putaran 750 RPM yaitu sebesar

5,14%, pada putaran 1500 RPM yaitu 5,75%, dan pada putaran 3000 RPM

yaitu sebesar 9,85%. Sedangkan untuk perbandingan temperatur kerja

mesin antara Super Long Life Coolant dengan Prestone Coolant pada
60

putaran 750 RPM yaitu sebesar 4%, pada putaran 1500 1,57%, dan pada

putaran 3000 RPM yaitu sebesar 6,4%.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah lakukan, penulis menyarankan

hal-hal sebagai berikut :

1. Penelitian ini masih terbatas hanya pada beberapa putaran mesin yang

mewakili, pada penelitian lanjutan untuk putaran yang lebih tinggi.


2. Sebaiknya peneliti lain juga melakukan penelitian pengaruh penggunaan

cairan pendingin radiator terhadap temperatur kerja mesin berdasarkan

lamanya waktu fan berputar.


58

Daftar Pustaka

Anonim.(2013).Perawatan Engine dan Unit Alat Berat.Jakarta.Direktorat


61

Pembinaan SMK

Anwir,B.S.(1980). Teknik Mobil.Jakarta:Bhratara Karya Aksara

Daryanto. (2003). Motor Bakar untuk Mobil. Jakarta: Rineka Cipta dan Bina

Adiaksara.

Daryanto. (2003). Dasar-Dasar Teknik Mobil. Jakarta: Bumi Aksara.

Daryanto. (1995). Teknik Otomotif. Jakarta: Bumi Aksara.

Daryanto. (1999). Pengetahuan Komponen Mobil. Malang: Bumi Aksara.

Fathun Muharto, dkk. (2008). Pemeliharaan Sistem Pendinginan dan Komponen-

Komponennya.Sukamaju Depok: Arya Duta.

Gatot Soebiyakto, Widya teknika Vol.20 No.1;Maret 2012 ISSN 1411-0660:44-48

Giancoli, Douglas C.(1998).Fisika Edisi Kelima.Jakarta:Erlangga

H.N. Gupta.(2013). Fundamental Of Internal Combustion Engines.Delhi:PHI

Learning Private.

Holman,J.P.(1986).Perpindahan Kalor.Jakarta:Erlangga.

Harold dalam Purwadi.(2009).Kimia Terapan.Jakarta.-

Janet Ho Siew Ching (jurnal Different Fluids And Its' Impact Towards Car

Cooling System ; 2013)

Jalius Jama dan Wagino. (2008). Teknik Sepeda Motor Jilid 3. Jakarta: Direktorat

Pembinaan SMK.

Lufri.(2005).Metodologi Penelitian.Padang:Rios Multicipta

Made Ricki Murti (Jurnal Ilmiah teknik Mesin Cakra.M Vol.3 No.2.Oktober 2009
61
Normalisa/Jurnal Teknik Informatika Universitas Pamulang : 2013

Nazir,Moh.(1983).Metode Penelitian.Bandung:Ghalia Indonesia


62

Pulkrabek, Willard W. (2004). Engineering Fundamentals of the Internal

Combustion Engine. Upper Saddle River, New Jersey 07458

Reed Business Information, a division of Reed Elsevier, Inc. May 2004

Suharsimi Arikunto. (2006).Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta

Subroto., Sartono Putro., Pengaruh Coolant Terhadap Pelepasan Kalor pada

Pendinginan -Mesin, Jurnal Teknik Gelagar Vol. 15 No. 2,Oktober 2004.

Sudijono, Anas. (2003). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada

Toyota,Astra-Motor,PT.(1986).Engine Step 2:PT.Astra Motor

V,Ganesan. (2004). Internal Combustion Engines.New Delhi: Tata Mcgraw